Jawa dan Jepang


Pada 2004, artikel Prof. Ann Kumar (Visiting Fellow di Australian National University) terbit sebagai newsletter di International Institute of Asian Studies IIAS #34 yang berbasis di Leiden. Artikelnya berjudul Japan’s Javanese Connection. Artikelnya dapat diunduh di sini >> PDF. Artikel pendek ini lahir di sela-sela tulisan yang lebih panjang. Misalnya:

Intinya, sebenarnya ada hubungan yang cukup dekat antara Jepang dan Jawa.

Hubungan tersebut bukan terbangun sejak Perang Dunia II, tapi sejak 2000 tahun silam. Antara 300 SM – 300 M, mendadak masyarakat Jepang purba (periode Yayoi) menjadi pandai bercocok tanam, pandai membuat peralatan dari logam, mempunyai struktur sosial dan punya agama yang terpusat. Kumar menyebutnya a revolutionary transformation, sebuah perubahan yang revolusioner. Kumar berpendapat bahwa perubahan ini tidak berasal dari dalam Jepang, tapi dari hasil mengimpor budaya dari luar, khususnya Jawa. Keris Jawa dan pedang Jepang pada jaman purba itu dikatakan mirip, meskipun agak meragukan juga karena artifak keris Jawa pada periode itu dapat dikatakan sulit dicari.

Tapi ada pula fakta sejarah lain yang dianalisis dengan strategi consilience of induction (induksi pertepatan). Strategi ini secara sederhana mengatakan bahwa seseorang mengumpulkan bukti-bukti dari berbagai sumber yang tidak saling berhubungan tetapi kemudian jika disatukan memberikan kesimpulan yang sama. Charles Darwin pernah menggunakan strategi kesejarahan semacam ini.

Fakta-fakta sejarah lain yang menarik adalah:

  1. Beras Jawa (javanica) punya kekerabatan paling dekat dengan beras Jepang (japonica)
  2. Mitos mengenai sosok Dewi Sri juga dikenal dalam mitologi Jepang
  3. Cerita Panji jaman Majapahit dan Genji Monogatari (Hikayat Genji) abad 17 mempunya kemiripan jalan cerita
  4. Agama Shinto di Jepang memiliki nilai-nilai yang mirip dengan Kejawen
  5. DNA mitokondria orang Jepang dan orang Jawa memiliki kesamaan dalam hal lokasi d-loop (simpul ‘d’)
  6. Bahasa Jepang kuno sebagian meminjam dari Jawa kuno. Misal: matur dalam bahasa Jawa berarti mempersembahkan atau mengatakan sesuatu kepada yang lebih dihormati; di Jepang kuno, artinya juga mirip. Selain itu, kata sosok (dituang) dan tutup yang artinya dalam Jepang kuno juga mirip.

konde-jawa

Pada 1990, buku Dr John Miksic (National University of Singapore), Marcello Tranchini berjudul Borobudur: Golden Tales of the Buddha meledak di pasaran. Buku ini muncul beberapa tahun setelah bom diledakkan di Borobudur pada 1985, dan jauh setelah Dr R. Soekmono melaporkan ke UNESCO mengenai keberhasilan pemugarannya dalam buku Chandi Borobudur (1976). Dari buku John Miksic, ada sebuah cerita yang menarik tentang catatan-catatan Yijing, seorang rahib Buddha dari Tiongkok.

Pada abad ke-7, Yijing datang ke Kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan pada tahun 671, dan belajar bahasa Sansekerta selama 6 bulan. Ia kemudian berlayar dengan kapal kerajaan Sriwijaya ke India, dan tinggal di India selama 15 tahun. Setelah itu, ia kembali ke Sriwijaya lagi dan tinggal selama 5 tahun. Agama Buddha berkembang pesat di Kerajaan Sriwijaya, sehingga banyak rahib Tionghoa datang ke sana. Ada seorang guru Buddhisme dari India yang terkenal bernama Vajrabodhi. Vajrabodhi awalnya tinggal di Kerajaan Sriwijaya, tapi kemudian pergi ke Jawa dan mempunyai banyak murid, di antaranya Amoghavajra dari Sri Lanka. Mereka berdua (mungkin juga didampingi rahib lain) kembali ke China hingga Vajrabodhi meninggal di sana pada tahun 741. Amoghavajra kemudian pergi ke Jawa untuk mengambil beberapa kitab untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Setelah meninggal, ajaran-ajarannya di Tiongkok lalu diteruskan oleh muridnya bernama Huiguo. Huiguo mempunyai dua murid yang cukup termasyhur. Yang satu bernama Bianhung dari Jawa, yang satunya bernama Kobo Daishi dari Jepang. Dua rahib ini mempunya nilai-nilai yang sama dalam beragama. Kobo Daishi akhirnya kembali ke Jepang dan membuat suatu sekte Buddha tertua di Jepang bernama Buddhisme Shingon atau Shingon-shu. Menarik untuk dipelajari apakah berawal dari Buddhisme ini ada pula nilai-nilai/etika Jawa dan Jepang yang punya kemiripan satu sama lain?

Advertisements

Thailand (1)


Sebenarnya tidak pernah merasa dekat, atau pun merasa jauh, dengan Thailand. Waktu kecil, teman-teman SD menyebut Thailand sebagai “negeri gajah putih”. Kita tidak tahu persis artinya apa – asalnya dari mulut ke mulut. Padahal, bendera Thailand dari 1855 – 1917 ada gambar gajah putihnya. Padahal juga, bendera itu pernah dikibarkan di Hindia Belanda: berjajar di sepanjang jalan dari stasiun kereta hingga hotel di sela-sela bendera Belanda, untuk menyambut kedatangan Raja Thailand bernama Chulalongkorn di tanah Jawa, atau Hindia Belanda (abad 18-19). Saya juga tidak pernah berinteraksi dengan warga Thailand, kecuali pada 2003 saya harus mengurus dokumen yang dikirim ke Bangkok, dan berkirim email dengan seorang penulis Thailand.

Pada 1999, film Anna and the King muncul. Film yang meledak di Indonesia ini dibintangi Jodie Foster dan Chou Yun-Fat. Ia bercerita tentang kisah seorang guru wanita bernama Anna Leonowens asal Inggris yang disewa Raja Mongkut (ayah dari Raja Chulalongkorn) untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada istri-istri dan anak-anaknya di kerajaan Siam. Film ini bercerita tentang bagaimana Siam menguasai modernitas dengan memahami bahasa Inggris. Ia ditulis mungkin berdasarkan memoar Anna Leonowens berjudul The English Governess at the Siamese Court (1870) dan Romance of the Harem (1873). Sebenarnya ada tiga film lain tentang Raja Mongkut, tapi mungkin tidak masuk Indonesia, yaitu Anna and The King of Siam (1946), The King and I (1956) dan film kartun Anna and The King (1999).

29 Januari 2002, saya disediakan sebuah ruangan dengan komputer canggih (waktu itu). Tujuannya supaya menyelesaikan tugas akhir dalam 6 bulan. Di ruangan itu juga ada banyak buku, paper dan dokumen-dokumen milik dosen. Saya hanya mengambil paper atau buku yang saya perlukan saja. Tidak menyentuh yang lain. Tapi ketika duduk termenung (jenuh melanda – sekarang ini namanya “galau”), mata tiba-tiba terpaku pada satu buku baru di tumpukan dokumen. Buku itu berwarna coklat muda, dengan gambar siluet jajaran orang berfoto. Judulnya adalah “Journeys to Java by Siamese King”. Pikiran saya: perjalanan raja kembar siam? Saya ambil buku itu (diam-diam, karena ruangan itu sebenarnya ruangan dosen). Buku berbahasa Inggris itu kemudian saya baca, dan menemukan bahwa isinya tentang tiga kunjungan Raja Siam (Thailand) ke Jawa. Isinya semacam buku harian yang aslinya ditulis dalam bahasa Thai dan diterjemahkan ke bahasa Inggris. Penulisnya adalah Imtip Pattajoti Suharto. Beliau adalah istri Pak Djoko Suharto, guru besar Teknik Mesin ITB. Dosen pembimbing saya adalah teman Prof. Djoko. Saya kemudian meminjam buku itu, dan melanjutkan membaca di rumah. Buku itu menarik karena membuat saya jadi memahami apa yang terjadi di Jawa pada akhir 1800an hingga awal 1900an. Kesan saya: Indonesia maju sekali saat itu. Bahkan Raja Thailand saja sampai berkunjung ke Jawa. Buku itu tidak komprehensif dan minim catatan kaki. Sifatnya seperti itinerary, urutan jadwal perjalanan (berisi tanggal, waktu, tempat, bertemu siapa-siapa, dan sedikit komentar). Buku itu diterbitkan oleh Penerbit ITB pada 2001. Saya kemudian pergi ke Penerbit ITB dan mendapatkan email penulisnya. Kemudian kami bertukar email, dengan tujuan, saya membantu menerjemahkan buku itu ke bahasa Indonesia. Tapi 2003 saya harus pergi ke Singapura. Jadi, proses menerjemahkan buku itu tidak dilanjutkan.

Tahun 2005 saya mendapatkan bingkisan dari staf AUN/SEED-Net Thailand. Bingkisan itu berupa CD musik jazz. Nampaknya biasa. Tapi yang membuat istimewa adalah lagu-lagunya dimainkan oleh Raja Bhumibol Adulyadej (dibaca: Phu-mi-pon A-du-nya-det). Raja Bhumibol bergelar Rama IX. Sedangkan, buku yang sebelumnya saya baca bercerita tentang Rama V atau Raja Chulalongkorn (yang namanya diabadikan sebagai nama universitas ternama di Thailand).

Bulan Januari 2007 saya bersama keluarga (anak waktu itu masih berumur 7 bulan) pergi ke Bangkok untuk berlibur. Kami berlibur lima hari di sana. Menyenangkan sekali, orangnya ramah, makanannya enak dan murah. Bisa naik tuk-tuk, berbelanja di Pasar Chatucak, menyusuri Sungai Chao Phraya, melihat Emerald Buddha, makan di tepi sungai bersama teman lama. Saya sebenarnya masih tidak mengenal sejarah Thailand. Jadi, misi jalan-jalan ke sana adalah hal kontemporer: belanja.

Buku Journeys to Java by Siamese King sebenarnya ingin saya beli. Tapi setelah kirim email ke Pak Djoko, bulan Maret 2013 saya mendapatkan kiriman buku tersebut. Gratis! Wah baik sekali Pak dan Bu Djoko. Misi saya, yang tertunda lama, kemudian dimantapkan: menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Indonesia. Buku yang baru dikirim itu adalah edisi yang sudah direvisi (revised edition) dari edisi tahun 2001, dan dicetak tahun 2012. Buku tahun 2001 itu hak ciptanya dimiliki Departemen Luar Negeri Thailand, sedangkan yang 2012 ini dimiliki oleh Ibu Imtip sendiri (setelah perjuangan panjang nampaknya). Buku itu agaknya mirip dengan buku sebelumnya, kecuali mulai banyak catatan kaki, komentar penulisnya, foto-foto.

Chulalongkorn in SoloRaja Chulalongkorn (berdiri di depan berpakaian putih membawa tongkat) di samping Paku Buwono X Susuhunan dari Solo tahun 1896 (koleksi Tropenmuseum)

Setelah diskusi via email, nampaknya usaha menerjemahkan saja tidaklah cukup. Alasannya, orang Indonesia hanya mau membaca buku jika isinya berkenaan dengan dirinya. Pembaca Indonesia, mungkin, juga impulsif dan latah. Artinya, jika ada buku baru dengan judul yang bombastis dan semua orang baca, maka seseorang akan membacanya (kemudian lupa). Tapi pembaca yang kritis semakin lama semakin banyak. Pembaca kritis adalah pembaca yang mencari jati diri, mencari tahu dunia luar, meresapi (internalisasi) makna tulisan dan terstimulasi untuk terus mengenali dirinya (ingin apa aku ini; apa yang ingin aku capai; mengapa fenomena A atau B terjadi dan seterusnya). Oleh sebab itu, jika hanya menerjemahkan maka pembaca mungkin kehilangan selera. Menulis buku di Indonesia (yang collectible tapi juga dapat dinikmati karena manfaatnya banyak) sebenarnya agak sukar. Tapi bentuk buku tentang Raja Siam ke Jawa itu tengah dipikirkan. Saat ini inti pekerjaan adalah menerjemahkan bukunya Bu Imtip itu, dan mencari sumber-sumber bacaan lain. Bu Imtip itu sebenarnya adalah campuran sumber sekunder dan tersier karena berisi narasi yang ditulis dari berbagai sumber primer dan sekunder. Kalau bacaan pendukung, sudah ada beberapa yang didapat. Proses penerjemahannya sendiri tengah berjalan (lambat). Dari 163 halaman, 138 sudah dalam bahasa Indonesia (yang berantakan).

Buku tentang Raja Chulalongkorn mengunjungi Jawa atau Malaya yang berbahasa Inggris setidaknya ada empat:

  1. Journeys to Java by Siamese King, Imtip Pattajoti Suharto, Penerbit ITB, 2001
  2. Journeys to Java by Siamese King, Imtip Pattajoti Suharto, Penerbit ITB, 2012 (revised edition)
  3. A true hero : King Chulalongkorn of Siam’s visit to Singapore and Java in 1871, Kannikar Sartraproong, University of Leiden, 2004
  4. Through the Eyes of the King: The Travels of King Chulalongkorn to Malaya, Patricia Lim Pui Huen, ISEAS Publisher, 2009

Buku ke-3 belum pernah saya baca. Ingin sekali membacanya karena mungkin itu adalah PhD thesis yang diterbitkan di Universitas Leiden. Penulisnya juga orang Thailand (jadi: view from within), fasih berbahasa Melayu/Indonesia, Belanda dan Inggris.

BukuThai

Buku tentang Raja Chulalongkorn

Buku ke-4 sebagian sudah saya baca. Buku ini sebelumnya disarankan oleh Prof. Merle Ricklefs (penulis A History of Modern Indonesia Since ca. 1200) yang saya hubungi untuk memberi saran. Nampaknya, bukunya Patricia Lim itu berisi selected trips (kunjungan pilihan) yang didesain dengan indah. Beberapa bab isinya mirip sekali (!) dengan bukunya Bu Imtip, khususnya  kisah Raja Chulongkorn yang transit di Singapura. Tapi bahasa Inggrisnya mungkin lebih well-composed, dan sebenarnya lebih merupakan parafrase dari kalimat-kalimatnya Bu Imtip. Bahkan, sebagian kesimpulannya merupakan penekanan ulang dari kesimpulan Bu Imtip. Originalitasnya mungkin kurang, meskipun Patricia nampaknya berburu buku-buku referensi lain yang melengkapi (annotate) bukunya Bu Imtip. Buku itu juga kelebihannya adalah desain dan foto, selain juga menambahkan kisah-kisah perjalanan ke Malaya dan Singapura. Fokusnya memang di Malaya sih.

Dr Sartaproong dalam reviewnya di Journal of the Siam Society (Vol 99, 2011) bahwa buku itu adalah “… a fine picture book“. Buku itu, menurut Dr Sartraproong, punya beberapa kelemahan: cerita dengan foto kadang tidak nyambung; fotonya tidak merepresentasikan apa yang dilihat Raja Siam; fotonya berisi orang-orang berpose tanpa ekspresi, bukan foto-foto yang punya cerita; fotonya kadang di-crop kemudian diulang di halaman lain; hubungan Malaysia dan Siam tidak dijelaskan dengan baik.

Kembali ke Thailand. Thailand ini unik, karena menjadi satu-satunya (mungkin) negara Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah. Kemampuan negosiasi dan diplomatik raja-raja terdahulunya sangat hebat, terutama Chulalongkorn yang rajin mengunjungi negara-negara Eropa supaya nampak sejajar dengan mereka. Tapi sebagian wilayah Thailand masa itu dikorbankan atau diberikan kepada penjajah Perancis dan Inggris. Misalnya, Laos, Kamboja, bagian utara Malaysia, seperti Kelantan, Kedah, Perlis dan lainnya. Tapi seorang kawan Thailand menyebutkan bahwa Thailand tidak pernah dijajah karena kedekatannya dengan Raja Rusia sehingga terus mendapatkan back-up militer yang kuat dan membuat segan negara-negara Eropa untuk menjajahnya.

chulalongkorn2

Raja Chulalongkorn (kiri) bersama Raja Nicholas II dari Rusia tahun 1897

Mengenai sosok Chulalongkorn: ia adalah raja yang memberikan contoh, berhati mulia, suka belajar hal-hal baru dari setiap wilayah yang dikunjunginya, suka bercanda (good sense of humor), teliti dan analitis. Pada 1996, pengkultusan Raja Chulalongkorn mencapai puncaknya di Bangkok (wilayah urban), tapi tidak terlalu kuat di pedesaan (rural). Orang-orang melakukan upacara penghormatan dan persembahan di patung berkuda Raja Chulalongkorn (ekuestrian). Pengkultusan ini kemudian dibahas dalam buku terbaru Irene Stengs berjudul: Worshipping the Great Moderniser: King Chulalongkorn, Patron Saint of the Thai Middle Class (2009).

Sebenarnya, apakah yang dipelajari oleh Raja Chulalongkorn di Jawa? Perjalanannya dilakukan tiga kali: 1871, 1896 dan 1901. Apa yang dia pikirkan mengenai Candi Borobudur dan Prambanan, galangan kapal dan peleburan logam di Surabaya? Sistem administrasi model apa yang diadopsi dari Jawa? Apa yang dia lihat dari kehidupan orang Islam di Jawa masa lalu? Bagaimana kehidupan orang-orang Belanda, orang Tionghoa, orang pribumi antara 1871 – 1901? Bagaimana keadaan Batavia (Jakarta), Sukabumi, Buitenzorg (Bogor), Bandung, Semarang, Yogyakarta, Pasuruan, Malang? Sistem apa yang berubah di Thailand setelah kepulangannya dari Jawa? Bagaimana hubungan Jawa dan Thailand?

Barangkali tidak ada satupun raja di dunia yang merekam kehidupan Jawa masa silam kecuali Chulalongkorn. Perjalanannya sendiri adalah perjalanan bersejarah yang kental dengan nafas nasionalisme: Chulalongkorn hendak melakukan perubahan besar-besaran terhadap sistem administrasi negaranya, sekaligus mengadopsi apa saja yang baik dan cocok bagi Thailand. Pandangannya ketika melakukan perjalanan itu unik karena berangkat dari keingintahuan yang mendalam; keinginan untuk mengadopsi hal-hal baru dari modernitas Barat; keinginan memilih apa yang cocok dari luar negeri untuk Thailand; ia ingin berpetualang, bertamasya bersama keluarga mengapresiasi peninggalan Buddha dan Hindu; beristirahat dari kesibukan Bangkok, menyepi di pulau Jawa yang bervariasi; lebih penting lagi, ingin menunjukkan kepada Belanda dan negeri Eropa lainnya bahwa raja Thailand juga bisa mengeksplorasi negeri lain, tapi tidak menjajahnya (ada pula dugaan bahwa perjalanannya memang bersifat politis yang sebenarnya sah-sah saja karena posisi Siam yang rawan ketika itu).

Herannya, mengapa raja-raja Jawa yang dia kunjungi tidak ketularan untuk melakukan hal yang serupa? Mengunjungi wilayah Jawa yang lain; bersatu, memenangkan Perang Jawa (1825-1830) dan meneruskan perjuangan itu. Indonesia mungkin dijajah karena sejak dulu memang terpecah belah; mudah disuap; terlalu kagum dengan modernitas Barat tapi tidak berminat belajar; kurang mencintai negerinya (bilang “cinta” dan “nasionalis” di mulut, tapi tindakannya seperti penjarah yang menghisap).

Mungkin hingga kini?

Perjalanan Raja Chulalongkorn ke luar Thailand adalah sebuah titik awal perjalanan panjang yang bersejarah menuju Thailand yang ter-Barat-kan. Dan, titik awal itu dimulai di Jawa. Orang Indonesia perlu belajar dari perjalanan Raja Chulalongkorn ini, khususnya anggota DPR yang sering melakukan kunjungan luar negeri untuk studi banding.

Jawa Kuno


Membaca buku Ricklefs (History of Modern Indonesia Since c. 1200 AD), khususnya mengenai sejarah Indonesia abad 13-15, mendorong seseorang untuk mencari referensinya. Banyak sekali referensi yang dia pakai, dan sebagian berbahasa Belanda. Beruntunglah mereka yang menguasai Bahasa Belanda karena dapat membaca artikel-artikel mengenai Jawa Kuno yang kini disimpan di Universitas Leiden. Jadi, kelakarnya, orang dapat dengan baik menguasai sejarah Jawa Kuno jika ia, pertama-tama, menguasai Bahasa Belanda. Kritik dan interpretasi kakawin Jawa kuno biasanya ditulis dalam bahasa Belanda. Ada juga yang berbahasa Inggris. Ada juga perseteruan intelektual antara ilmuwan Belanda sendiri mengenai interpretasi kitab tertentu, misalnya Nagara Krtagama. Perseteruan ini bersumber pada pemakaian metode yang dipakai, penyerangan terhadap interpretasi. Namun yang paling mendasar (ini pendapat pribadi) adalah kurangnya atau hilangnya mata rantai sumber-sumber literatur yang mungkin musnah atau hilang di tengah peperangan. Nagara Krtagama tentu merupakan literatur yang penting, tetapi pasti ada literatur yang jauh lebih penting. Beyond delusions and reality.

Sejarah Indonesia abad 13-15 sebenarnya berpusat di wilayah Jawa Timur. Alasannya jelas: Kerajaan Majapahit yang mendominasi Indonesia dua abad itu memang berpusat di Trowulan, dekat Mojokerto. Oleh sebab itu, banyak sekali temuan-temuan bersejarah, misalnya artefak koin hingga candi, ditemukan di Jawa Timur. Jangan salah, propinsi yang paling banyak memiliki candi (yang merupakan representasi agama Hindu/Syiwa-Buddha) adalah Jawa Timur. Kemudian disusul oleh Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Bali dan pulau Sumatera.

Keingintahuan mengenai sejarah Jawa Kuno membuat saya mengunduh banyak sekali artikel dari KITLV dan website lain. Artikel di KITLV, khususnya jurnal BKI atau Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (Language, Country and Ethnography), yang memuat artikel tentang Jawa Kuno sebagian besar terbit antara 1900-sekarang. Jadi, sudah satu abad lebih, peneliti Belanda dan negara lain (Indonesia, Australia, Amerika, Jerman) menulis tentang Jawa Kuno. Beberapa nama tentu cukup terkenal untuk Jawa Kuno: Brandes, Naersen, Ras, Berg, Robson, Noorduyn, dan lainnya. Nama Indonesia yang muncul di KITLV untuk Jawa Kuno adalah Hoesein Djajadiningrat, Poerbatjaraka, Slametmuljana, Supomo, dan lainnya. Katanya Belanda mempunyai 26 ribu dokumen mengenai Indonesia. Entah berapa yang tentang Jawa Kuno.

Penjelajahan literatur mengenai Jawa Timur membawa seseorang merekonstruksi sejarah tanah kelahirannya sendiri. Hal ini memberikan dasar-dasar norma yang membentuk peradaban wilayah dan negerinya. Ia dibentuk oleh persona, gagasan, karya dan implementasi.

Seminggu ini saya terserap ke literatur mengenai Jawa Kuno. Sebagian mudah dipahami. Tapi sebagian lain, sangat sukar dicerna karena memerlukan pengetahuan dalam bahasa Kawi dan Belanda. Pemahaman saya belum lengkap, jadi sukar menulis secara terstruktur. Tetapi ada target lain sebenarnya: menulis tentang sejarah Jawa Kuno khususnya di Jawa Timur disertai data-data candi di Jawa Timur. Persona-persona di dalamnya harus dikupas tuntas, dibedakan mana yang benar-benar nyata dan mana yang khayalan. Di tengah keterbatasan bahasa sukar juga melakukannya. Tetapi hari masih pagi. Mudah-mudahan masih ada waktu untuk membaca, berpikir dan menulis tentang sejarah sendiri. Tidak oleh orang lain.

Gaijin


Di New York City, kita pasti anonim, incognita, tak dikenal. Di kota yang vibrant, dan mungkin sudah ribuan kali masuk film-film Hollywood, seluruh ras di dunia tumpah. Kota itu menjadi mozaik etnis. Suatu etnis tidak ada yang dominan; ia mungkin hanya menduduki persentase terbesar dengan selisih yang kecil terhadap etnis lainnya.

Di Jakarta, kita juga anonim (asal berambut hitam, bermata hitam, berkulit kuning, tembaga atau coklat tua). Di kota yang sesak itu, dan mungkin sudah ribuan kali masuk film-film layar lebar, seluruh etnis di Indonesia tumpah. Kota itu, seperti halnya New York City, merupakan mozaik etnis. Umumnya, tidak berskala internasional.

Di kedua tempat itu, orang berpikir divergen dan tidak monoton. Ketika melihat orang lain, yang ada di benaknya bukan “dari negara, pulau, suku manakah ia?”. Seandainya pertanyaan itu ada, ia muncul belakangan. Bukan semacam precursor untuk pertanyaan selanjutnya.

Di Jepang, pertanyaan pertama ketika orang Jepang melihat orang lain adalah: Apakah dia orang Jepang? Jika dia bukan orang Jepang dapatkah ia berbahasa Jepang? Jika dia dapat berbahasa Jepang, apakah bahasanya fasih?

Ini disebut oleh penulis favorit saya Debito Arudou di Japan Times sebagai microagression atau agresi kecil. Tentang Debito: pernah mengajar di salah satu universitas di Hokkaido, pernah menikahi wanita Jepang dan mempunyai anak, menjadi warga negara Jepang tapi kemudian bercerai dan keluar dari Jepang. Tulisan-tulisannya dinilai sangat kritis dan pedas terhadap keadaan sosial Jepang. Telinga bisa merah, dan api bisa keluar dari hidung dan mulut jika tidak kuat kritikannya (ini khusus orang Jepang). Tapi pembaca awam, seperti saya, bisa merasakan juga bahwa tulisannya yang berbahasa Inggris elegan itu memang ngamuk terhadap agresi-agresi kecil di Jepang. Beberapa bulan kemudian saya memahami dan berbalik menyukai tulisan-tulisannya. Debito mungkin tidak perlu dibela, tetapi tulisannya adalah atom pengotor (seperti halnya impurity dalam logam) yang bermanfaat bagi Jepang, atau secara khusus Japan Times. Saya berpendapat bahwa tulisannya yang kritis itu, atau bahkan karakter Debito sendiri, memang sengaja diciptakan untuk mendongkrak readership dari Japan Times. JT membiarkan Debito dibombardir banyak orang untuk menunjukkan bahwa orang asing itu selalu menjelek-jelekkan Jepang. Debito dibiarkan menjadi bulan-bulanan. Itu kemungkinan strateginya.

Tapi satu hal yang saya suka dari Debito: ia tidak bosan-bosannya menyuarakan suara gaijin. Suara orang asing di Jepang. Tentu, yang dia bahas tidak lepas dari konteks latar belakangnya sebagai orang Amerika dari kota kecil.

Di Jepang, cerita historis Gaijin pernah saya tulis sebelumnya di sini. Dalam buku Shocking Japan [JH, B First, 2012] yang baru diterbitkan gaijin mungkin tidak dibahas. Tapi rasanya gaijin adalah tema di luar kuliner, jalan-jalan, budaya pop. Ia adalah tema yang serius dan jauh lebih mengejutkan bagi saya dibandingkan Kit Kat rasa wasabi, mistisisme dan lainnya. Ia adalah tema yang hingga saya mati-pun, anak-anak kecil Jepang tetap berpikir bahwa orang di Jepang itu punya dua kategori: Japanese or gaijin. Believe me this is more shocking in an advanced country like this.

Maka saya adalah gaijin. Dan pengalaman ini nyata:

  • Saya harus mengurus suatu kartu tanda penduduk yang menunjukkan bahwa saya seorang gaijin. Tapi di kartu itu ditulisnya gaikokujin [warga negara asing]. Lebih formal.
  • Di ruang dekan, ketika saya asyik ngobrol dengan dekan dalam bahasa Inggris, tiba-tiba seorang tamu (mungkin temannya dekan) masuk. Dia langsung bertanya, kenapa kalian ngobrol pakai bahasa Inggris. Pria setengah tua itu kemudian lihat saya. “Oh gaijin,” begitu katanya. Saya kemudian melihatnya, dan mengatakan: “Yes, I am an alien.” Dia pun pergi.
  • Di ruang lab saya, dua orang mahasiswa yang jelas kurang menyukai orang asing bercakap-cakap. Mereka sering menyebut kata gaijin. Gaijin itu beda. Mereka begini mereka begitu. Seolah bahwa Jepang paling bagus.
  • Di TK anak saya, saya mendadak ditanya oleh temannya. Teman anak saya yang kecil dan lucu itu bertanya: Kamu gaikokujin ya? Ini refleksi pendidikan anak usia dini (PAUD) di Jepang. Orang di dunia ini punya dua kategori: orang jepang dan gaikokujin. Anak-anak Jepang belajar membedakan manusia sejak dini. Sejak TK. Dan ini tidak pernah berhenti. Terbawa sampai tua.

Jepang bukan Harajuku atau sushi belaka. Jepang lebih dari pornografi. Ia punya juga mikro-agresi. Dan ini jauh lebih mematikan. Mereka bukan bersopan santun dengan kita. Bukan sopan santun. Tapi formal. Dengan bersikap formal, mereka punya jarak. Dengan punya jarak mereka tidak akan involved jika kita kena apa-apa. Mereka helpful memang, tapi itu by request, bukan kesadaran.

Indonesia mungkin tidak lebih maju dari Jepang dalam infrastruktur kota, sistem dan wawasan. Tetapi orang Indonesia lebih folksy, lebih alami, lebih hangat dan mudah didekati, lebih akrab dan suka menolong [tanpa instruksi]. Ada yang formal dan sopan, tetapi lebih banyak yang easy-to-get along. Di Jepang, yang suka menolong ada juga sih, tapi tidak banyak. Biasanya orang tua, orang yang pernah tinggal di luar negeri (dan merasakan jadi gaijin juga).

Orang Jepang di Brazil


Di Singapura, papan informasi biasanya dalam aneka bahasa. Bahasa yang digunakan adalah Inggris, Cina, Melayu dan Tamil di samping beberapa bahasa asing seperti Prancis di Bandara Changi. Di Jepang, ada juga papan informasi seperti itu. Namun, bahasanya adalah Jepang, Inggris, Cina, Korea dan Portugis.

Sebenarnya Jepang baru saja menambahkan bahasa Portugis ke papan informasi. Mungkin karena pendatang dari Brazil banyak akhir-akhir ini. Ditinjau 2.1 juta pendatang di Jepang, 250.000 berasal dari Brazil. Namun, jangan heran jika wajah Hispanik jarang ditemukan di sini. Ini karena orang Brazil yang ada di Jepang adalah generasi kedua atau ketiga Jepang yang lahir di Brazil.

Sejarah dimulai seabad lampau.

Pada 18 Juni 1908, 781 warga Jepang hijrah ke Brazil (Opening the Door, Betsy Brody, 2002). Hingga 1924, ada 31,414 orang Jepang di Brazil. Puncaknya terjadi antara 1924 dengan 1942 di mana 157,572 orang Jepang tinggal di Brazil.

Mengapa mereka hijrah ke Brazil?

Pada waktu itu Jepang memulai industrialisasi, dan penduduknya kian meningkat. Sayangnya, angka penduduk terlalu cepat naik sedangkan pekerjaan masih terbatas. Mereka yang tanpa pekerjaan terpaksa hijrah ke negara lain. Pemerintah Brazil kebetulan memberikan dukungan dana agar orang Jepang datang ke Brazil. Tujuannya untuk pembangunan infrastruktur dan pertanian. Sayangnya mereka digaji rendah.

Iklan untuk menarik warga Jepang supaya pindah ke Brazil “Ayo pergi ke Amerika Selatan bersama keluarga!”

Pada waktu itu, Amerika Serikat membatasi pendatang asal Jepang karena Perang Dunia II. Pemerintah Jepang juga mendukung emigrasi ini dengan membebaskan biaya pelayaran ke Brazil. Pemerintah Jepang juga memberikan nasihat agar mereka tidak mendirikan kuil Shinto atau Budha. Mereka diminta masuk Katolik agar sama dengan warga Brazil. Mereka juga diminta mengenakan pakaian Barat. Ini untuk memudahkan integrasi dengan warga setempat.

Beberapa dekade berlalu dan pada 1969 warga Jepang di Brazil sebanyak seperempat juta jiwa! Karir mereka pun semakin beragam. Sebanyak 80 persen memang masih petani, namun generasi ketiga sudah ada pekerjaan di bidang bisnis, kerajinan tangan, layanan dan transportasi.

Kini, Jepang termasuk warga pendatang yang dihormati di Brazil. Sepuluh persen mahasiswa universitas di Brazil adalah keturunan Jepang. Banyak dari keturunan Jepang yang menjadi artis, politisi dan olahragawan. Namun, kemampuan berbahasa Jepang mereka menurun dari generasi ke generasi. Hanya 36.5 persen dari generasi kedua dan ketiga yang bisa berbahasa Jepang. Mereka lebih nyaman berbahasa Portugis daripada berbahasa Jepang.

Menurut seorang kawan Jepang asal Brazil, ia pernah fasih berbahasa Jepang ketika kecil. Beranjak dewasa, orang tuanya tidak lagi mengajari bahasa Jepang lagi karena ia bersekolah di sekolah lokal yang berbahasa Portugis. Wajahnya Jepang tetapi tidak berbahasa Jepang. Kawan ini, jika memutuskan kembali ke Jepang, akan mengalami masa sulit. Ia dianggap orang asing di Jepang. Orang Jepang punya julukan untuknya: Nikkeijin. Pada 1990 banyak dari generasi kedua dan ketiga Jepang asal Brazil kembali ke Jepang demi menikmati kehidupan lebih baik. Sayangnya, integrasi di Jepang memang sulit. Orang Jepang mungkin bukan jenis masyarakat yang inklusif.

Orang Melayu pada Periode Meiji


Prolog

Saya menemukan artikel menarik tentang sejarah orang Melayu/Muslim pada periode Meiji di internet. Artikel ini ditulis oleh Michael Penn, direktur Shingetsu Institute (sebuah lembaga pengkajian perkembangan Islam di Jepang dan dunia). Judul artikelnya adalah Malay Muslim in Early Meiji (2008).

Setelah membaca artikel itu, pertanyaan yang mengganggu adalah bagaimana penulisnya tahu bahwa nama-nama orang “Melayu” yang disebutnya, misalnya Ketchil atau Katchung, adalah muslim? Setelah beberapa hari bersabar, akhirnya saya beranikan diri mengirim e-mail kepada penulisnya.

Dapatkah saya tahu bagaimana anda mendefinisikan Melayu atau Muslim? Definisi ini tidak saya temukan di dalam artikel. Melayu, seperti yang saya pahami, adalah penduduk asli Asia Tenggara khususnya Malaysia, Singapura dan Indonesia. Mereka berbahasa Melayu atau bahasa turunan Melayu. Tetapi sebagian dari mereka bukanlah muslim. Apakah anda mengidentifikasi Melayu Muslim dari nama? [Dalam artikel anda] Abdool Saliman adalah nama Arab; jadi, kemungkinan besar dia adalah muslim. Namun, bagaimana dengan Ketchil dan Katchung? “Ketchil” sebenarnya kecil dalam bahasa Indonesia/Melayu. Atau, Katchung berarti pembantu dalam bahasa Jawa. Sebagian orang Jawa yang hidup di masa lalu mungkin tidak memeluk suatu agama.

Penulisnya dengan cepat membalas:

Saya setuju dengan pembedaan definisi antara istilah Melayu dan Muslim. Namun, koran-koran Inggris  yang saya gunakan sebagai referensi hanya menyediakan bukti yang sepotong-sepotong. Saya percaya bahwa sebagian besar orang yang dikenali sebagai Melayu pada sumber-sumber tertulis abad 19 kemungkinan besar adalah Muslim, meskipun sulit mengatakan mereka Muslim yang taat atau tidak. Seperti yang anda sebutkan, seseorang bernama “Abdool Saliman” adalah kasus yang jelas. Dalam beberapa hal, saya mengasumsikan bahwa beberapa orang yang dikenali sebagai Melayu adalah Muslim — ini akan membuat mereka setidaknya jadi pionir. Tapi untuk menjawab pertanyaan anda, iya, saya harus membuat kesimpulan atau deduksi sendiri karena sumber-sumber tertulis yang saya gunakan tidak menyediakan keterangan biografis yang lengkap.

Terjawab sudah penasaran saya. ‘Tokoh-tokoh’ Melayu, selain Maharaja Johor, yang ditulis dalam artikel diasumsikan beragama Islam; padahal bisa jadi tidak beragama. Konsekuensinya, seorang penulis harus berani mengambil kesimpulan dari serpihan fakta, atau bahasa keren-nya “inference”. Karena beberapa tokoh tidak jelas agamanya, maka untuk artikel ini saya ganti judulnya dengan orang Melayu saja, tapi tidak Melayu/Muslim.

Terlepas dari polemik ringan itu, cerita tentang orang Melayu di Jepang pada era Meiji memang menarik.

***

Adakah orang Melayu di Jepang pada era Meiji (1868)?

Setelah Jepang membuka dirinya kepada orang asing pada tahun 1868, banyak kapal dagang berlabuh di kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo, Yokohama dan Nagasaki. Pada awal periode Meiji itu, adakah orang Melayu di Jepang? Inilah pertanyaan yang ingin dijawab oleh Michael Penn dalam makalahnya yang berjudul “Malay Muslims in Early Meiji Japan” (Shingetsu Institute, Vol. 4, 2008).

Dalam mencari jawab, Penn meneliti sejumlah koran, misalnya Japan Weekly Mail, Japan Gazette, Jiji Shinpo, Choya Shinbun, Yubin Hochi Shinbun, Tokyo Nichi Nichi Shinbun dan Tokyo-Yokohama Mainichi Shinbun, yang memberitakan orang Melayu pada 1870an hingga 1880an.

Diceritakannya bahwa kapal dagang yang tiba di Yokohama sebagian berbendera Inggris dan Belanda. Kapal kedua negara inilah yang membawa penumpang Melayu dari Malaysia, Singapura dan Indonesia. Sedikitnya ada dua kelas Melayu yang singgah di Jepang pada periode Meiji ini. Yang pertama adalah kelas anak kapal. Yang kedua adalah kelas raja Melayu yang diwakili Maharaja Abu Bakar dari Johor.

Awak Kapal

Agak disayangkan memang bahwa berita tentang orang Melayu yang bekerja sebagai awak kapal Inggris atau Belanda selalu terlibat tindak kejahatan. Pemberitaan ini sebenarnya wajar karena wartawan yang meliput berita adalah wartawan Inggris yang bekerja di pengadilan Konsulat Inggris atau Belanda. Penn juga mengatakan bahwa wartawan ini agaknya kurang bersimpati kepada penduduk kelas bawah.

Kasus yang tercatat pada bulan Juni 1872 melibatkan dua orang Melayu, yaitu Abdool Saliman dan Ali Pi Pie. Mereka berkelahi menggunakan pisau. Setelah diadili, mereka dipenjara selama tujuh hari. Pada Agustus 1877, awak kapal ‘Sunda’ yang berasal dari Jawa bernama Kecil menuduh kawannya Suriman menusuknya dari belakang. Kasus penusukan ini terulang lagi pada April 1880. Nelayan kapal ‘Sunda’ bernama Mael dihukum karena menusuk Kacung yang sebelumnya bertengkar dengan Cassim. Dari catatan pengadilan, Mael dan Cassim berasal dari Singapura.

Pada Maret 1873, orang melayu bernama Amaeu dinyatakan bersalah karena menelantarkan kapalnya. Pada musim panas 1875, dua orang Melayu ditemukan bergelandang di Yokohama. Keduanya diserahkan ke pemerintah Jepang dan Belanda. Jumlah awak kapal Melayu yang berada di Jepang terus menurun sejak Desember 1894. Mereka mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan kembali ke Asia Tenggara. Alasannya bahwa cuaca Jepang terlalu dingin.

Maharaja Johor

Pada 1883, Maharaja Abu Bakar dari Johor mengunjungi beberapa kota besar di Jepang. Ia pernah menjadi Temenggong Johor pada 1864, Kaisar pada 1868 dan menjadi Sultan pada 1885. Kunjungan Maharaja Abu Bakar ke Jepang adalah rangkaian perjalanan politik ke Jepang dan Cina untuk memantapkan posisinya di Tanah Melayu sebagai pemimpin masa depan. Bersama 17 orang dari Johor, ia mencapai Nagasaki pada 22 Mei 1883.

Koran Inggris di Jepang menyebutnya ‘Raja Malaka’. Ia juga dikisahkan berumur sekitar 40an, berkulit gelap, berbadan tegap dan berpandangan tegas. Ia juga fasih berbahasa Inggris dan berpakaian Barat, kecuali bahwa ia memakai ‘topi gaya India’. Pemerintah Jepang ketika itu memperlakukan Maharaja Abu Bakar dengan penuh hormat, seperti halnya ketika Jepang menyambut raja-raja Eropa.

Abu Bakar menuju ke Osaka dan mengunjungi area Tennoji, Kuil Sumiyoshi dan Residen Osaka. Abu Bakar lalu melanjutkan perjalanan ke Kyoto pada 24 Mei 1883, dan mengunjungi Kuil Nishi-Honganji, Kinkakuji, Kitano Jinja dan Myoshinji. Ia juga sempat berkunjung ke Nara, dan Great Buddha (Kamakura) pada 28 Mei. Setelah singgah di Tokyo dan Yokohama, Abu Bakar juga mencoba onsen (pemandian air hangat) di Hakone.

Di Yokohama, ia menghabiskan waktu selama satu mingu. Selanjutnya ia pergi ke Kawasaki, Enoshima, Kamakura dan Kanazawa. Di wilayah Kanazawa, beliau disambut oleh Gubernur Oki. Kejadian yang terpenting adalah bahwa pada 26 Juni 1883, Abu Bakar mengunjungi Imperial Palace untuk bertemu Kaisar Meiji.

Abu Bakar mengakhiri kunjungannya di wilayah Yokohama di mana ia menghabiskan lebih dari satu bulan di sana. Pada 1 Agustus 1883, beliau naik kapal surat Mitsubishi bernama Tokyo-Maru menuju Nagasaki. Setelah Nagasaki, ia pergi ke Cina untuk kunjungan politiknya.

Fakta sejarah di atas dapat mengubah pandangan orang bahwa memang ada orang Melayu yang mengunjungi Jepang pada awal periode Meiji.

Parasite Single di Jepang


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Memilih menikah adalah mengabdikan diri ke lubang masalah; memilih tidak menikah adalah pengecut karena tidak mau berhadapan dengan masalah. – Ayu Utami (2003)

Dalam buku Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa dan Cerita (2003), Ayu – secara tak langsung – juga bilang bahwa lajang mungkin jalan hidup: “Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri separti OPEC mengatur suplai minyak. Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain.”

Buku itu menceritakan kontradiksi, filosofi, kejujuran dalam ambigu menghadapi institusi yang bernama pernikahan – sebagai ‘lawan’ dari lajang. Ia juga menceritakan pengalaman-pengalaman jenaka. Masalah-masalah yang dibahas menyentuh keseharian. Benang merah dicari dalam bahasa yang apik. Ia adalah kumpulan cerita pendek yang menyegarkan! Continue reading