Haji dan Snouck Hurgronje


Ibrahim lahir di Babilonia (kini selatan Baghdad, Iraq) dari seorang ayah penyembah berhala (idol) yang menolak keras ketika diajaknya menyembah Allah. Ayahnya bernama Tarikh, meski ada juga yang menyebutnya Azar. Tuhan sejak awal mengetahui bahwa Ibrahim adalah sosok yang tepat sebagai nabi. Ia menikah dengan Sarah yang mandul. Oleh sebab itu, ia menikahi Hajar yang kemudian melahirkan Ismail. Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Awalnya Ibrahim menolak, tetapi kemudian yakin atas perintah itu setelah Ismail mengikhlaskan dirinya. Sejarah ini menggambarkan kepatuhan seseorang kepada Allah di atas hal duniawi yang dicintainya, misal anak.

Sejarah itu kemudian melahirkan rukun Islam bernama haji. Sejak Muhammad meninggal, orang Islam terus melakukan ibadah haji pada hari ke 8-12 bulan Dzu al-hijjah. Kata “ibadah” merupakan perspektif yang dipakai muslim untuk menamakan haji. Namun, ketika haji diteliti orientalis, seperti misalnya Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936), ia berubah nama menjadi “feest” atau semacam pesta perayaan. Esensinya tentu berbeda: yang satu melihatnya sebagai ritual suci untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang satu lagi melihatnya sebagai orang ramai yang melakukan kegiatan non-transenden (seolah tuhan tak hadir di pusaran Ka’bah, Shafa-Marwah, Mina-Muzdalifah dan teriknya Arafah).

Meskipun kebencian sudah ditanamkan kepadanya sejak SD, sosok Snouck Hurgronje sendiri sebenarnya menarik. Snouck, bagi yang awam sejarah, adalah pegawai kolonial Belanda (semacam intelijen-peneliti), profesor di Leiden University dan pionir penelitian tentang Islam.

Christiaan_Snouck_HurgronjeChristiaan Snouck Hugronje

MeccaSH1885Mekah pada 1885 (foto oleh Snouck Hurgronje)

Kebencian-yang-ditanamkan itu agaknya memang beralasan. Kerajaan Belanda yang kehabisan dana dalam memerangi suku Aceh meminta Snouck untuk meneliti kehidupan para muslim Hindia Belanda (Jawa, Aceh, dan lainnya) di Mekah. Hasil penelitian itu kemudian mendasari strategi untuk memecah belah suku Aceh. Snouck yang mempertahankan disertasi berjudul “Het Mekkaansche feest” (Pesta Masyarakat Mekah, 1879) sebelumnya tak pernah ke Mekah – dan ia sudah menulis tentang Mekah (plus belajar bahasa Arab, Hebrew, Islamologi dan muslim yang disebut “Muhammadan” ketika itu) sebelum ke sana. Ia baru ke Mekah ketika mendapat jaminan Kerajaan Ottoman (yang ketika itu menduduki Arab Saudi) agar bisa melakukan penelitian (1884-1885). Sepulang dari Mekah (agaknya ia diusir dari jazirah Arab sebelum musim haji tiba karena mungkin kedoknya ketahuan), ia menulis sebuah buku fotografi berjudul “Mekka” yang judul panjangnya menjadi “Mekka in the Latter Part of 19th Century” (Brill). Lanjutan dari buku ini terus mendasari laporan-laporannya mengenai kehidupan Muhammadan (muslim) pribumi di Mekah, Aceh, Jawa, dan wilayah kolonial Belanda lainnya.

Snouck adalah salah satu orang yang pernah merekam suara orang membaca surat Ad-Dhuha di Mekah. LINK.

Referensi:

Gus Dur


Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (1940-2009) adalah sosok yang kontroversial di Indonesia. Setelah menjadi presiden Indonesia pada 1999, mungkin hampir setiap hari media merilis berita tentang dirinya. Gaya komentarnya yang lugas dan variatif dianggap nyleneh. Opininya yang berganti-ganti mengenai apa saja sering dianggap mencla-mencle. Saya sendiri (jika harus objektif – dan seringkali sulit) merasa bahwa Gus Dur ‘harus’ menjadi seorang presiden kala itu semata untuk beberapa alasan: menghindari perpecahan karena Indonesia belum siap menerima presiden wanita (Megawati); membuka wawasan bangsa mengenai kata ‘demokrasi’; memperbaiki dan menjalin hubungan dengan berbagai negara; memberikan teladan kepada siapa saja mengenai keterbukaan, kesederhanaan, pemikiran intelektual, pembelaan kepada kaum lemah, pluralisme, dan perdamaian. Lebih dari itu, Gus Dur rasanya tidak cocok menjadi presiden. Beliau bukan tipe seorang administrator dengan konsep manajemen kenegaraan yang baik. Manajemen negara yang terencana pernah dicontohkan oleh Suharto (minus gaya represif dan korupsi tingkat tinggi).

Saya mendengar nama Gus Dur mungkin ketika masih umur belasan. Setelah membaca majalah, ayah saya tiba-tiba bilang dalam bahasa Jawa: “Gus Dur ini ketua Nahdlatul Ulama (NU) yang jelas-jelas Islam-nya kuat sekali. Tetapi pemikirannya luar biasa dan sulit dipahami orang awam. Bayangkan, dia menganggap bahwa manusia di dunia ini, meskipun agamanya beda-beda, sebenarnya menyembah satu tuhan.”

Saya ketika itu hanya manggut-manggut saja, meskipun sama sekali tidak paham!

Fast forward. Tahun 1999, saya sering mangkal di kios buku dekat masjid Salman. Sering sekali, mungkin hampir tiap hari. Saya kemudian membeli beberapa buku. Dua buku yang masih saya ingat adalah Tuhan Tidak Perlu Dibela dan Prisma Pemikiran Gus Dur. Buku pertama berisi kumpulan kolom Gus Dur di majalah TEMPO, sedangkan yang kedua dari majalah Prisma. Buku pertama terkesan lebih rileks meskipun yang dibahas adalah hal-hal serius, dan diberi komentar yang substansial. Buku kedua lebih serius (baca: akademik) karena Prisma memang nampaknya dibaca kalangan intelektual bidang sosial; jadi sudah punya segmen yang ketika itu terbatas.

Dari dua buku itu, yang kemudian saya lanjutkan ke buku-buku lain, saya menemukan pencerahan mengenai sosok Gus Dur. Bukan Gus Dur sebagai seorang presiden, tetapi seorang kyai (makna tradisionalnya adalah pengasuh atau guru di pondok pesantren) yang memiliki wawasan ilmu sosial yang luar biasa. Khazanah pengetahuan Islamnya sangat terkemuka (bahkan pemahaman tentang agama-agama lain juga); pengetahuannya mengenai filsafat dan pemikiran Barat juga sangat dalam. Tetapi Gus Dur juga sangat tradisional, sangat Jawa, sangat Indonesia.

Greg Barton kemudian menulis buku biografi mengenai Gus Dur ketika beliau menjadi presiden: Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Greg, yang seorang akademisi dari Australia, mengupas tuntas tentang sosok Gus Dur dari kecil hingga masa dilengserkannya sebagai presiden.

Gus Dur memang bukan lahir dari keluarga kebanyakan. Ia adalah anak kyai juga, yaitu KH Wahid Hasyim, yang pernah menjadi menteri agama jaman Sukarno. Wahid Hasyim punya pemikiran sangat maju sehingga mengijinkan Gus Dur mendapatkan les privat bahasa Belanda dari mu’alaf bernama Iskandar, membaca buku-buku ‘komunis’ (seperti What is to be done karangan Lenin), mendengarkan musik. Saya sendiri tidak pernah membayangkan bahwa seorang kyai akan membiarkan anaknya mendapat privilege (atau diberi ijin) semacam itu. Kakeknya adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Bahkan jika dirunut lebih jauh, Gus Dur adalah keturunan seorang darah biru keraton Yogyakarta (atau Solo ya?) yang berguru langsung kepada Sunan Kalijogo. Jadi, Gus Dur sendiri senantiasa mengidentifikasi dirinya sebagai orang Jawa yang ‘kebetulan’ memeluk Islam, bukan orang Arab atau manapun yang memeluk Islam. Gus Dur juga selalu merasa bahwa tugas dia di Indonesia adalah mempersatukan bangsa yang majemuk dengan berpedoman kepada Al-Qur’an, hadits, filosofi Islam sebagai rahmatan lil-alamin (Islam yang membawa kebaikan bagi semua umat manusia tak membedakan agama, ras apapun), dan nilai-nilai tradisi bangsa. Mudahnya, mendekati orang Indonesia atau memecahkan persoalan di dalamnya tidak bisa memakai cara Romawi, Arab atau Galia, tetapi dengan cara Indonesia; cara, laku, tradisi dan bahasa  yang dipahami orang-orang Indonesia (bukan cara asing).

Gus Dur casing-nya kurang representatif (meskipun masa mudanya usia belasan atau 20an cukup lumayan). Penampilannya apa adanya. Tidak tampan pula. Tetapi kalimat-kalimatnya mengandung kebenaran, meski sering dicap media mencla-mencle. Matanya tidak dapat melihat dengan baik karena otot yang mengendalikan matanya tak berfungsi sempurna. Tetapi daya ingatnya yang luar biasa mengenai apa saja (dari ayat Al-Quran, kitab-kitab kuning hingga novel Satanic Verses – Salman Rushdie) hingga nomor telpon membuatnya representatif untuk sosok intelektual.

Gus Dur mencintai siapa saja, meskipun secara terbuka ia menyatakan bahwa musuhnya hanya satu, yaitu Suharto. Ini pun dia mengatakan bahwa kalau hari raya mereka tetap maaf-maafan. Jadi, intinya dia tidak punya musuh. Kalau meminjam kata-kata Emha Ainun Najib, Gus Dur mencinta pandawa dan kurawa. Dia tetap mencintai siapa saja meskipun dihina dan diolok-olok. Sosok dengan moral absolut seperti ini (menurut Gus Dur sendiri) dimiliki oleh YB Mangunwijaya, arsitek-sastrawan-rohaniwan yang terus membela orang-orang miskin di Kali Code, Yogyakarta. Mangunwijaya adalah sahabat Gus Dur dalam Interfidei.

Tradisi pesantren di Jawa menganggap bahwa ‘kelayapan’ ke pondok-pondok itu biasa. Misalnya, satu tahun di Pondok Tambak Beras, dua tahun di Krapyak, enam bulan di Gontor. Mondok atau meguru yang berpindah-pindah itu biasa. Ini adalah tradisi orang mencari ilmu sejak berabad-abad lampau. Setelah menguasai ilmu dari kyai A, pindah ke ilmu lain dari kyai B. Intinya, terus belajar kepada siapa saja dan di mana saja. Ini adalah bentuk pengembaraan intelektual yang sebenarnya. Rumah baginya adalah tempat di mana langit biru mencurahkan warnanya kepada bumi. Bukan rumah tembok yang kita huni. Dan, sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi siapa saja (bahkan bagi orang yang membencinya). Ini mungkin pula substansi dari ajaran tasawuf: mempunyai akhlak yang baik dan memberikan cahaya bagi manusia. Tetapi, tentunya, tasawuf pasti lebih dari itu: amalan dan ilmunya pasti juga tinggi, terutama soal ikhlas dan kecintaan kepada tuhan (bahkan mungkin meng-ikhlas-kan tuhan untuk memasukkannya ke surga atau neraka).

Karena mengembara itu biasa, maka Gus Dur pergi ke Timur Tengah pada usia awal 20an, setelah menimba ilmu di beberapa pesantren. Sebelum ke Timur Tengah, pengetahuan bahasa Arabnya sangat baik dan memungkinkannya membaca kitab-kitab kuning yang tanpa harakat. Kitab kuning adalah kitab-kitab yang ditulis ulama atau sarjana Islam mengenai persoalan agama (intinya adalah opini). Gus Dur pergi ke Mekkah-Madinah dulu, kemudian lanjut ke Universitas Al-Azhar di Kairo. Untuk masuk Al-Azhar, setidaknya seorang calon mahasiswa harus hafal beberapa juz Al-Quran (mungkin 12 juz). Setelah masuk, Gus Dur kecewa karena Al-Azhar mewajibkannya mengambil kursus bahasa Arab lagi. Sebagai bentuk protesnya, ia tidak pernah masuk kelas, dan hanya ikut ujian saja. Selama lebih dari 2.5 tahun, hidupnya diisi dengan pergi ke pusat informasi/universitas Amerika di Kairo untuk membaca buku-buku Barat, nonton film, nonton bola, ikut berdiskusi di warung kopi. Kelakarnya, selama 1000 hari di Kairo, ia menghabiskan waktu 500 hari untuk nonton film.

Abdurrahman_Wahid_youth

Karena gagal mendapatkan gelar dari Al-Azhar, ibunya mencarikan beasiswa lain supaya ia bisa lulus. Ia akhirnya berhasil ke Universitas Baghdad dan menyelesaikan sarjana selama 4 tahun. Ia kemudian pergi ke Eropa (ada kemungkinan mampir ke Moskow juga) untuk melanjutkan studi S2 atau S3. Sayangnya ijazah dari Baghdad tidak diakui. Ia akhirnya luntang lantung dari satu perpustakaan satu ke lainnya di Eropa. Ia pergi ke Belanda, Jerman dan Perancis dan membaca buku-buku di perpustakaan di universitas-universitas besar. Semua ilmu Barat dilahapnya.

Bagaimana Gus Dur mendapat uang untuk hidup selama 1.5 tahun di Eropa? Meskipun berasal dari keluarga kyai (yang mungkin berkecukupan), Gus Dur tidak mengandalkan keluarganya. Di Eropa, ia bekerja sebagai tukang setrika di sebuah binatu yang dimiliki keluarga Tionghoa. Di sana, Gus Dur belajar menyetrika baju hingga licin dan melipat hingga rapi. Di sela-sela menyetrika itu pula, ia berinteraksi dengan budaya Tionghoa; kadang juga mendengarkan musik klasik. Selain itu, Gus Dur juga bekerja sebagai tukan pel di galangan kapal. Bekerjanya dua minggu sekali, dan uangnya cukup untuk hidup. Selebihnya, ia menggunakan waktu untuk membaca buku di perpustakaan.

Sepulang dari Eropa, Gus Dur mengajar di beberapa pesantren dan universitas. Hidupnya belum berkecukupan sehingga ia harus membantu istrinya ngider untuk berjualan es lilin dan kacang. Selain itu, ia juga sering menulis untuk kolom-kolom koran dan majalah. Dari pendapatannya ini, ia akhirnya dapat hidup bersama istri dan empat anak perempuannya. Setelah Gus Dur digadang-gadang sebagai calon ketua NU, ia harus pindah ke Ciganjur, Jakarta. Di sana, ia akan lebih dekat dengan titik kekuasaan negara, sekaligus dapat sering berkunjung ke pesantren-pesantren di daerah lain dengan pesawat.

Setelah menjadi ketua NU (1984-1996), Gus Dur melakukan reformasi NU dan pesantren. Studi-studi pemikiran Islam mulai digagas di pesantren-pesantren, bahkan juga studi interpretasi Al Quran yang jaman sekarang mulai ‘diharamkan’ oleh mereka yang berpandangan sempit dan terpengaruh Wahabi). Gus Dur juga aktif membela rakyat kecil karena ikut pula dalam LSM. Protesnya cukup keras terhadap pemerintah (rezim Suharto). Karena Gus Dur semakin populer, pendukung NU semakin besar dan mencapai puluhan juta. Suharto mulai takut sehingga mendirikan ICMI yang dipimpin Habibie. Gus Dur menolak untuk ikut serta dalam ICMI karena ia ingin mengurusi orang-orang kecil, bukan elit politik. Akhirnya Gus Dur berhenti menjadi ketua NU agar dapat berdamai dengan Suharto pada 1996. Pada 1997, krisis moneter menghancurkan sendi-sendi perekonomian Indonesia, dan Suharto dilengserkan pada 1998. Selebihnya, adalah masa-masa Gus Dur menjadi presiden dan tahun-tahun terakhir hidupnya hingga wafat pada 2009.

***

Saya sering dipandang sebagai orang yang mengagumi Gus Dur (atau bahkan simpatisan). Tidak hanya oleh kawan, tetapi juga istri dan keluarganya. Saya biasanya hanya senyum-senyum saja tanpa mengiyakan atau menolak. Saya juga tidak berusaha mempengaruhi siapa-siapa. Saya sendiri bukan lulusan pesantren yang paham ilmu-ilmu agama. Saya juga bukan orang yang bergerak di bidang keagamaan atau sosial. Saya hanya menggemari pemikiran-pemikiran Islam dan Barat serta sosiologi. Keinginan saya hanya ingin memahami respon manusia terhadap suatu paham dan alasan mereka menjadi seperti sekarang. Setiap hal pasti ada alasannya. Manusia bertindak ini-itu karena suatu alasan. Alasannya boleh jadi (dan seringkali) sangat sepele dan dikendalikan hati, bukan isme. Tetapi ada juga yang murni karena isme dan pedoman hidup. Ini yang perlu dipilah-pilah, sehingga pada akhirnya kita sendiri dapat memberikan respon yang pantas. Inti dari kehidupan adalah perdamaian, bukan gontok-gontokan. Nah, sebagian besar pemikiran-pemikiran sebagai suatu respon terhadap persoalan sosial dan politik bangsa kita dapat kita temukan dari buku-buku atau tulisan Gus Dur. Jangan apriori terhadap sosoknya (yang citranya dibuat-buat oleh politicized media). Tapi bacalah dan selami pemikiran-pemikirannya, ide-idenya, referensi bacaan yang bakal membuat anda terpukau dan terus mencari asal-usulnya. Gus Dur memahami pemikiran Islam fundamentalisme, Quran, hadits, tasawuf, ilmu logika, sastra Arab, sosiologi Arab, politik dan peta pemikiran Barat, filsafat Eropa jaman pencerahan, hingga postmodernisme.

Tetapi setelah lebih dari 14 tahun saya membaca Gus Dur, baru beberapa waktu lalu istri saya bilang bahwa ia juga mengagumi pemikiran Gus Dur. Ia tidak pernah menganggap Gus Dur sebagai sosok yang saya lihat selama ini. Alasannya karena memang belum pernah membaca secara detil mengenai pemikirannya. Tanpa saya pengaruhi, ia membaca buku baru Ilusi Negara Islam. Dari situ, barulah ia memahami pemikiran Gus Dur, dan bahaya laten Islam fundamentalisme di Indonesia. Dalamnya tulisan Gus Dur (meski berbentuk kata pengantar saja) juga dapat dibaca di sana.

Link: http://www.libforall.org/pdfs/ilusi-negara-islam.pdf.

***

Hampir lupa, Gus Dur adalah mesin yang dapat mengubah soto Kudus menjadi humor. Artinya, dia gemar makan soto Kudus itu (selain yang lain-lain tentunya) dan suka sekali dengan humor. Humor diciptakan untuk siapa saja, tetapi yang dapat membawakannya hanya orang-orang tertentu. Orang yang pandai ndongeng, orang yang eloquent dalam bahasa, orang yang punya folder memori besar (dan kemampuan retrieve yang baik) khusus untuk cerita lucu. Gus Dur termasuk ketiganya.

Contoh humor Gus Dur:

Suatu hari ada seorang pastor duduk sendirian naik kereta. Kemudian, seorang kyai datang dan duduk di sebelahnya. Hari masih pagi, maka sang pastor membuka sebuah bungkusan berisi sandwich untuk sarapan. Ia menawari kyai untuk sarapan bersama.

“Ini ada sandwich kalau anda mau sarapan juga. Isinya daging babi. Eh, daging babi enak lho…”

Kyai menolak dengan halus, sambil tersenyum.

Setelah beberapa stasiun terlewati, kyai mengatakan kepada pastor: “Maaf saya harus turun di stasiun selanjutnya. Kita berpisah di sini.”

Pastor agak kaget, kok baru duduk sudah mau turun.

“Lho kok buru-buru turun. Mau ke mana?”

“Oh saya mau pulang, mau ketemu istri dulu,” kata kyai.

Kyai lalu melanjutkan sambil senyum-senyum, “Eh iya, kumpul sama istri lebih enak lho …”

Okuribito


Film cepat diterima siapa saja. Dalam film kita tak hanya menikmati seni peran, kisah dramatik atau special effect, tapi juga isu-isu kontemporer. Setiap film pasti dibuat untuk menyampaikan pesan atau makna dari isu-isu itu.

Sebelum berangkat ke Jepang pada September 2009, saya meminjam beberapa buku tentang Jepang. Di samping itu, saya juga melanjutkan kegemaran menonton episode Japan Hours di Channel News Asia. Japan Hours menampilkan tempat wisata, makanan dan hot spring di Jepang. Saya juga meminjam sebuah film Jepang. Judulnya Departures (2008). Di Jepang, film ini dikenal dengan tajuk Okuribito (おくりびと) yang artinya harfiahnya ‘mengantar orang’. Tapi orang Jepang umumnya mengenal okuribito sebagai judul film belaka karena kata ini jarang dipakai.

okuribito

Film Okuribito berhasil memenangkan Academy Awards untuk kategori Best Foreign Movie tahun 2008. Ia dibintangi oleh Masahiro Motoki, Ryoko Hirosue dan Tsutomu Yamazaki.

Daigo Kobayashi (diperankan Masahiro Motoki) bekerja sebagai penggesek cello dalam sebuah kelompok orkestra. Karena order pertunjukan sepi, orkestra pun ditutup oleh pemiliknya. Daigo tidak lagi punya pekerjaan, dan ia pun kembali ke desanya. Di sana, Daigo hidup bersama istrinya (diperankan Ryoko Hirosue) di rumah peninggalan ibunya. Di desa itu, orang tak dapat berkarir di bidang musik. Oleh sebab itu, Daigo mesti mencari pekerjaan lain.

Suatu hari Daigo menemukan satu lembar iklan pekerjaan. Kerana tertarik, ia mencari firma yang memasang iklan itu. Sesampainya di firma itu, ia hanya mendapati sebuah ruang yang berisi dua orang: pemilik dan sekretaris wanita. Kepada sang pemilik (pria tua yang diperankan Tsutomu Yamazaki) Daigo menanyakan perihal pekerjaannya. Deskripsi pekerjaannya kurang jelas. Sang pemilik hanya mengatakan: memasukkan jenazah ke peti mati. Awalnya ia merasa aneh, tetapi Daigo terpaksa mengiyakan karena pemiliknya langsung memberi panjer 500 ribu yen sebagai gaji di muka. Senang bukan kepalang, Daigo buru-buru membeli makanan dan hadiah untuk istrinya. Ia pun pulang dengan wajah berseri. Istrinya pun menyambutnya dengan bahagia.

Hari pertama kerja sungguh mengesankan: Daigo disuruh melepas semua pakaiannya, dan mengenakan pampers saja. Ia harus tidur, dibungkus baju jenazah, di-make up dan berbagai macam perlakuan aneh. Tapi dia tetap harus tenang dan menuruti instruksi majikannya. Karena peragaan menjadi mayat itu ternyata sangat serius, dan ditonton beberapa orang.

Setelah hari pertama itu lah, barulah Daigo mengetahui bahwa firma itu bergerak di bidang jasa penguburan. Ia konflik batin, tetapi ia merasa perlu bekerja dan mencari uang. Jika ia tak bekerja darimana ia mendapatkan uang. Apalagi gaji yang diberikan oleh firma itu cukup besar untuk ukuran desa atau kota kecil itu.

Tugas Daigo selanjutnya ternyata lebih berat. Ia harus belajar sebagai nokanshi atau perias jenazah. Pekerjaan nokanshi ternyata lebih dari sekedar perisa: ia juga harus dapat memandu doa, memasukkan jenazah ke peti mati, dan melakukan kremasi. Dalam tradisi Jepang, proses kematian dilakukan dengan rapi dan khidmat. Untuk menjadi nokanshi, seseorang memerlukan latihan bertahun-tahun agar mencapai kesempurnaan bekerja. Singkat kata, menjadi nokanshi bukan pekerjaan mudah!

Meskipun mulanya merasa aneh, Daigo akhirnya menikmati pekerjaan itu. Ia juga kagum dengan bosnya. Meskipun sedikit berbicara, atau bahkan tersenyum, bosnya melakukan pekerjaannya dengan tenang, dan sabar melatih Daigo hingga mahir sebagai nokanshi.

Menikmati pekerjaan adalah satu hal. Namun, yang paling susah adalah menceritakan jenis pekerjaannya kepada istrinya, apalagi keluarganya. Kerja mengurusi mayat bukan profesi yang dihargai di Jepang.

Tapi lambat laun, istrinya pun tahu. Semua keluarganya pun tahu. Semua berpendapat bahwa profesi nokanshi adalah aneh, dan tidak wajar. Barangkali, mereka melihat pekerjaan itu hina meskipun gajinya besar. Sebaliknya, Daigo semakin mencintai pekerjaannya. Ia merasa bahawa menjadi ‘perantara’ antara dunia dan akhirat adalah pekerjaan mulia. Ia merasa bahwa ritual mengantarkan orang mati punya keindahan tersendiri, dan ritual itu sudah merupakan bagian dari hidupnya.

Konflik keluarga pun bermula di sana. Istrinya meninggalkannya. Abangnya mengancamnya agar ia keluar dari pekerjaan itu. Keadaan juga diperburuk dengan kenangan-kenangan Daigo terhadap ayahnya. Ayahnya meninggalkannya ketika kecil, dan Daigo tidak tahu di mana ayahnya berada. Tapi dia juga tak ingin mencarinya; ia tak pernah memaafkan ayahnya yang menerlantarkannya dan ibunya begitu saja. Daigo sangat benci dan dendam dengan sang ayah.

Cerita semakin menarik ketika Daigo menerima sepucuk surat, yang mengabarkan bahwa ayahnya sakit keras di sebuah rumah. Daigo akhirnya menemui ayahnya. Ketika sampai rumah itu, ayahnya terbaring tak bernyawa. Hidupnya seorang diri. Daigo menangis sejadi-jadinya.

Kemudian, semua keluarga berkumpul di sana. Mereka menyaksikan bagaimana Daigo melakukan prosesi kematian untuk ayahnya sendiri.

***

Film ini layak tonton.

Beberapa pesan kehidupan dari Jepang dapat ditarik dari film itu.

Pertama, tentang citra suatu profesi. Citra suatu profesi sangat penting di Jepang (atau juga negara Asia lainnya). Di Jepang, lelaki lah yang bekerja, sedangkan perempuan tinggal di rumah. Lelaki bekerja dengan pakaian yang nyaris seragam. Media menyebutnya sarariman (dari kata salaryman yang artinya pekerja gajian yang berpakaian jas, kemeja putih, membawa tas). Pekerjaan sarariman harus wajar dan tidak aneh-aneh. Jika aneh,  seberapa besar pun gajinya, maka istri atau keluarga jadi malu.

Kedua, setiap orang dapat dilatih dengan baik tanpa melihat latar belakangnya. Tidak ada itu pintar atau bodoh di Jepang. Yang ada: mau berusaha, mau berlatih, serius dan disipling terhadap suatu pekerjaan. Di Jepang, sudah umum bahwa perusahaan dapat menerima calon pekerja yang latar pendidikannya berbeda dengan profesi yang ditawarkan. Ada semacam keniscayaan dalam firma-firma Jepang bahwa apabila seseorang dilatih dengan baik maka orang itu menjadi sangat mahir dan sempurna dalam menjalankan pekerjaan.

Ketiga, tentang keluarga. Ketika orangtua bercerai, ada semacam kebiasaan bahawa seorang yang mengasuh anak tidak mengharapkan bekas suami/istrinya menemui anaknya. Caranya mungkin dengan merahasiakan keberadaannya, plus menanamkan bibit kebencian kepada bekas suami/istrinya di dalam diri anaknya. Ini membuat psikologi anak-anak terganggu.

Tapi satu hal lagi yang keren dari film adalah soundtracknya yang indah!

LINK FULL MOVIE

Menulis dan sedikit tips


Prelude

Menulis pada dasarnya mengabadikan informasi. Informasi ini ada yang berupa berita alias hard news, ada juga yang berupa opini dan fitur (feature). Ketiganya campur-aduk di dunia nyata dan maya. Jumlahnya juga begitu masif, sehingga sulit bagi kita mengingat atau mencernanya; jangan lagi memverifikasi kebenarannya. Tetapi, hidup kita (sayangnya atau untungnya?) sebagian dikendalikan oleh informasi berupa tulisan. Berita, opini, fitur menjadi hegemoni (kekuatan dominan). Yang paling dominan tentunya adalah pemilik kantor berita. Ia dapat mengendalikan opini, pikiran, bahkan emosi pemirsanya.

Saya sendiri sering membaca koran online. Yang dibaca tentunya berita. Kadang-kadang membaca opini atau kolom juga. Tapi sekarang agak mengurangi. Berita-berita, meskipun nyata, seringkali membuat mood jadi murung. Sebabnya sederhana: bad news is a good news. Yang sial dan kontroversial; yang heboh dan tidak senonoh; yang lemah dan berdarah-darah; semua itu menyerap pemirsa. Bisikannya: jangan sampai dilewatkan berita macam ini! Padahal, berita boleh jadi diplintir karena koran juga punya kepentingan: oplaag!

It boils down to money and fame.

Oleh sebab itu, saya lebih suka dokumenter, dan wawancara langsung (live). Keduanya berbeda; tetapi disajikan dengan persiapan yang matang. Dokumenter seringkali mengupas latar belakang sesuatu sehingga meningkatkan pemahaman. Wawancara: kita mampu merekam dan menilai apa yang diomongkan seseorang; bukan apa yang wartawan tulis tentang omongan itu.

Tips menulis

Ketika beres-beres meja hari ini, saya menemukan catatan lama tentang bagaimana menulis berita. Catatan itu saya buat setelah mengikuti workshop penulisan berita dan opini di Tokyo. Ada dua pembicara. Pertama, Richard Susilo, seorang wartawan yang berbasis di Tokyo. Dia punya kursus bahasa Jepang bernama Pandan College. Yang kedua, Agus Fanar Syukri, peneliti LIPI dan penulis lepas untuk koran-koran di tanah air. Apa yang disampaikan mereka cukup bermanfaat, khususnya mengenai bagaimana menulis berita dan opini di koran.

Menulis berita

  • Berita punya ciri ini: hal-hal penting ditaruh di depan (paragraf awal), bagian kurang penting ditaruh di belakang.
  • Berita harus punya judul yang menarik
  • Berita punya elemen berikut: 5W + 1H (what, who, when, where, why, how) atau menurut Richard, disebutnya ASDAMBA (apa, siapa, di mana, mengapa, bagaimana – sayangnya “kapan” kok tidak ada?)
  • Meskipun rinci, berita harus ditulis dengan bahasa yang dapat dipahami anak SD
  • Kalimat berita harus pendek-pendek, berisi elemen subjek + predikat + objek (SPO) atau SPOK (ditambah keterangan)
  • Paragraf pertama dari berita harus menarik, dan membuat pembaca ingin tahu kelanjutannya
  • Ketika menulis berita, kita harus punya kode etik: jangan menjiplak, tulis kenyataannya, referensi harus jelas

Menulis opini

  • Opini adalah tulisan yang berisi pandangan dan wawasan pribadi mengenai suatu masalah yang aktual dan berkenaan dengan kepentingan publik; opini bukan berita atau saduran
  • Menulis opini berarti melapangkan jalan sebagai intelektual publik
  • Elemen opini: masalah – ide – data – kesimpulan
    • Masalah: apa yang tengah dipermasalahkan publik saat ini? Cari masalah/tema yang sesuai keahlian, yang aktual dan sesuai momentum; cari yang luar biasa atau aneh
    • Ide: apa ide anda dalam menyelesaikan masalah itu?
    • Data: data apa yang anda gunakan untuk mendukung ide tersebut? Data harus akurat; sertakan grafik bila perlu; gunakan pendapat para ahli untuk mendukung opini anda
    • Kesimpulan: sebelum menyimpulkan, analisis data-data di atas menurut pandangan pribadi; kemudian simpulkan dengan bahasa yang sederhana
  • Elemen ini mesti tetap ada: 5W + 1H
  • Bahasa harus populer, paling tidak dapat dipahami oleh murid SMP. Meskipun demikian, bahasa yang digunakan harus punya nilai tambah bagi pembacanya: punya karakter atau ciri khas, kaya akan kosakata, sesuai dengan kompetensi
  • Bagaimana meningkatkan kosakata dalam menulis? Banyak-banyaklah membaca buku yang non-fiksi, juga kolom opini; catat kosakata baru yang ditemukan, pahami artinya
  • Paragraf pertama harus menarik; cari tokoh atau sosok untuk menggambarkan kejadian
  • Kalimat harus koheren: kalimat pertama berhubungan dengan kalimat selanjutnya; paragraf pertama berhubungan dengan paragraf selanjutnya
  • Usahakan satu paragraf berisi satu ide saja

Tapi satu hal yang paling penting dari semuanya adalah berlatih menulis. Kemungkinan ini akan memenuhi kaidah 10 jam sesuai dengan usulan Malcolm Gladwell. Belajar menulis selama 10 jam per hari selama 10 tahun tanpa henti, mungkin akan membawa anda memenangkan Pulitzer! Who knows?

Another tips:

10 Cs to become a good writer: commitment, consistent, capability, character, competence, contextual, credibility, cool (ini gak tahu apa maksudnya!), conversation, community.

Tipping Point


Setiap orang punya tipping point. Tipping point berarti sebuah titik (waktu yang terikat tempat) dimana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, tetapi titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.

Tipping-point

Terminologi ini kurang tahu juga berasal dari siapa. Tetapi seorang yang berjasa mempopulerkannya adalah penulis buku Amerika Malcolm Gladwell. Bukunya Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference (2000) membuat orang tersadar bahwa masing-masing dari kita hidup seperti sekarang ini karena suatu alasan yang subtil, yang halus. Dan sering tidak kita sadari. Alasan ini berbentuk materi, dan tidak bersifat spiritual atau ilahiyah. Jika spiritual ia mungkin dinamakan hidayah dalam Islam. Ada dua proposisi yang diajukan Gladwell. Yang pertama adalah “epidemik sosial sangat ditentukan oleh sekumpulan orang yang memiliki bakat sosial yang khusus dan jarang dijumpai di kumpulan lain”. Yang kedua adalah “Prinsip 80/20. 80% kerja yang diperlukan untuk menciptakan situasi tertentu ditentukan oleh 20% orang saja”. Gladwell mendasarkan proposisinya kepada statistik dan psikologi. Dua cabang ini digunakannya untuk memahami fenomena sosial yang terjadi pada abad 21. Sebagian berlaku di AS, sehingga sifatnya kontekstual, tetapi ada juga yang sifatnya universal dan menembus batas negara, budaya dan bahasa.

Buku yang terbit 13 tahun lalu ini nampaknya tidak akan usang. Alasannya, seseorang ingin memahami istilah tipping point; kemudian ingin memahami perubahan yang terjadi di dalam dirinya atau lingkungannya; kemudian ingin mengetahui sejauh mana istilah tipping point itu dapat merepresentasikan kehidupan di sekelilingnya. Intinya, tipping point adalah sebuah terma untuk merefleksikan diri.

Sayangnya, ia tidak punya kemampuan prediktif. Tipping point adalah soal after-the-fact. Ia dapat dianalisis ketika sudah terjadi. Jika belum terjadi Gladwell tidak punya alat, faktor atau parameter untuk membantu kita mengidentifikasi akankah terjadi perubahan dahsyat dalam hidup kita karena suatu titik. Contohnya ini. Apakah ketika kita minum kopi pertama kali (pada umur 7 tahun, misalnya) menyebabkan kita mencintai kopi setengah mati, dan akhirnya membuka kafe yang semasyhur Starbuck? Kita tidak tahu. Apakah ketika Musso (tokoh komunis itu) mengenal kata женщина (zhenshchina) atau femme, yang berarti wanita, di sebuah majalah Barat, kemudian membuatnya mencintai paham komunis dan berkelana ke Uni Soviet dan Perancis, kemudian melawan Belanda, dan berujung pada pembentukan Republik Soviet Indonesia? Tidak ada yang tahu.

Tipping point adalah sebuah titik yang kita ketahui setelah semuanya terjadi dan terjelaskan dengan baik. Tapi, titik ini kadang tidak hanya satu. Ia merupakan perpotongan (intersection) dari pelbagai garis kehidupan orang lain juga; yang sulit dikendalikan karena acak dan didorong motivasi yang sifatnya spiritual (agama, tuhan, pencarian makna hidup), material (uang, hubungan keluarga) dan absurd (tanpa tujuan jelas – lebih ke estetika dan sisi eksentrik).

***

Pada 1999, saya pernah diajak seorang kawan urang awak (Minang, tapi lahir di Medan) untuk makan masakan padang di sebelah Masjid Salman. Setelah makan, kami biasanya pergi ke kios buku di dekat situ. Buku-bukunya ditumpuk, rata-rata baru terbit karena 1998 merupakan tahun yang membebaskan penerbit untuk merilis buku apa saja – dari yang “kanan” sampai “kiri”. Pemahaman generasi muda ketika itu tentang Islam fundamentalis mungkin didapatkan di sana. Buku-buku terjemahan dari Timur Tengah begitu banyak. Begitu juga pemahaman anak-anak tentang istilah communist manifesto, liberalisme, dan mendadak suka dunia sophie (filsafat).

Pada saat itu, kawan saya memperlihatkan sebuah buku berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Franz Magnis-Suseno). Saya yang tidak suka membaca hanya mengenal wajah Marx yang berjanggut. Wajahnya populer, dan saya tahu nama itu dari Buku 100 Tokoh. Mengenai pemikirannya, saya tidak tahu sama sekali. Tidak tertarik. Buat apa? Komunis dulu pernah bikin onar, dan memahami pemikirannya sama artinya dengan mengembalikan potensi keonaran itu.

marx

Tapi, akhirnya buku itu saya pinjam. Dan, saya terserap ke dalamnya. Mungkin ini disebabkan karena tulisan Romo Magnis-Suseno yang mudah dipahami, runtut dan sederhana. Mungkin pula karena pemikiran komunisme itu tidak datang tiba-tiba, tetapi dilatarbelakangi oleh kisah romantis antara Marx dan istrinya, atau persahabatan yang tak lekang antara Marx dan pengusaha Inggris, Frederich Engels. Saya sendiri tidak tahu. Tetapi yang akhirnya saya tahu dan rasakan: saya tidak berhenti membaca. Saya terus mencari buku-buku lain (Das Kapital, Mein Kampf, Thus Spake Zarathustra dan lain-lain). Membaca apa saja. Apa yang orang lain baca, saya baca juga. Bukan ingin kompetisi, tapi ingin memahami apa yang orang lain pahami; jadi kalau ngobrol bisa nyambung. Saya juga ingin menyelami semua pemikiran dan sejarah dunia. Mengapa dunia ini jadi seperti ini? Mengapa banyak sekali isme yang kemudian menjadikan Indonesia seperti ini?

Buku Marx yang diperkenalkan oleh kawan saya itu, singkatnya, adalah titik perubahan, atau tipping point. Buku itu pada akhirnya membuat saya melihat dunia dengan wajah yang berbeda. Buku itu membuat saya menyukai “menulis”. Menulis, pada akhirnya, menghasilkan keasyikan tersendiri. Tulisan yang persuasif sangat membius dan dapat membuat orang lain bergerak. Dengan tulisan, seseorang mampu mengubah persepsi dan memperkaya, atau bahkan dikritisi. Tanpa kritik, pemahaman kita akan kehidupan tidak akan berkembang.

Pada akhirnya, tipping point adalah soal manusia dan persepsi terhadap dirinya.

Thesis Habibie


Sebenarnya terlalu awal untuk menulis tentang PhD thesis yang ditulis oleh B.J. Habibie. Alasannya, ngerti aja belum, eh ini malah nulis tentang thesis beliau. Tapi rasa terima kasih yang tak terhingga (infinite thanks!) harus diberikan kepada kawan-kawan di Jerman (Noni, Romi, Ismail, Riza).

Ceritanya, pada musim panas 2010, saya ke Budapest untuk lihat seminar komposit Eropa (European Conference on Composite Materials 14). Sebelumnya, sudah kontak-kontak dengan Noni dan Romi untuk mampir ke Jerman, tepatnya di Bremen. Mereka juga mengenalkan ke dua kenalan baru di RWTH Aachen yang punya akses ke perpustakaan. Tapi ternyata thesis B.J. Habibie masih ada di perpustakaan jurusan, belum sampai di perpustakaan pusat. Setelah mencari-cari perpustakaan Fakultät für Maschinenwesen (naik turun bukit), akhirnya dapat juga thesis-nya Pak Habibie.

Thesisnya tipis, hanya 55 halaman. Sampulnya berwarna biru keabu-abuan, mirip kertas manila. Di dalamnya, teks ditulis dengan mesin ketik, rumus-rumus ditulis tangan, grafik digambar dengan bolpoin. Tulisan rumus-rumusnya rapi. Thesis tersebut kemudian dipinjam, dan di-scan (sama Romi). Sebelum di-scan, ya difoto dulu, supaya ada kenang-kenangan. Judulnya: Beitrag zur Temperaturbeanspruchung der orthotropen Kragscheibe. PhD thesis ini ditulis pada 1965. Dengan bahasa Jerman yang terbatas (dan bantuan kamus tentunya – plus samar-samar mengingat kuliah Theory of Elasticity dari Prof. Mordechai Perl), judul thesis itu dapat diartikan kurang lebih sebagai berikut: Contribution to the thermal stresses of orthotropic plates (Kontribusi terhadap tegangan thermal pada pelat ortotropik). Di dalam buku Sulfikar Amir (The Technological State in Indonesia: The Co-constitution of High Technology and and Authoritarian Politics, Routledge, 2013), judul ini dibahasa-Inggriskan sebagai berikut: Contribution to the temperature demand for orthotopic collarflange, yang saya rasa kurang tepat.

Isi thesis ini kurang lebih adalah derivasi atau turunan matematik yang didasarkan pada teori thermoelastisitas (yang dipelopori Goodier, Stanford University – murid Timoshenko) untuk menghitung tegangan thermal pada sebuah pelat yang kekakuan dalam arah ortogonalnya berbeda. Teori ini dapat diaplikasikan untuk menghitung tegangan thermal pada sayap pesawat ketika memasuki rejim hipersonik, di mana efek temperatur jadi cukup signifikan. Teori ini dipecahkan secara numerik dengan menggunakan komputer. Tapi orang yang paling memahami thesis ini tentunya adalah Pak Habibie sendiri, dan dua promotornya (Prof. Dr.-Ing. Hans Ebner dan Prof. Dr.-Ing. Wilhelm Dettmering).

habibie-thesis

Thailand (2)


Akhirnya, penerjemahan buku Journeys to Java by Siamese King (Imtip Pattajoti Suharto, 2012) selesai juga. Dua minggu yang lalu terjemahannya tidak sempurna, tapi seminggu kemudian udah mulai mendingan. Seperti dalam tulisan sebelumnya (Thailand), bentuk buku tentang Raja Siam ke Jawa itu sedang dipikirkan. Sulit sekali mencari bentuk buku yang enak dibaca, apalagi tentang kunjungan seseorang (bahkan seorang raja) yang perannya tidak signifikan bagi Indonesia. Raja Chulalongkorn sebenarnya adalah raja yang cukup berpengaruh di Siam (Thailand) pada akhir abad 19. Ia membawa Siam ke masa modernisasi, peradaban dan pem-Barat-an. Ia yang menghentikan secara berangsur-angsur perbudakan di Siam. Ia yang membuat Siam tetap merdeka berdaulat. Tapi, bahkan dengan citra atau imaji seperti itu saja gaungnya tidak terdengar di Indonesia, apalagi pengaruhnya. Ada sebuah pertanyaan dari Pak Djoko Suharto dalam suratnya: “Apa manfaat dari kunjungan Raja Siam ke Jawa bagi bangsa kita?” yang sekiranya dapat dijadikan judul (kata beliau). Sulit juga menjawabnya.

Baru pagi ini, setelah keluar dari ‘kamar ide’ (baca: toilet!), bentuk buku sudah kebayang. Intinya adalah: seseorang hanya tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Kalaupun dulu sejumlah ilmuwan Barat mati-matian menerjemahkan atau menafsirkan Desawarnana atau Negarakrtama (Mpu Prapanca) itu tidak lain untuk banyak sebab: (i) duit riset dari pemerintah atau universitas dikucurkannya untuk topik-topik seperti itu, (ii) dapat dijadikan studi kasus untuk menguji kemampuan filologi seseorang, (iii) termotivasi oleh buku karangan Letnan-Jenderal Inggris Sir Stamford Raffles yaitu History of Java (1817), (iv) dan lain-lain. Semua berhubungan dengan dirinya, harga dirinya, kebanggan dan kejayaan (dirinya!). Jadi, menulis tentang perjalanan Raja Chulalongkorn ke Jawa harus mengupas tuntas tentang Indonesia, bukan tentang Raja Chulalongkorn.

Menulis sejarah itu susah ternyata. Apalagi tidak pernah ambil kuliah sejarah, sosiologi dan lain-lain yang berhubungan. Tapi di internet banyak juga tips-tips menulis sejarah. Yang paling menohok karena bermanfaat adalah dari Harvard University (A brief guide to writing the history paper) Link. Inti dari menulis sejarah adalah selection dan interpretation. Pilih topik, pilih periode yang paling signifikan. Interpretasi, artikan topik atau periode itu. Ambil esensinya. Orang tidak punya cukup umur untuk menulis tentang sejarah, karena saking banyaknya informasi. Tapi ambil topik yang paling menarik. Banyak lagi, info lainnya dalam artikel pendek itu. Sebagai hints!

Apa yang anda anggap menarik tentang Jawa pada tahun 1896-1901? Ingin tahu apa tentang Jawa pada jaman itu? Chulalongkorn mencatat hampir semua aspek. Tidak rinci, tapi ada.

Oiya, malam ini kiriman buku baru sudah tiba: A True Hero – King Chulalongkorn of Siam’s Visit to Singapore and Java in 1871. Buku yang dibeli online ini tidak lain adalah PhD thesis yang ditulis kawan baru bernama Dr Kannikar Sartraproong (kini bermukim di US). Bukunya merah, Jenderal!

kannikar

Skip and skim:

  • Di dalamnya tidak ada foto! Di luarnya aja (sampul) ada dua foto. Di dalamnya ada bahasa Inggris, Belanda, Thai dan Melayu tempo doeloe. Lucu kayaknya nih.
  • Chulalongkorn paling seneng pas datang ke Jawa – disambut habis sama Belanda. Alasannya, Belanda tidak ingin kehilangan muka sama Inggris waktu Chulalongkorn mengunjungi Singapura. Di Singapura, Chulalongkorn disambut habis juga soalnya. Belanda bingung mau menyambut Chulalongkorn: Raja Jawa ya bukan … Raja Belanda juga bukan … Raja negara Eropa juga bukan … sinten sampeyan?
  • Kayaknya buku Kannikar ini banyak info dari koran jaman dulu (sumber primer!) dari berbagai bahasa
  • Patung gajah di depan Museum Nasional Jakarta itu terbuat dari apa hayo? Masih kontroversi: Orang Thailand bilang itu logam dasar dicampur emas; orang Inggris bilang itu kuningan (campuran tembaga dan seng); orang Belanda bilang itu perunggu (campuran tembaga dan timah). Ahli metalurgi, ayo coba dites!