Fudai


Cerita tentang gelombang tsunami (gelombang pelabuhan) barangkali tidak ada habisnya. Tsunami tidak hanya ditakuti di Jepang (tempat asal kata ini) tapi juga seluruh dunia. Gelombang tsunami bisa mencapai tinggi 30 meter, dan efeknya luar biasa: musnahnya manusia dalam sekejap.

Pada 11 Maret lalu, beberapa jam setelah gempa besar 9.0 magnitude, saya menyalakan televisi NHK. Saya melihat gelombang tsunami menyapu rumah-rumah. Pada saat itu juga saya berandai-andai: Kalau saja seluruh pantai timur Jepang mempunyai pelindung raksasa …

Pelindung ini dapat berupa dinding beton yang tinggi, dan dapat dinaikkan setidaknya 15 meter. Dalam hitungan menit pula, dinding harus melindungi kota dari tsunami. Dengan pelindung ini, mungkin ribuan nyawa dapat diselamatkan.

Ah seandainya …

Tapi minggu lalu saya harus mengakui satu hal: Jepang memang visioner dalam teknologi!

Dinding beton itu ternyata bukan angan-angan belaka. Ia sudah pernah dibangun di Jepang pada akhir 60an. Dinding ini dibangun dengan alasan yang sederhana: “tsunami pasti terjadi lagi”. Tsunami selalu datang mengikuti gempa besar, dan ia di luar kendali manusia. Manusia hanya dapat berlindung atau lari saja.

Dua gempa besar yang paling dahsyat dalam sejarah Jepang adalah Gempa Meiji-Sanriku dan Gempa Sanriku. Kedua gempa ini  terjadi di wilayah Iwate. Wilayah ini merupakan epicenter gempa pada 11 Maret lalu.

Gempa Meiji-Sanriku yang berkekuatan 7.8 magnitude terjadi pada 15 Juni 1896. Gempa ini menyebabkan gelombang tsunami setinggi 38.2 meter. Tsunami yang terbentuk lalu menghancurkan 9,000 rumah, dan merenggut 22,066 nyawa.

Pada 2 Maret 1933, gempa terulang di wilayah yang sama. Gempa Sanriku berkekuatan 8.4 magnitude memicu gelombang tsunami setinggi 28.7 meter. Tujuh ribu rumah hancur. Yang meninggal lebih sedikit sebenarnya: ‘hanya’ 1552 orang. Namun itu belum termasuk 1,542 orang yang dinyatakan hilang, dan 12,053 yang cedera. Kota kecil bernama Tarou (sekarang bagian dari Miyako City) kehilangan 42% penduduknya.

Seseorang yang pernah menulis tentang Gempa Sanriku 1933 adalah Kotaku Wamura. Dalam buku berjudul “40 Tahun Melawan Kemiskinan”, Wamura yang berasal dari desa Fudai menulis:

Tatlaka aku melihat mayat digali dari tumpukan tanah, aku tak tahu harus berkata apa. Aku kehabisan kata-kata.

Dua tsunami pada 1896 dan 1933 itu telah merenggut 439 penduduk desanya. Itulah sebabnya mengapa tsunami merupakan keniscayaan bagi Wamura.

Setelah Perang Dunia II usai, Wamura menjadi kepala desa di Fudai. Seperti yang ditulis oleh Tomoko A. Hosaka (Associated Press), ketika pertama kali menjadi kepada desa, Wamura memulai dua proyek besar.

Pertama, ia membangun dam laut (sea wall) setinggi 15.5 meter di belakang pelabuhan nelayan pada 1967. Kedua, yaitu pada 1972, ia membangun lagi satu dam raksasa. Dam ini memiliki dua fungsi: mengalirkan air dari sungai ke teluk kecil, dan melindungi penduduk dari tsunami.

Kala itu, uang relatif mudah didapat karena pemerintah Jepang mengucurkan dana untuk pembangunan kota-kota kecil. Untuk menutupi kekurangannya, Wamura mengumpulkan uang dari penduduk desa dan wilayah di Iwate lainnya.

Penduduk yang memiliki tanah di pantai dipaksa menjual tanahnya. Wamura dengan cepat meratakan tanah-tanah pantai. Tentu sebagian penduduk merasa marah karena tanah-tanahnya dibeli paksa. Sebagian dari mereka malah menentang mega-proyek itu. Pada 1970an, dam sepanjang 205 meter itu dianggap terlalu besar. Lagipula, pembangunannya juga menghabiskan dana lebih dari Rp. 260 milyar.

Jika dibandingkan dengan dinding pelindung di daerah Tarou, dam di Fudai lebih tinggi. Di Tarou, dindingnya hanya setinggi 10 meter. Namun dinding di Tarou itu terbentang sejauh 2500 kilometer sepanjang teluk.

Mereka yang menentang proyek Wamura sebenarnya hanya menentang ukurannya saja, bukan fungsinya. Namun demikian, Wamura selalu berhasil meyakinkan penduduk bahwa dam itu untuk melindungi mereka karena tsunami pasti terjadi lagi.

Proyek dam raksasa pun tetap berjalan, dan selesai pada 1984. Tiga tahun kemudian, Wamura pensiun sebagai kepala desa setelah 10 kali dipilih. Desa Fudai kini siap ‘menyambut’ tsunami.

Dua puluh tujuh tahun setelah dam dibangun, yaitu 11 Maret 2011, gempa berkekuatan 9.0 magnitude terjadi di Iwate. Dalam tiga menit, informasi tsunami tersebar ke penjuru negeri, termasuk ke desa Fudai. Petugas segera menutup empat pintu dam. Satu pintu sempat macet, tidak bisa ditutup secara otomatis. Seorang petugas turun ke dam, dan menutupnya secara manual.

Gelombang tsunami pun datang beberapa menit kemudian. Desa Fudai dihantam gelombang setinggi 20 meter. Pantai Fudai yang indah di depan dam kini musnah. Tapi 3078 orang penduduk Fudai yang tinggal di balik dam itu bersih, tak tersentuh. Penduduk kemudian teringat Wamura yang meninggal pada 1997.

Visi dan kegigihan Wamura empat puluh tahun silam telah menyelamatkan nyawa mereka dari tsunami. Pusaranya sering dikunjungi penduduk Fudai untuk mengucapkan terima kasih. Ketika semua penduduk pantai timur Jepang, khususnya Iwate, Miyagi dan Fukushima, tersapu tsunami, penduduk Fudai tetap beraktivitas secara normal.

Sakurai & Kanno


Tahun 2011 merupakan tahun yang penuh cobaan bagi Jepang: krisis kepemimpinan, gempa yang memicu tsunami, ledakan reaktor nuklir dan ekonomi yang merosot.

Namun, di balik itu, dua warga Jepang masuk ke dalam The 2011 Times 100 yang disiarkan pada 21 April lalu. Mereka adalah Katsunobu Sakurai dan Takeshi Kanno. Dua orang ini bersanding dengan tokoh-tokoh dunia lain, seperti Joseph Stiglitz, Barack dan Michelle Obama, Sting, Mark Zuckerberg, Aung San Suu Kyi, Hillary Clinton dan Oprah Winfrey.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, majalah Time membuat daftar yang berisi 100 orang paling berpengaruh di dunia dalam pelbagai bidang. Gagasan dan tindakan mereka dinilai telah memicu dialog dan revolusi. Tahun lalu, hanya satu orang Jepang yang masuk dalam daftar Times 100, yaitu mantan Perdana Menteri Jepang, Yukio Hatoyama.

# Katsunobu Sakurai

Berusia 55 tahun, dia adalah walikota sebuah kota kecil bernama Minami Soma, Fukushima, yang berada 28 kilometer dari Fukushima Dai-ichi, pembangkit tenaga nuklir yang meledak.

Katsunobu Sakurai, walikota Minami Soma, Fukushima

Efek dari ledakan ini cukup hebat: 50,000 dari 71,296 penduduk melarikan diri dari Minami Soma. Tak lama kemudian, pemerintah Jepang mengeluarkan peringatan bagi penduduk yang masih di sana: mereka yang berada di 20 sampai 30 kilometer dari reaktor harus tetap berada di dalam rumah karena radiasi nuklir sangat berbahaya. Di negara yang memiliki disiplin tinggi seperti Jepang, peringatan ini pasti dipatuhi. Akibatnya, hanya penduduk yang masih tersisa, yaitu 20.000 jiwa, yang terisolasi di sana.

Sakurai bingung dan merasa bahwa pemerintah Jepang tidak memberi perintah penyelamatan (evacuation order) yang jelas kepada penduduk Minami Soma. Sakurai agaknya kesal karena pemerintah Jepang ibarat mempermainkan hidup penduduk Minami Soma. Dia ingin menyampaikan kepada dunia bahwa Minami Soma membutuhkan bantuan.

Pukul 9 malam 24 Maret (waktu setempat), Sakurai membuat video selama 11 menit 13 detik yang diunggah di Youtube keesokan harinya. LINK

Dalam video itu ia berkata:

Gempa pada 11 Maret dan tsunami, serta kecelakaan di reaktor nuklir Fukushima Dai-ichi, merusak kota kami. Kami yang berada di antara 20 dengan 30 kilometer dari reaktor kehabisan makanan, padahal pemerintah meminta kami tetap tinggal di rumah. Dan, dengan kurangnya informasi dari pemerintah atau Tepco (Tokyo Electric Power Corporation), kami terisolasi di sini.

Sakurai melanjutkan:

Jumlah penduduk sekarang adalah 20,000. Kami bertanggung jawab terhadap penduduk ini. Kami sulit mendistribusikan bantuan. Bantulah kami. Peringatan pemerintah membuat kami sulit mendistribusikan bahan-bahan logistik.

Dia juga mendorong agar wartawan media menyaksikan sendiri secara langsung kondisi mereka:

Sebagian besar media hanya mendapat informasi melalui telepon. Jika mereka tidak datang ke area ini dan mendapatkan informasi langsung, mereka tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi. Kami mendorong mereka agar menyaksikan sendiri apa yang terjadi di sini.

Dalam nada yang tenang ia menutup videonya:

Saya ingin meminta media di seluruh dunia agar membantu kami dalam menyiarkan gempa dan tsunami, dan bahwa kami sedang berjuang menghadapi ancaman radiasi dan polusi.

Dampak dari video itu terasa dua minggu kemudian.

Ratusan wartawan datang ke Minami Soma dan membuat liputan langsung tentang kondisi di sana. Bantuan berupa makanan dan bensin mengalir ke wilayah ini. Sukarelawan membantu evakuasi 20,000 orang yang masih tersisa. Toko-toko pun buka dan mengirim makanan ke rumah-rumah.

Dalam wawancaranya dengan The New York Times, Sakurai mengatakan:

Kami kini sadar betul bahwa kami tidak sendirian.

# Takeshi Kanno

Berusia 31 tahun, dia adalah dokter di Rumah Sakit Shizugawa, Minami Sanriku.

Takeshi Kanno, dokter Rumah Sakit Shizugawa

Ketika gempa terjadi, dia segera memindahkan puluhan pasien ke lantai yang lebih tinggi karena sadar bahwa beberapa menit lagi tsunami akan menghantam rumah sakitnya.

Dari lantai atas, Dr Kanno menyaksikan betapa air laut telah menyapu semua rumah. Dia segera kembali ke lantai satu, dan menyaksikan semua orang telah hilang.

Sampai dua hari kemudian (13 Maret), beliau masih gigih membantu pasien. Ketika helikopter penyelamat tiba, dia memberangkatkan semua pasien ke RS lain. Setelah semua pasien telah diamankan, dia pun berangkat. Dia menjadi orang terakhir yang terbang.

Pada 14 Maret itu, beberapa jam setelah ia mendarat dari helikopter, ia mendampingi istrinya yang melahirkan anak mereka yang kedua. Bayi laki-lakinya diberi nama Rei (artinya kebijaksanaan dalam menghadapi cobaan hidup).

Bantuan untuk Korban Bencana di Jepang


Berita Harian 29 Maret 2011

Dapatkah Jepang pulih dengan transparan, teratur dan lebih yakin? Persoalan besar ini menyelubungi pascabencana di Jepang. Kota-kota di pesisir timur wilayah Miyagi, Iwate dan Fukushima luluh lantak disebabkan gempa dahsyat magnitude 9. Dunia kemudian menyaksikan betapa gempa ini memicu gelombang besar tsunami setinggi hingga delapan meter. Kota-kota yang tersapu tsunami bak dijatuhi bom atom.

Keadaan Jepang semakin parah setelah dua reaktor di Fukushima Dai-ichi (Fukushima I) meledak. Udara, tanah dan air di sekitar reaktor terkena radiasi. Zona bebas radiasi yang sebelumnya hanya 10 kilometer dinaikkan hingga 30 kilometer dari reaktor.

Minggu lalu, air di pusat pemurnian tercemar yodium-131. Zat ini mencapai 210 Becquerel dalam 1 liter air. Jepang menetapkan angka 100 Becquerel/liter air untuk aman diminum. Orang dewasa dapat minum air langsung dari kran jika kandungan yodium berada di bawah 300 Becquerel/liter.

Multi-bencana ini akhirnya membuat Jepang rugi sekitar 25 triliun yen. Perusahaan, sekolah, rumah sakit, jalan raya dan prasarana lain lumpuh. Kerugian ini dihitung dari tujuh area yang mengalami kerusakan berat, yaitu Miyagi, Fukushima, Iwate, Chiba, Aomori, Ibaraki dan Hokkaido. Angka ini sama dengan 27% cadangan anggaran Jepang (92 triliun yen), atau dua setengah kali lipat kerugian yang dialami Jepang pada 1995 karena gempa Hanshin di Kobe (9.6 triliun yen). Dibandingkan kerugian yang dialami Amerika Serikat karena taufan Katrina, maka kerugian Jepang adalah empat kali lipat.

Kerugian ini jelas menyebabkan ekonomi Jepang (yang seharusnya naik Maret 2011) mendadak turun. Bisnis Jepang dengan negara-negara lain terpengaruh. Bencana ini juga mengganggu rencana bantuan kepada negara-negara lain di masa depan (berawal sejak 1 April 2011).

Namun, banyak negara menawarkan bantuan kepada Jepang agar penduduknya cepat tertolong. Bantuan dari negara-negara ini dapat mempercepat pemulihan ekonomi Jepang.

Lebih 70 negara membantu Jepang. Selain negara-negara besar seperti Amerika dan Uni Eropa (EU) yang membantu, negara-negara Asean juga membantu Jepang.

Singapura membuat sebuah halaman di situs www. gov.sg. Halaman ini berisi informasi tentang kondisi terakhir Jepang dan aktivitas Singapura dalam membantu Jepang. Pemerintah Singapura memberi bantuan sebanyak $500.000 ke Jepang melalui Palang Merah Singapura.

Sekitar 69 masjid di Singapura juga turut membantu Jepang. Masjid-masjid ini membuka kontribusi yang dimulai pada 18 Maret dan ditutup pada 24 Maret 2011. Secara pribadi, saya yakin kontribusi yang diberikan masjid-masjid ini pasti akan berguna untuk pemulihan Jepang. Dan sebagai minoritas di sini, sebenarnya ada efek unik yang akan menyusulinya.

Jepang yang memiliki sekitar 100,000 Muslim (kurang 1 persen dari 127 juta penduduknya) akan melihat Islam dengan pandangan berbeda: Orang Islam tidak hanya memiliki rasa solidaritas pada sesama Muslim, bahkan ke penduduk lainnya yang bukan Muslim. Di sini Jepang melihat bahwa kepedulian umat Islam bernilai universal. Bantuan ini sudah melewati perbedaan kultur dan agama.

Dari negara-negara penyumbang, Korea Utara juga turut membantu Jepang. Korea Utara yang pernah menyerang Korea Selatan memang membuat Jepang terus-menerus waspada akan serangannya. Asia Timur cukup terganggu oleh bahaya laten Korea Utara . Namun, karena bencana di Jepang itu, Korea Utara ternyata peduli kepada Jepang.

Gerakan Internasional Palang Merah Korea Utara menyumbangkan 8.1 juta yen ($126,000) kepada Jepang. Bahkan, pemimpin Korea Utara Kim Jong Il juga memberi uang kepada Jepang, yaitu sebesar 500 ribu yen ($7,800). Kontribusi ini disalurkan kepada pendatang Korea Utara yang tinggal di Jepang.

Dari sekian banyak kontribusi ke Jepang, ada kalangan yang curiga apakah uang kontribusi itu bisa sampai ke korban bencana. Kecurigaan ini selalu muncul di beberapa blog. Dari blog-blog ini, ada beberapa alasan mengapa sikap curiga ini muncul.

Ketika Jepang terkena gempa bumi besar Hanshin di Kobe pada 1995, pemerintah Kobe mengambil sebagian uang sumbangan dan menyimpannya di sebuah bank. Mereka menyatakan uang ini akan dimanfaatkan di masa depan bila Kobe terkena bencana lagi. Aktivitas ini mendapat kritikan dari penduduk karena masih banyak orang yang belum mendapatkan bantuan.

Selain itu, beberapa hari lalu perwakilan Jepang dalam UNICEF diduga memakai 25% uang sumbangan untuk biaya operasi komite. Namun, hal ini dibantah oleh Hiromasa Nakai, juru bicara Komite Jepang. Nakai menyatakan bahwa semua uang sumbangan akan diberikan kepada korban bencana. Komite Jepang untuk UNICEF dan Palang Merah Jepang terus melaporkan petunjuk uang sumbangan itu dalam lamannya http://www.jrc.or.jp. Cara seperti ini dapat menghindarkan orang dari pandangan curiga terhadap suatu organisasi sosial.

Gempa Tohoku (1)


Di Jepang, orang sudah terbiasa dengan gempa. Gempa kecil kurang dari kekuatan 3.0 terjadi setiap hari. Namun, pada Jumat lalu (11 Maret 2011) semua orang panik. Tepat pada 14:46 gempa dengan kekuatan 9.0 mengguncang Jepang. Gempa ini adalah gempa terbesar di Jepang sejak 1900.

Pusat gempa berada 181 kilometer timur laut Tokyo. Jarak ini membuat kekuatan gempa yang saya rasakan ‘hanya’ sekuat 5.0. Namun, ini sudah menimbulkan kepanikan hebat karena kotak buku di ruangan saya berguncang-guncang dan buku-buku pun berjatuhan. Monitor komputer pun mulai bergoyang dan tergeser. Cangkir dan alat-alat makan di dapur pun berjatuhan.

Ruangan saya di lantai satu. Jadi, tindakan yang seharusnya saya lakukan ketika gempa adalah bersembunyi di bawah meja agar terlindung dari reruntuhan bangunan. Namun, saya panik. Saya cepat-cepat lari menuju ke pintu keluar yang hanya berjarak enam meter. Dua teman lain juga mengikuti saya.

Ketika gempa terjadi, bila memungkinkan, seseorang memang harus segera menuju ke tempat luas atau tempat yang jauh dari bangunan. Ini demi menghindari cedera karena kejatuhan reruntuhan bangunan. Saat itu, saya lari ke jalanan dan menjauhi bangunan. Di sana, saya mencoba menelepon istri saya. Banyak orang berkumpul juga di sana. Mereka nampak sibuk menelepon.

Sayangnya, ponsel tidak berfungsi! Jaringan telepon lumpuh karena hampir semua orang memakai telepon seluler.

Di tengah kepanikan itu, saya cepat pulang ke rumah yang hanya sejauh dua kilometer.

Sepanjang jalan saya melihat banyak orang keluar dari perusahaan, dan saya bertemu dengan teman yang menggendong anaknya keluar dari rumah. Mereka bergegas ke taman bermain.

Sesampainya di rumah, saya tidak melihat istri dan anak saya. Lemas rasanya.

Di manakah mereka?

Saya segera keluar rumah dan mencari mereka.

Mereka tidak ada di taman. Setahu saya, mereka memang pergi ke klinik pada pagi hari, tetapi mereka seharusnya sudah pulang.

Saya pun kembali masuk ke rumah dan hanya bisa berdoa agar istri dan anak saya diberi keamanan.

Alhamdulillah, belum 10 menit berlalu, terdengar langkah kaki. Anak dan istri saya selamat!

Mereka bercerita bahwa ketika gempa terjadi, mereka sedang makan siang. Namun, mendadak rumah makan ditutup karena gempa besar itu. Mereka pun naik bis yang ketika itu masih beroperasi.

Saat itu, jaringan kereta api dihentikan. Japan Railway (JR) dan perusahaan kereta api lain, misalnya Keio, menghentikan operasinya. Ini membuat mereka yang tengah bekerja di kawasan pusat Tokyo tidak bisa pulang ke rumah masing-masing.

Seorang teman memberitahu bahwa ia harus tidur di kantor karena untuk berjalan kaki ke rumah membutuhkan delapan jam. Akhirnya, ia pulang ke rumah keesokan harinya.

Pascagempa

Gempa tidak hanya terjadi pada 14:46 petang. Gempa lanjutan terus terjadi setiap lima menit. Ini disebut after-shock (pascagempa). Menurut Badan Meteorologi Jepang (JMA), kemungkinan gempa lanjutan berkekuatan lebih dari 7.0 akan terjadi lagi satu saat antara Jumat dan besok.

Kami tetap siaga karena dalam kondisi darurat ini, apa pun dapat terjadi. Kami terus mengaktifkan televisi dan mengikuti berita. Semua stasiun televisi Jepang menghentikan acaranya dan menggantinya dengan berita gempa.

Menara darurat setinggi 30 meter yang berada dekat rumah kami juga tidak henti-hentinya menyampaikan peringatan.

Untuk berkomunikasi, karena jaringan telepon terputus, saya menggunakan Internet untuk menghubungi teman-teman lain di Tokyo.

Saya juga menyampaikan kabar kepada saudara di tanah air melalui email.

Tsunami

Gempa besar yang terjadi di pantai Tohoku itu punya efek yang mengerikan: gelombang raksasa atau tsunami. Tiga menit setelah gempa terjadi (14:49), JMA mengeluarkan peringatan bahwa tsunami besar akan terjadi di tiga prefektur, yaitu Miyagi, Iwate dan Fukushima. Dari televisi kami menyaksikan seluruh tanah pertanian tersapu gelombang tsunami. Bandara Sendai juga terbenam air laut. Tinggi gelombang tsunami mencapai tujuh meter. Ribuan orang di tiga wilayah itu kehilangan tempat tinggal. Saat ini lebih 2.000 orang meninggal dunia. Menurut polisi wilayah Iwate, angkanya bisa mencapai 10.000.

Untungnya, wilayah Tokyo dilindungi oleh Teluk Tokyo dan wilayah Chiba. Tempat tinggal kami juga terletak 45 kilometer dari garis pantai. Jadi dampak tsunami tidak terasa. Lebih 50 negara mengirim bantuan ke Jepang. Saya juga mendapat kabar bahwa kedutaan negara-negara ASEAN mengirimkan sejumlah bus untuk menyelamatkan warganya yang terjebak di Sendai.

Reaktor Nuklir Meledak

Sekitar 34.5% energi listrik di Jepang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Ada sekurangnya 15 reaktor nuklir di seluruh Jepang. Di Fukushima, ada dua reaktor bernama Fukushima I dan II. Fukushima I memiliki enam unit reaktor, sedangkan Fukushima II memiliki empat reaktor.

Pada 15:36 petang kemarin, Fukushima I Unit nomor 1 meledak. Penduduk yang berada di radius 20 kilometer dari Fukushima I dan II harus segera menjauhi reaktor. Kebocoran terjadi di reaktor itu, dan radiasinya sangat berbahaya. Menurut data, radiasi di dalam reaktor bisa mencapai 1.000 lipat.

Reaktor ini berada 250 kilometer di timur laut Tokyo. Namun, meledaknya reaktor Fukushima ini membuat banyak orang di Tokyo panik karena Tokyo Electric Power Company (Tepco) akan memberikan cadangan listriknya ke wilayah-wilayah yang kehabisan listrik, seperti Iwate, Miyagi dan area pantai timur Jepang yang lain. Ada 540,000 rumah yang tidak dialiri listrik.

Kemarin, listrik rumah kami dipadamkan. Ini berarti bahwa kami tidak dapat menyalakan pemanas ruangan. Suhu di siang hari cukup hangat, yaitu 19 derajat Celsius. Namun, pada malam hari, suhu bisa turun hingga 5 derajat Celsius.

Pemadaman listrik ini berjalan beberapa hari, atau pada waktu tidak tentu. Perusahaan besar Jepang menghentikan produksinya karena prioritas listrik diberikan ke perumahan penduduk. Toko-toko 24 jam tutup lebih awal untuk memberikan elektriknya.

Oleh sebab itu, kami telah menyiapkan dua kantong ‘darurat’ yang berisi makanan kaleng, air minum, senter, pakaian hangat, selimut, korek, lilin, obat-obatan, radio, dokumen dan alat-alat survival lainnya. Hampir semua penduduk Tokyo menyiapkan kantong semacam ini. Pada Sabtu lalu, persediaan bahan makanan di toko 24 jam (konbini),  misalnya 7-11, habis. Bahkan, persediaan makanan di beberapa pasar swalayan sekitar tempat saya sudah semakin menipis.

Kami sadar bahwa kondisi kami mungkin jauh lebih baik dari penduduk di area Iwate, Miyagi dan Fukushima. Mereka bukan hanya kehilangan tempat tinggal, bahkan kehilangan saudara yang dicintai. Setiap hari kami,  hanya berdoa agar bencana nasional ini cepat berlalu.