Bingkisan


Setelah sholat Jumat selesai (2013/3/1), seorang staf masjid mengumumkan bahwa Kepolisian Hachioji memberi hadiah untuk jamaah. Masing-masing orang dapat mengambil satu paket. Dalam satu paket ada sekaleng biskuit dan beras instant.

Di sini perlu dijelaskan lebih dulu mengapa kepolisian memberi hadiah. Pertama, karena Kepolisian Hachioji ingin menjalin hubungan baik dengan jamaah masjid. Hubungan itu dapat lebih kuat dengan bingkisan. Ini tradisi yang umum di Asia, atau Jepang. Kedua, Kepolisian Hachioji adalah elemen masyarakat Jepang yang cukup “dekat” dengan jamaah masjid. Kepolisian Hachioji dekat dengan jamaah karena setiap pelaksanaan sholat Jumat mereka menempatkan (atau Jawanya – nandhur) dua orang polisi (Nomura dan Suzuki) untuk menjaga masjid. Mengapa masjid dijaga pada saat sholat? Ini mungkin bentuk paranoid Jepang terhadap peledakan WTC pada 11 September 2001. Terlepas dari kontroversial bahwa dua gedung kembar WTC itu diledakkan secara sengaja atau karena tabrakan pesawat, citra Islam tercoreng karena banyak nama-nama muslim yang terlibat. Yang jelas, efek peledakan WTC itu jadi mendunia. Amerika dan negara aliansinya menjaga dirinya dari Islam. Salah satu efek mikronya adalah pengawasan masjid-masjid di Jepang.

Continue reading

Ginjal


Dr Toshinobu Horiuchi (55 tahun) adalah dokter di sebuah klinik di kawasan Edogawa, Tokyo. Lebih dari dua dekade ia memberi layanan kesehatan kepada penduduk di kawasan itu. Kliniknya adalah peninggalan ayahnya yang juga seorang dokter. Sayangnya, enam tahun terakhir ini bisnis kliniknya kurang bagus. Ia terkena sakit ginjal sejak 2005. Dr Horiuchi lalu menjalani hemodialisis (cuci darah).

Di Jepang, ada 300.000 pasien ginjal yang menjalani cuci darah. Pada 1997 penderita sakit ginjal di Jepang masih 180,000. Namun, pola makan dan minum membuat angkanya naik hampir dua kali lipat dalam 14 tahun terakhir.

Ongkos cuci darah sangat mahal di Jepang. Pasien ginjal harus mengeluarkan 5.3 juta yen dalam setahun. Untungnya, pemerintah Jepang menanggung hampir semua ongkos itu melalui Asuransi Kesehatan Nasional. Pasien hanya membayar 100.000 yen dalam satu tahun. Namun, pasien ginjal di Jepang cenderung memilih transplantasi organ daripada cuci darah. Cuci darah dirasa sangat menyiksa dan perlu dilakukan berkali-kali.

Transplantasi organ (selain kornea mata) adalah pengobatan yang radikal di sini. Jadi, transplantasi hanya bisa dilakukan melalui Jaringan Transplantasi Organ Jepang (Japan Organ Transplant Network).

Ada setidaknya 12,140 pasien ginjal yang sedang menunggu operasi transplantasi ginjal baru. Sayangnya, tahun lalu, hanya 10% saja yang bisa mendapatkan ginjal. Dari sekitar 1,200 pasien itu, 209 mendapat ginjal dari pasien lain yang otak atau paru-paru orang itu tidak berfungsi lagi. Sekitar 1,000 pasien mendapat ginjal dari donor yang masih hidup.

Hukum Jepang mewajibkan donor yang masih hidup haruslah anggota keluarga sendiri, misalnya, anak, istri atau saudara dekat lainnya. Kondisi ini membuat banyak pasien ginjal asal Jepang pergi ke luar negeri untuk menjalani transplantasi organ.

Orang Jepang biasanya pergi ke Cina untuk transfer organ karena biayanya lebih murah. Di Cina, biaya transplantasi organ adalah 7 juta yen termasuk tiket pesawat, hotel dan 20 hari perawatan di Guangzhou di selatan Cina. Namun, Cina melarang transplantasi organ untuk wisatawan sejak 1 Mei 2007.

Dr Horiuchi pergi ke Filipina pada 2008 dengan harapan mendapat ginjal baru. Namun, nasibnya kurang baik. Belum sempat ia mendapat organnya, hukum Filipima melarang orang asing menjalani operasi transplantasi organ di negara itu.

Dr Horiuchi pulang dengan tangan hampa. Karena kecewa, pada 2008 ia dan istrinya mencari ginjal di pasar.

Pada 2009 mereka bertemu Kauzhisa Takino (50 tahun) seorang anggota Yakuza. Takino berjanji akan memberi Dr Horiuchi ginjal setelah mendapat bayaran 10 juta yen. Tiga donor diperkenal kepada Dr Horiuchi. Dr Horiuchi kemudian memerika mutu tiga ginjal di kliniknya sendiri. Dari tiga ginjal itu, Dr Horiuchi memilih ginjal milik bekas gangster bernama Fumihiko Sakagami (48 tahun) teman Takino.

Karena tahu bahwa transplantasi ginjal hanya bisa dilakukan dalam satu keluarga saja, maka Dr Horiuchi mengambil Sakagami sebagai anak angkat. Namun, dua bulan sebelum transplantasi organ, Takino meminta 10 juta yen lagi dari Dr Horiuchi.

Dr Horiuchi menolak dan membatalkan transplantasi organnya. Ia mencari ginjal dari orang lain.

Akhirnya, ia mendapat ginjal dari pemuda berusia 20-an tahun yang berasal dari wilayah Saitama, utara Tokyo. Ia mengeluarkan 10 juta yen untuk membeli ginjal itu.

Pada Juli tahun lalu, Dr Horiuchi berhasil menjalani operasi transplantasi ginjal di Rumah Sakit Uwajima Tokushukai.

Setahun pun berlalu.

Pada 24 Juni lalu lima orang ditangkap polisi. Mereka adalah Dr Toshinobu Horiuchi dan istrinya, Noriko Horiuchi, Kazuhisa Takino, Fumihiko Sakagami dan Hitomi Sasaki (teman serumah Sakagami).

Dr Toshinobu Horiuchi

Kasus ini menjadi sorotan masyarakat Jepang karena perdagangan ginjal ini dilakukan oleh seorang dokter dan melibatkan anggota Yakuza, gangster terkenal Jepang. Kasusnya kini diproses di pengadilan Tokyo.

Dalam buku Yakuza Japan: Criminal Underworld (2003) penjualan ginjal biasanya disebabkan desakan sarakin (kreditor ilegal) pada peminjam uang. Sarakin akan menyuruh penghutang yang tidak sanggup membayar utang agar menjual apa saja termasuk ginjal. Sebuah ginjal dihargai 2.3 juta yen.

Pemerintah Jepang melarang warga Jepang mendapat ginjal dari mereka yang bukan saudara. Ini salah satu sebab mengapa warga Jepang kadang mengambil jalan pintas untuk pengobatan dirinya.

Kecelakaan Pesawat MA-60 (1)


Pada 7 Mei 2011, pesawat MA-60 buatan Xi’an Aircraft Industrial Corporation (China) terbang dari Sorong menuju Kaimana, Papua Barat. Pesawat yang dioperasikan Merpati Nusantara dengan nomor penerbangan MZ8968 ini membawa total 25 penumpang (2 pilot, 2 pramugari, 2 teknisi, 16 penumpang dewasa, 1 anak dan 2 bayi). Pesawat lepas landas pada pukul 12:50, dan mengudara di ketinggian sekitar 15500 kaki.

Pesawat MA-60 buatan China dioperasikan Merpati Nusantara sejak 2010

Pada pukul 13:25, pesawat MZ8968 berkomunikasi dengan petugas Kaimana AFIS (Aerodrome Flight Information Service). Petugas mengatakan bahwa cuaca di Kaimana hujan, sehingga jarak pandangnya hanya 3 sampai 8 km. Awan sebagian berbentuk cumulonimbus dengan ketinggian dasar awan 1500 kaki. Angin berhembus dari barat daya dengan kecepatan 3 mil/jam, dan suhu di darat adalah 29 derajat Celcius.

Karena bandara Kaimana tidak dilengkapi prosedur pendaratan menggunakan instrument, maka pendaratan harus berpedoman kepada Visual Flight Rule (aturan terbang visual). VFR menyatakan bahwa jarak pandang yang baik ialah 5 km, dan VFR minimum ceiling adalah 1000 kaki.

Kaimana airstrip di Papua Barat

Kaimana airstrip dilihat dari cockpit

Pada pukul 13:42, pesawat MZ8968 turun dan mendekati bandara. Ia berjarak 7 mil dari Bandara Kaimana, dan melewati ketinggian 8000 kaki. Bandara Kaimana masih hujan, sehingga pesawat memutuskan terbang ke selatan bandara. Tiga menit kemudian, pesawat mengatakan ia berada 15 mil di selatan bandara pada ketinggian 5000 kaki. Pesawat masih menunggu cuaca membaik. Namun, bandara masih hujan, jarak pandang hanya 2 km saat itu.

Pukul 13:50, AFIS kehilangan kontak dengan pesawat…

Pesawat MZ8968 itu jatuh di laut, kira-kira 800 meter arah tenggara ujung Landasan 01 (500 meter dari pantai). Ketika diangkat dari laut, pesawat dalam keadaan hancur, dan 25 penumpang dinyatakan tewas. Evakuasi jenazah tuntas pada 11 Mei. Sebelumnya, dua kotak hitam (black box) yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) dapat diangkat dari laut masing-masing pada 9 Mei dan 10 Mei.

Salut kepada tim gabungan BASARNAS, Polisi, TNI, masyarakat Kaimana dam CII (Conservation International Indonesia) Kaimana.

***

Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) bekerja keras menyelidiki peristiwa nahas ini.

Sebelas hari kemudian, pada 18 Mei, dengan cepat KNKT merilis surat resmi pertama yang berisi ulasan singkat tentang kecelakaan. Surat ini berjudul Laporan Awal Kecelakaan Pesawat Udara (Nomor: KNKT/001/9/V/REK.KU/2011). Yang terpenting, surat ini berisi rekomendasi kepada tiga pihak, yaitu PT Merpati Nusantara, Dirjen Perhubungan Udara dan Dirjen Perhubungan Udara (Direktorat Bandara).

“Rekomendasi Segera” kepada:

PT Merpati Nusantara Airlines: “Menjamin pelaksanaan penerbangan visual untuk dilaksanakan sesuai dengan ketentuan VFR, dan melaksanakan pelatihan terhadap Crew MA-60 di simulator dengan penekanan materi pada CRM dalam menghadapi cuaca buruk”

Dirjen Perhubungan Udara: “Memonitor pelaksanaan rekomendasi segera pada butir A di atas, untuk dilaksanakan dengan seksama oleh jajaran operasi PT Merpati Nusantara Airlines”.

Direktorat Bandara: “Mereview ketentuan penggunaan fasilitas/perlengkapan bandara terutama lampu landasan untuk dapat meningkatkan keselamatan operasi penerbangan terutama pada saat jarak pandang terbatas”.

Anda dapat membaca surat resmi ini di website Dephub. Link:

Click to access KNKT_001_9_V_REK.KU_11.pdf

***

Ada beberapa kejanggalan dalam laporan tersebut.

Kejanggalan #1

Pada halaman 3, ditulis:

Untuk investigasi, FDR dibaca oleh Investigator KNKT di fasilitas pembuat FDR di China. Dari pembacaan FDR diharapkandapat diperoleh data mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kecepatan pesawat, arah, sikap/posisi, ketinggian, daya mesin, kedudukan bidang-bidang kemudi, percepatan/perlambatan dan lain-lain.Sedangkan pembacaan CVR (buatan Honeywell) telah dilaksanakan di laboratorium KNKT di Jakarta dan diperoleh rekaman pembicaraan berdurasi 2 jam berisi suara yang terekam dari ruang kemudi dengan kualitas baik.

 Jadi, hanya CVR yang sudah dibaca; sedangkan KNKT masih mengharapkan (menunggu?) hasil pembacaan FDR. Padahal, di bagian bawahnya ditulis:

Pada investigasi data FDR dan CVR tidak terdeteksi adanya kelainan fungsi-fungsi sistem pesawat udara.

 Kejanggalan #2

 … Fasilitas/perlengkapan bandara terutama lampu landasan yang disediakan oleh salah satu operator penerbangan dan dipergunakan khusus untuk operator tersebut.

Apakah ini berarti jika lampu landasan untuk memandu pendaratan di bandara dipasang oleh maskapai lain (selain Merpati) lampu tidak akan dinyalakan untuk Merpati?

Selamat bekerja Tim KNKT!

***

Video

MA-60 Accidents in Indonesia

Three accidents involving China-made Merpati Nusantara Airlines MA60 airplanes have happened since 2010. Below is the list of those accidents based on tempointeraktif.com data:

July 14, 2010

A Merpati MA 60 airplane was scheduled to fly from Selaparang, Mataram to Denpasar, but it was canceled due to short circuit in the cabin.  No casualties.

Feb. 19, 2011

A Merpati MA 60 aircraft skidded off the runway at El Tari Kupang airport. All passengers and crew members survived the incident.

May 7, 2011

A Merpati MA 60 airplane crashed off the sea near Kaimana airport, West Papua.

Thanks to Mukhlason for the prudent reading.

Senkaku (2)


Lanjutan artikel Senkaku.

Awalnya adalah tabrakan.

Sebuah kapal nelayan China bertabrakan kapal polisi laut Jepang pada 7 September 2010. Insiden ini ‘istimewa’ karena tabrakan ini terjadi di kepulauan Senkaku (selatan Jepang), sebuah wilayah sengketan Jepang – China selama berpuluh-puluh tahun. Polisi Jepang akhirnya menahan kapten kapalnya, Zhan Qixion (41 tahun), asal Fujian. Zhan ditahan selama dua minggu di Naha, Okinawa. Koran China menyiarkan berita penahanan ini tanggal 8 September. Kemudian demonstrasi besar-besaran terjadi di beberapa kota di China. Ini wajar karena China menganggap bahwa kepulauan Senkaku, yang disebutnya Diayou, adalah bagian dari China sejak 1992. Namun, Jepang juga mengklaim bahwa penahanan Zhan ini sah karena Senkaku sudah dikuasai Jepang sejak 1971. Selain itu, polisi Jepang juga menyatakan bahwa kapal nelayan Zhan sengaja menabrak kapal polisi.

Efeknya jelas: hubungan diplomatik Jepang-China menjadi tegang.

Tetapi, benarkah insiden itu hanyalah tabrakan? Khalayak Jepang tidak tahu sampai hingga pada 5 November 2010 seseorang mengunggah sejumlah video tabrakan antara kapal polisi Jepang dan kapal nelayan Cina di situs http://www.youtube.com. Dari enam video (total 44 menit) yang diunggah sudah jelas bahwa kapal China lah yang menabrak kapal polisi Jepang. Enam video ini diunggah pada 4 November 2010 jam 9 malam oleh pengguna internet bernama ‘sengoku38’. Namun enam video ini kemudian dihapus keesokan harinya jam 7.30 pagi.

Meskipun hanya 10.5 jam ditayangkan di youtube.com, video ini pun masuk ke beberapa studio televisi Jepang dan ditayangkan segera. Headline TV berbunyi: “Inikah video tabrakan di kepulauan Senkaku?”

Tayangan ini menghentikan sejenak aktivitas penduduk Jepang.

Terjadilah demonstrasi kecil di jalanan Tokyo beberapa waktu setelah video itu ditayangkan di televisi. Mereka menuntut pemerintah untuk secara resmi menyatakan bahwa video itu otentik. Namun pemerintah Jepang malah sibuk mencari siapa yang mengunggah video tersebut.

Tidak lama seorang polisi penjaga laut Jepang (Japan Coast Guard atau JCG) yang berusia 43 tahun mengakui bahwa dialah yang mengunggah video itu. Pria yang bekerja di JCG wilayah V ini menyewa komputer di internet café, wilayah Kobe.

JCG pun segera mengirim sebuah unit untuk menyelidiki. Kepolisian Metro Tokyo juga berencana menahan pria ini karena membocorkan barang bukti rahasia. Pengakuan pegawai JGC ini menyebabkan sekretaris kabinet Jepang Yoshito Sengoku menuntut agar komandan JCG mengundurkan diri. Padahal JCG justru menerima ratusan email, yang sebagian menyatakan mendukung ditayangkannya video itu.

Banyak penduduk yang menuntut pemerintah Jepang untuk menyiarkan secara resmi video ini, agar televisi tidak hanya spekulasi. Lagipula pemerintah Jepang juga memperlihatkan video itu kepada 30 anggota Komite Budget selama 6 menit 30 detik.

Namun pemerintah tetap bungkam tentang keaslian video itu. Alasannya: melanggar Pasal 47  Undang-undang Prosedur Kejahatan. Pasal ini menyatakan bahwa dokumen atau bahan yang berkenaan dengan pengadilan harus dirahasiakan.

(Source: The Japan Times, By: Roger Dahl)

Pemerintahan Naoto Kan agaknya punya alasan khusus mengapa mereka tidak menyiarkan video itu. Pada 29 September 2010 utusan Partai Demokratik Jepang (DPJ) bernama Goshi Hosono pergi ke Beijing sebagai utusan rahasia tanpa sepengetahuan kementerian luar negeri. Di Beijing Hosono bertemu petinggi-petinggi China, termasuk penasihat pemerintah Tiongkok Dai Bingguo. Dai meminta dua syarat. Pertama, Tokyo menahan semua video yang terkait dengan tabrakan (bila ada). Kedua, gubernur Okinawa tidak lagi mengunjungi kepulauan Senkaku.

Jepang kemudian menerima syarat-syarat ini agar hubungan China dan Jepang cepat harmonis. Namun harapan Dai sepertinya pupus. Video ini akhirnya ditayangkan juga oleh TV Sentral China pada 5 November.

Menanggapi video itu seorang komentator televisi China mengatakan: “Tidak peduli apakah kapal China yang menabrak kapal polisi Jepang, atau sebaliknya. Yang jelas tabrakan itu terjadi di perairan China.” Ini berarti bahwa apa yang dilakukan polisi Jepang tidak sesuai hukum.

Pihak kementerian luar negeri China, Ma Zhaoxu, juga mengatakan hal yang senada bahwa video itu adalah usaha Jepang untuk menjustifikasi bahwa China lah yang bersalah atas insiden itu. Namun China tetap merasa tidak bersalah karena insiden itu terjadi di kepulauan Senkaku yang merupakan bagian China.

Rumit ya?

Negeri Kim


Hari itu, 23 November 2010, cuaca di Tokyo cerah. Namun, di sebuah titik kurang lebih 1.230 km barat laut Tokyo, 170 rudal dijatuhkan oleh Korea Utara. Lokasinya di perairan Korea Selatan, dekat perbatasan dengan Korea Utara. Delapan puluh dari 170 rudal dijatuhkan di pulau Yeonpyeong yang berpenghuni 1.200 orang. Lebih dari 50 rumah terbakar, dua marinir tewas seketika, dan belasan orang dalam kondisi kritis.

Beberapa spekulasi atas serangan ini bertebaran di media.

Serangan Korut terhadap Korsel dinilai sebagai bentuk protes terhadap kerjasama militer antara Amerika Serikat (AS) dan Korsel. AS dan Korsel sebelumnya memang merencanakan latihan perang bersama di Laut Kuning antara 28 November hingga 1 Desember 2010. Serangan ini juga dinilai sebagai bentuk legitimasi berlanjutnya Dinasti Kim di Korea Utara. Kim Jong Il, pemimpin Korut, berencana mengangkat anak terakhirnya Kim Jong Un sebagai pemimpin masa depan Korea Utara.

Meski penilaian-penilaian itu awalnya adalah spekulasi, namun belakangan Kim Jong Un mengakui bahwa peluncuran rudal ke Korsel itu adalah perintahnya.

Beberapa saat setelah insiden di perbatasan itu, Perdana Menteri Jepang Naoto Kan menghubungi Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak, dan menyatakan bahwa Jepang akan membantu Korea Selatan. Setelah mengadakan rapat dengan kabinetnya, Kan memutuskan bahwa:

  • Jepang akan meminta bantuan Cina untuk berunding dengan Korut tentang pelucutan senjata
  • Jepang akan bekerja sama dengan AS dan Korea Selatan untuk memberikan sanksi bagi Korut

Bantuan Cina untuk Pelucutan Senjata Korut

Mengapa Jepang meminta bantuan Cina?

Pertama, Cina dianggap sebagai negara yang dekat secara historis, geografis, politik dan ekonomi dengan Korut. Korut pernah menjadi aliansi kuat Cina (plus Rusia) selama Perang Korea. Kedua, karena Cina dianggap lebih netral dibandingkan AS. Peluncuran roket ke wilayah perbatasan Korsel itu adalah bentuk ketidaksukaan Korut terhadap AS di wilayah Asia Timur. AS juga tidak mau berdialog dengan Korut karena Korut tidak mempunyai niat untuk menghentikan program nuklirnya. Bahkan, kini Korut sedang mengembangkan light water reactor, pengayaan uranium (uranium enrichment) dan uji coba senjata nuklir. Ketiga, peran AS sebagai penengah (atau bahkan pembela Korsel) untuk mendamaikan Korea Utara dan Korea Selatan dinilai kurang berhasil. Kedua negara serumpun yang ideologi politiknya berbeda ini hanya pernah melakukan gencatan senjata pada 27 Juli 1953 tanpa menandatangani perjanjian damai.

Namun demikian, Cina tanpa bantuan pihak lain barangkali tidak cukup kuat dalam meredam Korut. Diperlukan tekanan dari banyak pihak, misalnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), untuk menyelesaikan konflik Korea Utara dan Selatan ini. Karena agresivitas Korut didasarkan pada keinginannya untuk menjadi negara adidaya pada 2012. Ini mirip dengan kondisi Jepang pada awal 1900an, di mana Jepang secara militer adalah negara adidaya.

Jepang memang dekat secara historis dengan Korea karena Jepang pernah menjajah Korea selama 35 tahun, yaitu antara 1910 dan 1945. Setelah Perang Dunia II berakhir, konflik Korea Utara dan Selatan terjadi. Ketika itu Korea Selatan dibantu oleh PBB, sedangkan Republik Rakyat Demokratik Korea didukung oleh Cina dan Uni Soviet. Setelah gencatan senjata tahun 1953 barulah Korea Selatan membuka diri dengan bantuan asing. Jepang memberikan bantuan pendidikan dan teknologi bagi Korea Selatan agar cepat mencapai fase negara industri. Bantuan ini juga membuat warga Korea bermigrasi ke Jepang. Ada 901,284 orang Korea yang hidup di Jepang. Sebagian besar dari mereka adalah generasi ketiga dan keempat yang mengalami naturalisasi.

Sanksi Ekonomi

Serangan Korut terhadap Korsel juga membuat PM Naoto Kan berniat memberikan sanksi ekonomi terhadap Korut. Menteri Keuangan Yoshihiko Noda menyatakan bahwa bentuk embargo ekonomi yang nantinya diterapkan diharapkan tidak mengganggu kondisi ekonomi Jepang yang semakin memburuk. Jika dilihat dari bentuk embargo yang dulu, ada dua bentuk embargo bagi Korut, yaitu pelarangan masuknya kapal niaga Korut ke pelabuhan Jepang, dan penghentian  impor barang-barang dari Korut.

Jepang tidak hanya memberikan sanksi ekonomi saja ke Korut. Ada pula ‘sanksi’ pendidikan yang diberikan kepada  Sekolah Korea pro-Pyongyang (Korut) di Jepang. Sekretaris Kabinet Jepang Yoshito Sengoku yang dikenal tegas menyatakan bahwa bantuan untuk sekolah-sekolah pro-Pyongyang di Jepang akan dihentikan. Di sisi lain, Menteri Pendidikan Yoshiaki Takaki menyadari bahwa sebuah kebijakan pendidikan tidak bisa didasarkan pada masalah diplomatik atau insiden, namun serangan Korut ini tidak terbantahkan membuat Jepang merasa terancam.

Perbedaan ideologi yang didukung persenjataan merupakan sumber konflik yang solusinya memang sulit. Sanksi atau tekanan terhadap Korea Utara mungkin dapat meredam peluncuran roket untuk sementara waktu saja. Namun serangan Korut adalah bahaya laten, tidak hanya untuk Korsel, tetapi juga wilayah Asia Timur, termasuk Jepang.

Mudahnya: hati Kim Jong Il dan Kim Jong Un siapa sih yang tahu …

Sementara itu, saya melihat pesawat tempur dan pesawat angkut militer semakin sering melintas di atas rumah. Ini pertanda Jepang semakin waspada (tentunya di bawah bendera Amerika).

Efek Debu Vulkanik Islandia di Jepang


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Pada April ini ribuan wisatawan mengunjungi Jepang untuk menikmati mekarnya Sakura. Sakura merupakan bunga dari pohon ceri yang hanya mekar kira-kira 2 minggu saja. Selanjutnya, ia gugur dan digantikan dedaunan hijau. Perayaan musim semi ini selalu disambut dengan berhanami. ‘Hanami’ berasal dari kata Jepang yang berarti ‘melihat keindahan Sakura’. Penduduk Jepang biasa berhanami sambil menikmati hidangan di bawah pohon ceri. Continue reading

Dekapitasi


Imam Samudra, Ali Ghufron (alias Mukhlas) dan smiling bomber, Amrozi, akan dipidana mati segera. Yang menarik, mereka meminta dipancung dan disiarkan secara luas di media. Dekapitasi, atau pancung ini, menurut mereka sesuai dengan ajaran Islam. Di dalam Quran? Entahlah. Tapi Ahmad Taufik dalam opininya di TEMPO Interaktif menyebut ini lucu. Alasannya ini: jika mau dihukum pancung, seharusnya mereka melakukan perbuatan itu di Arab Saudi, atau di tempat-tempat yang memberlakukan hukum pancung atas kejahatan seperti itu.

Islami = Arab Saudi? Minta dipancung untuk orang yang didakwa mati = lucu?

Saya rasa tidak ada yang lucu untuk kasus ini. Bahkan sejak awal pengeboman itu terjadi di Bali 12 Oktober 2002, dunia tidak tertawa. Lima tahun kemudian, ketika tiga serangkai itu akan dihukum mati, dunia tidak tertawa, tapi barangkali puas dengan mati-dibalas-mati.

Barangkali sudah kuno untuk menyatakan bahwa yang Islami itu yang Arab Saudi. Hari ini, Islam sudah bertransformasi dalam bentuk yang belum tentu Arab, belum tentu bergamis dan jilbab, belum tentu berbahasa Arab, belum tentu dipimpin raja, dan bahkan, Islam sendiri merupakan keseharian yang (saking keterlaluannya) jadi komoditi politik dan perbankan. Islam masa kini memang unik, jika dibandingkan abad ke-7 di Arab atau jaman Renaissance abad-12. Pemeluknya pun beragam, dari yang ortodoks hingga yang liberal. Jadi model berdoanya pun juga beragam. Doa, atau harapan, ini jadi lebih unik menjelang mati. Proses matipun, bila boleh, kita sendiri yang menentukan. Di sini ada esensi kebebasan dalam menuju mati.

Dengar-dengar (pas jaman kuliah), hukuman mati paling cepat adalah dengan cara dipancung. Orang hanya perlu kurang dari 5 detik untuk tak sadar, atau barangkali instan. Tidak ada yang tahu kecepatannya. Dokter hanya tahu gejala dari raut muka yang dipancung. Seperti halnya, Dokter Beaurieux yang meneliti proses kematian Henri Languille ketika Languille dipancung di Perancis tahun 1905:

… kelopak mata dan bibir orang yang dipancung berkontraksi dengan ritme yang berubah-ubah dalam waktu 5 – 6 detik. Hal ini juga dibenarkan oleh mereka yang pernah meneliti kematian hasil pancung, ketika kepala terlepas dari badan.

Saya menunggu beberapa detik. Gerakan spasmodik berhenti. Lalu saya berteriak lantang memanggil namanya: “Languille!”. Saya melihat kelopaknya terangkat, tanpa kontraksi spasmodik, dengan normal, seperti juga yang dialami oleh orang bangun tidur atau lepas dari lamunan.

Mata Languille menatap tajam ke dalam mataku dan pupilnya terfokus…Setelah beberapa detik, kelopaknya tertutup lagi.

Kemudian, saya berteriak memanggilnya lagi. Perlahan kelopaknya terbuka lagi, dan matanya menatap saya dengan lebih tajam. Kemudian kelopaknya setengah tertutup.

Untuk ketiga kalinya saya memanggil namanya … tidak ada gerakan – matanya kosong, seperti orang yang mati total.

Ada komentar? Saya membisu.

Lanjut. Total barangkali 10 detik orang bisa mati total dengan pancung. Cepat sekali. Tidak perlu menderita lama-lama setelah dekapitasi.

Singapura paling rajin menggantung orang, apalagi untuk yang bawa obat bius atau kokain. Banyak aktivis pro-kehidupan yang protes, tapi ya tidak digubris karena keputusan itu berdasarkan analisis risiko yang kuat (mungkin), dan fakta sejarah (jaman impor candu dari Tiongkok?).

Indonesia menggunakan hukum tembak. Lima orang penembak di mana hanya satu senapan yang diisi peluru bener, lainnya peluru kosong. Jadi penembak tidak tahu apakah pelurunyalah yang mengenai pesakitan. Yang mereka tahu: hari itu mereka telah mengeksekusi seseorang. Yang tahu siapa yang sebenarnya menembak adalah yang ngisi peluru dong …

Saya cuma setuju dengan judul artikel AT di atas: “Selamat Jalan Para Mujahid”. Apa mereka masuk surga? Apa masuk neraka? Yo gusti allah sing nentukno

*Artikel di atas kok mirip kuliah Subuh yo ….