Okuribito


Film cepat diterima siapa saja. Dalam film kita tak hanya menikmati seni peran, kisah dramatik atau special effect, tapi juga isu-isu kontemporer. Setiap film pasti dibuat untuk menyampaikan pesan atau makna dari isu-isu itu.

Sebelum berangkat ke Jepang pada September 2009, saya meminjam beberapa buku tentang Jepang. Di samping itu, saya juga melanjutkan kegemaran menonton episode Japan Hours di Channel News Asia. Japan Hours menampilkan tempat wisata, makanan dan hot spring di Jepang. Saya juga meminjam sebuah film Jepang. Judulnya Departures (2008). Di Jepang, film ini dikenal dengan tajuk Okuribito (おくりびと) yang artinya harfiahnya ‘mengantar orang’. Tapi orang Jepang umumnya mengenal okuribito sebagai judul film belaka karena kata ini jarang dipakai.

okuribito

Film Okuribito berhasil memenangkan Academy Awards untuk kategori Best Foreign Movie tahun 2008. Ia dibintangi oleh Masahiro Motoki, Ryoko Hirosue dan Tsutomu Yamazaki.

Daigo Kobayashi (diperankan Masahiro Motoki) bekerja sebagai penggesek cello dalam sebuah kelompok orkestra. Karena order pertunjukan sepi, orkestra pun ditutup oleh pemiliknya. Daigo tidak lagi punya pekerjaan, dan ia pun kembali ke desanya. Di sana, Daigo hidup bersama istrinya (diperankan Ryoko Hirosue) di rumah peninggalan ibunya. Di desa itu, orang tak dapat berkarir di bidang musik. Oleh sebab itu, Daigo mesti mencari pekerjaan lain.

Suatu hari Daigo menemukan satu lembar iklan pekerjaan. Kerana tertarik, ia mencari firma yang memasang iklan itu. Sesampainya di firma itu, ia hanya mendapati sebuah ruang yang berisi dua orang: pemilik dan sekretaris wanita. Kepada sang pemilik (pria tua yang diperankan Tsutomu Yamazaki) Daigo menanyakan perihal pekerjaannya. Deskripsi pekerjaannya kurang jelas. Sang pemilik hanya mengatakan: memasukkan jenazah ke peti mati. Awalnya ia merasa aneh, tetapi Daigo terpaksa mengiyakan karena pemiliknya langsung memberi panjer 500 ribu yen sebagai gaji di muka. Senang bukan kepalang, Daigo buru-buru membeli makanan dan hadiah untuk istrinya. Ia pun pulang dengan wajah berseri. Istrinya pun menyambutnya dengan bahagia.

Hari pertama kerja sungguh mengesankan: Daigo disuruh melepas semua pakaiannya, dan mengenakan pampers saja. Ia harus tidur, dibungkus baju jenazah, di-make up dan berbagai macam perlakuan aneh. Tapi dia tetap harus tenang dan menuruti instruksi majikannya. Karena peragaan menjadi mayat itu ternyata sangat serius, dan ditonton beberapa orang.

Setelah hari pertama itu lah, barulah Daigo mengetahui bahwa firma itu bergerak di bidang jasa penguburan. Ia konflik batin, tetapi ia merasa perlu bekerja dan mencari uang. Jika ia tak bekerja darimana ia mendapatkan uang. Apalagi gaji yang diberikan oleh firma itu cukup besar untuk ukuran desa atau kota kecil itu.

Tugas Daigo selanjutnya ternyata lebih berat. Ia harus belajar sebagai nokanshi atau perias jenazah. Pekerjaan nokanshi ternyata lebih dari sekedar perisa: ia juga harus dapat memandu doa, memasukkan jenazah ke peti mati, dan melakukan kremasi. Dalam tradisi Jepang, proses kematian dilakukan dengan rapi dan khidmat. Untuk menjadi nokanshi, seseorang memerlukan latihan bertahun-tahun agar mencapai kesempurnaan bekerja. Singkat kata, menjadi nokanshi bukan pekerjaan mudah!

Meskipun mulanya merasa aneh, Daigo akhirnya menikmati pekerjaan itu. Ia juga kagum dengan bosnya. Meskipun sedikit berbicara, atau bahkan tersenyum, bosnya melakukan pekerjaannya dengan tenang, dan sabar melatih Daigo hingga mahir sebagai nokanshi.

Menikmati pekerjaan adalah satu hal. Namun, yang paling susah adalah menceritakan jenis pekerjaannya kepada istrinya, apalagi keluarganya. Kerja mengurusi mayat bukan profesi yang dihargai di Jepang.

Tapi lambat laun, istrinya pun tahu. Semua keluarganya pun tahu. Semua berpendapat bahwa profesi nokanshi adalah aneh, dan tidak wajar. Barangkali, mereka melihat pekerjaan itu hina meskipun gajinya besar. Sebaliknya, Daigo semakin mencintai pekerjaannya. Ia merasa bahawa menjadi ‘perantara’ antara dunia dan akhirat adalah pekerjaan mulia. Ia merasa bahwa ritual mengantarkan orang mati punya keindahan tersendiri, dan ritual itu sudah merupakan bagian dari hidupnya.

Konflik keluarga pun bermula di sana. Istrinya meninggalkannya. Abangnya mengancamnya agar ia keluar dari pekerjaan itu. Keadaan juga diperburuk dengan kenangan-kenangan Daigo terhadap ayahnya. Ayahnya meninggalkannya ketika kecil, dan Daigo tidak tahu di mana ayahnya berada. Tapi dia juga tak ingin mencarinya; ia tak pernah memaafkan ayahnya yang menerlantarkannya dan ibunya begitu saja. Daigo sangat benci dan dendam dengan sang ayah.

Cerita semakin menarik ketika Daigo menerima sepucuk surat, yang mengabarkan bahwa ayahnya sakit keras di sebuah rumah. Daigo akhirnya menemui ayahnya. Ketika sampai rumah itu, ayahnya terbaring tak bernyawa. Hidupnya seorang diri. Daigo menangis sejadi-jadinya.

Kemudian, semua keluarga berkumpul di sana. Mereka menyaksikan bagaimana Daigo melakukan prosesi kematian untuk ayahnya sendiri.

***

Film ini layak tonton.

Beberapa pesan kehidupan dari Jepang dapat ditarik dari film itu.

Pertama, tentang citra suatu profesi. Citra suatu profesi sangat penting di Jepang (atau juga negara Asia lainnya). Di Jepang, lelaki lah yang bekerja, sedangkan perempuan tinggal di rumah. Lelaki bekerja dengan pakaian yang nyaris seragam. Media menyebutnya sarariman (dari kata salaryman yang artinya pekerja gajian yang berpakaian jas, kemeja putih, membawa tas). Pekerjaan sarariman harus wajar dan tidak aneh-aneh. Jika aneh,  seberapa besar pun gajinya, maka istri atau keluarga jadi malu.

Kedua, setiap orang dapat dilatih dengan baik tanpa melihat latar belakangnya. Tidak ada itu pintar atau bodoh di Jepang. Yang ada: mau berusaha, mau berlatih, serius dan disipling terhadap suatu pekerjaan. Di Jepang, sudah umum bahwa perusahaan dapat menerima calon pekerja yang latar pendidikannya berbeda dengan profesi yang ditawarkan. Ada semacam keniscayaan dalam firma-firma Jepang bahwa apabila seseorang dilatih dengan baik maka orang itu menjadi sangat mahir dan sempurna dalam menjalankan pekerjaan.

Ketiga, tentang keluarga. Ketika orangtua bercerai, ada semacam kebiasaan bahawa seorang yang mengasuh anak tidak mengharapkan bekas suami/istrinya menemui anaknya. Caranya mungkin dengan merahasiakan keberadaannya, plus menanamkan bibit kebencian kepada bekas suami/istrinya di dalam diri anaknya. Ini membuat psikologi anak-anak terganggu.

Tapi satu hal lagi yang keren dari film adalah soundtracknya yang indah!

LINK FULL MOVIE

Cabe


Cabe (yang pedas!) sulit dicari di Jepang. Kalaupun dijual, cabenya kurang nendang. Orang Jepang nampaknya kurang suka kalau rasa pedasnya menempel di lidah. Padahal, bagi sebagian orang Indonesia (atau Asia Tenggara) makan tanpa cabe atau sambel dan sejenisnya yang pedasnya nempel di lidah itu kurang nikmat. Kurang membangkitkan selera makan.

Cabe rawit, khususnya, sulit dicari di Jepang. Tapi ada dua cara untuk mendapatkannya. Pertama, membeli cabe rawit beku secara online. Kedua, menanam sendiri. Membeli relatif mudah, tetapi harganya relatif mahal. Cabenya mungkin diimpor dari Thailand. Sedangkan menanam cabe itu gampang-gampang sulit. Perlu latihan. Oleh sebab itu, kami membeli tanaman cabe untuk eksperimen selama musim panas. Di Jepang, orang suka bercocok tanam. Di Hino city, banyak petak-petak tanah yang ditanami sayuran atau bunga. Petaninya rajin sekali merawatnya. Kualitasnya juga bagus.

Harga bibit cabe yang dijual di supermarket sekitar 150 yen (Rp 15 ribu). Kami mendapatkan cabe Korea dengan tingkat kepedasan 2/5. Belum tahu rasanya bagaimana. Tapi menurut panduan, cabe tersebut dapat dipanen dalam 3-4 bulan. Kami membelinya pada 19 Mei. Berikut gambar pertumbuhan cabe dari waktu ke waktu.

Drawing1

Tinggal menunggu masa panen bulan Agustus atau September!

***

Tapi dua hari lalu tiga cabe sudah dipanen. Dua cabe hijau, satu cabe merah. Ini gambar yang merah.

IMG_0954

Mountmag


Wah senang juga hari ini. Ternyata artikel yang dikirim ke Mountmag tentang pendakian ke Gunung Fuji dimuat juga oleh editor. Mountmag adalah e-magazine tentang ekspedisi alam bebas berbahasa Indonesia. Layoutnya bagus. Artikel itu dimasukkan ke bagian Journal. (Thanks Mas Harley Sastha!). Kebetulan 11 Desember adalah hari gunung internasional.

Link: http://mountmag.com/category/journal/

Teman (Doni Sispena 18) meng-capture screennya. Ini dia:

f1  f2  f3  f4

Mendaki Gunung Fuji


Prolog. Saya suka naik gunung sejak SD. Gunung pertama yang didaki adalah gunung Purnama, Bondowoso, yang kala itu cukup terkenal di kalangan anak SD. Katanya ada makam Dewi Sri di sana. Memang benar ada makam, tapi kurang tahu siapa yang bersemayam di sana. Selanjutnya, masih jaman SD, saya naik Kawah Ijen (2,799 m) di perbatasan Bondowoso/Banyuwangi, Jawa Timur. Ijen lebih tepat disebut gunung wisata karena dapat didaki dalam waktu relatif singkat (4 jam) dan pendaki tidak memerlukan peralatan lengkap, kecuali air minum dan makanan kecil. Hobi trekking ke gunung berlanjut di SMA. Saya ikut pecinta alam (SISPENA) dan berkenalan dengan senior-senior yang hobi naik gunung. Cerita-cerita mereka tentu menginspirasi dan memotivasi untuk melakukan pendakian juga. Ada semacam dorongan untuk membuktikan diri bahwa kita mampu menempuh perjalanan berhari-hari tanpa fasilitas memadai. Pendakian gunung juga mematuhi kaidah absurditas Albert Camus: setelah naik gunung, kita pasti turun lagi; seolah tidak ada yang didapat; begitu terus berulang. Naik gunung, turun gunung. Tanpa makna. Tapi naik gunung, setidaknya yang saya rasakan, malah membuat kita mengenali diri kita sendiri. Kita jadi tahu keterbatasan fisik atau psikis kita; kita jadi tahu kapan kita harus berhenti.

Sebenarnya tidak banyak gunung yang saya daki jika dibandingkan dengan teman-teman pecinta alam. Alasannya: pada umumnya, mendaki gunung itu menelan biaya yang cukup besar. Ada juga pendakian kere yang minim fasilitas; tapi ini tidak disarankan karena menyangkut keselamatan diri selama pendakian. Daftar gunung: Lamongan (1,651 m), Raung (3,332 m), Semeru (3,676), Gede (2,958 m), Ciremai (3,078 m). Dulu hampir sempat mau naik gunung Merbabu di Jawa Tengah, atau gunung Merapi Banyuwangi. Yang pertama itu gagal karena persiapan kurang matang; yang kedua gagal karena adik saya keburu pulang duluan (setelah hilang seminggu) sebelum saya melakukan “SAR” ke sana. Gunung yang berkesan adalah gunung Semeru karena pemandangannya bervariasi (savana, danau, hutan cemara, trek berpasir). Gunung dengan trek yang paling berat adalah gunung Ciremai.

Gunung yang baru-baru ini saya daki adalah Gunung Fuji, atau di Jepang disebutnya Fuji-san. Di Indonesia, biasanya orang menyebutnya Fujiyama (‘yama’ artinya gunung). Gunung Fuji terletak 100 km di sebelah Barat Tokyo. Ada yang bilang: seseorang dikatakan belum ke Jepang jika tidak mendaki gunung Fuji; tapi pendakian jangan dilakukan dua kali. Gunung Fuji memang tempat wisata yang paling terkenal di dunia. Fotonya menghiasi banyak kalender, bentuk puncaknya yang simetris dan bersalju sangat ikonik.

Saya mendaki Gunung Fuji antara 20 – 21 Agustus. Ini dua minggu menjelang ditutupnya Gunung Fuji untuk pendakian bebas. Jepang memasuki akhir libur musim panas dan libur sekolah. Jadi masa-masa ramai Gunung Fuji adalah Juli – Agustus. Ribu orang mendaki Fuji setiap harinya. Seperti pasar!

Peralatan. Tidak banyak yang dibawa kecuali tshirt, celana trek, kaos kaki, sarung tangan, pelindung kepala biar hangat, masker (buat menghindari debu), jaket hangat, kamera, sepatu gunung, gaiter (pelindung kaki agar sepatu tidak kemasukan kerikil), rain coat, topi, sunglasses, sunscreen, lip balm, makanan kecil (coklat batangan, permen, roti, kue kering), handuk, sikat gigi, tisu basah & kering, koin 100 yen yang banyak, air minum 2 liter, Pocari Sweat. Disarankan juga membawa climbing stick.

Rute Pendakian. Rute yang paling banyak dipakai adalah Yoshida Route. Saya menggunakan rute ini. Pertama saya naik kereta ke Kawaguchiko 5th Station. Ini adalah pos pertama pendakian. Dari 5th station kita jalan kaki ke 8th station. Saya berangkat jam 14:30 dan mencapai 8th Station, di depan sebuah penginapan kecil (mungkin namanya Ue Edoya atau Shita Edoya), jam 18:30. Di sini saya bermalam. Pukul 1:00 saya berangkat menuju puncak. Karena jalanan antri, maka saya baru mencapai puncak jam 4:20. Ini 15 menit menjelang matahari terbit. Banyak orang yang mengejar sunrise (disebutnya goraiko). Pulang pukul 8:00 dan mencapai 5th station melalui Yoshida Trail pukul 13:30. Total waktu pendakian: naik (7 jam 20 menit), turun (5 jam 30 menit).

Selain itu, ada beberapa hal unik yang perlu diketahui:

  • Di 5th station: Banyak toko-toko besar, restoran. Di sini kita bisa membeli peralatan pendakian juga, makan siang, mengirim kartu pos, menginap atau sightseeing. Di setiap station biasanya ada toilet dan pos penjaga. Ada juga hotel kecil dan  kios yang menjual makanan/minuman.
  • Makanan/minuman harganya 2-4 kali lipat dari di Tokyo.
  • Dari 5th station kita bisa sewa kuda sampai 7th station. Mungkin bayarnya 14,000 yen.
  • Banyak sekali turis naik gunung Fuji. Di 5th station, banyak guide yang pandai berbahasa Inggris. Tapi kemampuan bahasa Jepang sedikit-sedikit pasti sangat membantu.
  • Di 8th station: Kare dijual dengan harga 1,400 yen. Penginapan semalam (check-out jam 6 pagi) membayar 5,500 yen per orang (anak-anak 4,500 yen).
  • Di 10th station atau puncak: Banyak jualan suvenir dan makanan. Bahkan ada vending machine! Minuman di vending machine harganya 400 yen. Udon di puncak gunung fuji harganya 800 yen. Dari puncak Fuji kita bisa beli kartupos dan mengirim kartu pos dari sini. Kantor pos berjarak 30 menit dari 10th station.
  • Saya tidak melihat ada tenda di Gunung Fuji. Mungkin dilarang (?)
  • Di setiap station ada toilet yang berbayar (200 yen per orang); tidak ada penjaga; jadi sukarela. Toiletnya bau sekali; tapi tidak ada pilihan lain. Tahan nafas aja. Dilarang keras pipis sembarangan dan buang sampah sepanjang perjalanan.
  • Di setiap station kita bisa ngecap tongkat kayu yang kita beli dengan cap setiap station. Harga satu cap: 200 yen.
  • Awal perjalanan dari 5th station, bau kotoran kuda sangat menyengat.
  • Orang Jepang terkenal chic alias modis. Naik gunung pun pasti penampilanya excessive dan modis, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda. Tapi ini normal bagi kebanyakan mereka. Fashion is numero uno (in Tokyo, Paris and Milan!).

Kesan secara umum

jadi tahu kenapa kok tidak perlu naik dua kali; pemandangan gunung Fuji itu biasa aja. Gunung Fuji lebih indah jika dilihat dari kejauhan. Kalau dari dekat, mungkin kurang menarik. Gersang. Kawahnya juga kering. Terlalu ramai orang. Bahkan rombongan anak SD pun banyak yang mendaki.

Map

(credit to my friend Hembram)

Jepang Tidak Mengubah Kita


1

Jepang menyukai kesunyian karena ia merepresentasikan harmoni. Di kereta, orang jarang saling bicara meski mereka pergi bersama-sama. Tapi ada juga yang ramai, misalnya anak-anak SMP yang baru pulang sekolah. Beberapa orang di kereta, ketika berdesak-desakan pagi hari menuju Tokyo Station, bercakap-cakap dengan agak kencang. Biasanya orang di sekelilingnya melirik dengan pandangan terganggu. Tapi seringnya suasana kereta diisi keheningan.

Secara pribadi saya menyukai ini. Oleh sebab itu, kereta Jepang mewajibkan penumpangnya mematikan bunyi telepon genggam. Bunyi ponsel mengganggu ketenangan. Herannya, di kereta Jepang, orang boleh makan dan minum. Berbeda dengan Singapura, makan minum dilarang; tapi ngomong kencang ya silakan.

Orang Indonesia memang cepat akrab meski baru kenal. Keakraban itu diisi dengan perbincangan yang seru (diselingi canda) dan bersifat pribadi (misal: “Sudah menikah? Agama x kah?”). Di tengah negara yang asing dan bertemu teman senegara memang menyenangkan. Setidaknya bagi mereka yang membenci keterasingan dan solilokui. Masalahnya, ketika pertemuan itu terjadi di kereta, apa yang harus dilakukan? Ya diam. Atau, jika sulit, berbicaralah perlahan, kecilkan volume. Mengecilkan volume suara tidak biasa bagi sejumlah orang. Apalagi bagi mereka yang terlahir ekstrovert dan juweh (Jawa: susah diam dan selalu mengomentari banyak hal). Ketika kita bersentuhan dengan entitas sosial lain, apalagi jumlahnya besar (yaitu masyarakat Jepang), patuhilah pesan keharmonisan mereka. Kecilkan suara, hormati orang lain yang ingin menikmati ketenangan perjalanan. Ini tidak hanya berlaku di kereta, tapi juga di ruangan kerja. Di sebuah perusahaan penyiaran Jepang, konon, pojok yang paling ramai (entah akrab atau berisik) adalah pojok Indonesia. Saya belum pernah melihatnya sendiri. Tapi jika ini benar maka orang lain boleh jadi melihat ‘keakraban’ itu sebagai representasi Indonesia, yang akrab dan berisik. Tidak masalah dengan akrab, tapi jangan berisik dong. Berisik kan bisa dikurangi dengan mengecilkan volume … dengan mengontrol nafas, getaran pita suara … 🙂

2

Pada 10 – 12 Juni, saya mengikuti sebuah ‘rapat tahunan’ ilmiah yang diadakan mahasiswa Indonesia di Jepang. Senang sekali rasanya, karena saya bisa sekali-kali ketemu ramai orang Indonesia di sana. Saya juga merasa bangga karena teman-teman Indonesia bersemangat sekali mengadakan acara seminar itu. Acara dibuka oleh beberapa orang. Ada rektor Tokyo Institute of Technology (TIT), ada Dubes Indonesia untuk Jepang Bapak Muhamad Lutfi. Acara hari pertama berjalan lancar. Namun, Dubes Lutfi nampak mencari-cari seseorang. Rupanya ketahuan beliau tidak menemukan ketua panitianya. Ketua panitia acara itu adalah peneliti Indonesia yang bekerja di lembaga riset Jepang bertahun-tahun. Padahal, ketua panitia seharusnya ada di acara tersebut mendampingi dubes, rektor TIT dan profesor lainnya; selain itu, wajar saja, jika ketua panitia harus memastikan semua berjalan lancar. Dia mungkin mendelegasikan kepada seseorang. Tapi mungkin dubes tidak mengetahui masalah delegasi itu. Dubes akhirnya mengeluh dan kesal karena ketua panitia tidak ada. Ini bisa dimaklumi sebagai salah paham (miscommunication) atau informasi tidak tersalurkan dengan baik; tapi bisa juga karena kelalaian yang disebabkan oleh persiapan yang buruk. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ini agak memalukan memang. Belakangan ketahuan bahwa ketua panitia sedang menjemput (mengantar jalan-jalan) rektor bekas almamater dia. Jadi, yang seharusnya didelegasikan yang mana ya?

3

Cerita masih seputar seminar itu. Hari ke-2 saya datang lagi pagi-pagi sekali karena saya harus memberikan presentasi pada sesi pertama yang dimulai pukul 8:00. Dari rumah, saya berangkat jam 6:00. Tidak masalah dengan berangkat pagi, dan gerimis pula. Tapi masalahnya, ketika sampai di sana, saya tidak bisa membuka ruangan tempat sesi akan dilangsungkan. Kemudian saya mencari-cari di mana sekiranya panitia berada. Tapi suasana sepi sekali. Saya kebetulan juga bertemu 1-2 orang yang nampak tergopoh-gopoh karena mengira terlambat. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8:20. Tapi seminar belum juga dimulai. Untungnya, saya bertemu ketua organisasi pelajar Indonesia di Jepang dan seorang peneliti yang bekerja di sebuah universitas swasta. Akhirnya, saya diajak ke ruang panitia. Di ruang panitia, saya melihat seorang dari panitia masih baru bangun tidur, lengkap dengan celana pendek dan sarung (atau jaket, saya lupa), garuk-garuk badan pula! Sudah jelas: panitia ngaret (budaya ngaret masih dibawa aja ke Jepang). Selain itu, banyak sekali presenter yang tidak bisa hadir di pagi hari. Mereka rata-rata datang siang harinya. Memang sih, cuaca saat itu hujan gerimis dan cocok untuk selimutan. Memang sih, kehadiran waktu itu tidak sewajib nge-tap kartu kereta PASMO di pintu stasiun. Tapi kan ini acara teman-teman Indonesia yang harus dihargai kerja kerasnya. Lebih jauh, ini kan acara kita sendiri dan untuk kita sendiri (sudah bayar pula!). Jadi, tidak ada alasan untuk tidak hadir. Akhirnya, karena chairman ingin cepat mulai, maka ia berinisiatif menggabungkan beberapa presenter menjadi satu sesi. Sesi saya, yang seharusnya masalah Material Science and Applied Science, digabung dengan sesi lainnya: kesehatan/kedokteran, ekonomi, makanan dan biologi. Untungnya, sesi ‘gado-gado dadakan’ itu berjalan lancar. Saya jadi belajar juga tentang masalah regionalisme ekonomi di Asia Timur, riset tentang kanker, bioteknologi, sistem informasi rumah sakit. Sesi ‘gado-gado’ itu memberi secuil pengetahuan baru yang berharga.

Saya melanjutkan ke sesi lainnya, dimana seorang kawan mempresentasikan makalahnya. Setelah itu, saya ijin pulang karena kepala sangat pusing. Besoknya saya istirahat di rumah, tidak hadir di hari ke-3. Sebelumnya, saya mengirim email kepada ketua organisasi ini, memohon maaf karena tidak dapat hadir.

Saya sulit membayangkan bahwa perilaku yang sama (ngaret dan mbolos) dilakukan orang Jepang. Pernah dulu, di seminar yang diadakan oleh orang Jepang setahun sebelumnya, saya lihat orang Jepang sudah duduk rapi sebelum jam 8:00 pagi. Dan, pas jam 8:00, acara dibuka. Tepat waktu! Semua hadir! Tidak heran jika Jepang maju. Mereka sangat menghargai waktu dan kawan sejawat. Tidak dapatkah kita mencontoh etos yang baik dari Jepang?

4

Yang saya heran, rata-rata orang Indonesia yang di Jepang adalah pelajar berbakat yang mendapat beasiswa. Jika tidak ambil program master, ya doktor. Beasiswa berarti: ada orang atau lembaga melihat prestasi akademiknya baik dan layak dibayari sampai mentok. Tapi prestasi akademik dan jenjang akademik yang sedang ditempuh tidak menentukan pengetahuan etos sosial. Dua hal itu juga tidak menentukan orang punya empati atau tidak. Empati (menempatkan diri dalam perasaan dan pikiran orang lain) adalah buah pendidikan keluarga dan sekolah, selain merupakan bakat.

Kesimpulan saya boleh jadi sepele dan ini merupakan kesan pribadi semata: Jepang tidak mengubah perilaku dan etos kita. Kita terlahir dan besar di negara yang sebagian besar orangnya beragama. Bagi yang Islam, menghargai waktu adalah tuntunan agama yang konformal terhadap alam. Jika tidak, mengapa sholat ditentukan waktunya dengan tepat dan mengikuti musim? Penghargaan terhadap waktu sangat krusial. Yang kedua adalah ketenangan. Orang dikatakan baik jika ada interaksi antara dia dengan orang lainnya; jika tidak, maka dia baik hanya untuk diri sendiri. Dalam Islam, sholat membuat orang jadi baik. Tapi kenapa orang-orang Indonesia yang dominan Islam itu (yang mungkin rajin sholat), tidak bisa menghargai orang Jepang yang menyukai ketenangan? Bisakah kita memberi manfaat “ketenangan” kepada lingkungan, kepada orang Jepang? Kita tamu di negeri asing; tamu haruslah menghargai tuan rumah, bukan?

Mengutip Muhammad Abduh (1849-1905) modernis Islam asal Mesir, dan memodifikasi sedikit:

I went to Japan and saw Islam, but no Muslims; I got back to Indonesia and saw Muslims, but not Islam.

Inti dari tulisan ini adalah jalan menuju perubahan. Kita harus menemui persimpangan dengan banyak pilihan dulu sebelum tahu tujuan kita. Dalam memilih, kita mungkin melakukan kesalahan seperti yang disebut di atas. Namun, masih ada waktu untuk berubah. Tuhan masih berbaik hati memberikan nafas dan rizki lain yang baik. Tahun ini kita harus berubah. Tinggalkan keburukan di 2011.

Ekonomi Jepang (2)


Lanjutan dari Ekonomi Jepang (1)

Ekonomi Jepang mencapai titik tertinggi pada 1970-an. Pertumbuhan ekonomi mencapai dua angka. Ini membuat Amerika Serikat gelisah karena gelar negara adikuasa bisa pindah ke Asia.

Namun, satu dekade kemudian, Jepang memasuki fase antiklimaks pada 1980-an. Ekonomi Jepang terus menurun meskipun ia masih membayangi Amerika di tempat kedua dalam hal Hasil Bruto Dalam Negeri (GDP) selama hampir dua dekade. Tahun lalu, China mengambil alih tempat Jepang. Jepang kini menjadi nomor tiga. Ini membuat Jepang bak kebakaran jenggot. Ekonomi China meningkat karena banyak negara maju membangun pabrik di sana. Negara maju terus menginvestasikan uangnya karena gaji karyawan di China relatif murah, tetapi daya produksi dan keterampilan karyawan sangat tinggi.

Kini Jepang yang ganti gelisah. Saat ini, Barat dan negara lainnya melihat Asia Timur dengan dua bola mata yang terbagi dua: China dan Jepang. Jepang bukan lagi tujuan tunggal di Asia Timur.

Jepang harus melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, ia menyiapkan strategi ekonomi-politik jangka pendek dan jangka panjang.

Strategi Jangka Pendek

Menteri Luar Negeri Jepang, Seiji Maehara, meninjau kembali bantuan pembangunan luar negeri (Overseas Development Assistance atau ODA) ke China yang telah diberikan Jepang sejak 1970-an. ODA berupa bantuan hibah langsung (grant aid) yang berbentuk pinjaman dengan bunga rendah dan kerjasama teknis. Pada 2008, ODA yang diberikan Jepang ke China senilai 5.4 milyar yen. Alasan revisi ODA: ekonomi China sudah cukup mapan, maka bantuan keuangan kepada China sudah tidak diperlukan lagi.

Namun, sejumlah pihak di dalam pemerintahan Jepang sendiri melihat bahwa bantuan untuk China tetap penting  karena menguntungkan secara politik. Bantuan Jepang kepada China dapat

  • Menurunkan sentimen anti-Jepang karena penjajahan Jepang selama Perang Dunia II
  • Mempermudah pedagang Jepang di China dalam melakukan alih teknologi sehingga pabrik-pabrik mereka dapat menjadi lebih produktif

Maehara akan menentukan apakah Jepang masih akan membantu China pada bulan Juni.

Strategi Jangka Panjang

Untuk strategi jangka panjang, Jepang kembali ke hal yang mendasar, yaitu pendidikan globalisasi (penyejagatan). Pendidikan globalisasi dapat berhasil bila sekat sosial antara warga Jepang dengan warga asing semakin tipis. ‘Jembatan’ dengan warga asing dapat dibangun dengan mengajar bahasa Inggris dan pengajaran ini harus dimulai sejak awal.

Jepang sadar bahwa di kawasan Asia, nilai Pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa Asing (TOEFL) siswanya antara yang terendah – berarti penguasaan siswa Jepang dalam bahasa Inggris juga rendah. Pada 2004 dan 2005, nilai TOEFL Jepang hanya 191. Afghanistan saja melewati Jepang dengan 198. Negara yang paling tinggi di Asia dalam nilai TOEFL adalah Singapura yang siswanya meraih 254. Oleh sebab itu, mulai 1 April 2011 (permulaan tahun fiskal Jepang), bahasa Inggris akan diajarkan kepada siswa sekolah dasar kelas lima dan enam. Pelajaran bahasa Inggris akan diajarkan sekali dalam seminggu.

Sebenarnya sejak 2007, pemerintah Jepang sudah melatih 400 ribu guru sekolah dasar dalam bahasa Inggris. Beberapa sekolah, khususnya di daerah pedesaan, akan mempekerjakan guru pembahasa asli (native speaker). Di Sekolah Dasar itu, guru-guru tidak hanya memperkenalkan kosakata dan ungkapan dalam bahasa Inggris, tapi juga budaya dari luar Jepang.

Sepertinya Jepang agak tertinggal dibandingkan negara Asia lainnya dalam pengajaran bahasa Inggris. Thailand mulai mengajar bahasa Inggris pada 1996; Korea Selatan melakukannya pada 1997; China juga meniru langkah ini dengan mengajarkan bahasa Inggris pada 2001.

Sayangnya, tidak semua orang Jepang setuju dengan rencana jangka panjang ini.

Kumiko Torikai dalam bukunya Ayaushi! Shogakko Eigo (‘Berbahaya! Bahasa Inggris di Sekolah Dasar’) menyatakan bahwa tidak ada bedanya antara mereka yang belajar bahasa Inggris sejak kecil dengan mereka yang belajar ketika dewasa. Torikai setuju jika bahasa Inggris cukup diberikan sejak sekolah menengah.

Meskipun ada protes di sana sini, pemerintah Jepang akan tetap meluncurkan program bahasa Inggrisnya bulan depan. Penyejagatan dalam bahasa Inggris jauh lebih mendesak.

Yang beruntung dari langkah pemerintah Jepang ini adalah lembaga-lembaga bahasa Inggris. Mereka membantu pemerintah dalam merancang kurikulum. Banyak orang tua yang bakal mengirim anaknya untuk mengikuti kursus bahasa Inggris setelah berjam-jam di sekolah atau pada akhir pekan. Ini semua demi penyejagatan.

John Lennon


Someone from the 60s and 70s may recognize this name: John Lennon (1940-1980). He was born in Liverpool, Britain, and was infamously known as the lead singer/rhythm guitarist of The Beatles. Under his direction, The Beatles’ influence on the development of music has been tremendous. This group laid some of the basic foundations of rock.

They composed many songs that represented the feelings and opinions of commoners. Their music might sound simple. But, it is subtle. Its simplicity is what most people accepts. It’s also easy to memorize.

John Lennon and The Beatles came to Japan in 1966. They performed in the Budokan Arena, Tokyo, for five consecutive nights. Although they only played for 30 minutes each night, the “revolution” of rock music started in Japan. Previously, the Japanese were only familiar with traditional Japanese music, classical and jazz. After that, the rock music began to be acceptable in Japan. The Japanese felt that their lyrics were filled with honesty and freedom.

Initially, John felt that the Japanese were not really into the rock music. He saw people neatly clapping their hands after each song ended. Then, they were immediately quiet. John felt that Japanese music lovers were not really as expressive as their counterparts in United States or Britain. Music promoters said that the Japanese often do this when they watch a concert. They are probably shy, less expressive; so they tend to be quiet. From the outside, they are not reactive. Yet, they seem to like The Beatles’ music.

Since the end of 60s, an increasing number of Western musicians performed in Japan. Japanese were more expressive, and various genre infused the Land of Rising Sun.

In 1970, John was breaking out of the Beatles. It was only 10 years old. But, his name remained popular in Japan because, one year before, he married a Japanese woman named Yoko Ono.

In the years after, John increasingly produced many songs. The lyrics have very fine words. The lyrics of the song titled “Imagine”, for instance, have a deep philosophy. It was the song known when John and his wife campaigned against the Vietnam War (1955-1975).

John Lennon liked the atmosphere of Japan. In 1970s, he, his wife and his son, Sean, often visited Japan. His experience in Japan was unique.

His friend, Elliot Mintz, told a story in the book entitled Memories of John Lennon (2005).

One day, John, Yoko, Sean and Elliot rented a presidential suite in the Okura Hotel, Tokyo. Yoko asked his son to stroll downtown Tokyo. Only John and Elliot stayed in that spacious room. Bored with situation, they played football in the room. After some kicks, John and Elliot rested on the couch. They turned off the lights, and let the city lights shimmer their room through large windows.

It was very quiet.

Around 10 PM, John began to play guitar. Suddenly, a middle-aged Japanese couple entered the room. John’s room had a direct access to the elevator. Whoever has a key or code can enter the room anytime. Apparently, the couple mistakenly has their room code. So, they entered the room quietly.

Elliot thought that they were Yoko and Sean. But they were not. Then, the couple sat on the couch and watched a musician plucked his guitar. There was a man sitting on another chair, and it seemed that he enjoyed the song of the guitaris.

“Why the club is so quiet?” they might think. A spacious room with a soft music are a good match.

Ten minutes later, the couple was busy looking around. They whispered in Japanese language. They looked disappointed realizing that no waiter or waitress came to take an order. No drink was served. But they tried to enjoy John’s music.

John whispered to Elliot, “‘Just let them … this is interesting …”

John played a song titled A Jealous Guy. It’s wonderful.

Link:

Not long after, the Japanese couple seemed to be unhappy with the service at the “bar”. They did not enjoy the Western song either. They finally stood up and left the room.

After the couple left, John and Elliot were laughing out loud.

There is still a lot of interesting stories in the book. Surely, Japan is a country that John always remembered.

Japan probably felt the same way with John. Therefore, Saitama prefecture, north of Tokyo, built a museum that contained 130 John’s memorabilia. Some of them were borrowed from Yoko. The museum was 1.500 square meter, and opened on October 9, 2000. It had musical instruments, clothing, art, handwriting and others. Unfortunately, the museum was closed last year. Apparently, the museum attracted few visitors. Initially, the museum was targeted to get 350,000 visitors a year. However, within 10 years, it only managed to attract 615,000 visitors.

But, John Lennon remains popular. There are at least two bars in the Roppongi that present The Beatles’s pieces. Nippon Television (NTV) also aired a program contaning a list of 100 most influential historical figures in Japan. John Lennon was ranked 27th.