Pulang


Suatu hari pada pertengahan 1999, ketika reuni kecil di Jember, saya dan Zainul duduk-duduk di depan TV. Kami memainkan gitar, dan iseng-iseng, sebuah lagu pendek tercipta. Lagu itu pendek sekali. Saya membuat musiknya, Zainul membuat liriknya. Judulnya Pulang.

Sentuh relung hati

Hari t’lah berganti

Kuinginkan ‘tuk kembali

Di pelukanmu

Yang t’lah terbagi

Dulu ku berlari

Dulu ku mencari

Tempat berlabuh

Ku bersamamu hanya masa lalu

Kini, kurindukan

Dan kuingin pulang

Begitu saja. Lagu itu kemudian diingat-ingat, dan kami mengontak teman lama, Reinhart Aruan. Setidaknya tiga orang yang dulu pernah tergabung dalam band Springfield ketemu, dan mulai merekam. Rekaman dilakukan di depan PC milik Kurniawan, supaya dapat dijadikan format mp3. Saat itu, komputer adalah barang langka dan mahal lho! Akhirnya lagu itu selesai. Tidak hanya satu lagu itu yang kami mainkan. Ada dua lagu lainnya yang kami ciptakan dan rekam: Break Up dan Kau Mungkin Yang Pertama. Sayangnya, mp3 semua lagu-lagu itu hilang karena hard disk PC rusak dimakan jaman. Oleh sebab itu, setelah 14 tahun, saya memainkan lagu sendu berjudul Pulang itu dengan ingatan yang samar-samar. Ini dia. (Liriknya dimasuk-masukin sendiri ya mana yang pas! Hehe).

Fariz RM


Waktu SD tahun 80an, hanya ada satu stasiun TV di Indonesia, yaitu TVRI. Satu program yang sering saya tunggu di hari Minggu adalah Album Minggu. Program ini sudah tidak ada lagi sekarang. Isinya videoklip lagu-lagu yang baru dirilis di Indonesia.

Satu lagu yang muncul di Album Minggu pada 1988, dan masih saya ingat sampai hari ini, adalah Barcelona. Lagu ini diciptakan dan dinyanyikan oleh musisi yang populer saat itu, Fariz RM (l. 1961). Album Living in the Western World yang berisi lagu itu menjadi populer, bahkan di kalangan teman-teman SD saya. Saat itu saya pinjam kaset dari seorang teman (namanya Dwi Setyarini); dan terus-menerus mengulang Barcelona (rewind – fast forward) sampai pitanya nggak karuan. Beruntunglah kita yang sekarang bisa dengar musik lewat MP3.

Link Barcelona di Youtube

Videoklip Barcelona bagus sekali. Ada sosok perempuan Spanyol di sana. (jadi ingat seorang pelaut di Bondowoso yang bilang kalau dia sudah mengunjungi hampir seluruh negara di dunia, dan membawa satu kesimpulan: wanita-wanita tercantik di dunia ada di Spanyol!). Lagu Barcelona juga unik, berbeda dengan lagu-lagu melankolis jaman itu (Obbie Mesakh, Pance Pondaag, Betharia Sonata). Liriknya lebih optimis, ada bahasa Spanyol di dalamnya, rimanya juga pas. Musiknya sendiri rasanya dibuat dengan campuran band dan synthesizer. Beat drum-nya cukup rumit untuk ukuran jaman itu di Indonesia. Permainan bass-nya sangat khas. Ada petikan gitar Spanyol di tengah-tengahnya untuk mengisi interlude. Ada permainan keyboard dengan harmonisasi campuran jazz dan Mediterranian. Singkatnya, lagu ini menjadi hit karena berbeda.

Setelah lagu itu keluar, saya suka sekali Fariz RM. Kalau ada album baru muncul, selalu beli. Ketika mau lulus SD, Fariz RM mengeluarkan album baru. Saya langsung mengambil uang tabungan yang saya tabung sejak kelas 3 di sekolah, dan membeli album itu. Tabungannya Rp 6000, harga album 3000. Jadi hampir setengahnya habis. Selain itu, saya juga berburu album-album Fariz RM bersama grup dan artis lain (Symphony 82, Tujuh Bintang). Poster saya pasang di kamar. Berpura-pura jadi Fariz RM. Memalukan dan nggilani lah pokoknya (haha).

Tapi sejak 1992 lagu Fariz RM tidak sepopuler dulu. Irama musik yang lima tahun sebelumnya dianggap bagus jadi agak ketinggalan jaman. Mungkin orang ingin sesuatu yang back-to-basic, tidak terlalu advanced seperti musik Fariz RM yang diolah dengan sistem digital. Musik Fariz RM jadi lebih robotik, dan tidak punya jiwa. Romantisme-nya hilang; sebagian tergantikan dengan tema fenomena sosial yang serius. Fenomena serius seharusnya tidak dikatakan dalam lirik, tapi disisipkan secara implisit (seperti lagu-lagunya Sting – La belle dame sans regret – tentang reaktor nuklir). Kemudian, Fariz RM terlibat penggunaan obat bius dan pecandu minuman keras sehingga harus rehabilitasi. Masalah pribadi dan karya musik yang tidak kompetitif membuatnya kehilangan popularitas. Barangkali dia tidak jatuh miskin, tapi untuk meraih kembali kesuksesan yang lama, memerlukan waktu yang panjang pula. Sayang sekali memang karena Fariz RM punya bakat musik yang luar biasa. Dia mahir memainkan piano, drum, bass, gitar, perkusi, memiliki suara khas, dan pandai menciptakan lagu. Dia juga punya visi menggabungkan jenis-jenis musik menjadi fusion yang kemudian menjadi populer, dan diikuti beberapa grup seperti Krakatau, Karimata, Halmahera dan lainnya.

Fariz RM mungkin satu-satunya musisi 80an yang berhasil memperkenalkan dan menyisipkan jazz dalam lagu-lagu yang mudah diterima di Indonesia. Harus diakui bahwa jazz di Indonesia berkembang karena stimulasi dari karya-karyanya juga.

John Lennon


Someone from the 60s and 70s may recognize this name: John Lennon (1940-1980). He was born in Liverpool, Britain, and was infamously known as the lead singer/rhythm guitarist of The Beatles. Under his direction, The Beatles’ influence on the development of music has been tremendous. This group laid some of the basic foundations of rock.

They composed many songs that represented the feelings and opinions of commoners. Their music might sound simple. But, it is subtle. Its simplicity is what most people accepts. It’s also easy to memorize.

John Lennon and The Beatles came to Japan in 1966. They performed in the Budokan Arena, Tokyo, for five consecutive nights. Although they only played for 30 minutes each night, the “revolution” of rock music started in Japan. Previously, the Japanese were only familiar with traditional Japanese music, classical and jazz. After that, the rock music began to be acceptable in Japan. The Japanese felt that their lyrics were filled with honesty and freedom.

Initially, John felt that the Japanese were not really into the rock music. He saw people neatly clapping their hands after each song ended. Then, they were immediately quiet. John felt that Japanese music lovers were not really as expressive as their counterparts in United States or Britain. Music promoters said that the Japanese often do this when they watch a concert. They are probably shy, less expressive; so they tend to be quiet. From the outside, they are not reactive. Yet, they seem to like The Beatles’ music.

Since the end of 60s, an increasing number of Western musicians performed in Japan. Japanese were more expressive, and various genre infused the Land of Rising Sun.

In 1970, John was breaking out of the Beatles. It was only 10 years old. But, his name remained popular in Japan because, one year before, he married a Japanese woman named Yoko Ono.

In the years after, John increasingly produced many songs. The lyrics have very fine words. The lyrics of the song titled “Imagine”, for instance, have a deep philosophy. It was the song known when John and his wife campaigned against the Vietnam War (1955-1975).

John Lennon liked the atmosphere of Japan. In 1970s, he, his wife and his son, Sean, often visited Japan. His experience in Japan was unique.

His friend, Elliot Mintz, told a story in the book entitled Memories of John Lennon (2005).

One day, John, Yoko, Sean and Elliot rented a presidential suite in the Okura Hotel, Tokyo. Yoko asked his son to stroll downtown Tokyo. Only John and Elliot stayed in that spacious room. Bored with situation, they played football in the room. After some kicks, John and Elliot rested on the couch. They turned off the lights, and let the city lights shimmer their room through large windows.

It was very quiet.

Around 10 PM, John began to play guitar. Suddenly, a middle-aged Japanese couple entered the room. John’s room had a direct access to the elevator. Whoever has a key or code can enter the room anytime. Apparently, the couple mistakenly has their room code. So, they entered the room quietly.

Elliot thought that they were Yoko and Sean. But they were not. Then, the couple sat on the couch and watched a musician plucked his guitar. There was a man sitting on another chair, and it seemed that he enjoyed the song of the guitaris.

“Why the club is so quiet?” they might think. A spacious room with a soft music are a good match.

Ten minutes later, the couple was busy looking around. They whispered in Japanese language. They looked disappointed realizing that no waiter or waitress came to take an order. No drink was served. But they tried to enjoy John’s music.

John whispered to Elliot, “‘Just let them … this is interesting …”

John played a song titled A Jealous Guy. It’s wonderful.

Link:

Not long after, the Japanese couple seemed to be unhappy with the service at the “bar”. They did not enjoy the Western song either. They finally stood up and left the room.

After the couple left, John and Elliot were laughing out loud.

There is still a lot of interesting stories in the book. Surely, Japan is a country that John always remembered.

Japan probably felt the same way with John. Therefore, Saitama prefecture, north of Tokyo, built a museum that contained 130 John’s memorabilia. Some of them were borrowed from Yoko. The museum was 1.500 square meter, and opened on October 9, 2000. It had musical instruments, clothing, art, handwriting and others. Unfortunately, the museum was closed last year. Apparently, the museum attracted few visitors. Initially, the museum was targeted to get 350,000 visitors a year. However, within 10 years, it only managed to attract 615,000 visitors.

But, John Lennon remains popular. There are at least two bars in the Roppongi that present The Beatles’s pieces. Nippon Television (NTV) also aired a program contaning a list of 100 most influential historical figures in Japan. John Lennon was ranked 27th.

Obituari: Affandi Abdul Rahman


Matsushita san, bekas insinyur sipil yang pernah membangun dam di Wlingi – Blitar pada 1977, memperlihatkan sebuah foto orkestra. Di foto itu, dia menunjuk seorang pemuda yang tengah memegang cello di antara puluhan musisi klasik yang berjajar rapi. Itu anak lelakinya. Dia bangga bahwa anaknya bermain musik secara profesional (meski agaknya ia terselip di antara kerumunan yang akhirnya membuatnya jadi anonim).

Namun satu hal: di  Jepang, musik adalah profesi yang serius.

Musik tak hanya soal bermain instrumen atau menulis lagu indah. Musik melahirkan sikap menghargai nada, irama, syair, suasana dan aliran. Aspek-aspek itu tidak hanya lahir, tetapi juga berkembang. Oleh karena itu, sekolah musik di Jepang (seperti di kawasan Kunitachi) bukan hanya bisnis biasa: ia industri yang membentuk manusia.

Seorang guru musik terkenal di Jepang adalah Shin-ichi Suzuki (1898 – 1998). Ia pemain biola terkemuka yang metodenya pernah menimbulkan kontroversi: Metode Suzuki. Metode ini berpandangan bahwa kreativitas dalam bermusik harus dibina sejak belia dalam lingkungan yang penuh dengan musik. Telinga anak harus dibiarkan menyerap musik setiap hari. Metode Suzuki kini populer tidak hanya di Jepang saja, tapi juga negara-negara lain.

Seorang yang cukup berkesan dalam membicarakan musik pernah saya jumpai di Singapura. Beliau adalah mantan pemain band Melayu 1960-an: Affandi Abdul Rahman. Saya kenal dengan Pak Fandi karena beliau adalah ayah dari seorang kawan, yang kamarnya saya sewa di bilangan Cashew Road, Bukit Panjang. Pak Fandi adalah bekas penggebuk drum grup The Swallows.  Beliau meninggal pada 27 April lalu di usia 71 tahun. Beberapa hari sebelumnya, dia terkena stroke yang menimbulkan pendarahan otak (sepertinya stroke hemorrhagic).

The Swallows, Affandi posisi duduk (kiri), Affandi 2010 (kanan)

The Swallows Live in Munich

Bagi generasi 1960-an di Singapura, nama almarhum cukup populer. Pada dekade itu, musik yang populer di Singapura adalah Pop Yeh Yeh, sebuah aliran musik yang dipengaruhi musik pop Amerika Serikat. Band dari generasi Pop Yeh Yeh kadang-kadang disebut garage band.

Karena saya menyukai musik, saya pun ngobrol dengannya tentang perkembangan musik 1960-an dan musik di Singapura. Dari ngobrol itulah saya merasakan satu hal: beliau orang yang halus budinya.

Kata-kata Shin-ichi Suzuki memang ada benarnya:

Musik membentuk warga yang baik

Untuk mencapainya, seseorang harus mendengar musik sejak dini, belajar memainkan alat musik sendiri (secara otodidak), sehingga ia mampu mengembangkan kepekaan, disiplin dan ketahanan. Pada akhirnya, seseorang mendapatkan jiwa nan indah.

Almarhum, yang saya biasa panggil ‘Bapak’, mempelajari musik, khususnya drum, sejak kecil. Karena ayahnya sangat disiplin terutama dalam hal agama, Bapak hanya diperbolehkan main musik setelah mengaji. Jika mengaji belum selesai Bapak tidak akan belajar drum. Jadi, pesan pertama dari beliau adalah agama harus diutamakan dan mendahului kesenangan pribadi lainnya, seperti musik.

Pesan kedua beliau adalah dalam bermusik kita tidak boleh setengah hati. Ini berarti bahwa dalam bermain instrumen kita tidak dapat mengerjakannya kapan-kapan sesuka hati. Bermusik berarti mempelajari instrumen secara individu setiap hari. Sekali lagi: setiap hari! Musik mirip bahasa. Jika kita tidak berlatih setiap hari kita tidak akan kompeten.

Hal ketiga adalah kritik terhadap generasi Melayu hari ini. Dikatakannya, meskipun kita melihat banyak pemuda Melayu di Singapura bermain musik, mereka umumnya punya kelemahan – tidak pandai membaca skor musik (partitur). Beliau menambahkan bahwa musik yang baik tidak akan ditampilkan oleh para pemain band yang bermain musik dengan hanya mendengar (lalu dihafalkan). Ini karena musik yang baik biasanya dimulai dari disiplin membaca partitur bersama-sama, dan berimprovisasi dari partitur itu berdasarkan kreativitas. Intinya: sebuah grup yang baik harus mempelajari partitur sebagai acuan.

Hal keempat adalah bermusik berarti menciptakan karya musik, tidak hanya memainkan musik orang lain. Pada mulanya, orang bisa saja berlatih memainkan musik orang lain, tetapi bukan itu tujuan dari bermusik. Bermusik berarti menciptakan karya besar.

Pernah suatu hari, karena saya tahu bahwa Bapak berasal dari Pulau Bawean (atau Boyan), saya mengajaknya berbicara dalam bahasa Madura (yang saya rasa agak mirip). Ketika ngobrol, ternyata ada banyak perbedaan antara bahasa Bawean dengan bahasa Madura. Namun, saya dapat mengerti kalimat-kalimatnya. Selain fasih berbahasa Inggris dan Melayu, Bapak tidak lupa bahwa beliau berasal dari Bawean, dan terus mengingat bahasanya. Meskipun akhirnya beliau mengakui bahwa bahasa Baweannya kini jauh dari sempurna, beliau pernah mengarang lagu berbahasa Bawean saat bersama The Swallows. Judulnya Angkok-Angkok Bilis (Injit Injit Semut) dan La Obe, yang dinyanyikan Kassim Selamat. Dua lagu ini diciptakannya bersama musisi lain, Yusof Rahmat. The Swallows merilis lagu itu agar band ini nampak berbeda dari band lain.

Demikian empat hal tentang musik yang saya ingat dari almarhum. Singapura, khususnya warga Melayu, telah kehilangan seorang perintis musik semasa Pop Yeh Yeh 1960-an. Mudah-mudahan arwahnya diterima Allah SWT dan keluarga beserta anak-anaknya mendapat rahmat Ilahi. Terima kasih, Bapak.

Bengawan Solo


Siapakah yang tak kenal lagu Bengawan Solo ciptaan almarhum Gesang?

Bengawan Solo, riwayatmu ini
Sedari dulu jadi perhatian insani
Musim kemarau, tak seberapa airmu
Di musim hujan air meluap sampai jauh
Mata airmu dari Solo
Terkurung gunung seribu
Air mengalir sampai jauh
Akhirnya ke laut
Itu perahu, riwayatmu dulu
Kaum pedagang selalu
Naik itu perahu Read More

Jazz di Indonesia


Dalam tulisan pendeknya, Jazz in Indonesia: A Capsule History, Paul W. Blair menulis bahwa musik jazz masuk Indonesia pertama kali pada akhir 30an. Jazz dibawa oleh musisi-musisi Filipina yang mencari peruntungan di Jakarta dengan bermain musik. Tidak hanya mentransfer jazz saja, mereka juga memperkenalkan instrumen angin, seperti trumpet, saksofon, kepada penikmat musik Jakarta. Mereka memainkan jazz ritme Latin, seperti boleros, rhumba, samba dan lainnya. Nama-nama musisi yang masih diingat adalah Soleano, Garcia, Pablo, Baial, Torio, Barnarto dan Samboyan. Selain bermain di Jakarta, seperti di Hotel Des Indes (sekarang Duta Merlin Plaza) dan Hotel Der Nederlander (jadi kantor pemerintahan), mereka juga bermain di kota lain, seperti di Hotel Savoy Homann – Bandung dan di Hotel Oranje (Yamato) – Surabaya.

Pada tahun 1948, sekitar 60 musisi Belanda datang ke Indonesia untuk membentuk orkestra simfoni yang berisi musisi lokal. Salah satu musisi Belanda yang terkenal adalah Jose Cleber. Studio Orkestra Jakarta milik Cleber mengakomodasi permainan musik California. Band-band baru bermunculan seperti The Progressive Trio, Iskandar’s Sextet dan Octet yang memainkan jazz dan The Old Timers yang memainkan repertoir Dixieland.

Pada tahun 1955, Bill Saragih membentuk kelompok Jazz Riders. Ia memainkan piano, vibes dan flute. Anggota lainnya adalah Didi Chia (piano), Paul Hutabarat (vokal), Herman Tobing (bass) dan Yuse (drum). Edisi selanjutnya beranggotakan Hanny Joseph (drum), Sutrisno (saksofon tenor), Thys Lopis (bass) dan Bob Tutupoly (vokal).

Band jazz yang terkenal tahun 1945 – 1950 di Surabaya beranggotakan Jack Lemmers (dikenal sebagai Jack Lesmana, ayah Indra Lesmana) pada bass/gitar, Bubi Chen (piano), Teddy Chen, Jopy Chen (bass), Maryono (saksofon), Berges (piano), Oei Boen Leng (gitar), Didi Pattirane (gitar), Mario Diaz (drum) dan Benny Hainem (clarinet).

Nama-nama musisi jazz di Bandung tahun 50 – 60an adalah Eddy Karamoy (gitar), Joop Talahahu (saksofon tenor), Leo Massenggani, Benny Pablo, Dolf (saksofon), John Lepel (bass), Iskandar (gitar dan piano) dan Sadikin Zuchra (gitar dan piano).

Musisi-musisi muda di Jakarta bermunculan tahun 70 – 80an. Di antaranya Ireng Maulana (gitar), Perry Pattiselano (bass), Embong Raharjo (saksofon), Luluk Purwanto (biola), Oele Pattiselano (gitar), Jackie Pattiselano (drum), Benny Likumahuwa (trombon dan bass), Bambang Nugroho (piano), Elfa Secioria (piano). Beberapa musisi muda lainnya mempelajari rock dan fusion, tapi masih dalam kerangka jazz. Mereka adalah Yopie Item (gitar), Karim Suweileh (drum), WImpy Tanasale (bass), Abadi Soesman (keyboard), Candra Darusman (keyboard), Joko WH (gitar) dan lainnya.

Pertengahan tahun 80an, nama Fariz RM muncul. Ia lebih mengkategorikan musiknya sebagai new age. Namun, beberapa komposisinya bernafaskan pop jazz, bahkan latin. Indra Lesmana, Donny Suhendra, Pra B. Dharma, Dwiki Darmawan, Gilang Ramadan membentuk Krakatau, dan akhirnya kelompok ini bertransformasi menjadi Java Jazz, dengan mengganti beberapa personil.

Tahun 90an hingga sekarang, banyak sekali musisi dan kelompok jazz yang terbentuk. Musik jazz yang dibawakan tidak lagi mainstream, namun hasil distilasi berbagai musik seperti fusion, acid, pop, rock dan lainnya. Sebut saja SimakDialog, Dewa Budjana, Balawan dan Batuan Ethnic Fusion, Bali Lounge, Andien, Syaharani, Tompi, Bertha, Maliq & D’essentials dan masih banyak lagi lainnya.

Musisi jazz biasanya banyak bermunculan di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Bali. Hal ini disebabkan arus musik jazz lebih banyak mengalir di sana lewat pertunjukan jazz (JakJazz, Java Jazz Festival, Bali Jazz Festival), sekolah musik jazz, studio rekaman dan kafe yang menampilkan jazz. Seorang yang juga berjasa “mengalirkan” arus jazz ke Indonesia adalah Peter F. Gontha, seorang pemilik JAMZ dan pendiri pemrakarsa Java Jazz Festival.

Berita mengenai jazz Indonesia bisa dibaca juga di wartajazz.com.

 

Gitar


Awalnya, belajar nggitar itu susahnya minta ampun. Empat jari kiri mesti menekan senar pada fret yang berbeda-beda, senar ditekan tak terlalu kuat juga tak terlalu lemah (kalau terlalu kuat bisa sengkleh drijine, sedangkan kalau terlalu lemah ya senar gak bunyi tho …), selanjutnya genjreng enam senar yang ada di depan lubang resonansi, lalu jreng… kita bisa tersenyum meski hanya bisa satu kunci. Ini pemandangan hari pertama belajar gitar. Selanjutnya … ada yang menyerah karena jari-jarinya keburu dhedhel duel nglentheki (compang-camping mengelupas), ada yang lempar gitar karena memang tidak sabar untuk cepet selihai Rhoma Irama atau Joe Satriani (eh jomplang banget yo perbandingane? hehehe), karena tidak berbakat musik alias motorik plus sense musik memang dilahirkan cacat, tapi ada juga yang gigih belajar sampai menguasai satu lagi sederhana plus nyanyi dengan suara lirih (karena ingin ngetes genjrengannya bener atau nggak).

Belajar gitar di sekolah musik biasanya lebih terstruktur. Di sana kita diajari membaca not balok, belajar ketukan, belajar bermacam-macam lagu, diawasi guru dan ada pekerjaan rumah. Belajar pada teman sendiri agak berbeda. Di sini, tidak ada baca not balok dan PR: lebih relaks dan self-discipline memegang peranan penting.

Saya belajar gitar dari seorang kawan bernama Sunu. Setelah Sunu saya “nguping” di depan kaset Tohpati, Lee Ritenour dan Earl Klugh. Mirip dengan tiga begawan itu? Yo ora la … jauh. Tapi setidaknya saya mencoba. Hasilnya? Tidak ada, hanya bisa main gitar saja. Sederhana dan personal: kepuasan diri setelah bertahun-tahun melatih jari di atas fret. Karena tidak good enough, maka keahlian main gitar tidak bisa buat cari nafkah. Lagipula, “main gitar bosen juga ya” hehe (mengutip Balawan waktu manggung bersama Trisum).

Ngomong-ngomong, pernahkah anda main gitar di bawah ini? Saya belum, dan rasanya impossible buat mainin gitar ini … tapi nggak juga lho … gitar yang namanya Pikasso I ini benar-benar ada! Gitar 42 senar ini dimiliki Pat Matheny, gitaris jazz. Dan, gitarnya sendiri dibuat khusus oleh Linda Manzer (Kanada).

pikasso_i.jpg

Pikasso I

Kok yo ono gitar aneh koyok ngene …