Haji dan Snouck Hurgronje


Ibrahim lahir di Babilonia (kini selatan Baghdad, Iraq) dari seorang ayah penyembah berhala (idol) yang menolak keras ketika diajaknya menyembah Allah. Ayahnya bernama Tarikh, meski ada juga yang menyebutnya Azar. Tuhan sejak awal mengetahui bahwa Ibrahim adalah sosok yang tepat sebagai nabi. Ia menikah dengan Sarah yang mandul. Oleh sebab itu, ia menikahi Hajar yang kemudian melahirkan Ismail. Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Awalnya Ibrahim menolak, tetapi kemudian yakin atas perintah itu setelah Ismail mengikhlaskan dirinya. Sejarah ini menggambarkan kepatuhan seseorang kepada Allah di atas hal duniawi yang dicintainya, misal anak.

Sejarah itu kemudian melahirkan rukun Islam bernama haji. Sejak Muhammad meninggal, orang Islam terus melakukan ibadah haji pada hari ke 8-12 bulan Dzu al-hijjah. Kata “ibadah” merupakan perspektif yang dipakai muslim untuk menamakan haji. Namun, ketika haji diteliti orientalis, seperti misalnya Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936), ia berubah nama menjadi “feest” atau semacam pesta perayaan. Esensinya tentu berbeda: yang satu melihatnya sebagai ritual suci untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang satu lagi melihatnya sebagai orang ramai yang melakukan kegiatan non-transenden (seolah tuhan tak hadir di pusaran Ka’bah, Shafa-Marwah, Mina-Muzdalifah dan teriknya Arafah).

Meskipun kebencian sudah ditanamkan kepadanya sejak SD, sosok Snouck Hurgronje sendiri sebenarnya menarik. Snouck, bagi yang awam sejarah, adalah pegawai kolonial Belanda (semacam intelijen-peneliti), profesor di Leiden University dan pionir penelitian tentang Islam.

Christiaan_Snouck_HurgronjeChristiaan Snouck Hugronje

MeccaSH1885Mekah pada 1885 (foto oleh Snouck Hurgronje)

Kebencian-yang-ditanamkan itu agaknya memang beralasan. Kerajaan Belanda yang kehabisan dana dalam memerangi suku Aceh meminta Snouck untuk meneliti kehidupan para muslim Hindia Belanda (Jawa, Aceh, dan lainnya) di Mekah. Hasil penelitian itu kemudian mendasari strategi untuk memecah belah suku Aceh. Snouck yang mempertahankan disertasi berjudul “Het Mekkaansche feest” (Pesta Masyarakat Mekah, 1879) sebelumnya tak pernah ke Mekah – dan ia sudah menulis tentang Mekah (plus belajar bahasa Arab, Hebrew, Islamologi dan muslim yang disebut “Muhammadan” ketika itu) sebelum ke sana. Ia baru ke Mekah ketika mendapat jaminan Kerajaan Ottoman (yang ketika itu menduduki Arab Saudi) agar bisa melakukan penelitian (1884-1885). Sepulang dari Mekah (agaknya ia diusir dari jazirah Arab sebelum musim haji tiba karena mungkin kedoknya ketahuan), ia menulis sebuah buku fotografi berjudul “Mekka” yang judul panjangnya menjadi “Mekka in the Latter Part of 19th Century” (Brill). Lanjutan dari buku ini terus mendasari laporan-laporannya mengenai kehidupan Muhammadan (muslim) pribumi di Mekah, Aceh, Jawa, dan wilayah kolonial Belanda lainnya.

Snouck adalah salah satu orang yang pernah merekam suara orang membaca surat Ad-Dhuha di Mekah. LINK.

Referensi:

Advertisements

Gus Dur


Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (1940-2009) adalah sosok yang kontroversial di Indonesia. Setelah menjadi presiden Indonesia pada 1999, mungkin hampir setiap hari media merilis berita tentang dirinya. Gaya komentarnya yang lugas dan variatif dianggap nyleneh. Opininya yang berganti-ganti mengenai apa saja sering dianggap mencla-mencle. Saya sendiri (jika harus objektif – dan seringkali sulit) merasa bahwa Gus Dur ‘harus’ menjadi seorang presiden kala itu semata untuk beberapa alasan: menghindari perpecahan karena Indonesia belum siap menerima presiden wanita (Megawati); membuka wawasan bangsa mengenai kata ‘demokrasi’; memperbaiki dan menjalin hubungan dengan berbagai negara; memberikan teladan kepada siapa saja mengenai keterbukaan, kesederhanaan, pemikiran intelektual, pembelaan kepada kaum lemah, pluralisme, dan perdamaian. Lebih dari itu, Gus Dur rasanya tidak cocok menjadi presiden. Beliau bukan tipe seorang administrator dengan konsep manajemen kenegaraan yang baik. Manajemen negara yang terencana pernah dicontohkan oleh Suharto (minus gaya represif dan korupsi tingkat tinggi).

Saya mendengar nama Gus Dur mungkin ketika masih umur belasan. Setelah membaca majalah, ayah saya tiba-tiba bilang dalam bahasa Jawa: “Gus Dur ini ketua Nahdlatul Ulama (NU) yang jelas-jelas Islam-nya kuat sekali. Tetapi pemikirannya luar biasa dan sulit dipahami orang awam. Bayangkan, dia menganggap bahwa manusia di dunia ini, meskipun agamanya beda-beda, sebenarnya menyembah satu tuhan.”

Saya ketika itu hanya manggut-manggut saja, meskipun sama sekali tidak paham!

Fast forward. Tahun 1999, saya sering mangkal di kios buku dekat masjid Salman. Sering sekali, mungkin hampir tiap hari. Saya kemudian membeli beberapa buku. Dua buku yang masih saya ingat adalah Tuhan Tidak Perlu Dibela dan Prisma Pemikiran Gus Dur. Buku pertama berisi kumpulan kolom Gus Dur di majalah TEMPO, sedangkan yang kedua dari majalah Prisma. Buku pertama terkesan lebih rileks meskipun yang dibahas adalah hal-hal serius, dan diberi komentar yang substansial. Buku kedua lebih serius (baca: akademik) karena Prisma memang nampaknya dibaca kalangan intelektual bidang sosial; jadi sudah punya segmen yang ketika itu terbatas.

Dari dua buku itu, yang kemudian saya lanjutkan ke buku-buku lain, saya menemukan pencerahan mengenai sosok Gus Dur. Bukan Gus Dur sebagai seorang presiden, tetapi seorang kyai (makna tradisionalnya adalah pengasuh atau guru di pondok pesantren) yang memiliki wawasan ilmu sosial yang luar biasa. Khazanah pengetahuan Islamnya sangat terkemuka (bahkan pemahaman tentang agama-agama lain juga); pengetahuannya mengenai filsafat dan pemikiran Barat juga sangat dalam. Tetapi Gus Dur juga sangat tradisional, sangat Jawa, sangat Indonesia.

Greg Barton kemudian menulis buku biografi mengenai Gus Dur ketika beliau menjadi presiden: Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Greg, yang seorang akademisi dari Australia, mengupas tuntas tentang sosok Gus Dur dari kecil hingga masa dilengserkannya sebagai presiden.

Gus Dur memang bukan lahir dari keluarga kebanyakan. Ia adalah anak kyai juga, yaitu KH Wahid Hasyim, yang pernah menjadi menteri agama jaman Sukarno. Wahid Hasyim punya pemikiran sangat maju sehingga mengijinkan Gus Dur mendapatkan les privat bahasa Belanda dari mu’alaf bernama Iskandar, membaca buku-buku ‘komunis’ (seperti What is to be done karangan Lenin), mendengarkan musik. Saya sendiri tidak pernah membayangkan bahwa seorang kyai akan membiarkan anaknya mendapat privilege (atau diberi ijin) semacam itu. Kakeknya adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Bahkan jika dirunut lebih jauh, Gus Dur adalah keturunan seorang darah biru keraton Yogyakarta (atau Solo ya?) yang berguru langsung kepada Sunan Kalijogo. Jadi, Gus Dur sendiri senantiasa mengidentifikasi dirinya sebagai orang Jawa yang ‘kebetulan’ memeluk Islam, bukan orang Arab atau manapun yang memeluk Islam. Gus Dur juga selalu merasa bahwa tugas dia di Indonesia adalah mempersatukan bangsa yang majemuk dengan berpedoman kepada Al-Qur’an, hadits, filosofi Islam sebagai rahmatan lil-alamin (Islam yang membawa kebaikan bagi semua umat manusia tak membedakan agama, ras apapun), dan nilai-nilai tradisi bangsa. Mudahnya, mendekati orang Indonesia atau memecahkan persoalan di dalamnya tidak bisa memakai cara Romawi, Arab atau Galia, tetapi dengan cara Indonesia; cara, laku, tradisi dan bahasa  yang dipahami orang-orang Indonesia (bukan cara asing).

Gus Dur casing-nya kurang representatif (meskipun masa mudanya usia belasan atau 20an cukup lumayan). Penampilannya apa adanya. Tidak tampan pula. Tetapi kalimat-kalimatnya mengandung kebenaran, meski sering dicap media mencla-mencle. Matanya tidak dapat melihat dengan baik karena otot yang mengendalikan matanya tak berfungsi sempurna. Tetapi daya ingatnya yang luar biasa mengenai apa saja (dari ayat Al-Quran, kitab-kitab kuning hingga novel Satanic Verses – Salman Rushdie) hingga nomor telpon membuatnya representatif untuk sosok intelektual.

Gus Dur mencintai siapa saja, meskipun secara terbuka ia menyatakan bahwa musuhnya hanya satu, yaitu Suharto. Ini pun dia mengatakan bahwa kalau hari raya mereka tetap maaf-maafan. Jadi, intinya dia tidak punya musuh. Kalau meminjam kata-kata Emha Ainun Najib, Gus Dur mencinta pandawa dan kurawa. Dia tetap mencintai siapa saja meskipun dihina dan diolok-olok. Sosok dengan moral absolut seperti ini (menurut Gus Dur sendiri) dimiliki oleh YB Mangunwijaya, arsitek-sastrawan-rohaniwan yang terus membela orang-orang miskin di Kali Code, Yogyakarta. Mangunwijaya adalah sahabat Gus Dur dalam Interfidei.

Tradisi pesantren di Jawa menganggap bahwa ‘kelayapan’ ke pondok-pondok itu biasa. Misalnya, satu tahun di Pondok Tambak Beras, dua tahun di Krapyak, enam bulan di Gontor. Mondok atau meguru yang berpindah-pindah itu biasa. Ini adalah tradisi orang mencari ilmu sejak berabad-abad lampau. Setelah menguasai ilmu dari kyai A, pindah ke ilmu lain dari kyai B. Intinya, terus belajar kepada siapa saja dan di mana saja. Ini adalah bentuk pengembaraan intelektual yang sebenarnya. Rumah baginya adalah tempat di mana langit biru mencurahkan warnanya kepada bumi. Bukan rumah tembok yang kita huni. Dan, sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi siapa saja (bahkan bagi orang yang membencinya). Ini mungkin pula substansi dari ajaran tasawuf: mempunyai akhlak yang baik dan memberikan cahaya bagi manusia. Tetapi, tentunya, tasawuf pasti lebih dari itu: amalan dan ilmunya pasti juga tinggi, terutama soal ikhlas dan kecintaan kepada tuhan (bahkan mungkin meng-ikhlas-kan tuhan untuk memasukkannya ke surga atau neraka).

Karena mengembara itu biasa, maka Gus Dur pergi ke Timur Tengah pada usia awal 20an, setelah menimba ilmu di beberapa pesantren. Sebelum ke Timur Tengah, pengetahuan bahasa Arabnya sangat baik dan memungkinkannya membaca kitab-kitab kuning yang tanpa harakat. Kitab kuning adalah kitab-kitab yang ditulis ulama atau sarjana Islam mengenai persoalan agama (intinya adalah opini). Gus Dur pergi ke Mekkah-Madinah dulu, kemudian lanjut ke Universitas Al-Azhar di Kairo. Untuk masuk Al-Azhar, setidaknya seorang calon mahasiswa harus hafal beberapa juz Al-Quran (mungkin 12 juz). Setelah masuk, Gus Dur kecewa karena Al-Azhar mewajibkannya mengambil kursus bahasa Arab lagi. Sebagai bentuk protesnya, ia tidak pernah masuk kelas, dan hanya ikut ujian saja. Selama lebih dari 2.5 tahun, hidupnya diisi dengan pergi ke pusat informasi/universitas Amerika di Kairo untuk membaca buku-buku Barat, nonton film, nonton bola, ikut berdiskusi di warung kopi. Kelakarnya, selama 1000 hari di Kairo, ia menghabiskan waktu 500 hari untuk nonton film.

Abdurrahman_Wahid_youth

Karena gagal mendapatkan gelar dari Al-Azhar, ibunya mencarikan beasiswa lain supaya ia bisa lulus. Ia akhirnya berhasil ke Universitas Baghdad dan menyelesaikan sarjana selama 4 tahun. Ia kemudian pergi ke Eropa (ada kemungkinan mampir ke Moskow juga) untuk melanjutkan studi S2 atau S3. Sayangnya ijazah dari Baghdad tidak diakui. Ia akhirnya luntang lantung dari satu perpustakaan satu ke lainnya di Eropa. Ia pergi ke Belanda, Jerman dan Perancis dan membaca buku-buku di perpustakaan di universitas-universitas besar. Semua ilmu Barat dilahapnya.

Bagaimana Gus Dur mendapat uang untuk hidup selama 1.5 tahun di Eropa? Meskipun berasal dari keluarga kyai (yang mungkin berkecukupan), Gus Dur tidak mengandalkan keluarganya. Di Eropa, ia bekerja sebagai tukang setrika di sebuah binatu yang dimiliki keluarga Tionghoa. Di sana, Gus Dur belajar menyetrika baju hingga licin dan melipat hingga rapi. Di sela-sela menyetrika itu pula, ia berinteraksi dengan budaya Tionghoa; kadang juga mendengarkan musik klasik. Selain itu, Gus Dur juga bekerja sebagai tukan pel di galangan kapal. Bekerjanya dua minggu sekali, dan uangnya cukup untuk hidup. Selebihnya, ia menggunakan waktu untuk membaca buku di perpustakaan.

Sepulang dari Eropa, Gus Dur mengajar di beberapa pesantren dan universitas. Hidupnya belum berkecukupan sehingga ia harus membantu istrinya ngider untuk berjualan es lilin dan kacang. Selain itu, ia juga sering menulis untuk kolom-kolom koran dan majalah. Dari pendapatannya ini, ia akhirnya dapat hidup bersama istri dan empat anak perempuannya. Setelah Gus Dur digadang-gadang sebagai calon ketua NU, ia harus pindah ke Ciganjur, Jakarta. Di sana, ia akan lebih dekat dengan titik kekuasaan negara, sekaligus dapat sering berkunjung ke pesantren-pesantren di daerah lain dengan pesawat.

Setelah menjadi ketua NU (1984-1996), Gus Dur melakukan reformasi NU dan pesantren. Studi-studi pemikiran Islam mulai digagas di pesantren-pesantren, bahkan juga studi interpretasi Al Quran yang jaman sekarang mulai ‘diharamkan’ oleh mereka yang berpandangan sempit dan terpengaruh Wahabi). Gus Dur juga aktif membela rakyat kecil karena ikut pula dalam LSM. Protesnya cukup keras terhadap pemerintah (rezim Suharto). Karena Gus Dur semakin populer, pendukung NU semakin besar dan mencapai puluhan juta. Suharto mulai takut sehingga mendirikan ICMI yang dipimpin Habibie. Gus Dur menolak untuk ikut serta dalam ICMI karena ia ingin mengurusi orang-orang kecil, bukan elit politik. Akhirnya Gus Dur berhenti menjadi ketua NU agar dapat berdamai dengan Suharto pada 1996. Pada 1997, krisis moneter menghancurkan sendi-sendi perekonomian Indonesia, dan Suharto dilengserkan pada 1998. Selebihnya, adalah masa-masa Gus Dur menjadi presiden dan tahun-tahun terakhir hidupnya hingga wafat pada 2009.

***

Saya sering dipandang sebagai orang yang mengagumi Gus Dur (atau bahkan simpatisan). Tidak hanya oleh kawan, tetapi juga istri dan keluarganya. Saya biasanya hanya senyum-senyum saja tanpa mengiyakan atau menolak. Saya juga tidak berusaha mempengaruhi siapa-siapa. Saya sendiri bukan lulusan pesantren yang paham ilmu-ilmu agama. Saya juga bukan orang yang bergerak di bidang keagamaan atau sosial. Saya hanya menggemari pemikiran-pemikiran Islam dan Barat serta sosiologi. Keinginan saya hanya ingin memahami respon manusia terhadap suatu paham dan alasan mereka menjadi seperti sekarang. Setiap hal pasti ada alasannya. Manusia bertindak ini-itu karena suatu alasan. Alasannya boleh jadi (dan seringkali) sangat sepele dan dikendalikan hati, bukan isme. Tetapi ada juga yang murni karena isme dan pedoman hidup. Ini yang perlu dipilah-pilah, sehingga pada akhirnya kita sendiri dapat memberikan respon yang pantas. Inti dari kehidupan adalah perdamaian, bukan gontok-gontokan. Nah, sebagian besar pemikiran-pemikiran sebagai suatu respon terhadap persoalan sosial dan politik bangsa kita dapat kita temukan dari buku-buku atau tulisan Gus Dur. Jangan apriori terhadap sosoknya (yang citranya dibuat-buat oleh politicized media). Tapi bacalah dan selami pemikiran-pemikirannya, ide-idenya, referensi bacaan yang bakal membuat anda terpukau dan terus mencari asal-usulnya. Gus Dur memahami pemikiran Islam fundamentalisme, Quran, hadits, tasawuf, ilmu logika, sastra Arab, sosiologi Arab, politik dan peta pemikiran Barat, filsafat Eropa jaman pencerahan, hingga postmodernisme.

Tetapi setelah lebih dari 14 tahun saya membaca Gus Dur, baru beberapa waktu lalu istri saya bilang bahwa ia juga mengagumi pemikiran Gus Dur. Ia tidak pernah menganggap Gus Dur sebagai sosok yang saya lihat selama ini. Alasannya karena memang belum pernah membaca secara detil mengenai pemikirannya. Tanpa saya pengaruhi, ia membaca buku baru Ilusi Negara Islam. Dari situ, barulah ia memahami pemikiran Gus Dur, dan bahaya laten Islam fundamentalisme di Indonesia. Dalamnya tulisan Gus Dur (meski berbentuk kata pengantar saja) juga dapat dibaca di sana.

Link: http://www.libforall.org/pdfs/ilusi-negara-islam.pdf.

***

Hampir lupa, Gus Dur adalah mesin yang dapat mengubah soto Kudus menjadi humor. Artinya, dia gemar makan soto Kudus itu (selain yang lain-lain tentunya) dan suka sekali dengan humor. Humor diciptakan untuk siapa saja, tetapi yang dapat membawakannya hanya orang-orang tertentu. Orang yang pandai ndongeng, orang yang eloquent dalam bahasa, orang yang punya folder memori besar (dan kemampuan retrieve yang baik) khusus untuk cerita lucu. Gus Dur termasuk ketiganya.

Contoh humor Gus Dur:

Suatu hari ada seorang pastor duduk sendirian naik kereta. Kemudian, seorang kyai datang dan duduk di sebelahnya. Hari masih pagi, maka sang pastor membuka sebuah bungkusan berisi sandwich untuk sarapan. Ia menawari kyai untuk sarapan bersama.

“Ini ada sandwich kalau anda mau sarapan juga. Isinya daging babi. Eh, daging babi enak lho…”

Kyai menolak dengan halus, sambil tersenyum.

Setelah beberapa stasiun terlewati, kyai mengatakan kepada pastor: “Maaf saya harus turun di stasiun selanjutnya. Kita berpisah di sini.”

Pastor agak kaget, kok baru duduk sudah mau turun.

“Lho kok buru-buru turun. Mau ke mana?”

“Oh saya mau pulang, mau ketemu istri dulu,” kata kyai.

Kyai lalu melanjutkan sambil senyum-senyum, “Eh iya, kumpul sama istri lebih enak lho …”

Tipping Point


Setiap orang punya tipping point. Tipping point berarti sebuah titik (waktu yang terikat tempat) dimana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, tetapi titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.

Tipping-point

Terminologi ini kurang tahu juga berasal dari siapa. Tetapi seorang yang berjasa mempopulerkannya adalah penulis buku Amerika Malcolm Gladwell. Bukunya Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference (2000) membuat orang tersadar bahwa masing-masing dari kita hidup seperti sekarang ini karena suatu alasan yang subtil, yang halus. Dan sering tidak kita sadari. Alasan ini berbentuk materi, dan tidak bersifat spiritual atau ilahiyah. Jika spiritual ia mungkin dinamakan hidayah dalam Islam. Ada dua proposisi yang diajukan Gladwell. Yang pertama adalah “epidemik sosial sangat ditentukan oleh sekumpulan orang yang memiliki bakat sosial yang khusus dan jarang dijumpai di kumpulan lain”. Yang kedua adalah “Prinsip 80/20. 80% kerja yang diperlukan untuk menciptakan situasi tertentu ditentukan oleh 20% orang saja”. Gladwell mendasarkan proposisinya kepada statistik dan psikologi. Dua cabang ini digunakannya untuk memahami fenomena sosial yang terjadi pada abad 21. Sebagian berlaku di AS, sehingga sifatnya kontekstual, tetapi ada juga yang sifatnya universal dan menembus batas negara, budaya dan bahasa.

Buku yang terbit 13 tahun lalu ini nampaknya tidak akan usang. Alasannya, seseorang ingin memahami istilah tipping point; kemudian ingin memahami perubahan yang terjadi di dalam dirinya atau lingkungannya; kemudian ingin mengetahui sejauh mana istilah tipping point itu dapat merepresentasikan kehidupan di sekelilingnya. Intinya, tipping point adalah sebuah terma untuk merefleksikan diri.

Sayangnya, ia tidak punya kemampuan prediktif. Tipping point adalah soal after-the-fact. Ia dapat dianalisis ketika sudah terjadi. Jika belum terjadi Gladwell tidak punya alat, faktor atau parameter untuk membantu kita mengidentifikasi akankah terjadi perubahan dahsyat dalam hidup kita karena suatu titik. Contohnya ini. Apakah ketika kita minum kopi pertama kali (pada umur 7 tahun, misalnya) menyebabkan kita mencintai kopi setengah mati, dan akhirnya membuka kafe yang semasyhur Starbuck? Kita tidak tahu. Apakah ketika Musso (tokoh komunis itu) mengenal kata женщина (zhenshchina) atau femme, yang berarti wanita, di sebuah majalah Barat, kemudian membuatnya mencintai paham komunis dan berkelana ke Uni Soviet dan Perancis, kemudian melawan Belanda, dan berujung pada pembentukan Republik Soviet Indonesia? Tidak ada yang tahu.

Tipping point adalah sebuah titik yang kita ketahui setelah semuanya terjadi dan terjelaskan dengan baik. Tapi, titik ini kadang tidak hanya satu. Ia merupakan perpotongan (intersection) dari pelbagai garis kehidupan orang lain juga; yang sulit dikendalikan karena acak dan didorong motivasi yang sifatnya spiritual (agama, tuhan, pencarian makna hidup), material (uang, hubungan keluarga) dan absurd (tanpa tujuan jelas – lebih ke estetika dan sisi eksentrik).

***

Pada 1999, saya pernah diajak seorang kawan urang awak (Minang, tapi lahir di Medan) untuk makan masakan padang di sebelah Masjid Salman. Setelah makan, kami biasanya pergi ke kios buku di dekat situ. Buku-bukunya ditumpuk, rata-rata baru terbit karena 1998 merupakan tahun yang membebaskan penerbit untuk merilis buku apa saja – dari yang “kanan” sampai “kiri”. Pemahaman generasi muda ketika itu tentang Islam fundamentalis mungkin didapatkan di sana. Buku-buku terjemahan dari Timur Tengah begitu banyak. Begitu juga pemahaman anak-anak tentang istilah communist manifesto, liberalisme, dan mendadak suka dunia sophie (filsafat).

Pada saat itu, kawan saya memperlihatkan sebuah buku berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Franz Magnis-Suseno). Saya yang tidak suka membaca hanya mengenal wajah Marx yang berjanggut. Wajahnya populer, dan saya tahu nama itu dari Buku 100 Tokoh. Mengenai pemikirannya, saya tidak tahu sama sekali. Tidak tertarik. Buat apa? Komunis dulu pernah bikin onar, dan memahami pemikirannya sama artinya dengan mengembalikan potensi keonaran itu.

marx

Tapi, akhirnya buku itu saya pinjam. Dan, saya terserap ke dalamnya. Mungkin ini disebabkan karena tulisan Romo Magnis-Suseno yang mudah dipahami, runtut dan sederhana. Mungkin pula karena pemikiran komunisme itu tidak datang tiba-tiba, tetapi dilatarbelakangi oleh kisah romantis antara Marx dan istrinya, atau persahabatan yang tak lekang antara Marx dan pengusaha Inggris, Frederich Engels. Saya sendiri tidak tahu. Tetapi yang akhirnya saya tahu dan rasakan: saya tidak berhenti membaca. Saya terus mencari buku-buku lain (Das Kapital, Mein Kampf, Thus Spake Zarathustra dan lain-lain). Membaca apa saja. Apa yang orang lain baca, saya baca juga. Bukan ingin kompetisi, tapi ingin memahami apa yang orang lain pahami; jadi kalau ngobrol bisa nyambung. Saya juga ingin menyelami semua pemikiran dan sejarah dunia. Mengapa dunia ini jadi seperti ini? Mengapa banyak sekali isme yang kemudian menjadikan Indonesia seperti ini?

Buku Marx yang diperkenalkan oleh kawan saya itu, singkatnya, adalah titik perubahan, atau tipping point. Buku itu pada akhirnya membuat saya melihat dunia dengan wajah yang berbeda. Buku itu membuat saya menyukai “menulis”. Menulis, pada akhirnya, menghasilkan keasyikan tersendiri. Tulisan yang persuasif sangat membius dan dapat membuat orang lain bergerak. Dengan tulisan, seseorang mampu mengubah persepsi dan memperkaya, atau bahkan dikritisi. Tanpa kritik, pemahaman kita akan kehidupan tidak akan berkembang.

Pada akhirnya, tipping point adalah soal manusia dan persepsi terhadap dirinya.

Thesis Habibie


Sebenarnya terlalu awal untuk menulis tentang PhD thesis yang ditulis oleh B.J. Habibie. Alasannya, ngerti aja belum, eh ini malah nulis tentang thesis beliau. Tapi rasa terima kasih yang tak terhingga (infinite thanks!) harus diberikan kepada kawan-kawan di Jerman (Noni, Romi, Ismail, Riza).

Ceritanya, pada musim panas 2010, saya ke Budapest untuk lihat seminar komposit Eropa (European Conference on Composite Materials 14). Sebelumnya, sudah kontak-kontak dengan Noni dan Romi untuk mampir ke Jerman, tepatnya di Bremen. Mereka juga mengenalkan ke dua kenalan baru di RWTH Aachen yang punya akses ke perpustakaan. Tapi ternyata thesis B.J. Habibie masih ada di perpustakaan jurusan, belum sampai di perpustakaan pusat. Setelah mencari-cari perpustakaan Fakultät für Maschinenwesen (naik turun bukit), akhirnya dapat juga thesis-nya Pak Habibie.

Thesisnya tipis, hanya 55 halaman. Sampulnya berwarna biru keabu-abuan, mirip kertas manila. Di dalamnya, teks ditulis dengan mesin ketik, rumus-rumus ditulis tangan, grafik digambar dengan bolpoin. Tulisan rumus-rumusnya rapi. Thesis tersebut kemudian dipinjam, dan di-scan (sama Romi). Sebelum di-scan, ya difoto dulu, supaya ada kenang-kenangan. Judulnya: Beitrag zur Temperaturbeanspruchung der orthotropen Kragscheibe. PhD thesis ini ditulis pada 1965. Dengan bahasa Jerman yang terbatas (dan bantuan kamus tentunya – plus samar-samar mengingat kuliah Theory of Elasticity dari Prof. Mordechai Perl), judul thesis itu dapat diartikan kurang lebih sebagai berikut: Contribution to the thermal stresses of orthotropic plates (Kontribusi terhadap tegangan thermal pada pelat ortotropik). Di dalam buku Sulfikar Amir (The Technological State in Indonesia: The Co-constitution of High Technology and and Authoritarian Politics, Routledge, 2013), judul ini dibahasa-Inggriskan sebagai berikut: Contribution to the temperature demand for orthotopic collarflange, yang saya rasa kurang tepat.

Isi thesis ini kurang lebih adalah derivasi atau turunan matematik yang didasarkan pada teori thermoelastisitas (yang dipelopori Goodier, Stanford University – murid Timoshenko) untuk menghitung tegangan thermal pada sebuah pelat yang kekakuan dalam arah ortogonalnya berbeda. Teori ini dapat diaplikasikan untuk menghitung tegangan thermal pada sayap pesawat ketika memasuki rejim hipersonik, di mana efek temperatur jadi cukup signifikan. Teori ini dipecahkan secara numerik dengan menggunakan komputer. Tapi orang yang paling memahami thesis ini tentunya adalah Pak Habibie sendiri, dan dua promotornya (Prof. Dr.-Ing. Hans Ebner dan Prof. Dr.-Ing. Wilhelm Dettmering).

habibie-thesis

Thailand (1)


Sebenarnya tidak pernah merasa dekat, atau pun merasa jauh, dengan Thailand. Waktu kecil, teman-teman SD menyebut Thailand sebagai “negeri gajah putih”. Kita tidak tahu persis artinya apa – asalnya dari mulut ke mulut. Padahal, bendera Thailand dari 1855 – 1917 ada gambar gajah putihnya. Padahal juga, bendera itu pernah dikibarkan di Hindia Belanda: berjajar di sepanjang jalan dari stasiun kereta hingga hotel di sela-sela bendera Belanda, untuk menyambut kedatangan Raja Thailand bernama Chulalongkorn di tanah Jawa, atau Hindia Belanda (abad 18-19). Saya juga tidak pernah berinteraksi dengan warga Thailand, kecuali pada 2003 saya harus mengurus dokumen yang dikirim ke Bangkok, dan berkirim email dengan seorang penulis Thailand.

Pada 1999, film Anna and the King muncul. Film yang meledak di Indonesia ini dibintangi Jodie Foster dan Chou Yun-Fat. Ia bercerita tentang kisah seorang guru wanita bernama Anna Leonowens asal Inggris yang disewa Raja Mongkut (ayah dari Raja Chulalongkorn) untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada istri-istri dan anak-anaknya di kerajaan Siam. Film ini bercerita tentang bagaimana Siam menguasai modernitas dengan memahami bahasa Inggris. Ia ditulis mungkin berdasarkan memoar Anna Leonowens berjudul The English Governess at the Siamese Court (1870) dan Romance of the Harem (1873). Sebenarnya ada tiga film lain tentang Raja Mongkut, tapi mungkin tidak masuk Indonesia, yaitu Anna and The King of Siam (1946), The King and I (1956) dan film kartun Anna and The King (1999).

29 Januari 2002, saya disediakan sebuah ruangan dengan komputer canggih (waktu itu). Tujuannya supaya menyelesaikan tugas akhir dalam 6 bulan. Di ruangan itu juga ada banyak buku, paper dan dokumen-dokumen milik dosen. Saya hanya mengambil paper atau buku yang saya perlukan saja. Tidak menyentuh yang lain. Tapi ketika duduk termenung (jenuh melanda – sekarang ini namanya “galau”), mata tiba-tiba terpaku pada satu buku baru di tumpukan dokumen. Buku itu berwarna coklat muda, dengan gambar siluet jajaran orang berfoto. Judulnya adalah “Journeys to Java by Siamese King”. Pikiran saya: perjalanan raja kembar siam? Saya ambil buku itu (diam-diam, karena ruangan itu sebenarnya ruangan dosen). Buku berbahasa Inggris itu kemudian saya baca, dan menemukan bahwa isinya tentang tiga kunjungan Raja Siam (Thailand) ke Jawa. Isinya semacam buku harian yang aslinya ditulis dalam bahasa Thai dan diterjemahkan ke bahasa Inggris. Penulisnya adalah Imtip Pattajoti Suharto. Beliau adalah istri Pak Djoko Suharto, guru besar Teknik Mesin ITB. Dosen pembimbing saya adalah teman Prof. Djoko. Saya kemudian meminjam buku itu, dan melanjutkan membaca di rumah. Buku itu menarik karena membuat saya jadi memahami apa yang terjadi di Jawa pada akhir 1800an hingga awal 1900an. Kesan saya: Indonesia maju sekali saat itu. Bahkan Raja Thailand saja sampai berkunjung ke Jawa. Buku itu tidak komprehensif dan minim catatan kaki. Sifatnya seperti itinerary, urutan jadwal perjalanan (berisi tanggal, waktu, tempat, bertemu siapa-siapa, dan sedikit komentar). Buku itu diterbitkan oleh Penerbit ITB pada 2001. Saya kemudian pergi ke Penerbit ITB dan mendapatkan email penulisnya. Kemudian kami bertukar email, dengan tujuan, saya membantu menerjemahkan buku itu ke bahasa Indonesia. Tapi 2003 saya harus pergi ke Singapura. Jadi, proses menerjemahkan buku itu tidak dilanjutkan.

Tahun 2005 saya mendapatkan bingkisan dari staf AUN/SEED-Net Thailand. Bingkisan itu berupa CD musik jazz. Nampaknya biasa. Tapi yang membuat istimewa adalah lagu-lagunya dimainkan oleh Raja Bhumibol Adulyadej (dibaca: Phu-mi-pon A-du-nya-det). Raja Bhumibol bergelar Rama IX. Sedangkan, buku yang sebelumnya saya baca bercerita tentang Rama V atau Raja Chulalongkorn (yang namanya diabadikan sebagai nama universitas ternama di Thailand).

Bulan Januari 2007 saya bersama keluarga (anak waktu itu masih berumur 7 bulan) pergi ke Bangkok untuk berlibur. Kami berlibur lima hari di sana. Menyenangkan sekali, orangnya ramah, makanannya enak dan murah. Bisa naik tuk-tuk, berbelanja di Pasar Chatucak, menyusuri Sungai Chao Phraya, melihat Emerald Buddha, makan di tepi sungai bersama teman lama. Saya sebenarnya masih tidak mengenal sejarah Thailand. Jadi, misi jalan-jalan ke sana adalah hal kontemporer: belanja.

Buku Journeys to Java by Siamese King sebenarnya ingin saya beli. Tapi setelah kirim email ke Pak Djoko, bulan Maret 2013 saya mendapatkan kiriman buku tersebut. Gratis! Wah baik sekali Pak dan Bu Djoko. Misi saya, yang tertunda lama, kemudian dimantapkan: menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Indonesia. Buku yang baru dikirim itu adalah edisi yang sudah direvisi (revised edition) dari edisi tahun 2001, dan dicetak tahun 2012. Buku tahun 2001 itu hak ciptanya dimiliki Departemen Luar Negeri Thailand, sedangkan yang 2012 ini dimiliki oleh Ibu Imtip sendiri (setelah perjuangan panjang nampaknya). Buku itu agaknya mirip dengan buku sebelumnya, kecuali mulai banyak catatan kaki, komentar penulisnya, foto-foto.

Chulalongkorn in SoloRaja Chulalongkorn (berdiri di depan berpakaian putih membawa tongkat) di samping Paku Buwono X Susuhunan dari Solo tahun 1896 (koleksi Tropenmuseum)

Setelah diskusi via email, nampaknya usaha menerjemahkan saja tidaklah cukup. Alasannya, orang Indonesia hanya mau membaca buku jika isinya berkenaan dengan dirinya. Pembaca Indonesia, mungkin, juga impulsif dan latah. Artinya, jika ada buku baru dengan judul yang bombastis dan semua orang baca, maka seseorang akan membacanya (kemudian lupa). Tapi pembaca yang kritis semakin lama semakin banyak. Pembaca kritis adalah pembaca yang mencari jati diri, mencari tahu dunia luar, meresapi (internalisasi) makna tulisan dan terstimulasi untuk terus mengenali dirinya (ingin apa aku ini; apa yang ingin aku capai; mengapa fenomena A atau B terjadi dan seterusnya). Oleh sebab itu, jika hanya menerjemahkan maka pembaca mungkin kehilangan selera. Menulis buku di Indonesia (yang collectible tapi juga dapat dinikmati karena manfaatnya banyak) sebenarnya agak sukar. Tapi bentuk buku tentang Raja Siam ke Jawa itu tengah dipikirkan. Saat ini inti pekerjaan adalah menerjemahkan bukunya Bu Imtip itu, dan mencari sumber-sumber bacaan lain. Bu Imtip itu sebenarnya adalah campuran sumber sekunder dan tersier karena berisi narasi yang ditulis dari berbagai sumber primer dan sekunder. Kalau bacaan pendukung, sudah ada beberapa yang didapat. Proses penerjemahannya sendiri tengah berjalan (lambat). Dari 163 halaman, 138 sudah dalam bahasa Indonesia (yang berantakan).

Buku tentang Raja Chulalongkorn mengunjungi Jawa atau Malaya yang berbahasa Inggris setidaknya ada empat:

  1. Journeys to Java by Siamese King, Imtip Pattajoti Suharto, Penerbit ITB, 2001
  2. Journeys to Java by Siamese King, Imtip Pattajoti Suharto, Penerbit ITB, 2012 (revised edition)
  3. A true hero : King Chulalongkorn of Siam’s visit to Singapore and Java in 1871, Kannikar Sartraproong, University of Leiden, 2004
  4. Through the Eyes of the King: The Travels of King Chulalongkorn to Malaya, Patricia Lim Pui Huen, ISEAS Publisher, 2009

Buku ke-3 belum pernah saya baca. Ingin sekali membacanya karena mungkin itu adalah PhD thesis yang diterbitkan di Universitas Leiden. Penulisnya juga orang Thailand (jadi: view from within), fasih berbahasa Melayu/Indonesia, Belanda dan Inggris.

BukuThai

Buku tentang Raja Chulalongkorn

Buku ke-4 sebagian sudah saya baca. Buku ini sebelumnya disarankan oleh Prof. Merle Ricklefs (penulis A History of Modern Indonesia Since ca. 1200) yang saya hubungi untuk memberi saran. Nampaknya, bukunya Patricia Lim itu berisi selected trips (kunjungan pilihan) yang didesain dengan indah. Beberapa bab isinya mirip sekali (!) dengan bukunya Bu Imtip, khususnya  kisah Raja Chulongkorn yang transit di Singapura. Tapi bahasa Inggrisnya mungkin lebih well-composed, dan sebenarnya lebih merupakan parafrase dari kalimat-kalimatnya Bu Imtip. Bahkan, sebagian kesimpulannya merupakan penekanan ulang dari kesimpulan Bu Imtip. Originalitasnya mungkin kurang, meskipun Patricia nampaknya berburu buku-buku referensi lain yang melengkapi (annotate) bukunya Bu Imtip. Buku itu juga kelebihannya adalah desain dan foto, selain juga menambahkan kisah-kisah perjalanan ke Malaya dan Singapura. Fokusnya memang di Malaya sih.

Dr Sartaproong dalam reviewnya di Journal of the Siam Society (Vol 99, 2011) bahwa buku itu adalah “… a fine picture book“. Buku itu, menurut Dr Sartraproong, punya beberapa kelemahan: cerita dengan foto kadang tidak nyambung; fotonya tidak merepresentasikan apa yang dilihat Raja Siam; fotonya berisi orang-orang berpose tanpa ekspresi, bukan foto-foto yang punya cerita; fotonya kadang di-crop kemudian diulang di halaman lain; hubungan Malaysia dan Siam tidak dijelaskan dengan baik.

Kembali ke Thailand. Thailand ini unik, karena menjadi satu-satunya (mungkin) negara Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah. Kemampuan negosiasi dan diplomatik raja-raja terdahulunya sangat hebat, terutama Chulalongkorn yang rajin mengunjungi negara-negara Eropa supaya nampak sejajar dengan mereka. Tapi sebagian wilayah Thailand masa itu dikorbankan atau diberikan kepada penjajah Perancis dan Inggris. Misalnya, Laos, Kamboja, bagian utara Malaysia, seperti Kelantan, Kedah, Perlis dan lainnya. Tapi seorang kawan Thailand menyebutkan bahwa Thailand tidak pernah dijajah karena kedekatannya dengan Raja Rusia sehingga terus mendapatkan back-up militer yang kuat dan membuat segan negara-negara Eropa untuk menjajahnya.

chulalongkorn2

Raja Chulalongkorn (kiri) bersama Raja Nicholas II dari Rusia tahun 1897

Mengenai sosok Chulalongkorn: ia adalah raja yang memberikan contoh, berhati mulia, suka belajar hal-hal baru dari setiap wilayah yang dikunjunginya, suka bercanda (good sense of humor), teliti dan analitis. Pada 1996, pengkultusan Raja Chulalongkorn mencapai puncaknya di Bangkok (wilayah urban), tapi tidak terlalu kuat di pedesaan (rural). Orang-orang melakukan upacara penghormatan dan persembahan di patung berkuda Raja Chulalongkorn (ekuestrian). Pengkultusan ini kemudian dibahas dalam buku terbaru Irene Stengs berjudul: Worshipping the Great Moderniser: King Chulalongkorn, Patron Saint of the Thai Middle Class (2009).

Sebenarnya, apakah yang dipelajari oleh Raja Chulalongkorn di Jawa? Perjalanannya dilakukan tiga kali: 1871, 1896 dan 1901. Apa yang dia pikirkan mengenai Candi Borobudur dan Prambanan, galangan kapal dan peleburan logam di Surabaya? Sistem administrasi model apa yang diadopsi dari Jawa? Apa yang dia lihat dari kehidupan orang Islam di Jawa masa lalu? Bagaimana kehidupan orang-orang Belanda, orang Tionghoa, orang pribumi antara 1871 – 1901? Bagaimana keadaan Batavia (Jakarta), Sukabumi, Buitenzorg (Bogor), Bandung, Semarang, Yogyakarta, Pasuruan, Malang? Sistem apa yang berubah di Thailand setelah kepulangannya dari Jawa? Bagaimana hubungan Jawa dan Thailand?

Barangkali tidak ada satupun raja di dunia yang merekam kehidupan Jawa masa silam kecuali Chulalongkorn. Perjalanannya sendiri adalah perjalanan bersejarah yang kental dengan nafas nasionalisme: Chulalongkorn hendak melakukan perubahan besar-besaran terhadap sistem administrasi negaranya, sekaligus mengadopsi apa saja yang baik dan cocok bagi Thailand. Pandangannya ketika melakukan perjalanan itu unik karena berangkat dari keingintahuan yang mendalam; keinginan untuk mengadopsi hal-hal baru dari modernitas Barat; keinginan memilih apa yang cocok dari luar negeri untuk Thailand; ia ingin berpetualang, bertamasya bersama keluarga mengapresiasi peninggalan Buddha dan Hindu; beristirahat dari kesibukan Bangkok, menyepi di pulau Jawa yang bervariasi; lebih penting lagi, ingin menunjukkan kepada Belanda dan negeri Eropa lainnya bahwa raja Thailand juga bisa mengeksplorasi negeri lain, tapi tidak menjajahnya (ada pula dugaan bahwa perjalanannya memang bersifat politis yang sebenarnya sah-sah saja karena posisi Siam yang rawan ketika itu).

Herannya, mengapa raja-raja Jawa yang dia kunjungi tidak ketularan untuk melakukan hal yang serupa? Mengunjungi wilayah Jawa yang lain; bersatu, memenangkan Perang Jawa (1825-1830) dan meneruskan perjuangan itu. Indonesia mungkin dijajah karena sejak dulu memang terpecah belah; mudah disuap; terlalu kagum dengan modernitas Barat tapi tidak berminat belajar; kurang mencintai negerinya (bilang “cinta” dan “nasionalis” di mulut, tapi tindakannya seperti penjarah yang menghisap).

Mungkin hingga kini?

Perjalanan Raja Chulalongkorn ke luar Thailand adalah sebuah titik awal perjalanan panjang yang bersejarah menuju Thailand yang ter-Barat-kan. Dan, titik awal itu dimulai di Jawa. Orang Indonesia perlu belajar dari perjalanan Raja Chulalongkorn ini, khususnya anggota DPR yang sering melakukan kunjungan luar negeri untuk studi banding.

Finding Purboyo


Mencari orang hilang di Indonesia itu sulit. ‘Sulit’ ini beda dengan ‘sukar’. Sulit ini benar-benar impossible (!), kalau sukar masih punya kemungkinan ditemukan jika ditekuni pencariannya. Pernah suatu kali saya membaca artikel di Inside Indonesia mengenai orang hilang. Mungkin sampai hari ini orang itu tidak pernah ditemukan. Tapi harapan harus tetap ada. Apalagi internet sudah masuk desa bahkan pedagang asongan pun punya ponsel.

Dosen mengingat mahasiswa itu biasa. Biasanya yang diingat yang pintar, yang bandel atau yang berkesan. Pernah suatu hari saya menemukan email Prof. Oetarjo Diran mengenai bekas mahasiswanya. Mahasiswa itu bernama Purboyo. Emailnya pendek, tapi cukup menyentuh. Berikut saya posting email itu, dengan keyakinan bahwa siapa saja yang membacanya, kemudian kebetulan bertemu Pak Purboyo, bisa menghubungi saya atau Prof Diran.

Mencari Purboyo

Oleh Oetarjo Diran

Ada pengalaman kecil namun tidak pernah saya lupakan.

Pada suatu senja, setelah Maghrib, di rumah ‘angker’ Jalan Dago No. 116 ada seorang mahasiswa datang dan mohon untuk diskusi [mengenai tugas akhir] dengan saya. Seperti biasa, dia langsung saya ajak makan (bukan nasi goreng, lupa apa). Setelah makan malam, saya tanyakan ada masalah dengan penulisan tugas akhir?

Dia bilang, “Tidak, ketikan sudah hampir selesai, kecuali bagian kesimpulan yang masih ada coretan pensil merah Pak Diran, dan belum saya perbaiki.”

Dia menyambung, “Namun, saya mohon ijin untuk pulang kampung malam ini, karena saya merasakan saya terpanggil untuk langsung membantu kaum saya di desa.”

Kaget saya! Apakah karena putus asa dengan ‘galaknya’ pertanyaan-pertanyaan sulit yang saya berikan, yang selalu menghasilkan coretan pensil warna merah? Saya mencoba mengerti …

Namun, atas setiap pertanyaan, nasihat atau dorongan imaji untuk terus menyelesaikan TA (yang dalam estimasi saya hanya tinggal pengetikan dan perubahan-perubahan kosmetika), saya bujuk dia agar pulang kampungnya diundur, katakan, sampai minggu depan. Dan, saya janjikan kepadanya supaya dapat melakukan sidang TA awal minggu depan.

Beliau ternyata tidak dapat dibujuk, dan bersikeras dengan sopan, bahwa “Saya terpanggil, Pak … dan saya rela untuk menjadi helai rumput hina di pematang sawah tempat kerabatku berpijak …”

Saya segera memberikan counter argument, dan menyatakan bahwa beliau akan lebih bermakna dan berguna bagi kaum kerabatnya bila menjadi pohon besar, kuat dan rindang tempat orang berlindung dan menikmati buahnya.

Pembicaraan terus berlangsung hingga menjelang tengah malam. Kira-kira pukul 00:00 malam beliau berdiri, mohon maaf dan minta ijin pergi. Saya kemudian antarkan beliau sampai di kegelapan Jalan Dago, di mana akhirnya saya lihat beliau menghilang dalam angkot yang masih tersisa saat itu.

Sampai saat ini saya kehilangan jejak beliau. Namun, keharuan saya akan kemauan yang terfokus dan tak tergoyahkannya itu tetap saya bawa dan rasakan hingga hari ini.

Apakah di antara anda yang pernah kuliah pada tahun 70-80an di ITB ada yang kenal beliau? Kalau ingatan saya yang penuh hiatus ini benar, maka namanya adalah Purboyo. Adakah teman seangkatannya yang masih kenal dan/atau berhubungan dengan beliau? Dan, dapatkah anda menghubungkan saya dengan Pak Purboyo?

Sujiwo Tejo on TEDx


Saya mendengar nama “Sujiwo Tejo” pertama kali pada saat kuliah di Bandung. Bekas wartawan ini dikenal banyak orang sebagai dalang yang ketika itu mampu membawakan cerita-cerita wayang secara populer. Dalam lagunya Titi Kala Mangsa ia mempopulerkan Bahasa Jawa abad pertengahan. Albumnya meledak. Alasannya sederhana: lirik asing (kecuali bagi telinga Jawa) yang dikawinkan musik populer. Tentu, beberapa passage Bahasa Jawa abad pertengahan itu tidak dapat dipahami orang kebanyakan. Bakat ndalang-nya sudah ada sejak lama, barangkali sejak dia kecil. Bakat itu akhirnya ditularkan dan diimplementasikan lewat pendirian Loedroek ITB yang ketika saya kuliah sangat populer di kalangan pembahasa Jawa (populasinya cukup banyak sehingga mungkin bisa dikatakan bahwa bahasa kedua setelah Bahasa Indonesia di ITB adalah bahasa Jawa!). Loedroek ITB sering mengadakan pentas (tapi saya belum pernah nonton). Selain sebagai dalang, penyanyi, Sujiwo Tejo juga piawai memainkan saksofon; selain itu ia bisa memainkan alat musik lainnya, terutama alat musik tiup. Ia juga pandai menulis (kan mantan wartawan), kritis menilai keadaan sosial yang bersifat keseharian (ia tidak doyan politik praktis – lebih suka mendiskusikan teori politik dan fenomenanya). Di balik penampilan yang berantakan dan apa adanya (mungkin lebih mirip seorang resi yang asketik dan hermitik), pikiran Sujiwo Tejo cukup metodis, sigap dalam mencari esensi dan kesimpulan, dan selalu merujuk kepada referensi.

Di kalangan anak Jember yang merantau di Bandung, nama Sujiwo Tejo tentu tidak asing karena beliau pernah hidup di Jember (pernah sekolah di SMAN 1 Jember). Dia lalu melanjutkan kuliah di Matematika ITB, dan tahun keduanya, kuliah double di Teknik Sipil (entah mana yang duluan masuknya, Matematika atau Teknik Sipil). Sayangnya, keduanya tidak selesai.

Image

TEDx event adalah satu acara yang diadakan oleh organisasi nirlaba untuk menyebarkan gagasan (spreading ideas), begitu kira-kira informasi yang ada di website-nya. TED adalah kependekan dari Technology Entertainment Design. Program TEDx yang diadakan di banyak negara ini dibuat untuk merangsang dialog di masyarakat, organisasi dan individu. Format acara TEDx biasanya berisi penampilan atau monolog pendek yang dipersiapkan secara matang tema dan isinya. Tujuannya untuk mengasuh proses pembelajaran, inspirasi dan ke-gumun-an (wonder) sehingga tercipta perbincangan lebih lanjuta mengenai tema dan isi yang sudah disampaikan oleh pengisi acara. Pengisi acara bisa siapa saja, tapi biasanya dipilih mereka yang berkiprah secara nasional di ketiga bidang itu. Bisa tua, bisa muda.

Di dalam acara TEDx yang diadakan di Bandung pada 9 Oktober 2011 itu Sujiwo Tejo diperkenalkan sebagai Ki Jancuk karena dia punya satu komunitas yang bernama Republik Negeri Jancukers. Ketika itu dia tidak membawakan tema dalang atau politik di TEDx. Temanya, menurut dia sendiri, agak berat: Math: Finding Harmony in Chaos. Saya juga tidak menduga Sujiwo Tejo bakal ngomong matematika di TEDx. Terlepas dari profilnya yang mungkin kurang disukai karena kadang vulgar, Sujiwo Tejo menyampaikan sesuatu yang lugas dan masuk akal tentang matematika. Seriously, he’s no-joke and smarter than what he seems to appear, reinforcing the adage that “a smart person does not fit any molds”.

Image

Beberapa hal saya catat dari gagasan atau pandangan Sujiwo Tejo tentang matematika. Intinya untuk mengingatkan diri sendiri, dan mendiseminasikan ke orang lain. Sejak awal bicara (yang hanya 20 menit itu), Sujiwo Tejo sangat straightforward. Orang Jawa bilang, langsungan gak tedeng aling-aling. Jadi, pesan langsung menancap.

  • Indonesia kurang maju karena [kemampuan] matematika [warga]-nya rendah. Problemnya begitu kita mendengar matematika, kita membayangkan hitung-hitungan. Padahal matematika tentang logika dan konsistensi logika kita. Pelajaran terbaik untuk melatih logika dan konsistensi adalah matematika.
  • Matematika adalah bahasa, seperti halnya Bahasa Indonesia, Bahasa Madura, Perancis, Aborigin.
  • Matematika harus diajarkan dengan baik di tingkat dasar. Di universitas, tingkat pertama matematika bila perlu diajarkan oleh profesor terkenal.
  • Matematika itu tentang ketidakpastian, tapi matematika tentang kesepakatan. Contoh: 1+1 = 2 untuk konteks bilangan persepuluhan, tapi tidak untuk bilangan biner, 1+1=0.
  • Sujiwo Tejo terinspirasi Dr Hutahean dari Matematika ITB; matanya dibuka dan dapat menghubungkan antara matematika dengan sastra dan seni.
  • Sastrawan dan seniman yang seharusnya kemampuan matematikanya bagus. Tapi sayangnya tidak. Ini artinya matematika diajarkan secara salah oleh kurikulum Indonesia.
  • Dalam matematika, kita dapat menemukan bahasa-bahasa baru. Kita dapat menemukan, misalnya, dimensi-n. Dimensi yang kita pahami adalah tiga dimensi (x-y-z). Sebenarnya plus 1 yaitu dimensi waktu. Padahal ada dimensi-n yang akhirnya terbukti di fisika astronomi.
  • Matematika dapat membantu insinyur sipil menghitung kekuatan kolom di semua titik (dalam hal ini Sujiwo Tejo ingin membicarakan metode elemen hingga)
  • Kalimat puisi membentuk dunia baru, kalimat matematika juga demikian.
  • Keindahan matematika itu dingin; tapi tetap indah. Hal ini dapat terjadi ketika kita melakukan pembuktian rumus matematika. SJ mencontohkan: cos²α + sin²α = 1
  • Matematika adalah kemampuan menangkap pola dari sesuatu yang semula tidak terpola. Itulah kemampuan matematika yang harus ditanamkan. Soal kemacetan dapat diselesaikan dengan konsep-konsep himpunan.
  • Sedemikian banyak jenis batik di Indonesia sebenarnya hanya enam pola (pattern) – hal ini didapat dari kawan matematikawan SJ yang meneliti batik
  • Mari kita berpikir matematis, tidak sebagai hitung-hitungan, tapi sebagai bahasa karena itu mempengaruhi logika kita
  • Matematika erat kaitannya dengan lagu dan puisi
  • Matematika adalah orkestrasi dari seluruh konsep
  • Inti dari matematika adalah mencari persamaan. Tidak ada pelajaran matematika tentang pertidaksamaan; itu hanya masalah pengecualian. Ada Sunda, ada Jawa, ada Kristen, Islam, mari kita berpikir matematika dan selalu mencari persamaan.

Dan beberapa anekdot yang agak menyimpang dari matematika:

  • Orang yang kuliah [sampai wisuda] adalah orang yang meneruskan sejarah, sedangkan orang yang drop-out itu orang yang menjebol sejarah
  • Cinta tak perlu pengorbanan. Itu kata-kata matematika yang baru. Pada saat kau merasa berkorban, pada saat itu cintamu mulai pudar. Yang ada pengorbanan itu biasanya hasil kalkulasi. Kalau ditanya, kenapa kok cinta sama dia. Jika ada “Karena ini, karena itu ” maka itu bukan cinta; itu kalkulasi.
  • Orang besar itu kalau menyebut nama orang biasanya sering salah. Misalnya, WS Rendra menyebut  Nono A. Makarim jadi Nono L. Karim; Jacob Utama menyebut Emha Ainun Najib dengan Emha Aimum Najib; SJ sendiri menyebut Deni Darco dengan sebutan Deni Cobra.

Image

Liputan TEDx Bandung pada 9 Oktober 2011 dapat dilihat di sini.