Womenomics


Dalam sebuah wawancara dengan koran Mainichi Shimbun, duta besar Amerika Serikat (AS) untuk Jepang John V. Roos mengatakan bahwa aset terbesar Jepang yang belum sepenuhnya diberdayakan adalah kalangan wanitanya. Padahal, jika Jepang berhasil memanfaatkan kemampuan wanitanya maka pendapatan (GDP) Jepang bisa naik 15%. Ini berdasarkan laporan Goldman Sachs antara 1999 dan 2005. Goldman Sachs menyebutnya ‘womenomics’.

Apakah womenomics?

Womenomics secara sederhana berarti pergerakan roda ekonomi yang laju-lambatnya ditentukan oleh kemampuan wanita dalam bekerja untuk menghasilkan uang, menginvestasikan dan membelanjakannya.

Meskipun ekonomi Jepang menurun dua dekade ini, wanita Jepang agaknya masih ‘rajin’ gonta-ganti handphone; mengakses internet; membeli komputer, mobil mini, apartemen, perhiasan dan benda bermerek terkenal.  Wanita Jepang membelanjakan ¥173,183 (Rp 17.3 juta) setiap bulan. Jumlah ini memang lebih kecil dibandingkan pria Jepang yang menghabiskan ¥194,938 per bulan. Namun, kemampuan belanja pria sebenarnya mengalami penurunan 1.6% per tahun, sedangkan kemampuan belanja wanita Jepang malah naik 4.6% per tahun.

Dari uang bulanan sebesar ¥173,183 itu, wanita Jepang memakai 64.6%-nya untuk kebutuhan sekunder (misalnya perabot rumah, pakaian, telepon, barang bermerek dan internet; 24.1%), rumah (20.3%) dan makanan (20.2%). Oleh karena itu, pebisnis Jepang cenderung fokus kepada segmen pasar yang baru, yaitu wanita Jepang.

Selain ‘kemampuan’-nya berbelanja, wanita Jepang juga dikenal berumur panjang. Menurut data menurut Central Intelligence Agency (CIA) jumlah wanita Jepang per Juli 2010 adalah 65.1 juta dari 126.8 juta penduduk Jepang (51.4%). Dalam hal ini komposisi wanita yang berusia di atas 60 tahun lebih banyak dari pria Jepang. Secara rata-rata wanita Jepang mampu hidup sampai 84 tahun, sedangkan lelakinya ‘hanya’ bisa hidup sampai 77 tahun. Rendahnya jumlah pria Jepang sebagian disebabkan oleh bunuh diri.

Mengapa penduduk wanita berumur di atas 60 tahun merupakan aset yang berharga?

Mereka yang berumur di atas 60 tahun umumnya mempunyai simpanan ¥9.6 juta (Rp 960 juta) di bank. Jumlah ini 60% lebih banyak daripada tabungan laki-laki Jepang. Oleh karena itu wanita Jepang usia tua disebut juga ‘investor masa depan’.

Namun, womenomics di Jepang masih menghadapi banyak tantangan. Di Jepang, jumlah wanita karir masih berada pada level 55%. Ini berada di bawah AS atau Inggris, di mana masing-masing berada pada level 62 dan 61%.

Mengapa demikian?

Pertama, ketika berusia antara 25-29 tahun wanita Jepang tidak bekerja secara penuh (full-time); melainkan hanya bekerja paruh waktu (part-time). Ini membuat jumlah pengangguran nampak semakin naik (employment diukur dari jumlah pekerja full-time). Laju pengangguran mencapai 5% tahun 1995. Penyebabnya: perusahaan mengubah status kerja wanita dari pekerja penuh ke paruh waktu. Ini merupakan cara perusahaan Jepang untuk memangkas biaya non-gaji, seperti bonus, asuransi, dan keuntungan yang lain.

Kedua, ketika berumur 30 – 44 tahun, wanita Jepang tidak dapat bekerja karena sibuk mengurus anak. Jumlah penitipan anak (hoikuen) di Tokyo dan beberapa kota besar lainnya sangat sedikit, dan ini membuat wanita tidak sempat bekerja untuk membantu ekonomi rumah tangga.

Ketiga, bisnis di Jepang kurang mendukung karir wanita. Wanita yang bisa meraih posisi tinggi di suatu perusahaan masih sedikit dibandingkan negara maju lainnya. Perusahaan dipandang sebagai ‘wilayah laki-laki’, sedangkan rumah tangga adalah ‘wilayah wanita’. Jenjang pendidikan yang tinggi tidak serta merta membuat wanita bisa menjadi manajer atau direktur di suatu perusahaan. Memang akhir-akhir ini banyak wanita Jepang menjadi anggota parlemen, menteri atau CEO. Namun jumlahnya masih di bawah AS dan negara-negara maju lainnya.

Karena tiga sebab inilah womenomics masih merupakan konsep yang sekuler di Jepang.

Surat Perpisahan di Kantor


[Manusia] hidup hanya sebentar. Tapi setiap orang harus terus berjalan.

Kalimat ini adalah bagian dari penutup catatan perpisahan bagi kawan-kawan dan kolega di kantor. Padahal, awalnya saya ingin menulis pepatah Jawa yang cukup masyhur, seperti “Urip mung mampir ngombe” atau hidup hanyalah sekedar mampir [untuk] minum. Maknanya barangkali sama, bahwa keabadian itu bukan privilege kita, bukan tujuan kita, bukan ungkapan sehari-hari: ‘keabadian’ lebih cocok masuk ke dalam buku puisi, atau bentuk yang lebih tinggi, seperti kitab.

Bekerja pada dasarnya adalah mencoba, atau berusaha, melakukan sesuatu. Tak ada jaminan bahwa usaha selalu membuahkan hasil. Tapi setidaknya seseorang itu mencoba. Namun, hasil perlu terus dipikirkan karena ia bertindak sebagai motivasi, tujuan dan ukuran. Iya, manusia menggandrungi sesuatu yang terukur. Oleh karenanya, banyak instrumen, banyak parameter diciptakan, untuk memberikan skala. Hal ini berakar pada kemampuan manusia yang terbatas: ia adalah alat ukur yang buruk. Tangan kita tidak mampu mengukur berapa temperatur setrika panas. Lidah kita tidak mampu mengukur persentase NaCl di dalam garam yang kita makan. Otak kita tidak mampu mengukur seberapa cerdas lawan bicara kita. Kita hanya merasa, membatin, mengekspresikan apa yang sudah kita ketahui, bukan apa yang kita ingin ketahui.

Dalam proses bekerja, setiap orang memiliki semangat yang berbeda. Atau lebih tepatnya, perspektif yang berbeda terhadap suatu pekerjaan. Ia kemudian menilai, tentu dengan gajinya, dan sedikit menerapkan prinsip ekonomi: usaha jangan sampai lebih daripada pendapatan. Perspektif ini dibentuk oleh lingkungan kerja (kawan, atasan), jenis pekerjaan, citra pekerjaan (apa yang orang lihat tentang pekerjaan itu), nama perusahaan dan bentuk fisisnya. Ini perspektif salaryman, atau karyawan. Jika seseorang mempunya usaha sendiri, barangkali, semangat yang ia memiliki berfluktuasi lebih cepat, lebih dinamis; naik turun bahkan kacau. Biasanya semangat ini kembali konvergen jika solusi baru telah ditemukan dan nampak ada cahaya [keberhasilan] di sana. Jika solusi tidak ada baik usahawan atau salaryman akan berperilaku divergen, melebar, tidak tahu apa yang penting, out of cast dan berhenti di tengah jalan.

Ini barangkali lumrah: setiap anak sekolah ingin sekali cepat bekerja. Demi apa? Tujuannya? Jawabannya juga trivial, sepele: ingin tahu. Tapi ternyata hal ini tidak sesepele yang dikira, karena setiap orang haus akan petualangan, sesuatu yang baru, bentuk dan atmosfer yang tak konservatif. Ketika ia telah bekerja, setelah beberapa tahun, ia ingin kembali ke sekolah. Namun, ini dibentuk oleh paradigma yang sedikit lain: ingin meningkatkan pengetahuan, atau sekedar ingin mengenang masa-masa sekolah. Yang pertama, ini bentuk yang lebih nyata dari sekedar “berpetualang”: meningkatkan pengetahuan, atau belajar lagi, adalah kompensasi dari kebuntuan dalam mencari jawab. “Belajar lagi” di sekolah berarti bahwa ada banyak hal yang ternyata tidak bisa didapat dari kantor atau tempat usaha. Ia didapat dari buku-buku orang lain yang juga mencari (bukan yang diberi), guru-guru yang menghabiskan belasan tahun mengajar dan mendapat feedback tentang pengetahuan. Yang kedua, “sekedar mengenang” biasanya tidak berakhir nyata. Ia hanya sisi romantik manusia, yang susah lepas dari masa lalunya. Ini tipe “sejarawan” yang sering dijumpai di kehidupan nyata.

Hidup hanya sebentar. Di dalamnya, meskipun demikian, banyak sekali manusia yang berkesan. Dia bisa berasal dari ibukota negara yang macet dan berpolusi, atau dari Silicon Valley bagian selatan yang sepi. Pertemuan dengan manusia-manusia ini yang sering memberikan banyak pelajaran dan kita membawanya hingga akhir hayat kita.

Hampir dua tahun lalu, saya menulis tentang pekerjaan: Dari Pesawat ke HDD: Nyambungnya Di Mana? Artikel ini berkesimpulan bahwa HDD dan pesawat, menurut pengalaman pribadi, dihubungkan oleh penggunaan finite element method. Selain itu, dua “mainan” ini dihubungkan oleh pentingnya akurasi.

Hari terakhir di kantor (sebuah perusahaan pembuat HDD), yaitu 18 September 2009, saya menulis cerita pendek tentang interview saya. Di sana, barangkali pesan yang ingin disampaikan adalah, bahwa ketidaktahuan (yang kemudian diekspresikan secara naif dan kelakar) belum tentu menghasilkan sesuatu yang negatif. Tidak tahu, seperti yang diajarkan guru saya, adalah berkah bahwa kita perlu tahu apa yang harus dipelajari, berapa lama waktu yang diberikan untuk belajar. Hidup pada dasarnya mencari jawab atas ketidaktahuan kita. Jadi jangan takut.

***

Original Version

Dear Friends and Colleagues,

It was all started when MR, then PE Manager, came to my former institute to interview some of ready-to-spin-off researchers. He was interviewing, not really sure, 10 to 15 folks in DSI maybe.

I dressed up like I was going to a wedding.

When it came to my turn, I was still sitting in my cubicle to run some program. When I was about to stand, one guy was walking fast towards my cubicle. He said: “Heeey, you must be [the author]. Glad to meet you!”

Shocked!

Wait a second … a non-employee walking around the lab without a guard? No, just joking. He’s with my colleague, so it’s fine.

“I am MR, from company so-and-so.” And he grabbed me to a conference room for an interview.

Wait a second again. I was supposed to get nervous. But I didn’t. It was so fast, and I could not think of anything. Not even HDD! What I thought was … God, please make it fast … (I hate interviews)

MR explained about what PE is doing, what is the product, what we should do, what we have to learn. Then he asked: what do you think?

My reply was short: “Frankly, I don’t understand what you are talking about!”

MR was laughing. And I explained that my work on HDD is in the niche of HDD shock problem with numerical approach. Nothing to do with how to make drives, how to solve error codes whatsoever. That company works on totally different realms. But it was interesting and challenging. Really.

Interesting because, like an airplane, HDD is highly-integrated, highly-complicated, but it’s possible to make. Challenging because, you would crash your head (I mean, head in the “head-and-media” things) if you miscalculate in nanometer scale.

“Please have some cakes … ” MR offered delicious food, and I definitely have one (just to get some grip! – lucky it was not fasting month).

Good and useful cake, and we had a 30-min chat, about how to solve things from a scratch.

I came on board on 8 October 2007. PE was formed with nine engineers after 6 months.

Today is my last day in this company. 18 September 2009.

Life is short. But everyone has to move on.
Special thanks to MR who pulled me in into this company.
Thanks to my new boss who carries on excellent leadership.
Thanks to my close friends in PE.

I am deeply indebted to all my friends in this company, who share their useful knowledge, techniques and thought. I wish you all the best for your future endeavour.

Sincerely,

Me

***

Surat Perpisahan di Kantor

Semua berawal ketika MR [nama bekas bos saya yang pertama] datang ke sebuah lembaga riset untuk merekrut beberapa peneliti yang siap meninggalkan lab-nya. Lembaga ini mengkhususkan diri dalam penelitian penyimpanan data. MR mewawancarai sekitar 10-15 peneliti.

Saya memakai baju yang sangat rapi, seperti mau ke kondangan.

Ketika waktunya wawancara, saya masih ada di meja kerja untuk menjalankan program komputer. Waktu hendak berdiri, seseorang berjalan cepat menuju ke meja saya: “Hei, kamu pasti [penulis]. Senang berjumpa denganmu!”

Kaget! Tunggu dulu … kok ada tamu yang berkeliaran tanpa dikawal orang kantor?? Eh gak juga, ternyata ada kawan yang memandu dia. Cuma jalannya agak lambat, jadi ketinggalan.

“Saya MR dari perusahan Jepang,” begitu sapanya. Ia lalu mengajak saya ke ruang konferensi untuk wawancara.

Eh tapi tunggu dulu. Saya seharusnya deg-degan gak karuan. Tapi semuanya cepat sekali, saya tidak sempat berpikir apapun juga. Bahkan saya tidak ingat lagi kinerja hard disk drive! Yang saya pikirkan saat itu: ya tuhan, mohon wawancaranya dipercepat (saya benci wawancara!).

MR berniat mentransfer expertise dari Amerika ke Singapura. Jadi ia memerlukan beberapa engineer. Engineer ini akan tergabung dalam satu grup bernama Product Engineering. MR lalu menjelaskan secara singkat apa itu PE, apa yang dikerjakannya, apa yang perlu kita pelajari. Setelah menjelaskan, ia lalu bertanya: bagaimana menurutmu?

Jawaban saya singkat: “Jujur saja, saya sama sekali nggak ngerti kamu ngomong apa!” MR ketawa ngakak. Tapi benar-benar saya tidak nyambung dengan yang ia sampaikan. Sama sekali baru, dan diberikan dengan cepat. Saya lalu menjelaskan bahwa pekerjaan saya di lembaga itu cukup sempit lingkupnya, tidak mencapai ke proses manufaktur dan memecahkan error codes dalam hard disk. Jadi lembaga ini dan perusahaan itu bekerja di alam yang berbeda. Tapi karena perbedaan itu, perusahaan ini jadi sangat menarik. Ia adalah terra incognita, sebuah tanah yang tak dikenal, yang perlu dijelajahi. Bidang pekerjaan PE sangat menarik dan menantang. Percayalah.

Ia menarik karena, seperti halnya pesawat terbang, hard disk drive itu highly-integrated, highly-complicated tapi sangat mungkin untuk dibuat. Ia menantang karena kamu akan menghancurkan head (pembaca data) dalam hard disk jika hitungan kita meleset sekian nanometer.

MR lalu menyuguhkan kue, “Silakan dimakan kuenya”. Saya lalu mengambil satu (lapar sih) supaya tidak gugup, biar ada ‘pegangan’ – gocekan gitu. Dan untungnya itu bukan bulan puasa!

Rotinya cukup bermanfaat [untuk membuat rileks] dan kami ngobrol ngalor ngidul setengah jam, tentang bagaimana memecahkan problem di HDD dari nol.

Pada 8 Oktober 2007 saya kemudian masuk kerja pertama kali di perusahaan ini. PE dibentuk dengan sembilan engineer dalam waktu enam bulan.

***

Satu bulan lebih sebelum saya mengundurkan diri, MR mengakhiri masa penugasannya di Singapura selama dua tahun. Ia harus kembali ke Amerika. Belum lama MR keluar, satu kawan juga pindah ke Amerika. Lalu saya. Banyak orang tentu berspekulasi bahwa pengunduran diri saya karena MR, yang barangkali manajer favorit di sana, ‘pulang kampung’. Jadi saya mengalami demoralisasi. Padahal tidak. Bos yang sekarang juga baik sekali. Bahkan lebih rileks lagi. Alasan utama adalah bosan! Ha ha … akhirnya ngaku. Ya bayangkan saja empat tahun berkutat dengan hard disk. Dosa saya belum terbayar karena “murtad” dari dunia penerbangan. Jadi saya perlu kembali ke dunia penerbangan untuk menebus empat tahun kemurtadan ha ha ha …. untungnya ada yang berbaik hati menampung saya. Jadi saya berkelana dulu ke tempat lain.

Hidup petualangan!

Dokter Djawa


Dukun itu digdaya, powerful. Pada abad 19 di tanah Jawa, mereka adalah ahli pengobatan tradisional, ahli tumbuhan berkhasiat, (kadang) pengguna kekuatan spiritual. Tapi yang terpenting, mereka banyak menyembuhkan orang sakit, dan profesinya sangat merakyat. Orang Jawa tidak bisa hidup tanpa dukun.

Dukun itu digdaya. Profesi, ketenaran mereka, serta keinginan untuk memperkenalkan (baca: memaksakan) pengobatan Barat (western medicines) ke Hindia Belanda membuat pemerintah kolonial Belanda membuat sekolah kedokteran di tanah Jawa.

Tahun 1851, berdirilah Dokter Djawa School di Batavia. Sekolah ini diperuntukkan bagi orang Jawa yang ingin jadi dokter. Gelarnya: Dokter Djawa. Sekolahnya hanya 2 tahun. Setelah lulus, dokter djawa diharapkan kembali ke kampungnya, menjadi asisten dokter Belanda atau menjadi vaccinator (tukang vaksin). Ia mendapat gaji dari pemerintah. Tahun 1863, lama sekolahnya menjadi 3 tahun; kemudian tahun 1875, menjadi 7 tahun dan gelarnya berganti jadi Dokter Medis.

Awalnya, Dokter Djawa tidak terlalu dipercaya membawa kotak obat-obatan sendiri. Ia harus meminta obat-obatan dari dokter Belanda. Namun, hal ini lambat laun berubah. Peran profesional Dokter Djawa makin diakui. Sekurangnya, 50% dari mereka tidak hanya berperan sebagai vaccinator belaka, tapi dokter betulan.

stovia_7

(Sumber: Foto milik Depkes RI dan UI, direproduksi oleh BKusmono bulan Juni 2008 di Senayan)

Dokter Djawa sebenarnya punya status sosial dan eksistensi yang agak ambigu: ia bergaji lokal, tak seperti dokter Belanda yang bergaji besar; meski fasih berbahasa Belanda, ia tetap outsder di kalangan dokter Belanda; meski ia lebih terlihat membumi, penduduk miskin tetap memilih pergi ke dukun karena ongkosnya lebih murah.

Isu lain (dan menggegerkan) yang muncul saat pendirian Dokter Djawa School adalah payung, atau parasol, sebuah payung kecil. Pada masa itu, parasol adalah simbol status sosial. Payung model ini hanya dimiliki wedana, bupati, administrator Belanda, kepala pengairan dan eselon tinggi di pemerintahan. Payung-sebagai-simbol ini agaknya hanya berlaku di Jawa. Ia memberikan penegasan tingkat sosial, kepercayaan diri, wibawa dan kekuasaan.

Banyak Dokter Djawa yang berjuang mendapatkan parasol ketika lulus sekolah. Tetapi perjuangan ini berbenturan dengan kenyataan bahwa dokter seharusnya tak membentuk demarkasi antara pasien dengan dirinya. Ia seharusnya tak menurunkan tabir antara pasien dan dirinya. Pemerintah Belanda beralasan bahwa pasien dan Dokter Djawa seharusnya tak ada batas, tak dipisahkan oleh ‘sekedar’ parasol. Oleh sebab itu, Dokter Djawa tak kunjung mendapatkan hak mengapit parasol.

Tapi jaman lambat laun berubah, dan ia mulai berpihak pada Dokter Djawa.

Dalam risalah pendeknya The Unbearable Absence of Parasols: The Formidable Weight of A Colonial Java Status Symbol, Liesbeth Hesselink (yang kemudian menulis buku berjudul Healers on the Colonial Market – Native Doctors and Midwives in the Dutch East Indies, 2011) menulis bahwa pada tahun 1882, seorang Dokter Djawa bernama Mas Prawiro Atmodjo memperjuangkan kembali masalah parasol ini. Setelah melewati birokrasi yang berliku, Gubernur Jenderal Belanda akhirnya meluluskan permintaannya agar Dokter Djawa berhak mendapatkan parasol. Tapi sayangnya, momentumnya tak pas: ketika ijin mengapit parasol sudah dikeluarkan Belanda, kekuatan parasol sebagai simbol status sosial kian memudar. Parasol kurang mandraguna. Parasol kurang memberikan bobot sosial.

Takut


Di Singapura, orang bekerja dengan perilaku yang aneh, yaitu takut salah. Orang berusaha lari dari tanggungjawab dengan mengatakan, ah, ini kan bukan bagianku. Ketika mereka secara sukarela melakukan yang bukan bagiannya, ketidaksempurnaan muncul. Dan ketidaksempurnaan ini menghasilkan kegagalan. Orang takut gagal, orang takut salah. Karena salah adalah cela. Ini lucu.

Di bidang sains atau rekayasa, salah adalah lumrah. Salah ini biasanya diawali oleh keberanian mengambil tindakan, melakukan eksperimen, mengambil posisi, menentukan langkah selanjutnya dan hasil dari coba-coba. Ketika pengetahuan tak memadai, orang berbuat salah. Tapi setidaknya orang itu tahu bahwa “pengetahuannyalah” yang tak memadai – bukan karena keputusannya mengambil tindakan itu. Jika kesalahan terjadi tentu orang harus bertanggungjawab. Ia perlu mengakui kesalahannya dan memperbaiki secepat mungkin. Ini proses belajar.

Di Singapura, orang barangkali sudah penat belajar. Switch off your brain, do whatever they say and get paid. Jiwanya mati.

Entahlah kalau di Indonesia bagaimana, karena dulu saya hanya bekerja di sebuah lab kecil; yang interaksi antarindividualnya sangat minimum. Yang ada hanya membaca, bereksperimen, menulis risalah ilmiah dan berdiskusi. Tapi tidak ada politik kantor.

Office politics, makanan apa itu? Di sini saya mengetahui bahwa karakteristik dari office politics adalah individu yang takut salah. Individu yang tak ingin mendapat pengetahuan baru dari bereksperimen. Office politics juga diwarnai oleh kemampuan bicara yang ngotot, tapi isinya kosong.

Manajer umumnya punya properti ini. Tapi manajer saya yang sekarang tidak demikian. Ia barangkali mutan di tengah workforce Singapura. Ia punya karakter berbeda. Ia adalah teladan yang agak sulit ditiru. Tapi ia tetap konstan memberikan contoh tanpa jelas-jelas menggurui. Seharusnya, manajer di Singapura belajar darinya.

Takut. Ia hanya boleh dimiliki ketika tuhan marah.

Research, Bali Conference and Mahabharata


My research area is finite element analysis (FEA) for composite structures. It has been 3 years I’m involved in one branch of computational mechanics. I gain much knowledge, pleasure and nurtured-curiousity at every level. At NUS, I’m assigned to work on micromechanics finite element analysis. One part in a new failure theory for composite (strain invariant failure theory) is needed to be verified using this micromechanics. Boeing invented the theory few years ago, and it has been tested experimentally and computationally by some universities (including NUS) so that it can be applicable to general condition. It’s an ongoing research, I would say. And, no final expression for its generality. From this research, I could submit one conference paper, and later it will be published as international journal in Key Engineering Material. Excellent happening.

The conference was held in Bali, in April 4 – 6, 2005. I took a flight from Singapore to Surabaya, and went to my hometown Bondowoso 4 hours by car. From Bondowoso, I drove my car to Bali by myself. It’s such a wonderful repetition that I could drive to Bali island; however, this time I go alone. Around 250 papers were presented by many scientists from China, Korea, Japan, Indonesia, Singapore, Malaysia, USA and Germany. And within 3 days of conference, the committe brought us to itinerary called Garuda Wisnu Kencana. Huge statue can be seen in this place, and I really enjoyed the dinner. One thing I couldn’t forget is Kecak Fire and Trance Dance as one part of Ramayana epic. Yes, I know Ramayana epic since I was 8, even I have visited some of its heritages like Prambanan, Borobudur, Penataran, and other temples which actually embodied the epic.

Anyway, I never really enjoy traditional dance as I couldn’t understand what are the dancers doing except they are moving around following gamelan’s sounds. But this time, I tried (not so hard) to enjoy and to understand the movement. Before the show, somebody spread out the pamphlet with short introduction in it. It’s about Kecak Dance. Allow me to reproduce it:

Kecak is a unique Balinese dance in which the artists are accompanied by choir of a hundred men rather than the traditional gamelan orchestra. Its origins can be traced to an ancient dance ritual called Sanghyang (or trance dance). During the performance, the dancers enter a trance-like state, which enables them to communicate with deities, or ancestors who express their wishes through the dancers. The Indian epic, Ramayana, is included in the Kecak.

I saw 100 males (aged between 10 – 40 years old) forming a circle around fire. They sounded “cak cak cak …” hundred times and no weary mouths. They formed a music ensemble with the sound. It’s a bit monotonic though. Gamelan was also performing along with cak-cak-cak sounds. I saw one conductor among these 100 fellows, and he seemed so restless. Then, the Ramayana epic began as Kecak dance had been performing 20 minutes. It’s about Prince Rama and Princess Sita (people in Indonesia know Sita as “Shinta”). For those who don’t know the story of Rama and Sita, I will briefly describe herein:

Prince Rama, heir to the throne of Ayodya, was exiled from the kingdom ruled by his father Dasarata following an evil trick being played on the young prince. Accompanied by his wife Sita and his younger brother Laksamana, the trio entered the Dandaka forest. While in the forest, they fell prey to the demon King Rahwana who lusted after the beautiful Sita.

Using magical powers, Rahwana’s prime minister, Marica, set about laying a trap to steal Sita away from her husband. Marica turned himself into a golden deer and soon lured Rama and Laksamana away from Sita. While her husband and brother-in-law distracted by the beautiful deer, Rahwana seized the opportunity to kidnap Sita, taking the distressed princess to his palace, Alengka. When they realized the deception, Rama and Laksamana set up a plan to rescue his beloved Sita from the clutches of the evil demon king.

Helped by a huge army of monkeys led by the Monkey King, Sugriwa, a fierce battle raged between the monkeys and Rahwana’s army led by his son, Meganada, who eventually lost the contest. Sita was happily reunited with her husband, Rama, and brother-in-law, Laksamana. I was stunned and concentrating on the story. I tried to fill up and arrange puzzle which finally I could understand the dance. It was really great feeling how the hatred to a dance can turn into loving and understanding! Above all, it was wonderful experience to complete my understanding on arts.


I am sitting second from the left, with conference committe members and Kecak dancers.