Doktor, Setengah Doktor


Almarhum Prof. Said D. Jenie (mantan ketua BPPT dan guru besar Teknik Penerbangan ITB) pernah menyinggung soal iklan di angkot-angkot kota Bandung. Iklan itu menawarkan gelar master, bahkan doktor. Bagaimana mungkin doktor ditawarkan begitu rupa, dan mendapatkannya pun mungkin tidak lewat susah payah? Pak Said, ketika itu, tidak melanjutkan. Mungkin nampak kecewa saja dengan masyarakat kita yang jor-joran ingin mendapat gelar doktor, tapi tanpa kerja keras.

Setelah Reformasi 1998, gelar doktor adalah komoditi. Ramai orang ingin mendapatkannya, memakainya. Bervariasi pula motivasinya: mulai dari yang murni akademik hingga yang politik. Yang akademik pun ada berbagai jenis. Ada yang supaya bisa dapat jatah mengajar penuh, naik golongan, bisa jadi guru besar dan seterusnya. Ada yang benar-benar ingin mengetahui suatu tema, menguji daya pikir dan ketahanannya. Ada yang ingin mengalahkan senior-seniornya, atau membuat kagum junior-juniornya. Macam rupa motivasinya. Yang politik tentu punya alasan yang lebih naif: betapa menterengnya jika sebuah baliho memajang fotonya yang cakep dengan rentetan gelar seperti mercon Cina. Tapi itu semua tak soal karena manusia memang dibentuk oleh motif yang berbeda-beda pula, yang mungkin tidak saling menabrak. Umumnya, ujung-ujungnya nampaknya satu, yaitu citra.

Orang yang mempunyai gelar doktor biasanya mempunyai citra yang berbeda. Citranya tentu baik dan menguntungkan (favorable). Kesadaran mengenai citra ini biasanya terus melekat, sehingga seseorang mungkin minta diistimewakan, meminta ruang bicara yang lebih luas, membuat haus popularitas (diundang sana-sini). Ini yang kemudian disebut “setengah doktor”. Setelah berhasil mempertahankan disertasinya, seorang doktor kembali ke negaranya, untuk kemudian bekerja seperti biasa. Ia kemudian melakukan rutinitas, sambil terus menanankam kesadaran bahwa dirinya adalah seorang doktor. Kadang media massa terus menyebut gelarnya untuk terus menaikkan citra.

Di lain pihak, yang ‘doktor’ atau sepenuhnya doktor adalah mereka yang setelah meraih gelar doktor berpikir soal kontribusi. Kontribusinya bisa berupa akademik, atau sosial. Aftermath setelah meraih gelar doktor dirasa semakin berat karena ia harus dapat membuktikan kepada kalangan akademik, atau masyarakat, bahwa ilmu-ilmu serta metodologi yang didapatkannya berguna untuk menggali pengetahuan dan menyiarkannya kepada khalayak. Tanggungjawabnya adalah membuat segala sesuatu (khusus bidangnya sendiri) yang obscure (atau kurang jelas) menjadi jelas, dapat dipahami, dapat dimaknai, dapat diproduksi, dapat dikembangkan, bermanfaat serta mempermudah hidup manusia. Seperti halnya Karl Marx (seorang doktor juga) yang menerbitkan magnus opus semacam Das Kapital, ‘doktor penuh’ membicarakan soal manusia, baik dalam hal psikis, fisik dan hubungan sosial. Doktor penuh terus menerbitkan karya-karya, baik yang berhubungan dengan bidangnya atau pun yang meluas hingga sesuatu yang digemarinya. “Karya” dapat berupa hak paten, produk perangkat keras, hak cipta, perangkat lunak, buku, makalah ilmiah, monograf, kebijakan dan lainnya. Bahkan sebuah perdebatan mengenai topik yang spesifik yang dimulainya dapat dianggap sebuah embrio karya asalkan dibahas dalam kerangka ilmiah dan tidak anarkis.

“Setengah doktor” ini banyak sekali kita temui hari ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi mendorong masyarakat Indonesia ingin berkelana dengan tujuan “to see the rest of the world“. Salah satu jalannya adalah kuliah di luar negeri, bahkan hingga doktor. Ke Amerika, Australia, Jepang, Belanda, Inggris, Jerman, Norwegia, India, Thailand, Singapura, Afrika Selatan, Italia, Rusia atau negeri manapun. Hubungan luar negeri yang baik antara Indonesia dengan negara-negara itu, kemudian kemampuan finansial negara membiayai anak negerinya, membuat kesempatan kuliah hingga doktor sangat terbuka luas. Tetapi persoalannya, apakah ini akan menciptakan individu-individu yang full doktor atau setengah doktor? Jangan-jangan kita semua tengah “memproduksi” yang kedua. Hal ini belum dapat kita ketahui sekarang. Mungkin baru 10-30 tahun lagi kita baru merasakan mana yang sebenarnya kita ciptakan.

Satu contoh full doktor adalah Poerbatjaraka. Sebenarnya ada dua orang Indonesia awal yang meraih gelar doktor. Yang pertama adalah Hussein Djajadiningrat, yang kedua adalah Poerbatjaraka. Keduanya mendapat gelar doktor dari Universitas Leiden, Belanda. Hussein Djajadiningrat mendapat gelar doktor bidang sastra pada 1910 dengan disertasi berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten (Tinjauan Kritis Soal Sejarah Banten) di bawah bimbingan Snouck Hurgronje, seorang ahli sosiologi Islam di Asia Tenggara. Poerbatjaraka, dengan nama asli Leisja, mendapat gelar doktor bidang sastra Jawa pada 1926 dengan disertasi berjudul Agastya in den Archipel (Agastya di Nusantara).

Poerbatjaraka (1884-1964) pernah menyebut dirinya sebagai “bocah kampung Solo yang bergajul (ugal-ugalan)”. Padahal, ia adalah anak laki-laki dari Raden Tumenggung Purbadipura, abdi dalem kesayangan Paku Buwono X. Ia kemudian belajar bahasa Melayu dan Belanda. Ia pernah masuk H.I.S. (setara SD, program 7 tahun) namun dikeluarkan. Alasannya tidak jelas, namun ia merasa bahwa guru-gurunya melihat kalau kemampuan akademiknya “membahayakan” Belanda.

Ia kemudian melanjutkan bahasa Belanda sendiri dengan ngobrol bersama para serdadu Belanda. Para serdadu menyukainya karena perangainya yang terbuka. Ia juga lama-lama fasih berbahasa Belanda. Di lain pihak, Poerbatjaraka yang ketika itu masih bernama Leisja menggemari buku-buku ayahnya yang ada empat lemari. Ia mempelajari sastra Jawa kuno sendiri. Jika ada cerita-cerita yang tidak dipahaminya, ia kemudian bertanya kepada ibunya. Hal ini mendorongnya untuk mengikuti diskusi sastra di Solo. Sayangnya, kritik terbukanya membuat sekelompok sastrawan berang. Ia kemudian disingkirkan dari lingkaran sastra itu, dianggap sombong karena masih muda sudah berani mengkritik. Ia kemudian menulis surat kepada residen Solo, untuk dapat belajar di Belanda.

Ia dikirim ke Batavia dan bekerja di museum. Di museum ia bertemu dengan Dr. Kern, seorang ahli sejarah dan sastra Jawa terkemuka dari Belanda. Selama bekerja di museum itu, Leisja mendapat kesempatan untuk memperdalam kemampuan sejarah dan keahliannya membaca teks Jawa kuno. Ia juga rajin menulis di jurnal-jurnal ilmiah Belanda.

Kern mengirimnya ke Leiden untuk langsung belajar di program doktor. Leiden juga memberinya kesempatan mengajar Jawa Kuno. Padahal, Leisja sama sekali tak punya ijazah formal, bahkan ijazah Sekolah Rakjat sekalipun.

Awalnya, Leiden ingin langsung memberinya doctor honoris causa. Namun, Leiden kemudian mengubah keputusannya, dan memintanya melakukan riset beberapa tahun di Belanda.

Dalam empat tahun, Leisja berhasil meraih gelar doktor dan kembali ke Indonesia. Di Indonesia, tidak ada tempat baginya karena ia dianggap terlalu kritis. Tapi kemudian ia berhasil mendapat posisi di Museum Negara. Di museum ini, ia mengkatalogkan teks-teks Jawa kuno (dalam bidang sejarah, kesempatan membuat katalog ini nampaknya akan membuat seseorang menguasai peta akademik topik tertentu). Ia juga semakin rajin menulis di jurnal-jurnal.

Setelah beberapa waktu, Poerbatjaraka akhirnya mendapat posisi mengajar di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Udayana.

Selama bertahun-tahun, hingga akhir hayatnya, karya-karyanya mengenai interpretasi teks-teks kuno Jawa terus mengalir di jurnal-jurnal Indonesia dan Belanda. Kontribusinya sangat besar bagi, misalnya, BKI yang diterbitkan KITLV. Karyanya banyak dipuji sejarawan meskipun awal-awalnya disebut sebagai amatiran karena mencampuradukkan mitos dan temuan/interpretasi ilmiah. Terlepas dari kecerdasannya yang luar biasa (disebut Prof. TH Pigeaud – penerjemah Kakawin Negarakrtagama – sebagai the gifted man), keunggulan Poerbatjaraka adalah vitalitas dan konsistensinya dalam meneliti teks-teks Jawa Kuno. Ia menampilkan sosok yang single-minded dan sangat fokus. Motivasinya adalah memperdalam pemahaman orang Indonesia sendiri mengenai peninggalan-peninggalan sejarah Indonesia. Kata-katanya yang kritis mengenai orang Belanda, namun kurang termasyhur, adalah: “Orang Belanda saja kok mau meneliti sejarah Indonesia … ” Ini bukan merepresentasikan kebencian, bahkan kepada pembimbingnya sendiri, melainkan suatu kesadaran yang ia tanamkan dalam dirinya sendiri bahwa seyogyanya orang Indonesia sendirilah yang mesti meneliti sejarah Indonesia. Asalkan dalam kerangka ilmiah dan tekun, maka berbagai teka-teki sejarah dapat dipecahkan.

Hal inilah yang kini nampak hilang dari kesadaran para calon doktor yang akan ke luar negeri. Inti dari mengambil program doktor adalah mempelajari sesuatu yang spesifik untuk dapat menjawab persoalan-persoalan kontemporer (sosial, teknik, dan lainnya), untuk kemudian dapat membuat kontribusi seumur hidupnya. Prerequisite-nya kadang tidak mudah. Misalnya, Poerbatjaraka sendiri harus menguasai Jawa kuno, bahasa Melayu, Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis untuk dapat membedah sosok Agastya. Belum lagi, beliau harus mengasah kemampuan menulisnya yang baik supaya dapat mengkomunikasikan dengan teman sejawat atau bahkan lawan ilmiahnya. Belum lagi, beliau harus mengasah kemampuan seleksi, interpretasi sejarah, pembuktian, logika dan nalar untuk dapat meyakinkan dirinya (sebelum meyakinkan orang lain) mengenai suatu kronik.

Mudah-mudahan Indonesia terus maju, dan memproduksi full doktor.

Menulis dan sedikit tips


Prelude

Menulis pada dasarnya mengabadikan informasi. Informasi ini ada yang berupa berita alias hard news, ada juga yang berupa opini dan fitur (feature). Ketiganya campur-aduk di dunia nyata dan maya. Jumlahnya juga begitu masif, sehingga sulit bagi kita mengingat atau mencernanya; jangan lagi memverifikasi kebenarannya. Tetapi, hidup kita (sayangnya atau untungnya?) sebagian dikendalikan oleh informasi berupa tulisan. Berita, opini, fitur menjadi hegemoni (kekuatan dominan). Yang paling dominan tentunya adalah pemilik kantor berita. Ia dapat mengendalikan opini, pikiran, bahkan emosi pemirsanya.

Saya sendiri sering membaca koran online. Yang dibaca tentunya berita. Kadang-kadang membaca opini atau kolom juga. Tapi sekarang agak mengurangi. Berita-berita, meskipun nyata, seringkali membuat mood jadi murung. Sebabnya sederhana: bad news is a good news. Yang sial dan kontroversial; yang heboh dan tidak senonoh; yang lemah dan berdarah-darah; semua itu menyerap pemirsa. Bisikannya: jangan sampai dilewatkan berita macam ini! Padahal, berita boleh jadi diplintir karena koran juga punya kepentingan: oplaag!

It boils down to money and fame.

Oleh sebab itu, saya lebih suka dokumenter, dan wawancara langsung (live). Keduanya berbeda; tetapi disajikan dengan persiapan yang matang. Dokumenter seringkali mengupas latar belakang sesuatu sehingga meningkatkan pemahaman. Wawancara: kita mampu merekam dan menilai apa yang diomongkan seseorang; bukan apa yang wartawan tulis tentang omongan itu.

Tips menulis

Ketika beres-beres meja hari ini, saya menemukan catatan lama tentang bagaimana menulis berita. Catatan itu saya buat setelah mengikuti workshop penulisan berita dan opini di Tokyo. Ada dua pembicara. Pertama, Richard Susilo, seorang wartawan yang berbasis di Tokyo. Dia punya kursus bahasa Jepang bernama Pandan College. Yang kedua, Agus Fanar Syukri, peneliti LIPI dan penulis lepas untuk koran-koran di tanah air. Apa yang disampaikan mereka cukup bermanfaat, khususnya mengenai bagaimana menulis berita dan opini di koran.

Menulis berita

  • Berita punya ciri ini: hal-hal penting ditaruh di depan (paragraf awal), bagian kurang penting ditaruh di belakang.
  • Berita harus punya judul yang menarik
  • Berita punya elemen berikut: 5W + 1H (what, who, when, where, why, how) atau menurut Richard, disebutnya ASDAMBA (apa, siapa, di mana, mengapa, bagaimana – sayangnya “kapan” kok tidak ada?)
  • Meskipun rinci, berita harus ditulis dengan bahasa yang dapat dipahami anak SD
  • Kalimat berita harus pendek-pendek, berisi elemen subjek + predikat + objek (SPO) atau SPOK (ditambah keterangan)
  • Paragraf pertama dari berita harus menarik, dan membuat pembaca ingin tahu kelanjutannya
  • Ketika menulis berita, kita harus punya kode etik: jangan menjiplak, tulis kenyataannya, referensi harus jelas

Menulis opini

  • Opini adalah tulisan yang berisi pandangan dan wawasan pribadi mengenai suatu masalah yang aktual dan berkenaan dengan kepentingan publik; opini bukan berita atau saduran
  • Menulis opini berarti melapangkan jalan sebagai intelektual publik
  • Elemen opini: masalah – ide – data – kesimpulan
    • Masalah: apa yang tengah dipermasalahkan publik saat ini? Cari masalah/tema yang sesuai keahlian, yang aktual dan sesuai momentum; cari yang luar biasa atau aneh
    • Ide: apa ide anda dalam menyelesaikan masalah itu?
    • Data: data apa yang anda gunakan untuk mendukung ide tersebut? Data harus akurat; sertakan grafik bila perlu; gunakan pendapat para ahli untuk mendukung opini anda
    • Kesimpulan: sebelum menyimpulkan, analisis data-data di atas menurut pandangan pribadi; kemudian simpulkan dengan bahasa yang sederhana
  • Elemen ini mesti tetap ada: 5W + 1H
  • Bahasa harus populer, paling tidak dapat dipahami oleh murid SMP. Meskipun demikian, bahasa yang digunakan harus punya nilai tambah bagi pembacanya: punya karakter atau ciri khas, kaya akan kosakata, sesuai dengan kompetensi
  • Bagaimana meningkatkan kosakata dalam menulis? Banyak-banyaklah membaca buku yang non-fiksi, juga kolom opini; catat kosakata baru yang ditemukan, pahami artinya
  • Paragraf pertama harus menarik; cari tokoh atau sosok untuk menggambarkan kejadian
  • Kalimat harus koheren: kalimat pertama berhubungan dengan kalimat selanjutnya; paragraf pertama berhubungan dengan paragraf selanjutnya
  • Usahakan satu paragraf berisi satu ide saja

Tapi satu hal yang paling penting dari semuanya adalah berlatih menulis. Kemungkinan ini akan memenuhi kaidah 10 jam sesuai dengan usulan Malcolm Gladwell. Belajar menulis selama 10 jam per hari selama 10 tahun tanpa henti, mungkin akan membawa anda memenangkan Pulitzer! Who knows?

Another tips:

10 Cs to become a good writer: commitment, consistent, capability, character, competence, contextual, credibility, cool (ini gak tahu apa maksudnya!), conversation, community.

Cover


Masuk tanggal 28 Februari, hari terakhir bulan ini. Payday … no more mayday! Yay!

Selain itu, wajah thesis akhirnya berubah drastis dari Word ke LaTex setelah satu bulan penuh memprogram. “Everyone should learn how to program,” kata mendiang Steve Jobs. Untuk apa? Katanya untuk memperkuat logika. Kalau logika sudah kuat, terus kenapa? Segala tindakan lebih masuk akal, wajar, tidak emosional. Katanya sih. Tapi selalu ada hal yang subtil. Misalnya, agar semuanya terduga. Karena dalam hati kecilnya, setiap manusia membenci ketidakterdugaan. Orang benci dikageti!

Read More

Sidang 2


Ini lanjutan cerita Sidang pada 26 Desember 2012 lalu. Ceritanya, hari ini adalah PhD defense (sidang) kedua dan terakhir. Sidang ini sidang terbuka – di sini disebutnya public hearing. Semua orang boleh nonton dan mengajukan pertanyaan.

Sidang dilakukan pada 23 Januari (sesuai kesepakatan yang dibuat pada 26 Desember) pukul 17:00. Ruangannya di 2-401. Cukup besar juga, dapat menampung lebih dari 50 orang. Tapi yang datang tidak banyak, hanya 20-25 orang. Minuman yang disediakan di meja belakang hanya sebagian yang diambil, jadi tidak lebih dari 30 orang yang datang.

Setelah membagikan fotokopi slide kepada para dosen, pembimbing membuka sidang. 1 menit saja. Selanjutnya, saya presentasi selama 46 menit. Hampir tepat waktu, karena dijadwalkan hanya boleh ngomong selama 45 menit. Bisa dibayangkan betapa banyak slide yang akhirnya harus disembunyikan, atau dibuang ke bagian ‘backup’.

Setelah selesai presentasi, sesi tanya-jawab dimulai. Pertanyaan diajukan oleh para examiner secara bergiliran (total empat penguji) dan ada satu peserta (kebetulan teman sendiri yang jadi dosen di lab) yang bertanya. Rasanya pertanyaan dapat dijawab dengan baik, meski kadang mesti agak lama mengingat-ngingat angka. Karena ada juga yang sangat detil bertanyanya. Misal, itu jenis carbon fiber apa? Berapa jumlah fiber di setiap bundle? Gila, ini ngetes apa tanya beneran. Tapi setelah mengingat-ingat, akhirnya jawabannya keluar juga: T300, jumlah fiber 3000 fiber. Pada dasarnya, sidang ke-2 ini ditujukan untuk memeriksa apakah kita bisa menjawab saran atau pertanyaan yang dulunya tidak terjawab di sidang pertama. Semua tugas/pertanyaan pada sidang pertama harus terpenuhi, itu resepnya.

Sidang diakhiri pada 18:30, meskipun masih ada yang ingin bertanya lagi. Tapi pembimbing saya udah keburu aja pengen udahan. Setelah istirahat 5 menit, mereka akan meeting lagi selama 20-30 menit untuk membicarakan bagaimana hasil sidang pertama dan kedua. Jika dirasakan OK, maka mudah-mudahan dapat diluluskan. Setelah kelulusan itu, bakal ada voting lagi. Enam puluh profesor akan hadir pada 21 Februari dan mendengarkan hasil penilaian para pembimbing hari ini. Setelah mereka mendengar hasil penilaian, mereka menuliskan sesuatu (LULUS atau TIDAK LULUS) di secarik kertas dan keputusan pemberian gelar PhD didasarkan hasil voting. Begitu kira-kira mekanismenya.

Yah, tidak ada yang tahu saya lulus atau tidak. Tapi bersyukur sekali hari ini dapat dilewati dengan lancar. Berkat doa banyak orang lagi kayaknya 🙂

Sidang2

Sidang 1


Sidang PhD diadakan di kampus pada 26 Desember, pukul 10:00. Ruangannya Seminar Room 1-1. Ruangan kelas yang cukup untuk menampung 24 orang. Ruangan ini dilengkapi white board dan multimedia. Pukul 9:45 saya mengambil kunci di Satpam, lalu bergegas ke Ruang 1-1. Di dekatnya, ada lobi kecil dengan sofa biru dan alat penguji tekanan darah (karena dekat ruang klinik kampus). Ada dua penguji yang sudah menunggu. Sebut saja HS dan SK. HS terkenal cukup tajam jika bertanya. Selain tajam, juga banyak sekali pertanyaannya. SK kelihatan kalem; lebih tepatnya dingin.

Setelah menyalakan laptop dan menyambungkannya ke proyektor infokus, saya memeriksa apakah slide dapat dibuka dengan baik dan nampak jelas. Slide nampaknya lancar terbuka, meski sebelumnya agak berat dibukanya. Maklum laptop sudah berusia 3 tahun lebih (hard disk udah 80% terisi; memori nampak kecil dibandingkan standard sekarang) dan ukuran file PPT lebih dari 300 MB (penuh gambar X-ray resolusi tinggi). Pointer dengan infra-merah sudah di tangan.

Tak berapa lama, penguji lain datang. Inisialnya KK. Rambutnya (seperti biasa) nampak basah. Wajah dan posturnya yang agak besar nampak segar. Tepat pukul 10:00, advisor saya NW masuk ruangan sambil membawa satu binder besar berisi thesis dan beberapa dokumen. Kedatangannya bersamaan dengan penguji terakhir yang namanya tidak masuk list. Penguji terakhir ini diputuskan secara mendadak di rapat fakultas. Katanya, penguji PhD harus tiga orang yang berasal dari departemen yang sama; bukan dua orang seperti sebelumnya. Entah apa alasan penambahan jumlah penguji dari departemen yang sama ini. Tapi, tidak ada pilihan lain, seseorang harus mau menjadi penguji. Penguji terakhir ini yang berinisial MA dipilih karena project leader di riset kami. Bidangnya bukan aerospace structures & materials, tapi fluid dynamics. Agak tidak nyambung, tapi dia tetap hadir dan menjadi penguji. Jadi, penguji dari dalam departemen adalah MA dan KK, sedangkan penguji dari luar adalah HS dan SK. Cukup menegangkan juga karena biasanya teman lain ada yang menghadapi ‘hanya’ dua penguji; itu pun satu universitas.

Kode busana untuk mahasiswa yang menjalani sidang PhD tidak se-elegan di TU Delft, Belanda, yang memakai tuksedo. Di sini, cukup jas, dasi dan kemeja. Alasan pertama karena musim dingin. Dulu, ketika seseorang melakukan sidang PhD pada musim panas, ia hanya memakai kemeja lengan panjang dan dasi saja. Dalam sidang ini, seperti biasa NW memakai jas dan kemeja kotak-kotak favoritnya; MA memakai jas dan sweater hitam; HS memakai jas juga; KK memakai sweater hitam, sandal dan kaus kaki; SK memakai jas dan dasi. SK nampak formal dan tetap dingin.

Seminggu sebelumnya, saya mempersiapkan slide. Awalnya berjumlah 100an halaman. Kemudian membengkak jadi 120an. Total waktu yang disediakan untuk presentasi adalah kurang dari 60 menit. 60 menit selanjutnya digunakan untuk tanya jawab. Beberapa hari menjelang sidang saya latihan dua kali. Satu kali latihan sendiri di lab, dengan catatan waktu 53 menit. Latihan kedua di rumah, dengan catatan waktu 58 menit. Itu pun sudah ngomong ngebut. Bahkan, bahasa Inggris dan Jawa bisa becampur aduk.

Tepat pukul 10:00 pembimbing saya membuka defense meeting (pertemuan untuk mempertahankan disertasi). Pertemuan itu dibuka dengan menyebutkan siapa yang akan diuji dan judul thesis. Dia sekali membaca dokumen proposal. Singkat sekali pembukaannya. Kurang dari dua menit. Ini memang khas pembimbing saya yang tanpa basa basi namun berwajah smiley. Ketika dia memberikan pembukaan itu saya sibuk berdoa supaya mendapat kemudahan dalam menjalani sidang. Sebenarnya tidak gugup atau deg-degan, tapi agar pertanyaan-pertanyaan yang muncul tidak bersifat menjatuhkan atau mengandung major revision. Setelah itu saya langsung tancap gas presentasi. Pertama saya ucapkan terima kasih kepada para penguji karena telah hadir pagi itu. Selanjutnya saya langsung menerangkan intisari dari disertasi. Ada tujuh bab. Setiap bab mungkin berisi antara 7-15 slides. Bab 2 paling banyak slide-nya. Setelah saya presentasi, saya lihat jam, wah sudah ngomong 75 menit! Tidak terasa. Pantes kok agak munthuk. Dan lupa pula membawa minum! Kering kerontang!

Setelah itu, penguji dipersilakan memberi pertanyaan. Sepertinya, urutan pemberi pertanyaan didasarkan pada umur dan pengalaman dalam bidang tersebut. Oleh sebab itu, HS diberi kesempatan pertama. Seperti dikatakan sebelumnya, HS cukup terkenal di Jepang untuk bidang saya, pernah menjadi ketua society-nya dan kalau bertanya tajam dan banyak. Pagi itu, dia (surprisingly) kalem sekali bertanyanya. Wah kaget juga saya. Betapa kalemnya orang ini, tidak seperti biasanya kalau berbicara one-on-one. Mungkin juga karena ada penguji terakhir, yang notabene adalah dekan di kampus. Agak sungkan, ceritanya. Atau doa saya terkabul? Dia memberi pertanyaan-pertanyaan pendek. Saya jawab dengan pendek juga: clear and crisp (begitu pengalaman kerja di Hitachi dulu). Pertanyaannya bersifat verifikasi, bukan menguji. Setelah 15-20 menit kita tanya jawab, selanjutnya kesempatan diberikan kepada SK. Oiya, ketika saya tahu bahwa pengujinya adalah HS dan SK, saya buru-buru men-download semua paper yang mereka pernah terbitkan (tentunya mereka sebagai penulis pertama, karena pasti mereka sendiri yang menulis, bukan orang lain). Jadi saya sedikit banyak memahami latar belakang dan pengetahuan mereka tentang bidang saya. “Know your enemy’s background” – ini seperti cerita Benjamin Disraelli ketika perang di Afrika. Saya sudah baca beberapa paper SK. Awalnya, SK memberikan rekognisi bahwa pekerjaan PhD ini cukup banyak, namun pada akhirnya harus disimpulkan sebagai satu kesatuan, apa yang pembaca dapat pelajari dari disertasi itu. Singkat saja. Tuliskan satu rekomendasi. Selanjutnya dia diam. Kemudian kesempatan bertanya diberikan kepada KK. KK mengatakan pertanyaannya senada, bahwa harus ada satu usulan bagaimana supaya ini begini, ini begitu. Singkat saja. Kemudian, MA diberi kesempatan bertanya. Karena awam dengan bidang, maka pertanyaanya bersifat umum namun kritikal. Jadi jawabannya juga umum, agak panjang agar dapat men-dispute kritik tersebut. Kemudian, pertanyaan diberikan lagi kepada HS. HS memberikan pertanyaan pendek-pendek, banyak sekali. Sifatnya verifikasi dan finding out the truth; bukan menguji. Setelah melihat jam, ternyata waktu sudah menunjukkan 12:30. Sidang harus diakhiri. Setelahnya, para dosen merencanakan pertemuan kedua. Presentasi kedua yang akan dilakukan akhir Januari. Tepatnya 23 Januari pukul 17:00. Ini sidang terbuka, jadi siapa saja boleh datang dan bertanya. Semacam public hearing. Katanya, yang paling menentukan adalah sidang tertutup hari ini; bukan yang terbuka. Alhamdulillah sidang terlewati dengan lancar berkat doa banyak orang.

***

Beberapa hal yang saya dapatkan hari itu dan beberapa tahun terakhir: good questions lead to good finding (if answered); be frank about everything; even the toughest has a moment of fatigue (to question things); kindness leads to kindness; maintaining harmony above your ego is a key to success in Japan (or, the world at large).

Dalam hidup kita tidak boleh judgemental, gampang sekali menilai. Misal, anak ini pintar, anak ini rajin. “Pintar” dan “rajin” di Indonesia menjadi dikotomi paradigma yang berbahaya. Anak yang pintar cenderung dipuji. Pintar ini berarti bahwa dia cerdas, cepat memahami sesuatu, cepat menyelesaikan sesuatu. Belum tentu rajin, dan tidak perlu rajin. Rajin di Indonesia berarti kurang cerdas, tetapi meluangkan banyak waktu untuk belajar dan akhirnya menguasai sesuatu.

Nobody knows exactly one’s intelligence level; no use of measuring it; leading to a conclusion that IQ test, rank in class, and GPA should be banished; but, this unfortunately the world we only imagine – Lennon’s dream. 

Di Jepang kedua kata ini (rajin dan pintar) memang ada, tapi jarang dipakai. Di Jepang, orang dinilai dari karya dan hasil terlepas itu dihasilkan oleh orang pintar atau rajin. Misal: ketika seseorang tidak dapat masuk universitas favorit, ia tidak dikatakan tidak cukup pintar/rajin, tapi karena nilainya memang tidak cukup untuk masuk universitas favorit; bukan masalah pintar atau rajin.

Di Jepang (atau dimanapun di dunia), tidak ada orang yang tidak bisa dilatih. Semua bisa dilatih hingga ahli. Oleh sebab itu, Jepang relatif lebih maju dibanding negara Asia lainnya. Semua orang diasah potensinya. Mungkin karena negara ini sudah belajar bagaimana orang yang dikategorikan dan dipuji-puji “pintar” itu ternyata useless karena mereka tidak konsisten melakukan sesuatu, tidak menghasilkan apa-apa kecuali pujian sesaat. Beberapa tahun terakhir ini, saya menyadari bahwa yang mampu mengubah dunia adalah pembaharu dan hasil karyanya. Karya itu memang dihasilkan dari kecerdasan, tetapi lebih banyak karena kerja keras. Lain dulu lain sekarang. Setiap orang memiliki tipping point, meminjam istilah Malcolm Gladwell. Setiap orang mempunyai titik balik, kapan dia menyadari dia melakukan kesalahan dan berubah menjadi lebih baik. Jika kita mempunyai passion terhadap sesuatu, tekunilah, jalanilah dengan sepenuh hati. Cari hal yang niche, yang tidak dilakukan banyak orang. Di sana kita dapat berkontribusi karena terpacu untuk memikirkan hal-hal yang orisinil; bukan daur ulang. Kita jangan merasa inferior, anggap semua sama. Kita juga jangan merasa superior, karena di atas langit masih ada langit (bahkan kitab suci-pun melukiskan strukturalisme dari langit). Merasa biasa-biasa saja, lakukan apa yang ditekuni dengan sepenuh hati. Hasil akan mengikuti. Lupakan masa lalu. Itu bukan cerminan masa depan. Yang menentukan masa depan adalah keputusan untuk menjalani sesuatu. Di situ kita belajar menerima efek dan konsekuensinya. Di situ kita belajar mengenai kehidupan dan persona-personanya.

Everyone can get Ph.D. What you need to do is to find your own subject, and work on it with all your heart.

Vitae


Bagian yang biasanya ada di halaman belakang disertasi adalah vitae atau riwayat hidup. Biasanya tidak sampai satu halaman. Setengah atau seperempat halaman saja. Bingung juga mau nulis apa. Kalau nulis riwayat sekolah dan kerja itu sudah biasa. Tapi masa mau nulis riwayat pendakian di gunung-gunung di sekitar Jember hehe. Setelah mencari-cari ide, nemu satu disertasi orang Indonesia dengan vitae yang masyaallah canggihnya.

Ini dia vitae beliau:

The author was born in Amsterdam, The Netherlands, on June 6, 1964. He received his elementary and secondary education in Leiden, Paris and New Delhi. Subsequently he completed his Bachelor of Arts in Graphic Design at Rotterdam School of Arts (1983), Diploma of Engineering at Delft University (1985) and Master of Science in Civil Engineering through a sandwich program between Bandung Institute of Technology and University of Munich (1986). He worked briefly for CASA (Spain) – Indonesian Aircraft Company joint-project before entering the graduate program in Aerospace Engineering Department at Virginia Tech. After graduation, he plans to continue his arts study at Yale University.

Hint: dulu saya pernah diajar oleh beliau ketika kuliah S1. Saat ini saya baru menyadari arti kata prodigy dan makhluk demikian itu memang ada. Bayangkan, menuliskan persamaan selama satu semester kuliah Matematika Teknik tanpa pernah membuka buku sama sekali.

Kayaknya susah dicontek vitae di atas itu hehe.

Penguji


Di Jepang, atau lebih tepatnya di kampus saya, prosedur menjelang kelulusan PhD adalah sebagai berikut:

  • Mendapatkan persetujuan dosen pembimbing untuk menulis disertasi (di sini disebutnya dokuta rombun – doctor’s thesis)
  • Memasukkan semua draft bab disertasi kepada pembimbing untuk diperiksa
  • Mengisi formulir pengajuan disertasi yang berisi ringkasan 500-1000 kata dengan perincian bab serta hasil-hasil utama, daftar publikasi selama riset, riwayat hidup dan pekerjaan, nama-nama penguji
  • Memasukkan formulir ke tata usaha, dibarengi tiga kopi draft disertasi
  • Menemui para penguji (yang boleh jadi beda universitas atau bahkan beda kota)
  • Mempersiapkan sidang

Yang cukup menarik adalah bertemu para penguji. Kita bisa melihat respon mereka dan bagaimana mereka melihat hasil karya kita. Yang selalu saya ingat ketika menyerahkan disertasi adalah pesan keempat David Foster dalam “10 tips for songwriter” di Youtube. Konteksnya mungkin beda, tetapi persamaannya adalah kita memproduksi suatu karya. Apa saja.

Don’t be too precious about your craft. We’re making music for the heart, but we’re not curing heart disease. There’s only 26 letters and 12 notes. And, Shakespeare and Beethoven said it better than any of us ever will.

Saya kurang tahu apa pesan yang ingin disampaikan David Foster. Tapi kira-kira begini kalau untuk konteks riset: jangan terlalu bangga dengan hasil riset kita; jangan terlalu ambisius untuk menghasilkan penemuan hebat; yang penting kita bikin berkontribusi untuk ilmu pengetahuan; ikhlas saja; mungkin tidak semua orang beruntung mendapatkan problem yang mahapenting dan akhirnya berhasil mencari solusinya (kemudian mendapatkan worldwide recognition atau Nobel Prize).

Kalau maknanya kurang pas, ya mohon dimaklumi.

Kembali ke penguji. Jadi intinya, setiap kali menemu penguji, saya berusaha ikhlas dan apa adanya. Sudah berusaha maksimal.

Di Jepang, janjian dengan orang harus tepat waktu. Janji jam 10:30. Artinya kita mengetuk pintu jam 10:30. Tapi mungkin ada yang tidak strict, cuma kebanyakan sih tepat waktu. Jadi predictable. Mungkin gara-gara dikondisikan sistem kereta dan bus kota.

Setiap kali mengetuk pintu dosen penguji, saya selalu tepat waktu. Ada tiga penguji. Penguji pertama, dia satu departemen. Jadi lokasinya masih dekat lab. Saya ketuk pintunya, dia menyahut “Haik!” dari dalam. Saya kemudian membuka pintu, dan penguji pertama tersenyum. Dia memang sumeh. Bahasa Inggrisnya agak kurang lancar; mungkin karena tidak terbiasa ngobrol dalam bahasa Inggris. Kemudian dia bilang: saya akan periksa thesis ini dengan hati-hati. Setelah membicarakan rencana ujian lisan, saya pun pamit. Paling hanya lima menit saya ada di ruangannya. Yang unik juga, meja kerja penguji satu ini tersembunyi di balik lemari. Ngumpet. Persis seperti pembimbing saya.

Penguji dua lokasinya di kampus lain, meskipun universitasnya sama. Departemennya lain. Saya janjian pagi hari. Setelah mengetuk pintu, dia juga menyahut “Haik!”. Saya membuka pintu, dia tersenyum menyambut saya. Meja kerjanya pun tersembunyi di balik lemari. Dia kemudian mempersilakan saya duduk. Dia cepat-cepat memeriksa thesis saya. Membuka halaman pertama, memeriksa satu per satu judul babnya. Memeriksa topik-topik per bab. Kemudian ke halaman belakang. Dia mencari daftar publikasi. Kemudian dia menghitung, sudah berapa paper internasional yang saya terbitkan. Setelah dia menghitung, dan mengatakan “Oh sudah tiga paper.” kemudian dia menanyakan kapan mau sidang. Saya bilang akhir Desember dan akhir Januari. Jadi dua kali sidang. Dia kemudian bilang, nanti kita akan rapat bersama pembimbingmu untuk menentukan jadwal. Kemudian, saya mengatakan bahwa penguji saya bernama X. Dia bilang, wah itu penguji tiga kamu ya? Dia orangnya strict. Kalau nanya severe banget. Saya bilang ya gimana lagi, dipilihin pembimbing saya.

Penguji ketiga, yang dibilang strict, adalah orang terakhir yang saya temui. Kantornya di universitas lain. Sebenarnya hanya 30-40 menit naik kereta ke Tokyo pusat. Kampus universitas swasta. Dia dulunya pernah menjadi ketua society untuk bidang saya. Jadi sudah pasti expert sekali dan severe! Dia yang minta draft thesis dikirim lewat email dulu sebelum menyerahkan aslinya. Ketika saya sampai disana, dengan ramah dia menyambut. Seperti biasa, orangnya memang ramah. Murah senyum. Dia sudah memeriksa satu bab. Itu sudah penuh coretan. Dia hanya bilang, saya hanya menandai bagian-bagian yang saya merasa tidak comfortable. Weks! Banyak sekali yang dia tidak comfortable. Bagian yang dia tidak nyaman biasanya yang berupa proposisi atau usulan. Dia menyanggah, mempertanyakan, meyakinkan, benar atau tidak. Saya bilang saya yakin 100%. Ya gimana lagi, kalau tidak yakin ya jangan ditulis. Oiya, dosen penguji ini mejanya tidak tertutup lemari. Kita bisa lihat meja kerjanya, meski tidak menghadap pintu. Menyamping. Kita bisa lihat juga di monitor PC nya dia sedang membuka apa. Dia hanya membuka email. Tipe dosen terbuka, sepertinya. Setelah diskusi sekitar 25 menit, saya pun pamitan. Pulang naik kereta. Dan pada saat naik kereta itu, katanya ada gempa besar. Tidak kerasa. Dan kereta tidak dihentikan.

Saya selalu mengatakan pada diri sendiri, jika penguji itu galak, dalam arti memeriksa dengan rinci apa yang kita tulis, itu memang tugas mereka. Tugas mereka adalah memastikan apa yang kita tulis dapat dimengerti dengan baik dan memberikan kontribusi kepada bidang yang diteliti. Mudah-mudahan tidak ada yang menjatuhkan ketika sidang. I hope God will really take care the rest, after I did my best.