G30S


G30S atau Gerakan 30 September (zonder kata “PKI”) menandai era baru. Era ini mungkin punya karakteristik berikut: rencana-yang-berantakan, sikap oportunis, gerakan militer, hegemoni, egoisme, dan ideologi. Ujungnya kita semua tahu: 6 jenderal + 1 perwira tewas mengenaskan, kemudian disusul oleh matinya ratusan ribu orang yang dikategorikan “kiri” alias PKI.

Seringkali kita lupa: bahwa yang mati-mati itu adalah saudara kita sendiri.

Teori dan spekulasi mengenai dalang di balik G30S bersliweran di ruang kuliah, ruang kelas, gedung dewan, ruang rapat, gedung bioskop, televisi dan buku. Tidak ada konklusi tunggal yang dengan khidmat dianut soal siapa dalang di balik itu. Selama 48 tahun (hampir lima dekade) pencarian sang dalang tak kunjung usai. Mengapa? Karena setiap orang punya agenda sendiri – bukan mencari kebenaran dan jujur kepada diri sendiri, tetapi nafsu untuk dipuji karena berhasil menemukan jawaban tunggal. Ini menggelikan karena kebenaran senantiasa dinamis; ia selalu multiinterpretasi. Bahkan “tuhan” pun dimaknai berbeda-beda oleh 6 miliar manusia di muka bumi.

Pada 80an, saya menyaksikan dengan seksama rekonstruksi sejarah pada 1965 itu. Bagaimana PKI membunuhi para petinggi militer, dan bagaimana akhirnya PKI ditumpas. Setiap murid wajib menonton film G30S/PKI. Esoknya kita semua berkumpul di jam istirahat dan membicarakannya. Guru-guru mengingatkan kembali bahaya laten komunis. Di sini jelas: “komunis” adalah pihak yang berdosa, oleh sebab itu mereka selayaknya dibantai. Titik.

Tetapi pembunuhan tak berhenti di situ. Film lain yang diproduksi pemerintah keluar lagi. Pada 1966, Blitar Selatan, tempat sisa-sisa PKI, dibersihkan oleh tentara. Telapak tangan semua orang diperiksa. Mereka yang menyamar sebagai petani, tetapi telapaknya halus, segera diciduk. Tak ada petani bertelapak mulus. Ia pasti penulis, atau pengurus PKI yang sehari-harinya memegang dokumen dan pensil, bukan pacul dan sabit.

Di Bondowoso, pada 80an, saya pernah bertanya kepada ayah: siapa itu seorang lelaki yang punya rumah luas tetapi tak nampak bekerja? Jawabannya singkat: Ia PKI. Oleh sebab itu ia tak dapat diterima bekerja di manapun. Kasihan sekali. Namun, pikiran ini tidak mampu untuk memahami mengapa label “PKI” sedemikian kritis sehingga mencari makan pun susah.

Hari ini, tidak banyak yang saya (atau bahkan kita) tahu soal G30S. Tidak ada pemahaman tunggal. Tidak ada sumber yang dianggap absolut sebagai kunci jawaban. Padahal, masing-masing dari kita menunggu. Menunggu untuk mengetahui apa yang baik, apa yang tidak baik pada masa lalu. Kita tak boleh melakukan kesalahan yang sama. Kecuali kita ingin dianggap bangsa yang bodoh selamanya. Bangsa yang tak memahami apa yang terjadi pada masa lalunya. Lalu mengulang kesalahan yang sama. Sama persis, pula.

G30S punya banyak aktor dari sekian ribu teori: Soekarno, Cakrabhirawa, C.I.A., TNI-AU, Dewan Jenderal, PKI, Suharto, dan banyak lagi lainnya. Tapi di sini, saya tak hendak mengusulkan jawaban. Hanya sebuah spekulasi yang jika salah ia tak mempengaruhi apa pun dalam sejarah kita. Ini hanya random notes dari membaca sana-sini secara “liar”.

Mari kita mulai.

Dewan Jenderal itu mungkin ada. Dewan ini bermula dari ketidakpuasan para jenderal kepada Presiden Soekarno yang dianggap memimpin dengan seenaknya. Demokrasi Terpimpin, dekat dengan PKI, dekat dengan Uni Sovyet, rakyat semakin melarat. Salah satu cara untuk menghapuskan itu adalah dengan menggulingkan Soekarno. Rapat demi rapat dilakukan oleh Dewan Jenderal. Mungkin belum sampai saat memutuskan sebuah aksi yang konkrit.

Ketika Soekarno mendengar isu adanya Dewan Jenderal ini, ia marah. Ini pengkhiatan kepada pemimpin tertinggi negara. Oleh sebab itu, meski jenderal sekalipun, perlu diberantas. Chakra Bhirawa diminta kesetiaannya, dan menumpas mereka. Satu per satu jenderal yang disinyalir termasuk dalam Dewan Jenderal diciduk, dan dibunuh. Ada yang lolos, yaitu A.H. Nasution. Pada saat kejadian 30 September, Soekarno baru saja mengantar Dewi Soekarno ke rumahnya. Soekarno berjanji kepada Dewi akan kembali esoknya.

Di lain pihak, C.I.A. terus memantau Indonesia. Indonesia terlalu condong ke Uni Sovyet dan Cina. Ini menggeramkan bagi Amerika. Amerika memasang mata-mata di mana-mana. Ia pun membayar Soeharto, panglima Kostrad yang tidak tahu menahu soal Dewan Jenderal. C.I.A. pun membayar Soeharto dan memberinya daftar orang-orang yang harus dibunuh. Yang harus dibunuh bukan Soekarno, tetapi orang-orang PKI. C.I.A. tahu bahwa Soekarno bukan komunis.

Soeharto gerak cepat. Ia segera mengeluarkan perintah bahwa negara dalam keadaan darurat. Militer digerakkan, dan ia memberantas PKI, sesuai pesanan C.I.A. Intinya hanya satu: PKI lah otak pembunuhan para jenderal. PKI ini dibantu oleh Chakra Bhirawa dan TNI-AU.

Setelah PKI diberantas mendadak, Soeharto segera mengamankan Soekarno ke Istana Bogor. Soekarno mesti dibunuh secara perlahan; tidak mendapat perawatan yang baik ketika sakit. Konon, hanya dokter hewan yang dikirim untuk merawatnya. Di tengah sakitnya itu, Soeharto meminta Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Intinya: Soeharto dijadikan presiden untuk menggantikannya.

images

Pada akhirnya, Soeharto memang menjadi presiden. Ia berhasil memuaskan dirinya, sekaligus C.I.A. Amerika tentu girang. Hubungan AS-Indonesia pulih kembali. Kerjasama pun dibangun. Keuntungan kerjasama itu masuk ke keluarga Soeharto, dan segelintir orang lainnya. Amerika pun juga senang. Asia-Pasifik nampaknya cukup kuat dipegang setelah itu. AS kemudian dapat berkonsetrasi sepenuhnya untuk menumpas Vietnam Utara yang masih komunis. Perang Vietnam antara 65-75 berakhir dengan kekalahan AS, meski pada akhirnya Vietnam jadi tunggal belakangan ini.

Ketika Soeharto memimpin, semua divisi militer yang terlibat G30S dikotakkan. Orang-orangnya dipecat atau diberantas. Setelah 1968, ekonomi Indonesia mulai bangkit lagi. Bantuan asing masuk. Indonesia menjadi kapitalis, seperti yang diharapkan AS.

Jadi, kesimpulannya, siapa dalang G30S? Tidak ada yang tahu. Karena gerakan itu adalah skema yang saling silang berbagai kepentingan. Tidak ada penyebab tunggal. Yang ada hanya adu kekuatan belaka.

Tapi pelajaran yang kita tarik adalah satu: ternyata kita masih mudah dipecah belah oleh asing. Asing dalam hal ini adalah ideologi Barat, dan orang Barat. Orang luar tentu senang melihat kita berantakan, karena pesaing jadi berkurang satu. Mengapa kita sulit sekali rukun? Perbedaan adalah rahmat, rejeki supaya kita bisa saling kenal dan tolong menolong. Bukan saling menjegal, atau bahkan membunuh. Padahal kita hanya ingin ketenangan hidup, tetapi seringkali kita masih dikendalikan nafsu untuk berkuasa dan mencari untungnya sendiri (egois).

Sekali lagi, era itu ditandai oleh karakteristik ini: rencana-yang-berantakan, sikap oportunis, gerakan militer, hegemoni, egoisme, dan ideologi. Tidak ada sebab tunggal. Upaya dekonstruksi sejarah G30S pasti menemui jalan buntu. Saksi banyak yang mati, dokumen banyak yang musnah.

Saat ini yang penting hanya satu: rukunlah dengan bangsamu, dan jangan mau dikendalikan orang asing.

Tipping Point


Setiap orang punya tipping point. Tipping point berarti sebuah titik (waktu yang terikat tempat) dimana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, tetapi titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.

Tipping-point

Terminologi ini kurang tahu juga berasal dari siapa. Tetapi seorang yang berjasa mempopulerkannya adalah penulis buku Amerika Malcolm Gladwell. Bukunya Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference (2000) membuat orang tersadar bahwa masing-masing dari kita hidup seperti sekarang ini karena suatu alasan yang subtil, yang halus. Dan sering tidak kita sadari. Alasan ini berbentuk materi, dan tidak bersifat spiritual atau ilahiyah. Jika spiritual ia mungkin dinamakan hidayah dalam Islam. Ada dua proposisi yang diajukan Gladwell. Yang pertama adalah “epidemik sosial sangat ditentukan oleh sekumpulan orang yang memiliki bakat sosial yang khusus dan jarang dijumpai di kumpulan lain”. Yang kedua adalah “Prinsip 80/20. 80% kerja yang diperlukan untuk menciptakan situasi tertentu ditentukan oleh 20% orang saja”. Gladwell mendasarkan proposisinya kepada statistik dan psikologi. Dua cabang ini digunakannya untuk memahami fenomena sosial yang terjadi pada abad 21. Sebagian berlaku di AS, sehingga sifatnya kontekstual, tetapi ada juga yang sifatnya universal dan menembus batas negara, budaya dan bahasa.

Buku yang terbit 13 tahun lalu ini nampaknya tidak akan usang. Alasannya, seseorang ingin memahami istilah tipping point; kemudian ingin memahami perubahan yang terjadi di dalam dirinya atau lingkungannya; kemudian ingin mengetahui sejauh mana istilah tipping point itu dapat merepresentasikan kehidupan di sekelilingnya. Intinya, tipping point adalah sebuah terma untuk merefleksikan diri.

Sayangnya, ia tidak punya kemampuan prediktif. Tipping point adalah soal after-the-fact. Ia dapat dianalisis ketika sudah terjadi. Jika belum terjadi Gladwell tidak punya alat, faktor atau parameter untuk membantu kita mengidentifikasi akankah terjadi perubahan dahsyat dalam hidup kita karena suatu titik. Contohnya ini. Apakah ketika kita minum kopi pertama kali (pada umur 7 tahun, misalnya) menyebabkan kita mencintai kopi setengah mati, dan akhirnya membuka kafe yang semasyhur Starbuck? Kita tidak tahu. Apakah ketika Musso (tokoh komunis itu) mengenal kata женщина (zhenshchina) atau femme, yang berarti wanita, di sebuah majalah Barat, kemudian membuatnya mencintai paham komunis dan berkelana ke Uni Soviet dan Perancis, kemudian melawan Belanda, dan berujung pada pembentukan Republik Soviet Indonesia? Tidak ada yang tahu.

Tipping point adalah sebuah titik yang kita ketahui setelah semuanya terjadi dan terjelaskan dengan baik. Tapi, titik ini kadang tidak hanya satu. Ia merupakan perpotongan (intersection) dari pelbagai garis kehidupan orang lain juga; yang sulit dikendalikan karena acak dan didorong motivasi yang sifatnya spiritual (agama, tuhan, pencarian makna hidup), material (uang, hubungan keluarga) dan absurd (tanpa tujuan jelas – lebih ke estetika dan sisi eksentrik).

***

Pada 1999, saya pernah diajak seorang kawan urang awak (Minang, tapi lahir di Medan) untuk makan masakan padang di sebelah Masjid Salman. Setelah makan, kami biasanya pergi ke kios buku di dekat situ. Buku-bukunya ditumpuk, rata-rata baru terbit karena 1998 merupakan tahun yang membebaskan penerbit untuk merilis buku apa saja – dari yang “kanan” sampai “kiri”. Pemahaman generasi muda ketika itu tentang Islam fundamentalis mungkin didapatkan di sana. Buku-buku terjemahan dari Timur Tengah begitu banyak. Begitu juga pemahaman anak-anak tentang istilah communist manifesto, liberalisme, dan mendadak suka dunia sophie (filsafat).

Pada saat itu, kawan saya memperlihatkan sebuah buku berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Franz Magnis-Suseno). Saya yang tidak suka membaca hanya mengenal wajah Marx yang berjanggut. Wajahnya populer, dan saya tahu nama itu dari Buku 100 Tokoh. Mengenai pemikirannya, saya tidak tahu sama sekali. Tidak tertarik. Buat apa? Komunis dulu pernah bikin onar, dan memahami pemikirannya sama artinya dengan mengembalikan potensi keonaran itu.

marx

Tapi, akhirnya buku itu saya pinjam. Dan, saya terserap ke dalamnya. Mungkin ini disebabkan karena tulisan Romo Magnis-Suseno yang mudah dipahami, runtut dan sederhana. Mungkin pula karena pemikiran komunisme itu tidak datang tiba-tiba, tetapi dilatarbelakangi oleh kisah romantis antara Marx dan istrinya, atau persahabatan yang tak lekang antara Marx dan pengusaha Inggris, Frederich Engels. Saya sendiri tidak tahu. Tetapi yang akhirnya saya tahu dan rasakan: saya tidak berhenti membaca. Saya terus mencari buku-buku lain (Das Kapital, Mein Kampf, Thus Spake Zarathustra dan lain-lain). Membaca apa saja. Apa yang orang lain baca, saya baca juga. Bukan ingin kompetisi, tapi ingin memahami apa yang orang lain pahami; jadi kalau ngobrol bisa nyambung. Saya juga ingin menyelami semua pemikiran dan sejarah dunia. Mengapa dunia ini jadi seperti ini? Mengapa banyak sekali isme yang kemudian menjadikan Indonesia seperti ini?

Buku Marx yang diperkenalkan oleh kawan saya itu, singkatnya, adalah titik perubahan, atau tipping point. Buku itu pada akhirnya membuat saya melihat dunia dengan wajah yang berbeda. Buku itu membuat saya menyukai “menulis”. Menulis, pada akhirnya, menghasilkan keasyikan tersendiri. Tulisan yang persuasif sangat membius dan dapat membuat orang lain bergerak. Dengan tulisan, seseorang mampu mengubah persepsi dan memperkaya, atau bahkan dikritisi. Tanpa kritik, pemahaman kita akan kehidupan tidak akan berkembang.

Pada akhirnya, tipping point adalah soal manusia dan persepsi terhadap dirinya.

Thailand (1)


Sebenarnya tidak pernah merasa dekat, atau pun merasa jauh, dengan Thailand. Waktu kecil, teman-teman SD menyebut Thailand sebagai “negeri gajah putih”. Kita tidak tahu persis artinya apa – asalnya dari mulut ke mulut. Padahal, bendera Thailand dari 1855 – 1917 ada gambar gajah putihnya. Padahal juga, bendera itu pernah dikibarkan di Hindia Belanda: berjajar di sepanjang jalan dari stasiun kereta hingga hotel di sela-sela bendera Belanda, untuk menyambut kedatangan Raja Thailand bernama Chulalongkorn di tanah Jawa, atau Hindia Belanda (abad 18-19). Saya juga tidak pernah berinteraksi dengan warga Thailand, kecuali pada 2003 saya harus mengurus dokumen yang dikirim ke Bangkok, dan berkirim email dengan seorang penulis Thailand.

Pada 1999, film Anna and the King muncul. Film yang meledak di Indonesia ini dibintangi Jodie Foster dan Chou Yun-Fat. Ia bercerita tentang kisah seorang guru wanita bernama Anna Leonowens asal Inggris yang disewa Raja Mongkut (ayah dari Raja Chulalongkorn) untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada istri-istri dan anak-anaknya di kerajaan Siam. Film ini bercerita tentang bagaimana Siam menguasai modernitas dengan memahami bahasa Inggris. Ia ditulis mungkin berdasarkan memoar Anna Leonowens berjudul The English Governess at the Siamese Court (1870) dan Romance of the Harem (1873). Sebenarnya ada tiga film lain tentang Raja Mongkut, tapi mungkin tidak masuk Indonesia, yaitu Anna and The King of Siam (1946), The King and I (1956) dan film kartun Anna and The King (1999).

29 Januari 2002, saya disediakan sebuah ruangan dengan komputer canggih (waktu itu). Tujuannya supaya menyelesaikan tugas akhir dalam 6 bulan. Di ruangan itu juga ada banyak buku, paper dan dokumen-dokumen milik dosen. Saya hanya mengambil paper atau buku yang saya perlukan saja. Tidak menyentuh yang lain. Tapi ketika duduk termenung (jenuh melanda – sekarang ini namanya “galau”), mata tiba-tiba terpaku pada satu buku baru di tumpukan dokumen. Buku itu berwarna coklat muda, dengan gambar siluet jajaran orang berfoto. Judulnya adalah “Journeys to Java by Siamese King”. Pikiran saya: perjalanan raja kembar siam? Saya ambil buku itu (diam-diam, karena ruangan itu sebenarnya ruangan dosen). Buku berbahasa Inggris itu kemudian saya baca, dan menemukan bahwa isinya tentang tiga kunjungan Raja Siam (Thailand) ke Jawa. Isinya semacam buku harian yang aslinya ditulis dalam bahasa Thai dan diterjemahkan ke bahasa Inggris. Penulisnya adalah Imtip Pattajoti Suharto. Beliau adalah istri Pak Djoko Suharto, guru besar Teknik Mesin ITB. Dosen pembimbing saya adalah teman Prof. Djoko. Saya kemudian meminjam buku itu, dan melanjutkan membaca di rumah. Buku itu menarik karena membuat saya jadi memahami apa yang terjadi di Jawa pada akhir 1800an hingga awal 1900an. Kesan saya: Indonesia maju sekali saat itu. Bahkan Raja Thailand saja sampai berkunjung ke Jawa. Buku itu tidak komprehensif dan minim catatan kaki. Sifatnya seperti itinerary, urutan jadwal perjalanan (berisi tanggal, waktu, tempat, bertemu siapa-siapa, dan sedikit komentar). Buku itu diterbitkan oleh Penerbit ITB pada 2001. Saya kemudian pergi ke Penerbit ITB dan mendapatkan email penulisnya. Kemudian kami bertukar email, dengan tujuan, saya membantu menerjemahkan buku itu ke bahasa Indonesia. Tapi 2003 saya harus pergi ke Singapura. Jadi, proses menerjemahkan buku itu tidak dilanjutkan.

Tahun 2005 saya mendapatkan bingkisan dari staf AUN/SEED-Net Thailand. Bingkisan itu berupa CD musik jazz. Nampaknya biasa. Tapi yang membuat istimewa adalah lagu-lagunya dimainkan oleh Raja Bhumibol Adulyadej (dibaca: Phu-mi-pon A-du-nya-det). Raja Bhumibol bergelar Rama IX. Sedangkan, buku yang sebelumnya saya baca bercerita tentang Rama V atau Raja Chulalongkorn (yang namanya diabadikan sebagai nama universitas ternama di Thailand).

Bulan Januari 2007 saya bersama keluarga (anak waktu itu masih berumur 7 bulan) pergi ke Bangkok untuk berlibur. Kami berlibur lima hari di sana. Menyenangkan sekali, orangnya ramah, makanannya enak dan murah. Bisa naik tuk-tuk, berbelanja di Pasar Chatucak, menyusuri Sungai Chao Phraya, melihat Emerald Buddha, makan di tepi sungai bersama teman lama. Saya sebenarnya masih tidak mengenal sejarah Thailand. Jadi, misi jalan-jalan ke sana adalah hal kontemporer: belanja.

Buku Journeys to Java by Siamese King sebenarnya ingin saya beli. Tapi setelah kirim email ke Pak Djoko, bulan Maret 2013 saya mendapatkan kiriman buku tersebut. Gratis! Wah baik sekali Pak dan Bu Djoko. Misi saya, yang tertunda lama, kemudian dimantapkan: menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Indonesia. Buku yang baru dikirim itu adalah edisi yang sudah direvisi (revised edition) dari edisi tahun 2001, dan dicetak tahun 2012. Buku tahun 2001 itu hak ciptanya dimiliki Departemen Luar Negeri Thailand, sedangkan yang 2012 ini dimiliki oleh Ibu Imtip sendiri (setelah perjuangan panjang nampaknya). Buku itu agaknya mirip dengan buku sebelumnya, kecuali mulai banyak catatan kaki, komentar penulisnya, foto-foto.

Chulalongkorn in SoloRaja Chulalongkorn (berdiri di depan berpakaian putih membawa tongkat) di samping Paku Buwono X Susuhunan dari Solo tahun 1896 (koleksi Tropenmuseum)

Setelah diskusi via email, nampaknya usaha menerjemahkan saja tidaklah cukup. Alasannya, orang Indonesia hanya mau membaca buku jika isinya berkenaan dengan dirinya. Pembaca Indonesia, mungkin, juga impulsif dan latah. Artinya, jika ada buku baru dengan judul yang bombastis dan semua orang baca, maka seseorang akan membacanya (kemudian lupa). Tapi pembaca yang kritis semakin lama semakin banyak. Pembaca kritis adalah pembaca yang mencari jati diri, mencari tahu dunia luar, meresapi (internalisasi) makna tulisan dan terstimulasi untuk terus mengenali dirinya (ingin apa aku ini; apa yang ingin aku capai; mengapa fenomena A atau B terjadi dan seterusnya). Oleh sebab itu, jika hanya menerjemahkan maka pembaca mungkin kehilangan selera. Menulis buku di Indonesia (yang collectible tapi juga dapat dinikmati karena manfaatnya banyak) sebenarnya agak sukar. Tapi bentuk buku tentang Raja Siam ke Jawa itu tengah dipikirkan. Saat ini inti pekerjaan adalah menerjemahkan bukunya Bu Imtip itu, dan mencari sumber-sumber bacaan lain. Bu Imtip itu sebenarnya adalah campuran sumber sekunder dan tersier karena berisi narasi yang ditulis dari berbagai sumber primer dan sekunder. Kalau bacaan pendukung, sudah ada beberapa yang didapat. Proses penerjemahannya sendiri tengah berjalan (lambat). Dari 163 halaman, 138 sudah dalam bahasa Indonesia (yang berantakan).

Buku tentang Raja Chulalongkorn mengunjungi Jawa atau Malaya yang berbahasa Inggris setidaknya ada empat:

  1. Journeys to Java by Siamese King, Imtip Pattajoti Suharto, Penerbit ITB, 2001
  2. Journeys to Java by Siamese King, Imtip Pattajoti Suharto, Penerbit ITB, 2012 (revised edition)
  3. A true hero : King Chulalongkorn of Siam’s visit to Singapore and Java in 1871, Kannikar Sartraproong, University of Leiden, 2004
  4. Through the Eyes of the King: The Travels of King Chulalongkorn to Malaya, Patricia Lim Pui Huen, ISEAS Publisher, 2009

Buku ke-3 belum pernah saya baca. Ingin sekali membacanya karena mungkin itu adalah PhD thesis yang diterbitkan di Universitas Leiden. Penulisnya juga orang Thailand (jadi: view from within), fasih berbahasa Melayu/Indonesia, Belanda dan Inggris.

BukuThai

Buku tentang Raja Chulalongkorn

Buku ke-4 sebagian sudah saya baca. Buku ini sebelumnya disarankan oleh Prof. Merle Ricklefs (penulis A History of Modern Indonesia Since ca. 1200) yang saya hubungi untuk memberi saran. Nampaknya, bukunya Patricia Lim itu berisi selected trips (kunjungan pilihan) yang didesain dengan indah. Beberapa bab isinya mirip sekali (!) dengan bukunya Bu Imtip, khususnya  kisah Raja Chulongkorn yang transit di Singapura. Tapi bahasa Inggrisnya mungkin lebih well-composed, dan sebenarnya lebih merupakan parafrase dari kalimat-kalimatnya Bu Imtip. Bahkan, sebagian kesimpulannya merupakan penekanan ulang dari kesimpulan Bu Imtip. Originalitasnya mungkin kurang, meskipun Patricia nampaknya berburu buku-buku referensi lain yang melengkapi (annotate) bukunya Bu Imtip. Buku itu juga kelebihannya adalah desain dan foto, selain juga menambahkan kisah-kisah perjalanan ke Malaya dan Singapura. Fokusnya memang di Malaya sih.

Dr Sartaproong dalam reviewnya di Journal of the Siam Society (Vol 99, 2011) bahwa buku itu adalah “… a fine picture book“. Buku itu, menurut Dr Sartraproong, punya beberapa kelemahan: cerita dengan foto kadang tidak nyambung; fotonya tidak merepresentasikan apa yang dilihat Raja Siam; fotonya berisi orang-orang berpose tanpa ekspresi, bukan foto-foto yang punya cerita; fotonya kadang di-crop kemudian diulang di halaman lain; hubungan Malaysia dan Siam tidak dijelaskan dengan baik.

Kembali ke Thailand. Thailand ini unik, karena menjadi satu-satunya (mungkin) negara Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah. Kemampuan negosiasi dan diplomatik raja-raja terdahulunya sangat hebat, terutama Chulalongkorn yang rajin mengunjungi negara-negara Eropa supaya nampak sejajar dengan mereka. Tapi sebagian wilayah Thailand masa itu dikorbankan atau diberikan kepada penjajah Perancis dan Inggris. Misalnya, Laos, Kamboja, bagian utara Malaysia, seperti Kelantan, Kedah, Perlis dan lainnya. Tapi seorang kawan Thailand menyebutkan bahwa Thailand tidak pernah dijajah karena kedekatannya dengan Raja Rusia sehingga terus mendapatkan back-up militer yang kuat dan membuat segan negara-negara Eropa untuk menjajahnya.

chulalongkorn2

Raja Chulalongkorn (kiri) bersama Raja Nicholas II dari Rusia tahun 1897

Mengenai sosok Chulalongkorn: ia adalah raja yang memberikan contoh, berhati mulia, suka belajar hal-hal baru dari setiap wilayah yang dikunjunginya, suka bercanda (good sense of humor), teliti dan analitis. Pada 1996, pengkultusan Raja Chulalongkorn mencapai puncaknya di Bangkok (wilayah urban), tapi tidak terlalu kuat di pedesaan (rural). Orang-orang melakukan upacara penghormatan dan persembahan di patung berkuda Raja Chulalongkorn (ekuestrian). Pengkultusan ini kemudian dibahas dalam buku terbaru Irene Stengs berjudul: Worshipping the Great Moderniser: King Chulalongkorn, Patron Saint of the Thai Middle Class (2009).

Sebenarnya, apakah yang dipelajari oleh Raja Chulalongkorn di Jawa? Perjalanannya dilakukan tiga kali: 1871, 1896 dan 1901. Apa yang dia pikirkan mengenai Candi Borobudur dan Prambanan, galangan kapal dan peleburan logam di Surabaya? Sistem administrasi model apa yang diadopsi dari Jawa? Apa yang dia lihat dari kehidupan orang Islam di Jawa masa lalu? Bagaimana kehidupan orang-orang Belanda, orang Tionghoa, orang pribumi antara 1871 – 1901? Bagaimana keadaan Batavia (Jakarta), Sukabumi, Buitenzorg (Bogor), Bandung, Semarang, Yogyakarta, Pasuruan, Malang? Sistem apa yang berubah di Thailand setelah kepulangannya dari Jawa? Bagaimana hubungan Jawa dan Thailand?

Barangkali tidak ada satupun raja di dunia yang merekam kehidupan Jawa masa silam kecuali Chulalongkorn. Perjalanannya sendiri adalah perjalanan bersejarah yang kental dengan nafas nasionalisme: Chulalongkorn hendak melakukan perubahan besar-besaran terhadap sistem administrasi negaranya, sekaligus mengadopsi apa saja yang baik dan cocok bagi Thailand. Pandangannya ketika melakukan perjalanan itu unik karena berangkat dari keingintahuan yang mendalam; keinginan untuk mengadopsi hal-hal baru dari modernitas Barat; keinginan memilih apa yang cocok dari luar negeri untuk Thailand; ia ingin berpetualang, bertamasya bersama keluarga mengapresiasi peninggalan Buddha dan Hindu; beristirahat dari kesibukan Bangkok, menyepi di pulau Jawa yang bervariasi; lebih penting lagi, ingin menunjukkan kepada Belanda dan negeri Eropa lainnya bahwa raja Thailand juga bisa mengeksplorasi negeri lain, tapi tidak menjajahnya (ada pula dugaan bahwa perjalanannya memang bersifat politis yang sebenarnya sah-sah saja karena posisi Siam yang rawan ketika itu).

Herannya, mengapa raja-raja Jawa yang dia kunjungi tidak ketularan untuk melakukan hal yang serupa? Mengunjungi wilayah Jawa yang lain; bersatu, memenangkan Perang Jawa (1825-1830) dan meneruskan perjuangan itu. Indonesia mungkin dijajah karena sejak dulu memang terpecah belah; mudah disuap; terlalu kagum dengan modernitas Barat tapi tidak berminat belajar; kurang mencintai negerinya (bilang “cinta” dan “nasionalis” di mulut, tapi tindakannya seperti penjarah yang menghisap).

Mungkin hingga kini?

Perjalanan Raja Chulalongkorn ke luar Thailand adalah sebuah titik awal perjalanan panjang yang bersejarah menuju Thailand yang ter-Barat-kan. Dan, titik awal itu dimulai di Jawa. Orang Indonesia perlu belajar dari perjalanan Raja Chulalongkorn ini, khususnya anggota DPR yang sering melakukan kunjungan luar negeri untuk studi banding.

Kim Jong Il


Kim Jong Il, diktator Korea Utara itu, wafat minggu lalu, 17 Desember 2011. Usianya 69 tahun ketika ia meninggal. Ia menggantikan kedudukan ayahnya, Kim Il Sung, sebagai pemimpin besar Korea Utara pada 1994. Kim Il Sung adalah teman Bung Karno.

Kim Jong Il (16 Februari 1941 – 17 Desember 2011)

Di Jepang, barangkali tak ada satu orang pun yang mengenal dekat Kim Jong Il kecuali Kenji Fujimoto (64 tahun). ‚Kenji Fujimoto‘ (bukan nama sebenarnya) adalah bekas koki pribadi mendiang diktator Korea Utara itu.

Keahlian Fujimoto adalah membuat sushi (nasi bercuka yang dibubuhi irisan ikan, telur ikan atau sayuran). Namun, setelah bukunya yang bertajuk ‚Koki Kim Jong Il‘ (Fuso Publishing, Inc.) diterbitkan pada 2004, satu stasiun TV Jepang memberinya julukan: “Ahli Kim Jong Il”.

Fujimoto awalnya bekerja di sebuah restoran sushi di Pyongyang pada 1982. Kedatangan Fujimoto berdasarkan undangan kantor perdagangan bilateral Jepang – Korea Utara.

Dalam satu acara kenegaraan, ia pernah melayani Kim Jong Il. Ketika itu, Kim nampak terkesan dengan sushi buatannya. Karena itu, Kim memintanya untuk menjadi koki pribadi pada 1988. Kim memberinya gaji Rp 60.5 juta per bulan. Konon, ia juga diberi dua mobil Mercedes oleh Kim.

Fujimoto mengenang Kim sebagai orang yang suka makanan unik berkualitas tinggi. Untuk keperluan itu, Kim sering meminta Fujimoto terbang ke negara lain untuk berbelanja.

Untuk membeli ikan tuna dan sotong, misalnya, Fujimoto diminta pergi ke pasar Tsukiji di Jepang. Untuk membeli buah, ia terbang ke Urumqi, China. Untuk membeli durian dan pepaya, ia terbang ke Thailand atau Malaysia. Untuk membeli bir, ia terbang ke Chekoslowakia. Untuk membeli daging babi, ia terbang ke Denmark. Untuk membeli kaviar, ia terbang ke Iran atau Uzbekistan.

Padahal, saat yang bersamaan, banyak warga Korea Utara yang kelaparan karena bencana banjir, embargo ekonomi dan kediktatoran Kim.

Sampai pada suatu hari di bulan Maret 2001, Fujimoto mengajak Kim melihat acara TV Jepang berjudul “Makanan Manakah Ini?”.

Kim menyukai landak laut (sea urchin) yang termasyhur di Jepang. Dan, ketika ia melihat landak laut di acara itu, ia berteriak: “Wah, itu kelihatan lezat!”

Fujimoto dengan cepat menanggapi: “Saya akan segera pergi ke Pulau Rishiri, Hokkaido, untuk membelinya. Saya juga akan belajar cara memasaknya.”

Kim membalas: “Ide cemerlang. Pergilah!”

Itulah hari terakhir Fujimoto melihat Kim.

Sesampainya di Hokkaido, Fujimoto melarikan diri dari pengawalan dan mencari tempat persembuyian. Fujimoto tak pernah kembali ke Korea Utara sampai detik ini.

Kenji Fujimoto dan buku tentang Kim Jong Un

Pengalaman Fujimoto, meskipun menarik, agaknya berbeda dengan pengalaman Shin Dong-hyuk (29 tahun), pemuda Korea Utara yang lahir di kamp konsentrasi. Shin lahir dari pasangan penghuni kamp Kaechon, atau biasa disebut Kwan-Li-So No. 14. Kamp ini berada di Pyongan, 90 kilometer selatan Pyongyang.

Meskipun tinggal di kamp konsentrasi, Shin sama sekali tak mengenal siapa itu Kim Jong Il! Di dalam kamp, tidak ada seorangpun yang membicarakan Kim Jong Il. Hukumannya berat jika ketahuan menggunjingkan Kim.

Baru-baru ini, Shin jadi terkenal karena satu hal: Ia satu-satunya orang yang berhasil melarikan diri dari kamp konsentrasi.

Dalam sebuah wawancara, Shin bercerita bahwa penghuni kamp dipaksa bekerja di pabrik dan konstruksi bangunan dari pukul 5 pagi hingga 11 malam. Penghuni kamp juga wajib memakai baju seragam.

Agar penghuni kamp tidak lari, tentara Korea Utara memasang pagar listrik di sekeliling kamp.

Sehari-harinya, penghuni kamp yang jumlahnya antara 150 ribu hingga 200 ribu orang itu hanya diberi makan butiran jagung dan kuah asin.

Jika penghuni kamp bekerja dengan baik maka lelaki dan perempuan di antara mereka diperbolehkan menikah. Namun, pasangan yang sudah menikah hanya boleh bertemu dua hingga tiga kali dalam satu tahun.

Korea Utara membangun dua jenis kamp konsentrasi:

  • Zona Revolusi untuk mereka yang melakukan kesalahan ringan
  • Zona Kendali Penuh untuk mereka yang melakukan dengan kesalahan berat

Penghuni Zona Revolusi “hanya” ditahan beberapa tahun saja, kemudian mereka dibebaskan. Sedangkan di dalam Zona Kendali Penuh, orang dihukum seumur hidup.

Shin dan keluarganya adalah penghuni Zona Kendali Penuh.

Kesalahan berat bagi tentara Korea Utara biasanya berupa kesalahan remeh bagi rakyat biasa. Misalnya, lupa memakai lencana bergambar Kim Il Sung atau Kim Jong Il; duduk di atas koran yang kebetulan ada gambar Kim Jong Il; melipat koran yang ada gambar Kim Jong Il.

Jika seseorang melakukan kesalahan tidak hanya dia saja yang masuk kamp konsentrasi. Seluruh keluarganya, termasuk orang tua, adik, kakak, anak dan cucu, otomatis masuk kamp konsentrasi.

Di dalam kamp pula lah, Shin menyaksikan ibu dan kakak lelakinya disiksa dan dihukum mati. Alasannya, mereka mencoba melarikan diri. Setelah keduanya meninggal, Shin juga disiksa. Tangan dan kaki Shin diikat, perutnya ditusuk dan dikaitkan dengan besi dan punggungnya dipanggang bara api yang panas.

Karena benar-benar tidak tahan, ia dan kawannya, bernama Park, merencanakan pelarian dari dari kamp. Malangnya, Park tewas tersengat pagar listrik. Hanya Shin sendiri yang akhirnya berhasil lolos masuk perbatasan China.

Saat ini, Shin hidup dalam perlindungan Korea Selatan.

Namun, pertanyaan tersisa hari ini: bagaimana nasib ratusan ribu penghuni kamp lainnya?

Lebih penting lagi, bagaimana masa depan Korea Utara?

Sebelum meninggal, Kim Jong Il menyiapkan Kim Jong Un (27 tahun) menjadi penerusnya.

Ia adalah anak bungsu Kim Jong Il dari selir yang bernama Ko Young Hee. Ko Young Hee lahir dan besar di Osaka, Jepang, sampai usia 7 tahun. Setelahnya, Ko kembali ke Korea Utara mengikuti orangtuanya.

Tahun lalu, Kim Jong Il mengukuhkan Kim Jong Un sebagai Daejang (Jenderal). Ini suatu cara untuk mempersiapkan kepemimpinan di bawah anaknya sendiri.

Riwayat Kim Jong Un sebenarnya penuh misteri, bahkan bagi rakyatnya sendiri.

Meskipun demikian, ada satu orang asing yang mengenal Kim Jong Un dengan baik, iaitu João Micaelo. João adalah sahabat selama Kim Jong Un  bersekolah di Liebefeld, Bern, Switzerland, antara 1998 sampai 2001. Kim Jong Un waktu itu memakai nama samaran Pak Un.

João mengatakan bahwa Kim Jong Un menggemari olahraga basket, menonton film, bermain komputer dan Playstation. Kim Jong Un juga lancar berbahasa Jerman.

Namun demikian, sulit memprediksi apakah ‘sedikit’ pendidikan Barat yang dialami Kim akan mengubah pandangannya tentang dunia luar.

Yang jelas, untuk beberapa waktu ke depan, Kim Jong Un akan memimpin Korea Utara dengan bimbingan “pembisik” bernama Chang Song Taek, pamannya sendiri. Masa depan Korea Utara ada di tangan keduanya.

Tapi yang pasti, seluruh dunia berharap ia tidak melanjutkan kediktatoran ayahnya. Korea Utara mungkin salah satu negara yang masih mempunyai kamp konsentrasi a la Hitler di jaman modern ini.

 

Japan Inc.


Akhir-akhir ini warga Jepang di belahan lain dunia dirundung malang.

Di Selandia Baru, gempa 6.3 skala Richter pada 22 Februari 2011 ‘melenyapkan’ 27 siswa Jepang di reruntuhan bangunan CTV King ‘s Education. Di sekolah itu, banyak siswa Jepang belajar bahasa Inggris.

Di Afrika Utara, tepatnya Mesir dan Libya, revolusi politik membuat warga Jepang melarikan diri dari kedua negara itu. Sekitar 200 orang (dari 1.600 penduduk Jepang di Mesir) keluar dari Kahirah dan puluhan warga Jepang keluar dari Libya.

Di Jepang sendiri, ‘Jepang Inc’ (sebutan media Barat untuk Jepang) terancam ‘tutup’ (shut down) pada Juni 2011. Ketika itu semua kantor pemerintah tutup. Harga makanan juga diperkirakan naik. Tutupnya Japan, Inc. ini terjadi jika anggaran 44 triliun yen dari 92.4 triliun yen yang diusulkan Perdana Menteri Naoto Kan yang seharusnya diluncurkan Maret ini tidak disetujui oleh dewan tinggi parlemen.

Berbeda dari negara-negara lain yang memulai tahun fiskalnya pada Desember, lembaran Jepang dimulai pada April. Oleh karena itu, pada Maret ini pemerintah Jepang harus mengusulkan anggaran yang akan dipakai antara April 2011 dan Maret 2012.

Dari 92.4 triliun yen usulan PM Kan, sebagian akan digunakan untuk perawatan sosial (31.1 persen), biaya utang (23.3 persen), keringanan pajak perusahaan (18.2 persen), pendidikan (6 persen), pembangunan fasilitas publik (5.4 persen) dan pertahanan ( 5.2 persen). Sisa 22.5 triliun yen akan digunakan sebagai cadangan. Secara sekilas, usulan anggaran ini memang demi kesejahteraan penduduk Jepang.

Bajet perawatan sosial sebesar 31.1 persen memang cukup besar. Sepuluh tahun lalu, perawatan sosial hanya membentuk 19.7 persen dari seluruh anggaran.

Strategi baru dari PM Kan adalah pemotongan pajak untuk perusahaan watan agar ekonomi Jepang meningkat. Namun, di sisi lain pajak penghasilan akan dinaikkan.

Usulan anggaran, terutama anggaran yang terkait dengan subsidi anak, biaya pensiun, pemotongan pajak perusahaan dan gaji karyawan pemerintah, agaknya sulit menembus parlemen.

Apa penyebabnya?

(1) Faktor eksternal Partai Demokratik Jepang (DPJ).

Dalam perdebatan di parlemen dua minggu lalu, mayoritas anggota Dewan Tinggi tidak mendukung usul anggaran Kan. Dewan Tinggi dikuasai oposisi Partai Demokrat Liberal (LDP) dan Komeito Baru.

(2) Faktor internal DPJ

Perpecahan terjadi di dalam DPJ. Seorang anggota parlemen DPJ secara mendadak mengundurkan diri dan 16 nggota lainnya mengancam akan mundur juga.  Mereka merasa bahwa Kan tidak adil terhadap Ichiro Ozawa, bekas Sekretaris Jenderal yang menjadi arsitek kemenangan DPJ pada pemilu yang lalu. Kejadian itu karena Kan membekukan sementara status keanggotaan Ozawa dalam DPJ. Rendahnya dukungan dari internal parlemen sendirilah yang akan membuat Jepang mengalami krisis bulan Juni nanti.

Namun, Kan bisa mengambil beberapa strategi untuk menghindari krisis. Misalnya, mengubah usul anggaran (yang berarti merubah manifesto DPJ), membuat koalisi dengan Komeito Baru agar usulannya direstui Dewan Tinggi atau memperoleh dukungan 67 persen anggota di Dewan Rendah.

Strategi yang mungkin bagus untuk Kan adalah toleransi politik dengan partai oposisi. Kan harus segera melakukan pertemuan tidak resmi dengan LDP dan Komeito di luar parlemen. Tujuannya untuk mengubah usulan anggaran agar ia juga menampung usulan LDP dan Komeito.

LDP sebenarnya juga prorakyat (membela rakyat). Hanya saja ia menolak usul kenaikan pajak penghasilan. Selain itu, LDP juga ingin produksi – misalnya kenaikan subsidi anak di bawah usia tiga tahun dari 13.000 yen menjadi 20,000 yen sebulan itu – dihapus.

Meskipun krisis dapat dihindari, dukungan DPJ kepada Kan sebagai perdana menteri mungkin menurun. Ini disebabkan kubu Ozawa dan bekas perdana menteri Yukio Hatoyama masih cukup kuat di dalam DPJ.

Penggantian perdana menteri ini bisa terjadi pada 2011 jika Kan kurang berhati-hati. Selain itu, dukungan penduduk Jepang ke Kan memang sudah di level 21 persen. Penyebab turunnya dukungan ini karena Kan tidak mengeluarkan Ozawa dari DPJ. Popularitas Kan masih ‘aman’ oleh kebijakan prorakyat yaitu memberikan subsidi kepada penduduk Jepang. Jadi, jika Kan salah memilih strategi politik, maka ada dua kemungkinan bisa terjadi:

Pertama, Jepang mengalami shut down pada Juni 2011, atau kedua, parlemen (khususnya DPJ) meminta Kan mengundurkan diri dan menggantinya dengan anggota DPJ lain. Menteri Luar Negeri Seiji Maehara agaknya menjadi calon kuat dari DPJ.

Jika Jepang mengalami shut down, berarti kondisi serupa dilalui Amerika Serikat pada akhir 1995 sampai awal 1996. Di era pemerintahan Bill Clinton itu, usul anggaran dibantah Kongres yang dikuasai Partai Republik. Akibatnya, 368 layanan publik di Amerika seperti taman, museum dan monumen ditutup. Layanan imigrasi juga tutup dan gaji pegawai pemerintah tidak dibayar. Ini menyebabkan bisnis di Amerika dilanda kerugian miliaran dolar. Pada akhirnya, penduduk Amerika memang tidak menyalahkan rezim Clinton, melainkan kongres Amerika. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Rakyat juga yang menderita.

Agaknya memang ada benarnya ajaran guru saya dulu: ilmuwan masih bisa salah (dalam hal data atau kesimpulan), namun politisi jangan sekali-kali salah karena yang terpengaruh adalah rakyat.