Haji dan Snouck Hurgronje


Ibrahim lahir di Babilonia (kini selatan Baghdad, Iraq) dari seorang ayah penyembah berhala (idol) yang menolak keras ketika diajaknya menyembah Allah. Ayahnya bernama Tarikh, meski ada juga yang menyebutnya Azar. Tuhan sejak awal mengetahui bahwa Ibrahim adalah sosok yang tepat sebagai nabi. Ia menikah dengan Sarah yang mandul. Oleh sebab itu, ia menikahi Hajar yang kemudian melahirkan Ismail. Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Awalnya Ibrahim menolak, tetapi kemudian yakin atas perintah itu setelah Ismail mengikhlaskan dirinya. Sejarah ini menggambarkan kepatuhan seseorang kepada Allah di atas hal duniawi yang dicintainya, misal anak.

Sejarah itu kemudian melahirkan rukun Islam bernama haji. Sejak Muhammad meninggal, orang Islam terus melakukan ibadah haji pada hari ke 8-12 bulan Dzu al-hijjah. Kata “ibadah” merupakan perspektif yang dipakai muslim untuk menamakan haji. Namun, ketika haji diteliti orientalis, seperti misalnya Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936), ia berubah nama menjadi “feest” atau semacam pesta perayaan. Esensinya tentu berbeda: yang satu melihatnya sebagai ritual suci untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang satu lagi melihatnya sebagai orang ramai yang melakukan kegiatan non-transenden (seolah tuhan tak hadir di pusaran Ka’bah, Shafa-Marwah, Mina-Muzdalifah dan teriknya Arafah).

Meskipun kebencian sudah ditanamkan kepadanya sejak SD, sosok Snouck Hurgronje sendiri sebenarnya menarik. Snouck, bagi yang awam sejarah, adalah pegawai kolonial Belanda (semacam intelijen-peneliti), profesor di Leiden University dan pionir penelitian tentang Islam.

Christiaan_Snouck_HurgronjeChristiaan Snouck Hugronje

MeccaSH1885Mekah pada 1885 (foto oleh Snouck Hurgronje)

Kebencian-yang-ditanamkan itu agaknya memang beralasan. Kerajaan Belanda yang kehabisan dana dalam memerangi suku Aceh meminta Snouck untuk meneliti kehidupan para muslim Hindia Belanda (Jawa, Aceh, dan lainnya) di Mekah. Hasil penelitian itu kemudian mendasari strategi untuk memecah belah suku Aceh. Snouck yang mempertahankan disertasi berjudul “Het Mekkaansche feest” (Pesta Masyarakat Mekah, 1879) sebelumnya tak pernah ke Mekah – dan ia sudah menulis tentang Mekah (plus belajar bahasa Arab, Hebrew, Islamologi dan muslim yang disebut “Muhammadan” ketika itu) sebelum ke sana. Ia baru ke Mekah ketika mendapat jaminan Kerajaan Ottoman (yang ketika itu menduduki Arab Saudi) agar bisa melakukan penelitian (1884-1885). Sepulang dari Mekah (agaknya ia diusir dari jazirah Arab sebelum musim haji tiba karena mungkin kedoknya ketahuan), ia menulis sebuah buku fotografi berjudul “Mekka” yang judul panjangnya menjadi “Mekka in the Latter Part of 19th Century” (Brill). Lanjutan dari buku ini terus mendasari laporan-laporannya mengenai kehidupan Muhammadan (muslim) pribumi di Mekah, Aceh, Jawa, dan wilayah kolonial Belanda lainnya.

Snouck adalah salah satu orang yang pernah merekam suara orang membaca surat Ad-Dhuha di Mekah. LINK.

Referensi:

Dewa Budjana dan Negarakretagama


Pada awal 1990an, nama Dewa Budjana dikenal sebagai gitaris sebuah band bernama Gigi. Meskipun Gigi pada dasarnya melantunkan lagu-lagu pop rock, ornamen musik di dalam karya-karyanya diwarnai akar jazz Dewa Budjana. Budjana (lahir di Sumba pada 1963) belajar gitar jazz dan klasik secara formal kepada Jack Lesmana (ayah Indra Lesmana) ketika ia juga sekolah di SMA 2 Surabaya.

Pada 1997, ia mengeluarkan album solo bertajuk Nusa Damai yang berisi karya-karya instrumentalnya. Lagu-lagunya memakai chord progresif jazz, rock dan diwarnai etnis Bali. Warna pop juga masih terasa. Selanjutnya, ia mengeluarkan album-album solo lainnya: Gitarku (2000), Samsara (2003), Home (2005), Dawai In Paradise (2011) dan terakhir Joged Kahyangan (2013).

Secara pribadi, saya menyukai beberapa permainan solo Budjana dalam lagu-lagunya: Wanita/Trenggono, Adikku, Kromatik Lagi, Joged Kahyangan, Caka 1922, Takana Juo, Shambala (permainan Balawan untuk pertama kalinya tampil dalam album Budjana), Bunga Yang Hilang. Budjana selalu memasukkan berbagai unsur etnis (Bali, Jawa, Minang, bahkan Jepang) ke dalam musik-musiknya. Ia juga meminta bantuan musisi jazz handal (misal: Indra Lesmana) untuk mengaransemen lagunya. Barometer jazz Indonesia kontemporer dapat diketahui dari album-albumnya yang mengawinkan unsur jazz bebop, fusion, dan etnis Indonesia.

Yang lebih menarik dari album Budjana Dawai in Paradise adalah dimasukkannya sebuah ayat dari sebuah canto kakawin Jawa kuno Negarakretagama (disebut juga Desawarnana; diterbitkan pada 1365).

Diyakini, hampir semua orang Indonesia pernah mendengar nama kitab ini, tapi hanya sebagian kecil yang pernah membaca atau melihat isinya. Alasannya sederhana: isinya memang tidak dipopulerkan dalam pelajaran sekolah. Yang dipopulerkan adalah keberadaan pujangga masa lalu bernama Prapanca yang karyanya itu jadi Memory of the World Unesco. Sebenarnya, ini sama artinya dengan tidak mengenal sama sekali kebudayaan Indonesia. Kita hanya tahu nama, tapi tidak tahu isinya. Sayang sekali. Tapi, isi Kakawin Negarakretagama memang sulit dipahami karena ditulis dalam bahasa Jawa kuno (bahkan mungkin proto-Jawa). Hanya orang Bali yang hingga kini masih melestarikan penguasaan bahasa Jawa kuno (yang digunakaan untuk keperluan ritual agama Hindu). Aksara Jawa kuno ini mungkin dekat sekali kekerabatannya dengan aksara yang dipakai orang Myanmar.

JLA Brandes, ahli bahasa asal Belanda, menyelamatkan sejumlah kitab dari Puri Cakranegara milik Raja Bali di Lombok pada 1894. Pasukan KNIL kemudian membakar puri itu. Kitab-kitab Jawa Kuno bisa sampai di Bali (atau Lombok) karena sebagian penduduk Majapahit memang sebagian bermigrasi ke sana setelah kejatuhan Majapahit pada abad 15. Kejatuhan Majapahit sendiri bukan disebabkan masuknya Islam ke Jawa, tetapi karena konflik internal Majapahit setelah Raja Hayam Wuruk mengasingkan Perdana Menteri Gajah Mada ke Madakaripura, Pasuruan. Salah satu kitab yang diselamatkan Brandes adalah Kakawin Negarakretagama.

Kakawin Negarakretagama sebagian besar berisi perjalanan religius Hayam Wuruk ke candi-candi dan desa-desa di Jawa Timur selama dua bulan. Sebagian lainnya berisi tentang silsilah semua raja jaman Singasari dan Majapahit, wilayah Majapahit, dan Hayam Wuruk sendiri. Tapi ada pula beberapa bagian yang berisi tentang penulisnya, sang pujangga bernama Prapanca.

kakawin-negarakertagama

Satu pupuh yang kemudian ‘dipinjam’ oleh Dewa Budjana untuk dicetak di sampul album Dawai in Paradise adalah Pupuh 96 ayat 2:

tan / tata tita tuten, tan tetes / tan tut iɳ tutur, titik / tantri tateɳ tatwa, tutun / tamtam / titir ttitih.

doc002

Dari buku Negarakretagama yang diterbitkan KITLV Belanda saya scan pupuh itu sebagai berikut:

Negarakertagama2

Sampul depannya:

Negarakertagama1

Dalam bahasa Inggris, ayat di atas diartikan sebagai berikut:

The order of the past is the order that should be followed; not correct is not to follow the tuturs (religious books); conscientiously mind the fables; the order of existence; to be kept down is passion; unceasingly arising.

Pertanyaannya, mengapa Budjana memasukkan ayat itu ke albumnya? 🙂

Diponegoro


Meskipun membacanya sepotong-sepotong, buku The Power of Prophecy (Peter Carey, 2007) memang menarik. Buku ini sudah habis cetakannya, tapi bisa didonlod di sini: http://www.kitlv.nl/book/show/1204

Tidak ada orang Indonesia yang tak mengenal Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa (1825-1830) yang termasyhur itu. “Perang Jawa” atau Java War sendiri mungkin nama pemberian sarjana Barat untuk menetralisir nasionalisme atau mitos. Di Indonesia, kita dengan bangga menyebutnya Perang Diponegoro. Buku dengan judul lengkap The Power of Prophecy – Prince Dipanagara and the end of an old older in Java 1785-1855 ini bukan sembarang buku. Ia merupakan turunan disertasi doktoral yang kemudian ditambah-tambahi berbagai informasi dan diceritakan dengan lebih luwes – tidak terlampau akademik (meskipun pada akhirnya jargon-jargon historiografi berserakan di mana-mana). Tetapi buku ini sungguh lengkap menceritakan Pangeran Diponegoro sebagai lelaki biasa, sebagai keturunan darah biru, sebagai pemeluk Islam yang taat, sebagai orang Jawa yang halus dan harmoni, sebagai pejuang yang membenci Barat (plus orang-orang inlander yang sok ke-Barat-an).

Perang antara kolonial Belanda dan rakyat Jawa ini memang legendaris. Ia menghisap finansial Belanda sampai ke kerak-keraknya. Penyebabnya berentet: jatuhnya Jawa ke Inggris pada awal 1800an, Perang Aceh, kemudian disusul Perang Diponegoro. Belanda mesti mencari cara supaya Perang Diponegoro selesai. Tipu muslihat? Tentu. Tetapi Belanda benar-benar mengetahui bahwa Keraton Yogyakarta kurang bersatu. Ada konflik internal yang kemudian dimanfaatkan dengan baik. Selain itu, pasukan Diponegoro juga kehabisan “nafas”.

Diponegoro

Diponegoro digambar dengan arang oleh seorang tukang gambar keraton Yogyakarta saat beliau akan menikahi istri pertamanya; ini merupakan gambar satu-satunya di mana beliau memakai beskap (dari buku Peter Carey)

Buku ini juga mengupas Babad Diponegoro, sebuah buku harian yang ditulis selama tiga tahun oleh Pangeran Diponegoro sendiri dalam bahasa Jawi (bahasa Jawa dalam huruf hijjaiyah gundul). Babad Diponegoro ditulis selama beliau menjalani hidup sebagai eksil di Makasar. Buku ini juga berisi gambar sketsa dan lukisan yang apik. Yang lebih kontroversial mungkin “skandal” Pangeran Diponegoro dengan seorang tukang pijat warga keturunan. Cerita ini ditulisnya sendiri dalam nada yang menyesal; meski pada akhirnya Carey mesti melakukan interpretasi sendiri terhadap makna di balik itu.

Perang Diponegoro memang berakhir dengan kekalahan Diponegoro, dan kembalinya Jawa secara penuh kepada Belanda. Tetapi Diponegoro menyiratkan (bahkan menyuratkan) persona yang dualis (seorang Jawa yang kebetulan memeluk Islam); seseorang yang mempunyai kharisma, daya, dan dana untuk menghancurkan musuh; seorang yang berperangai tenang tapi juga strategis dan heroik; seseorang yang menjadi eksil tanpa perlawanan.

Akhir dari Perang Diponegoro bukan akhir yang tragis. Tapi akhir yang menyebabkan Yogyakarta tak lagi disebut sebagai Versailles of Java, sebuah kota indah dengan ornamen serta langgam penduduk yang sophisticated.

***

Intermezzo: sejumlah lukisan menyerahnya Pangeran Diponegoro menurut beberapa versi dan interpretasi.

1) De onderwerping van Diepo Negoro aan luitenant-generaal De Kock (Menyerahnya Pangeran Diponegoro kepada Letnan Jenderal De Kock), 28 Maret 1830, yang disimpan di Rijksmuseum Amsterdam,  karya Nicolaas Pieneman (yang tidak pernah menjejakkan kaki ke jawa)

Nicolaas_Pieneman_-_The_Submission_of_Prince_Dipo_Negoro_to_General_De_Kock

2) Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857 (Raden Saleh)

capture7126

3) Indieguerillas atau Gerilyawan di Hindia Belanda, 2013 (Santi Ariestyowanti) – dengan meminjam gaya komik Tintin karya Hergé

diponegoro-herge

G30S


G30S atau Gerakan 30 September (zonder kata “PKI”) menandai era baru. Era ini mungkin punya karakteristik berikut: rencana-yang-berantakan, sikap oportunis, gerakan militer, hegemoni, egoisme, dan ideologi. Ujungnya kita semua tahu: 6 jenderal + 1 perwira tewas mengenaskan, kemudian disusul oleh matinya ratusan ribu orang yang dikategorikan “kiri” alias PKI.

Seringkali kita lupa: bahwa yang mati-mati itu adalah saudara kita sendiri.

Teori dan spekulasi mengenai dalang di balik G30S bersliweran di ruang kuliah, ruang kelas, gedung dewan, ruang rapat, gedung bioskop, televisi dan buku. Tidak ada konklusi tunggal yang dengan khidmat dianut soal siapa dalang di balik itu. Selama 48 tahun (hampir lima dekade) pencarian sang dalang tak kunjung usai. Mengapa? Karena setiap orang punya agenda sendiri – bukan mencari kebenaran dan jujur kepada diri sendiri, tetapi nafsu untuk dipuji karena berhasil menemukan jawaban tunggal. Ini menggelikan karena kebenaran senantiasa dinamis; ia selalu multiinterpretasi. Bahkan “tuhan” pun dimaknai berbeda-beda oleh 6 miliar manusia di muka bumi.

Pada 80an, saya menyaksikan dengan seksama rekonstruksi sejarah pada 1965 itu. Bagaimana PKI membunuhi para petinggi militer, dan bagaimana akhirnya PKI ditumpas. Setiap murid wajib menonton film G30S/PKI. Esoknya kita semua berkumpul di jam istirahat dan membicarakannya. Guru-guru mengingatkan kembali bahaya laten komunis. Di sini jelas: “komunis” adalah pihak yang berdosa, oleh sebab itu mereka selayaknya dibantai. Titik.

Tetapi pembunuhan tak berhenti di situ. Film lain yang diproduksi pemerintah keluar lagi. Pada 1966, Blitar Selatan, tempat sisa-sisa PKI, dibersihkan oleh tentara. Telapak tangan semua orang diperiksa. Mereka yang menyamar sebagai petani, tetapi telapaknya halus, segera diciduk. Tak ada petani bertelapak mulus. Ia pasti penulis, atau pengurus PKI yang sehari-harinya memegang dokumen dan pensil, bukan pacul dan sabit.

Di Bondowoso, pada 80an, saya pernah bertanya kepada ayah: siapa itu seorang lelaki yang punya rumah luas tetapi tak nampak bekerja? Jawabannya singkat: Ia PKI. Oleh sebab itu ia tak dapat diterima bekerja di manapun. Kasihan sekali. Namun, pikiran ini tidak mampu untuk memahami mengapa label “PKI” sedemikian kritis sehingga mencari makan pun susah.

Hari ini, tidak banyak yang saya (atau bahkan kita) tahu soal G30S. Tidak ada pemahaman tunggal. Tidak ada sumber yang dianggap absolut sebagai kunci jawaban. Padahal, masing-masing dari kita menunggu. Menunggu untuk mengetahui apa yang baik, apa yang tidak baik pada masa lalu. Kita tak boleh melakukan kesalahan yang sama. Kecuali kita ingin dianggap bangsa yang bodoh selamanya. Bangsa yang tak memahami apa yang terjadi pada masa lalunya. Lalu mengulang kesalahan yang sama. Sama persis, pula.

G30S punya banyak aktor dari sekian ribu teori: Soekarno, Cakrabhirawa, C.I.A., TNI-AU, Dewan Jenderal, PKI, Suharto, dan banyak lagi lainnya. Tapi di sini, saya tak hendak mengusulkan jawaban. Hanya sebuah spekulasi yang jika salah ia tak mempengaruhi apa pun dalam sejarah kita. Ini hanya random notes dari membaca sana-sini secara “liar”.

Mari kita mulai.

Dewan Jenderal itu mungkin ada. Dewan ini bermula dari ketidakpuasan para jenderal kepada Presiden Soekarno yang dianggap memimpin dengan seenaknya. Demokrasi Terpimpin, dekat dengan PKI, dekat dengan Uni Sovyet, rakyat semakin melarat. Salah satu cara untuk menghapuskan itu adalah dengan menggulingkan Soekarno. Rapat demi rapat dilakukan oleh Dewan Jenderal. Mungkin belum sampai saat memutuskan sebuah aksi yang konkrit.

Ketika Soekarno mendengar isu adanya Dewan Jenderal ini, ia marah. Ini pengkhiatan kepada pemimpin tertinggi negara. Oleh sebab itu, meski jenderal sekalipun, perlu diberantas. Chakra Bhirawa diminta kesetiaannya, dan menumpas mereka. Satu per satu jenderal yang disinyalir termasuk dalam Dewan Jenderal diciduk, dan dibunuh. Ada yang lolos, yaitu A.H. Nasution. Pada saat kejadian 30 September, Soekarno baru saja mengantar Dewi Soekarno ke rumahnya. Soekarno berjanji kepada Dewi akan kembali esoknya.

Di lain pihak, C.I.A. terus memantau Indonesia. Indonesia terlalu condong ke Uni Sovyet dan Cina. Ini menggeramkan bagi Amerika. Amerika memasang mata-mata di mana-mana. Ia pun membayar Soeharto, panglima Kostrad yang tidak tahu menahu soal Dewan Jenderal. C.I.A. pun membayar Soeharto dan memberinya daftar orang-orang yang harus dibunuh. Yang harus dibunuh bukan Soekarno, tetapi orang-orang PKI. C.I.A. tahu bahwa Soekarno bukan komunis.

Soeharto gerak cepat. Ia segera mengeluarkan perintah bahwa negara dalam keadaan darurat. Militer digerakkan, dan ia memberantas PKI, sesuai pesanan C.I.A. Intinya hanya satu: PKI lah otak pembunuhan para jenderal. PKI ini dibantu oleh Chakra Bhirawa dan TNI-AU.

Setelah PKI diberantas mendadak, Soeharto segera mengamankan Soekarno ke Istana Bogor. Soekarno mesti dibunuh secara perlahan; tidak mendapat perawatan yang baik ketika sakit. Konon, hanya dokter hewan yang dikirim untuk merawatnya. Di tengah sakitnya itu, Soeharto meminta Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Intinya: Soeharto dijadikan presiden untuk menggantikannya.

images

Pada akhirnya, Soeharto memang menjadi presiden. Ia berhasil memuaskan dirinya, sekaligus C.I.A. Amerika tentu girang. Hubungan AS-Indonesia pulih kembali. Kerjasama pun dibangun. Keuntungan kerjasama itu masuk ke keluarga Soeharto, dan segelintir orang lainnya. Amerika pun juga senang. Asia-Pasifik nampaknya cukup kuat dipegang setelah itu. AS kemudian dapat berkonsetrasi sepenuhnya untuk menumpas Vietnam Utara yang masih komunis. Perang Vietnam antara 65-75 berakhir dengan kekalahan AS, meski pada akhirnya Vietnam jadi tunggal belakangan ini.

Ketika Soeharto memimpin, semua divisi militer yang terlibat G30S dikotakkan. Orang-orangnya dipecat atau diberantas. Setelah 1968, ekonomi Indonesia mulai bangkit lagi. Bantuan asing masuk. Indonesia menjadi kapitalis, seperti yang diharapkan AS.

Jadi, kesimpulannya, siapa dalang G30S? Tidak ada yang tahu. Karena gerakan itu adalah skema yang saling silang berbagai kepentingan. Tidak ada penyebab tunggal. Yang ada hanya adu kekuatan belaka.

Tapi pelajaran yang kita tarik adalah satu: ternyata kita masih mudah dipecah belah oleh asing. Asing dalam hal ini adalah ideologi Barat, dan orang Barat. Orang luar tentu senang melihat kita berantakan, karena pesaing jadi berkurang satu. Mengapa kita sulit sekali rukun? Perbedaan adalah rahmat, rejeki supaya kita bisa saling kenal dan tolong menolong. Bukan saling menjegal, atau bahkan membunuh. Padahal kita hanya ingin ketenangan hidup, tetapi seringkali kita masih dikendalikan nafsu untuk berkuasa dan mencari untungnya sendiri (egois).

Sekali lagi, era itu ditandai oleh karakteristik ini: rencana-yang-berantakan, sikap oportunis, gerakan militer, hegemoni, egoisme, dan ideologi. Tidak ada sebab tunggal. Upaya dekonstruksi sejarah G30S pasti menemui jalan buntu. Saksi banyak yang mati, dokumen banyak yang musnah.

Saat ini yang penting hanya satu: rukunlah dengan bangsamu, dan jangan mau dikendalikan orang asing.

Tipping Point


Setiap orang punya tipping point. Tipping point berarti sebuah titik (waktu yang terikat tempat) dimana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, tetapi titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.

Tipping-point

Terminologi ini kurang tahu juga berasal dari siapa. Tetapi seorang yang berjasa mempopulerkannya adalah penulis buku Amerika Malcolm Gladwell. Bukunya Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference (2000) membuat orang tersadar bahwa masing-masing dari kita hidup seperti sekarang ini karena suatu alasan yang subtil, yang halus. Dan sering tidak kita sadari. Alasan ini berbentuk materi, dan tidak bersifat spiritual atau ilahiyah. Jika spiritual ia mungkin dinamakan hidayah dalam Islam. Ada dua proposisi yang diajukan Gladwell. Yang pertama adalah “epidemik sosial sangat ditentukan oleh sekumpulan orang yang memiliki bakat sosial yang khusus dan jarang dijumpai di kumpulan lain”. Yang kedua adalah “Prinsip 80/20. 80% kerja yang diperlukan untuk menciptakan situasi tertentu ditentukan oleh 20% orang saja”. Gladwell mendasarkan proposisinya kepada statistik dan psikologi. Dua cabang ini digunakannya untuk memahami fenomena sosial yang terjadi pada abad 21. Sebagian berlaku di AS, sehingga sifatnya kontekstual, tetapi ada juga yang sifatnya universal dan menembus batas negara, budaya dan bahasa.

Buku yang terbit 13 tahun lalu ini nampaknya tidak akan usang. Alasannya, seseorang ingin memahami istilah tipping point; kemudian ingin memahami perubahan yang terjadi di dalam dirinya atau lingkungannya; kemudian ingin mengetahui sejauh mana istilah tipping point itu dapat merepresentasikan kehidupan di sekelilingnya. Intinya, tipping point adalah sebuah terma untuk merefleksikan diri.

Sayangnya, ia tidak punya kemampuan prediktif. Tipping point adalah soal after-the-fact. Ia dapat dianalisis ketika sudah terjadi. Jika belum terjadi Gladwell tidak punya alat, faktor atau parameter untuk membantu kita mengidentifikasi akankah terjadi perubahan dahsyat dalam hidup kita karena suatu titik. Contohnya ini. Apakah ketika kita minum kopi pertama kali (pada umur 7 tahun, misalnya) menyebabkan kita mencintai kopi setengah mati, dan akhirnya membuka kafe yang semasyhur Starbuck? Kita tidak tahu. Apakah ketika Musso (tokoh komunis itu) mengenal kata женщина (zhenshchina) atau femme, yang berarti wanita, di sebuah majalah Barat, kemudian membuatnya mencintai paham komunis dan berkelana ke Uni Soviet dan Perancis, kemudian melawan Belanda, dan berujung pada pembentukan Republik Soviet Indonesia? Tidak ada yang tahu.

Tipping point adalah sebuah titik yang kita ketahui setelah semuanya terjadi dan terjelaskan dengan baik. Tapi, titik ini kadang tidak hanya satu. Ia merupakan perpotongan (intersection) dari pelbagai garis kehidupan orang lain juga; yang sulit dikendalikan karena acak dan didorong motivasi yang sifatnya spiritual (agama, tuhan, pencarian makna hidup), material (uang, hubungan keluarga) dan absurd (tanpa tujuan jelas – lebih ke estetika dan sisi eksentrik).

***

Pada 1999, saya pernah diajak seorang kawan urang awak (Minang, tapi lahir di Medan) untuk makan masakan padang di sebelah Masjid Salman. Setelah makan, kami biasanya pergi ke kios buku di dekat situ. Buku-bukunya ditumpuk, rata-rata baru terbit karena 1998 merupakan tahun yang membebaskan penerbit untuk merilis buku apa saja – dari yang “kanan” sampai “kiri”. Pemahaman generasi muda ketika itu tentang Islam fundamentalis mungkin didapatkan di sana. Buku-buku terjemahan dari Timur Tengah begitu banyak. Begitu juga pemahaman anak-anak tentang istilah communist manifesto, liberalisme, dan mendadak suka dunia sophie (filsafat).

Pada saat itu, kawan saya memperlihatkan sebuah buku berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Franz Magnis-Suseno). Saya yang tidak suka membaca hanya mengenal wajah Marx yang berjanggut. Wajahnya populer, dan saya tahu nama itu dari Buku 100 Tokoh. Mengenai pemikirannya, saya tidak tahu sama sekali. Tidak tertarik. Buat apa? Komunis dulu pernah bikin onar, dan memahami pemikirannya sama artinya dengan mengembalikan potensi keonaran itu.

marx

Tapi, akhirnya buku itu saya pinjam. Dan, saya terserap ke dalamnya. Mungkin ini disebabkan karena tulisan Romo Magnis-Suseno yang mudah dipahami, runtut dan sederhana. Mungkin pula karena pemikiran komunisme itu tidak datang tiba-tiba, tetapi dilatarbelakangi oleh kisah romantis antara Marx dan istrinya, atau persahabatan yang tak lekang antara Marx dan pengusaha Inggris, Frederich Engels. Saya sendiri tidak tahu. Tetapi yang akhirnya saya tahu dan rasakan: saya tidak berhenti membaca. Saya terus mencari buku-buku lain (Das Kapital, Mein Kampf, Thus Spake Zarathustra dan lain-lain). Membaca apa saja. Apa yang orang lain baca, saya baca juga. Bukan ingin kompetisi, tapi ingin memahami apa yang orang lain pahami; jadi kalau ngobrol bisa nyambung. Saya juga ingin menyelami semua pemikiran dan sejarah dunia. Mengapa dunia ini jadi seperti ini? Mengapa banyak sekali isme yang kemudian menjadikan Indonesia seperti ini?

Buku Marx yang diperkenalkan oleh kawan saya itu, singkatnya, adalah titik perubahan, atau tipping point. Buku itu pada akhirnya membuat saya melihat dunia dengan wajah yang berbeda. Buku itu membuat saya menyukai “menulis”. Menulis, pada akhirnya, menghasilkan keasyikan tersendiri. Tulisan yang persuasif sangat membius dan dapat membuat orang lain bergerak. Dengan tulisan, seseorang mampu mengubah persepsi dan memperkaya, atau bahkan dikritisi. Tanpa kritik, pemahaman kita akan kehidupan tidak akan berkembang.

Pada akhirnya, tipping point adalah soal manusia dan persepsi terhadap dirinya.

Jawa dan Jepang


Pada 2004, artikel Prof. Ann Kumar (Visiting Fellow di Australian National University) terbit sebagai newsletter di International Institute of Asian Studies IIAS #34 yang berbasis di Leiden. Artikelnya berjudul Japan’s Javanese Connection. Artikelnya dapat diunduh di sini >> PDF. Artikel pendek ini lahir di sela-sela tulisan yang lebih panjang. Misalnya:

Intinya, sebenarnya ada hubungan yang cukup dekat antara Jepang dan Jawa.

Hubungan tersebut bukan terbangun sejak Perang Dunia II, tapi sejak 2000 tahun silam. Antara 300 SM – 300 M, mendadak masyarakat Jepang purba (periode Yayoi) menjadi pandai bercocok tanam, pandai membuat peralatan dari logam, mempunyai struktur sosial dan punya agama yang terpusat. Kumar menyebutnya a revolutionary transformation, sebuah perubahan yang revolusioner. Kumar berpendapat bahwa perubahan ini tidak berasal dari dalam Jepang, tapi dari hasil mengimpor budaya dari luar, khususnya Jawa. Keris Jawa dan pedang Jepang pada jaman purba itu dikatakan mirip, meskipun agak meragukan juga karena artifak keris Jawa pada periode itu dapat dikatakan sulit dicari.

Tapi ada pula fakta sejarah lain yang dianalisis dengan strategi consilience of induction (induksi pertepatan). Strategi ini secara sederhana mengatakan bahwa seseorang mengumpulkan bukti-bukti dari berbagai sumber yang tidak saling berhubungan tetapi kemudian jika disatukan memberikan kesimpulan yang sama. Charles Darwin pernah menggunakan strategi kesejarahan semacam ini.

Fakta-fakta sejarah lain yang menarik adalah:

  1. Beras Jawa (javanica) punya kekerabatan paling dekat dengan beras Jepang (japonica)
  2. Mitos mengenai sosok Dewi Sri juga dikenal dalam mitologi Jepang
  3. Cerita Panji jaman Majapahit dan Genji Monogatari (Hikayat Genji) abad 17 mempunya kemiripan jalan cerita
  4. Agama Shinto di Jepang memiliki nilai-nilai yang mirip dengan Kejawen
  5. DNA mitokondria orang Jepang dan orang Jawa memiliki kesamaan dalam hal lokasi d-loop (simpul ‘d’)
  6. Bahasa Jepang kuno sebagian meminjam dari Jawa kuno. Misal: matur dalam bahasa Jawa berarti mempersembahkan atau mengatakan sesuatu kepada yang lebih dihormati; di Jepang kuno, artinya juga mirip. Selain itu, kata sosok (dituang) dan tutup yang artinya dalam Jepang kuno juga mirip.

konde-jawa

Pada 1990, buku Dr John Miksic (National University of Singapore), Marcello Tranchini berjudul Borobudur: Golden Tales of the Buddha meledak di pasaran. Buku ini muncul beberapa tahun setelah bom diledakkan di Borobudur pada 1985, dan jauh setelah Dr R. Soekmono melaporkan ke UNESCO mengenai keberhasilan pemugarannya dalam buku Chandi Borobudur (1976). Dari buku John Miksic, ada sebuah cerita yang menarik tentang catatan-catatan Yijing, seorang rahib Buddha dari Tiongkok.

Pada abad ke-7, Yijing datang ke Kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan pada tahun 671, dan belajar bahasa Sansekerta selama 6 bulan. Ia kemudian berlayar dengan kapal kerajaan Sriwijaya ke India, dan tinggal di India selama 15 tahun. Setelah itu, ia kembali ke Sriwijaya lagi dan tinggal selama 5 tahun. Agama Buddha berkembang pesat di Kerajaan Sriwijaya, sehingga banyak rahib Tionghoa datang ke sana. Ada seorang guru Buddhisme dari India yang terkenal bernama Vajrabodhi. Vajrabodhi awalnya tinggal di Kerajaan Sriwijaya, tapi kemudian pergi ke Jawa dan mempunyai banyak murid, di antaranya Amoghavajra dari Sri Lanka. Mereka berdua (mungkin juga didampingi rahib lain) kembali ke China hingga Vajrabodhi meninggal di sana pada tahun 741. Amoghavajra kemudian pergi ke Jawa untuk mengambil beberapa kitab untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Cina. Setelah meninggal, ajaran-ajarannya di Tiongkok lalu diteruskan oleh muridnya bernama Huiguo. Huiguo mempunyai dua murid yang cukup termasyhur. Yang satu bernama Bianhung dari Jawa, yang satunya bernama Kobo Daishi dari Jepang. Dua rahib ini mempunya nilai-nilai yang sama dalam beragama. Kobo Daishi akhirnya kembali ke Jepang dan membuat suatu sekte Buddha tertua di Jepang bernama Buddhisme Shingon atau Shingon-shu. Menarik untuk dipelajari apakah berawal dari Buddhisme ini ada pula nilai-nilai/etika Jawa dan Jepang yang punya kemiripan satu sama lain?

Thailand (2)


Akhirnya, penerjemahan buku Journeys to Java by Siamese King (Imtip Pattajoti Suharto, 2012) selesai juga. Dua minggu yang lalu terjemahannya tidak sempurna, tapi seminggu kemudian udah mulai mendingan. Seperti dalam tulisan sebelumnya (Thailand), bentuk buku tentang Raja Siam ke Jawa itu sedang dipikirkan. Sulit sekali mencari bentuk buku yang enak dibaca, apalagi tentang kunjungan seseorang (bahkan seorang raja) yang perannya tidak signifikan bagi Indonesia. Raja Chulalongkorn sebenarnya adalah raja yang cukup berpengaruh di Siam (Thailand) pada akhir abad 19. Ia membawa Siam ke masa modernisasi, peradaban dan pem-Barat-an. Ia yang menghentikan secara berangsur-angsur perbudakan di Siam. Ia yang membuat Siam tetap merdeka berdaulat. Tapi, bahkan dengan citra atau imaji seperti itu saja gaungnya tidak terdengar di Indonesia, apalagi pengaruhnya. Ada sebuah pertanyaan dari Pak Djoko Suharto dalam suratnya: “Apa manfaat dari kunjungan Raja Siam ke Jawa bagi bangsa kita?” yang sekiranya dapat dijadikan judul (kata beliau). Sulit juga menjawabnya.

Baru pagi ini, setelah keluar dari ‘kamar ide’ (baca: toilet!), bentuk buku sudah kebayang. Intinya adalah: seseorang hanya tertarik dengan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Kalaupun dulu sejumlah ilmuwan Barat mati-matian menerjemahkan atau menafsirkan Desawarnana atau Negarakrtama (Mpu Prapanca) itu tidak lain untuk banyak sebab: (i) duit riset dari pemerintah atau universitas dikucurkannya untuk topik-topik seperti itu, (ii) dapat dijadikan studi kasus untuk menguji kemampuan filologi seseorang, (iii) termotivasi oleh buku karangan Letnan-Jenderal Inggris Sir Stamford Raffles yaitu History of Java (1817), (iv) dan lain-lain. Semua berhubungan dengan dirinya, harga dirinya, kebanggan dan kejayaan (dirinya!). Jadi, menulis tentang perjalanan Raja Chulalongkorn ke Jawa harus mengupas tuntas tentang Indonesia, bukan tentang Raja Chulalongkorn.

Menulis sejarah itu susah ternyata. Apalagi tidak pernah ambil kuliah sejarah, sosiologi dan lain-lain yang berhubungan. Tapi di internet banyak juga tips-tips menulis sejarah. Yang paling menohok karena bermanfaat adalah dari Harvard University (A brief guide to writing the history paper) Link. Inti dari menulis sejarah adalah selection dan interpretation. Pilih topik, pilih periode yang paling signifikan. Interpretasi, artikan topik atau periode itu. Ambil esensinya. Orang tidak punya cukup umur untuk menulis tentang sejarah, karena saking banyaknya informasi. Tapi ambil topik yang paling menarik. Banyak lagi, info lainnya dalam artikel pendek itu. Sebagai hints!

Apa yang anda anggap menarik tentang Jawa pada tahun 1896-1901? Ingin tahu apa tentang Jawa pada jaman itu? Chulalongkorn mencatat hampir semua aspek. Tidak rinci, tapi ada.

Oiya, malam ini kiriman buku baru sudah tiba: A True Hero – King Chulalongkorn of Siam’s Visit to Singapore and Java in 1871. Buku yang dibeli online ini tidak lain adalah PhD thesis yang ditulis kawan baru bernama Dr Kannikar Sartraproong (kini bermukim di US). Bukunya merah, Jenderal!

kannikar

Skip and skim:

  • Di dalamnya tidak ada foto! Di luarnya aja (sampul) ada dua foto. Di dalamnya ada bahasa Inggris, Belanda, Thai dan Melayu tempo doeloe. Lucu kayaknya nih.
  • Chulalongkorn paling seneng pas datang ke Jawa – disambut habis sama Belanda. Alasannya, Belanda tidak ingin kehilangan muka sama Inggris waktu Chulalongkorn mengunjungi Singapura. Di Singapura, Chulalongkorn disambut habis juga soalnya. Belanda bingung mau menyambut Chulalongkorn: Raja Jawa ya bukan … Raja Belanda juga bukan … Raja negara Eropa juga bukan … sinten sampeyan?
  • Kayaknya buku Kannikar ini banyak info dari koran jaman dulu (sumber primer!) dari berbagai bahasa
  • Patung gajah di depan Museum Nasional Jakarta itu terbuat dari apa hayo? Masih kontroversi: Orang Thailand bilang itu logam dasar dicampur emas; orang Inggris bilang itu kuningan (campuran tembaga dan seng); orang Belanda bilang itu perunggu (campuran tembaga dan timah). Ahli metalurgi, ayo coba dites!