Menulis dan sedikit tips


Prelude

Menulis pada dasarnya mengabadikan informasi. Informasi ini ada yang berupa berita alias hard news, ada juga yang berupa opini dan fitur (feature). Ketiganya campur-aduk di dunia nyata dan maya. Jumlahnya juga begitu masif, sehingga sulit bagi kita mengingat atau mencernanya; jangan lagi memverifikasi kebenarannya. Tetapi, hidup kita (sayangnya atau untungnya?) sebagian dikendalikan oleh informasi berupa tulisan. Berita, opini, fitur menjadi hegemoni (kekuatan dominan). Yang paling dominan tentunya adalah pemilik kantor berita. Ia dapat mengendalikan opini, pikiran, bahkan emosi pemirsanya.

Saya sendiri sering membaca koran online. Yang dibaca tentunya berita. Kadang-kadang membaca opini atau kolom juga. Tapi sekarang agak mengurangi. Berita-berita, meskipun nyata, seringkali membuat mood jadi murung. Sebabnya sederhana: bad news is a good news. Yang sial dan kontroversial; yang heboh dan tidak senonoh; yang lemah dan berdarah-darah; semua itu menyerap pemirsa. Bisikannya: jangan sampai dilewatkan berita macam ini! Padahal, berita boleh jadi diplintir karena koran juga punya kepentingan: oplaag!

It boils down to money and fame.

Oleh sebab itu, saya lebih suka dokumenter, dan wawancara langsung (live). Keduanya berbeda; tetapi disajikan dengan persiapan yang matang. Dokumenter seringkali mengupas latar belakang sesuatu sehingga meningkatkan pemahaman. Wawancara: kita mampu merekam dan menilai apa yang diomongkan seseorang; bukan apa yang wartawan tulis tentang omongan itu.

Tips menulis

Ketika beres-beres meja hari ini, saya menemukan catatan lama tentang bagaimana menulis berita. Catatan itu saya buat setelah mengikuti workshop penulisan berita dan opini di Tokyo. Ada dua pembicara. Pertama, Richard Susilo, seorang wartawan yang berbasis di Tokyo. Dia punya kursus bahasa Jepang bernama Pandan College. Yang kedua, Agus Fanar Syukri, peneliti LIPI dan penulis lepas untuk koran-koran di tanah air. Apa yang disampaikan mereka cukup bermanfaat, khususnya mengenai bagaimana menulis berita dan opini di koran.

Menulis berita

  • Berita punya ciri ini: hal-hal penting ditaruh di depan (paragraf awal), bagian kurang penting ditaruh di belakang.
  • Berita harus punya judul yang menarik
  • Berita punya elemen berikut: 5W + 1H (what, who, when, where, why, how) atau menurut Richard, disebutnya ASDAMBA (apa, siapa, di mana, mengapa, bagaimana – sayangnya “kapan” kok tidak ada?)
  • Meskipun rinci, berita harus ditulis dengan bahasa yang dapat dipahami anak SD
  • Kalimat berita harus pendek-pendek, berisi elemen subjek + predikat + objek (SPO) atau SPOK (ditambah keterangan)
  • Paragraf pertama dari berita harus menarik, dan membuat pembaca ingin tahu kelanjutannya
  • Ketika menulis berita, kita harus punya kode etik: jangan menjiplak, tulis kenyataannya, referensi harus jelas

Menulis opini

  • Opini adalah tulisan yang berisi pandangan dan wawasan pribadi mengenai suatu masalah yang aktual dan berkenaan dengan kepentingan publik; opini bukan berita atau saduran
  • Menulis opini berarti melapangkan jalan sebagai intelektual publik
  • Elemen opini: masalah – ide – data – kesimpulan
    • Masalah: apa yang tengah dipermasalahkan publik saat ini? Cari masalah/tema yang sesuai keahlian, yang aktual dan sesuai momentum; cari yang luar biasa atau aneh
    • Ide: apa ide anda dalam menyelesaikan masalah itu?
    • Data: data apa yang anda gunakan untuk mendukung ide tersebut? Data harus akurat; sertakan grafik bila perlu; gunakan pendapat para ahli untuk mendukung opini anda
    • Kesimpulan: sebelum menyimpulkan, analisis data-data di atas menurut pandangan pribadi; kemudian simpulkan dengan bahasa yang sederhana
  • Elemen ini mesti tetap ada: 5W + 1H
  • Bahasa harus populer, paling tidak dapat dipahami oleh murid SMP. Meskipun demikian, bahasa yang digunakan harus punya nilai tambah bagi pembacanya: punya karakter atau ciri khas, kaya akan kosakata, sesuai dengan kompetensi
  • Bagaimana meningkatkan kosakata dalam menulis? Banyak-banyaklah membaca buku yang non-fiksi, juga kolom opini; catat kosakata baru yang ditemukan, pahami artinya
  • Paragraf pertama harus menarik; cari tokoh atau sosok untuk menggambarkan kejadian
  • Kalimat harus koheren: kalimat pertama berhubungan dengan kalimat selanjutnya; paragraf pertama berhubungan dengan paragraf selanjutnya
  • Usahakan satu paragraf berisi satu ide saja

Tapi satu hal yang paling penting dari semuanya adalah berlatih menulis. Kemungkinan ini akan memenuhi kaidah 10 jam sesuai dengan usulan Malcolm Gladwell. Belajar menulis selama 10 jam per hari selama 10 tahun tanpa henti, mungkin akan membawa anda memenangkan Pulitzer! Who knows?

Another tips:

10 Cs to become a good writer: commitment, consistent, capability, character, competence, contextual, credibility, cool (ini gak tahu apa maksudnya!), conversation, community.

Tipping Point


Setiap orang punya tipping point. Tipping point berarti sebuah titik (waktu yang terikat tempat) dimana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, tetapi titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.

Tipping-point

Terminologi ini kurang tahu juga berasal dari siapa. Tetapi seorang yang berjasa mempopulerkannya adalah penulis buku Amerika Malcolm Gladwell. Bukunya Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference (2000) membuat orang tersadar bahwa masing-masing dari kita hidup seperti sekarang ini karena suatu alasan yang subtil, yang halus. Dan sering tidak kita sadari. Alasan ini berbentuk materi, dan tidak bersifat spiritual atau ilahiyah. Jika spiritual ia mungkin dinamakan hidayah dalam Islam. Ada dua proposisi yang diajukan Gladwell. Yang pertama adalah “epidemik sosial sangat ditentukan oleh sekumpulan orang yang memiliki bakat sosial yang khusus dan jarang dijumpai di kumpulan lain”. Yang kedua adalah “Prinsip 80/20. 80% kerja yang diperlukan untuk menciptakan situasi tertentu ditentukan oleh 20% orang saja”. Gladwell mendasarkan proposisinya kepada statistik dan psikologi. Dua cabang ini digunakannya untuk memahami fenomena sosial yang terjadi pada abad 21. Sebagian berlaku di AS, sehingga sifatnya kontekstual, tetapi ada juga yang sifatnya universal dan menembus batas negara, budaya dan bahasa.

Buku yang terbit 13 tahun lalu ini nampaknya tidak akan usang. Alasannya, seseorang ingin memahami istilah tipping point; kemudian ingin memahami perubahan yang terjadi di dalam dirinya atau lingkungannya; kemudian ingin mengetahui sejauh mana istilah tipping point itu dapat merepresentasikan kehidupan di sekelilingnya. Intinya, tipping point adalah sebuah terma untuk merefleksikan diri.

Sayangnya, ia tidak punya kemampuan prediktif. Tipping point adalah soal after-the-fact. Ia dapat dianalisis ketika sudah terjadi. Jika belum terjadi Gladwell tidak punya alat, faktor atau parameter untuk membantu kita mengidentifikasi akankah terjadi perubahan dahsyat dalam hidup kita karena suatu titik. Contohnya ini. Apakah ketika kita minum kopi pertama kali (pada umur 7 tahun, misalnya) menyebabkan kita mencintai kopi setengah mati, dan akhirnya membuka kafe yang semasyhur Starbuck? Kita tidak tahu. Apakah ketika Musso (tokoh komunis itu) mengenal kata женщина (zhenshchina) atau femme, yang berarti wanita, di sebuah majalah Barat, kemudian membuatnya mencintai paham komunis dan berkelana ke Uni Soviet dan Perancis, kemudian melawan Belanda, dan berujung pada pembentukan Republik Soviet Indonesia? Tidak ada yang tahu.

Tipping point adalah sebuah titik yang kita ketahui setelah semuanya terjadi dan terjelaskan dengan baik. Tapi, titik ini kadang tidak hanya satu. Ia merupakan perpotongan (intersection) dari pelbagai garis kehidupan orang lain juga; yang sulit dikendalikan karena acak dan didorong motivasi yang sifatnya spiritual (agama, tuhan, pencarian makna hidup), material (uang, hubungan keluarga) dan absurd (tanpa tujuan jelas – lebih ke estetika dan sisi eksentrik).

***

Pada 1999, saya pernah diajak seorang kawan urang awak (Minang, tapi lahir di Medan) untuk makan masakan padang di sebelah Masjid Salman. Setelah makan, kami biasanya pergi ke kios buku di dekat situ. Buku-bukunya ditumpuk, rata-rata baru terbit karena 1998 merupakan tahun yang membebaskan penerbit untuk merilis buku apa saja – dari yang “kanan” sampai “kiri”. Pemahaman generasi muda ketika itu tentang Islam fundamentalis mungkin didapatkan di sana. Buku-buku terjemahan dari Timur Tengah begitu banyak. Begitu juga pemahaman anak-anak tentang istilah communist manifesto, liberalisme, dan mendadak suka dunia sophie (filsafat).

Pada saat itu, kawan saya memperlihatkan sebuah buku berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Franz Magnis-Suseno). Saya yang tidak suka membaca hanya mengenal wajah Marx yang berjanggut. Wajahnya populer, dan saya tahu nama itu dari Buku 100 Tokoh. Mengenai pemikirannya, saya tidak tahu sama sekali. Tidak tertarik. Buat apa? Komunis dulu pernah bikin onar, dan memahami pemikirannya sama artinya dengan mengembalikan potensi keonaran itu.

marx

Tapi, akhirnya buku itu saya pinjam. Dan, saya terserap ke dalamnya. Mungkin ini disebabkan karena tulisan Romo Magnis-Suseno yang mudah dipahami, runtut dan sederhana. Mungkin pula karena pemikiran komunisme itu tidak datang tiba-tiba, tetapi dilatarbelakangi oleh kisah romantis antara Marx dan istrinya, atau persahabatan yang tak lekang antara Marx dan pengusaha Inggris, Frederich Engels. Saya sendiri tidak tahu. Tetapi yang akhirnya saya tahu dan rasakan: saya tidak berhenti membaca. Saya terus mencari buku-buku lain (Das Kapital, Mein Kampf, Thus Spake Zarathustra dan lain-lain). Membaca apa saja. Apa yang orang lain baca, saya baca juga. Bukan ingin kompetisi, tapi ingin memahami apa yang orang lain pahami; jadi kalau ngobrol bisa nyambung. Saya juga ingin menyelami semua pemikiran dan sejarah dunia. Mengapa dunia ini jadi seperti ini? Mengapa banyak sekali isme yang kemudian menjadikan Indonesia seperti ini?

Buku Marx yang diperkenalkan oleh kawan saya itu, singkatnya, adalah titik perubahan, atau tipping point. Buku itu pada akhirnya membuat saya melihat dunia dengan wajah yang berbeda. Buku itu membuat saya menyukai “menulis”. Menulis, pada akhirnya, menghasilkan keasyikan tersendiri. Tulisan yang persuasif sangat membius dan dapat membuat orang lain bergerak. Dengan tulisan, seseorang mampu mengubah persepsi dan memperkaya, atau bahkan dikritisi. Tanpa kritik, pemahaman kita akan kehidupan tidak akan berkembang.

Pada akhirnya, tipping point adalah soal manusia dan persepsi terhadap dirinya.

Thailand (1)


Sebenarnya tidak pernah merasa dekat, atau pun merasa jauh, dengan Thailand. Waktu kecil, teman-teman SD menyebut Thailand sebagai “negeri gajah putih”. Kita tidak tahu persis artinya apa – asalnya dari mulut ke mulut. Padahal, bendera Thailand dari 1855 – 1917 ada gambar gajah putihnya. Padahal juga, bendera itu pernah dikibarkan di Hindia Belanda: berjajar di sepanjang jalan dari stasiun kereta hingga hotel di sela-sela bendera Belanda, untuk menyambut kedatangan Raja Thailand bernama Chulalongkorn di tanah Jawa, atau Hindia Belanda (abad 18-19). Saya juga tidak pernah berinteraksi dengan warga Thailand, kecuali pada 2003 saya harus mengurus dokumen yang dikirim ke Bangkok, dan berkirim email dengan seorang penulis Thailand.

Pada 1999, film Anna and the King muncul. Film yang meledak di Indonesia ini dibintangi Jodie Foster dan Chou Yun-Fat. Ia bercerita tentang kisah seorang guru wanita bernama Anna Leonowens asal Inggris yang disewa Raja Mongkut (ayah dari Raja Chulalongkorn) untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada istri-istri dan anak-anaknya di kerajaan Siam. Film ini bercerita tentang bagaimana Siam menguasai modernitas dengan memahami bahasa Inggris. Ia ditulis mungkin berdasarkan memoar Anna Leonowens berjudul The English Governess at the Siamese Court (1870) dan Romance of the Harem (1873). Sebenarnya ada tiga film lain tentang Raja Mongkut, tapi mungkin tidak masuk Indonesia, yaitu Anna and The King of Siam (1946), The King and I (1956) dan film kartun Anna and The King (1999).

29 Januari 2002, saya disediakan sebuah ruangan dengan komputer canggih (waktu itu). Tujuannya supaya menyelesaikan tugas akhir dalam 6 bulan. Di ruangan itu juga ada banyak buku, paper dan dokumen-dokumen milik dosen. Saya hanya mengambil paper atau buku yang saya perlukan saja. Tidak menyentuh yang lain. Tapi ketika duduk termenung (jenuh melanda – sekarang ini namanya “galau”), mata tiba-tiba terpaku pada satu buku baru di tumpukan dokumen. Buku itu berwarna coklat muda, dengan gambar siluet jajaran orang berfoto. Judulnya adalah “Journeys to Java by Siamese King”. Pikiran saya: perjalanan raja kembar siam? Saya ambil buku itu (diam-diam, karena ruangan itu sebenarnya ruangan dosen). Buku berbahasa Inggris itu kemudian saya baca, dan menemukan bahwa isinya tentang tiga kunjungan Raja Siam (Thailand) ke Jawa. Isinya semacam buku harian yang aslinya ditulis dalam bahasa Thai dan diterjemahkan ke bahasa Inggris. Penulisnya adalah Imtip Pattajoti Suharto. Beliau adalah istri Pak Djoko Suharto, guru besar Teknik Mesin ITB. Dosen pembimbing saya adalah teman Prof. Djoko. Saya kemudian meminjam buku itu, dan melanjutkan membaca di rumah. Buku itu menarik karena membuat saya jadi memahami apa yang terjadi di Jawa pada akhir 1800an hingga awal 1900an. Kesan saya: Indonesia maju sekali saat itu. Bahkan Raja Thailand saja sampai berkunjung ke Jawa. Buku itu tidak komprehensif dan minim catatan kaki. Sifatnya seperti itinerary, urutan jadwal perjalanan (berisi tanggal, waktu, tempat, bertemu siapa-siapa, dan sedikit komentar). Buku itu diterbitkan oleh Penerbit ITB pada 2001. Saya kemudian pergi ke Penerbit ITB dan mendapatkan email penulisnya. Kemudian kami bertukar email, dengan tujuan, saya membantu menerjemahkan buku itu ke bahasa Indonesia. Tapi 2003 saya harus pergi ke Singapura. Jadi, proses menerjemahkan buku itu tidak dilanjutkan.

Tahun 2005 saya mendapatkan bingkisan dari staf AUN/SEED-Net Thailand. Bingkisan itu berupa CD musik jazz. Nampaknya biasa. Tapi yang membuat istimewa adalah lagu-lagunya dimainkan oleh Raja Bhumibol Adulyadej (dibaca: Phu-mi-pon A-du-nya-det). Raja Bhumibol bergelar Rama IX. Sedangkan, buku yang sebelumnya saya baca bercerita tentang Rama V atau Raja Chulalongkorn (yang namanya diabadikan sebagai nama universitas ternama di Thailand).

Bulan Januari 2007 saya bersama keluarga (anak waktu itu masih berumur 7 bulan) pergi ke Bangkok untuk berlibur. Kami berlibur lima hari di sana. Menyenangkan sekali, orangnya ramah, makanannya enak dan murah. Bisa naik tuk-tuk, berbelanja di Pasar Chatucak, menyusuri Sungai Chao Phraya, melihat Emerald Buddha, makan di tepi sungai bersama teman lama. Saya sebenarnya masih tidak mengenal sejarah Thailand. Jadi, misi jalan-jalan ke sana adalah hal kontemporer: belanja.

Buku Journeys to Java by Siamese King sebenarnya ingin saya beli. Tapi setelah kirim email ke Pak Djoko, bulan Maret 2013 saya mendapatkan kiriman buku tersebut. Gratis! Wah baik sekali Pak dan Bu Djoko. Misi saya, yang tertunda lama, kemudian dimantapkan: menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Indonesia. Buku yang baru dikirim itu adalah edisi yang sudah direvisi (revised edition) dari edisi tahun 2001, dan dicetak tahun 2012. Buku tahun 2001 itu hak ciptanya dimiliki Departemen Luar Negeri Thailand, sedangkan yang 2012 ini dimiliki oleh Ibu Imtip sendiri (setelah perjuangan panjang nampaknya). Buku itu agaknya mirip dengan buku sebelumnya, kecuali mulai banyak catatan kaki, komentar penulisnya, foto-foto.

Chulalongkorn in SoloRaja Chulalongkorn (berdiri di depan berpakaian putih membawa tongkat) di samping Paku Buwono X Susuhunan dari Solo tahun 1896 (koleksi Tropenmuseum)

Setelah diskusi via email, nampaknya usaha menerjemahkan saja tidaklah cukup. Alasannya, orang Indonesia hanya mau membaca buku jika isinya berkenaan dengan dirinya. Pembaca Indonesia, mungkin, juga impulsif dan latah. Artinya, jika ada buku baru dengan judul yang bombastis dan semua orang baca, maka seseorang akan membacanya (kemudian lupa). Tapi pembaca yang kritis semakin lama semakin banyak. Pembaca kritis adalah pembaca yang mencari jati diri, mencari tahu dunia luar, meresapi (internalisasi) makna tulisan dan terstimulasi untuk terus mengenali dirinya (ingin apa aku ini; apa yang ingin aku capai; mengapa fenomena A atau B terjadi dan seterusnya). Oleh sebab itu, jika hanya menerjemahkan maka pembaca mungkin kehilangan selera. Menulis buku di Indonesia (yang collectible tapi juga dapat dinikmati karena manfaatnya banyak) sebenarnya agak sukar. Tapi bentuk buku tentang Raja Siam ke Jawa itu tengah dipikirkan. Saat ini inti pekerjaan adalah menerjemahkan bukunya Bu Imtip itu, dan mencari sumber-sumber bacaan lain. Bu Imtip itu sebenarnya adalah campuran sumber sekunder dan tersier karena berisi narasi yang ditulis dari berbagai sumber primer dan sekunder. Kalau bacaan pendukung, sudah ada beberapa yang didapat. Proses penerjemahannya sendiri tengah berjalan (lambat). Dari 163 halaman, 138 sudah dalam bahasa Indonesia (yang berantakan).

Buku tentang Raja Chulalongkorn mengunjungi Jawa atau Malaya yang berbahasa Inggris setidaknya ada empat:

  1. Journeys to Java by Siamese King, Imtip Pattajoti Suharto, Penerbit ITB, 2001
  2. Journeys to Java by Siamese King, Imtip Pattajoti Suharto, Penerbit ITB, 2012 (revised edition)
  3. A true hero : King Chulalongkorn of Siam’s visit to Singapore and Java in 1871, Kannikar Sartraproong, University of Leiden, 2004
  4. Through the Eyes of the King: The Travels of King Chulalongkorn to Malaya, Patricia Lim Pui Huen, ISEAS Publisher, 2009

Buku ke-3 belum pernah saya baca. Ingin sekali membacanya karena mungkin itu adalah PhD thesis yang diterbitkan di Universitas Leiden. Penulisnya juga orang Thailand (jadi: view from within), fasih berbahasa Melayu/Indonesia, Belanda dan Inggris.

BukuThai

Buku tentang Raja Chulalongkorn

Buku ke-4 sebagian sudah saya baca. Buku ini sebelumnya disarankan oleh Prof. Merle Ricklefs (penulis A History of Modern Indonesia Since ca. 1200) yang saya hubungi untuk memberi saran. Nampaknya, bukunya Patricia Lim itu berisi selected trips (kunjungan pilihan) yang didesain dengan indah. Beberapa bab isinya mirip sekali (!) dengan bukunya Bu Imtip, khususnya  kisah Raja Chulongkorn yang transit di Singapura. Tapi bahasa Inggrisnya mungkin lebih well-composed, dan sebenarnya lebih merupakan parafrase dari kalimat-kalimatnya Bu Imtip. Bahkan, sebagian kesimpulannya merupakan penekanan ulang dari kesimpulan Bu Imtip. Originalitasnya mungkin kurang, meskipun Patricia nampaknya berburu buku-buku referensi lain yang melengkapi (annotate) bukunya Bu Imtip. Buku itu juga kelebihannya adalah desain dan foto, selain juga menambahkan kisah-kisah perjalanan ke Malaya dan Singapura. Fokusnya memang di Malaya sih.

Dr Sartaproong dalam reviewnya di Journal of the Siam Society (Vol 99, 2011) bahwa buku itu adalah “… a fine picture book“. Buku itu, menurut Dr Sartraproong, punya beberapa kelemahan: cerita dengan foto kadang tidak nyambung; fotonya tidak merepresentasikan apa yang dilihat Raja Siam; fotonya berisi orang-orang berpose tanpa ekspresi, bukan foto-foto yang punya cerita; fotonya kadang di-crop kemudian diulang di halaman lain; hubungan Malaysia dan Siam tidak dijelaskan dengan baik.

Kembali ke Thailand. Thailand ini unik, karena menjadi satu-satunya (mungkin) negara Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah. Kemampuan negosiasi dan diplomatik raja-raja terdahulunya sangat hebat, terutama Chulalongkorn yang rajin mengunjungi negara-negara Eropa supaya nampak sejajar dengan mereka. Tapi sebagian wilayah Thailand masa itu dikorbankan atau diberikan kepada penjajah Perancis dan Inggris. Misalnya, Laos, Kamboja, bagian utara Malaysia, seperti Kelantan, Kedah, Perlis dan lainnya. Tapi seorang kawan Thailand menyebutkan bahwa Thailand tidak pernah dijajah karena kedekatannya dengan Raja Rusia sehingga terus mendapatkan back-up militer yang kuat dan membuat segan negara-negara Eropa untuk menjajahnya.

chulalongkorn2

Raja Chulalongkorn (kiri) bersama Raja Nicholas II dari Rusia tahun 1897

Mengenai sosok Chulalongkorn: ia adalah raja yang memberikan contoh, berhati mulia, suka belajar hal-hal baru dari setiap wilayah yang dikunjunginya, suka bercanda (good sense of humor), teliti dan analitis. Pada 1996, pengkultusan Raja Chulalongkorn mencapai puncaknya di Bangkok (wilayah urban), tapi tidak terlalu kuat di pedesaan (rural). Orang-orang melakukan upacara penghormatan dan persembahan di patung berkuda Raja Chulalongkorn (ekuestrian). Pengkultusan ini kemudian dibahas dalam buku terbaru Irene Stengs berjudul: Worshipping the Great Moderniser: King Chulalongkorn, Patron Saint of the Thai Middle Class (2009).

Sebenarnya, apakah yang dipelajari oleh Raja Chulalongkorn di Jawa? Perjalanannya dilakukan tiga kali: 1871, 1896 dan 1901. Apa yang dia pikirkan mengenai Candi Borobudur dan Prambanan, galangan kapal dan peleburan logam di Surabaya? Sistem administrasi model apa yang diadopsi dari Jawa? Apa yang dia lihat dari kehidupan orang Islam di Jawa masa lalu? Bagaimana kehidupan orang-orang Belanda, orang Tionghoa, orang pribumi antara 1871 – 1901? Bagaimana keadaan Batavia (Jakarta), Sukabumi, Buitenzorg (Bogor), Bandung, Semarang, Yogyakarta, Pasuruan, Malang? Sistem apa yang berubah di Thailand setelah kepulangannya dari Jawa? Bagaimana hubungan Jawa dan Thailand?

Barangkali tidak ada satupun raja di dunia yang merekam kehidupan Jawa masa silam kecuali Chulalongkorn. Perjalanannya sendiri adalah perjalanan bersejarah yang kental dengan nafas nasionalisme: Chulalongkorn hendak melakukan perubahan besar-besaran terhadap sistem administrasi negaranya, sekaligus mengadopsi apa saja yang baik dan cocok bagi Thailand. Pandangannya ketika melakukan perjalanan itu unik karena berangkat dari keingintahuan yang mendalam; keinginan untuk mengadopsi hal-hal baru dari modernitas Barat; keinginan memilih apa yang cocok dari luar negeri untuk Thailand; ia ingin berpetualang, bertamasya bersama keluarga mengapresiasi peninggalan Buddha dan Hindu; beristirahat dari kesibukan Bangkok, menyepi di pulau Jawa yang bervariasi; lebih penting lagi, ingin menunjukkan kepada Belanda dan negeri Eropa lainnya bahwa raja Thailand juga bisa mengeksplorasi negeri lain, tapi tidak menjajahnya (ada pula dugaan bahwa perjalanannya memang bersifat politis yang sebenarnya sah-sah saja karena posisi Siam yang rawan ketika itu).

Herannya, mengapa raja-raja Jawa yang dia kunjungi tidak ketularan untuk melakukan hal yang serupa? Mengunjungi wilayah Jawa yang lain; bersatu, memenangkan Perang Jawa (1825-1830) dan meneruskan perjuangan itu. Indonesia mungkin dijajah karena sejak dulu memang terpecah belah; mudah disuap; terlalu kagum dengan modernitas Barat tapi tidak berminat belajar; kurang mencintai negerinya (bilang “cinta” dan “nasionalis” di mulut, tapi tindakannya seperti penjarah yang menghisap).

Mungkin hingga kini?

Perjalanan Raja Chulalongkorn ke luar Thailand adalah sebuah titik awal perjalanan panjang yang bersejarah menuju Thailand yang ter-Barat-kan. Dan, titik awal itu dimulai di Jawa. Orang Indonesia perlu belajar dari perjalanan Raja Chulalongkorn ini, khususnya anggota DPR yang sering melakukan kunjungan luar negeri untuk studi banding.

Orang Jepang di Brazil


Di Singapura, papan informasi biasanya dalam aneka bahasa. Bahasa yang digunakan adalah Inggris, Cina, Melayu dan Tamil di samping beberapa bahasa asing seperti Prancis di Bandara Changi. Di Jepang, ada juga papan informasi seperti itu. Namun, bahasanya adalah Jepang, Inggris, Cina, Korea dan Portugis.

Sebenarnya Jepang baru saja menambahkan bahasa Portugis ke papan informasi. Mungkin karena pendatang dari Brazil banyak akhir-akhir ini. Ditinjau 2.1 juta pendatang di Jepang, 250.000 berasal dari Brazil. Namun, jangan heran jika wajah Hispanik jarang ditemukan di sini. Ini karena orang Brazil yang ada di Jepang adalah generasi kedua atau ketiga Jepang yang lahir di Brazil.

Sejarah dimulai seabad lampau.

Pada 18 Juni 1908, 781 warga Jepang hijrah ke Brazil (Opening the Door, Betsy Brody, 2002). Hingga 1924, ada 31,414 orang Jepang di Brazil. Puncaknya terjadi antara 1924 dengan 1942 di mana 157,572 orang Jepang tinggal di Brazil.

Mengapa mereka hijrah ke Brazil?

Pada waktu itu Jepang memulai industrialisasi, dan penduduknya kian meningkat. Sayangnya, angka penduduk terlalu cepat naik sedangkan pekerjaan masih terbatas. Mereka yang tanpa pekerjaan terpaksa hijrah ke negara lain. Pemerintah Brazil kebetulan memberikan dukungan dana agar orang Jepang datang ke Brazil. Tujuannya untuk pembangunan infrastruktur dan pertanian. Sayangnya mereka digaji rendah.

Iklan untuk menarik warga Jepang supaya pindah ke Brazil “Ayo pergi ke Amerika Selatan bersama keluarga!”

Pada waktu itu, Amerika Serikat membatasi pendatang asal Jepang karena Perang Dunia II. Pemerintah Jepang juga mendukung emigrasi ini dengan membebaskan biaya pelayaran ke Brazil. Pemerintah Jepang juga memberikan nasihat agar mereka tidak mendirikan kuil Shinto atau Budha. Mereka diminta masuk Katolik agar sama dengan warga Brazil. Mereka juga diminta mengenakan pakaian Barat. Ini untuk memudahkan integrasi dengan warga setempat.

Beberapa dekade berlalu dan pada 1969 warga Jepang di Brazil sebanyak seperempat juta jiwa! Karir mereka pun semakin beragam. Sebanyak 80 persen memang masih petani, namun generasi ketiga sudah ada pekerjaan di bidang bisnis, kerajinan tangan, layanan dan transportasi.

Kini, Jepang termasuk warga pendatang yang dihormati di Brazil. Sepuluh persen mahasiswa universitas di Brazil adalah keturunan Jepang. Banyak dari keturunan Jepang yang menjadi artis, politisi dan olahragawan. Namun, kemampuan berbahasa Jepang mereka menurun dari generasi ke generasi. Hanya 36.5 persen dari generasi kedua dan ketiga yang bisa berbahasa Jepang. Mereka lebih nyaman berbahasa Portugis daripada berbahasa Jepang.

Menurut seorang kawan Jepang asal Brazil, ia pernah fasih berbahasa Jepang ketika kecil. Beranjak dewasa, orang tuanya tidak lagi mengajari bahasa Jepang lagi karena ia bersekolah di sekolah lokal yang berbahasa Portugis. Wajahnya Jepang tetapi tidak berbahasa Jepang. Kawan ini, jika memutuskan kembali ke Jepang, akan mengalami masa sulit. Ia dianggap orang asing di Jepang. Orang Jepang punya julukan untuknya: Nikkeijin. Pada 1990 banyak dari generasi kedua dan ketiga Jepang asal Brazil kembali ke Jepang demi menikmati kehidupan lebih baik. Sayangnya, integrasi di Jepang memang sulit. Orang Jepang mungkin bukan jenis masyarakat yang inklusif.

Japan Inc.


Akhir-akhir ini warga Jepang di belahan lain dunia dirundung malang.

Di Selandia Baru, gempa 6.3 skala Richter pada 22 Februari 2011 ‘melenyapkan’ 27 siswa Jepang di reruntuhan bangunan CTV King ‘s Education. Di sekolah itu, banyak siswa Jepang belajar bahasa Inggris.

Di Afrika Utara, tepatnya Mesir dan Libya, revolusi politik membuat warga Jepang melarikan diri dari kedua negara itu. Sekitar 200 orang (dari 1.600 penduduk Jepang di Mesir) keluar dari Kahirah dan puluhan warga Jepang keluar dari Libya.

Di Jepang sendiri, ‘Jepang Inc’ (sebutan media Barat untuk Jepang) terancam ‘tutup’ (shut down) pada Juni 2011. Ketika itu semua kantor pemerintah tutup. Harga makanan juga diperkirakan naik. Tutupnya Japan, Inc. ini terjadi jika anggaran 44 triliun yen dari 92.4 triliun yen yang diusulkan Perdana Menteri Naoto Kan yang seharusnya diluncurkan Maret ini tidak disetujui oleh dewan tinggi parlemen.

Berbeda dari negara-negara lain yang memulai tahun fiskalnya pada Desember, lembaran Jepang dimulai pada April. Oleh karena itu, pada Maret ini pemerintah Jepang harus mengusulkan anggaran yang akan dipakai antara April 2011 dan Maret 2012.

Dari 92.4 triliun yen usulan PM Kan, sebagian akan digunakan untuk perawatan sosial (31.1 persen), biaya utang (23.3 persen), keringanan pajak perusahaan (18.2 persen), pendidikan (6 persen), pembangunan fasilitas publik (5.4 persen) dan pertahanan ( 5.2 persen). Sisa 22.5 triliun yen akan digunakan sebagai cadangan. Secara sekilas, usulan anggaran ini memang demi kesejahteraan penduduk Jepang.

Bajet perawatan sosial sebesar 31.1 persen memang cukup besar. Sepuluh tahun lalu, perawatan sosial hanya membentuk 19.7 persen dari seluruh anggaran.

Strategi baru dari PM Kan adalah pemotongan pajak untuk perusahaan watan agar ekonomi Jepang meningkat. Namun, di sisi lain pajak penghasilan akan dinaikkan.

Usulan anggaran, terutama anggaran yang terkait dengan subsidi anak, biaya pensiun, pemotongan pajak perusahaan dan gaji karyawan pemerintah, agaknya sulit menembus parlemen.

Apa penyebabnya?

(1) Faktor eksternal Partai Demokratik Jepang (DPJ).

Dalam perdebatan di parlemen dua minggu lalu, mayoritas anggota Dewan Tinggi tidak mendukung usul anggaran Kan. Dewan Tinggi dikuasai oposisi Partai Demokrat Liberal (LDP) dan Komeito Baru.

(2) Faktor internal DPJ

Perpecahan terjadi di dalam DPJ. Seorang anggota parlemen DPJ secara mendadak mengundurkan diri dan 16 nggota lainnya mengancam akan mundur juga.  Mereka merasa bahwa Kan tidak adil terhadap Ichiro Ozawa, bekas Sekretaris Jenderal yang menjadi arsitek kemenangan DPJ pada pemilu yang lalu. Kejadian itu karena Kan membekukan sementara status keanggotaan Ozawa dalam DPJ. Rendahnya dukungan dari internal parlemen sendirilah yang akan membuat Jepang mengalami krisis bulan Juni nanti.

Namun, Kan bisa mengambil beberapa strategi untuk menghindari krisis. Misalnya, mengubah usul anggaran (yang berarti merubah manifesto DPJ), membuat koalisi dengan Komeito Baru agar usulannya direstui Dewan Tinggi atau memperoleh dukungan 67 persen anggota di Dewan Rendah.

Strategi yang mungkin bagus untuk Kan adalah toleransi politik dengan partai oposisi. Kan harus segera melakukan pertemuan tidak resmi dengan LDP dan Komeito di luar parlemen. Tujuannya untuk mengubah usulan anggaran agar ia juga menampung usulan LDP dan Komeito.

LDP sebenarnya juga prorakyat (membela rakyat). Hanya saja ia menolak usul kenaikan pajak penghasilan. Selain itu, LDP juga ingin produksi – misalnya kenaikan subsidi anak di bawah usia tiga tahun dari 13.000 yen menjadi 20,000 yen sebulan itu – dihapus.

Meskipun krisis dapat dihindari, dukungan DPJ kepada Kan sebagai perdana menteri mungkin menurun. Ini disebabkan kubu Ozawa dan bekas perdana menteri Yukio Hatoyama masih cukup kuat di dalam DPJ.

Penggantian perdana menteri ini bisa terjadi pada 2011 jika Kan kurang berhati-hati. Selain itu, dukungan penduduk Jepang ke Kan memang sudah di level 21 persen. Penyebab turunnya dukungan ini karena Kan tidak mengeluarkan Ozawa dari DPJ. Popularitas Kan masih ‘aman’ oleh kebijakan prorakyat yaitu memberikan subsidi kepada penduduk Jepang. Jadi, jika Kan salah memilih strategi politik, maka ada dua kemungkinan bisa terjadi:

Pertama, Jepang mengalami shut down pada Juni 2011, atau kedua, parlemen (khususnya DPJ) meminta Kan mengundurkan diri dan menggantinya dengan anggota DPJ lain. Menteri Luar Negeri Seiji Maehara agaknya menjadi calon kuat dari DPJ.

Jika Jepang mengalami shut down, berarti kondisi serupa dilalui Amerika Serikat pada akhir 1995 sampai awal 1996. Di era pemerintahan Bill Clinton itu, usul anggaran dibantah Kongres yang dikuasai Partai Republik. Akibatnya, 368 layanan publik di Amerika seperti taman, museum dan monumen ditutup. Layanan imigrasi juga tutup dan gaji pegawai pemerintah tidak dibayar. Ini menyebabkan bisnis di Amerika dilanda kerugian miliaran dolar. Pada akhirnya, penduduk Amerika memang tidak menyalahkan rezim Clinton, melainkan kongres Amerika. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Rakyat juga yang menderita.

Agaknya memang ada benarnya ajaran guru saya dulu: ilmuwan masih bisa salah (dalam hal data atau kesimpulan), namun politisi jangan sekali-kali salah karena yang terpengaruh adalah rakyat.

Bukan April Mop


Jean Taylor dari Universitas Cornell menerjemahkan tulisan Raden Ajeng Kartini yang termasyhur, Didiklah Orang Jawa!. Judul aslinya adalah Geef den Javaan Opvoeding!. Tulisan itu adalah sambutan yang disampaikan RA Kartini kepada pemerintah Belanda pada Januari 1903. Tulisan Kartini memang bernafas primordialistik atau punya semangat kesukuan yang kuat. Hal ini dimaklumi karena Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang memicu lahirnya persatuan Indonesia belum lahir. Tapi tulisan ini berangkat dari domain yang paling sederhana: suku sendiri. Pesannya boleh jadi epidemik karena suku lain akan teragitasi untuk meminta pembaharuan yang sama. Misalnya, Didiklah Orang Minang! Didiklah Orang Irian! Dan, lainnya. Hari ini, konteksnya berubah. Kita tidak lagi punya Belanda sebagai tempat ‘mengemis’ pendidikan. Kita tidak hanya punya Jawa yang perlu pendidikan.

Indonesia masuk G20, atau Group of Twenty. Kelompok ini merupakan jawaban atas krisis ekonomi Asia pada 1997. G20 berisi 20 negara-negara maju dan berkembang yang ekonominya mampu menstabilkan dunia. Di Asia Tenggara, hanya Indonesia yang masuk G20. Ekonomi Indonesia boleh dikatakan yang terbesar di kawasan regional, tapi ini semata karena populasi dan kekayaan alam yang berlimpah. Orang hanya berhitung, tapi tidak melihat kenyataan bahwa rata-rata orang Indonesia masih bertahan hidup, belum menikmati dan meningkatkan kualitas hidup. Masuknya Indonesia ke dalam G20 boleh menjadi kebanggaan, tapi ini semu karena Indonesia hanya diperas oleh negara maju lainnya. Indonesia merupakan studi kasus demokrasi yang unik: Indonesia menjadi parameter berhasil atau gagalnya demokrasi di sebuah negara yang mayoritas Muslim, yang wilayahnya sporadik, yang menjadikan televisi tempat belajar. Jika Kartini hidup di jaman sekarang, ia barangkali mengatakan: Didiklah Negara Maju! Atau, jika Bung Karno masih hidup, ia akan berkata: Persetan G20! Karena yang terpenting adalah bangsa Indonesia sendiri, bukan bangsa lain.

Salah satu kekayaan Indonesia adalah sejarah dan budaya. Tapi dokumentasi yang baik mengenai sejarah Indonesia biasanya dilakukan di luar negeri. Di Universitas Cornell, misalnya. Jane Taylor menerjemahkan tulisan itu dan mempublikasikannya secara gratis lewat website Cornell (www.cip.cornell.edu/Indonesia). Di sana kita dapat menemukan sejarah Indonesia yang lengkap. Mulai dari tulisan Kartini, Soekarno, Pramudya Ananta Toer, dan artikel-artikel etnografi yang menarik tentang Indonesia. Bahkan, ada artikel yang menuliskan mengapa Musso pulang ke Indonesia setelah berpuluh tahun hidup di Rusia.

Mengapa Barat rajin menuliskan Indonesia? Mengutip Benjamin Disraeli: karena “Dunia timur menjanjikan karir”. Karena “Mereka tidak dapat merepresentasikan dirinya sendiri. Oleh karena itu, mereka harus diwakili (oleh Barat)”.

Selamat membaca Didiklah Orang Jawa! (PDF).

Karayuki-san


Dalam buku Japan and Singapore in the World Economy (1999), Shimizu Hiroshi dan Hirakawa Hitoshi menulis bahwa hubungan ekonomi Jepang dengan Singapura sudah ada sejak permulaan Restorasi Meiji (1868). Ini berarti bahwa hubungan Jepang-Singapura sudah terbina lebih dari 120 tahun. Jadi tidak heran apabila hari ini ada 3.000-an perusahaan Jepang di Singapura; sekitar 700 di antaranya bergerak di bidang manufaktur.

Pada abad 19 itu, ‘tokoh’ penting yang membangun hubungan kedua negara adalah karayuki-san.

Siapakah karayuki-san?

Karayuki-san adalah sebutan bagi anak gadis petani atau nelayan yang pergi meninggalkan Jepang untuk bekerja di luar negeri. ‘Kara’ berarti negara luar, sedangkan ‘yuki’ berarti tujuan. Kata ‘san’ ditambahkan sebagai penghormatan kepada seseorang.

Karayuki-san

Mengapa mereka meninggalkan Jepang?

Gadis-gadis ini pergi meninggalkan Jepang karena tekanan ekonomi.

Pertanian dan teknologi Jepang meningkat setelah Restorasi Meiji. Seiring dengan peningkatan itu, angka kelahiran juga naik. Pada 1873 populasi Jepang berjumlah sekitar 35.2 juta. Populasinya berlipat ganda, yaitu menjadi 69.3 juta jiwa, pada 1935. Pabrik-pabrik tak mampu menampung ledakan penduduk ini. Untuk terus bertani, agaknya sulit karena harga sewa tanah pertanian juga semakin mahal. Jepang juga masuk Perang Dunia II dan devisa negaranya dikerahkan untuk mendukung perang. Efek dari semua ini mudah diduga: pengangguran. Penduduk Jepang pun jatuh miskin.

Untuk mempertahankan hidup, sebagian dari mereka meninggalkan Jepang. Keluarga petani atau nelayan miskin merelakan anak-anak gadisnya bekerja di luar negeri. Negara-negara yang menjadi tujuan utama kala itu adalah Singapura, Hawaii, Siberia, Australia, India atau Afrika. Agen tenaga kerja menjamin bahwa gadis-gadis ini akan mendapatkan pekerjaan di sana. Namun sayangnya, agen seringkali menipu mereka: gadis-gadis ini dijadikan pekerja seks komersial.

Gadis-gadis yang berasal dari Nagasaki, Kumamoto, Yamaguchi, Fukuoka atau Saga ini tidak punya pilihan lain kecuali bekerja sesuai keinginan agen. Dari hasil kerja itu mereka mengirimkan uangnya kepada keluarganya di Jepang, atau membayar hutang kepada agen. Padahal, secara ekonomi pengiriman uang oleh karayuki-san ke Jepang sangatlah kecil.

Sekelompok comfort women yang akan diberangkatkan ke Shantou, Cina Selatan.

Karayuki-san di Singapura

Di Singapura, karayuki-san dikenal dengan nama nan-yo-yuki, atau pekerja seks. Kenyataan yang cukup menarik adalah bahwa merekalah pendatang terbesar asal Jepang di Singapura pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Di Singapura, lebih dari 633 karayuki-san beroperasi di 109 rumah bordil. Bahkan disinyalir ada lebih dari 1,000 rumah bordil yang buka tanpa ijin. Sebagian besar rumah bordil ini terletak di persimpangan antara Victoria Street dengan Rochor Road. Sebagian lainnya berada di Sago Street, Malay Street, Malabar dan Hailam. Agaknya inilah yang membuat Singapura jadi terkenal dalam hal pelacuran pada masa itu.

Namun, praktik ini sebenarnya tidak sesuai dengan rencana kolonial Inggris. Inggris mendatangkan karayuki-san dari Jepang sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan seks para pedagang besar, bukan untuk khalayak umum. 

Karayuki-san dan Geisha

Ada anggapan bahwa karayuki-san ini mirip dengan geisha. Padahal sebenarnya keduanya berbeda. Bedanya jika karayuki-san memang bekerja sebagai pekerja seks, geisha hanya menemani ngobrol, minum dan menghibur pelanggan dengan menari atau menyanyi. Namun dengan berjalannya waktu, banyak juga geisha yang melanggar aturan, atau dipaksa melayani nafsu pelanggan. Tak ayal, sebagian geisha melakukan ‘aktivitas’ yang sama dengan apa yang dilakukan karayuki-san. Karena itu, makna geisha jadi bergeser mendekati karayuki-san, yaitu pekerja seks.

Senjakala Karayuki-san

Karir karayuki-san tidak bertahan lama di Singapura. Pada 1920, tekanan negara-negara lain atas dasar moralitas membuat Konsulat Jenderal Jepang di Singapura menutup rumah bordil yang berisi karayuki-san. Pemerintah Jepang juga mewajibkan karayuki-san pulang ke Jepang. Pada masa itu sedikitnya 40% karayuki-san kembali ke Jepang. Namun sebagian dari mereka menetap di Singapura, atau lari ke Malaysia.

Karayuki-san memang kontroversial. Praktik pelacuran merupakan tindakan asusila, namun perspektif feminisme melihat karayuki-san sebagai satu simbol kegigihan. Kisahnya yang pedih dan penuh kecaman itu mendorong sutradara film Jepang, Shohei Imamura (1926 – 2006), membuat sebuah film Karayuki-san: The Making of A Prostitute (1975). Kisah pelacur Jepang ke Asia Tenggara turut diceritakan sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), dalam seri novelnya, Bumi Manusia.

Di Singapura, kuburan karayuki-san dapat ditemukan di Japanese Cemetery Park. Dan, sejarah Karayuki-san kini terkubur di bawah beton-beton department store seperti Seiyu Ltd., Parco Co, dan Bugis Junction, Singapura.

Bibliografi

  1. Hiroshi S & Hitoshi H. Japan and Singapore in the World Economy, Routledge, 1999
  2. Kajita T, Singapore’s Japanese Prostitute Era Paved Over, The Japan Times, 18 June 2005
  3. Kingston J, Japan’s ‘Comfort Women’ – Wartime Suffering that Didn’t Count, The Japan Times, 26 May 2002
  4. Schilling M, Shohei Imamura (1926 – 2006): A Lifetime in Search of Japan’s True Self, The Japan Times, 8 June 2006
  5. Christopher E, Pybus C, Rediker M (Eds). Many Middle Passages: Forced Migration and the Making of the Modern World, University of California Press, 2007
  6. Tanaka Y, Japan’s Comfort Women – Sexual Slavery and Prostitution during World War II and the US Occupation, Routledge, 2002