Thailand (1)


Sebenarnya tidak pernah merasa dekat, atau pun merasa jauh, dengan Thailand. Waktu kecil, teman-teman SD menyebut Thailand sebagai “negeri gajah putih”. Kita tidak tahu persis artinya apa – asalnya dari mulut ke mulut. Padahal, bendera Thailand dari 1855 – 1917 ada gambar gajah putihnya. Padahal juga, bendera itu pernah dikibarkan di Hindia Belanda: berjajar di sepanjang jalan dari stasiun kereta hingga hotel di sela-sela bendera Belanda, untuk menyambut kedatangan Raja Thailand bernama Chulalongkorn di tanah Jawa, atau Hindia Belanda (abad 18-19). Saya juga tidak pernah berinteraksi dengan warga Thailand, kecuali pada 2003 saya harus mengurus dokumen yang dikirim ke Bangkok, dan berkirim email dengan seorang penulis Thailand.

Pada 1999, film Anna and the King muncul. Film yang meledak di Indonesia ini dibintangi Jodie Foster dan Chou Yun-Fat. Ia bercerita tentang kisah seorang guru wanita bernama Anna Leonowens asal Inggris yang disewa Raja Mongkut (ayah dari Raja Chulalongkorn) untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada istri-istri dan anak-anaknya di kerajaan Siam. Film ini bercerita tentang bagaimana Siam menguasai modernitas dengan memahami bahasa Inggris. Ia ditulis mungkin berdasarkan memoar Anna Leonowens berjudul The English Governess at the Siamese Court (1870) dan Romance of the Harem (1873). Sebenarnya ada tiga film lain tentang Raja Mongkut, tapi mungkin tidak masuk Indonesia, yaitu Anna and The King of Siam (1946), The King and I (1956) dan film kartun Anna and The King (1999).

29 Januari 2002, saya disediakan sebuah ruangan dengan komputer canggih (waktu itu). Tujuannya supaya menyelesaikan tugas akhir dalam 6 bulan. Di ruangan itu juga ada banyak buku, paper dan dokumen-dokumen milik dosen. Saya hanya mengambil paper atau buku yang saya perlukan saja. Tidak menyentuh yang lain. Tapi ketika duduk termenung (jenuh melanda – sekarang ini namanya “galau”), mata tiba-tiba terpaku pada satu buku baru di tumpukan dokumen. Buku itu berwarna coklat muda, dengan gambar siluet jajaran orang berfoto. Judulnya adalah “Journeys to Java by Siamese King”. Pikiran saya: perjalanan raja kembar siam? Saya ambil buku itu (diam-diam, karena ruangan itu sebenarnya ruangan dosen). Buku berbahasa Inggris itu kemudian saya baca, dan menemukan bahwa isinya tentang tiga kunjungan Raja Siam (Thailand) ke Jawa. Isinya semacam buku harian yang aslinya ditulis dalam bahasa Thai dan diterjemahkan ke bahasa Inggris. Penulisnya adalah Imtip Pattajoti Suharto. Beliau adalah istri Pak Djoko Suharto, guru besar Teknik Mesin ITB. Dosen pembimbing saya adalah teman Prof. Djoko. Saya kemudian meminjam buku itu, dan melanjutkan membaca di rumah. Buku itu menarik karena membuat saya jadi memahami apa yang terjadi di Jawa pada akhir 1800an hingga awal 1900an. Kesan saya: Indonesia maju sekali saat itu. Bahkan Raja Thailand saja sampai berkunjung ke Jawa. Buku itu tidak komprehensif dan minim catatan kaki. Sifatnya seperti itinerary, urutan jadwal perjalanan (berisi tanggal, waktu, tempat, bertemu siapa-siapa, dan sedikit komentar). Buku itu diterbitkan oleh Penerbit ITB pada 2001. Saya kemudian pergi ke Penerbit ITB dan mendapatkan email penulisnya. Kemudian kami bertukar email, dengan tujuan, saya membantu menerjemahkan buku itu ke bahasa Indonesia. Tapi 2003 saya harus pergi ke Singapura. Jadi, proses menerjemahkan buku itu tidak dilanjutkan.

Tahun 2005 saya mendapatkan bingkisan dari staf AUN/SEED-Net Thailand. Bingkisan itu berupa CD musik jazz. Nampaknya biasa. Tapi yang membuat istimewa adalah lagu-lagunya dimainkan oleh Raja Bhumibol Adulyadej (dibaca: Phu-mi-pon A-du-nya-det). Raja Bhumibol bergelar Rama IX. Sedangkan, buku yang sebelumnya saya baca bercerita tentang Rama V atau Raja Chulalongkorn (yang namanya diabadikan sebagai nama universitas ternama di Thailand).

Bulan Januari 2007 saya bersama keluarga (anak waktu itu masih berumur 7 bulan) pergi ke Bangkok untuk berlibur. Kami berlibur lima hari di sana. Menyenangkan sekali, orangnya ramah, makanannya enak dan murah. Bisa naik tuk-tuk, berbelanja di Pasar Chatucak, menyusuri Sungai Chao Phraya, melihat Emerald Buddha, makan di tepi sungai bersama teman lama. Saya sebenarnya masih tidak mengenal sejarah Thailand. Jadi, misi jalan-jalan ke sana adalah hal kontemporer: belanja.

Buku Journeys to Java by Siamese King sebenarnya ingin saya beli. Tapi setelah kirim email ke Pak Djoko, bulan Maret 2013 saya mendapatkan kiriman buku tersebut. Gratis! Wah baik sekali Pak dan Bu Djoko. Misi saya, yang tertunda lama, kemudian dimantapkan: menerjemahkan buku itu ke dalam bahasa Indonesia. Buku yang baru dikirim itu adalah edisi yang sudah direvisi (revised edition) dari edisi tahun 2001, dan dicetak tahun 2012. Buku tahun 2001 itu hak ciptanya dimiliki Departemen Luar Negeri Thailand, sedangkan yang 2012 ini dimiliki oleh Ibu Imtip sendiri (setelah perjuangan panjang nampaknya). Buku itu agaknya mirip dengan buku sebelumnya, kecuali mulai banyak catatan kaki, komentar penulisnya, foto-foto.

Chulalongkorn in SoloRaja Chulalongkorn (berdiri di depan berpakaian putih membawa tongkat) di samping Paku Buwono X Susuhunan dari Solo tahun 1896 (koleksi Tropenmuseum)

Setelah diskusi via email, nampaknya usaha menerjemahkan saja tidaklah cukup. Alasannya, orang Indonesia hanya mau membaca buku jika isinya berkenaan dengan dirinya. Pembaca Indonesia, mungkin, juga impulsif dan latah. Artinya, jika ada buku baru dengan judul yang bombastis dan semua orang baca, maka seseorang akan membacanya (kemudian lupa). Tapi pembaca yang kritis semakin lama semakin banyak. Pembaca kritis adalah pembaca yang mencari jati diri, mencari tahu dunia luar, meresapi (internalisasi) makna tulisan dan terstimulasi untuk terus mengenali dirinya (ingin apa aku ini; apa yang ingin aku capai; mengapa fenomena A atau B terjadi dan seterusnya). Oleh sebab itu, jika hanya menerjemahkan maka pembaca mungkin kehilangan selera. Menulis buku di Indonesia (yang collectible tapi juga dapat dinikmati karena manfaatnya banyak) sebenarnya agak sukar. Tapi bentuk buku tentang Raja Siam ke Jawa itu tengah dipikirkan. Saat ini inti pekerjaan adalah menerjemahkan bukunya Bu Imtip itu, dan mencari sumber-sumber bacaan lain. Bu Imtip itu sebenarnya adalah campuran sumber sekunder dan tersier karena berisi narasi yang ditulis dari berbagai sumber primer dan sekunder. Kalau bacaan pendukung, sudah ada beberapa yang didapat. Proses penerjemahannya sendiri tengah berjalan (lambat). Dari 163 halaman, 138 sudah dalam bahasa Indonesia (yang berantakan).

Buku tentang Raja Chulalongkorn mengunjungi Jawa atau Malaya yang berbahasa Inggris setidaknya ada empat:

  1. Journeys to Java by Siamese King, Imtip Pattajoti Suharto, Penerbit ITB, 2001
  2. Journeys to Java by Siamese King, Imtip Pattajoti Suharto, Penerbit ITB, 2012 (revised edition)
  3. A true hero : King Chulalongkorn of Siam’s visit to Singapore and Java in 1871, Kannikar Sartraproong, University of Leiden, 2004
  4. Through the Eyes of the King: The Travels of King Chulalongkorn to Malaya, Patricia Lim Pui Huen, ISEAS Publisher, 2009

Buku ke-3 belum pernah saya baca. Ingin sekali membacanya karena mungkin itu adalah PhD thesis yang diterbitkan di Universitas Leiden. Penulisnya juga orang Thailand (jadi: view from within), fasih berbahasa Melayu/Indonesia, Belanda dan Inggris.

BukuThai

Buku tentang Raja Chulalongkorn

Buku ke-4 sebagian sudah saya baca. Buku ini sebelumnya disarankan oleh Prof. Merle Ricklefs (penulis A History of Modern Indonesia Since ca. 1200) yang saya hubungi untuk memberi saran. Nampaknya, bukunya Patricia Lim itu berisi selected trips (kunjungan pilihan) yang didesain dengan indah. Beberapa bab isinya mirip sekali (!) dengan bukunya Bu Imtip, khususnya  kisah Raja Chulongkorn yang transit di Singapura. Tapi bahasa Inggrisnya mungkin lebih well-composed, dan sebenarnya lebih merupakan parafrase dari kalimat-kalimatnya Bu Imtip. Bahkan, sebagian kesimpulannya merupakan penekanan ulang dari kesimpulan Bu Imtip. Originalitasnya mungkin kurang, meskipun Patricia nampaknya berburu buku-buku referensi lain yang melengkapi (annotate) bukunya Bu Imtip. Buku itu juga kelebihannya adalah desain dan foto, selain juga menambahkan kisah-kisah perjalanan ke Malaya dan Singapura. Fokusnya memang di Malaya sih.

Dr Sartaproong dalam reviewnya di Journal of the Siam Society (Vol 99, 2011) bahwa buku itu adalah “… a fine picture book“. Buku itu, menurut Dr Sartraproong, punya beberapa kelemahan: cerita dengan foto kadang tidak nyambung; fotonya tidak merepresentasikan apa yang dilihat Raja Siam; fotonya berisi orang-orang berpose tanpa ekspresi, bukan foto-foto yang punya cerita; fotonya kadang di-crop kemudian diulang di halaman lain; hubungan Malaysia dan Siam tidak dijelaskan dengan baik.

Kembali ke Thailand. Thailand ini unik, karena menjadi satu-satunya (mungkin) negara Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah. Kemampuan negosiasi dan diplomatik raja-raja terdahulunya sangat hebat, terutama Chulalongkorn yang rajin mengunjungi negara-negara Eropa supaya nampak sejajar dengan mereka. Tapi sebagian wilayah Thailand masa itu dikorbankan atau diberikan kepada penjajah Perancis dan Inggris. Misalnya, Laos, Kamboja, bagian utara Malaysia, seperti Kelantan, Kedah, Perlis dan lainnya. Tapi seorang kawan Thailand menyebutkan bahwa Thailand tidak pernah dijajah karena kedekatannya dengan Raja Rusia sehingga terus mendapatkan back-up militer yang kuat dan membuat segan negara-negara Eropa untuk menjajahnya.

chulalongkorn2

Raja Chulalongkorn (kiri) bersama Raja Nicholas II dari Rusia tahun 1897

Mengenai sosok Chulalongkorn: ia adalah raja yang memberikan contoh, berhati mulia, suka belajar hal-hal baru dari setiap wilayah yang dikunjunginya, suka bercanda (good sense of humor), teliti dan analitis. Pada 1996, pengkultusan Raja Chulalongkorn mencapai puncaknya di Bangkok (wilayah urban), tapi tidak terlalu kuat di pedesaan (rural). Orang-orang melakukan upacara penghormatan dan persembahan di patung berkuda Raja Chulalongkorn (ekuestrian). Pengkultusan ini kemudian dibahas dalam buku terbaru Irene Stengs berjudul: Worshipping the Great Moderniser: King Chulalongkorn, Patron Saint of the Thai Middle Class (2009).

Sebenarnya, apakah yang dipelajari oleh Raja Chulalongkorn di Jawa? Perjalanannya dilakukan tiga kali: 1871, 1896 dan 1901. Apa yang dia pikirkan mengenai Candi Borobudur dan Prambanan, galangan kapal dan peleburan logam di Surabaya? Sistem administrasi model apa yang diadopsi dari Jawa? Apa yang dia lihat dari kehidupan orang Islam di Jawa masa lalu? Bagaimana kehidupan orang-orang Belanda, orang Tionghoa, orang pribumi antara 1871 – 1901? Bagaimana keadaan Batavia (Jakarta), Sukabumi, Buitenzorg (Bogor), Bandung, Semarang, Yogyakarta, Pasuruan, Malang? Sistem apa yang berubah di Thailand setelah kepulangannya dari Jawa? Bagaimana hubungan Jawa dan Thailand?

Barangkali tidak ada satupun raja di dunia yang merekam kehidupan Jawa masa silam kecuali Chulalongkorn. Perjalanannya sendiri adalah perjalanan bersejarah yang kental dengan nafas nasionalisme: Chulalongkorn hendak melakukan perubahan besar-besaran terhadap sistem administrasi negaranya, sekaligus mengadopsi apa saja yang baik dan cocok bagi Thailand. Pandangannya ketika melakukan perjalanan itu unik karena berangkat dari keingintahuan yang mendalam; keinginan untuk mengadopsi hal-hal baru dari modernitas Barat; keinginan memilih apa yang cocok dari luar negeri untuk Thailand; ia ingin berpetualang, bertamasya bersama keluarga mengapresiasi peninggalan Buddha dan Hindu; beristirahat dari kesibukan Bangkok, menyepi di pulau Jawa yang bervariasi; lebih penting lagi, ingin menunjukkan kepada Belanda dan negeri Eropa lainnya bahwa raja Thailand juga bisa mengeksplorasi negeri lain, tapi tidak menjajahnya (ada pula dugaan bahwa perjalanannya memang bersifat politis yang sebenarnya sah-sah saja karena posisi Siam yang rawan ketika itu).

Herannya, mengapa raja-raja Jawa yang dia kunjungi tidak ketularan untuk melakukan hal yang serupa? Mengunjungi wilayah Jawa yang lain; bersatu, memenangkan Perang Jawa (1825-1830) dan meneruskan perjuangan itu. Indonesia mungkin dijajah karena sejak dulu memang terpecah belah; mudah disuap; terlalu kagum dengan modernitas Barat tapi tidak berminat belajar; kurang mencintai negerinya (bilang “cinta” dan “nasionalis” di mulut, tapi tindakannya seperti penjarah yang menghisap).

Mungkin hingga kini?

Perjalanan Raja Chulalongkorn ke luar Thailand adalah sebuah titik awal perjalanan panjang yang bersejarah menuju Thailand yang ter-Barat-kan. Dan, titik awal itu dimulai di Jawa. Orang Indonesia perlu belajar dari perjalanan Raja Chulalongkorn ini, khususnya anggota DPR yang sering melakukan kunjungan luar negeri untuk studi banding.

Advertisements

Mountmag


Wah senang juga hari ini. Ternyata artikel yang dikirim ke Mountmag tentang pendakian ke Gunung Fuji dimuat juga oleh editor. Mountmag adalah e-magazine tentang ekspedisi alam bebas berbahasa Indonesia. Layoutnya bagus. Artikel itu dimasukkan ke bagian Journal. (Thanks Mas Harley Sastha!). Kebetulan 11 Desember adalah hari gunung internasional.

Link: http://mountmag.com/category/journal/

Teman (Doni Sispena 18) meng-capture screennya. Ini dia:

f1  f2  f3  f4

Mendaki Gunung Fuji


Prolog. Saya suka naik gunung sejak SD. Gunung pertama yang didaki adalah gunung Purnama, Bondowoso, yang kala itu cukup terkenal di kalangan anak SD. Katanya ada makam Dewi Sri di sana. Memang benar ada makam, tapi kurang tahu siapa yang bersemayam di sana. Selanjutnya, masih jaman SD, saya naik Kawah Ijen (2,799 m) di perbatasan Bondowoso/Banyuwangi, Jawa Timur. Ijen lebih tepat disebut gunung wisata karena dapat didaki dalam waktu relatif singkat (4 jam) dan pendaki tidak memerlukan peralatan lengkap, kecuali air minum dan makanan kecil. Hobi trekking ke gunung berlanjut di SMA. Saya ikut pecinta alam (SISPENA) dan berkenalan dengan senior-senior yang hobi naik gunung. Cerita-cerita mereka tentu menginspirasi dan memotivasi untuk melakukan pendakian juga. Ada semacam dorongan untuk membuktikan diri bahwa kita mampu menempuh perjalanan berhari-hari tanpa fasilitas memadai. Pendakian gunung juga mematuhi kaidah absurditas Albert Camus: setelah naik gunung, kita pasti turun lagi; seolah tidak ada yang didapat; begitu terus berulang. Naik gunung, turun gunung. Tanpa makna. Tapi naik gunung, setidaknya yang saya rasakan, malah membuat kita mengenali diri kita sendiri. Kita jadi tahu keterbatasan fisik atau psikis kita; kita jadi tahu kapan kita harus berhenti.

Sebenarnya tidak banyak gunung yang saya daki jika dibandingkan dengan teman-teman pecinta alam. Alasannya: pada umumnya, mendaki gunung itu menelan biaya yang cukup besar. Ada juga pendakian kere yang minim fasilitas; tapi ini tidak disarankan karena menyangkut keselamatan diri selama pendakian. Daftar gunung: Lamongan (1,651 m), Raung (3,332 m), Semeru (3,676), Gede (2,958 m), Ciremai (3,078 m). Dulu hampir sempat mau naik gunung Merbabu di Jawa Tengah, atau gunung Merapi Banyuwangi. Yang pertama itu gagal karena persiapan kurang matang; yang kedua gagal karena adik saya keburu pulang duluan (setelah hilang seminggu) sebelum saya melakukan “SAR” ke sana. Gunung yang berkesan adalah gunung Semeru karena pemandangannya bervariasi (savana, danau, hutan cemara, trek berpasir). Gunung dengan trek yang paling berat adalah gunung Ciremai.

Gunung yang baru-baru ini saya daki adalah Gunung Fuji, atau di Jepang disebutnya Fuji-san. Di Indonesia, biasanya orang menyebutnya Fujiyama (‘yama’ artinya gunung). Gunung Fuji terletak 100 km di sebelah Barat Tokyo. Ada yang bilang: seseorang dikatakan belum ke Jepang jika tidak mendaki gunung Fuji; tapi pendakian jangan dilakukan dua kali. Gunung Fuji memang tempat wisata yang paling terkenal di dunia. Fotonya menghiasi banyak kalender, bentuk puncaknya yang simetris dan bersalju sangat ikonik.

Saya mendaki Gunung Fuji antara 20 – 21 Agustus. Ini dua minggu menjelang ditutupnya Gunung Fuji untuk pendakian bebas. Jepang memasuki akhir libur musim panas dan libur sekolah. Jadi masa-masa ramai Gunung Fuji adalah Juli – Agustus. Ribu orang mendaki Fuji setiap harinya. Seperti pasar!

Peralatan. Tidak banyak yang dibawa kecuali tshirt, celana trek, kaos kaki, sarung tangan, pelindung kepala biar hangat, masker (buat menghindari debu), jaket hangat, kamera, sepatu gunung, gaiter (pelindung kaki agar sepatu tidak kemasukan kerikil), rain coat, topi, sunglasses, sunscreen, lip balm, makanan kecil (coklat batangan, permen, roti, kue kering), handuk, sikat gigi, tisu basah & kering, koin 100 yen yang banyak, air minum 2 liter, Pocari Sweat. Disarankan juga membawa climbing stick.

Rute Pendakian. Rute yang paling banyak dipakai adalah Yoshida Route. Saya menggunakan rute ini. Pertama saya naik kereta ke Kawaguchiko 5th Station. Ini adalah pos pertama pendakian. Dari 5th station kita jalan kaki ke 8th station. Saya berangkat jam 14:30 dan mencapai 8th Station, di depan sebuah penginapan kecil (mungkin namanya Ue Edoya atau Shita Edoya), jam 18:30. Di sini saya bermalam. Pukul 1:00 saya berangkat menuju puncak. Karena jalanan antri, maka saya baru mencapai puncak jam 4:20. Ini 15 menit menjelang matahari terbit. Banyak orang yang mengejar sunrise (disebutnya goraiko). Pulang pukul 8:00 dan mencapai 5th station melalui Yoshida Trail pukul 13:30. Total waktu pendakian: naik (7 jam 20 menit), turun (5 jam 30 menit).

Selain itu, ada beberapa hal unik yang perlu diketahui:

  • Di 5th station: Banyak toko-toko besar, restoran. Di sini kita bisa membeli peralatan pendakian juga, makan siang, mengirim kartu pos, menginap atau sightseeing. Di setiap station biasanya ada toilet dan pos penjaga. Ada juga hotel kecil dan  kios yang menjual makanan/minuman.
  • Makanan/minuman harganya 2-4 kali lipat dari di Tokyo.
  • Dari 5th station kita bisa sewa kuda sampai 7th station. Mungkin bayarnya 14,000 yen.
  • Banyak sekali turis naik gunung Fuji. Di 5th station, banyak guide yang pandai berbahasa Inggris. Tapi kemampuan bahasa Jepang sedikit-sedikit pasti sangat membantu.
  • Di 8th station: Kare dijual dengan harga 1,400 yen. Penginapan semalam (check-out jam 6 pagi) membayar 5,500 yen per orang (anak-anak 4,500 yen).
  • Di 10th station atau puncak: Banyak jualan suvenir dan makanan. Bahkan ada vending machine! Minuman di vending machine harganya 400 yen. Udon di puncak gunung fuji harganya 800 yen. Dari puncak Fuji kita bisa beli kartupos dan mengirim kartu pos dari sini. Kantor pos berjarak 30 menit dari 10th station.
  • Saya tidak melihat ada tenda di Gunung Fuji. Mungkin dilarang (?)
  • Di setiap station ada toilet yang berbayar (200 yen per orang); tidak ada penjaga; jadi sukarela. Toiletnya bau sekali; tapi tidak ada pilihan lain. Tahan nafas aja. Dilarang keras pipis sembarangan dan buang sampah sepanjang perjalanan.
  • Di setiap station kita bisa ngecap tongkat kayu yang kita beli dengan cap setiap station. Harga satu cap: 200 yen.
  • Awal perjalanan dari 5th station, bau kotoran kuda sangat menyengat.
  • Orang Jepang terkenal chic alias modis. Naik gunung pun pasti penampilanya excessive dan modis, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda. Tapi ini normal bagi kebanyakan mereka. Fashion is numero uno (in Tokyo, Paris and Milan!).

Kesan secara umum

jadi tahu kenapa kok tidak perlu naik dua kali; pemandangan gunung Fuji itu biasa aja. Gunung Fuji lebih indah jika dilihat dari kejauhan. Kalau dari dekat, mungkin kurang menarik. Gersang. Kawahnya juga kering. Terlalu ramai orang. Bahkan rombongan anak SD pun banyak yang mendaki.

Map

(credit to my friend Hembram)

Jerman


Pada 2010, akhirnya saya berhasil ke Jerman dengan membeli tiket murah Budapest – Köln, mungkin sekitar €60 one way. Kepergian ke Jerman dibuat di sela-sela European Conference on Composite Materials 14, 7 – 10 Juni 2010, yang diadakan di Budapest. Saya hanya menampilkan poster pada hari pertama, jadi sepertinya agak relaks. Tanggal 7 Juni sore hari, saya pamit sama bos dan teman-teman. Saya bilang, saya ke Jerman dan kembali ke Budapest lagi tanggal 9 sore. Mereka bilang: OK. See you!

Di Jerman saya mendarat di bandara Köln. Sudah malam waktu itu. Untung ada Noni yang menjemput. Sebenarnya belum pernah ketemu langsung, jadi katanya dia bawa foto buat dicocokkin sama wajah saya. Setelah itu saya diajak ke apartemennya, dan ditunjukkan sebuah kamar kosong. Penghuninya sedang pulang kampung katanya, jadi saya bisa pakai kamar itu. Selama perjalanan menjemput saya, Noni tidak pernah lepas dari HP. Ada terus pesan yang masuk ke HP-nya. Pasti dari Romi. Dalam perjalanan ke apartemen, saya bilang saya pengen makan. Kebetulan ada kedai kebab yang buka. Wah lumayan pedas juga. Tapi cukup mengganjal.

Keesokan harinya, kami berangkat ke RWTH Aachen. Tujuan utamanya adalah meminjam disertasi Habibie. Disertasi ini dapat dipinjam berkat bantuan Riza dan Ismail yang sedang kuliah di sana. Setelah puas memfoto, buku itu dipinjam dan rencananya akan di-scan oleh Romi. Baik sekali mereka. Setelah scan selesai, karena saya sudah kembali ke Jepang, maka nantinya file dikirim lewat email. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Bremen. Di Bremen, hari mulai senja. Kami langsung menuju ke Restoran Surabaya milik Pak Rudy. Di sana kami makan tahu lontong dan teh manis. Lumayan enak! Sambil ngobrol-ngobrol bahasa Jawa, enak sekali. Jerman serasa jejere kauman.

Besoknya, kita jalan-jalan mengelilingi Bremen dan membeli suvenir plus oleh-oleh. Ada sebuah tugu setinggi 2-3 meter yang ada patung hewan. Empat hewan ditumpuk-tumpuk, paling atas ayam jago, di bawahnya kucing, lalu anjing kurus, lalu keledai. Kalau kita berfoto sambil memegang kaki keledai itu, niscaya kita akan kembali ke Bremen. Begitu mitosnya! Akhirnya aku foto di sana …

Mitos itu mungkin jadi kenyataan. Pada 1-3 Juli 2012, saya mengunjungi Bremen lagi. Tujuan utamanya adalah pergi ke Airbus Deutschland, melihat bagaimana Airbus melakukan manufaktur high-lift device (flaps dan sejenisnya), sayap A380. Sorenya kami kebagian presentasi di depan engineer Airbus. Malam harinya, kami ke rumah Noni-Romi yang tidak jauh dari hotel. Di sana sudah disiapkan tahu lontong enak, soto betawi, cake. Wah pokoknya perut penuh banget. Ada mbaknya Romi, anak bayinya dan satu teman. Ngobrolnya bahasa Jawa seperti biasa. Jadi tidak berasa di Jerman.

Intinya, akhirnya saya kembali ke Bremen setelah 2 tahun. Saya kemudian jalan-jalan dan berfoto lagi di patung itu. Lumayan, siapa tahu bisa kembali ke Bremen lagi … bersama Olit dan Maknya …

Italia


Waktu SD, saya pernah mendengar lagu O Sole Mio. Entah bagaimana lagu berbahasa Neapolitan (dialek Italia Selatan) itu bisa mampir di Bondowoso yang sepi. Katanya, lagu yang diciptakan oleh Giovanni Capurro dan Eduardo di Capua pada 1898 ini punya versi Bahasa Inggris berjudul It’s Now or Never yang dipopulerkan Elvis Presley. Yang jelas, lagu ini nampak riang (baca: optimis) dan ini pengalaman pertama saya bertemu sesuatu yang “Italia”.

Tak lama, saya terekspos pengetahuan tentang Italia lainnya. Buku cerita tentang Leonardo da Vinci (1452-1519), pria asal Florence, yang kidal. Dia punya bakat seni dan sains yang luar biasa. Di sebuah perpustakaan, saya pernah menemukan tulisan Leonardo yang agak filosofis, tentang fenomena tidur. Mahakarya yang terkenal adalah lukisan The Last Supper yang dibuat selama tiga tahun. Selain itu, tokoh lainnya adalah Marco Polo (1254-1324). Saya tahu namanya dari buku tentang Kublai Khan. Marco Polo, plus ayah dan abangnya, asalnya adalah pedagang Venezia yang pergi ke Asia selama 27 tahun; jalur yang dilaluinya bernama Jalur Sutera (Silk Road). Selain itu, kita semua mungkin sudah terekspos dengan Italia lewat Julius Caesar, Raja Romawi. Sebagai seorang yang “sufi” (suka film) saya harus menyebut film-film berbau Italia, misalnya La Vita e Bela (Life is Beautiful), Nuovo Cinema Paradiso, Godfather, Goodfellas, Hudson Hawk, Gladiator, Italian Job dan lainnya.

Bulan Juni lalu, akhirnya saya menginjakkan kaki di Italia. Pertama, ke Venezia, sebuah pelabuhan yang dulu pernah terkaya di dunia. Di Venezia, selain jalan-jalan, saya mengikuti konferensi selama lima hari (hari pertama hanya registrasi, yang akhirnya saya skip). Itu adalah konferensi material komposit terbesar di Eropa, yang melibatkan pelaku industri, akademisi dan peneliti. Ada 14 sesi paralel dan dua sesi poster. Saya kebagian memberi presentasi di hari ke-3. Tidak disangka ruangan cukup besar dan agak penuh. Sebenarnya pertanyaan dari audiens bertubi-tubi, tapi untungnya saved by the bell! Jadi tidak semakin nampak bodoh berkepanjangan. Pulau Venezia dapat dikelilingi dalam sehari. Kita bisa berjalan kaki, atau naik kapal di sungainya (yang sebenarnya air laut). Obyek wisata yang terkenal adalah Piazza San Marco (Basilika San Marco dan Doge’s Palace) dan Jembatan Rialto. Kami juga mampir ke pulau Murano yang punya museum gelas. Sulit membedakan mana orang Italia mana orang asing di Venezia; kecuali kalau mereka pemilik/penjaga toko, polisi, pengemudi Gondola, penjual suvenir dan pemandu museum. Tiket boat yang menghubungkan pulau-pulau kecil dengan pulau Venezia, dan dapat pula digunakan untuk naik bus, dapat dibeli di terminal boat. Ada mesinnya. Tiket 7 hari non-stop dapat dibeli dengan harga €50 (~500 ribu rupiah). Tapi tiket kapal ini penting, meski tidak harus 7 hari. Selain itu, naik Gondola sebaiknya 4-6 orang supaya bisa bayar patungan. Harga makanan satu porsi di Venezia berkisar €6-15. Spagheti di sebuah restoran Rialto bridge berharga sekitar €10. Enak! Dan ini asli Italia.  Hotel di Venezia cukup mahal, tapi ada juga yang affordable sekitar €75 per malam. Singkat kata, jalan-jalan di Venezia barangkali hanya memerlukan dua hari.

Setelah konferensi itu, saya bersama rombongan (dua pria komposit) naik kereta ke Modena, mengunjungi pabrik mobil sport Lamborghini. Di Lamborghini, kami bertemu beberapa orang yang sudah kenal sebelumnya. Di sana cukup ketat, tidak boleh foto-foto di dalam pabrik. Kami menyaksikan bagaimana Lamborghini diproduksi. Lebih khususnya, karena bidang penelitian kami komposit, maka kami mengamati bagaimana body mobil yang terbuat dari komposit karbon dibuat. Di pabrik mobil itu, ada museumnya. Tidak megah, tapi cukup untuk menyimpan koleksi mobil pertama hingga yang terbaru. Saham Automobili Lamborghini kini sebagian besar dimiliki Audi, jadi sebagian produk eksperimentalnya harus ditunda; tidak bisa idealis seperti dulu. Sebelumnya kami ke Museum Ferrari. Kami datang ke sana sebelum museumnya buka jam 9:30! Museum Ferrari terpisah dari pabriknya, tapi lokasinya tidak jauh. Museumnya lebih besar dari punya Lamborghini. Dua perusahaan mobil sport dalam satu kota ini memang bersaing, meskipun desainnya sama sekali berbeda.Di Modena, kami menginap di Hotel La Stella d’Italia yang interiornya masih baru. Meski tempatnya bersih, kami mengalami mati lampu beberapa kali pada malam hari dan kamarnya tidak punya telepon! Tapi secara umum, hotel ini cukup bagus (3/5). Ada restoran kecil di dekatnya, mungkin pemiliknya sama. Restoran juga baru dan menyajikan menu lokal (restoran semacam ini disebut Trattoria). Tempatnya bagus, makanannya enak dan harganya relatif murah.

Dari Modena, kami pergi ke Milan naik kereta juga. Di Milan, kami menginap di Hotel Teco di dekat stasiun kereta bernama Lima. Di dekat hotel Teco ada restoran Cina yang cukup murah (jaga-jaga kalau kangen nasi!). Kami pergi ke Piazza del Duomo, Stadion San Siro, Katedral Milan, Castello Sforzesco (Kastil Sforza, bangsawan yang jadi patron dari Leonardo da Vinci dan Michelangelo). Sayangnya kami tidak dapat melihat lukisan The Last Supper di Santa Maria delle Grazie. Harus booking online berbulan-bulan sebelumnya.

Karayuki-san


Dalam buku Japan and Singapore in the World Economy (1999), Shimizu Hiroshi dan Hirakawa Hitoshi menulis bahwa hubungan ekonomi Jepang dengan Singapura sudah ada sejak permulaan Restorasi Meiji (1868). Ini berarti bahwa hubungan Jepang-Singapura sudah terbina lebih dari 120 tahun. Jadi tidak heran apabila hari ini ada 3.000-an perusahaan Jepang di Singapura; sekitar 700 di antaranya bergerak di bidang manufaktur.

Pada abad 19 itu, ‘tokoh’ penting yang membangun hubungan kedua negara adalah karayuki-san.

Siapakah karayuki-san?

Karayuki-san adalah sebutan bagi anak gadis petani atau nelayan yang pergi meninggalkan Jepang untuk bekerja di luar negeri. ‘Kara’ berarti negara luar, sedangkan ‘yuki’ berarti tujuan. Kata ‘san’ ditambahkan sebagai penghormatan kepada seseorang.

Karayuki-san

Mengapa mereka meninggalkan Jepang?

Gadis-gadis ini pergi meninggalkan Jepang karena tekanan ekonomi.

Pertanian dan teknologi Jepang meningkat setelah Restorasi Meiji. Seiring dengan peningkatan itu, angka kelahiran juga naik. Pada 1873 populasi Jepang berjumlah sekitar 35.2 juta. Populasinya berlipat ganda, yaitu menjadi 69.3 juta jiwa, pada 1935. Pabrik-pabrik tak mampu menampung ledakan penduduk ini. Untuk terus bertani, agaknya sulit karena harga sewa tanah pertanian juga semakin mahal. Jepang juga masuk Perang Dunia II dan devisa negaranya dikerahkan untuk mendukung perang. Efek dari semua ini mudah diduga: pengangguran. Penduduk Jepang pun jatuh miskin.

Untuk mempertahankan hidup, sebagian dari mereka meninggalkan Jepang. Keluarga petani atau nelayan miskin merelakan anak-anak gadisnya bekerja di luar negeri. Negara-negara yang menjadi tujuan utama kala itu adalah Singapura, Hawaii, Siberia, Australia, India atau Afrika. Agen tenaga kerja menjamin bahwa gadis-gadis ini akan mendapatkan pekerjaan di sana. Namun sayangnya, agen seringkali menipu mereka: gadis-gadis ini dijadikan pekerja seks komersial.

Gadis-gadis yang berasal dari Nagasaki, Kumamoto, Yamaguchi, Fukuoka atau Saga ini tidak punya pilihan lain kecuali bekerja sesuai keinginan agen. Dari hasil kerja itu mereka mengirimkan uangnya kepada keluarganya di Jepang, atau membayar hutang kepada agen. Padahal, secara ekonomi pengiriman uang oleh karayuki-san ke Jepang sangatlah kecil.

Sekelompok comfort women yang akan diberangkatkan ke Shantou, Cina Selatan.

Karayuki-san di Singapura

Di Singapura, karayuki-san dikenal dengan nama nan-yo-yuki, atau pekerja seks. Kenyataan yang cukup menarik adalah bahwa merekalah pendatang terbesar asal Jepang di Singapura pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Di Singapura, lebih dari 633 karayuki-san beroperasi di 109 rumah bordil. Bahkan disinyalir ada lebih dari 1,000 rumah bordil yang buka tanpa ijin. Sebagian besar rumah bordil ini terletak di persimpangan antara Victoria Street dengan Rochor Road. Sebagian lainnya berada di Sago Street, Malay Street, Malabar dan Hailam. Agaknya inilah yang membuat Singapura jadi terkenal dalam hal pelacuran pada masa itu.

Namun, praktik ini sebenarnya tidak sesuai dengan rencana kolonial Inggris. Inggris mendatangkan karayuki-san dari Jepang sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan seks para pedagang besar, bukan untuk khalayak umum. 

Karayuki-san dan Geisha

Ada anggapan bahwa karayuki-san ini mirip dengan geisha. Padahal sebenarnya keduanya berbeda. Bedanya jika karayuki-san memang bekerja sebagai pekerja seks, geisha hanya menemani ngobrol, minum dan menghibur pelanggan dengan menari atau menyanyi. Namun dengan berjalannya waktu, banyak juga geisha yang melanggar aturan, atau dipaksa melayani nafsu pelanggan. Tak ayal, sebagian geisha melakukan ‘aktivitas’ yang sama dengan apa yang dilakukan karayuki-san. Karena itu, makna geisha jadi bergeser mendekati karayuki-san, yaitu pekerja seks.

Senjakala Karayuki-san

Karir karayuki-san tidak bertahan lama di Singapura. Pada 1920, tekanan negara-negara lain atas dasar moralitas membuat Konsulat Jenderal Jepang di Singapura menutup rumah bordil yang berisi karayuki-san. Pemerintah Jepang juga mewajibkan karayuki-san pulang ke Jepang. Pada masa itu sedikitnya 40% karayuki-san kembali ke Jepang. Namun sebagian dari mereka menetap di Singapura, atau lari ke Malaysia.

Karayuki-san memang kontroversial. Praktik pelacuran merupakan tindakan asusila, namun perspektif feminisme melihat karayuki-san sebagai satu simbol kegigihan. Kisahnya yang pedih dan penuh kecaman itu mendorong sutradara film Jepang, Shohei Imamura (1926 – 2006), membuat sebuah film Karayuki-san: The Making of A Prostitute (1975). Kisah pelacur Jepang ke Asia Tenggara turut diceritakan sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), dalam seri novelnya, Bumi Manusia.

Di Singapura, kuburan karayuki-san dapat ditemukan di Japanese Cemetery Park. Dan, sejarah Karayuki-san kini terkubur di bawah beton-beton department store seperti Seiyu Ltd., Parco Co, dan Bugis Junction, Singapura.

Bibliografi

  1. Hiroshi S & Hitoshi H. Japan and Singapore in the World Economy, Routledge, 1999
  2. Kajita T, Singapore’s Japanese Prostitute Era Paved Over, The Japan Times, 18 June 2005
  3. Kingston J, Japan’s ‘Comfort Women’ – Wartime Suffering that Didn’t Count, The Japan Times, 26 May 2002
  4. Schilling M, Shohei Imamura (1926 – 2006): A Lifetime in Search of Japan’s True Self, The Japan Times, 8 June 2006
  5. Christopher E, Pybus C, Rediker M (Eds). Many Middle Passages: Forced Migration and the Making of the Modern World, University of California Press, 2007
  6. Tanaka Y, Japan’s Comfort Women – Sexual Slavery and Prostitution during World War II and the US Occupation, Routledge, 2002

Kamakura


Gara-gara tahu kalau Barack Obama mengunjungi Great Buddha (Daibutsu) di Kamakura, jadinya ke sana juga. Sebenarnya mana ya yang lebih terkenal: Obama atau Daibutsu?

Obama: Setelah mencalonkan diri sebagai Presiden AS tanggal 10 Februari 2007, dan bersaing ketat dengan Hillary Clinton, Obama akhirnya terpilih sebagai presiden ke-44 pada 20 Januari 2009. Barangkali yang membuatnya terkenal adalah ras campuran Afrika-Amerikanya, dan pidatonya yang memikat. PR-nya banyak: pengangguran di AS, campur tangan AS di Timur Tengah, dll.

Daibutsu: Patung yang terbuat dari perunggu ini dibangun tahun 1252 untuk mengganti patung Buddha yang terbuat dari kayu. Ratu Inadano-Tsubone dan biarawan Joukou dari Toutoumi mengumpulkan uang dan menggunakannya untuk mengabadikan sosok Amidha Buddha. Patung Buddha setinggi 13.35 meter yang berada sekitar 40 km selatan Tokyo ini berada di dalam kompleks kuil Kotokuin. Daibutsu Kamakura bukanlah yang tertinggi di Jepang (Daibutsu yang tertinggi ada di Ushiku, Prefektur Ibaraki, yaitu setinggi 120 meter).

Mengapa Obama ke mengunjungi Daibutsu Kamakura?

Jawabannya: nostalgia. Dalam buku Dreams from My Father (2004) Obama bercerita bahwa ia mengunjungi Daibutsu Kamakura tahun 1967. Ketika itu ia berumur 6 tahun. Dalam perjalanan menuju Indonesia dari Hawaii, ia bersama ibunya transit selama tiga hari di Tokyo. Tak banyak yang diingatnya kecuali bahwa ia sangat menikmati es krim maccha (teh hijau) yang banyak dijual di sana.

Oleh karena itu, pada akhir sidang Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) yang diadakan di Yokohama, Obama segera naik helikopter ke Kamakura (14 November 2010). Kunjungan kedua Obama ke Kamakura ini diliput secara besar-besaran di Jepang. Sampai-sampai orang menyebut patung itu: Buddha – Obama.

Di Jepang, Kamakura termasuk tempat wisata yang paling diminati. Selain tempatnya yang dekat Tokyo, banyak tempat bersejarah lain yang bisa dikunjungi seperti kuil Tsurugaoka Hachiman-Gyu. Wisatawan juga dapat melakukan selancar angin di pantai Kamakura.

Ketika melihat ‘Buddha-Obama’ itu, ternyata ada yang lebih menarik di sana. Di halaman belakang kuil ini, ada sebuah patung politisi Sri Lanka, JR Jayawardene (1906 – 1996). Jayawardene tidak lain adalah mendiang presiden Sri Lanka.

Mengapa ada patung Jayawardene di sana?

Patung kepala Jayawardene ini didirikan sebagai penghormatan bangsa Jepang kepada Jayawardene karena atas usulan nyleneh-nya Jepang akhirnya diterima kembali masuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Tanggal 8 September 1951 itu barangkali bersejarah bagi Jepang. Di konferensi ‘Perjanjian Keamanan dengan Jepang’ (umum disebut Perjanjian San Francisco) di War Memorial Opera House, San Francisco, Jayawardene mengatakan bahwa negara-negara dunia harus memaafkan Jepang dan mengajak Jepang untuk bergabung kembali dengan Kelompok  Internasional yang ditinggalkannya pada 27 Maret 1933. Di hadapan delegasi 51 negara itu Jayawardene berkata:

Kami di Ceylon (Sri Lanka) merasa beruntung karena kami tidak dijajah (Jepang), namun kerusakan karena serangan udara oleh tentara Jepang yang ada di bawah komando Asia Tenggara, dan diputusnya ekspor hasil bumi utama kami, yaitu karet, ke negara-negara Sekutu, membuat kami berhak menuntut Jepang untuk memperbaiki kerusakan itu. Namun, kami tidak berniat melakukannya karena kami percaya kepada kata-kata Guru Agung yang pesannya memuliakan jutaan manusia di Asia, bahwa “kebencian jadi hilang bukan karena dibalas dengan kebencian, tapi dengan cinta”.

Meskipun mengutip Buddha, pernyataan Jayawardene tetap menimbulkan kontroversi karena enam tahun sebelumnya Jepang menghancurkan Pearl Harbor di Hawaii, AS. Lagipula, luka-luka masih tersisa karena penjajahan Jepang di Korea, Cina, Filipina, Myanmar, Vietnam, Indonesia, Malaysia dan negara-negara lainnya.

Tidak berapa lama, 48 negara menandatangani perjanjian itu, kecuali Chekoslovakia, Polandia, Uni Soviet, Korea Selatan dan Korea Utara. Jepang akhirnya bergabung kembali dengan PBB tanggal 18 Desember 1958.

Di bawah patung Jayawardene itu terdapat ukiran:

Hatred ceases not by hatred, but by love.