Inside the Kingdom


1

Raja Arab Saudi terbiasa dengan puisi. Demikian halnya Raja Khalid bin Abdulaziz (1919-1982), raja ke-5 dinasti Al-Saud. Pada 1979, seorang lelaki tua Badui mengumandangkan sebait puisi dengan diksi sederhana di sebuah majelis:

Wahai cinta kami,

Wahai Khalid, raja kami,

Wahai singa gurun,

Ikrar-ikrarmu kami melantun …

Kutipan itu ditulis Robert Lacey, sejarawan Inggris, dalam bukunya “Inside the Kingdom” (2009) untuk menggantikan “The Kingdom” (1981) — yang dulunya kena cekal. Lacey seolah menulis standard operating procedure bagi diplomat Barat yang hendak dikirim ke Arab Saudi – semacam diskursus yang dikemas dalam bahasa yang apik. Esai-esai di dalamnya berisi suara ‘orang dalam’, diangkat dari konflik dan perbedaan di sebuah negeri yang eksistensinya (secara teoretik) kerap melawan logika dan historiografi. Buku itu memang mengupas konflik dan perbedaan sebagai penyebab benturan yang-religius dan yang-profan, yang kadang menumbuhkan radikalisme dan terorisme. Sebut saja kisah pengebom Masjidil Haram, Al-Qaeda, Sunni-Shia, jihad. Sebagai biografer, ia tentu juga menulis soal Raja Abdullah dan visi Saudi. Yang menarik tentunya, satu epilog dalam Inside the Kingdom yang bernafas optimisme: KAUST (King Abdullah University of Science and Technology), sebuah muara di mana dunia Barat dan dunia Timur (Tengah) bertemu.

2

Sebuah ruang baca (perpustakaan) di Baghdad itu milik Harun Al-Rashid (766-809). Orang ramai tahu bahwa Harun adalah kalifah paling terkemuka dinasti Abbasiyah (dari garis keturunan paman Nabi Muhammad SAW, Abbas bin Abdul Muthalib). Harun adalah diplomat prolifik yang punya koneksi luas: hubungan diplomatiknya kuat dengan Charles the Great yang mendominasi Eropa pada abad pertengahan. Anaknya, Ma’mun, menyulap perpustakaan itu menjadi bentuk yang lebih megah dan formal: Graha Kearifan (House of Wisdom; Baitul Hikmah). Graha ini menjadi forum akademik umat Muslim, Kristen dan Yahudi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan: astronomi, matematika, kimia, kartografi, biologi, farmasi. Kitab-kitab Yunani diterjemahkan, filsafat pun dipelajari. Eropa memang tak masuk hitungan — ia sedang mengarungi Abad Kegelapan, di mana konflik berdarah dan penyakit endemik melanda.

Namun, 350 tahun berlalu dan jutaan dokumen ilmu pengetahuan itu dimusnahkan oleh Mongolia pada 1258. Sebagian yang tersisa dibawa ke Eropa. Dan, kita semua tahu bahwa peradaban akhirnya bermigrasi ke Barat.

3

Kisah itu, bagi sebagian kalangan ilmuwan muslim, sungguh mengecilkan hati dan menghancurkan kepercayaan diri. Namun, kisah itu malah membuat Raja Abdullah (1924-2015) berambisi membangun kembali peradaan Islam. Lacey melihat KAUST sebagai ambisi ‘romantik’ sang raja. Tapi, sebaliknya, raja melihat bahwa Baitul Hikmah adalah episenter peradaban dengan karakteristik ‘toleransi dan ilmu pengetahuan’ yang berpadu. Lacey juga menulis bahwa KAUST merupakan respon sang raja terhadap aspek totalitarian dari paham Salafi. KAUST perlu menstimulasi perubahan Arab Saudi soal konsep pendidikan tinggi – yang kian lamban di bawah Kementerian Pendidikan.

Sebuah tempat yang sejuk tentu nyaman didiami. Raja Abdullah awalnya ingin membangun KAUST di dataran tinggi Taif, sebelah timur Mekkah yang hijau dan dingin. Namun, pelbagai pengaruh datang. KAUST akhirnya dipindah ke desa nelayan bernama Thuwal (90 km utara kota Jeddah).

Pada 2007, Raja Abdullah bersikap unik: mengunjungi KAUST dengan bus mewah bersama rombongan. Alih-alih terbang via helikopter, ia ingin menikmati tawa, canda dan nyanyian di atas jalan tol. Ini memang kerepotan tersendiri bagi protokol: penjagaan sepanjang gurun antara Jeddah dan Thuwal diperketat.

Raja Abdullah diantar terlebih dahulu ke KAEC (King Abdullah Economic City). Sesampainya di sana, sang raja sigap bertanya: “Mana universitasnya?” Ketika protokol menjawab bahwa KAEC adalah tempat transit untuk prosesi penyambutan saja, raja segera berbalik ke bus. Ia minta segera diberangkatkan ke Thuwal. Kontingen penyambutan kontan melongo – sambil diterpa sepoi-sepoi angin gurun yang kering …

Sesampainya di KAUST, raja hanya melihat perataan tanah dan pohon-pohon kurma saja. Ia kemudian melihat denah cetak biru KAUST, sambil pura-pura tertarik. Ia kemudian kembali ke bus, dan meluncur ke Jeddah. Hari itu, rute Thuwal-Jeddah sungguh muram. Anggota keluarga yang mengenalnya belum pernah melihat sang raja marah dan tertekan seperti itu – meski dalam khidmat dan santunnya. Ia hanya punya satu keinginan: profesor dan mahasiswa sudah lalu lalang pada bulan September 2009 di kampus bernama KAUST.

Raja kembali ke tempat peristirahatan di Jeddah. Matahari terbenam, dan ia sholat maghrib di sebuah masjid pribadi di tepi laut merah. Ia menyendiri malam itu. Doanya lebih lama dari biasanya.

Dua tahun berlalu. Tepat September 2009, KAUST dibuka untuk mahasiswa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s