Language


My son is now 9 years old, and approaching his 10th. He is in Grade 4. When I was at his age, I was in Grade 4 too. I felt it was a tough year as most subjects changed drastically from simply one-directional instruction (teacher to students) to group discussion (plus team work) and active involvement of pupils in all subjects. But that is not what I want to say here.
At 9 years old, it never occurred to me that I would leave my hometown (to go abroad is of lowest importance as to go to heaven). It is a small town; maybe one of the smallest towns in my province. It is in Java Island (densely populated island in Indonesia due to fertile soils, agricultural products, educational institutions, industry – most of all, the capital), but still … the sphere of influence from larger cities was just a minute tremor in the night: simply ignored. I love living in my hometown. No mobile phones or gadgets, no games, 1-hour TV daily. The meaning of a “day” is just school, friends (with their unique or occasionally erratic characters), playing outdoors (river, hills, mountains, beaches), parents (not sure why I put it on the last). Living in the vicinity of two 3000-m mountains with temperature range of 15-24 °C, and with a polarized vibrancy within 3 x 3 km² (2700 people), who would leave this town. Everyone recognized everyone (mostly faces, but not names – everyone is Pak, Bu, Mas, Mbak – Mr, Mrs, Bro, Sist). It is simple yet very mundane at times. Language spoken was only three: Indonesian, Java, Madura. English was just a popularized by the school and small cinema (that is now in paradise – a.k.a dead!). No one spoke in English; a few foreigners from Europe, America, Australia dropped by (and by then I realized that God really created various kinds of human – not only in the movie).
At 9 years old, it never occurred to me why I would leave my hometown. But now I realize that the reason is simple: because of the hometown itself. It would not be called “home” if you never go. You should go. Go, see the rest of the world, and come back someday. It is two directions: you call it home, and home accepts you (wherever you may be).
Unlike me, my son doesn’t have a hometown. His home is the house we rent. It is the consequence of family-traveler like us. It could be a popular culture we (the baby-boomers, 90s, millenials) follow: as popular as a trailing spouse, religion-based country (as an antithesis of the capitalist one), nuclear family, Hermes handbags, or Donald Trump. But, one thing remains: native language. It is his only home. It is the only thing that connects him to my hometown. Talking in native language to him is recently getting uneasy due to inevitable multicultural KAUST that ‘forces’ him to speak English. That is why we speak Indonesian at home. Also, luckily, Indonesians living in KAUST have makan-makan culture (it is literally ‘eating together’) that instills unconsciously native language into our children. As a family-traveler, no choice, the children needs the meaning of home, and it is through the native language. Not to an extent that we should follow Søren Kierkegaard (since we are not philosophers who should advocate the importance of language): just talk in the native language as much as you can with your children.

2016: Review dan Terget


Postingan pertama di tahun 2016! Tepat setahun lalu, saya menuliskan ‘mimpi-mimpi’ untuk tahun 2015. Apa yang ingin dicapai, dikerjakan, didapat. Sekarang saya ingin me-review mimpi atau target tersebut.

  • mendapat perpanjangan kontrak lagi √
  • menulis paper (targetnya 3 paper) √
  • mempelajari lebih dalam tentang dynamic properties of materials, viscoelastoplasticity x
  • nyicil nulis buku komposit bahasa Indonesia x
  • umroh rutin √
  • memperbanyak sholat berjamaah √
  • mendalami Qur’an √
  • sedekah, donasi √
  • belajar bahasa Arab x
  • mempunyai tabungan pendidikan dan pensiun yang cukup √
  • berinvestasi √
  • liburan musim panas √

Alhamdulillah kontrak diperpanjang lagi. Setidaknya bisa bernafas lega karena posisi kontrak memang meresahkan. Tapi ini sejalan dengan sifat kompetitif dari penelitian yang progresif dan tidak tentu (tergantung funding dan trend teknologi). Meskipun 2015 hanya terbit 1 paper (sebagai co-author), setidaknya menulis 1 paper sendiri (yang sampai hari ini masih under review), dan 3 paper lainnya (sebagai co-author). Total 5 paper. Ternyata belajar sesuatu yang baru seperti viscoelastoplasticity membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Beberapa buku sudah diunduh, tapi waktu untuk membacanya tidak ada. Nyicil menulis buku tentang komposit dalam bahasa Indonesia juga tidak sempat. Motivasi untuk menulis buku komposit memang kurang kuat karena memang tidak mengajarkan komposit di kampus. Umroh diusahakan memang rutin tiap bulan, tetapi kadang kelewatan karena kesibukan saat weekend. Eh, tapi Nabi Muhammad aja cuma pernah umroh 4 kali dan haji 1 kali semasa hidupnya (dari buku “Shahih Bukhari”). Masa melebih nabi ya? He he. Mempunyai tabungan (meskipun sedikit) dan investasi lumayan tercapai (meski masih nyicil juga). Liburan sudah terlaksana meski dekat-dekat sekitaran sini.

Target 2016

  • Mendapat promosi atau perpanjangan
  • Liburan musim semi dan panas
  • Umroh rutin dan ziarah
  • Menulis 3 paper
  • Bisnis kecil-kecilan
  • Melanjutkan investasi dan menabung
  • Menulis buku tentang Jepang atau lainnya

 

Y.A.E.


Saya ketemu Mas Yogi Ahmad Erlangga (Y.A.E.) tahun 1997. Saat itu saya masih mahasiswa baru di jurusan Teknik Penerbangan (PN) ITB. Di sela-sela penataran P4, para mahasiswa baru diberi kesempatan mengunjungi laboratorium, dan  Mas Yogi kebetulan mendampingi kami. Beliau sekilas menjelaskan tentang pesawat MIG-21 (pesawat tempur buatan Uni Sovyet yang dulunya, konon, laris manis) yang ada di lab. Beliau ngomongnya cepat – jadi orang mesti perhatian. Setelah itu, beberapa senior PN-93, termasuk Mas Yogi, menjelaskan mengenai kuliah-kuliah di Penerbangan (setidaknya memberi perspektif mahasiswa). Cerita-ceritanya terdengar menarik sekali. Tapi saat yang bersamaan kami segera sadar bahwa PN adalah jurusan (penuh) PR!

Selamat datang di PN.

***

Waktu berlalu. Pada 2008, seorang kawan dekat mengajak serta mengembangkan Waviv Technologies di Bandung. Waviv Technologies mempunyai misi untuk memberikan layanan bagi perusahaan minyak dan gas dalam hal interpretasi data geofisika – dengan cara mengembangkan program numerik 2D bikinan Mas Yogi. Saya tertarik (meski tidak yakin bisa berkontribusi), dan diberi beberapa bacaan. Salah satu bahan bacaannya adalah disertasi S3 Mas Yogi. Seperti halnya disertasi keluaran TU Delft yang lain (yang kebetulan pernah saya baca tahun 2001/2002 seperti karya Dr Erwan Karyadi dan Dr Ade Jamal mengenai sandwich structures), kualitas disertasinya mengagumkan. Yang unik dari disertasi keluaran TU Delft: adanya “stellingen” (proposisi, usulan). Disertasi TU Delft biasanya memuat kurang lebih 10 proposisi. Mas Yogi menulis 11 proposisi – dari hal teknis sampai filsafat hidup atau keseharian belaka.

Nah, saya hanya terjemahkan stellingen Mas Yogi di sini (kalau menerjemahkan semua disertasinya bisa mabok!):

  1. Kita sangat memerlukan preconditioner siap pakai (tapi isinya tidak ketahuan, alias “black box”) untuk metode iteratif Krylov subspace. Akan tetapi, supaya solusi masalah tertentu cepat konvergen (mengerucut), seseorang seyogyanya tidak mengandalkan preconditioner-siap-pakai tersebut. Seseorang mesti merancang sendiri preconditioner yang khusus dipakai untuk masalah yang tengah dihadapinya.
  2. Untuk (memecahkan) persamaan Helmholtz, preconditioning mestinya tidak hanya memberikan hasil konvergen secara cepat (efficiency), tetapi juga tidak boleh terpengaruh oleh ukuran grid dan jumlah gelombang (robustness). Saat ini preconditioning yang efisien sudah tercapai, tetapi robustness masih menjadi tantangan utama.
  3. Aplikasi metode multigrid standard untuk (memecahkan) persamaan Helmholtz (juga masalah-tak-berbatas lainnya) berujung pada sulitnya proses smoothing dan koreksi grid kasar, dua pokok utama dalam multigrid. Agar berhasil mengembangkan metode multigrid yang baik, satu langkah kunci adalah mengembangkan smoothing yang tidak pasaran dan metode diskritisasi grid kasar.
  4. Meskipun multigrid sebenarnya efisien untuk pelbagai masalah, salah satu penyebab mengapa multigrid tidak masuk 10 algoritma terbaik adalah karena multigrid seringkali dipakai untuk preconditioner metode iterasi Krylov subspace, tapi tidak sebaliknya.
  5. Menurut Maxwell, 1856, semua ilmu matematika didasarkan pada hubungan antara hukum alam dan rumus menggunakan angka, sedemikian hingga setiap masalah fisis dapat disederhanakan sebagai penentuan kuantitas dengan mengoperasikan angka-angka. Dalam konteks ini, matematika numerik adalah ilmu matematika yang mengembangkan operasi-operasi sistematik untuk menentukan kuantitas secara akurat dan secepat mungkin.
  6. Kalimat “Tidak ada itu yang namanya makan siang gratis” berlaku juga untuk matematika. Untuk masalah numerik yang rumit, seseorang harus rela melakukan sejumlah besar perhitungan per iterasi sebagai harga yang harus dibayar agar perhitungannya cepat konvergen dengan iterasi yang sesedikit mungkin.
  7. Sebagian besar ilmuwan terkemuka masa lampau meninggalkan dua hal: karya-karya besar (yang dikagumi ilmuwan-ilmuwan penerusnya) dan masalah-masalah besar (yang membuat ilmuwan-ilmuwan itu kelimpungan).
  8. Ilmuwan religius mempercayai bahwa teks yang difirmankan (kitab suci) berisikan kebenaran absolut, dan ilmu pengetahuan seharusnya tidak berlawanan dengan firman. Tetapi, ilmu pengetahuan seringkali tidak selaras dengan interpretasi dari kitab suci. Dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan dan menginterpretasikan kitab suci, manusia mengandalkan otaknya. Ketika kontradiksi (antara ilmu pengetahuan dan kitab suci) itu terjadi, hal pertama yang perlu dilakukan manusia adalah mengoreksi otaknya sendiri dan membuatnya bekerja (dengan baik).
  9. Kebanyakan orang Belanda menyangka bahwa mereka adalah satu-satunya bangsa di dunia yang menyajikan roti disertai mentega dan hagelslag (butiran coklat). Di Indonesia, hagelslag dikenal dengan nama meisis, yang terdengar seperti meisjes (kata Belanda yang artinya ‘gadis-gadis kecil’).
  10. Langit di Belanda selalu menampilkan ini: nuansa sehabis hujan, nuansa mau turun hujan, nuansa hujan beneran (The Holland Handbook, Nuffic, 1997).
  11. Di sebuah negara yang sepanjang tahun jarang terkena cahaya matahari, harga ‘cahaya matahari’ setara dengan (sekurangnya) satu bulan liburan di negara yang cahaya mataharinya berlimpah.

Haji dan Snouck Hurgronje


Ibrahim lahir di Babilonia (kini selatan Baghdad, Iraq) dari seorang ayah penyembah berhala (idol) yang menolak keras ketika diajaknya menyembah Allah. Ayahnya bernama Tarikh, meski ada juga yang menyebutnya Azar. Tuhan sejak awal mengetahui bahwa Ibrahim adalah sosok yang tepat sebagai nabi. Ia menikah dengan Sarah yang mandul. Oleh sebab itu, ia menikahi Hajar yang kemudian melahirkan Ismail. Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya Ismail. Awalnya Ibrahim menolak, tetapi kemudian yakin atas perintah itu setelah Ismail mengikhlaskan dirinya. Sejarah ini menggambarkan kepatuhan seseorang kepada Allah di atas hal duniawi yang dicintainya, misal anak.

Sejarah itu kemudian melahirkan rukun Islam bernama haji. Sejak Muhammad meninggal, orang Islam terus melakukan ibadah haji pada hari ke 8-12 bulan Dzu al-hijjah. Kata “ibadah” merupakan perspektif yang dipakai muslim untuk menamakan haji. Namun, ketika haji diteliti orientalis, seperti misalnya Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936), ia berubah nama menjadi “feest” atau semacam pesta perayaan. Esensinya tentu berbeda: yang satu melihatnya sebagai ritual suci untuk mendekatkan diri kepada Allah, yang satu lagi melihatnya sebagai orang ramai yang melakukan kegiatan non-transenden (seolah tuhan tak hadir di pusaran Ka’bah, Shafa-Marwah, Mina-Muzdalifah dan teriknya Arafah).

Meskipun kebencian sudah ditanamkan kepadanya sejak SD, sosok Snouck Hurgronje sendiri sebenarnya menarik. Snouck, bagi yang awam sejarah, adalah pegawai kolonial Belanda (semacam intelijen-peneliti), profesor di Leiden University dan pionir penelitian tentang Islam.

Christiaan_Snouck_HurgronjeChristiaan Snouck Hugronje

MeccaSH1885Mekah pada 1885 (foto oleh Snouck Hurgronje)

Kebencian-yang-ditanamkan itu agaknya memang beralasan. Kerajaan Belanda yang kehabisan dana dalam memerangi suku Aceh meminta Snouck untuk meneliti kehidupan para muslim Hindia Belanda (Jawa, Aceh, dan lainnya) di Mekah. Hasil penelitian itu kemudian mendasari strategi untuk memecah belah suku Aceh. Snouck yang mempertahankan disertasi berjudul “Het Mekkaansche feest” (Pesta Masyarakat Mekah, 1879) sebelumnya tak pernah ke Mekah – dan ia sudah menulis tentang Mekah (plus belajar bahasa Arab, Hebrew, Islamologi dan muslim yang disebut “Muhammadan” ketika itu) sebelum ke sana. Ia baru ke Mekah ketika mendapat jaminan Kerajaan Ottoman (yang ketika itu menduduki Arab Saudi) agar bisa melakukan penelitian (1884-1885). Sepulang dari Mekah (agaknya ia diusir dari jazirah Arab sebelum musim haji tiba karena mungkin kedoknya ketahuan), ia menulis sebuah buku fotografi berjudul “Mekka” yang judul panjangnya menjadi “Mekka in the Latter Part of 19th Century” (Brill). Lanjutan dari buku ini terus mendasari laporan-laporannya mengenai kehidupan Muhammadan (muslim) pribumi di Mekah, Aceh, Jawa, dan wilayah kolonial Belanda lainnya.

Snouck adalah salah satu orang yang pernah merekam suara orang membaca surat Ad-Dhuha di Mekah. LINK.

Referensi:

Thailand (3)


Sewindu telah berlalu, akhirnya kembali ke Thailand lagi. Bandara Suvarnabhumi nampak lebih modern. Antrian imigrasi semakin panjang di penghujung libur musim panas ini. Wai (posisi mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada – seperti hendak berdoa) ada di mana-mana. Ia diselingi ucapan “sawadee krap” (atau “sawadee ka” untuk perempuan). Welcome to Thailand!

Dua tahun lalu (Mei 2013) literatur mengenai Thailand dibaca habis-habisan sebagai bahan penulisan buku tentang Raja Rama V (Raja Chulalongkorn). Setelah itu, semua literatur diparkir di rak buku, atau disimpan dalam folder, tak terbaca. Kepergian ke Thailand, yang tak direncanakan, dilakukan untuk reuni dengan alumni Tokyo Metropolitan University, Jepang. Tiket pesawat dibayari – tetapi sisanya (akomodasi, makan) bayar sendiri. Kesempatan emas untuk memeriksa beberapa hal tentang Raja Rama V, sekalian mencari buku yang susah ditemukan di tempat lain.

Tak disangka, beberapa buku ditemukan:

  1. Journeys to Java by Siamese King (bahasa Thai). Imtip Pattajoti Suharto.
  2. King of the Waters – Homan van der Heide and the origin of modern irrigation in Siam. Han ten Brummelhuis, ISEAS, 2005.
  3. Thailand: A short history (2nd Edition). David K. Wyatt, Silkworm Books, 2003.
  4. The Muslims of Thailand. Michel Gilquin (translated from French by Michael Smithies). Irasec & Silkworm Books, 2005.

IMG_5825

IMG_5826

Buku pertama sama sekali tak terbaca – seolah membaca buku primbon dalam aksara Jawa. Buku ini semacam memorabilia untuk bersanding dengan versi Inggrisnya. Setidaknya ada dua versi Inggris dan Thai. Sedangkan yang berbahasa Indonesia tengah digarap.

Buku kedua dibeli karena penasaran yang mendalam terhadap sosok insinyur Belanda yang akhirnya dikontrak dari Jawa oleh Raja Chulalongkorn untuk bekerja di Thailand. Homan van der Heide adalah sosok insinyur itu. Ketika mengunjungi Yogyakarta pada 1896, Raja Chulalongkorn kagum dengan perencanaan pengairan di sana. Seorang insinyur mempresentasikan sebuah peta perencanaan irigasi Yogyakarta. Tapi belum ketahuan apakah insinyur itu adalah Homan. Yang jelas, seketika itu juga, Raja Chulalongkorn memohon pihak Belanda untuk “memberinya” beberapa insinyur untuk menginisiasi proyek irigasi di Siam. Belanda tidak dapat menyanggupi karena Jawa memerlukan banyak insinyur sipil pengairan (sebagian adalah lulusan universitas terkemuka, TU Delft). Beberapa tahun kemudian, barulah Belanda dapat mengirim seorang insinyur bernama Homan van der Heide. Kisah Homan sendiri agak tragis karena setelah 8 tahun bekerja di Siam, perencanaan irigasinya sulit diimplementasikan karena perbenturannya dengan birokrasi. Ada juga sentimen kerajaan Siam terhadap sikap kolonial. Ini mempersulit perbaikan irigasi Siam. Pada akhirnya, Siam memang mengimplementasikan rencananya, tetapi itu pun setelah Homan pergi meninggalkan Siam. Homan sendiri akhirnya mati di kamp konsentrasi setelah perang dunia.

Buku ketiga belum dibaca.

Buku keempat dibaca baru separuh. Yang jelas jangan kaget kalau Thailand yang penuh dengan pemeluk Buddha Theravada punya 500 ribu warga muslim di Bangkok! Kebetulan saya sempat sholat Jumat di Masjid Chakrapong di kawasan Talat Yot tak jauh dari Bangkok National Museum. Masjid ini sederhana, dua tingkat, bersih, dan khotbah diberikan dalam bahasa Thai. Lokasinya masuk gang kecil, yang dipinggirnya banyak orang berjualan.

IMG_5668

IMG_5676

IMG_5671

2015


Postingan pertama tahun 2015! Kehidupan di KAUST selama hampir setahun (Feb 2014 – Jan 2015) berlalu dengan cepat. Tidak terasa! Berbeda dengan di Jepang antara April 2013 – Jan 2014 yang seringkali diwarnai rasa ingin ‘minggat’ secepatnya dari negeri matahari terbit itu. Kehidupan di KAUST sangat sibuk, lebih sibuk dari di Jepang. Tempat baru, eksplorasi baru, tanggungjawab baru. Alhamdulillah, mungkin tinggal di tempat ini harus disyukuri setiap hari (agar tuhan terus menambahkan nikmat-Nya).

Tahun 2014, sebenarnya hanya punya target mendapatkan pekerjaan baru (maklum, kontrak kerja sebelumnya berakhir pada bulan Maret 2014). Jadi mau tidak mau, kita harus pergi dari TMU. Ada satu opsi sebenarnya, jika ingin tetap tinggal di Jepang, yaitu pergi ke Nagoya dan bergabung dengan National Composite Center yang baru dibangun dan dipimpin oleh profesor komposit Jepang. Meskipun itu akan sedikit mendongkrak curriculum vitae karena pernah bekerja dengan profesor itu, tapi pindah ke Nagoya akan memberi kerepotan (hidup di Jepang) edisi berikutnya, misal: mencari rumah, mengurus sekolah, angkut-angkut barang dan lain-lain. Alhamdulillah, bulan September 2013, sudah ketahuan bakal pindah ke KAUST.

Target tahun 2014 sebelumnya sebenarnya berhubungan dengan pekerjaan, agama dan keuangan. Setidaknya, dalam hal pekerjaan, kontrak diperpanjang (dan ini sudah terjadi). Agama: menunaikan ibadah haji dan umroh. Keuangan: mempunyai tabungan yang cukup untuk beberapa hal. Alhamdulillah, mendapatkan financial miracle di KAUST.

Tahun 2015 ini targetnya adalah:

  • Akademik/profesi:
    • mendapat perpanjangan kontrak lagi;
    • menulis paper (targetnya 3 paper);
    • mempelajari lebih dalam tentang dynamic properties of materials, viscoelastoplasticity;
    • nyicil nulis buku komposit bahasa Indonesia
  • Religius/Sosial
    • umroh rutin;
    • memperbanyak sholat berjamaah;
    • mendalami Qur’an;
    • sedekah, donasi
  • Self-development:
    • belajar bahasa Arab,
  • Finance
    • mempunyai tabungan pendidikan dan pensiun yang cukup
    • berinvestasi
  • Leisure
    • liburan musim panas

Di Tepi Laut Merah


Ayat ini tentu sungguh masyhur:

Lalu kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS 26:63)

Terbelahnya lautan itu berawal dari sebuah eksodus. Musa bersama kaum Yahudi melarikan diri dari Mesir. Mereka tergesa, dan tiba di tepi laut merah. Keadaan mulai tegang karena raja Mesir (firaun atau pharaoh) mengejar mereka. Firaun sudah tak jauh di belakangnya. Musa yang terpojok kemudian menerima wahyu itu. Ia memukulkan tongkatnya ke tanah, dan lautan terbelah dua. Di tengahnya, ada jalur kering yang terbuka. Kaum Yahudi melewati jalan itu, hingga mencapai jazirah Arab dengan selamat. Firaun tak jauh di belakang mereka, juga melalui jalur kering itu. Ketika semua Yahudi telah menginjakkan kaki di pantai barat Arab itu, Tuhan menutup laut itu. Firaun dan pasukannya tenggelam, terhimpit dua ‘dinding’ laut yang sebelumnya tegak dan stasioner.

Cerita itu sangat masyhur. Bahkan orang MIT pun membuat sebuah T-shirt yang mencetak persamaan Navier-Stokes:

And Moses said:

∇·v = 0

δv/dt + v·∇v = -∇P/ρ – g∇h + v∇²u

And the waters parted!

Cerita itu sangat masyhur. Ketika kecil, ketika mendengar cerita itu (dan melihat film Ten Commandments), saya tak pernah membayangkan akan pergi ke laut merah. Mungkin hanya ingin tahu: di mana laut merah, mengapa ia bisa terbelah begitu rupa. Pesan yang diingat juga tidak banyak, bahwa yang jahat akhirnya binasa, bahwa tuhan memberikan jalan kepada mereka yang terhimpit namun terus berusaha.

1398676936194

KAUST

Bulan Februari lalu saya mulai tinggal di tepi laut merah (akhirnya ke tanah Arab juga, meski tanpa lewat Mesir, dikejar firaun dan membelah lautan). Alasan utama ke Arab adalah bekerja di KAUST (King Abdullah University of Science and Technology). Mengikuti tradisi penamaan universitas di Arab, KAUST adalah universitas yang didirikan atas daulat Raja Abdullah. KAUST dibangun (dengan ngebut) pada 2007, dan mulai menerima mahasiswa (khusus pascasarjana S2, S3) pada 2009.

Minum kopi di laut merah

Minum kopi di laut merah

Universitas ini pernah membuat ‘geger’ Singapura pada 2008. Ketika masih bekerja di Singapura, saya membaca berita bahwa rektor NUS (National University of Singapore) bernama Prof. Choon Fong Shih pindah ke KAUST. Shih pindah ke Arab ketika namanya masih bersinar. Ketika menjadi rektor itu (2000-2008), ia berhasil mendongkrak reputasi NUS dengan mengundang profesor-profesor ternama, memperkuat hubungan antara lembaga riset (A*STAR) dengan NUS, memperkuat jalinan dengan industri, memperbaiki kurikulum dan meningkatkan publikasi internasional.

KAUST diawali dengan program yang mirip dengan NUS. Bedanya tentu banyak. KAUST dilimpahi endowment fund yang fantastis (20 miliar dolar), dan tak hanya skala kampus biasa (tetapi kota mandiri!). Lokasinya tak jauh dari Jeddah (80-90 km ke utara), di sebuah kampung nelayan bernama Thuwal. Pantai Barat ini relatif bebas dibandingkan kawasan dalam Arab Saudi yang ketat menjalankan hukum syariah. Di KAUST, pria dan wanita dapat kuliah/riset bersama tanpa dipisah/disekat (di universitas lainnya, mereka dipisah). Wanita tidak diwajibkan memakai pakaian tertutup (jilbab dan sejenisnya). KAUST menjaring top talent, siapa saja yang berminat mengembangkan frontier research yang (tentunya) sesuai dengan visi/misi KAUST. KAUST punya 200an dosen, 300an postdoc dan research scientist, 500an mahasiswa dan sekitar 1000 staff. Selain mendapatkan gaji, mereka juga mendapat rumah (dengan ukuran jumbo!) serta benefit lain. KAUST juga mempromosikan keberagaman (diversity): warganya berasal dari 90 negara. Total penghuni compound KAUST adalah 5000an. Sebagian besar adalah anak-anak! Minibus kecil berkeliaran di jalur-jalur utama dengan waktu kedatangan setiap 15 menit (gratis!). Bus besar juga disediakan bagi penghuni untuk pergi ke Jeddah, Mekkah dan Madinah (gratis juga!). Ada dua supermarket (kecil dan besar) yang memenuhi kebutuhan penduduk. Ada pemadam kebakaran, kantor polisi, stasiun bus, rumah sakit, masjid besar (dan kecil-kecil yang tersebar), kompleks olahraga dan hiburan, sekolah berbasis internasional, penitipan anak, restoran dan fasilitas lain. Intinya: bersyukur sekali bisa ke KAUST.

Ke KAUST dengan alasan ingin haji?

KAUST juga terletak tidak jauh dari Mekkah dan Madinah. Ini sebabnya mengapa banyak sekali yang ingin masuk KAUST: karena ingin umroh (yang bisa dilakukan setiap minggu) atau naik haji. Masuk KAUST dengan alasan ini, bagi saya pribadi, sangat naif. Alasannya sangat sederhana: KAUST didirikan tidak untuk melayani ibadah umroh dan haji! KAUST didirikan untuk mengembalikan lagi jaman keemasan Arab sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia. Menurut kisah yang turun-temurun di sini, KAUST didirikan berkat impian seorang raja sejak 25 tahun silam. Universitas model KAUST diformulasikan dari gagasan para profesor dari berbagai univesitas ternama dunia ketika mereka ditanya: “Jika anda diberi dana tak terbatas, universitas model apa yang akan anda dirikan?” Jawaban mereka tentu beragam. Tetapi setelah digodok, jawabannya adalah KAUST (more or less). KAUST memerlukan reputasi internasional karena ia masih balita. Ia memerlukan dosen, peneliti dan mahasiswa yang dapat menghasilkan paper, paten, atau prestasi akademik lainnya. KAUST didirikan untuk menaikkan ekonomi Arab Saudi yang saat ini hanya bersandar pada minyak dan haji. Ini mungkin hard truth: seseorang perlu ‘meluruskan’ niatnya jika ingin datang ke KAUST. Niat itu adalah riset dan produktif di dunia akademik. Hal-hal religius yang bersifat pribadi (namun tentunya esensial bagi seorang muslim) dengan sendirinya akan mengikuti, dan insyaallah terfasilitasi.

Bekerja di KAUST

Banyak orang Indonesia yang pernah dan sedang tinggal di KAUST. Sebagian besar kuliah. Sisanya bekerja baik full time maupun paruh waktu. Website mahasiswa Indonesia di KAUST dapat diakses di sini: kaustina. Dalam website itu, segala pertanyaan mengenai mendaftar kuliah di KAUST telah terjawab. Jika kurang jelas dapat menanyakan kepada administratornya. Mereka cukup responsif.

Sehabis mancing di laut merah (latar: Beacon Tower of KAUST)

Sehabis mancing di laut merah (latar: Beacon Tower of KAUST)

Mengenai bekerja (ini khusus para academic jobhunter bidang sains dan teknik), bekerja di KAUST tentu masuk dalam wishlist. Semua mungkin punya alasan sama: gaji besar. Masalahnya, gaji itu relatif. Rektor yang dibayar 3-6 juta dolar per tahun aja mungkin masih merasa kekurangan. Di atas langit ada langit. Pokoknya kalau soal “uang” kita bakal terjerat konsep batas tak berhingga (lim → ∞). Jadi, gaji yang cukup (untuk memenuhi kebutuhan hidup) harap dijadikan pegangan pertama. Niat manajemen KAUST pastinya ini: jangan sampai pinjam-pinjam ketika hidup di KAUST (isin rek! hehe).

KAUST sering memposting lowongan kerjanya secara online. Di lelamannya (http://www.kaust.edu.sa/) ada link Search for a job. Dari sana, ada banyak posisi kosong yang diperlukan. Anda bisa daftar pekerjaan yang sesuai dengan bidang anda. Kontak HRD nya langsung bila perlu. KAUST punya turn over tinggi (orang keluar masuk dengan cepat) dan tengah berkembang pesat. Jadi, sering-sering cek link itu dan daftar. Jangan menyerah.

Bagaimana supaya diterima? Ini termasuk rahasia tuhan yang tiga itu (mati, jodoh, rejeki). Diterima di KAUST itu rejeki, jadi hanya tuhan yang tahu (atau paling nggak, HRD yang tahu). Tapi coba kirim curriculum vitae (lewat aplikasi online) untuk posisi-posisi yang diinginkan. Selanjutnya adalah menunggu interview. Jika tidak ada panggilan interview, tunggu saja. Tapi biasanya mereka pasti membalas (baik good news = diterima, maupun bad news = ditolak).

Kalau anda ingin bekerja sebagai postdoctoral research fellow atau research scientist, anda bisa menghubungi profesor yang membawahi lab-lab tertentu. Atau, mengontak para profesor di berbagai research center.

Siapa yang dicari KAUST? Yang jelas, KAUST mencari potential researcher: seseorang yang punya latar belakang riset yang relevan dengan riset KAUST sekarang tentu akan dipertimbangkan. Tapi jangan lupa: persaingan sangat ketat (CV dari seluruh penjuru dunia masuk ke KAUST – dan jumlahnya akan terus meningkat dari tahun ke tahun). Tunjukkan bahwa anda adalah outstanding candidate. Bagaimana caranya? Percaya diri, komunikasikan jawaban dan ide anda secara jernih dalam bahasa Inggris yang baik, rendah hati, positif, be clear of what you want to achieve (baik secara teknis maupun global), jadilah inisiator bukan follower. Semua orang yang menjadi peneliti punya record yang mirip sebenarnya: mampu secara akademik, punya motivasi tinggi, produktif. Semua itu muncul dalam CV dengan deretan gelar, prestasi dan publikasi. Tapi, interview (bisa datang langsung atau via Skype) akan menentukan semuanya. Bahkan setelah interview dan diterima pun, posisi anda belum aman. Tunjukkan bahwa anda dapat mengikuti ritme kerja, visi/misi laboratorium/tempat kerja, terus produktif dan bermanfaat untuk tim. Pengalaman dari seorang teman yang diterima sebagai postdoc di KAUST dapat dibaca di sini. Pengalaman orang tentu berbeda-beda, tetapi pengalamannya dapat dijadikan referensi.

Akhir kata: terus berjuang!