Facebook


Film The Social Network memenangkan Golden Globe Awards sebagai film terbaik pada 16 Januari 2011. Film ini mengangkat kisah Mark Zuckerberg, pendiri jejaring sosial Facebook. Film ini juga memenangkan penghargaan untuk Sutradara Terbaik, Skenario Terbaik dan Skor Asli Terbaik. Aspek sinematografi dan jalan ceritanya memang menarik. Dan, momentum kemunculannya pas sekali: ia hadir ketika Facebook ada di puncak popularitas.

Pada prinsipnya Facebook mirip dengan jejaring sosial lainnya: Friendster atau MySpace. Ketiganya hanya dimungkinkan jika kita mempunyai komputer yang terhubung dengan internet. Ketika Facebook dapat diakses dari telepon pintar (telpin?), misalnya Blackberry, popularitasnya semakin naik.

Dengan memiliki akun Facebook, kita bisa menampilkan identitas, foto-foto dan mengirimkan pesan. Facebook juga menyambung tali perkawanan yang telah lama ‘hilang’. Facebook juga digunakan untuk bermain game, memantau dan mengomentari status, mengikuti perkembangan informasi dan memfasilitasi curahan hati (terutama bagi mereka yang kurang artikulatif). Meski ia hanya berwarna putih dan biru, Facebook cepat menggantikan nomor HP dan alamat rumah: ia seringkali menjadi pertanyaan pertama ketika mengenal seseorang — “Punya Facebook, nggak?”

Ramai orang meninggalkan Friendster dan MySpace demi Facebook dua tahun lalu. Sebagian mungkin sudah lupa dengan kata sandinya. Menurut data Januari 2011, Facebook sudah menjaring 600 juta pengguna. Artinya, 8.7% penduduk bumi memiliki akun Facebook. Bahkan, jumlah orang yang mengakses situs http://www.facebook.com sama banyaknya dengan pengakses http://www.google.com.

Pengguna Facebook terbanyak ada di Amerika Serikat (AS), yaitu 148 juta orang. Jumlah ini disusul oleh Indonesia (34.3 juta), Inggris (27,9 juta), Turki (25.1 juta) dan Philippines (21.8 juta). Di wilayah ASEAN, selain Indonesia dan Philippines, Malaysia memiliki 9.9 juta pengguna Facebook. Singapura memiliki 2.2 juta pengguna Facebook (dari 5.1 juta penduduk). Jumlah pengguna Facebook di Singapura ternyata jauh lebih besar daripada di Jepang. Di Jepang, hanya 2 juta orang yang mengakses Facebook. Ini hanya 1.6% penduduk Jepang.

Mengapa Facebook kurang berkembang di Jepang? Padahal penduduk Jepang, baik pemuda atau warga tuanya, sangat mahir bermain ponsel atau komputer.

Sudah ada tiga jejaring sosial yang menguasai Jepang sebelum Facebook masuk, yaitu Gree (21.25 juta orang), mixi (21.02 juta) dan Mobage Town (20.48 juta). Sebelum Agustus 2010, mixi-lah yang menempati urutan teratas selama 5 tahun.

Mixi (mixi.jp)

Mixi lahir di Jepang pada Februari 2004 untuk menyaingi Friendster. Mixi diusulkan oleh Batara Kesuma (lahir di Medan, 1979) pada 2003, yang kemudian menjadi Chief Technology Officer-nya. Pada saat yang bersamaan, Facebook juga baru lahir di AS.

Mixi hidup dari iklan, seperti halnya Facebook. Mixi punya game, dan fitur seperti mixi Check dan Check-In. Di Facebook, mixi Check mirip dengan fitur ‘share’, dan Check-in serupa dengan ‘geo-tagging’.

Namun, bedanya: Mixi memakai bahasa Jepang. Facebook-pun sebenarnya menyediakan layanan bahasa Jepang, tetapi sepertinya hanya terjemahan belaka.

Di samping itu, Mixi akan membangun kerjasama dengan Renren dari Cina dan Cyworld dari Korea Selatan. Mereka akan membangun platform yang memungkinkan perusahaan lain menyumbangkan aplikasinya. Strategi ini tidak diambil oleh Facebook.

Gree (gree.jp)

Gree dibangun di atas platform telepon seluler, di mana orang mudah sekali mengaksesnya. Apalagi sekarang ini makin banyak ponsel yang sangat mudah-pakai seperti iPhone, sehingga orang dengan mudah memainkan fitur-fitur Gree. Sebaliknya, platform yang digunakan Facebook adalah komputer. Ini artinya Facebook memang lebih nyaman diakses di depan komputer, tidak di ponsel.

Gree juga menggandeng perusahaan ponsel lokal, yaitu KDDI au, untuk memasarkan produk-produknya, seperti ‘Kajuaru Gemu’ (Casual Games), game ponsel lainnya dan avatar.

Mobage Town (mbga.jp)

Strategi menggunakan game juga digunakan oleh Mobage Town. Saat ini, Mobage Town banyak penggunanya karena punya Kaitou Royal yang mirip Mafia Wars di Facebook. Mobage Town juga bergabung dengan Yahoo! untuk meningkatkan penjualannya. Mobage Town juga memasang iklan di televisi.

Mobage Town (juga Gree) hidup dari menjual barang virtual mirip App Store milik Apple. Bedanya dengan Apple, Mobage Town dan Gree tidak memotong kartu kredit penggunanya, tetapi memasukkan biayanya secara tersirat sebagai tagihan telepon. Biaya ini jadi tersamar; tidak sejelas apabila angkanya tertulis di tagihan kartu kredit.

Agaknya sulit bagi Facebook untuk menyaingi mixi, Gree dan Mobage Town karena tidak ada isi lokal Facebook yang menarik bagi orang Jepang. Kalaupun ada kawan Jepang yang punya akun Facebook, umumnya karena ia berkawan dengan pengguna Facebook non-Jepang. Jika permainan dan fitur dalam Facebook kurang ‘bergaya’ Jepang orang Jepang kurang berminat.

Agaknya buku Japan Unmasked: The Character & Culture of the Japanese (2005) memang ada benarnya. Secara implisit buku itu mengatakan bahwa sesuatu dari luar Jepang akan disukai apabila ia ‘dipoles’ sehingga nampak ‘bernuansa Jepang’.

Sama halnya dengan Facebook. Selama bentuknya masih berupa terjemahan Inggris – Jepang belaka, ia tidak akan sanggup menyaingi jejaring sosial lokal.

Namun, ada satu cara yang ampuh bagi Facebook untuk sukses di Jepang. Kolumnis Akky Akimoto pernah membuat ramalan: Facebook dapat terus hidup di Jepang jika ia membeli mixi (yang kini sedang krisis keuangan).

Akankah ini terjadi?

Advertisements

Barentain


Hari ini 14 Februari.

Di Barat atau di negeri yang ter-Barat-kan (westernized), hari ini adalah hari kasih sayang. Ritualnya repetitif selama puluhan tahun: seseorang akan memberikan hadiah bagi kekasihnya, lalu makan malam berdua. Hadiah yang diberikan biasanya berupa coklat, kartu, bunga, atau hadiah lain yang memiliki simbol hati. Namun, ada juga yang memberi penghisap debu.

Pada Hari Valentine ini, saya selalu teringat Rajaa al-Sanea. Wanita Arab Saudi yang kini tinggal di Chicago ini adalah penulis novel Banat al Riyadh (Gadis-gadis Riyadh, 2005). Al-Sanea pernah berkelakar tentang hari Valentine:

Besok akan menjadi hari Valentine kedua bagi saya selama di Amerika Serikat. Perayaannya sedikit mirip dengan apa yang ada di Arab Saudi. Ya, di kedua tempat memang ada istilah ‘dates‘ (dari bahasa Inggris yang berarti buah kurma atau teman kencan). Tetapi di Saudi Arabia, kami memakannya [bukan mengajaknya kencan].

Al Sanea berasal dari negeri di mana hari Valentine dikecam. Di Arab Saudi, ataupun di Iran dan Pakistan, pelbagai  hiasan yang berlambang hati dilarang beredar. Perayaan ini dianggap tidak Islami. Di Indonesia pun, sejumlah orang melakukan demo mengecam hari Valentine. Kelakarnya: mereka merayakan Valentine dengan berdemo.

Di Jepang, Hari Valentine disebut バレンタインデー (Barentain De). Di Jepang, hari valentine sudah dirayakan sejak 1950an. Sama dengan Hari Natal, Hari Valentine bukan hari libur nasional.  Yang jelas, menjelang hari Valentine, banyak pasar swalayan atau mall yang memasang ‘Valentine Sale’ untuk menarik pelanggan. Nuansa itu tidak hanya dirasakan di area Tokyo yang terkenal, seperti Shibuya, Shinjuku dan Harajuku, tapi juga di pinggiran Tokyo.

Saat itu juga saya menyadari bahwa di Jepang segala perayaan berarti bisnis. Pada Hari Valentine ini, kartu, coklat, makanan dan hadiah lainnya sangat laris manis.

Tradisi Hari Valentine di Jepang agaknya berbeda dengan negara-negara lain. Di Jepang, perempuanlah yang memberi hadiah bagi pria di Hari Valentine. Inilah saat perempuan mengutarakan isi hatinya kepada lelaki yang disukainya; bukan sebaliknya.

Perempuan menghadiahkan coklat kepada lelaki idamannya. Coklat ini bernama giri choco (coklat tanda menghormati). Giri choco dapat dibeli di semua supermarket Jepang.

Selang satu bulan kemudian, lelaki yang memperoleh hadiah itu akan membalas dengan memberi hadiah pula (jika kebetulan ia juga menyukai sang perempuan). Hadiahnya diharapkan lebih mahal. Hari pemberian hadiah dari pria disebut Howaito De (yang berasal dari bahasa Inggris ‘White Day’). Pada Hari Putih itu coklat balasannya berupa coklat putih. Namun, hadiahnya tidak hanya coklat. Biasanya coklat putih itu selalu dibarengi hadiah yang lebih mahal. Aturan mainnya: tiga kali lebih mahal dari hadiah perempuannya.

Sayangnya, tradisi memberi hadiah kepada lelaki kurang populer sekarang ini.

Sebuah perusahaan pembuat kue, Ezaki Glico, membuat survey terhadap 400 perempuan Jepang lajang bulan lalu. Tujuan survey ini adalah untuk mengetahui kepada siapakah hadiah coklat akan mereka berikan.

Hasil survey-nya:

  • 71.5% akan memberikan coklat kepada teman perempuan
  • 54.5% akan memberikan coklat kepada ayah, kakak atau adik lelaki
  • 37.5% akan memberikan coklat kepada ibu, kakak atau adik perempuan

Lelaki Jepang boleh gigit jari: Tidak masuk tiga besar target hari Valentine.

Apa yang membuat pandangan perempuan Jepang berubah sekarang ini?

Sebuah kata yang populer pada 2010 di Jepang adalah joshikai. Ini artinya gank perempuan. Gank ini tujuannya hanya kumpul-kumpul dan bersenang-senang. Tidak hanya perempuan muda saja yang punya gank, bahkan ibu rumah tangga pun punya joshikai. Di antara joshikai ini, seorang perempuan lebih bebas mengekspresikan perasaannya tentang apa pun.

Fenomena joshikai sudah terjadi lima hingga sepuluh belakangan ini.

Perempuan Jepang agaknya lebih pragmatis. Mereka memahami bahwa giri choco yang mereka berikan adalah simbol kebaikan hati, bukan simbol cinta. Dan, simbol kebaikan hati seringkali tidak produktif: Ia tidak ‘menghasilkan’ seorang pria idaman.

Ada yang lebih ekstrim: coklat tidak layak dijadikan hadiah karena ia berhubungan dengan kematian. Ketika kecil, beberapa perempuan seringkali bertanya kepada ibunya mengenai tempat hidup setelah kematian, yaitu surga. Surga, kata ibunya, hanya berisi coklat, coklat dan coklat. Tidak ada yang lain. Pikiran ini terbawa hingga dewasa, dan melekat menjadi kesan buruk. Coklat adalah kematian.

Tapi ini ada bagusnya untuk berat badan: Orang Jepang hanya memakan 1.1 kg coklat dalam setahun. Ini pun hanya mereka lakukan di bulan Februari saja. Berbeda dengan orang Amerika yang memakan 5 kg coklat, atau orang Swiss yang memakan 10 kg coklat per tahunnya (dan ini mereka dilakukan sepanjang tahun).

Barentain De di Jepang agaknya tak lagi bermakna cinta, namun bisnis coklat belaka.

Orang Melayu pada Periode Meiji


Prolog

Saya menemukan artikel menarik tentang sejarah orang Melayu/Muslim pada periode Meiji di internet. Artikel ini ditulis oleh Michael Penn, direktur Shingetsu Institute (sebuah lembaga pengkajian perkembangan Islam di Jepang dan dunia). Judul artikelnya adalah Malay Muslim in Early Meiji (2008).

Setelah membaca artikel itu, pertanyaan yang mengganggu adalah bagaimana penulisnya tahu bahwa nama-nama orang “Melayu” yang disebutnya, misalnya Ketchil atau Katchung, adalah muslim? Setelah beberapa hari bersabar, akhirnya saya beranikan diri mengirim e-mail kepada penulisnya.

Dapatkah saya tahu bagaimana anda mendefinisikan Melayu atau Muslim? Definisi ini tidak saya temukan di dalam artikel. Melayu, seperti yang saya pahami, adalah penduduk asli Asia Tenggara khususnya Malaysia, Singapura dan Indonesia. Mereka berbahasa Melayu atau bahasa turunan Melayu. Tetapi sebagian dari mereka bukanlah muslim. Apakah anda mengidentifikasi Melayu Muslim dari nama? [Dalam artikel anda] Abdool Saliman adalah nama Arab; jadi, kemungkinan besar dia adalah muslim. Namun, bagaimana dengan Ketchil dan Katchung? “Ketchil” sebenarnya kecil dalam bahasa Indonesia/Melayu. Atau, Katchung berarti pembantu dalam bahasa Jawa. Sebagian orang Jawa yang hidup di masa lalu mungkin tidak memeluk suatu agama.

Penulisnya dengan cepat membalas:

Saya setuju dengan pembedaan definisi antara istilah Melayu dan Muslim. Namun, koran-koran Inggris  yang saya gunakan sebagai referensi hanya menyediakan bukti yang sepotong-sepotong. Saya percaya bahwa sebagian besar orang yang dikenali sebagai Melayu pada sumber-sumber tertulis abad 19 kemungkinan besar adalah Muslim, meskipun sulit mengatakan mereka Muslim yang taat atau tidak. Seperti yang anda sebutkan, seseorang bernama “Abdool Saliman” adalah kasus yang jelas. Dalam beberapa hal, saya mengasumsikan bahwa beberapa orang yang dikenali sebagai Melayu adalah Muslim — ini akan membuat mereka setidaknya jadi pionir. Tapi untuk menjawab pertanyaan anda, iya, saya harus membuat kesimpulan atau deduksi sendiri karena sumber-sumber tertulis yang saya gunakan tidak menyediakan keterangan biografis yang lengkap.

Terjawab sudah penasaran saya. ‘Tokoh-tokoh’ Melayu, selain Maharaja Johor, yang ditulis dalam artikel diasumsikan beragama Islam; padahal bisa jadi tidak beragama. Konsekuensinya, seorang penulis harus berani mengambil kesimpulan dari serpihan fakta, atau bahasa keren-nya “inference”. Karena beberapa tokoh tidak jelas agamanya, maka untuk artikel ini saya ganti judulnya dengan orang Melayu saja, tapi tidak Melayu/Muslim.

Terlepas dari polemik ringan itu, cerita tentang orang Melayu di Jepang pada era Meiji memang menarik.

***

Adakah orang Melayu di Jepang pada era Meiji (1868)?

Setelah Jepang membuka dirinya kepada orang asing pada tahun 1868, banyak kapal dagang berlabuh di kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo, Yokohama dan Nagasaki. Pada awal periode Meiji itu, adakah orang Melayu di Jepang? Inilah pertanyaan yang ingin dijawab oleh Michael Penn dalam makalahnya yang berjudul “Malay Muslims in Early Meiji Japan” (Shingetsu Institute, Vol. 4, 2008).

Dalam mencari jawab, Penn meneliti sejumlah koran, misalnya Japan Weekly Mail, Japan Gazette, Jiji Shinpo, Choya Shinbun, Yubin Hochi Shinbun, Tokyo Nichi Nichi Shinbun dan Tokyo-Yokohama Mainichi Shinbun, yang memberitakan orang Melayu pada 1870an hingga 1880an.

Diceritakannya bahwa kapal dagang yang tiba di Yokohama sebagian berbendera Inggris dan Belanda. Kapal kedua negara inilah yang membawa penumpang Melayu dari Malaysia, Singapura dan Indonesia. Sedikitnya ada dua kelas Melayu yang singgah di Jepang pada periode Meiji ini. Yang pertama adalah kelas anak kapal. Yang kedua adalah kelas raja Melayu yang diwakili Maharaja Abu Bakar dari Johor.

Awak Kapal

Agak disayangkan memang bahwa berita tentang orang Melayu yang bekerja sebagai awak kapal Inggris atau Belanda selalu terlibat tindak kejahatan. Pemberitaan ini sebenarnya wajar karena wartawan yang meliput berita adalah wartawan Inggris yang bekerja di pengadilan Konsulat Inggris atau Belanda. Penn juga mengatakan bahwa wartawan ini agaknya kurang bersimpati kepada penduduk kelas bawah.

Kasus yang tercatat pada bulan Juni 1872 melibatkan dua orang Melayu, yaitu Abdool Saliman dan Ali Pi Pie. Mereka berkelahi menggunakan pisau. Setelah diadili, mereka dipenjara selama tujuh hari. Pada Agustus 1877, awak kapal ‘Sunda’ yang berasal dari Jawa bernama Kecil menuduh kawannya Suriman menusuknya dari belakang. Kasus penusukan ini terulang lagi pada April 1880. Nelayan kapal ‘Sunda’ bernama Mael dihukum karena menusuk Kacung yang sebelumnya bertengkar dengan Cassim. Dari catatan pengadilan, Mael dan Cassim berasal dari Singapura.

Pada Maret 1873, orang melayu bernama Amaeu dinyatakan bersalah karena menelantarkan kapalnya. Pada musim panas 1875, dua orang Melayu ditemukan bergelandang di Yokohama. Keduanya diserahkan ke pemerintah Jepang dan Belanda. Jumlah awak kapal Melayu yang berada di Jepang terus menurun sejak Desember 1894. Mereka mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan kembali ke Asia Tenggara. Alasannya bahwa cuaca Jepang terlalu dingin.

Maharaja Johor

Pada 1883, Maharaja Abu Bakar dari Johor mengunjungi beberapa kota besar di Jepang. Ia pernah menjadi Temenggong Johor pada 1864, Kaisar pada 1868 dan menjadi Sultan pada 1885. Kunjungan Maharaja Abu Bakar ke Jepang adalah rangkaian perjalanan politik ke Jepang dan Cina untuk memantapkan posisinya di Tanah Melayu sebagai pemimpin masa depan. Bersama 17 orang dari Johor, ia mencapai Nagasaki pada 22 Mei 1883.

Koran Inggris di Jepang menyebutnya ‘Raja Malaka’. Ia juga dikisahkan berumur sekitar 40an, berkulit gelap, berbadan tegap dan berpandangan tegas. Ia juga fasih berbahasa Inggris dan berpakaian Barat, kecuali bahwa ia memakai ‘topi gaya India’. Pemerintah Jepang ketika itu memperlakukan Maharaja Abu Bakar dengan penuh hormat, seperti halnya ketika Jepang menyambut raja-raja Eropa.

Abu Bakar menuju ke Osaka dan mengunjungi area Tennoji, Kuil Sumiyoshi dan Residen Osaka. Abu Bakar lalu melanjutkan perjalanan ke Kyoto pada 24 Mei 1883, dan mengunjungi Kuil Nishi-Honganji, Kinkakuji, Kitano Jinja dan Myoshinji. Ia juga sempat berkunjung ke Nara, dan Great Buddha (Kamakura) pada 28 Mei. Setelah singgah di Tokyo dan Yokohama, Abu Bakar juga mencoba onsen (pemandian air hangat) di Hakone.

Di Yokohama, ia menghabiskan waktu selama satu mingu. Selanjutnya ia pergi ke Kawasaki, Enoshima, Kamakura dan Kanazawa. Di wilayah Kanazawa, beliau disambut oleh Gubernur Oki. Kejadian yang terpenting adalah bahwa pada 26 Juni 1883, Abu Bakar mengunjungi Imperial Palace untuk bertemu Kaisar Meiji.

Abu Bakar mengakhiri kunjungannya di wilayah Yokohama di mana ia menghabiskan lebih dari satu bulan di sana. Pada 1 Agustus 1883, beliau naik kapal surat Mitsubishi bernama Tokyo-Maru menuju Nagasaki. Setelah Nagasaki, ia pergi ke Cina untuk kunjungan politiknya.

Fakta sejarah di atas dapat mengubah pandangan orang bahwa memang ada orang Melayu yang mengunjungi Jepang pada awal periode Meiji.

Womenomics


Dalam sebuah wawancara dengan koran Mainichi Shimbun, duta besar Amerika Serikat (AS) untuk Jepang John V. Roos mengatakan bahwa aset terbesar Jepang yang belum sepenuhnya diberdayakan adalah kalangan wanitanya. Padahal, jika Jepang berhasil memanfaatkan kemampuan wanitanya maka pendapatan (GDP) Jepang bisa naik 15%. Ini berdasarkan laporan Goldman Sachs antara 1999 dan 2005. Goldman Sachs menyebutnya ‘womenomics’.

Apakah womenomics?

Womenomics secara sederhana berarti pergerakan roda ekonomi yang laju-lambatnya ditentukan oleh kemampuan wanita dalam bekerja untuk menghasilkan uang, menginvestasikan dan membelanjakannya.

Meskipun ekonomi Jepang menurun dua dekade ini, wanita Jepang agaknya masih ‘rajin’ gonta-ganti handphone; mengakses internet; membeli komputer, mobil mini, apartemen, perhiasan dan benda bermerek terkenal.  Wanita Jepang membelanjakan ¥173,183 (Rp 17.3 juta) setiap bulan. Jumlah ini memang lebih kecil dibandingkan pria Jepang yang menghabiskan ¥194,938 per bulan. Namun, kemampuan belanja pria sebenarnya mengalami penurunan 1.6% per tahun, sedangkan kemampuan belanja wanita Jepang malah naik 4.6% per tahun.

Dari uang bulanan sebesar ¥173,183 itu, wanita Jepang memakai 64.6%-nya untuk kebutuhan sekunder (misalnya perabot rumah, pakaian, telepon, barang bermerek dan internet; 24.1%), rumah (20.3%) dan makanan (20.2%). Oleh karena itu, pebisnis Jepang cenderung fokus kepada segmen pasar yang baru, yaitu wanita Jepang.

Selain ‘kemampuan’-nya berbelanja, wanita Jepang juga dikenal berumur panjang. Menurut data menurut Central Intelligence Agency (CIA) jumlah wanita Jepang per Juli 2010 adalah 65.1 juta dari 126.8 juta penduduk Jepang (51.4%). Dalam hal ini komposisi wanita yang berusia di atas 60 tahun lebih banyak dari pria Jepang. Secara rata-rata wanita Jepang mampu hidup sampai 84 tahun, sedangkan lelakinya ‘hanya’ bisa hidup sampai 77 tahun. Rendahnya jumlah pria Jepang sebagian disebabkan oleh bunuh diri.

Mengapa penduduk wanita berumur di atas 60 tahun merupakan aset yang berharga?

Mereka yang berumur di atas 60 tahun umumnya mempunyai simpanan ¥9.6 juta (Rp 960 juta) di bank. Jumlah ini 60% lebih banyak daripada tabungan laki-laki Jepang. Oleh karena itu wanita Jepang usia tua disebut juga ‘investor masa depan’.

Namun, womenomics di Jepang masih menghadapi banyak tantangan. Di Jepang, jumlah wanita karir masih berada pada level 55%. Ini berada di bawah AS atau Inggris, di mana masing-masing berada pada level 62 dan 61%.

Mengapa demikian?

Pertama, ketika berusia antara 25-29 tahun wanita Jepang tidak bekerja secara penuh (full-time); melainkan hanya bekerja paruh waktu (part-time). Ini membuat jumlah pengangguran nampak semakin naik (employment diukur dari jumlah pekerja full-time). Laju pengangguran mencapai 5% tahun 1995. Penyebabnya: perusahaan mengubah status kerja wanita dari pekerja penuh ke paruh waktu. Ini merupakan cara perusahaan Jepang untuk memangkas biaya non-gaji, seperti bonus, asuransi, dan keuntungan yang lain.

Kedua, ketika berumur 30 – 44 tahun, wanita Jepang tidak dapat bekerja karena sibuk mengurus anak. Jumlah penitipan anak (hoikuen) di Tokyo dan beberapa kota besar lainnya sangat sedikit, dan ini membuat wanita tidak sempat bekerja untuk membantu ekonomi rumah tangga.

Ketiga, bisnis di Jepang kurang mendukung karir wanita. Wanita yang bisa meraih posisi tinggi di suatu perusahaan masih sedikit dibandingkan negara maju lainnya. Perusahaan dipandang sebagai ‘wilayah laki-laki’, sedangkan rumah tangga adalah ‘wilayah wanita’. Jenjang pendidikan yang tinggi tidak serta merta membuat wanita bisa menjadi manajer atau direktur di suatu perusahaan. Memang akhir-akhir ini banyak wanita Jepang menjadi anggota parlemen, menteri atau CEO. Namun jumlahnya masih di bawah AS dan negara-negara maju lainnya.

Karena tiga sebab inilah womenomics masih merupakan konsep yang sekuler di Jepang.