Pendidikan di Jepang


Dari beberapa bacaan, pendidikan Jepang mengajarkan berpikir deduktif, menyimpulkan dari serpihan-serpihan fakta dan menilai sendiri logikanya. Namun pengajaran ini tidak akan berhasil apabila komponen dalam masyarakatnya tidak mendukung. Kekuatan pendidikan di Jepang didukung semua elemen masyarakatnya yang unik:

Masyarakat. Masyarakat Jepang melihat ‘belajar’ sebagai aktivitas seumur hidup, di segala usia, dan ini merupakan prioritas hidup. Setiap orang didorong untuk memiliki hobi, dan mengambil pendidikan nonformal seperti olahraga, kerajinan tangan, seni, bahasa dan sebagainya. Atribut penting dalam masyarakat Jepang adalah ketelitian (suka mengatur hal-hal kecil) dan memiliki hobi yang spesifik. Masyarakat Jepang cenderung mengutamakan keseimbangan dalam bersosialisasi: harmoni. Sikap harmoni ini membuat friksi sosial sangat jarang terjadi. Keharmonian ini pula yang membuat masing-masing individu secara tenang mengembangkan pribadi, hobi dan intelektualitasnya sendiri. Belajar lewat permainan sangat disukai di Jepang. Jepang juga mendorong masyarakatnya untuk beraktivitas secara fisik.

Continue reading

Advertisements

2009 – Review


Tahun 2009 dipenuhi dengan perubahan drastis. Dari bekerja pagi hingga malam di pabrik hard disk, berpindah ke status mahasiswa yang jadwalnya bebas & tanpa kuliah. Dari bertempat tinggal di Senja Road (rumah penuh kenangan – dari Olit umur 3 bulan sampai 3 tahun) dan New Upper Changi (rumah yang bikin sering jalan-jalan), ke rumah di lantai 5 tanpa lift dan berlantai tatami. Dari ngomongin fungsi transfer atau getaran JBOD (just a bunch of disks) ke ngomongin metode elemen hingga atau komposit (lagi).

Bulan Januari 2009, enam target ditulis di postingan 2009: Ngapain?. Sekarang mari kita review …

Continue reading

Obama dan Minamata


Di sebuah sudut aku menemukan koleksi majalah-majalah Life … Ketika aku melihat foto-foto berita, aku berusaha menebak dari gambarnya, sebelum membaca kutipannya … Ada foto wanita Jepang sedang menopang gadis yang telanjang dalam bak kecil: sungguh menyedihkan; gadis ini sakit, kedua kakinya terpuntir, kepalanya menengadah tak berdaya, wajah ibunya penuh duka, barangkali gadis ini menyalahkan dirinya sendiri …

Paragraf itu ditulis Barack Obama dalam buku “Dreams from My Father” (2004). Obama berumur sembilan tahun ketika ia melihat foto karya W. Eugene Smith dalam majalah Life itu. Barangkali ia belum mengenal kata “Minamata”, nama penyakit yang diderita gadis dalam bak kecil itu.

Continue reading