Membaca BTJ


Sejak hari Minggu, saya baca buku Babad Tanah Jawi (Javaansche Rijkskroniek) yang ditulis oleh WL Olthof tahun 1941. Bukunya berbahasa Indonesia dan saya beli ketika pulang ke Jember. Awalnya agak membosankan, tapi begitu lewat 20 halaman, isinya menarik. Isinya mengenai cerita raja-raja Jawa dan keturunannya, konflik dan kesaktian. Makin ke belakang (tahun 1400an), mungkin karena sumber literatur mulai lengkap, maka isi buku banyak dibumbui dialog dan catatan yang rinci.

Alasan 1: Amangkurat II

Alasan tiba-tiba tertarik membaca buku ini ya karena akhir-akhir ini sering mikir tentang “Jawa”, budaya nenek moyang. Alasan lain ya karena dulu sempat membaca cerita Amangkurat II yang kejamnya minta ampun (ia menghabisi 6000 orang termasuk perempuan dan anak-anak di alun-alun kota dalam waktu setengah jam – ini karena ia cemburu lantaran istrinya selingkuh dengan adik lelakinya). Katanya cerita Amangkurat II ini ada di Babad Tanah Jawi. Tapi belum sampe ke sana sih. Jadi mesti lanjut membaca.

Alasan 2: Gajah Mada

Alasan lain lagi kenapa membaca buku ini karena ingin tahu cerita tentang Gajah Mada (GM). Tapi lumayan kecewa, karena cerita tentang Gajah Mada tidak banyak. Mungkin karena Gajah Mada ini bukan raja kali… Namun, sekilas, penulisnya kagum dengannya, tapi tidak hendak merinci lebih jauh. Mungkin keterbatasan data sejarah.

Patung Gajah Mada (tahun 1300an)

Beda dengan Langit Kresna Hariadi, yang menulis tiga jilid tentang Gajah Mada. Saya sendiri pengen sekali beli buku-bukunya. Nanti kalau sudah pulang ke Jember, atau main ke Batam 🙂

Pertanyaan yang mesti saya jawab adalah: Gajah Mada ini orang mana sih? Orang Jember ta? He he … Soalnya hal ini sendiri masih kontroversi. Ada yang bilang GM ini (bukan Goenawan Mohamad lho ya) orang Melayu, orang Jawa, orang Myanmar, orang Mongolia, dan lainnya.

Dan, kematian GM sendiri masih sangat misterius. Katanya sih, dia konflik dengan Hayam Wuruk, lalu diasingkan ke Probolinggo dan nyepi di dekat air terjun. Lalu lenyap. Atau kemudian bekerja di BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) setempat hehe. Hush … GM kok diguyoni…

Ya begitulah, belum ada hasil membaca BTJ, kecuali bahwa pas tidur siang hari minggu saya mimpi Raden Pajang merencanakan hendak membunuh Arya Penansang.

Gila! Sampe terbawa mimpi…!

Advertisements

Mpu Gandring


– This note is updated on 31 January 2013 –

oleh Arief Yudhanto

Dalam literatur Jawa kuno, nama Mpu Gandring muncul di dalam Serat Pararaton [1]. Pararaton berisi catatan mengenai raja-raja Jawa, khususnya kerajaan Singosari (1222 – 1292) dan Majapahit (1293-1518) yang menguasai wilayah Jawa Timur. Bagian awal Pararaton menceritakan kisah raja pertama Singosari, yaitu Ken Angrok yang memerintah hanya lima tahun (1222-1227).

Ken Angrok, atau ada pula yang menyebutnya Ken Arok, lahir di Singosari pada 1182 dan wafat pada 1227. Ken Angrok dilahirkan oleh seorang wanita bernama Ken Endog yang mempunyai pasangan bernama Brahmin Gajahpura dari Kediri [2]. Versi lain menyatakan bahwa Ken Angrok tidak mempunyai ayah karena ia adalah titisan langsung Syiwa. Karena ibunya malu jika diketahui melahirkan anak tanpa ayah, maka bayi Ken Angrok diletakkan begitu saja di kuburan atau tepi sungai. Seorang antagonis bernama Bango Samparan, dikenal juga dengan nama Lembong, tidak sengaja mendengar tangisan bayi Ken Angrok. Bango Samparan kemudian memungut bayi itu. Ketika Ken Endog mendengar bahwa Bango Samparan memungut anaknya, Ken Endog kemudian menemui Bango Samparan. Mereka berdua kemudian bersama-sama membesarkan Ken Angrok.

Ketika beranjak dewasa, Ken Angrok gemar mencuri dan berjudi. Namun pada suatu hari, ia secara kebetulan bertemu dengan seorang pendeta (brahmana) bernama Dang Hyang Lohgawe. Lohgawe kemudian menyarankan agar Ken Angrok bekerja saja di Tumapel. Di Tumapel, Lohgawe akan memperkenalkan Angrok kepada Tunggul Ametung, dan mengusulkan agar Angrok dijadikan ajudan. Tak berapa lama, Angrok telah bekerja sebagai ajudan Tunggul Ametung.

Tunggul Ametung memiliki seorang istri yang kecantikannya sangat termasyhur di Tumapel. Namanya Ken Dedes. Ken Dedes adalah anak seorang pertapa Buddha bernama Mpu Purwa. Suatu hari, Ken Dedes yang sedang hamil mendampingi Tunggul Ametung mengunjungi suatu desa. Ketika turun dari kereta, kain yang dipakai Ken Dedes tersingkap, dan Ken Angrok yang ketika itu mendampingi mereka tidak sengaja melihat betis dan rahasianya. Seketika itu, jatuh cintalah Ken Angrok kepada Ken Dedes.

Sejak kejadian itu, niat Ken Angrok untuk mempersunting Ken Dedes kian bergejolak. Namun, ia berpikir bahwa tidak ada cara lain untuk mendapatkan Ken Dedes kecuali dengan membunuh Tunggul Ametung. Ketika menyampaikan niat ini kepada Lohgawe, Ken Angrok langsung merasa kecewa karena niatnya itu tidak mendapat restu dari Lohgawe. Karena itu, Ken Angrok kemudian pergi menemui ayah angkatnya Bango Samparan di Karuman. Bango Samparan memberi restu kepada niat Ken Angrok untuk membunuh Tunggul Ametung, dan berkatalah ia kepada Ken Angrok:

Baiklah kalau demikian: aku akan memberikan restu bahwa kau akan menusukkan keris kepada Tunggul Ametung dan mengambil istrinya itu. Tetapi hanya saja, anakku Angrok, akuwu [Tunggul Ametung] itu sakti; mungkin [akuwu] tidak akan terluka jika kau menusuknya dengan keris yang kurang bertuah.

Bango Samparan kemudian memberi usul:

Aku punya seorang kawan, seorang pandai keris di Lulumbang. Namanya Mpu Gandring. Keris buatannya bertuah; tak ada orang yang tak mempan terkena keris buatannya; tak perlu dua kali ditusukkan. Hendaknyalah kau menyuruhnya membuatkan sebuah keris. Jikalau keris itu sudah selesai, dengan keris itulah kau hendaknya membunuh Tunggul Ametung secara rahasia.

Monolog di atas menyiratkan bahwa Ken Angrok belum pernah mengenal nama Mpu Gandring. Situasi ini memberikan dua arti. Pertama, bahwa reputasi Mpu Gandring sebagai pembuat keris bertuah kurang dikenal secara luas, bahkan oleh sosok Ken Angrok yang dulunya mungkin cukup sociable karena kegemarannya berjudi, dan dilanjutkan tinggal di lingkungan Tumapel, wilayah yang lebih besar dan maju. Kedua, sosok Mpu Gandring sendiri boleh jadi samar (obscured) karena ia kemungkinan sengaja menjauh dari keramaian dengan alasan yang bersifat asketisme. Dalam hal ini, Mpu Gandring sendiri kemungkinan juga adalah seorang pertapa.

Meskipun sosok Mpu Gandring kurang jelas, sebuah novel karangan Arswendo Atmowiloto berjudul Senopati Pamungkas [3] menyebutkan bahwa Mpu Gandring mempunyai nama asli Kiai Sumelang Gandring. Mpu Gandring adalah keturunan para pembuat keris yang menuntut ilmu sampai ke Jawa Barat. Diceritakan pula bahwa Mpu Gandring mempunyai 12 orang murid yang kesemuanya memakai sebutan “Gandring”.

Setelah menemui ayah angkatnya itu, Ken Angrok kemudian pergi ke Lulumbang untuk menemui Mpu Gandring. Dalam novel Gajah Mada karangan Langit Kresna Hariadi, Lulumbang dikenal pula dengan nama Sapih Lumbang:

Dari Tongas, akan terlihat ketinggian Bromo. Bromo selalu dikemuli halimun tebal sehingga sering tidak jelas, kecuali di musim kemarau. Menjelang Bromo atau lebih kurang dua tabuh waktu yang diperlukan dengan berkuda, di sanalah letak sebuah tempat yang amat indah. Tempat itu bernama Sapih atau orang juga menyebutnya Lumbang … apa Sapih Lumbang ada kaitannya dengan Lulumbang? Lulumbang tentu bukan nama sembarangan karena di sanalah seorang empu pembuat keris pernah tinggal.

Definisi ‘menjelang Bromo’ dapat diartikan sangat dekat dengan gunung Bromo meskipun frasa ini sulit diukur.  Oleh karena itu, frasa ‘dua tabuh’ perlu didefinisikan terlebih dahulu. Jika diasumsikan bahwa kecepatan berjalannya kuda menuju ke tempat yang ‘indah’ (yang secara relatif diartikan sebagai perbukitan dengan panorama indah) adalah 2 km/jam (karena jalanan menanjak) maka jarak 25 km dapat ditempuh dalam waktu 12.5 jam. Jarak ini adalah jarak antara Tongas dengan Lumbang masa kini. Satu tabuh diartikan sebagai penanda fajar hingga tengah hari, dan tengah hari menuju senja, yang masing-masing adalah 6 jam. Perlu diingat bahwa ada dua desa Lumbang, yaitu Lumbang 1 dan Lumbang 2 di wilayah Pasuruan. Lumbang 1 inilah yang berjarak 25 km dari Tongas, berada dekat dengan Bromo dan berada di mulut pegunungan Tengger. Lokasi desa Lumbang 1 dapat dilihat pada peta di bawah ini.


Peta satelit provinsi Jawa Timur: lokasi desa Lumbang 1 (Sumber: google map)

Ken Angrok kemudian bertemu Mpu Gandring di Lulumbang. Ken Angrok berkata kepada Mpu Gandring:

Tuankah barangkali yang bernama Gandring itu? Hendaknyalah hamba dibuatkan sebilah keris yang dapat selesai dalam waktu lima bulan, akan datang keperluan yang harus hamba lakukan.

Tenggat waktu lima bulan ini dirasa terlalu cepat oleh Mpu Gandring. Ia mengatakan bahwa diperlukan waktu satu tahun untuk menyelesaikan sebilah keris bertuah. Dalam cerita rakyat yang lain, tenggat waktunya bukan lima bulan, tetapi 40 hari. Mpu Gandring mengatakan:

Jangan lima bulan itu. Kalau kamu menginginkan yang baik, kira-kira satu tahun baru selesai. Keris akan baik dan matang tempaannya.

Namun, Ken Angrok memaksa:

Nah, biar bagaimana mengasahnya, hanya saja, hendaknya keris itu diselesaikan dalam lima bulan.

Dari hasil perhitungan sederhana, penulis memperkirakan bahwa keris Mpu Gandring dibuat selama tujuh bulan. Berikut cara perhitungannya:

Pararaton menyebutkan bahwa Ken Dedes sedang hamil ketika Ken Angrok melihatnya untuk pertama kali. Seorang perempuan biasanya nampak jelas hamil ketika kehamilannya menginjak 3-4 bulan. Pararaton juga menyebutkan bahwa setelah Tunggul Ametung terbunuh oleh keris Mpu Gandring, anak Tunggul Ametung dari hasil perkawinannya dengan Ken Dedes itu lahir. Dengan asumsi bahwa kelahirannya normal (tidak prematur), dengan batas maksimum 10 bulan, maka lama pembuatan keris maksimum ialah 7 bulan.

y1 = masa kehamilan Ken Dedes hingga melahirkan = 10 bulan (maks)

y2 = bulan kehamilan ketika Ken Angrok melihat Ken Dedes = 3 bulan (kehamilan nampak jelas)

y1 – y2 = 7 bulan

Lima (atau tujuh) bulan berlalu dan Ken Angrok datang lagi mengunjungi Mpu Gandring untuk mengambil keris pesanannya. Mpu Gandring ternyata belum menyelesaikan kerisnya. Keris itu digambarkan punya hulu kayu cangkring yang masih berduri, belum diberi perekat, masih kasar. Karena tak sabar, Ken Angrok mengambil keris yang tengah diasah oleh Mpu Gandring, lalu menikamkannya ke tubuh Mpu Gandring. Keris itu sangat sakti menurut gambaran Pararaton berikut:

Lalu diletakkan [keris itu] pada lumpang batu tempat air asahan, lumpang berbelah menjadi dua; diletakkan pada landasan penempa, juga ini berbelah menjadi dua.

Sebelum menemui ajalnya, Mpu Gandring menyumpahi Ken Angrok:

Nak Angrok, kelak kamu akan mati oleh keris itu; anak cucumu akan mati karena keris itu juga; tujuh orang raja akan mati karena keris itu.

Keris Mpu Gandring: teknologi canggih abad ke-13

Keris Mpu Gandring kemungkinan merupakan hasil dari aplikasi teknologi laminasi logam pertama kali di Jawa Kuno. Keris tersebut mirip dengan keris nomor 3 pada gambar di bawah. Keris nomor 3 dibuat antara abad ke-13 dan 14 [5]. Keris Mpu Gandring dikatakan memiliki pamor meski kurang jelas pula gambar pamor yang seperti apa. Keris nomor 3 juga memiliki pamor gambar daun. Keris nomor 3 ini, seperti yang dijelasakan dalam Ref. [5], adalah aplikasi teknologi laminasi keris pertama kali. Ini berarti bahwa di dalam besinya terdapat inti (core) yang terbuat dari nikel. Lapisan nikel ini dijepit oleh besi dengan profil ‘U’ kemudian ditempa. Efek dari pemberian nikel ini adalah meningkatkan ketahanan terhadap korosi sekaligus menambah kelenturan. Pembaca juga dapat mempelajari lebih jauh deskripsi proses pembuatan keris pada masa modern dalam referensi [6]. Dalam buku itu disebutkan bahan-bahan membuat keris, yaitu besi (12-18 kg), baja (600 gr) dan bahan pamor, misal: nikel (125 gram).

Jenis keris yang dibuat pada jaman Jawa Kuno

Ada sebuah pendapat bahwa keris Mpu Gandring memiliki kekuatan mekanik yang baik, lebih baik dari keris-keris lainnya. Kunci dari kekuatan itu terletak pada proses pembuatan keris. Ketika keris selesai dipanaskan Mpu Gandring memasukkan keris yang masih panas itu ke sebuah wadah yang berisi racun ular. Proses pemberian racun ular kepada keris dinamakan warangan. Konon, racun ular dapat membantu proses pendinginan (quenching) dan meningkatkan kandungan karbon di dalam logam. Selain racun ular, racun lain yang biasanya digunakan untuk warangan keris berasal dari bangkai ular tanah, bangkai ular kobra, dan bangkai katak (kodok kerok). Keris jadi lebih getas dan tidak mudah berdeformasi karena adanya peningkatan kandungan karbon di dalam keris. Proses pemberian racun pada keris yang melalui proses pembakaran biasanya berlangsung di bulan Suro. Pemberian racun pada keris semata-mata hanya bertujuan untuk menambah kemampuan fisik semata. Namun demikian, fisik dari keris jika terlalu sering di-warang-i juga akan rapuh. Proses pemberian racun ular kepada keris dilakukan sebagai berikut [lihat website Ki Cancut]:

  • Keris dipisahkan dari gagang dan warangka. Keris dipanaskan pada tungku api. Keris dimasukan kedalam bubuk racun pada kondisi panas dan dilakukan beberapa kali untuk menambah racun atau memperkuat racun tersebut. Pada saat keris berada dalam kondisi panas, maka jika dimasukkan pada bubuk racun, maka akan menyerap racun tersebut hingga menyatu pada batang keris.
  • Konon warangan dilakukan pada senjata para pendekar dan para prajurit dalam menghadapi musuh agar pada saat bertempur dengan goresan luka yang sedikit saja keris itu mampu menimbulkan efek yang mematikan. Pada saat terjadi perang perjuangan melawan Belanda, hal ini dirasa mampu mengimbangi kekuatan musuh yang pada saat itu berupa senjata api.
  • Jika terlalu banyak racun yang diberikan kepada keris maka akan menjadikan keris tersebut rapuh dan keropos. Bahkan jika kadar racun telah melewati batas kewajaran akan mengakibatkan udara sekitar tercemari oleh racun pada keris pada saat keris berada di luar kerangkannya. Dampak yang bisa terjadi adalah keracunan ringan berupa pusing atau muntah-muntah. Sehingga jika melakukan warangan, maka sang empu harus mengetahui berapa besar kadar racun yang sudah berada dalam keris dan selanjutnya menentukan akan diberikan lagi racun atau tidak.
  • Biasanya keris setelah dilakukan warangan, maka warna permukaan keris akan menjadi bersih dan berwarna metalik gelap (logam putih) dan pada permukaannya akan terlihat rongga-rongga yang sangat kecil.

Keberadaan keris Mpu Gandring masih menjadi misteri hingga kini. Mitos mengenai keberadaannya menciptakan kisah yang menarik (enthralling stories), seperti yang ditulis dalam Ref. [7]. Ada beberapa versi cerita mengenai keberadaannya:

  • Untuk menghindari konflik berdarah, Keris Mpu Gandring dibuang ke Laut Jawa dan berubah menjadi naga
  • Keris Mpu Gandring secara misterius menghilang, atau jatuh ke tangan orang penting dalam pemerintahan
  • Keris Mpu Gandring ditanam di dalam Candi Anusapati atau Candi Jago di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur

Bibliografi

[1] Pararaton, 1481 (http://ki-demang.com/)

[2] JF Scheltema. Monumental Java, Asian Educational Service, 1996.

[3] Arswendo Atmowiloto. Senopati Pamungkas #2, PT Gramedia Pustaka Utama,  2004.

[4] Langit Kresna Hariadi, Gajah Mada Jilid 5.

[5] A.G. Maisey. The Origin of the Keris and its Development to the 14th Century. Link.

[6] Bambang Harsrinuksmo. Ensiklopedi Keris, PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.

[7] Novita Dewi. Power, Leadership and Morality: A Reading of Ken Arok’s Images in Indonesian Literature and Popular Culture, Ph.D. Thesis, National University of Singapore,  2005.

Apakah Jawa Itu?


Artikel pertama kali ditulis tanggal 5 Januari 2006.
Pada minggu lalu, di tengah lamunan dalam sebuah bus, saya bertanya mengenai sesuatu yang primordialistik: bagaimana rasanya menjadi orang Jawa yang hidup di negara-kota macam Singapura? Tak menjawab “bagiamana rasanya?”, saya alih-alih tergugah akan identitas diri sebagai orang Jawa: hidup dalam kultur yang rumit, lahir di tengah tata krama Jawa, berbicara hanya Jowo Ngoko (bahasa Jawa kasar), memakai batikbeskap – belangkon – Keris dalam acara adat, membaca prosesi pernikahan Jawa dari buku seorang Indonesianis (Clifford Geertz), tak bisa membaca Ha-Na-Ca-Ra-Ka (alfabet Jawa), tak bisa main gamelan dan tak tahu bagaimana menikmati pertunjukan Wayang. Sama halnya dengan teman seumuran saya, sepertinya saya hanya tahu yang dasar-dasar saja mengenai Jawa.
Jadi, seberapa Jawakah seharusnya saya? Apakah “Jawa” itu?

***
Pulau Jawa. Jawa, pulau terpadat di Indonesia, berisi hal-hal menarik dan sumber ke-gumun-an: kopi, candi, keraton, gunung berapi, bahasa, Wayang, pernikahan yang rumit, sinkretisme agama, kekuasaan otoriter, tata krama, rokok kretek, sastra, gamelan, strata sosial, dan seterusnya. Budaya Jawa biasanya dicatat oleh orang-orang Barat (atau orientalis – karena mereka mempelajari Jawa sebagai bagian dari budaya Timur atau oriental), seperti Clifford Geertz [1], Denys Lombard [2], Christine Jordis [3], John Pamberton [4], dan lainnya.
Bahasa Jawa. Saya lumayan terkejut dengan fakta berikut: tahun 2004, data statistik mengatakan bahwa 90 juta orang Indonesia adalah orang Jawa. Ini berarti bahwa 40 persen orang Indonesia mengerti bahasa Jawa (batas bawah mengerti adalah pembicara pasif). Bahasa Jawa mempunyai tiga tingkatan (Ngoko, Ngoko Alus dan Kromo Inggil). Kategorisasi ini didasarkan pada tingkat umur dan strata sosial pembicara atau yang diajak bicara; tapi biasanya jika ada orang asing yang bertanya mengenai kategorisasi itu saya dengan malas hanya menjawab “Itu maksudnya basic, intermediate dan advanced“. Bahasa Jawa memakai alfabet Jawa dalam penulisan (turunan bahasa Sansekerta – mirip dengan bahasa Thai atau Hindi). Namun, generasi muda (saya misalnya) jarang sekali bisa mengerti tulisan Jawa.
Orang Jawa. Tidak semua pulau Jawa dihuni orang Jawa: orang Jawa awalnya bermukim di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta – Jawa Barat dan Jakarta awalnya dihuni oleh orang Sunda, Badui dan Betawi. Mungkin agak stereotip, tapi model orang Jawa umumnya adalah kalem, penuh tata krama, halus tutur kata, sawo matang, bermata kecil dan tidak terlalu tinggi (ya pendek lah!). Imtip Patajotti [5] dalam bukunya “Journey to Java by Siamese King” mencatat bahwa orang Jawa itu pandai tapi lamban. Tata krama Jawa, seperti ditulis Christine Jordis [3], dibentuk oleh sikap pendiam, senyum, kompromi, harmoni, bisa dipercaya, tidak terlalu munafik, tidak memaksakan pendapat, bercukur supaya rapi (untuk jaga penampilan) dan filsafat yang kompleks di balik sikap tenang.
Agama. Kejawen bisa dibilang agama budaya yang berakar pada animisme, Hinduisme atau Buddhisme. Orang Kejawen berdoa menggunakan bahasa Jawa kuno dan membakar dupa. Orang Kejawen kadang mencampur ritualnya dengan ritual Islam. Ini yang mungkin disebut sinkretisme agama. Sebagian orang Jawa ada yang memeluk Kristen, Katolik, Buddha dan Hindu. Pengaruh Hindu dan Buddha dapat dilihat ketika menonton wayang Jawa, yang berisi epik India, misal: Mahabharata dan Ramayana. Diyakini bahwa cepatnya penyebaran Islam juga menggunakan wayang sebagai alat untuk mentransfer wahyu-wahyu. Kelompok musik gamelan biasanya mengiringi pertunjukan wayang itu. Wali Songo adalah sembilan wali yang menyebarkan Islam lewat asimilasi budaya dan tasawuf.
Mungkin saya mengerti Jawa hanya yang dasar-dasar saja, dan saya mendapatkannya dari referensi berbahasa Inggris. Namun demikian, Jawa adalah budaya dimana saya menemukan sebuah “rumah” untuk kembali, seberapa jauhnya saya merantau.
Teman-teman Jawa-ku, seberapa “Jawa”-kah anda?
—-
[1] Clifford Geertz, Religion of Java, Univ. of Chicago Press, 1976.
[2] Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya, Gramedia, 1996.
[3] Christine Jordis, Bali, Java, in My Dreams, The Harvill Press, 2001.
[4] John Pamberton, On the Subject of “Java”, 1994.
[5] Imtip Patajotti-Suharto adalah wanita Thailand yang menikah dengan seorang profesor di Institut Teknologi Bandung. Beliau adalah penulis Journey to Java by Siamese King – 2001, sebuah buku harian King Mongkut ketika melakukan kunjungan diplomatik ke Jawa pada awal abad 20. Beliau kini tinggal di Bandung.

Menjejaki Orang Jawa di Singapura


Berita Harian, 21 Februari 2008, PANDANGAN

Penulis: Arief Yudhanto

MINAT saya untuk menjejak orang Jawa di Singapura bermula dengan e-mel pada awal 2005 yang mengulas makalah saya ‘Apakah Jawa itu?’ di blog saya (http://arief.blog.sohu.com/1342281.html).

Tulisannya dalam krama inggil (bahasa Jawa yang halus yang ditutur orang tua-tua atau lebih dihormati).

Saya terpegun. Sebabnya, walaupun lahir dan besar di Jawa, saya sukar bertutur bahasa itu.

Saya berusaha membalas e-melnya dengan bahasa campuran madya dan krama inggil.

‘Oh, ternyata bahasa Jawa masih ‘hidup’ di Singapura,’ kata hati kecil saya.

Pada pertengahan 2005, saya singgah di kedai perata dekat Universiti Nasional Singapura (NUS). Sudah dini hari dan lengang saja. Seorang pekerja lelaki menyapa untuk mengambil pesanan saya.

Lelaki tadi bertanya dengan loghat Melayu: ‘Kamu dari Indonesia?’ Saya mengangguk, dan beliau bertanya lagi: ‘Dari Jawa?’ Saya mengangguk lagi. Kemudian, dengan tak terduga, beliau mulai berbicara dalam bahasa Jawa ngoko.

Berusia 40-an, beliau berasal dari Johor. Ayahnya datang dari Jawa dalam dekad 1950-an, dan menetap di Johor Bahru. Ayahnya kemudian menikahi perempuan Melayu. Selain bahasa Melayu, keluarganya dapat bertutur Jawa di rumah.

Itulah kali pertama saya mendengar bahasa Jawa dengan pelat Melayu!

Saya geledah Perpustakaan Pusat NUS dan tersua satu laporan ilmiah tulisan Abdul A. Johari pada tahun 1965 dan rencana oleh Lockard tahun 1971.

Saya difahamkan bahawa orang Jawa didatangkan ke Singapura sejak 1825. Mereka berasal dari Jawa Tengah. Mereka bekerja buruh kontrak di kebun getah (karet), landasan kereta api dan pembinaan jalan raya.

Kampong Jawa, di tepi sungai Rochor, ialah pemukiman pertama orang Jawa di Singapura. Selain itu, mereka mendiami Kallang Airport Estate yang turut menampung orang Melayu dan Cina (Johari, 1965).

Menurut Lockard (1971), orang Jawa di Kampong Jawa berkembang daripada 38 orang pada 1825 kepada 5,885 orang pada tahun 1881.

Puncak pendudukan orang Jawa ialah tahun 1931 – ada 170,000 orang Jawa diam di Singapura. Selang 16 tahun kemudian, jumlah orang Jawa menurun dengan banyak – daripada 169,311 pada 1931 kepada 24,715 pada 1947. Penyebabnya dijelaskan sebagai berikut

  • Kemelesetan ekonomi yang mendorong berdirinya perkebunan skala kecil yang tidak lagi menggunakan buruh
  • Meningkatnya taraf ekonomi dan sosial buruh
  • Tekanan antarabangsa yang melarang buruh kontrak.

Daripada Internet, saya menemui perangkaan 1985 yang menunjukkan ada sekitar 800 daripada 21,230 (3.8 peratus) orang Jawa di Singapura masih melestarikan bahasa Jawa.

Kadar kecil ini disebabkan mereka lebih sering menggunakan bahasa pengantar Melayu atau Inggeris dalam pertuturan harian. Hal ini juga terjadi di beberapa kota di Indonesia.

Di ibu kota Jakarta, misalnya, kebanyakan orang Jawa lebih berbahasa Indonesia atau Betawi. Namun mereka masih dapat memahami walaupun sukar bertutur Jawa.

Bahasa Jawa mempunyai tiga peringkat – ngoko, madya dan kromo inggil – dengan kosa kata, nahu dan makna yang berbeza.

Ngoko biasanya dituturkan secara informal, antara teman sebaya, bos terhadap bawahan, orang lebih tua kepada orang yang muda.

Madya memiliki tingkat menengah, antara ngoko dan kromo. Madya biasanya digunakan antara orang asing yang baru kenal.

Kromo ialah gaya yang paling sopan, antara dua orang yang tingkatnya sama dan menghindari suasana informal, kemudian digunakan dalam pidato, atau diucapkan orang yang lebih muda kepada orang tua.

Peringkat bahasa Jawa serupa bahasa Jepun dan Korea. Hal ini menyukarkan pembelajaran bahasa Jawa, terutama yang jauh dari tanah Jawa, seperti di Singapura.

Data bahasa dunia menunjukkan bahawa bahasa Jawa di anak tangga ke-12 sebagai bahasa yang banyak dipakai di dunia. Penggunanya sekitar 75.5 juta orang itu tersebar di Indonesia, Malaysia, Singapura, New Caledonia dan Surinam.

Rugby dan 19


Jaman kuliah di Bandung dulu, setiap mahasiswa dikenakan Wajib Olahraga pada tahun pertama. Semester 1, kami wajib ikut atletik. Semester 2, kami dibebaskan memilih olahraga yang digemari, atau diminati. Saya memilih rugby, olahraga asal Inggris yang keras dan berbola aneh. Alasan ikut rugby: supaya kenal cewek cantik. Salah besaaaaaar! Mana ada cewek yang ikut rugby! Ketika itu, yang paling banyak ikut rugby memang anak seni rupa (yang menurut saya ceweknya keren; bukan kerenmpeng); tapi sayangnya yang ikut cowok semua, sangar pula. Hehe. Tapi tak apa, yang penting tetap bisa belajar nendang bola berbentuk aneh.

rugby_ball.jpg

Rugby: Bastard Game Played by Gentlemen (thanks, Bi!)

Hari pertama, kami diajarkan teori bermain rugby. Sudah banyak yang lupa meski ujian teori ketika itu hampir dapat 100 (mau gak gampang gimana wong dosennya tidak ada yang punya gelar PhD bidang rugby hehe). Seingat saya, ngoper bolanya gak boleh ke depan, tapi ke samping atau ke belakang. Tidak boleh nyekek orang, tidak boleh main kasar (alias nendang selain bola), boleh megangin badan, kaki, pinggul dan lainnya. Boleh nindih orang lain, boleh menerjang orang, boleh nabrak tapi harus suam-suam kuku, alias tidak boleh ngawur: nabrak harus sopan. Hehe. Alhasil, setiap pulang rugby di Sabtu sore, badan rasanya legrek, mau patah tulang, kulit lecet dan otot nyeri. Tapi selalu puas dan senang hati; karena kadang dapat bonus njlungupno wong liyo hehe.

adidasythhomerep-c.jpg

Bukan seragam rugby saya; cuma sama nomornya aja

Seragamnya ketika itu hanya celana pendek selutut, baju lengan panjang berbahan sekian persen polyester, berlambang gajah. Tak ada pelindung di pundak atau bagian alat vital, tak ada helm, tak ada handuk di pantat. Untuk nomor jersey, saya memilih nomor 19. Alasannya: waktu masuk kuliah itu umurnya 19, dan 19 ini bilangan prima (tidak bisa dibagi apapun selain satu dan angka itu sendiri… halah gak ada hubungannya kok!).

Di pertengahan bulan, ada foto session. Pemain rugby berbaris, melipat tangan di depan dada, jepret! Keren. Tapi saya nampak kecil waktu di foto itu! (foto belum di-scan, sori). Lainnya berbadan bueeesar-bueeesar soalnya (ya hiperbola sedikit gak papa).

Entah, gimana nasib rugby ini sekarang. Apakah masih ada di ITB?

Tukang Becak


Pada 11 Agustus 2005, dalam sebuah wawancara kerja di Singapura, seorang manajer memberikan pertanyaan pertama yang mengejutkan:

Where is Bondowoso?

Saya mengangkat alis dan membatin: Apakah ini serius? Namun, ia segera mengulangi lagi pertanyaannya:

Bondowoso, which part of Indonesia is it?

Sepertinya dia serius. Jadi, dengan bersemangat saya jelaskan bahwa Bondowoso adalah sebuah kota di bagian timur pulau Jawa. Kotanya kecil. Ia dapat ditempuh selama 4 jam bermobil dari Surabaya, ibukota propinsi Jawa Timur. Bondowoso sebenarnya juga tidak jauh dari Pulau Bali, meski harus menyebrang selat Bali menggunakan kapal ferry. Saya sebenarnya ragu bahwa geografinya bagus, tapi barangkali manajer itu hanya ingin memecah kebekuan wawancara.

bali_lombok.gif

Bondowoso adalah sebuah titik ungu muda di paling kiri. Peta ini menggambarkan bahwa Bondowoso relatif dekat dengan Pulau Bali, sekitar 2.5 jam naik mobil dari Denpasar

***

Di Bondowoso, masa kecil saya ‘diwarnai’ dengan becak. Sejak TK hingga SMP kelas 1 saya selalu diantar seorang tukang becak bernama Pak Bakri. Rumahnya tidak jauh dari rumah kami. Pak Bakri mangkal di depan rumah setiap hari jika tidak ada jadwal mengantar. Kami berlangganan jasa tarikan becaknya untuk antar-jemput ke sekolah. Pak Bakri orangnya jujur, berkepribadian luwes (sehingga banyak kawan) dan suka becanda. Bahasa yang sering digunakannya adalah bahasa Madura. Tetapi, dengan kami, ia berbahasa Indonesia (dengan logat Madura yang khas).

Ketika SMP kelas 1 itu saya tidak lagi diantar Pak Bakri karena saya punya sepeda baru. Kasihan juga Pak Bakri. Pendapatan bulanannya nampak menurun. Tapi saya yakin dia pasti berusaha, sembari berdoa.

Praktis, Pak Bakri menyaksikan pertumbuhan saya selama 9 tahun, sejak TK nol kecil sampai SMP kelas 1. Setelahnya, saya jarang bertemu lagi dengannya karena jadwal sekolah yang masuk siang. Lagi pula saya pindah kota setelah kelas 2. Namun, tak disangka, bulan Februari 2008 (kurang lebih 17 tahun berselang) saya bertemu lagi dengan Pak Bakri. Dia masih tetap mengayuh becak. Ketika saya tanya, apakah becaknya tetap sama seperti yang dulu, dia menjawab tidak sama.

Tinggi saya juga sudah melewati Pak Bakri; kira-kira dia setinggi telinga saya. Namun, senyumnya masih khas, sama seperti yang saya ingat ketika saya masih TK. Pak Bakri mungkin bangga karena anak balita yang dulu diantarnya ke sekolah kini sudah bisa menghasilkan anak balita juga. Sayangnya, saya tidak ngobrol banyak dengan Pak Bakri, karena dia harus segera mengantarkan penumpangnya. Oh Pak Bakri, kapan-kapan kita jumpa lagi ya …

Senin pagi, 4 Februari 2008, saya ingin makan pecel Mbak Debri di dekat gang Gereja. Karena becak Pak Kus sudah mangkal di depan rumah, saya beli pecel dengan naik becaknya Pak Kus ke Pecinan.

Pecel Mbak Debri ini laris. Seringkali kalau sedang jam sibuk kita bisa menunggu agak lama untuk dapat pesanan. Apa ya istimewanya? Mungkin sejak dulu rasanya selalu konsisten: nasi pecel, peyek dan brengkesan tongkol kecil-kecilnya memang nikmat. Pecel itu tidak punya nama kedai. Kami menyebutnya Pecel ‘Mbak Debri’ karena anak sulungnya, yang sahabat alm. Tante Anik, memang kami kenal. Barangkali, pecelnya itu adalah simbol perjuangan. Dengan pecel itu, konon, anak-anaknya dapat berkuliah. Hebat ya …

Menunggu itu pekerjaan yang membosankan, meski menunggu pecel yang enak sekalipun. Karena bosan  menunggu, saya pergi ke luar kedai, dan ngobrol dengan Pak Kus, sang tukang becak.

Pak Kus adalah lelaki berumur 60 tahun. Di usia itu, ia tak terlihat renta. Ia nampak sehat, meski kulitnya yang terbakar terik mulai keriput. Rumahnya sekitar 30 – 45 menit dari rumah saya, yaitu ke arah Koncer. Di rumahnya, ia hidup bersama istri dan cucu perempuannya yang hampir lulus SMP. Ia berencana menyekolahkan cucunya itu di kota (Bondowoso) untuk jenjang SMA-nya. Ia akan membiayainya sendiri.

Dia bercerita tentang siklus hidupnya: setiap pagi pergi pukul 5 pagi, dan mengayuh sejauh 2 km ke pasar, berbelanja, lalu mengirim belanjaan ke Masjid Jami’ At Taqwa. Kemudian ia mulai mangkal di depan rumah saya, dan menunggu ibu saya atau penumpang lain yang memerlukan jasanya. Kalau sedang untung, ia bisa mendapat 35 ribu/hari. Kalau sedang sepi, ia hanya mendapat 15 – 20 ribu/hari. Pukul 10-11 pagi biasanya ia pulang ke rumah, dan beristirahat. Esoknya ia mulai bekerja lagi. Jam kerjanya pendek, namun ia bilang ia akan tetap mbecak selagi masih sehat. Ia tak ingin jadi beban anak-anaknya, ia ingin mandiri, dan ingin tetap “memberi” selama jantung masih berdetak.

Di Bondowoso yang tenang, tukang becak mengingatkan kita agar mensyukuri keberuntungan. Pak Kus juga menyadarkan kita tentang tujuan hidup, yaitu bermanfaat untuk orang lain. Terbiasakah kita untuk terus bersyukur dan bermanfaat bagi orang lain?

becak.jpg

Hari Valentine


Tomorrow will be my second Valentine’s Day in the United States. As I’ve discovered, the celebration here bears little resemblance to the one I know from growing up in Saudi Arabia. Yes, there are dates. But in Saudi Arabia, we eat them. – Rajaa Alsanea, Chicago

Saya suka sekali quote di atas 😀

Di AS, atau negeri yang ter-Barat-kan (westernized), hari Valentine atau kasih sayang identik dengan memberikan bunga untuk kekasih, antri di restoran untuk makan malam dan berkencan. “Teman kencan” alias “date” adalah pre-requisite. Namun, “date” juga berarti buah kurma. Tak hanya di Arab; di negeri yang tak memiliki gurun pun kita temukan kurma. Dan, kita memakannya.

Di dalam bus dan di jalanan, saya temukan para remaja mendekap seikat bunga yang dilindungi plastik. Tanggal 13 – 14 Februari itu, Singapura merayakan Valentine’s day, meski tak sesemarak tahun baru Cina. Ada yang bertanya pada saya: apa rencana kamu malam ini untuk hari Valentine? Saya jawab: tak ada, paling cuma makan malam di rumah, karena 14 Feb adalah ulang tahun saya. Alisnya terangkat, setengah tak percaya: bagaimana mungkin kamu lahir tepat 14 Februari?? Lalu saya merogoh dompet, mengeluarkan kartu identitas, dan menunjuk tanggal lahir: percayakah kamu sekarang? Dia mengangguk, lalu menyalami saya 🙂

Ada juga yang bertanya: bagaimana bisa lahir pas hari Valentine? Saya sendiri bingung mau jawab apa. Biasanya saya jawab singkat: ayah-ibu membuat saya kira-kira pada bulan April 1977.

Mau mencoba juga? Rencanakan sekarang.