Cisitu


Sebuah tempat biasanya punya sejarah. Sebuah tempat umumnya bisu dan kaku. Namun, tempat adalah saksi, yang dengan rasa manis atau pun getir, menjadi nadi setiap peristiwa dan petualangan. Kita mungkin mengenang ‘nadi’ itu dengan senyum dan tawa. Namun bisa juga dengan desah kecewa. Sebuah tempat adalah sebuah wujud yang dengan hati dinginpun kita tak mampu berdusta tentangnya.

Clifford Geertz, seorang Indonesianis dari Harvard, selalu mencatat temuan-temuannya ketika melakukan kunjungan ilmiah ke pelbagai tempat. Bacalah Religion of Java, After the Fact, atau Negara Teater — yang dianggap sebagai karya yang mumpuni. Dari situ kita dapat menemukan detil peristiwa dan catatan budaya, di samping teori-teori antropologi gaya Geertz. Cerita tentang tempat yang masih tradisional (Kediri di Jawa Timur, Negara di Bali, Sefrou di Maroko) dikisahkan dengan sederhana namun penuh analisis yang mengagumkan. Dan juga bersemangat: ada nafas budaya, agama, ideologi, common sense, simbol, integrasi, etos, makna, bahkan perselisihan dan mitos. Dengan demikian, kita tahu bahwa dari pelbagai tempatlah Geertz membuat teori-teori antropologi yang membuatnya termasyhur.

Tempat yang saya kenang adalah Jalan Cisitu. Meski ia adalah nama sebuah jalan kecil dan rapat, saya tetap mengenangnya sebagai sebuah tempat yang berkesan. Cisitu mungkin adalah tempat yang ditulis dengan sikap sentimentil yang berlebihan. Sebuah esai pendek mengenai Cisitu kemudian ditulis, dan disisipkan di bagian pengantar tugas akhir sarjana tahun 2002. Esai yang menjadi pelepas dahaga di belantara rumus tak dikenal barangkali bersifat lokal: ia hanya berkorespondensi dengan mereka yang pernah tinggal di Bandung, khususnya di bagian utara, di sebuah jalan bernama Cisitu itu. Dalam esai pendek itu, sebuah syair pun ditulis. Setelah membaca syair itu, kunjungilah Cisitu. Pilih satu dari dua kemungkinan yang absolut: deskripsi (dalam syair) di bawah ini kadaluarsa, atau masih valid?

O, CISITU

Sebuah jalan, yang punya elevasi
Di bagian utara, yang awalnya sepi

Sebuah perubahan
Dulunya sunyi, sekarang bunyi
Dulunya seragam, sekarang beragam
Dulunya tenang, sekarang bersitegang

Sebuah perubahan lagi
Cantik berkeliaran, tanpa kesepian
Tanpa peduli, mengumbar impian

Ungu melintas, di Cisitu yang panas
Jadi jalan bypass, untuk potong kompas

Cisitu kini, 42nd St. di New York City
Padat dan berisi, kultur yang multi

Dengan usaha di tepian, warung makanan
Fotokopian, pajak berantakan

Parkir gratis, mobil berbaris
Sampah meringis, Cisitu menangis

Pedestrian bukan utama, suburban tinggal utopia
IT adalah segalanya, Cisitu bermuram durja

Cisitu pada 865 mdpl
Cisitu Baru: 1997
Cisitu Lama: 1998
Cisitu Indah: 2000
Cisitu aku bermukim

cisitu
Advertisements

Pulang


Suatu hari pada pertengahan 1999, ketika reuni kecil di Jember, saya dan Zainul duduk-duduk di depan TV. Kami memainkan gitar, dan iseng-iseng, sebuah lagu pendek tercipta. Lagu itu pendek sekali. Saya membuat musiknya, Zainul membuat liriknya. Judulnya Pulang.

Sentuh relung hati

Hari t’lah berganti

Kuinginkan ‘tuk kembali

Di pelukanmu

Yang t’lah terbagi

Dulu ku berlari

Dulu ku mencari

Tempat berlabuh

Ku bersamamu hanya masa lalu

Kini, kurindukan

Dan kuingin pulang

Begitu saja. Lagu itu kemudian diingat-ingat, dan kami mengontak teman lama, Reinhart Aruan. Setidaknya tiga orang yang dulu pernah tergabung dalam band Springfield ketemu, dan mulai merekam. Rekaman dilakukan di depan PC milik Kurniawan, supaya dapat dijadikan format mp3. Saat itu, komputer adalah barang langka dan mahal lho! Akhirnya lagu itu selesai. Tidak hanya satu lagu itu yang kami mainkan. Ada dua lagu lainnya yang kami ciptakan dan rekam: Break Up dan Kau Mungkin Yang Pertama. Sayangnya, mp3 semua lagu-lagu itu hilang karena hard disk PC rusak dimakan jaman. Oleh sebab itu, setelah 14 tahun, saya memainkan lagu sendu berjudul Pulang itu dengan ingatan yang samar-samar. Ini dia. (Liriknya dimasuk-masukin sendiri ya mana yang pas! Hehe).

Menulis dan sedikit tips


Prelude

Menulis pada dasarnya mengabadikan informasi. Informasi ini ada yang berupa berita alias hard news, ada juga yang berupa opini dan fitur (feature). Ketiganya campur-aduk di dunia nyata dan maya. Jumlahnya juga begitu masif, sehingga sulit bagi kita mengingat atau mencernanya; jangan lagi memverifikasi kebenarannya. Tetapi, hidup kita (sayangnya atau untungnya?) sebagian dikendalikan oleh informasi berupa tulisan. Berita, opini, fitur menjadi hegemoni (kekuatan dominan). Yang paling dominan tentunya adalah pemilik kantor berita. Ia dapat mengendalikan opini, pikiran, bahkan emosi pemirsanya.

Saya sendiri sering membaca koran online. Yang dibaca tentunya berita. Kadang-kadang membaca opini atau kolom juga. Tapi sekarang agak mengurangi. Berita-berita, meskipun nyata, seringkali membuat mood jadi murung. Sebabnya sederhana: bad news is a good news. Yang sial dan kontroversial; yang heboh dan tidak senonoh; yang lemah dan berdarah-darah; semua itu menyerap pemirsa. Bisikannya: jangan sampai dilewatkan berita macam ini! Padahal, berita boleh jadi diplintir karena koran juga punya kepentingan: oplaag!

It boils down to money and fame.

Oleh sebab itu, saya lebih suka dokumenter, dan wawancara langsung (live). Keduanya berbeda; tetapi disajikan dengan persiapan yang matang. Dokumenter seringkali mengupas latar belakang sesuatu sehingga meningkatkan pemahaman. Wawancara: kita mampu merekam dan menilai apa yang diomongkan seseorang; bukan apa yang wartawan tulis tentang omongan itu.

Tips menulis

Ketika beres-beres meja hari ini, saya menemukan catatan lama tentang bagaimana menulis berita. Catatan itu saya buat setelah mengikuti workshop penulisan berita dan opini di Tokyo. Ada dua pembicara. Pertama, Richard Susilo, seorang wartawan yang berbasis di Tokyo. Dia punya kursus bahasa Jepang bernama Pandan College. Yang kedua, Agus Fanar Syukri, peneliti LIPI dan penulis lepas untuk koran-koran di tanah air. Apa yang disampaikan mereka cukup bermanfaat, khususnya mengenai bagaimana menulis berita dan opini di koran.

Menulis berita

  • Berita punya ciri ini: hal-hal penting ditaruh di depan (paragraf awal), bagian kurang penting ditaruh di belakang.
  • Berita harus punya judul yang menarik
  • Berita punya elemen berikut: 5W + 1H (what, who, when, where, why, how) atau menurut Richard, disebutnya ASDAMBA (apa, siapa, di mana, mengapa, bagaimana – sayangnya “kapan” kok tidak ada?)
  • Meskipun rinci, berita harus ditulis dengan bahasa yang dapat dipahami anak SD
  • Kalimat berita harus pendek-pendek, berisi elemen subjek + predikat + objek (SPO) atau SPOK (ditambah keterangan)
  • Paragraf pertama dari berita harus menarik, dan membuat pembaca ingin tahu kelanjutannya
  • Ketika menulis berita, kita harus punya kode etik: jangan menjiplak, tulis kenyataannya, referensi harus jelas

Menulis opini

  • Opini adalah tulisan yang berisi pandangan dan wawasan pribadi mengenai suatu masalah yang aktual dan berkenaan dengan kepentingan publik; opini bukan berita atau saduran
  • Menulis opini berarti melapangkan jalan sebagai intelektual publik
  • Elemen opini: masalah – ide – data – kesimpulan
    • Masalah: apa yang tengah dipermasalahkan publik saat ini? Cari masalah/tema yang sesuai keahlian, yang aktual dan sesuai momentum; cari yang luar biasa atau aneh
    • Ide: apa ide anda dalam menyelesaikan masalah itu?
    • Data: data apa yang anda gunakan untuk mendukung ide tersebut? Data harus akurat; sertakan grafik bila perlu; gunakan pendapat para ahli untuk mendukung opini anda
    • Kesimpulan: sebelum menyimpulkan, analisis data-data di atas menurut pandangan pribadi; kemudian simpulkan dengan bahasa yang sederhana
  • Elemen ini mesti tetap ada: 5W + 1H
  • Bahasa harus populer, paling tidak dapat dipahami oleh murid SMP. Meskipun demikian, bahasa yang digunakan harus punya nilai tambah bagi pembacanya: punya karakter atau ciri khas, kaya akan kosakata, sesuai dengan kompetensi
  • Bagaimana meningkatkan kosakata dalam menulis? Banyak-banyaklah membaca buku yang non-fiksi, juga kolom opini; catat kosakata baru yang ditemukan, pahami artinya
  • Paragraf pertama harus menarik; cari tokoh atau sosok untuk menggambarkan kejadian
  • Kalimat harus koheren: kalimat pertama berhubungan dengan kalimat selanjutnya; paragraf pertama berhubungan dengan paragraf selanjutnya
  • Usahakan satu paragraf berisi satu ide saja

Tapi satu hal yang paling penting dari semuanya adalah berlatih menulis. Kemungkinan ini akan memenuhi kaidah 10 jam sesuai dengan usulan Malcolm Gladwell. Belajar menulis selama 10 jam per hari selama 10 tahun tanpa henti, mungkin akan membawa anda memenangkan Pulitzer! Who knows?

Another tips:

10 Cs to become a good writer: commitment, consistent, capability, character, competence, contextual, credibility, cool (ini gak tahu apa maksudnya!), conversation, community.

Tipping Point


Setiap orang punya tipping point. Tipping point berarti sebuah titik (waktu yang terikat tempat) dimana persepsi, kebiasaan, bahkan hidup seseorang berubah secara mendadak, dan efeknya cukup dahsyat terhadap kehidupan kita semua. Oleh sebab itu, tipping point bukan titik balik, tetapi titik perubahan. Ia merupakan titik kritis dari kondisi A ke kondisi B.

Tipping-point

Terminologi ini kurang tahu juga berasal dari siapa. Tetapi seorang yang berjasa mempopulerkannya adalah penulis buku Amerika Malcolm Gladwell. Bukunya Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference (2000) membuat orang tersadar bahwa masing-masing dari kita hidup seperti sekarang ini karena suatu alasan yang subtil, yang halus. Dan sering tidak kita sadari. Alasan ini berbentuk materi, dan tidak bersifat spiritual atau ilahiyah. Jika spiritual ia mungkin dinamakan hidayah dalam Islam. Ada dua proposisi yang diajukan Gladwell. Yang pertama adalah “epidemik sosial sangat ditentukan oleh sekumpulan orang yang memiliki bakat sosial yang khusus dan jarang dijumpai di kumpulan lain”. Yang kedua adalah “Prinsip 80/20. 80% kerja yang diperlukan untuk menciptakan situasi tertentu ditentukan oleh 20% orang saja”. Gladwell mendasarkan proposisinya kepada statistik dan psikologi. Dua cabang ini digunakannya untuk memahami fenomena sosial yang terjadi pada abad 21. Sebagian berlaku di AS, sehingga sifatnya kontekstual, tetapi ada juga yang sifatnya universal dan menembus batas negara, budaya dan bahasa.

Buku yang terbit 13 tahun lalu ini nampaknya tidak akan usang. Alasannya, seseorang ingin memahami istilah tipping point; kemudian ingin memahami perubahan yang terjadi di dalam dirinya atau lingkungannya; kemudian ingin mengetahui sejauh mana istilah tipping point itu dapat merepresentasikan kehidupan di sekelilingnya. Intinya, tipping point adalah sebuah terma untuk merefleksikan diri.

Sayangnya, ia tidak punya kemampuan prediktif. Tipping point adalah soal after-the-fact. Ia dapat dianalisis ketika sudah terjadi. Jika belum terjadi Gladwell tidak punya alat, faktor atau parameter untuk membantu kita mengidentifikasi akankah terjadi perubahan dahsyat dalam hidup kita karena suatu titik. Contohnya ini. Apakah ketika kita minum kopi pertama kali (pada umur 7 tahun, misalnya) menyebabkan kita mencintai kopi setengah mati, dan akhirnya membuka kafe yang semasyhur Starbuck? Kita tidak tahu. Apakah ketika Musso (tokoh komunis itu) mengenal kata женщина (zhenshchina) atau femme, yang berarti wanita, di sebuah majalah Barat, kemudian membuatnya mencintai paham komunis dan berkelana ke Uni Soviet dan Perancis, kemudian melawan Belanda, dan berujung pada pembentukan Republik Soviet Indonesia? Tidak ada yang tahu.

Tipping point adalah sebuah titik yang kita ketahui setelah semuanya terjadi dan terjelaskan dengan baik. Tapi, titik ini kadang tidak hanya satu. Ia merupakan perpotongan (intersection) dari pelbagai garis kehidupan orang lain juga; yang sulit dikendalikan karena acak dan didorong motivasi yang sifatnya spiritual (agama, tuhan, pencarian makna hidup), material (uang, hubungan keluarga) dan absurd (tanpa tujuan jelas – lebih ke estetika dan sisi eksentrik).

***

Pada 1999, saya pernah diajak seorang kawan urang awak (Minang, tapi lahir di Medan) untuk makan masakan padang di sebelah Masjid Salman. Setelah makan, kami biasanya pergi ke kios buku di dekat situ. Buku-bukunya ditumpuk, rata-rata baru terbit karena 1998 merupakan tahun yang membebaskan penerbit untuk merilis buku apa saja – dari yang “kanan” sampai “kiri”. Pemahaman generasi muda ketika itu tentang Islam fundamentalis mungkin didapatkan di sana. Buku-buku terjemahan dari Timur Tengah begitu banyak. Begitu juga pemahaman anak-anak tentang istilah communist manifesto, liberalisme, dan mendadak suka dunia sophie (filsafat).

Pada saat itu, kawan saya memperlihatkan sebuah buku berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Franz Magnis-Suseno). Saya yang tidak suka membaca hanya mengenal wajah Marx yang berjanggut. Wajahnya populer, dan saya tahu nama itu dari Buku 100 Tokoh. Mengenai pemikirannya, saya tidak tahu sama sekali. Tidak tertarik. Buat apa? Komunis dulu pernah bikin onar, dan memahami pemikirannya sama artinya dengan mengembalikan potensi keonaran itu.

marx

Tapi, akhirnya buku itu saya pinjam. Dan, saya terserap ke dalamnya. Mungkin ini disebabkan karena tulisan Romo Magnis-Suseno yang mudah dipahami, runtut dan sederhana. Mungkin pula karena pemikiran komunisme itu tidak datang tiba-tiba, tetapi dilatarbelakangi oleh kisah romantis antara Marx dan istrinya, atau persahabatan yang tak lekang antara Marx dan pengusaha Inggris, Frederich Engels. Saya sendiri tidak tahu. Tetapi yang akhirnya saya tahu dan rasakan: saya tidak berhenti membaca. Saya terus mencari buku-buku lain (Das Kapital, Mein Kampf, Thus Spake Zarathustra dan lain-lain). Membaca apa saja. Apa yang orang lain baca, saya baca juga. Bukan ingin kompetisi, tapi ingin memahami apa yang orang lain pahami; jadi kalau ngobrol bisa nyambung. Saya juga ingin menyelami semua pemikiran dan sejarah dunia. Mengapa dunia ini jadi seperti ini? Mengapa banyak sekali isme yang kemudian menjadikan Indonesia seperti ini?

Buku Marx yang diperkenalkan oleh kawan saya itu, singkatnya, adalah titik perubahan, atau tipping point. Buku itu pada akhirnya membuat saya melihat dunia dengan wajah yang berbeda. Buku itu membuat saya menyukai “menulis”. Menulis, pada akhirnya, menghasilkan keasyikan tersendiri. Tulisan yang persuasif sangat membius dan dapat membuat orang lain bergerak. Dengan tulisan, seseorang mampu mengubah persepsi dan memperkaya, atau bahkan dikritisi. Tanpa kritik, pemahaman kita akan kehidupan tidak akan berkembang.

Pada akhirnya, tipping point adalah soal manusia dan persepsi terhadap dirinya.