Efek Debu Vulkanik Islandia di Jepang


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Pada April ini ribuan wisatawan mengunjungi Jepang untuk menikmati mekarnya Sakura. Sakura merupakan bunga dari pohon ceri yang hanya mekar kira-kira 2 minggu saja. Selanjutnya, ia gugur dan digantikan dedaunan hijau. Perayaan musim semi ini selalu disambut dengan berhanami. ‘Hanami’ berasal dari kata Jepang yang berarti ‘melihat keindahan Sakura’. Penduduk Jepang biasa berhanami sambil menikmati hidangan di bawah pohon ceri. Continue reading

Advertisements

Mencari Fungsi, Hukum dan Faktor “H”


Pertengahan 80an, ayah saya membaca buku biografi BJ Habibie. “Habibie: Dari Pare-pare lewat Aachen dan Tulisan-Tulisan Lainnya”.  Buku itu kemudian disimpannya di lemari jati. Saya kurang ingat persis apa yang dia bilang: mungkin seperti “Habibie dikenal di luar negeri dengan sebutan ‘Mr Crack'”. Tapi yang selalu saya ingat, saya melafalkan Aachen dengan A-A-Chen … bukan Aa-khen.

Buku biografi Habibie cenderung menceritakan masa kecil, remaja, kuliah di Jerman, pembangunan IPTN dan beberapa industri strategis Indonesia, jalannya yang berliku hingga menjadi presiden, lepasnya Timor  leste dari Indonesia, kroni Suharto, IMF, bangkrutnya IPTN, proyek mercu suar dan lainnya. Belum pernah ada yang pernah menulis tentang Habibie dari sisi akademik dan mengumpulkan karya-karya ilmiahnya. Ini penting karena negeri yang besar adalah negeri yang rakyatnya berhenti mencela, lalu belajar dan menggali apa yang pendahulunya pernah buat (meski pernah salah juga tentunya) untuk kemudian merumuskan apa-apa yang baik.

Di buku Ensiklopedia Indonesia, disebutkan bahwa ada faktor Habibie, fungsi Habibie atau hukum Habibie. Setelah mencari-cari, fungsi, hukum atau faktor ini katanya berhubungan dengan perambatan retak pada logam. Basis dari bidang yang spesifik ini adalah ilmu bahan yang kemudian dikembangkan untuk memecahkan masalah-masalah struktur (salah satunya) pesawat terbang. Retak yang terjadi di pesawat terbang biasanya disebabkan karena cacat di permukaan bahan dan perambatannya dipicu oleh kelelahan. Struktur pesawat juga bisa lelah, capek. Ini gara-gara jalan di landasan, take off, menanjak, cruise, menurun, landing dan parkir. Begitu setiap hari; seperti siklus; lama-lama juga lelah.

Kembali ke soal fungsi, hukum dan faktor Habibie. Adakah semua itu?

Ketika teori kelelahan yang lebih modern dikembangkan tahun 50an, Habibie mengeluarkan juga metodenya tahun 1971. Metode itu berkenaan dengan prediksi umur material karena beban lelah, seperti halnya Goodman Diagram dan lainnya. Metodenya pernah dibahas di salah satu paper Prof. Jaap Schijve dari TU Delft. Salah satu metodenya diajarkan di MIT untuk memprediksi perambatan retak.

Tahun 2000, pertanyaan saya terjawab. Dalam buku “Elementary Engineering Fracture Mechanics”, David Broek menulis:

Sebuah metode yang detil untuk memprediksi perambatan retak, dengan menghitung juga tegangan-tegangan sisanya, belum pernah ada. Beberapa metode integrasi tersedia di mana efek retardation diperhitungkan dengan cara yang semi-empiris. Habibie [dalam Eine Berechnungsmethode zum Voraussagen des Fortschritts von Rissen, Messerschmitt-Bolkow-Blohm report, UH-03-71, 1971] mengusulkan suatu prosedur yang mampu memprediksi dengan baik hasil simulasi terbang sebuah pesawat oleh Schijve [dalam Cumulative Damage Problems in Aircraft Structures and Materials. The Aeronautical Journal, 74 (1971) pp. 74 – 91].

Metode Habibie ini mirip dengan metode yang diusulkan Wheeler. Namun, sepertinya, metode Wheeler lebih baik dalam memformulasikan zona plastis di ujung retak.

Selain itu, dari pencarian, didapatkan file-file berikut: