No Regrets


Sepulang tujuh harian papa di Bondowoso, saya diantar Pak Basiran ke Bandara Juanda, Surabaya. Hari itu (17 April) saya harus kembali ke Jakarta bersama Mbak Lia. Sayang sekali, saya hanya menginap dua hari satu malam di Bondowoso. Padahal, masih kangen dengan Bondowoso … dan kenangan-kenangan bersama papa. Pagi hari, saya menyempatkan merapikan lemari buku yang berisi buku-buku peninggalan Papa. Sepertinya, semua boleh diberikan ke orang lain kecuali buku. Buku-buku mungkin harus diturunkan dan disimpan oleh anak-anaknya; supaya bisa dibaca anak-cucu. Setelah mengelompokkan buku-buku, secara umum buku papa terbagi menjadi empat kategori:

  • Kedokteran/kesehatan
  • Agama
  • Terbitan Time Life dan Ensiklopedia
  • Umum (biografi, manajemen, psikologi, pertanian, dan lain-lain)

Buku terbitan Time Life yang hard-cover itu ingin dibawa Mbak Lia dan Ebi ke Jakarta. Ada “Aneka Hobi Rumah Tangga”, Negara dan Bangsa, Perang Dunia, Tumbuhan, dll. Banyak sekali dan berjilid-jilid. Hanya satu buku yang saya bawa ke Jepang. Buku usang berjudul Chinese Horoscope karangan Paula Delsol yang edisi Bahasa Indonesia. Entah kapan buku itu terbit; mungkin 1980an. Harganya masih Rp 1,500. Saya juga membawa foto-foto masa kecil yang akan saya scan nanti.

Ketika di Bandara Juanda, pesawat ke Jakarta dikabarkan delay. Jadi saya muter-muter di bandara, dan menemukan toko buku. Di toko itu saya membeli satu buku dan dua majalah. Bukunya berjudul “No Regrets – Reflections of a Presidential Spokesman” karangan Wimar Witoelar (Equinox Publishing, 2002) setebal 200 halaman. Buku yang sudah berumur satu dekade, tapi saya tahunya baru sekarang. Selain itu, saya juga membeli buku berjudul Blink – The Power of Thinking without Thinking karangan penulis favorit saya Malcolm Gladwell, dan majalah Forbes Indonesia (yang ada fotonya Dahlan Iskan). Alasan membeli majalah Forbes Indonesia adalah saya ingin tahu apa sih berita-berita yang dibaca orang asing di Indonesia. Media adalah jendela. Forbes Indonesia adalah satu jendela yang dipercaya orang asing (pebisnis, ekonom, politikus, etc) dalam meneropong keadaan Indonesia. Forbes adalah alat untuk memastikan bahwa apakah yang mereka kerjakan di Indonesia aman atau tidak.

Buku No Regrets  membuat saya kecele. Buku yang ditulis dalam bahasa Inggris ini ternyata isinya tentang Gus Dur! Bukan Wimar. Isinya sepak terjang Gus Dur selama jadi presiden, khususnya dari perspektif Wimar Witoelar ketika menjadi ketua juru bicara kepresidenan. Harus diakui tulisan Wimar memang apik; kosakatanya kaya, ekspresinya juga bagus sekali. Entahlah, apakah buku itu sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia atau belum. Ada banyak kalimat hikmah di dalamnya. Ada kelakar juga, yang pasti membuat kita tersenyum-senyum sendiri. Ada rasa kecewa yang mendalam terhadap wapres, ketua MPR dan media massa saat itu. Wimar pernah mengatakan (tidak di buku itu) bahwa Gus Dur is doing the impossible for the ungrateful – Gus Dur melakukan hal-hal yang mustahil (terutama di era demokrasi yang baru seumur jagung pasca kejatuhan Soeharto) untuk orang yang tak tahu berterima kasih (masyarakat Indonesia yang terkaget-kaget dengan kebebasan dan bingung mau berterima kasih kepada siapa!).

Buku No Regrets saya baca secara intermittent: di Starbucks Juanda (1 jam), di pesawat (Sby – Jkt, 1 jam), di Starbucks Cengkareng (1 jam), di pesawat lagi (Seoul-Tokyo, 2 jam). Buku itu menuliskan perasaan Wimar yang begitu tersanjung karena mendapat kepercayaan untuk menjadi juru bicara kepresidenan Gus Dur. Keduanya berasal dari latar belakang yang sama sekali berbeda. Namun, saya lihat keduanya punya kesamaan: rajin muncul di media dengan nada kritis dan sama-sama overweight. Unik sekali pasangan itu. Wimar mengakui bahwa perannya sebagai jubir presiden kurang efektif, sehingga media masih sering salah tafsir terhadap Gus Dur. Wimar menulis bahwa yang dimuat di media seringkali berbeda dengan apa yang sebenarnya terjadi. Media itu jualan oplaag, bukan menyiarkan kebenaran. Jadi yang diingat masyarakat adalah bahwa Gus Dur sering melontarkan pernyataan yang kontroversial, mencla-mencle, tidak konstitusional, punya pembisik dan hal-hal lain. Berita macam itu tentu meningkatkan penjualan. Kalau yang dimuat hal-hal yang serius kan tidak punya audiens to? Wimar mengkritik media massa Indonesia yang tidak berimbang. Tidak hanya itu, ia juga mengkritik media asing seperti Newsweek. Buku ini penting untuk dimiliki karena ia merupakan perspektif orang yang awalnya hidup di luar sistem, dan kritis terhadap pemerintah. Buku itu juga ditulis oleh mantan aktivis 60an. Buku itu memang ditulis untuk mengimbangi hal-hal buruk yang ditulis media tentang Gus Dur. Buku itu ditulis untuk mengkritik Megawati (yang cenderung diam). Buku itu menuliskan sejarah bahwa seorang presiden dapat terpilih dari partai yang kalah, dan dilengserkan secara inkonstitusional oleh teman-temannya sendiri. Politik pasca-Soeharto dalam kurun lima tahun pertama memang susah diprediksi: kawan menggorok kawan. Buku ini menyiarkan perspektif (seperti judul acara yang dipandu Wimar) baru tentang presiden yang unik, yang benar-benar berjuang untuk rakyat.

Advertisements

Obituari: Dr H Goenawan Nambar (2)


1

Kadang kala, jika suami-istri memiliki tiga anak biasanya anak tengah kurang diperhatikan. Padahal, setiap anak memerlukan perhatian yang cukup sedangkan ayah-ibu jumlahnya hanya dua. Ayah memperhatikan adik/kakak, ibu memperhatikan kakak/adik. Anak tengah akhirnya diperhatikan orang terdekat lain, misalnya kakek/nenek, pembantu rumah atau kawan sebaya. Efek dari kurangnya perhatian orangtua terhadap anak tengah di luar dugaan, dan sering tidak disadari oleh kebanyakan orangtua. Misalnya, timbulnya rasa rendah diri (minder dan tidak percaya diri), pendiam, dan berontak. Rendah diri menyebabkan si anak tidak berprestasi atau kurang pandai menyampaikan pendapat; pendiam menyebabkan si anak tidak memiliki banyak teman; berontak menyebabkan si anak menjadi anak yang nakal.

Mungkin karena papa membaca buku psikologi, kurangnya perhatian yang diperoleh si tengah ini disadari oleh papa sejak awal. Papa memutuskan untuk memberikan perhatian lebih kepadaku. Kakak dianggap cukup mandiri, adik diasuh oleh mama. Salah satu yang dilakukan papa adalah mengajak aku jalan-jalan berdua. Ke mana saja dan melakukan apa saja yang penting berdua. Ini membentuk ikatan yang kuat antara aku dengan papa, dan sedikit banyak mewarisi cara-cara berpikir dia. Tidak semua dapat aku tiru karena kita memang beda jaman, beda karakter, beda minat dan keinginan. Tapi pergi berdua dengan anak adalah cara jitu untuk membangkitkan kembali rasa percaya diri anak. Dan, ini harus dilakukan sejak dini.

2

Perjalanan berdua kami yang pertama sangat “berkesan”. Ia meninggalkan luka permanen (dalam arti yang sesungguhnya). Beberapa jahitan di pipi dan paha. Tapi setelah perjalanan ini, kami jadi semakin dekat. Ceritanya begini: pada bulan Mei 1984, papa mengajak aku pergi ke Jember. Ini mungkin outing pertamaku dengan papa. Adikku sebenarnya diajak juga, tapi dia ingin di rumah saja. Akhirnya kami pergi berdua, naik mobil dinas ambulans Hiace. Papa menyetir sendiri mobil Hiace itu, dan aku duduk di kiri. Persnelingnya ada di dekat setir mobil, jadi agak menyulitkan papa yang terbiasa menyetir mobil dengan persneling sejajar kursi. Di siang hari yang mendung itu, ketika sampai di desa Suko Jember, mungkin 17 km dari Bondowoso (jarak Bondowoso – Jember: 33 km) mobil melewati belokan. Ban kiri depan masuk ke kubangan, dan mendadak papa kehilangan kendali. Ketika setir dibelokkan ke kiri, mobil berbelok ke kanan. Ketika setir dibanting ke kanan, mobil berbelok ke kiri. Orang bilang keadaan seperti itu namanya selip. Tapi secara teknis, T-rod di bagian bawah setir tidak bisa berpindah sehingga fungsinya tidak sempurna.

Mobil ambulans Hiace yang oleng kanan-kiri itu tidak berjalan kencang, mungkin 50 km/jam. Di depan kami ada truk yang mengangkut tebu. Truk menyadari bahwa mobil kami oleng, jadi dia melambatkan diri. Ketika mobil kami berbelok ke kanan, dan masuk jalur kanan truk membanting setir ke kiri. Jadilah bagian kiri mobil kami menabrak bagian depan truk. Tabrakannya aku rasakan cukup kencang, apalagi aku tidak memakai sabuk pengaman. Tapi sesaat sebelum tabrakan itu, aku menyadari bahwa tabrakan akan terjadi. Jadi aku perlahan bergeser ke kanan, mendekati posisi papa. Sayangnya, agak terlambat, bagian kiri mobil ringsek dihantam moncong truk. Perutku menghantam dashboard, pecahan kaca menghambur ke seluruh tubuh kami, kepala papa terbentur frame window depan mobil. Dahi kanan papa benjol besar sekali, mungkin sedikit berdarah karena pecahan kaca. Sedangkan, aku lemas tak berdaya.

Kondisiku lebih parah dari papa. Serpihan kaca menyayat paha kiriku (aku memakai celana pendek waktu itu), tepi bibir, alis, pipi, dagu, tangan dan lainnya. Untungnya tidak ada yang masuk ke mata. Aku berdarah-darah dan kesulitan bernafas. Aku hanya berkata: “Pa, aku nggak bisa nafas… aku ngga kuat …” Mungkin ini semacam near-death experience. Sungguh sulit bernafas, dan aku sesekali berfikir bahwa waktuku di dunia ini sudah habis. Tapi papa menguatkan aku: “Yang kuat le …” Papa segera membopong aku ke luar mobil, dan mencegat mobil pick-up L300 warna coklat tua yang kebetulan lewat. Mobil pick-up segera meluncur ke rumah sakit Bondowoso sekencang mungkin. Diperlukan waktu 15 menit kira-kira. Selama 15 menit pula aku berusaha bernafas. Tapi mungkin aku pingsan.

Sesampai di RS Bondowoso, kereta dorong segera menghampiriku. RS agak chaotic waktu itu. Suster dan dokter berhamburan ke pintu depan. Mereka dengan sigap membawaku ke ruang operasi. Di sana, aku berpisah dengan papa. Aku juga sempat melihat almarhum eyang putri (Ircham) menangis sambil berteriak-teriak “Cucuku … cucuku ….!”. Suster-suster memeganginya, dan mendudukkannya di kursi roda. Dokter dan perawat segera melakukan operasi. Aku lupa nama dokternya, mungkin Dokter EB Satoto. Dokter menyentuh perutku yang kembung. Ia lalu memotong bajuku, dan mulai menyuntikkan bius lokal. Dia menyemangatiku supaya kuat. Aku tidak menangis, hanya meringis menahan nyeri ketika dokter membersihkan dan menjahit luka-lukaku.

Beberapa jam kemudian, aku sudah ada di kamar tidur pasien. Beberapa orang datang menjenguku, ada mama, adik, kakak. Beberapa saat kemudian aku lihat papa, yang bagian kepalanya diperban. Adikku membawa robot-robotan. Mungkin itu hadiah buatku. Semalaman aku tidak tidur. Ruangan itu serba putih, dan aku tidak suka suasana rumah sakit. Agak menyeramkan, takut-takut ada pocong nongol di jendela. Oleh karena itu, aku ingin pulang. Besoknya aku minta pulang dan dirawat di rumah saja. Besoknya aku dibolehkan pulang. Setiap hari aku memakai sarung karena jahitan di pahaku cukup panjang, sehingga sulit memakai celana pendek. Wajahku penuh tembelan perban. Aku didudukkan di kursi ruang tamu supaya selonjoran. Beberapa hari kemudian ada Bu Murtinah, teman papa-mama yang cukup sepuh. Dia mungkin ketua veteran (pejuang angkatan 45) wanita di Bondowoso. Dia memberiku uang Rp 10 ribu rupiah. Uang itu besar sekali rasanya. Harga krupuk satu biji waktu itu Rp 5, satu mangkuk bakso seharga Rp 50. Aku membayangkan bisa makan 200 mangkuk bakso. Atau membeli mainan. Akhirnya aku gunakan uang itu untuk membeli mainan. Sepeda motor polisi Chip lengkap dengan polisinya juga.

3

Dua bulan setelah itu, lukaku sudah sembuh. Aku mulai masuk kelas satu SD. Pada jaman SD itu aku mulai sering diajak naik becak sama papa. Biasanya, aku diajak pergi pada hari Sabtu jam 8 atau 9 malam, nonton film di bioskop Guntur. Sebelum nonton film, aku kadang diajak makan roti bakar di dekat bioskop. Setelah itu, papa mengajak aku beli camilan. Camilannya selalu sama. Papa beli Buavita Jambu, aku Buavita Orange. Papa membeli emping manis dan rokok Gudang Garam merah (kretek). Rokok itu ternyata diberikan kepada penjaga bioskop. Penjaga loketnya perempuan, dan dia adalah pasien papa. Dia selalu menolak kalau papa ingin membeli tiket. Jadi papa selalu membeli rokok untuk penjaganya. Penjaganya juga kenal dengan papa. Ada dua penjaga, yang satu bapak-bapak berkumis yang murah senyum, satunya lagi anak kecil. Pintu bioskop berupa teralis besi silang, yang dibuka selebar 30 cm (cukup untuk masuk 1 orang saja). Papa suka duduk di deretan nomor lima dari belakang, dan memilih duduk di tengah-tengah. Saat itu, bioskop tidak ber-AC. Orang juga boleh merokok di dalam gedung bioskop. Jadi, di dalamnya penuh asap rokok dan gerah. Film-film yang dipilih papa biasanya film laga, yang diperankan oleh Jackie Chan, Sylvester Stallone, Arnold Schwarzenegger, dan lainnya. Kalau ada adegan ciuman, aku disuruh menutup mata. Kalau ciuman sudah lewat, papa menyuruh aku membuka mata.

Sepulang dari nonton bioskop, aku sudah dalam keadaan ngantuk berat. Sudah jam 11 malam. Ketika naik becak, papa menjelaskan arti judul film yang berbahasa Inggris. “Rambo” tidak ada artinya, dia bilang. Itu nama orangnya: John Rambo, bekas tentara AS yang pernah dikirim ke Vietnam. “Platoon” artinya peleton, satu regu. “Untouchables” artinya tidak dapat disuap (nah, untuk yang ini aku terus bertanya, disuap itu artinya diberi makan??). Sesampainya di rumah, aku digendong masuk rumah. Jaketku dibuka, dan aku dicucikan kakiku. Aku juga disuruh pipis dulu. Bajuku diganti dengan baju tidur. Setelah membaca doa, aku tidur pulas.

Obituari: Dr H Goenawan Nambar (1)


1

Innalillahi wa inna illaihi roji’uun. Ayahku meninggal dunia pada 10 April 2012, di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, pada pukul 11.54.

“Urip mung mampir ngombe” – hidup itu cuma mampir untuk minum. Begitu singkat. Namun, kisah hidupnya sedemikian panjang, sehingga tujuh hari pun tidak tuntas untuk berkisah. Sebagian diambil dari penggalan-penggalan kisah yang ditulis enam tahun lalu. Sebagian lagi ditulis beberapa hari lalu.

Kematian itu mengakhiri perjuangannya melawan penyakit stroke yang dideritanya sejak 10 bulan sebelumnya. Stroke itu bukan yang pertama, tapi yang ke-6. Ayahku terkena serangan stroke ringan pertama pada tahun 2000. Jenis stroke-nya adalah penyempitan pembuluh darah di otak. Sebelum meninggal, ibuku sendiri merawatnya di Bondowoso dan Jakarta. Ia juga dibantu oleh keluarga kakakku dan keluarga adikku di sana. Semua berjuang untuk menyembuhkan, tapi Allah berkehendak bahwa usianya hanya 65 tahun. Usia kematian ini lebih tua dibanding usia kematian ayahnya sendiri, yaitu 60. Namun, lebih muda dibanding usia kematian ibunya, 76.

Goenawan lahir di Blitar pada 26 April 1947 dari ayah bernama Nambar Dwidjo Harsono dan ibu bernama Siti Asnah. Dia anak terakhir dari empat bersaudara. Kakak paling tua bernama Prastowo (lahir 1938), kakak kedua bernama Hartati (almarhumah, lahir 1942) dan kakak ketiga bernama Harnowo (lahir 1945). Awalnya, keluarga Nambar hidup di Wlingi sampai beberapa waktu setelah kelahiran anak ketiga. Pak Nambar awalnya bekerja sebagai guru SD, mengajarkan aljabar dan olahraga. Setelah beberapa saat, ia diminta mengajar aljabar di SMP 3 Blitar. Selain mengajar di SMP 3 Blitar, Pak Nambar juga mengajar di sekolah lain untuk mencari tambahan. Kadang-kadang Pak Nambar juga memberikan kursus aljabar bagi guru-guru lain. Konon, Pak Nambar dapat melakukan perkalian tiga digit di luar kepala. Karena kejujuran, ketekunan dan kepandaiannya, Pak Nambar pernah ditawari untuk menjadi Residen Kediri yang membawahi Blitar, Kediri, Nganjuk, Trenggalek dan Tulungagung. Tawaran dari sahabatnya ini ditolaknya dengan halus. Alasannya, ia masih ingin mengajar di SMP. Pak Nambar sering mendorong orang untuk bersekolah setinggi-tingginya. Rumahnya dijadikan rumah kos, tempat orangtua di desa menitipkan anak-anaknya supaya dapat bersekolah di kabupaten. Anak pertamanya ia minta bersekolah di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) agar kelak juga menjadi guru seperti dirinya. Tetapi anaknya menolak, dan ingin melanjutkan ke SMA. Namun karena pada 1960an itu tidak ada SMA di Blitar, maka ia harus pergi ke Malang. Anak keduanya masuk SGO (Sekolah Guru Olahraga), dan meniti karir sebagai atlit anggar nasional pada akhir 1960an. Anak ketiganya masuk Fakultas Ekonomi Unair hingga lulus Sarjana Muda. Beberapa di antara anak yang dulu kos di rumah Pak Nambar, disebutnya Kauman (di belakang Masjid Jami’), adalah Pak Mugiyanto (Ketua Komisaris PT Coca Cola Indonesia).

Goenawan menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada 1960 di Blitar, SMP 1 Blitar pada 1963, dan SMA 1 Blitar 1967 (sekolah libur satu tahun pada 1966 karena pemberantasan PKI di Blitar Selatan). Pada masa SMP dan SMA ini, dia aktif menjadi ketua OSIS dan ketua IPNU (Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama). Setelah lulus SMA, dia berkeinginan untuk melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Surabaya. Dia cukup percaya diri karena meraih ranking 1 paralel di SMA-nya. Tapi sayangnya dia hanya lulus tes tulis; tes fisiknya gagal. Setelah kembali ke Blitar, dia masuk ke Fakultas Pertanian, Universitas Blitar, antara 1967 – 1968. Saat itu, dia sempat menjadi ketua senat mahasiswa Universitas Blitar, sembari memberi les untuk anak-anak SMA. Sempat ada keinginan untuk bekerja sebagai rasa frustrasi tidak diterima di FKU Unair. Namun, kakak pertamanya mengirim surat dari Amerika Serikat. Ia mengingatkan agar Goenawan melanjutkan sekolah apapun. Orang yang sudah kenal uang, biasanya malas bersekolah, demikian isi suratnya. Pada 1968, dia mengikuti lagi ujian masuk perguruan tinggi. Ketika itu ujian dilakukan terpisah-pisah di universitas masing-masing. Karena persiapan yang baik, dia diterima di tiga universitas: Fakultas Kedokteran UGM, Fakultas Kedokteran Unair dan Teknik Kimia ITS. Dia sempat ke Bandung karena ingin mengikuti ujian masuk Teknik Kimia ITB, namun ujiannya bersamaan dengan FKU UGM. Jadi, dia akhirnya pergi ke Yogyakarta. Setelah Dia mendapatkan sarjana muda kedokteran pada 1974 dari Unair, dan menikah dengan Sri Iriani. Pada 1976, ia mendapat gelar dokter sekaligus mendapat anak pertama perempuan.

2

Bioskop, 1955. Di sebuah bioskop di Blitar, sebelum film James Dean diputar, anak-anak kecil bergelantungan di pagar antrian tiket. Mereka bermain. Mereka hendak menonton, tapi ingin gratis. Di tengah desakan nanti, mereka buru-buru menyelinap dan merangsek di kegelapan sinema. Di dalamnya penuh asap rokok, tak ada AC, layar bergurat, suara parau keluar dari speaker abu-abu tua. Tapi anak-anak itu menonton dengan hati ceria: berhasil nonton film Holywood tanpa bayar. Bioskop kala itu bukan “polisi” – mereka tak akan ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Di Blitar yang masih kumuh, bioskop selalu menghadirkan impian kapitalisme dan seni peran. Tapi anak-anak itu tak peduli. Mereka cuma tahu adegan ini: tembak-menembak, baku hantam, ciuman yang kena sensor dan nama aktor.

Di antara anak-anak itu, seorang anak lalu pulang ke rumah. Ayahnya, guru matematika SMP, biasanya menunggunya sambil membaca cerita pendek. Malam ini tak perlu belajar, batinnya. Karena esok adalah hari Minggu. Anak itu lalu pergi ke bilik anak-anak kos di rumahnya itu. Ia lalu bercerita tentang film tadi, sambil action penuh semangat. Holywood-pun menyelinap ke rumahnya, lewat dirinya yang hobi ngobrol dan berkelahi itu. Tapi dia bukan anak nakal; ia selalu juara 1 di kelasnya.

Ladang, 1966. Ia memegang pedang panjang. Tapi ia tak hendak memenggal kepala. Ia hanya berdiri, berjaga, dan melihat darah tumpah di ladang. Sudah banyak kepala yang dilihatnya terpenggal di ladang itu. Ia tak tahu namanya, cuma tahu status: PKI. Ia di sisi “kanan”, oleh karenanya ia aman. Yang “kiri” mesti berlutut, badan tegak, tangan diikat ke belakang, kepala sedikit menunduk. Lalu jrot, kepala menggelinding.

Sekolah libur 1 tahun untuk pembersihan PKI di Blitar selatan.

Surabaya, 1967. Ia lulus tes tulis masuk fakultas kedokteran. Ia senang bukan kepalang. Tapi sayangnya, rasa itu cuma mampir sebentar. Seorang dokter yang memeriksa kesehatannya bilang: katup di jantungnya bocor. Jantungnya ngowos. Oleh karena itu, ia dikategorikan tidak sehat, dan tidak lolos ujian fisik. Ia tak boleh masuk fakultas kedokteran. Ia pun pulang ke Blitar dengan hati gundah. Pedih sekali. Tujuh temannya semua diterima, hanya dia sendiri yang menganggur. Ada yang sampai menangis: nenek sahabatnya yang Tionghoa. Ketika itu ia sadar bahwa sikap empati telah mampu melewati batas pribumi dan non-pribumi. Tanpa reserve.Ia pun putus asa, dan ingin bekerja saja. Putus asa dan harapan sebenarnya punya kesamaan: sama-sama ilusi. Namun, ia ingin mencari uang, ingin bekerja di bengkel. Di sana, uang receh berlimpah. Ia memiliki tiga kakak. Kakak pertamanya mengirim surat, meminta dia tetap sekolah. Sekolah apa saja yang penting sekolah. Alasannya: jika tangah sudah mengenal uang, bangku sekolah serasa haram diduduki. Tak bakal ada keinginan untuk kuliah. Pendidikan adalah bekal untuk mandiri. Ia pun berkuliah di jurusan pertanian, Universitas Blitar. Satu tahun kemudian, yaitu 1968, dia ikut tes kedokteran kembali; dan diterima. Tapi entah bagaimana caranya dapat lolos tes kesehatan … Di sana, tujuh teman lainnya tengah menunggunya di tingkat satu. Karena semua tak naik kelas …

Tahun 1976 ia lulus.

Irian Jaya, 1978. Ia masuk wajib militer karena fasilitasnya cukup menjanjikan daripada menjalani PTT di pedesaan. Namun ia harus dikirim ke DOM dulu. DOM adalah daerah operasi militer. Kala itu, mungkin ada tiga DOM di Indonesia: Irian Jaya, Timor Tumur dan Aceh. Ia dikirim ke Irian Jaya, dan berada di barak medik. Statusnya baru: dokter tentara. Satu tahun lamanya ia berada di daerah operasi militer di Jayapura. Kadang masuk hutan untuk berburu kasuari. Ia lahap dengan kasuari meski dagingnya alot, katanya.

Bondowoso, 1980. Tahun 1980 ia ditempatkan di Batalyon 514 Bondowoso. Namun pada 1982, ia mengundurkan diri. Pada 1985 ia menjadi kepala rumah sakit daerah di Bondowoso. Ketika ditanya kenapa keluar dari dinas ketentaraan, dia menjawab: bosan dengan protokoler dan formalitas militer, karir juga mentok karena dia bukan lulusan Akabri. Ia juga ingin jadi orang sipil. Ia lalu mulai hidup bersama istri dan tiga anaknya di sana. Ia tak bisa berbahasa Madura yang jadi bahasa daerah di situ. Jadi ketika mendapat pasien yang hanya bisa berbahasa Madura, ia selalu memanggil pembantunya untuk menerjemahkan. Namun, kini ia lancar berbahasa Madura. Ia pun sering melucu dengan bahasa Madura.

Jember, 1997. Ia pernah bertanya: bagaimana caranya mengetahui bahwa seseorang akan dipanggil tuhan? Pasti ada cara, begitu kata pikiran pragmatisnya. Hanya tuhan yang tahu. Tapi tuhan pasti memberi tanda. Tanda ini yang mungkin kita bisa tahu. Kalau bukan tanda, mungkin gejala. Tak perlu lewat indera, tapi lewat batin. Dia membaca banyak buku, lalu bertanya sana-sini. Apa yang membuatnya begitu? Tahun itu ia menyaksikan nafas terakhir ibunya. Genggaman ibunya perlahan melemah di tangannya, setelah sebelumnya mata ibunya sempat terbelalak, seperti melihat sosok malaikat maut. Tapi nafasnya lepas dengan tenang. Ibunya melihat sosok yang tak mampu ia lihat. Ia ikhlaskan ibunya.

Jakarta, 2003. Ia sering ke Jakarta. Mungkin setiap bulan. Alasannya jelas: menengok cucu. Ia mendapat kesenangan baru di hari tuanya. Bermain-main dengan cucu membuatnya memiliki semangat hidup. Anak-anaknya mencintainya karena dia pribadi yang hangat, pintar, kocak dan membebaskan. Inginkah ia anak-anaknya menjadi dokter? Keinginan selalu ada, tapi ia tak memaksakan. Sekolah dokter itu lama, orang akan bosan, kemudian menyesal. Pekerjaan begitu sulit, dokter sudah banyak.

Bondowoso, 2004. Setelah pensiun dari RSUD Tuban, Ponorogo dan Lumajang, ia akhirnya kembali ke Bondowoso. Baginya, Bondowoso adalah kota yang dicintainya. Semua-mua dibandingkan dengan Bondowoso. Misal: “Oh kota ini sepi ya. Mirip Bondowoso kalau gitu.” Selama beberapa tahun ia tetap bekerja di RSUD Bondowoso, di bagian rehabilitasi medik. Namun ia berhenti dari sana karena lelah juga rasanya. Setiap sore hingga malam ia masih buka praktek umum untuk pasien-pasien langganannya. Ia masih aktif memberi kuliah subuh di masjid At Taqwa, biasanya di hari Minggu; tentunya mengenai hubungan antara kesehatan dan agama. Ia masih suka menonton film; tapi tak lagi bergelantungan dan menyelinap di kegelapan sinema; sekarang tubuhnya tak lagi gesit. Holywood masih mampir di kota kecil itu. Lewat DVD.

Bondowoso, 2011. Aku pulang ke Bondowoso karena tribencana di Jepang. Tapi, mungkin itu ‘blessing in disguise’ – hikmah di balik kesusahan. Aku akhirnya bisa bertemu ayahku yang kala itu gagal menyiasati sakitnya sendiri. Itu stroke-nya yang ke-6. Stroke yang pertama hingga ke-5 selalu berhasil dia siasati, begitu kira-kira. Sejak stroke ke-6 itu, yang berawal pada Januari atau Februari 2011, ia tak pernah benar-benar pulih. Tapi pada bulan Maret, ketika aku pulang, ia masih dapat menulis resep untuk dirinya sendiri. Resep itu kemudian aku bawa ke apotik untuk membeli obat. Herannya, dengan tulisan semacam itu, apoteker masih mampu men-decode tulisannya! Benar-benar dunia yang aku tidak mengerti kode-kodenya …

Meski Bondowoso adalah kota yang dicintainya, tapi Jakarta punya fasilitas yang lebih baik dalam hal kesehatan dan perawatan. Jadi, ia harus pindah ke Jakarta atas saran adikku. Di Jakarta pula, ia nampak lebih ceria karena semua cucunya di sana. Dan, di Jakarta pula, ia harus menghembuskan nafas terakhirnya.

Untuk ayahku. (26 April 1947 – 10 April 2012)