Kecelakaan Pesawat MA-60 (1)


Pada 7 Mei 2011, pesawat MA-60 buatan Xi’an Aircraft Industrial Corporation (China) terbang dari Sorong menuju Kaimana, Papua Barat. Pesawat yang dioperasikan Merpati Nusantara dengan nomor penerbangan MZ8968 ini membawa total 25 penumpang (2 pilot, 2 pramugari, 2 teknisi, 16 penumpang dewasa, 1 anak dan 2 bayi). Pesawat lepas landas pada pukul 12:50, dan mengudara di ketinggian sekitar 15500 kaki.

Pesawat MA-60 buatan China dioperasikan Merpati Nusantara sejak 2010

Pada pukul 13:25, pesawat MZ8968 berkomunikasi dengan petugas Kaimana AFIS (Aerodrome Flight Information Service). Petugas mengatakan bahwa cuaca di Kaimana hujan, sehingga jarak pandangnya hanya 3 sampai 8 km. Awan sebagian berbentuk cumulonimbus dengan ketinggian dasar awan 1500 kaki. Angin berhembus dari barat daya dengan kecepatan 3 mil/jam, dan suhu di darat adalah 29 derajat Celcius.

Karena bandara Kaimana tidak dilengkapi prosedur pendaratan menggunakan instrument, maka pendaratan harus berpedoman kepada Visual Flight Rule (aturan terbang visual). VFR menyatakan bahwa jarak pandang yang baik ialah 5 km, dan VFR minimum ceiling adalah 1000 kaki.

Kaimana airstrip di Papua Barat

Kaimana airstrip dilihat dari cockpit

Pada pukul 13:42, pesawat MZ8968 turun dan mendekati bandara. Ia berjarak 7 mil dari Bandara Kaimana, dan melewati ketinggian 8000 kaki. Bandara Kaimana masih hujan, sehingga pesawat memutuskan terbang ke selatan bandara. Tiga menit kemudian, pesawat mengatakan ia berada 15 mil di selatan bandara pada ketinggian 5000 kaki. Pesawat masih menunggu cuaca membaik. Namun, bandara masih hujan, jarak pandang hanya 2 km saat itu.

Pukul 13:50, AFIS kehilangan kontak dengan pesawat…

Pesawat MZ8968 itu jatuh di laut, kira-kira 800 meter arah tenggara ujung Landasan 01 (500 meter dari pantai). Ketika diangkat dari laut, pesawat dalam keadaan hancur, dan 25 penumpang dinyatakan tewas. Evakuasi jenazah tuntas pada 11 Mei. Sebelumnya, dua kotak hitam (black box) yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) dapat diangkat dari laut masing-masing pada 9 Mei dan 10 Mei.

Salut kepada tim gabungan BASARNAS, Polisi, TNI, masyarakat Kaimana dam CII (Conservation International Indonesia) Kaimana.

***

Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) bekerja keras menyelidiki peristiwa nahas ini.

Sebelas hari kemudian, pada 18 Mei, dengan cepat KNKT merilis surat resmi pertama yang berisi ulasan singkat tentang kecelakaan. Surat ini berjudul Laporan Awal Kecelakaan Pesawat Udara (Nomor: KNKT/001/9/V/REK.KU/2011). Yang terpenting, surat ini berisi rekomendasi kepada tiga pihak, yaitu PT Merpati Nusantara, Dirjen Perhubungan Udara dan Dirjen Perhubungan Udara (Direktorat Bandara).

“Rekomendasi Segera” kepada:

PT Merpati Nusantara Airlines: “Menjamin pelaksanaan penerbangan visual untuk dilaksanakan sesuai dengan ketentuan VFR, dan melaksanakan pelatihan terhadap Crew MA-60 di simulator dengan penekanan materi pada CRM dalam menghadapi cuaca buruk”

Dirjen Perhubungan Udara: “Memonitor pelaksanaan rekomendasi segera pada butir A di atas, untuk dilaksanakan dengan seksama oleh jajaran operasi PT Merpati Nusantara Airlines”.

Direktorat Bandara: “Mereview ketentuan penggunaan fasilitas/perlengkapan bandara terutama lampu landasan untuk dapat meningkatkan keselamatan operasi penerbangan terutama pada saat jarak pandang terbatas”.

Anda dapat membaca surat resmi ini di website Dephub. Link:

http://www.dephub.go.id/knkt/ntsc_aviation/Recommendations/KNKT_001_9_V_REK.KU_11.pdf

***

Ada beberapa kejanggalan dalam laporan tersebut.

Kejanggalan #1

Pada halaman 3, ditulis:

Untuk investigasi, FDR dibaca oleh Investigator KNKT di fasilitas pembuat FDR di China. Dari pembacaan FDR diharapkandapat diperoleh data mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan kecepatan pesawat, arah, sikap/posisi, ketinggian, daya mesin, kedudukan bidang-bidang kemudi, percepatan/perlambatan dan lain-lain.Sedangkan pembacaan CVR (buatan Honeywell) telah dilaksanakan di laboratorium KNKT di Jakarta dan diperoleh rekaman pembicaraan berdurasi 2 jam berisi suara yang terekam dari ruang kemudi dengan kualitas baik.

 Jadi, hanya CVR yang sudah dibaca; sedangkan KNKT masih mengharapkan (menunggu?) hasil pembacaan FDR. Padahal, di bagian bawahnya ditulis:

Pada investigasi data FDR dan CVR tidak terdeteksi adanya kelainan fungsi-fungsi sistem pesawat udara.

 Kejanggalan #2

 … Fasilitas/perlengkapan bandara terutama lampu landasan yang disediakan oleh salah satu operator penerbangan dan dipergunakan khusus untuk operator tersebut.

Apakah ini berarti jika lampu landasan untuk memandu pendaratan di bandara dipasang oleh maskapai lain (selain Merpati) lampu tidak akan dinyalakan untuk Merpati?

Selamat bekerja Tim KNKT!

***

Video

MA-60 Accidents in Indonesia

Three accidents involving China-made Merpati Nusantara Airlines MA60 airplanes have happened since 2010. Below is the list of those accidents based on tempointeraktif.com data:

July 14, 2010

A Merpati MA 60 airplane was scheduled to fly from Selaparang, Mataram to Denpasar, but it was canceled due to short circuit in the cabin.  No casualties.

Feb. 19, 2011

A Merpati MA 60 aircraft skidded off the runway at El Tari Kupang airport. All passengers and crew members survived the incident.

May 7, 2011

A Merpati MA 60 airplane crashed off the sea near Kaimana airport, West Papua.

Thanks to Mukhlason for the prudent reading.

Fudai


Cerita tentang gelombang tsunami (gelombang pelabuhan) barangkali tidak ada habisnya. Tsunami tidak hanya ditakuti di Jepang (tempat asal kata ini) tapi juga seluruh dunia. Gelombang tsunami bisa mencapai tinggi 30 meter, dan efeknya luar biasa: musnahnya manusia dalam sekejap.

Pada 11 Maret lalu, beberapa jam setelah gempa besar 9.0 magnitude, saya menyalakan televisi NHK. Saya melihat gelombang tsunami menyapu rumah-rumah. Pada saat itu juga saya berandai-andai: Kalau saja seluruh pantai timur Jepang mempunyai pelindung raksasa …

Pelindung ini dapat berupa dinding beton yang tinggi, dan dapat dinaikkan setidaknya 15 meter. Dalam hitungan menit pula, dinding harus melindungi kota dari tsunami. Dengan pelindung ini, mungkin ribuan nyawa dapat diselamatkan.

Ah seandainya …

Tapi minggu lalu saya harus mengakui satu hal: Jepang memang visioner dalam teknologi!

Dinding beton itu ternyata bukan angan-angan belaka. Ia sudah pernah dibangun di Jepang pada akhir 60an. Dinding ini dibangun dengan alasan yang sederhana: “tsunami pasti terjadi lagi”. Tsunami selalu datang mengikuti gempa besar, dan ia di luar kendali manusia. Manusia hanya dapat berlindung atau lari saja.

Dua gempa besar yang paling dahsyat dalam sejarah Jepang adalah Gempa Meiji-Sanriku dan Gempa Sanriku. Kedua gempa ini  terjadi di wilayah Iwate. Wilayah ini merupakan epicenter gempa pada 11 Maret lalu.

Gempa Meiji-Sanriku yang berkekuatan 7.8 magnitude terjadi pada 15 Juni 1896. Gempa ini menyebabkan gelombang tsunami setinggi 38.2 meter. Tsunami yang terbentuk lalu menghancurkan 9,000 rumah, dan merenggut 22,066 nyawa.

Pada 2 Maret 1933, gempa terulang di wilayah yang sama. Gempa Sanriku berkekuatan 8.4 magnitude memicu gelombang tsunami setinggi 28.7 meter. Tujuh ribu rumah hancur. Yang meninggal lebih sedikit sebenarnya: ‘hanya’ 1552 orang. Namun itu belum termasuk 1,542 orang yang dinyatakan hilang, dan 12,053 yang cedera. Kota kecil bernama Tarou (sekarang bagian dari Miyako City) kehilangan 42% penduduknya.

Seseorang yang pernah menulis tentang Gempa Sanriku 1933 adalah Kotaku Wamura. Dalam buku berjudul “40 Tahun Melawan Kemiskinan”, Wamura yang berasal dari desa Fudai menulis:

Tatlaka aku melihat mayat digali dari tumpukan tanah, aku tak tahu harus berkata apa. Aku kehabisan kata-kata.

Dua tsunami pada 1896 dan 1933 itu telah merenggut 439 penduduk desanya. Itulah sebabnya mengapa tsunami merupakan keniscayaan bagi Wamura.

Setelah Perang Dunia II usai, Wamura menjadi kepala desa di Fudai. Seperti yang ditulis oleh Tomoko A. Hosaka (Associated Press), ketika pertama kali menjadi kepada desa, Wamura memulai dua proyek besar.

Pertama, ia membangun dam laut (sea wall) setinggi 15.5 meter di belakang pelabuhan nelayan pada 1967. Kedua, yaitu pada 1972, ia membangun lagi satu dam raksasa. Dam ini memiliki dua fungsi: mengalirkan air dari sungai ke teluk kecil, dan melindungi penduduk dari tsunami.

Kala itu, uang relatif mudah didapat karena pemerintah Jepang mengucurkan dana untuk pembangunan kota-kota kecil. Untuk menutupi kekurangannya, Wamura mengumpulkan uang dari penduduk desa dan wilayah di Iwate lainnya.

Penduduk yang memiliki tanah di pantai dipaksa menjual tanahnya. Wamura dengan cepat meratakan tanah-tanah pantai. Tentu sebagian penduduk merasa marah karena tanah-tanahnya dibeli paksa. Sebagian dari mereka malah menentang mega-proyek itu. Pada 1970an, dam sepanjang 205 meter itu dianggap terlalu besar. Lagipula, pembangunannya juga menghabiskan dana lebih dari Rp. 260 milyar.

Jika dibandingkan dengan dinding pelindung di daerah Tarou, dam di Fudai lebih tinggi. Di Tarou, dindingnya hanya setinggi 10 meter. Namun dinding di Tarou itu terbentang sejauh 2500 kilometer sepanjang teluk.

Mereka yang menentang proyek Wamura sebenarnya hanya menentang ukurannya saja, bukan fungsinya. Namun demikian, Wamura selalu berhasil meyakinkan penduduk bahwa dam itu untuk melindungi mereka karena tsunami pasti terjadi lagi.

Proyek dam raksasa pun tetap berjalan, dan selesai pada 1984. Tiga tahun kemudian, Wamura pensiun sebagai kepala desa setelah 10 kali dipilih. Desa Fudai kini siap ‘menyambut’ tsunami.

Dua puluh tujuh tahun setelah dam dibangun, yaitu 11 Maret 2011, gempa berkekuatan 9.0 magnitude terjadi di Iwate. Dalam tiga menit, informasi tsunami tersebar ke penjuru negeri, termasuk ke desa Fudai. Petugas segera menutup empat pintu dam. Satu pintu sempat macet, tidak bisa ditutup secara otomatis. Seorang petugas turun ke dam, dan menutupnya secara manual.

Gelombang tsunami pun datang beberapa menit kemudian. Desa Fudai dihantam gelombang setinggi 20 meter. Pantai Fudai yang indah di depan dam kini musnah. Tapi 3078 orang penduduk Fudai yang tinggal di balik dam itu bersih, tak tersentuh. Penduduk kemudian teringat Wamura yang meninggal pada 1997.

Visi dan kegigihan Wamura empat puluh tahun silam telah menyelamatkan nyawa mereka dari tsunami. Pusaranya sering dikunjungi penduduk Fudai untuk mengucapkan terima kasih. Ketika semua penduduk pantai timur Jepang, khususnya Iwate, Miyagi dan Fukushima, tersapu tsunami, penduduk Fudai tetap beraktivitas secara normal.

Ekonomi Jepang (1)


Ditulis 22 Feb 2011

Selama lebih dari empat dekade, Jepang menjadi runner-up Produk Domestik Bruto (GDP) terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat. Tapi tidak untuk tahun 2010. China kini menggantikan Jepang dengan GDP sebesar $5.88 bilyun. Pada 2009, GDP China mencapai $4.98 bilyun. Ini berarti kenaikan GDP China mencapai Sebenarnya GDP Jepang juga naik, namun kenaikannya hanya 8% (dari $5.09 bilyun pada 2009 menjadi $5.47 bilyun pada 2010). China menang tipis.

‘Kemenangan’ China dalam GDP ini lebih khususnya disebabkan kenaikan ekonominya pada kwartal kedua (Maret – Juni). Ditambah lagi, ekonomi Jepang yang menciut 1.1% antara bulan Oktober dan Desember 2010. Dua sebab inilah yang agaknya mendongkrak GDP China pada 2010, dan membuat ranking Jepang merosot menjadi nomor 3.

Merosotnya ekonomi Jepang ini sebenarnya sudah dirasakan sejak pertengahan 80an. Namun, meskipun begitu, Jepang masih terus bertahan di posisi dua setelah Amerika. Kemerosotan tahun lalu benar-benar membuat Jepang harus berhati-hati.

Apakah yang terjadi di Jepang tahun lalu?

GDP dapat dihitung dari beberapa aspek, yaitu kemampuan belanja penduduk, investasi, kemampuan belanja pemerintah dan perbedaan (net) ekspor dan impor.

Tahun lalu Jepang mengalami tantangan dalam banyak aspek itu. Tantangan ini juga diperburuk dengan masalah politik dalam negeri yang kurang stabil.

Ketika Yukio Hatoyama yang berasal dari Partai Demokratik Jepang (DPJ) menjadi Perdana Menteri Jepang pada September 2009, penduduk Jepang memiliki harapan besar. Budaya buruk dari rezim sebelumnya, yaitu di bawah Partai Liberal Demokratik (LDP), diharapkan hilang. Harapan rakyat Jepang ini wajar karena Hatoyama memberikan janji politik yang pro-rakyat selama kampanye.

Janji-janji itu, di antaranya, adalah pemindahan pangkalan militer Amerika dari Okinawa. Selain itu pemerintah akan berinvestasi dalam dunia penelitian dan pendidikan. Subsidi anak akan dinaikkan jadi lima kali lipat (dari 5,000 yen menjadi 26,000 yen; 1 yen = Rp 106).  Jepang juga akan mempersiapkan diri menghadapi globalisasi. Bantuan lebih banyak akan diberikan kepada penduduk miskin.

Memang, beberapa janji sudah ditepati Hatoyama, yaitu kenaikan subsidi anak. Namun kenaikannya hanya mencapai 13,000 yen, karena Jepang sendiri sedang krisis. Sedangkan janji-janji lain belumlah terlaksana.

Hatoyama juga pernah terlibat skandal keuangan, yaitu terlambat melaporkan pajak pribadi yang besarnya hampir 500 juta yen. Yang paling kritis: Hatoyama sebenarnya tidak memiliki rencana apapun tentang pangkalan militer di Okinawa! Isu pangkalan militer Amerika ini memang masalah pelik karena Jepang akan mengalami dilema politik. Jepang dihadapkan pada dua pilihan: jika AS hengkang dari Okinawa maka Korea Utara boleh jadi menyerang jepang; tapi jika AS tetap di Okinawa, penduduk setempat merasa terganggu dengan pangkalan-pangkalan itu & Jepang belum ‘merdeka’. Oleh karena itu, pangkalan Amerika masih tetap berada di Okinawa hingga hari ini.

Catatan: di Asia Tenggara, pangkalan militer AS ada di Singapura, Filipina dan lainnya. Indonesia tidak bersedia ditempati AS.

Masalah politik ini agaknya membuat penduduk Jepang putus asa dengan masa depannya sendiri.

Tak lama kemudian, pergantian perdana menteri pun terjadi. Pada 2 Juni 2010, Hatoyama mengundurkan diri. Ia digantikan Naoto Kan yang ketika itu menjabat Menteri Keuangan.

Kan melihat bahwa ekonomi Jepang memang ‘sakit’: kebijakan ekonomi yang pro-rakyat di era Hatoyama membuat utang Jepang mencapai paras 137% dari GDP. Kan berencana memotong anggaran yang tidak perlu agar utang Jepang menurun. Misalnya, kenaikan subsidi anak menjadi 26,000 yen dibatalkannya. Di satu sisi, ini memang menguntungkan ekonomi. Namun, ia membuat penduduk Jepang kecewa. Hari ini, subsidi anak hanya akan diberikan hingga bulan Oktober saja, dan besarnya 13,000 yen per bulan untuk satu anak. Alasannya: membantu korban tsunami dan krisis nuklir di Fukushima.

Subsidi pemerintah Jepang untuk pembelian mobil tidak akan dilanjutkan pada 2010. Ini membuat penduduk Jepang tidak menukar mobil butut mereka dengan mobil yang terbaru. Secara nasional, kemampuan belanja masyarakat Jepang untuk barang mewah juga menurun.

Selain itu, pada 1 Oktober 2010, pemerintah Jepang menaikkan harga rokok hingga 140 yen. Akibatnya jelas: pembelian rokok menurun drastis dan pendapatan pajak rokok juga turun.

Perusahaan mobil terbesar Jepang (bahkan dunia), yaitu Toyota, mengalami kerugian jutaan yen karena harus me-recall mobil-mobilnya dari Amerika tahun lalu. Kondisi ini membuat Toyota tidak mampu menyerap tenaga kerja sebanyak dulu.

Kondisi ekonomi dalam negeri ini juga diperburuk dengan menguatnya nilai yen terhadap dolar Amerika. Satu dolar Amerika mencapai 82.98 yen pada 15 September 2010. Akibatnya pendapatan perusahaan Jepang dari ekspor menurun dengan banyaknya. Bahkan pada 5 Mei lalu, $1 berada di bawah 80 yen.

Untuk masalah tenaga kerja, karena pabrik Jepang sebagian dipindah ke negara-negara yang ongkos buruhnya rendah maka  perusahaan Jepang tidak dapat menyerap tenaga kerja lagi. Sedikitnya 20% lulusan universitas Jepang tidak mendapat pekerjaan tahun ini. Ini pula yang membuat kemampuan belanja di dalam negeri juga turun.

Kembali ke masalah GDP, memang GDP tidak mencerminkan kesejahteraan penduduk. GDP per kapita penduduk Jepang masih 10 kali lebih tinggi dari China. Perbedaan pendapatan di Jepang juga kecil sehingga secara sosial orang Jepang tidak bergejolak. Agaknya, ini juga alasan mengapa Sekretaris Kabinet Yukio Edano menyatakan bahwa Jepang menyambut pertumbuhan China yang sudah mengalahkan Jepang.

Di balik itu, Jepang masih percaya diri bahwa penduduknya masih lebih sejahtera, dan kesejahteraan ini relatif merata. Jepang juga tengah menyiapkan beberapa langkah untuk membantu ekonominya, yaitu dengan menjalin perdagangan bebas dengan India. Pada September 2011, kerjasama Jepang-India akan diresmikan.

Agaknya Jepang memang masih ingin kembali menjadi nomor dua. Untuk menjadi nomor satu agaknya sulit dan mungkin memerlukan waktu beberapa dekade: GDP Amerika masih tiga kali lipat dari Jepang dan China.

Japan Inc.


Akhir-akhir ini warga Jepang di belahan lain dunia dirundung malang.

Di Selandia Baru, gempa 6.3 skala Richter pada 22 Februari 2011 ‘melenyapkan’ 27 siswa Jepang di reruntuhan bangunan CTV King ‘s Education. Di sekolah itu, banyak siswa Jepang belajar bahasa Inggris.

Di Afrika Utara, tepatnya Mesir dan Libya, revolusi politik membuat warga Jepang melarikan diri dari kedua negara itu. Sekitar 200 orang (dari 1.600 penduduk Jepang di Mesir) keluar dari Kahirah dan puluhan warga Jepang keluar dari Libya.

Di Jepang sendiri, ‘Jepang Inc’ (sebutan media Barat untuk Jepang) terancam ‘tutup’ (shut down) pada Juni 2011. Ketika itu semua kantor pemerintah tutup. Harga makanan juga diperkirakan naik. Tutupnya Japan, Inc. ini terjadi jika anggaran 44 triliun yen dari 92.4 triliun yen yang diusulkan Perdana Menteri Naoto Kan yang seharusnya diluncurkan Maret ini tidak disetujui oleh dewan tinggi parlemen.

Berbeda dari negara-negara lain yang memulai tahun fiskalnya pada Desember, lembaran Jepang dimulai pada April. Oleh karena itu, pada Maret ini pemerintah Jepang harus mengusulkan anggaran yang akan dipakai antara April 2011 dan Maret 2012.

Dari 92.4 triliun yen usulan PM Kan, sebagian akan digunakan untuk perawatan sosial (31.1 persen), biaya utang (23.3 persen), keringanan pajak perusahaan (18.2 persen), pendidikan (6 persen), pembangunan fasilitas publik (5.4 persen) dan pertahanan ( 5.2 persen). Sisa 22.5 triliun yen akan digunakan sebagai cadangan. Secara sekilas, usulan anggaran ini memang demi kesejahteraan penduduk Jepang.

Bajet perawatan sosial sebesar 31.1 persen memang cukup besar. Sepuluh tahun lalu, perawatan sosial hanya membentuk 19.7 persen dari seluruh anggaran.

Strategi baru dari PM Kan adalah pemotongan pajak untuk perusahaan watan agar ekonomi Jepang meningkat. Namun, di sisi lain pajak penghasilan akan dinaikkan.

Usulan anggaran, terutama anggaran yang terkait dengan subsidi anak, biaya pensiun, pemotongan pajak perusahaan dan gaji karyawan pemerintah, agaknya sulit menembus parlemen.

Apa penyebabnya?

(1) Faktor eksternal Partai Demokratik Jepang (DPJ).

Dalam perdebatan di parlemen dua minggu lalu, mayoritas anggota Dewan Tinggi tidak mendukung usul anggaran Kan. Dewan Tinggi dikuasai oposisi Partai Demokrat Liberal (LDP) dan Komeito Baru.

(2) Faktor internal DPJ

Perpecahan terjadi di dalam DPJ. Seorang anggota parlemen DPJ secara mendadak mengundurkan diri dan 16 nggota lainnya mengancam akan mundur juga.  Mereka merasa bahwa Kan tidak adil terhadap Ichiro Ozawa, bekas Sekretaris Jenderal yang menjadi arsitek kemenangan DPJ pada pemilu yang lalu. Kejadian itu karena Kan membekukan sementara status keanggotaan Ozawa dalam DPJ. Rendahnya dukungan dari internal parlemen sendirilah yang akan membuat Jepang mengalami krisis bulan Juni nanti.

Namun, Kan bisa mengambil beberapa strategi untuk menghindari krisis. Misalnya, mengubah usul anggaran (yang berarti merubah manifesto DPJ), membuat koalisi dengan Komeito Baru agar usulannya direstui Dewan Tinggi atau memperoleh dukungan 67 persen anggota di Dewan Rendah.

Strategi yang mungkin bagus untuk Kan adalah toleransi politik dengan partai oposisi. Kan harus segera melakukan pertemuan tidak resmi dengan LDP dan Komeito di luar parlemen. Tujuannya untuk mengubah usulan anggaran agar ia juga menampung usulan LDP dan Komeito.

LDP sebenarnya juga prorakyat (membela rakyat). Hanya saja ia menolak usul kenaikan pajak penghasilan. Selain itu, LDP juga ingin produksi – misalnya kenaikan subsidi anak di bawah usia tiga tahun dari 13.000 yen menjadi 20,000 yen sebulan itu – dihapus.

Meskipun krisis dapat dihindari, dukungan DPJ kepada Kan sebagai perdana menteri mungkin menurun. Ini disebabkan kubu Ozawa dan bekas perdana menteri Yukio Hatoyama masih cukup kuat di dalam DPJ.

Penggantian perdana menteri ini bisa terjadi pada 2011 jika Kan kurang berhati-hati. Selain itu, dukungan penduduk Jepang ke Kan memang sudah di level 21 persen. Penyebab turunnya dukungan ini karena Kan tidak mengeluarkan Ozawa dari DPJ. Popularitas Kan masih ‘aman’ oleh kebijakan prorakyat yaitu memberikan subsidi kepada penduduk Jepang. Jadi, jika Kan salah memilih strategi politik, maka ada dua kemungkinan bisa terjadi:

Pertama, Jepang mengalami shut down pada Juni 2011, atau kedua, parlemen (khususnya DPJ) meminta Kan mengundurkan diri dan menggantinya dengan anggota DPJ lain. Menteri Luar Negeri Seiji Maehara agaknya menjadi calon kuat dari DPJ.

Jika Jepang mengalami shut down, berarti kondisi serupa dilalui Amerika Serikat pada akhir 1995 sampai awal 1996. Di era pemerintahan Bill Clinton itu, usul anggaran dibantah Kongres yang dikuasai Partai Republik. Akibatnya, 368 layanan publik di Amerika seperti taman, museum dan monumen ditutup. Layanan imigrasi juga tutup dan gaji pegawai pemerintah tidak dibayar. Ini menyebabkan bisnis di Amerika dilanda kerugian miliaran dolar. Pada akhirnya, penduduk Amerika memang tidak menyalahkan rezim Clinton, melainkan kongres Amerika. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Rakyat juga yang menderita.

Agaknya memang ada benarnya ajaran guru saya dulu: ilmuwan masih bisa salah (dalam hal data atau kesimpulan), namun politisi jangan sekali-kali salah karena yang terpengaruh adalah rakyat.

Obituari: Affandi Abdul Rahman


Matsushita san, bekas insinyur sipil yang pernah membangun dam di Wlingi – Blitar pada 1977, memperlihatkan sebuah foto orkestra. Di foto itu, dia menunjuk seorang pemuda yang tengah memegang cello di antara puluhan musisi klasik yang berjajar rapi. Itu anak lelakinya. Dia bangga bahwa anaknya bermain musik secara profesional (meski agaknya ia terselip di antara kerumunan yang akhirnya membuatnya jadi anonim).

Namun satu hal: di  Jepang, musik adalah profesi yang serius.

Musik tak hanya soal bermain instrumen atau menulis lagu indah. Musik melahirkan sikap menghargai nada, irama, syair, suasana dan aliran. Aspek-aspek itu tidak hanya lahir, tetapi juga berkembang. Oleh karena itu, sekolah musik di Jepang (seperti di kawasan Kunitachi) bukan hanya bisnis biasa: ia industri yang membentuk manusia.

Seorang guru musik terkenal di Jepang adalah Shin-ichi Suzuki (1898 – 1998). Ia pemain biola terkemuka yang metodenya pernah menimbulkan kontroversi: Metode Suzuki. Metode ini berpandangan bahwa kreativitas dalam bermusik harus dibina sejak belia dalam lingkungan yang penuh dengan musik. Telinga anak harus dibiarkan menyerap musik setiap hari. Metode Suzuki kini populer tidak hanya di Jepang saja, tapi juga negara-negara lain.

Seorang yang cukup berkesan dalam membicarakan musik pernah saya jumpai di Singapura. Beliau adalah mantan pemain band Melayu 1960-an: Affandi Abdul Rahman. Saya kenal dengan Pak Fandi karena beliau adalah ayah dari seorang kawan, yang kamarnya saya sewa di bilangan Cashew Road, Bukit Panjang. Pak Fandi adalah bekas penggebuk drum grup The Swallows.  Beliau meninggal pada 27 April lalu di usia 71 tahun. Beberapa hari sebelumnya, dia terkena stroke yang menimbulkan pendarahan otak (sepertinya stroke hemorrhagic).

The Swallows, Affandi posisi duduk (kiri), Affandi 2010 (kanan)

The Swallows Live in Munich

Bagi generasi 1960-an di Singapura, nama almarhum cukup populer. Pada dekade itu, musik yang populer di Singapura adalah Pop Yeh Yeh, sebuah aliran musik yang dipengaruhi musik pop Amerika Serikat. Band dari generasi Pop Yeh Yeh kadang-kadang disebut garage band.

Karena saya menyukai musik, saya pun ngobrol dengannya tentang perkembangan musik 1960-an dan musik di Singapura. Dari ngobrol itulah saya merasakan satu hal: beliau orang yang halus budinya.

Kata-kata Shin-ichi Suzuki memang ada benarnya:

Musik membentuk warga yang baik

Untuk mencapainya, seseorang harus mendengar musik sejak dini, belajar memainkan alat musik sendiri (secara otodidak), sehingga ia mampu mengembangkan kepekaan, disiplin dan ketahanan. Pada akhirnya, seseorang mendapatkan jiwa nan indah.

Almarhum, yang saya biasa panggil ‘Bapak’, mempelajari musik, khususnya drum, sejak kecil. Karena ayahnya sangat disiplin terutama dalam hal agama, Bapak hanya diperbolehkan main musik setelah mengaji. Jika mengaji belum selesai Bapak tidak akan belajar drum. Jadi, pesan pertama dari beliau adalah agama harus diutamakan dan mendahului kesenangan pribadi lainnya, seperti musik.

Pesan kedua beliau adalah dalam bermusik kita tidak boleh setengah hati. Ini berarti bahwa dalam bermain instrumen kita tidak dapat mengerjakannya kapan-kapan sesuka hati. Bermusik berarti mempelajari instrumen secara individu setiap hari. Sekali lagi: setiap hari! Musik mirip bahasa. Jika kita tidak berlatih setiap hari kita tidak akan kompeten.

Hal ketiga adalah kritik terhadap generasi Melayu hari ini. Dikatakannya, meskipun kita melihat banyak pemuda Melayu di Singapura bermain musik, mereka umumnya punya kelemahan – tidak pandai membaca skor musik (partitur). Beliau menambahkan bahwa musik yang baik tidak akan ditampilkan oleh para pemain band yang bermain musik dengan hanya mendengar (lalu dihafalkan). Ini karena musik yang baik biasanya dimulai dari disiplin membaca partitur bersama-sama, dan berimprovisasi dari partitur itu berdasarkan kreativitas. Intinya: sebuah grup yang baik harus mempelajari partitur sebagai acuan.

Hal keempat adalah bermusik berarti menciptakan karya musik, tidak hanya memainkan musik orang lain. Pada mulanya, orang bisa saja berlatih memainkan musik orang lain, tetapi bukan itu tujuan dari bermusik. Bermusik berarti menciptakan karya besar.

Pernah suatu hari, karena saya tahu bahwa Bapak berasal dari Pulau Bawean (atau Boyan), saya mengajaknya berbicara dalam bahasa Madura (yang saya rasa agak mirip). Ketika ngobrol, ternyata ada banyak perbedaan antara bahasa Bawean dengan bahasa Madura. Namun, saya dapat mengerti kalimat-kalimatnya. Selain fasih berbahasa Inggris dan Melayu, Bapak tidak lupa bahwa beliau berasal dari Bawean, dan terus mengingat bahasanya. Meskipun akhirnya beliau mengakui bahwa bahasa Baweannya kini jauh dari sempurna, beliau pernah mengarang lagu berbahasa Bawean saat bersama The Swallows. Judulnya Angkok-Angkok Bilis (Injit Injit Semut) dan La Obe, yang dinyanyikan Kassim Selamat. Dua lagu ini diciptakannya bersama musisi lain, Yusof Rahmat. The Swallows merilis lagu itu agar band ini nampak berbeda dari band lain.

Demikian empat hal tentang musik yang saya ingat dari almarhum. Singapura, khususnya warga Melayu, telah kehilangan seorang perintis musik semasa Pop Yeh Yeh 1960-an. Mudah-mudahan arwahnya diterima Allah SWT dan keluarga beserta anak-anaknya mendapat rahmat Ilahi. Terima kasih, Bapak.

Sakurai & Kanno


Tahun 2011 merupakan tahun yang penuh cobaan bagi Jepang: krisis kepemimpinan, gempa yang memicu tsunami, ledakan reaktor nuklir dan ekonomi yang merosot.

Namun, di balik itu, dua warga Jepang masuk ke dalam The 2011 Times 100 yang disiarkan pada 21 April lalu. Mereka adalah Katsunobu Sakurai dan Takeshi Kanno. Dua orang ini bersanding dengan tokoh-tokoh dunia lain, seperti Joseph Stiglitz, Barack dan Michelle Obama, Sting, Mark Zuckerberg, Aung San Suu Kyi, Hillary Clinton dan Oprah Winfrey.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, majalah Time membuat daftar yang berisi 100 orang paling berpengaruh di dunia dalam pelbagai bidang. Gagasan dan tindakan mereka dinilai telah memicu dialog dan revolusi. Tahun lalu, hanya satu orang Jepang yang masuk dalam daftar Times 100, yaitu mantan Perdana Menteri Jepang, Yukio Hatoyama.

# Katsunobu Sakurai

Berusia 55 tahun, dia adalah walikota sebuah kota kecil bernama Minami Soma, Fukushima, yang berada 28 kilometer dari Fukushima Dai-ichi, pembangkit tenaga nuklir yang meledak.

Katsunobu Sakurai, walikota Minami Soma, Fukushima

Efek dari ledakan ini cukup hebat: 50,000 dari 71,296 penduduk melarikan diri dari Minami Soma. Tak lama kemudian, pemerintah Jepang mengeluarkan peringatan bagi penduduk yang masih di sana: mereka yang berada di 20 sampai 30 kilometer dari reaktor harus tetap berada di dalam rumah karena radiasi nuklir sangat berbahaya. Di negara yang memiliki disiplin tinggi seperti Jepang, peringatan ini pasti dipatuhi. Akibatnya, hanya penduduk yang masih tersisa, yaitu 20.000 jiwa, yang terisolasi di sana.

Sakurai bingung dan merasa bahwa pemerintah Jepang tidak memberi perintah penyelamatan (evacuation order) yang jelas kepada penduduk Minami Soma. Sakurai agaknya kesal karena pemerintah Jepang ibarat mempermainkan hidup penduduk Minami Soma. Dia ingin menyampaikan kepada dunia bahwa Minami Soma membutuhkan bantuan.

Pukul 9 malam 24 Maret (waktu setempat), Sakurai membuat video selama 11 menit 13 detik yang diunggah di Youtube keesokan harinya. LINK

Dalam video itu ia berkata:

Gempa pada 11 Maret dan tsunami, serta kecelakaan di reaktor nuklir Fukushima Dai-ichi, merusak kota kami. Kami yang berada di antara 20 dengan 30 kilometer dari reaktor kehabisan makanan, padahal pemerintah meminta kami tetap tinggal di rumah. Dan, dengan kurangnya informasi dari pemerintah atau Tepco (Tokyo Electric Power Corporation), kami terisolasi di sini.

Sakurai melanjutkan:

Jumlah penduduk sekarang adalah 20,000. Kami bertanggung jawab terhadap penduduk ini. Kami sulit mendistribusikan bantuan. Bantulah kami. Peringatan pemerintah membuat kami sulit mendistribusikan bahan-bahan logistik.

Dia juga mendorong agar wartawan media menyaksikan sendiri secara langsung kondisi mereka:

Sebagian besar media hanya mendapat informasi melalui telepon. Jika mereka tidak datang ke area ini dan mendapatkan informasi langsung, mereka tidak pernah tahu apa yang sedang terjadi. Kami mendorong mereka agar menyaksikan sendiri apa yang terjadi di sini.

Dalam nada yang tenang ia menutup videonya:

Saya ingin meminta media di seluruh dunia agar membantu kami dalam menyiarkan gempa dan tsunami, dan bahwa kami sedang berjuang menghadapi ancaman radiasi dan polusi.

Dampak dari video itu terasa dua minggu kemudian.

Ratusan wartawan datang ke Minami Soma dan membuat liputan langsung tentang kondisi di sana. Bantuan berupa makanan dan bensin mengalir ke wilayah ini. Sukarelawan membantu evakuasi 20,000 orang yang masih tersisa. Toko-toko pun buka dan mengirim makanan ke rumah-rumah.

Dalam wawancaranya dengan The New York Times, Sakurai mengatakan:

Kami kini sadar betul bahwa kami tidak sendirian.

# Takeshi Kanno

Berusia 31 tahun, dia adalah dokter di Rumah Sakit Shizugawa, Minami Sanriku.

Takeshi Kanno, dokter Rumah Sakit Shizugawa

Ketika gempa terjadi, dia segera memindahkan puluhan pasien ke lantai yang lebih tinggi karena sadar bahwa beberapa menit lagi tsunami akan menghantam rumah sakitnya.

Dari lantai atas, Dr Kanno menyaksikan betapa air laut telah menyapu semua rumah. Dia segera kembali ke lantai satu, dan menyaksikan semua orang telah hilang.

Sampai dua hari kemudian (13 Maret), beliau masih gigih membantu pasien. Ketika helikopter penyelamat tiba, dia memberangkatkan semua pasien ke RS lain. Setelah semua pasien telah diamankan, dia pun berangkat. Dia menjadi orang terakhir yang terbang.

Pada 14 Maret itu, beberapa jam setelah ia mendarat dari helikopter, ia mendampingi istrinya yang melahirkan anak mereka yang kedua. Bayi laki-lakinya diberi nama Rei (artinya kebijaksanaan dalam menghadapi cobaan hidup).