Cerita dari Eropa


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Masa ngelmu yang berkesan terjadi antara Januari – Juni 2002. Di lantai-4 jurusan, saya pergi pagi  (7.30) pulang malam (12.00), setiap hari, untuk mengerjakan tugas akhir. Karena sering mangkal di sana, pembimbing sering datang ke ruangan untuk ngasih konsultasi. Konsultasinya bisa tiap hari karena masalah yang dipecahkan waktu itu cukup bikin pusing. Sekarang mungkin sudah banyak yang bisa karena teori makin matang, software dan hardware performanya makin bagus. Waktu itu, satu kasus model finite element yang jumlah elemennya ‘hanya’ 40 ribu dipecahkan dalam waktu 20 jam (dengan PC prosesor AMD 1+ GHz, memori 512MB, dan software MSC.Nastran v4.5). Tiga tahun kemudian, problem yang sama dapat dipecahkan dalam waktu ½ jam saja! Kalau hari ini saya coba lagi, mungkin hanya perlu 2 menit! Continue reading

Advertisements

Marangoni


Di lab, ada profesor muda (assistant professor) yang penelitiannya agak nyeleneh. Nyeleneh karena rata-rata di sana mengerjakan bahan komposit (non-logam) secara numerik atau (baru-baru ini) eksperimental. Lha ini mengerjakan bidang metalurgi, atau khususnya sifat fisika logam (physical properties of metals). Salah satu topik yang pernah dipublikasikannya adalah efek Marangoni. Apa ini? Jangan tanya, saya juga gak mudheng!

Contoh sederhana dari ‘efek Marangoni’ dapat diamati ketika seseorang memutar-mutar (swirl) gagang gelas anggur, Biasanya yang ‘ahli’ kemudian menghirup aromanya, mengamati sesuatu dan meminum sedikit. Yang dihirup tentu aroma anggur yang merupakan campuran alkohol, air, anggur dan lainnya. Yang diamati (sepertinya) rembesan atau droplets anggur di dalam gelas: biasa disebut tears of wine atau wine’s legs. Memutar-mutar gelas anggur ini pada dasarnya mencari titik yang pas untuk menghasilkan aroma alkohol supaya keluar dari anggur (kan alkohol titik didihnya rendah jadi menguap lebih cepat dari air); bukan untuk membuktikan kualitas anggur. Jadi memutar-mutar itu tidak lain adalah eksperimen efek Marangoni, bukan untuk memeriksa kualitas anggur. Continue reading

Tragicomedy Masalah Pakta Nuklir


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Teknologi nuklir bermuka dua: menjadi reaktor penghasil energi listrik yang bermanfaat, atau menjadi bom atom yang membunuh.

Lima belas persen pasokan listrik dunia berasal dari reaktor nuklir di Amerika Serikat (AS), Perancis dan Jepang. Tetapi, kata ‘nuklir’ juga sebuah kenangan buruk, seperti meledaknya reaktor Chernobyl di Pripyat, Ukraina (dulunya masih bagian Uni Sovyet) dan jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Pada 1971, Jepang mengesahkan tiga prinsip bebas senjata nuklir (Hikaku San Gensoku) terhadap negerinya: tidak membuat senjata nuklir, tidak memiliki senjata nuklir dan tidak mengijinkan masuknya senjata nuklir ke Jepang. Tiga prinsip ini yang kemudian membawa bekas perdana menteri Jepang (1964 – 1972), Eisaku Sato, mendapat hadiah Nobel Perdamaian tahun 1974. Prinsip ini dianggap memperkuat Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir yang ditandatangani 189 negara pada 5 Maret 1970. Continue reading

Menanti Visi Baru Jepang


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Whither Japan?

Hari Minggu itu gerimis dan suram. Di tengah makan siang, seorang kawan Jepang mengatakan, “Jepang sudah kaya, tapi kami tak tahu harus ke mana. Tak ada visi.”

Saya bersimpati kepadanya, “Jika demikian tetaplah kaya.”

Ia hanya satu dari 127 juta populasi yang merasakan redupnya masa depan Jepang. Ia tentunya juga tak pasti seperti apakah Jepang 50 tahun dari sekarang.

Masalah-masalah kontemporer seperti mandegnya jumlah populasi (diproyeksikan hanya berjumlah 90 juta jiwa tahun 2050), hutang (200% gross domestic product tahun 2009), skandal politik uang (sumbangan jutaan yen dari keluarga untuk kampanye Democratic Party of Japan), bunuh diri (rata-rata 80 orang per hari), masalah Toyota dan JAL, persaingan dengan Korea Selatan dan Cina, dapat diselesaikan secara perlahan. Namun ada hal subtil yang hilang, yaitu visi.

Visi? Continue reading

Pasca-Pertempuran Amerika vs Toyota


Auto RSS feed from  https://ari3f.wordpress.com

Prolog

Publik Indonesia sudah terbiasa dengan produk otomotif Jepang, seperti Toyota, karena Jepang mengekspor mobil secara agresif tahun 80an. Dekade sebelumnya, Jepang melakukan survey pasar: jenis mobil apakah yang diperlukan Indonesia dalam beberapa dekade.

Meski ada saja yang tidak menyukai mobil Jepang karena terkesan tipis pelat-pelatnya, tapi kebanyakan orang membeli mobil Jepang karena harganya terjangkau. Strategi Jepang adalah membuat pabrik-pabrik perakitan di Indonesia dan pemakaian suku cadang buatan Indonesia atau negara lain yang ongkos buruhnya lebih murah. Ini untuk menekan ongkos produksi.

Bagaimana dengan kualitas? Jika dipakai dengan hati-hati dan rutin diservis, setiap mobil akan bertahan 20 – 30 tahun. Namun, ada juga yang umur pakainya prematur. Ini disebabkan oleh cacat komponen di bagian penting. Secara statistik, jika pabrik mobil membuat sekian juta produk, tentu ada sekian persen produk yang di luar distribusi normalnya. Jika bagian quality assurance tak melihat adanya keganjilan dari mobil itu maka mobil bisa lolos ke pasaran. Yang repot jika pada saat pemeriksaan awal mobil ini tidak menunjukkan gejala yang aneh. Ketika mobil sudah berjalan sekian kilometer, mobil mulai menampakkan malfunction. Continue reading

Kontroversi Perburuan Ikan Paus


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Kematian satu orang adalah tragedi. Kematian seribu orang adalah statistik. – Joseph Stalin

Nampaknya Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd, jengkel dengan kajian (atau diduga perburuan!) Ikan paus yang dilakukan Jepang. Rudd mengirim ultimatum: November 2010 adalah batas waktu bagi Jepang untuk menghentikan program penelitian ikan paus yang membunuh ratusan ekor per tahun di perairan Antartika. Jika dilanggar, Australia akan berjuang lewat pengadilan internasional di The Hague. Hal ini disampaikan Rudd sehari sebelum bertemu menteri luar negeri Jepang Katsuya Okada di Australia. Sepulang dari Australia, ultimatum Rudd ini dianggap regrettable oleh Okada.

Paus jenis minke

Continue reading