Menanti Visi Baru Jepang


Auto RSS feed from https://ari3f.wordpress.com

Whither Japan?

Hari Minggu itu gerimis dan suram. Di tengah makan siang, seorang kawan Jepang mengatakan, “Jepang sudah kaya, tapi kami tak tahu harus ke mana. Tak ada visi.”

Saya bersimpati kepadanya, “Jika demikian tetaplah kaya.”

Ia hanya satu dari 127 juta populasi yang merasakan redupnya masa depan Jepang. Ia tentunya juga tak pasti seperti apakah Jepang 50 tahun dari sekarang.

Masalah-masalah kontemporer seperti mandegnya jumlah populasi (diproyeksikan hanya berjumlah 90 juta jiwa tahun 2050), hutang (200% gross domestic product tahun 2009), skandal politik uang (sumbangan jutaan yen dari keluarga untuk kampanye Democratic Party of Japan), bunuh diri (rata-rata 80 orang per hari), masalah Toyota dan JAL, persaingan dengan Korea Selatan dan Cina, dapat diselesaikan secara perlahan. Namun ada hal subtil yang hilang, yaitu visi.

Visi?

Ia melihat bahwa negara-negara dunia ketiga memiliki visi yang jelas: kemakmuran (di samping kestabilan politik dan hukum tentunya). Di Jepang, kemakmuran dan politik sudah stabil. Lalu apa? Visi ini tak hanya menyangkut soal bagaimana menyelesaikan masalah-masalah profan, tetapi mau ke manakah Jepang, apa yang ingin diraih, apa yang harus ditingkatkan.

Ia tak melihat sosok seperti Yukichi Fukuzawa hari ini. Fukuzawa, tokoh yang dinilai paling berpengaruh dalam Restorasi Meiji, menggariskan sebuah visi dan misi yang konkret untuk kemajuan Jepang abad 19. Pada 1872, Fukuzawa menulis:

Surga tak menciptakan seseorang lebih tinggi atau lebih rendah dari yang lain. Perbedaan antara yang bijak dan yang bodoh, yang kaya dan yang miskin, terletak pada pendidikan.

Kutipan di atas menandai lahirnya peradaban modern. Di sana ada persamaan hak bagi siapapun untuk memperoleh pendidikan, tak melihat kaya atau miskin. Asalkan memiliki niat dan pandai, mereka dapat bersekolah. Perempuan juga akhirnya didorong untuk memperoleh pendidikan.

Fukuzawa, yang potretnya ada di uang kertas 10 ribu yen, lahir di Osaka pada 1835. Ayahnya meninggal ketika usianya masih belia. Keluarganya jatuh miskin. Namun, pada umur 14 ia berkesempatan belajar bahasa Belanda. Setelah fasih, ia pergi ke Yokohama. Di sana, rata-rata pendatang berasal dari Inggris. Ia kemudian belajar bahasa Inggris.

Pada 1860 ia mendarat di San Francisco, Amerika. Dua tahun kemudian, dia mengikuti kapal utusan Jepang ke Eropa. Dia menghabiskan 44 hari di Inggris, 42 hari di Perancis, 20 hari di Jerman, 35 hari di Belanda, 20 hari di Portugal dan 46 hari di Rusia. Tahun 1867 ia kembali ke Amerika dan mengunjungi Washington DC, Philadelphia dan New York. Meski tugas resminya adalah bernegosiasi dengan Amerika, ia ingin memuaskan tujuan pribadinya: membawa pulang buku-buku peradaban Barat ke Jepang.

Fukuzawa bersama seorang gadis Amerika, Theodora Alice, di San Francisco, 1860

Dari pengembaraannya ini, ia menyimpulkan bahwa kemakmuran suatu negeri ditentukan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Dan kemajuan ini ditentukan oleh pendidikan.

Pada 1867, Fukuzawa mendirikan sekolah kecil bernama Keio Gijuku. Muridnya hanya 100 ketika itu. Sekolah kecil ini cikal bakal universitas swasta ternama di Jepang, Keio University.

Kawan saya menyebut buku berpengaruh karangan Fukuzawa. Buku ini sungguh revolusioner bagi masyarakat Jepang karena mampu mengubah pikiran tradisional menjadi metodis dan modern. Judulnya, Gakumon no Susume (Tentang Belajar).

Dalam buku ini, Fukuzawa mengadopsi cara Barat dalam mengembangkan pengetahuan: sikap pragmatis dan kegigihan dalam belajar, kekuatan individu, budaya tukar pikiran dan berlomba-lomba mencapai hasil maksimal. Kata ‘peradaban’ baginya berarti menambah pengetahuan.

Dengan dasar-dasar visi inilah, pada permulaan abad ke-20, Jepang mengirimkan orang-orangnya ke Eropa untuk belajar. Setelah mengadopsi ilmu, mereka kembali ke Jepang untuk membangun. Proses transfer teknologi (atau biasa disebut ‘mencuri’ dengan mempelajari ilmu-ilmu dasarnya) teknologi ini terjadi hampir 100 tahun lalu. Kini, Jepang sudah cukup maju dalam teknologi. Yang diperlukan adalah terus mengembangkan dan menjaga keaslian karya.

Sosok yang sebenarnya mampu memberikan penyegaran visi di Jepang saat ini adalah perdana menteri. Perdana Menteri Yukio Hatoyama nampak tak punya waktu menginspirasi generasi sekarang. Waktunya dihabiskan menghadapi kritik di Diet (parlemen), masalah kemiskinan yang kini melanda Jepang, subsidi untuk keluarga, skandal keuangan dan sengketa di Okinawa.

Metode Hatoyama adalah mempertahankan status quo. Ini berarti mengulur waktu (buying time). Padahal, diperlukan waktu yang tak sedikit untuk meningkatkan moral generasi muda Jepang.

Agaknya, visi yang diperlukan di Jepang adalah keterbukaan, seperti yang sudah digagas oleh Fukuzawa. Sikap terbuka ini tidak hanya dalam mencari pengetahuan, tapi juga dalam berkomunikasi. Jepang juga harus lebih efisien (baca: cepat) dalam menyelesaikan masalah-masalahnya. Karena dunia tak lagi menunggu, ia mengejar.

Hari ini, kawan saya itu menunggu figur seseorang yang inspiring. Figur ini belum muncul di bumi Jepang yang beranjak senja. Di manakah ia, apakah visinya?

*Kolom ‘E-mail dari Tokyo’, Berita Harian Singapura, 15 Maret 2010

One thought on “Menanti Visi Baru Jepang

  1. Pingback: Japan as Number One « random notes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s