Puasa


Besok pagi sudah mulai makan sahur, lalu berpuasa sehari penuh (insyaallah!). Sudah lima tahun ini puasanya di negeri orang (eh, tahun 2005 puasanya di Bandung, ding …). Banyak yang nanya: apa bedanya puasa di Indonesia dengan di Singapura? Jawabannya: gak ada bedanya; persamaannya: sama-sama gak boleh makan! Hehe. Tapi kegiatan keislaman, seperti berpuasa, di negeri yang kebanyakan non-muslim memang kurang semarak. Kadang kangen juga dengar suara sirine masjid sepanjang satu menit di Bondowoso (untuk menutup sahur atau berbuka puasa).

Hari ini tidak ada persiapan khusus untuk bulan puasa, kecuali harus masak di pagi buta. Dulu pas pertama menempati flat, juga pas bulan puasa. Makannya darurat, masakan ditaruh di atas meja kecil. Sekarang? Tetap darurat. Soalnya meja makan dipakai buat naruh komputer dan printer. Hehe. Jadilah meja kerja. Makan ya lesehan aja.

Kami tidak pakai antena khusus, jadi TV Indonesia gak ada yang dapat. Kuiz, humor, ceramah agama dan hiburan menjelang imsak yang biasa ditayangkan di hampir semua stasiun TV Indonesia tidak bisa dinikmati. Harus beli antena khusus supaya dapat bocoran sinyal dari Batam.

Ada teman yang nanya: pas bulan puasa, apa kamu boleh menelan ludah sendiri? Waaah, ya boleh lah. Yang gak boleh itu menelan ludah orang lain! Hehe. Dikiranya, karena tidak boleh makan minum, maka menelan air jenis apapun tidak diperbolehkan. Bayangkan apa yang terjadi jika kita tidak menelan ludah sendiri? Bakal sering kumur-kumur.

Apa sih esensi puasa? Wah filosofis sekali ya. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk merefleksikan diri, berkaca, meninggalkan kebiasaan buruk, memperbanyak amal baik, menahan hawa nafsu (dari yang paling sederhana seperti makan-minum, hingga melakukan jima’). Saya bilang sama teman kantor bahwa bulan ini saya akan berhenti ngguyoni mereka, “I will stop teasing you, guys. Maybe you will see me as a-bit-quiet person” (haha). Bulan puasa juga mengajarkan empati, turut merasakan tidak makan sehari penuh, seperti keadaan saudara-saudara kita yang kekurangan. Bulan puasa mengajarkan kita untuk bersyukur, bahwa kita masih diberi kesehatan yang baik untuk bisa menjalankan puasa bersama orang-orang yang disayangi.

Puasa adalah pilihan. Orang boleh milih tidak berpuasa, atau berpura-pura sahur lalu minum di tempat tersembunyi. Karena ia adalah pilihan maka orang yang berpuasa tidak usah minta dihormati. Puasa ya puasa aja, gak usah minta warung-warung ditutup. Mereka kan mencari nafkah juga. Hidup seperti biasanya saja, tetap bekerja dan biarkan semua berjalan apa adanya. Kalau ada orang yang makan di depan kita, ya biarkan saja. Kalau tahan kan berarti kita mampu bersabar dan tabah akan goodan (ciee). Tapi kalau dia makan rawon di depan kita … nah ini bisa bikin ngiler benerrrr …. :p

Selingan: pemilik kedai di postingan “Rawon” itu bilang mereka bakal buka sampai jam 8 malam.

Akhir kata, selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga tuhan memberikan tambahan kekuatan dalam menjalankan ibadah ini, memberikan kesabaran, kebaikan. Semoga kita bisa memetik hikmah di keseharian bulan Ramadhan. Amin.

Wis cocok wis dadhi ustad … 😀

Berikut foto-foto bulan Ramadhan di daerah Geylang Serai, Singapura. Geylang Serai ini banyak dihuni orang-orang Melayu/Muslim.

Sumber foto: http://www.geocities.com/slowloris9/Diary/071013/071007.htm

Advertisements

Rawon


Salah satu masakan favorit saya adalah RAWON. Alasannya, kata “rawon” ini ajaib: air liur rasanya meleleh dan mau tumpah waktu mendengar kata tersebut; membayangkan tetelan daging sapi yang empuk dalam kuah hitam yang panas, kecambah (taoge) mini yang segar dan nikmatnya sambel terasi yang pedessss. Ditambah lagi selingan tempe, krupuk dan empal. (jangkrik, ngiler tenan rek!).

Rawon ini kuahnya memang hitam. Setelah nasi dimasukkan ke dalam piring, kuah hitam yang panas ngebul-ngebul membasahi nasi. Di Bandung, orang Sunda selalu heran melihat rawon: Aduh, naon ieu? Hideng tea? (aduh, apa ini? hitam s’kale?). Tapi begitu makan, wah enak sekali katanya …

Orang yang dibesarkan di Jawa Timur biasanya suka rawon. Yang tidak suka berarti bermasalah dengan lidahnya atau takut kolesterolnya tinggi. Rawon banyak sekali dijumpai di Jawa Timur. Di mana-mana ada: mulai dari resto besar sampai warung kaki lima. Bahkan, ada juga warung atau depot yang mengkhususkan diri menjual rawon. Selain itu, acara-acara kenduri, slametan, pulang haji, dan lainnya, orang menyuguhkan nasi rawon. Jadi rawon sudah merasuk dalam keseharian orang Jawa Timur.

Di daerah Tongas, Probolinggo, ada resto rawon yang terkenal namanya Rawon Nguling. Sejak orok saya sudah ‘dijejeli’ rawon (sejak SD kayaknya). Setiap mau ke Surabaya, pasti sarapan di Nguling. Pulangnya, kalau masih lapar, ya mampir lagi di Nguling, dan makan rawon lagi (kok gak bosen ya?). Di Surabaya, menurut kawan penjelajah kuliner, ada rawon yang enak. Yang jual namanya Pak Pangat. Nasi rawonnya campur: ada empal suwir, krengsengan, bali tahu.Ini dia gambarnya:

[Foto oleh Roy Lukito, Surabaya]

Di Jawa Tengah, rasa rawonnya lebih manis dibanding dengan yang di Jawa Timur. Kenapa ya? Terpengaruh metode bikin gudeg kali. Kebanyakan gula Jawa atau bagaimana.

Rawon di Singapura. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Di Singapura, rawon ini menjelma menjadi “rawan”. Tapi ada juga yang masih mempertahankan keaslian nama “rawon”. Seperti sebuah kedai langganan bernama “Darul Aman” di dekat stasiun MRT Eunos. Mereka memasang nama: NASI RAWON. Wah pinter tenan. Orisinil. Yang jual ibu Melayu dibantu cewek yang lumayan manis. Cewek ini, entah siapa namanya, bilang kalau mereka keturunan Jawa (woalaa … pantes ayu rek … hihi).

Setiap kali ke sana, begitu mereka lihat saya, tanpa ngomongpun dan secara otomatis mereka langsung ambil nasi, rawon, kuah dan tetelan dibanyakin. Udah itu, mereka nanya saya mau nambah lauk apa lagi. Kadang saya bingung juga, soalnya saya kadang pengen makan yang lain! Yah, nasib wajah rawon… jadi setiap ke sana, makan rawon lagi, rawon lagi. Biasanya, memang rawon ini saya tumpuki makanan lain yang gak nyambung: udang sambel, sayur kacang panjang. Saya selalu taruh tempe di atasnya. Mereka juga kasih serundeng (bilangnya: srondeng) dan sambel terasi (belacan). Ya itu belum seberapa: orang Singapura kalau makan rawon, kuahnya selalu sedikit dan gak pake tetelan. Malah kadang ditumpuki sotong/cumi saus pedas segala! Ajaib pokoke!

Ini foto rawon yang biasa saya makan di Darul Aman:

Sayang, foto mbaknya blom diambil. Kapan-kapan foto bareng! Bareng ibunya juga maksudnya hehe…

Selamat ngiler …

***

Resep membuat rawon ada di SINI.

Natalitas


Natalitas (angka kelahiran) barangkali punya properti seperti uang dan kekuasaan: ia bermuka dua. Natalitas yang progresif adalah impian negeri yang paceklik bayi; sedangkan, natalitas yang teredam adalah impian negeri yang masif. Singapura adalah yang pertama, sedangkan Indonesia, India, Bangladesh dan Cina adalah yang kedua.

Resep yang ditawarkan pemerintah Singapura, seperti memperpanjang paternity leave (cuti suami untuk menemani istri melahirkan), memberikan baby bonus (khusus warga negara saja; bukan warga tetap), memperpanjang cuti hamil (bagi warga negara) sepertinya kurang efektif. Resep itu tak cukup ampuh memotivasi orang untuk berprokreasi, membentuk keluarga, melupakan “Stop at Two” (sebuah slogan tahun 70an yang dicanangkan pemerintah Singapura untuk meredam ledakan penduduk). Apa yang kurang?

Agaknya, sebuah negeri kecil biasanya punya dilematis. Satu sisi, ia ingin meningkatkan taraf hidup dengan meredam jumlah penduduk, tapi di sisi lain, ia memerlukan penduduk yang “cukup” untuk membuat pertumbuhan ekonomi meningkat. Ketika taraf hidup (dan harapan hidup, tentunya) meningkat sebagai hasil peredaman jumlah penduduk, orang jadi berpaling ke ekonomi dan kemapanan hidup; tak banyak menghabiskan waktu di kehidupan sosial. Ketika kehidupan dan keakraban sosial menurun, turun pula probabilitas perjumpaan antara lelaki dan perempuan. Menurunnya aspek sosial ini, membuat “kehidupan” keluarga yang mudah-menular itu hampir nihil. Orang mengejar materi baik di dalam negeri maupun dengan bermigrasi ke luar.

Hal di atas berada di domain yang terlampau luas barangkali. Coba kita kecilkan: mengapa orang tidak enggan menikah dan punya anak?

[1] Yang pertama dulu: mengapa orang enggan menikah? Mudah saja: tidak mencari jodoh, terlalu hati-hati mencari jodoh, punya stigma bahwa salah satu gender itu materialistik atau agak susah dipahami, tidak punya waktu untuk berkencan, biaya hidup tinggi setelah menikah, kerap kali melihat bahwa kehidupan rumah tangga itu ruwet.

[2] Lalu, mengapa orang menikah: sudah punya pacar – lalu dipengaruhi keluarga/kawan untuk segera menikah, percaya bahwa pernikahan akan membawa rejekinya sendiri, karena menjalankan perintah agama, karena melihat orang lain sungguh berbahagia dengan menikah, diatur keluarganya (seperti 70% penduduk India hari ini), dapat baby bonus, dapat paternity leave dan lainnya. Atau ada yang lebih geblek: karena MBA – married by accident (MBlendung Awal-awal – alias hamil duluan).

[3] Mengapa orang yang sudah menikah tidak ingin punya anak? Wah, ini agak aneh, menurut saya. Masa, habis menikah tidak mau punya anak? Bukannya itu sepaket? Tapi ada yang bilang: “Karir dulu lah!” Artinya, cari duit dulu buat nanti membiayai anak. Hmm, masuk akal. Tapi jika kelamaan dan pasang alat KB sana-sini, akhirnya susah punya anak (atau alasan yang agak menghibur: “belum diberi Tuhan” – yah, Tuhan lagi deh dibawa-bawa). Atau, memang benar-benar tidak diberi anak. Jalan keluarnya barangkali ya adopsi anak.

Ada seorang kawan yang menikah, lalu berkata: saya tidak ingin punya anak karena punya anak itu merepotkan sekali, bising dan susah diatur. Saya lalu bilang: bukannya kamu dulu begitu waktu kecil? Kenapa kamu tidak tanya sama orangtuamu kenapa mereka punya kamu? Dia diam. Ya anak memang kadang bising, dan susah diatur. Ini tes kesabaran bagi orangtua (saya sendiri sering tidak lulus lho hahaha). Tapi solusinya tetap sama: lebih sabar dong … “Anak bukan punya kita, ia titipan”. Ini esensinya. Kalau ia titipan atau amanat, kita mesti menjaganya baik-baik. Titipan siapa? Ya titipan Tuhan. Lho, kalau orangnya tidak bertuhan alias ateis? Ya gunakan kebebasan berpikir untuk menciptakan tuhan sendiri di dalam pikiran lalu berpikir bahwa anak itu titipan “tuhan dalam pikiran” (atau Mind-made God – ini harus dipatenkan! hehe).

Setelah mikir-mikir tentang Singapura yang natalitasnya rendah, entah apa efeknya jika hal-hal berikut ini terjadi:

  • Wajib militer untuk anak laki-laki diperpendek jadi 6 bulan, atau ditiadakan sekalian! (lho, lalu siapa yang jaga Singapura? Indonesia lah … hehe atau sewa professional military troops; sepertinya masalah hankam ini agak susah dipahami)
  • Gaji orang yang menikah dilipatgandakan! Wah, langsung banyak yang kawin kayaknya…
  • Orang yang menikah lalu punya anak: sekolah anak gratis sampai mahasiswa
  • Terapkan: Married-at-30 policy (kalau gak married, out! – banyak yang milih out kayaynya hehehe)
  • Ada ide gila lain?

Jobs (2)


Hari ini gerimis. Karena gak ada kerjaan, maka buka-buka youtube dan lihat promosi iPhone yang dibawakan Stever Jobs. Jadi teringat postingan mengenai Jobs. Saya tuliskan beberapa quotes yang bagus dari buku iCon:

We weren’t going to find a place where we could go for a month to be enlightened. It was one of the first times that I started to realize that maybe Thomas Edison did a lot more to improve the world than Karl Marx and Neem Kairole Baba put together.

Intinya: jadilah engineer, karena boleh salah tapi gak boleh bohong. kalo filosof, gak boleh salah tapi boleh bohong (baca: mengira-ngira). kalo salah, bisa-bisa banyak orang mati …

The willingness to attempt the unlikely or the unachieveable was one trait – perhaps one of the few – that he and Steve Wozniak shared.

Intinya: dua orang itu beruntung: punya karakter sama, jadi sahabat baik dan buka usaha sama-sama. kalau cuma salah satu yang nekat, apple tidak akan pernah ada.

I had learned one thing about the electronics business by then: you can’t judge anybody by how young they are or how they look. The best engineers don’t fit any mold.

Intinya: yo ngomong ae lek insinyur mesthi rupone mblendhes … hehe