“Raja”


Akhirnya “raja Jawa” itu wafat di usia 86. Suharto, bekas presiden Indonesia yang paling lama berkuasa itu, meninggal akibat kegagalan organ-organ tubuh. Salim Said mengatakan di ChannelNewsAsia (stasiun TV yang paling banyak dirujuk orang Singapura untuk berita terkini) bahwa awalnya Suharto itu “Great!“. Tapi sepuluh tahun kemudian, ketika anak-anaknya beranjak dewasa, ia mulai bertindak seperti raja. Ia memanfaatkan posisinya sebagai presiden untuk memperkaya dirinya, anak-anak dan kroninya. Ia mendirikan Suharto, Inc. Di negeri yang tak-demokratik, tangan besi dan korupsi bisa menghancurkan dirinya sendiri.

Empat puluh lima tahun pertama hidupnya tak banyak diketahui orang hingga ia “tiba-tiba” muncul lewat Kostrad dan memberantas PKI tahun 1965. Ia membuat Sukarno menjadi tahanan rumah, dan melalui surat sakti Supersemar (11 Maret 1966), ia menjadi presiden kedua Indonesia. Ia kemudian membangun Indonesia di segala segi, membangun ikatan dengan negara lain. Di masa itu, demokrasi jadi komoditi yang haram. Yang halal adalah kolusi, korupsi dan nepotisme; tapi tak bisa dijadikan obrolan biasa karena malah tak sakral. Tiga kata itu harus menjadi rahasia umum; harus menjadi tindakan yang diamini banyak pihak tanpa didenda, tanpa dijerat hukum, tanpa diprotes. Tiga kata itu tak muncul meski ada. Mereka invisible. Tapi tahun 1998 ia dipaksa lengser. Tiga puluh dua tahun hidupnya membuatnya jadi bapak pembangunan sekaligus bapak korupsi Indonesia. Oleh sebab itu, ChannelNewsAsia mengatakan bahwa masyarakat Indonesia memiliki pandangan yang campur aduk (mixed) mengenai Suharto. Ini disebabkan Suharto “menari” di antara yang-baik dan yang-buruk.

“Raja” yang pandai “menari” itu telah wafat. Hal lain, tanpa dia, barangkali Habibie tak pernah pulang dan membangun industri pesawat terbang. Tanpa raja itu, ilmu penerbangan tak muncul di Bandung yang bau sampah. Tanpa raja itu, tak seorangpun tahu makna demokrasi, tangan besi, korupsi dan keadilan yang gagal. Indonesia, sementara ini, berkabung.

Advertisements

Statistik


Kematian satu orang adalah tragedi; kematian sejuta orang adalah statistikJoseph Stalin

Saya tak hendak membicarakan Stalin (yang hingga kini dibenci anak perempuannya, yang kemudian mengganti nama supaya tak dikenali di Amerika), tetapi statistik. Satu aspek statistik yang paling awal dikenal (jaman SD) barangkali berhubungan dengan masalah demografi; misal: populasi penduduk, sebaran penduduk dan lainnya. Dengan berjalannya waktu, kita mengenal regresi linear, histogram, pie chart dan lainnya. Itu semua representasi statistik, bukan statistik. Statistik barangkali bercerita tentang data-data dan korelasi; statistik bercerita tentang trend atau kecenderungan; statistik berbicara tentang konklusi; statistik, pada akhirnya, adalah desisi alias keputusan.

Pada 2001 saya mengambil kuliah statistik (dan probabilitas) lewat sebuah kebetulan. Karena ingin “membuang” mata kuliah dengan angka buruk, saya mesti mengambil satu mata kuliah dengan jumlah kredit sama. Mata kuliah lain tersedia namun bisa membuat saya pindah spesialisasi; jadinya saya mengambil yang agak generic, yaitu statistik. Entah bagaimana isinya, tapi yang saya dengar, dosennya baik. Ternyata benar: lebih dari itu, dosennya suka dongeng, cerita lucu dan memberikan pencerahan yang non-statistik. Lumayan, bikin gak ngantuk. Ia juga meminta mahasiswa membuka http://www.ngakak.com supaya tidak stress. Tak jelas untuk apa statistik ini nantinya, yang jelas saya lulus dengan nilai lumayan (meski lupa ujiannya seperti apa).

Hari ini saya membaca statistik lagi. Untuk apa? Yang jelas, pekerjaan sekarang menggunakan statistik untuk mengambil keputusan; keputusan mengenai penjualan, peningkatan produktivitas pabrik, supplier, evaluasi produk dan lainnya. Ada trend yang menjadi fungsi waktu [work week]. Ada data supplier yang ngaco. Ada hasil evaluasi yang mengecilkan hati. Macam-macam reaksi yang ditimbulkan grafik representasi statistik itu. Hari ini saya menyadari bahwa statistik itu penting. Sepenting kematian sejuta orang yang dibilang Stalin. Di sana nama menjadi anonim, yang kemudian ditanyakan adalah untuk apa mereka mati, mengapa mereka mati, siapa yang membunuhnya. Kelanjutan dari statisk biasanya tak pernah berhenti, tetapi menghembus kontinu seperti angin, meski dengan arah dan kecepatan yang berbeda.

Rusaknya satu hard disk itu tragedi (karena kita hanya punya satu di rumah), dan rusaknya sejuta hard disk itu statistik (yang kemudian menyebabkan direktur dipecat).

Hari ini saya membeli buku statistik. Ada gambar Gauss di sampulnya. Siapa dia? Dia, seingat saya, matematikawan Jerman yang namanya sering disebut dalam statistik, metode numerik, aljabar, mekanika dan lainnya. Waktu Gauss SD, seorang guru memerintahkan semua murid untuk menjumlahkan 1 sampai 100. Murid kemudian sibuk menulis deret angka secara vertikal, lalu mulai menjumlah. Gauss diam. Ia hanya menulis satu baris, lalu diam lagi. Gurunya bertanya: kenapa kamu tak mengerjakan? Apa kamu tahu jawabannya secepat itu? Gauss menunjukkan kertas dan menulis hasilnya: “5050”. Gauss menciptakan cara perhitungan dari suatu pola ketika semua orang sibuk menghitung. Sensitif terhadap angka seperti Gauss? “Berenanglah” di dunia statistik juga …

Kawan Lama


Semalam saya terlalu nganggur hingga akhirnya saya nelponin kawan-kawan lama masa SMP – SMA yang berdomisili di Jember dan Surabaya. Tidak banyak yang ditelpon karena bill telpon bisa melonjak.

Sunu. Dia sudah masuk blog beberapa kali. Dia yang mengajarkan bermain gitar waktu SMP. Ketika SMA, kami ikut ekskul pecinta alam dan mendirikan band yang bernama “Springfield”. Ia kemudian keluar dari band dan solo karir. Setamat SMA, Sunu pindah ke Yogya dan menimba ilmu Food & Beverage di AMPTA (akademi perhotelan). Tahun 1998, saya sempat mampir di Yogya dan menginap beberapa hari di kos-kosannya. Meski sempat menyaksikan sisa-sisa kerusuhan, kesan tentang Yogya masih sama: slow motion, friendly people. Sunu bertanya: wong Singapur opo nggapleki? kok soko critomu koyoke ngono (orang Singapura apa nyebelin? dari ceritamu sepertinya gitu). Saya lupa menjawab apa; barangkali “Iya, sebagian”. Sunu masih bermain band dan ia main bass. Ia bekerja untuk bagian manajemen di sebuah apartemen di Surabaya. Tidak memasak roti lagi sepertinya. Ia masih single dan tertawanya masih sama: menggelegar dan diskrit (seperti kita semua). Dan cara berbicaranya pun masih sama.

Hahang. Orang pasti bertanya “Kok namanya Hahang? Ini nama asli? Dari mana nama itu berasal?” Yah dia pun barangkali tidak tahu, kecuali bahwa itu pemberian orangtua lalu distempel di akta lahir. Awal Januari 2008 Hahang sempat patah hati, tapi hanya sebentar (seperti halnya laki-laki kebanyakan). Di hari ia memutus pacarnya, ia kemudian (katanya) pergi menjemput adik kelasnya yang lain (laaaa). Tahun 1996 ia bersekolah di Surabaya, mengambil jurusan kedokteran … hewan. Woof woof. Akhirnya ia lulus dan bekerja di perusahaan pakan ternak di Surabaya. Tetap sebagai dokter hewan. Dulu kami sering meledeknya: wah susah lho jadi dokter hewan … setiap kali nanya pasien “Kamu sakit apa? Di mana sakitnya? Pasti dijawabnya cuma dengan, misal, “Mbeeeek ….mbeeek” What a job. Hahang masih seperti dulu, cara bicaranya pun sama.

Reinhardt. Ini teman satu band di Springfield. Barangkali ia pemain gitar terbaik di angkatan saya. Dia orang Batak, tapi lahir dan besar di Jember. Kata seperti “Bah”, “cem mana la kau!”, “Eh kek mana ni…” kayaknya gak pernah saya dengar. Logatnya sudah Jawa, langgamnya pun Jawa. Dia belajar gitar 12 jam per hari, low profile, cepat membaca tempo dan playing by heart (meski ia juga bisa membaca not balok). Dia sempat main di beberapa kafe di Samarinda, Batam, dan kini ia di Surabaya. Dia sempat kena peluru nyasar waktu ada pertikaian gank di kafe di Samarinda itu. Sempat kritis, dan dioperasi bagian pipi hingga leher. Untung dia selamat, dan semalam bisa ngomong dengan lancar. Pertanyaan pertama saya waktu menelpon dia: “Heh … sik urip koen?? Hehe” (Eh masih hidup kamu?). Dia sedikit pendiam, kadang saya juga bingung mau ngomong apa sama dia. Tapi dia orangnya baik. Agak unik: pernah ditemukan tidur siang sambil ngelonin gitar, sampe ngiler. Hehe. (Mudah2an tulisan ini tak dibacanya!)

Kurniawan. Namanya panggilannya banyak, seperti Wawan, Beben, Kur-Kur, Brodin, dan terakhir ya Kurinawa. Tapi saya selalu memanggilnya Wawan. Kurniawan adalah satu kawan yang sukses jadi pengusaha. Dia selalu bilang “Aduh opone pengusaha … aku iki akeh utange, Rip…” (Aduh apanya pengusaha … aku ini banyak hutangnya Rip”. Benarkah? Sepertinya setiap orang pasti punya hutang; yang beda ya besar kecilnya, plus deadline-nya. Kurniawan memulai usahanya dengan membuka percetakan, kemudian merambah ke pengadaan hardware komputer, penyewaan mobil, cuci mobil, toko handphone, penyewaan game, kini membuka centrabiz di jalan Karimata. Wah pokoknya semuanya harus dijadikan duit. Orangnya cekatan, pandai berkomunikasi, mencari tahu dan pekerja keras. Ia juga penggemar kopi dan rokok. Dia masih bisa krama inggil! (this is something, man). Yang tidak pernah berubah adalah: ia selalu meminta saya jadi investor. Ha ha …. tunggu 10 tahun lagi kaleee ..

Begitulah sebagian kawan-kawan lama saya. Biasa saja. Tapi mereka yang memberikan hangatnya persahabatan selama 15 tahun lebih: dari jaman pake kathok SMP sampe umur 30 sekarang ini. How is yours?

Santet


Di Sabtu sore, sambil melihat deretan flat di kejauhan, minum teh itu nikmat. Hmm. Suara Elmo (Sesame Street) di belakang saya – Olit lagi nonton sendirian, duduk selonjor di sofa panjang, santai, makan wafer; Mama Olit lagi nyiapin pisang goreng. Tapi saya lagi mikir tentang santet. Lhaaa … gak nyambung dengan suasana … hehe. Gapapa.

Waktu kecil saya sering dengar cerita tentang santet atau teluh/tenung. Ini “skill” dari “fakultas” ilmu hitam di mana seseorang mampu mentransfer materi ke dalam tubuh orang lain. Materi yang ditransfer bisa berupa jarum, pecahan beling, paku, serpihan besi, pasir, bahkan organik yang mati (alias bathang) seperti kecoak, kutu, dan lainnya. Kucing mungkin terlalu besar, apalagi becak (ha ha). Mekanisme transfernya tak diketahui karena tak pernah diteliti. Telematik transfer? Yang jelas seorang dukun atau ahli ilmu hitam biasanya menghubungi kawan setannya untuk membawa materi-materi ke dalam perut penerima. Ini biasanya juga permintaan dari orang yang ingin balas dendam tanpa ingin meninggalkan jejak (sehingga CSI: Miami tidak bisa melacak). Katanya, pohon pepaya bisa jadi penolak santet ini. Tapi, entahlah …

Suatu hari (di masa SD) saya ditanya ayah saya: piye carane nglebokno pasir, paku, beling nang njero wetenge wong liyo? (bagaimana cara memasukkan pasir, paku dan pecahan kaca ke dalam perut orang lain?). Wah … mana saya tahu? Kalau tahu, bisa saya coba ke musuh SD ketika itu (ha ha). Saya njawab: kenapa kok nanya gitu? Dia bilang: karena hari itu dia baru aja mbedah perut seseorang (sebagai bagian dari visum et repertum) dan di dalamnya dia temukan materi seperti pasir, paku, kaca, dan lainnya. Perut siapa? Seseorang yang kita kenal? Ia tak menjawab. Lalu pergi. Mungkin agar saya tidak kepikiran atau ketakutan: maklum ketika itu saya suka mikir dan penakut (sekarang sih tidak suka mikir dan pemberani! ha ha).

Saya ingat beberapa bulan sebelumnya, ayah tetangga saya sering berada di rumah. Orangnya tinggi, agak gemuk, berkumis (a la Pak Raden), berkulit coklat dan jarang senyum. Hidup dan pekerjaannya pasti berat, jadinya ia jarang di rumah. Saya kenal dengan ketiga anaknya, plus saudara lainnya. Kami sering main bersama. Lalu saya tanya anak bungsunya: kenapa ayahmu di rumah sekarang? Temang saya bilang: dia lagi sakit. Oh gitu… ayahnya memang sering berdiri di depan rumah, memakai sarung dan kalau berjalan prok prok prok … he gak lah … kalau berjalan lambat sekali. Berhati-hati dan sering kelihatan nyeri. Makin hari perutnya makin besar. Dan setelah 1-2 bulan, ia menghilang. Tak pernah muncul lagi hingga bertahun-tahun. Kawan saya lalu saya tanya: ke mana ayahmu. Ia bilang: sudah meninggal. Lho, sakit apa? Dia disantet. Dulu dia punya masalah dengan seseorang, lalu orang itu menyantet bapaknya. Kasihan. Sedih sekali.

Nah, pertanyaan hingga hari ini: mungkinkah seorang yang dibedah ayah saya itu adalah bapak kawan saya?

Dosen (Unik) di ITB


Ini sambungan dari tulisan sebelumnya “Sekolah di ITB”. Dosen itu ya guru. Bedanya dengan guru SD, SMP, SMA, dosen tidak punya waktu reguler untuk mengajar. On, off. Kadang ngajar 1 jam, kadang 2 jam, Senin ada, Selasa menghilang (entah proyek atau seminar) di mana. Dosen juga dituntut melakukan penelitian, membimbing mahasiswa, mengurusi administrasi kampus, seminar di luar, proyek bersama institusi atau korporasi lain, dan banyak lagi. Rutinitas ini dilakukan dosen dimanapun. Lho … kok jadi cerita kehidupan dosen.

Back to dosen unik. Saya tahu ada beberapa dosen dengan latar belakang yang unusual, tak biasa. Sebagian saya tahu sendiri, sebagian dari cerita kawan.

( 1) Sebut saja WT (kayak menyembunyikan identitas a la koran hehe). Ia masuk ITB S1 di Belanda umur 16, lalu selesai umur 20 19 tahun. Katanya, ketika teman-temannya, yang ketika itu sudah umur 25an lulus bareng, sudah ngomongin kawin, sedangkan dia masih main layangan di kampus. Setelah itu ia melanjutkan Dipl. Ing di Delft, S2 di ITB/TU Munich, dan melanjutkan S2 (lagi) dan S3 di Amerika. Umur 27 ia mendapatkan doktor dan pulang ke ITB. Ia penggemar fotografi: suka sekali memajang foto di dinding kantornya, indah sekali, ia suka permainan warna. Kalau mengajar, wow mengagumkan. Pernah ia mengajar satu semester 8 mata kuliah (4 kuliah di jurusannya dan 4 kuliah di jurusan lain). Dan yang diajarkan berbeda sama sekali! Ketika mengajar, ia tak membawa apa-apa kecuali kapur berbagai warna. Dalam dua jam, ia menulis setiap sub-topik di papan, berikut teorema (ini khusus advanced calculus), pembuktian lalu contoh soal. Sebelum memberikan contoh soal, ia keluar kelas. Menarik napas, mencari inspirasi, lalu masuk lagi dan menuliskan dengan cepat. Setelah dua papan terisi penuh, ia bertanya: ada pertanyaan? sudah selesai nulisnya? Jika senyap (seperti biasa!) ia langsung menghapus dua papan itu dan melanjutkan lagi “mengotori” papan dengan cacing-cacing hingga 2 jam habis terkuras. Akhir kata: mengagumkan. Ini seperti show, sungguh entertaining. Ketika ujian tiba … mampus deh. Hihi.

(2) Ini ceritanya lebih pendek, karena dapat dari kawan. Sebut saja OS. Ia sebenarnya lulus S1 sebagai dokter. Entah kenapa ia lalu melanjutkan S2 bidang musik dan mendalami piano dan musik klasik di Perancis. Setelah lulus S2, ia lalu melanjutkan studi S3 bidang komputer dan mendapatkan doktor beberapa tahun kemudian. Ia sekarang masih mengajar ilmu komputer. Aneh? Unik?

(3) Ini dapat cerita juga dari kawan. Sebut saja OD. Ia lulus S1 dari Belanda dan melanjutkan S2 di Purdue, AS. Jadi dia bukan alumni ITB. Tapi kemudian ia pulang dan mengabdi di Indonesia. Karena ilmunya advanced, maka ia membantu menristek Habibie membangun industri pesawat terbang. Katanya, model bimbingannya menyeramkan. Ia pernah merobek-robek kertas desain pesawat mahasiswa selama 2 minggu berturut-turut; minggu ke-3, mahasiswanya yang merobek desainnya sendiri (haha – mbales). Terakhir, ia menjadi ketua komisi nasional kecelakaan transportasi. Kini ia pensiun.

Ada yang punya lagi cerita dosen unik, unusual?

Catatan: Jika data tidak akurat, mohon dikoreksi. Harap maklum ….

Sekolah di ITB


Tahun 1998, seorang senior di ITB mengekspresikan kembali sebuah mimpi:

Jika kamu ingin jadi apa saja, masuklah ITB.

“Apa saja”? Sebenarnya tidak hanya ITB saja, semua sekolah pasti juga menyiapkan lulusannya untuk bertahan hidup di segala cuaca. Namun, khusus alumni ITB pekerjaannya memang beragam, dan ada juga yang jadi ‘apa saja’.

Ada yang dulunya ambil jurusan Matematika dan Sipil lalu jadi seniman seperti Sujiwo Tedjo. Ada yang belajar elektro lalu jadi musisi seperti (alm) Harry Roesli. Ada yang belajar penerbangan lalu jadi politikus seperti Sri Bintang Pamungkas, atau Joko Anwar yang jadi sutradara film. Ada yang belajar seni rupa lalu jadi pelawak/entertainer seperti Amink. Ada yang kuliah di teknik sipil lalu jadi penulis buku atau naskah film seperti Adithya Mulya.

Yang sebenarnya perlu diketahui sebelum mereka menjadi demikian itu ialah prosesnya. Apa yang terjadi selama periode sekolah hingga mencapai “puncak” karir mereka itu. Singkat kata: prosesnya menjadi ‘orang’! Pasti banyak dan bakalan panjang banget. ITB, sepanjang pengetahuan saya, memfasilitasi banyak hal:

(1) Lingkungan yang mendukung untuk jadi unik. Dalam keragaman suku yang tinggi di sana, semua orang jadi anonim, tak dikenal. Bagaimana caranya supaya dikenal? Gemarilah sesuatu yang berbeda, jadilah orang yang berbeda, lakukan dengan cara yang berbeda, bebaskan pikiranmu, pelajari segala hal. Practically, everythiiiiiing!!

(2) Dosen yang mendorong mahasiswanya untuk kerja keras. Dosen memberikan tugas yang cukup banyak sepanjang semester. Satu semester, seorang mahasiswa mengambil 7 – 8 kuliah yang notabene baru, susah dan perlu diresapi. Ketika menjalaninya ada mahasiswa ITB yang stress karena menumpuknya pekerjaan rumah, praktikum dan tugas. Hal ini diperburuk dengan individualisme di ITB  yang cukup tinggi: setiap orang ada kecenderungan bekerja sendiri, karena mereka punya gaya  sendiri dalam mengerjakan sesuatu, dan prime-time mereka juga berbeda. Stress adalah proses yang dilewati ketika tugas datang berlimpah. Dan kerja keras adalah satu cara menghindari stress. Tidak ada pilihan lain, kecuali kalau mau tidak lulus. Cara lain menghilangkan stress: banyak bercanda dong! 🙂

(3) Ada yang bilang sebelum masuk ITB, bahwa iptek di ITB itu ketinggalan 30 tahun dari luar negeri. Ini salah; yang benar adalah 31 tahun (ngarang). Ya siapa sih yang tahu teknologi suatu sekolah itu ketinggalan berapa tahun? Pasti memerlukan benchmark. Fasilitas komputasi tingkat tinggi (high performance computing)? Mungkin ada, tapi tidak besar. Coba dibandingkan dengan universitas di Amerika? Wah jauh sekali bedanya. Yang tidak ketinggalan itu kemampuan dosennya. Dosen di ITB memfasilitasi mahasiswa untuk jadi orang mandiri. Mereka juga approachable, mudah didekati dan bersahabat. Ada juga yang killer, tapi hampir punah. Dosennya juga banyak pengetahuan, pandai bercerita dan memperoleh gelar doktor dari universitas ternama (MIT, Imperial College, Caltech, TU Delft dan lainnya). Budaya yang dibawa dosen adalah budaya riset, mencari tantangan, menjawab rasa ingin tahu. Mereka juga pandai membuat yang rumit jadi sederhana di muka kelas. Tapi ketika ujian tiba, jangan harap simplisitas itu muncul.

(4) Nama besar membuat orang lebih percaya diri. Sedikit banyak iya. Tapi tidak absolut. Karena seseorang akan dibuktikan lewat kemampuannya sendiri, bukan lewat nama besar, bukan lewat reputasi universitas. Dan kemampuan dialah yang membuatnya makin besar hati, makin percaya diri.

(5) Minimnya jumlah perempuan (cantik!). Perempuan biasanya memberikan estetika di lingkungan kampus. Mereka juga memberikan tambahan energi di pagi hari lewat wanginya dan wajahnya yang berseri. Karena estetika dan energi ini hanya 20% (sekarang mungkin lebih) maka setiap mahasiswa berkompetisi membuat atau mencari dua hal itu sendiri. Suka “berkompetisi” ini yang akhirnya membuat mahasiswa maju. (nyambung gak sih? ha ha ya ngarang lah).

Hal lain….silakan ditambahkan …

Btw, meski saya tidak tenar seperti nama-nama tokoh di atas, tapi setidaknya saya punya achievement yang saya banggakan: jadi ayah dan suami! 🙂

Kemprit


Tanggal 14 Januari saya menerima sms:

Breaking news: fridia udah kawin sama arief, sabtu 12jan pk16 di kapel ursulin, tanpa ngundang2, jd sorry ya? doain aja …

Padahal dia ngundang saya sebulan lalu; supaya saya pergi ke Bandung menghadiri perkawinan dia. Tapi sayang saya tidak bisa hadir. Akhirnya saya telpon dia setelah nrima sms itu. Bilang “selamat sudah menjadi seorang istri sekarang”, lalu ngobrol sebentar dengan dia, plus dengan suaminya Mas Arief (aduh nama kok pasaran ya hehe). Dengan suaminya, saya malah ngobrol komputer Asus yang mau dia beli. Hehe.

Mbak Fridia … perempuan Tionghoa ini barangkali 8 tahun lebih tua dari saya. Ia seorang psikolog khusus anak-anak autis. Ia tinggal di Bandung bersama maminya. Ia penggemar seni, teh, buku dan ngobrol. Ia juga suka traveling. Tutur bahasanya rapi: mirip seragam SD yang habis disetrika (woi ngawur) … mirip buku-buku formal gitu lah.

Tahun 2001 (kalau gak salah), di dalam kereta jurusan Surabaya – Bandung, seorang perempuan dengan ransel besar mendekat. Mirip orang Jepang. Ia kemudian duduk di sebelah saya, di dekat jendela. Ia lalu mengeluarkan beberapa majalah dan mulai membaca. Karena ia juga mengeluarkan majalah National Geographic, maka saya langsung (tanpa jaim) pinjem majalah itu. Setelah itu, obrolan terbuka dan kami jadi teman baik hingga hari ini. Ya perempuan “Jepang” itu Mbak Fridia. Panggilannya Kemprit. Wah mirip manuk emprit … hehe

Mbak Fridia menikahi seorang lelaki Jawa (yang Islam, tapi selalu dibilangnya agnostik). Keluarganya (dulu) tak setuju, karena seorang CK (dia bilang: Cina Katolik) harus menikahi CK juga. Tapi, lama-lama, peraturan sepertinya melunak seperti jenang. Oleh sebab itu, ia dan Mas Arief bisa menikah di gereja. Di gereja, katanya, calon suami-istri tak perlu punya agama sama. Tapi di kantor catatan sipil … sepertinya harus beragama sama. Cinta terhalang tembok. Yah mirip cerita sinetron jaman dulu. Tapi yang ini kawin beneran yo

Sebelum tutup telpon tempo hari, saya bilang : Ayo ayo … bikin anak! Dia bilang: iya mudah-mudahan lah … biar gak kena deadline (umur) nih.