Santet


Di Sabtu sore, sambil melihat deretan flat di kejauhan, minum teh itu nikmat. Hmm. Suara Elmo (Sesame Street) di belakang saya – Olit lagi nonton sendirian, duduk selonjor di sofa panjang, santai, makan wafer; Mama Olit lagi nyiapin pisang goreng. Tapi saya lagi mikir tentang santet. Lhaaa … gak nyambung dengan suasana … hehe. Gapapa.

Waktu kecil saya sering dengar cerita tentang santet atau teluh/tenung. Ini “skill” dari “fakultas” ilmu hitam di mana seseorang mampu mentransfer materi ke dalam tubuh orang lain. Materi yang ditransfer bisa berupa jarum, pecahan beling, paku, serpihan besi, pasir, bahkan organik yang mati (alias bathang) seperti kecoak, kutu, dan lainnya. Kucing mungkin terlalu besar, apalagi becak (ha ha). Mekanisme transfernya tak diketahui karena tak pernah diteliti. Telematik transfer? Yang jelas seorang dukun atau ahli ilmu hitam biasanya menghubungi kawan setannya untuk membawa materi-materi ke dalam perut penerima. Ini biasanya juga permintaan dari orang yang ingin balas dendam tanpa ingin meninggalkan jejak (sehingga CSI: Miami tidak bisa melacak). Katanya, pohon pepaya bisa jadi penolak santet ini. Tapi, entahlah …

Suatu hari (di masa SD) saya ditanya ayah saya: piye carane nglebokno pasir, paku, beling nang njero wetenge wong liyo? (bagaimana cara memasukkan pasir, paku dan pecahan kaca ke dalam perut orang lain?). Wah … mana saya tahu? Kalau tahu, bisa saya coba ke musuh SD ketika itu (ha ha). Saya njawab: kenapa kok nanya gitu? Dia bilang: karena hari itu dia baru aja mbedah perut seseorang (sebagai bagian dari visum et repertum) dan di dalamnya dia temukan materi seperti pasir, paku, kaca, dan lainnya. Perut siapa? Seseorang yang kita kenal? Ia tak menjawab. Lalu pergi. Mungkin agar saya tidak kepikiran atau ketakutan: maklum ketika itu saya suka mikir dan penakut (sekarang sih tidak suka mikir dan pemberani! ha ha).

Saya ingat beberapa bulan sebelumnya, ayah tetangga saya sering berada di rumah. Orangnya tinggi, agak gemuk, berkumis (a la Pak Raden), berkulit coklat dan jarang senyum. Hidup dan pekerjaannya pasti berat, jadinya ia jarang di rumah. Saya kenal dengan ketiga anaknya, plus saudara lainnya. Kami sering main bersama. Lalu saya tanya anak bungsunya: kenapa ayahmu di rumah sekarang? Temang saya bilang: dia lagi sakit. Oh gitu… ayahnya memang sering berdiri di depan rumah, memakai sarung dan kalau berjalan prok prok prok … he gak lah … kalau berjalan lambat sekali. Berhati-hati dan sering kelihatan nyeri. Makin hari perutnya makin besar. Dan setelah 1-2 bulan, ia menghilang. Tak pernah muncul lagi hingga bertahun-tahun. Kawan saya lalu saya tanya: ke mana ayahmu. Ia bilang: sudah meninggal. Lho, sakit apa? Dia disantet. Dulu dia punya masalah dengan seseorang, lalu orang itu menyantet bapaknya. Kasihan. Sedih sekali.

Nah, pertanyaan hingga hari ini: mungkinkah seorang yang dibedah ayah saya itu adalah bapak kawan saya?

One thought on “Santet

  1. percaya ngga percaya ya.. gimana ngga percaya, buktinya ‘benda2’ itu ada.. sereem ya..

    kalau tidak salah, di museum kedokteran ‘material2’ aneh itu juga diperlihatkan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s