Ayu Utami dan AAC


Ada beberapa orang yang nanya ke saya: sudahkah membaca Ayat-Ayat Cinta (AAC)? Saya selalu jawab belum. Kalau AAS (Ayat-Ayat Setan – Satanic Verses – Salman Rushdie) dulu pernah baca tapi gak tuntas. Katanya juga, filmnya sudah beredar di Indonesia dan ditonton 3 juta orang. Sensasional kayaknya. Dan, ini bukti bahwa saya kuper (ha ha).

Saya nemu komentar Ayu Utami mengenai AAC ini. Novel Ayu Utami yang saya kagumi adalah Saman. Novel lainnya, seperti Larung, kurang ‘menggigit’. Dalam Saman, Ayu mendobrak pintu sastra yang kokoh, rapi, bersih dan keramat. Ia tidak seperti itu: ia vulgar, apa adanya, sedikit ‘kotor’ dan ramai kritik. Sastra memang seperti itu: membuka pergulatan, bukan memberi solusi. Yang memberi solusi (khususnya happy ending) biasanya ya Hollywood. Kalau Bollywood? Ada lapangan, ada lagu, ada pertempuran, ada hero, ada nangis (tapi kadang kocak juga).

Saya percaya Ayu Utami memberi komentar yang objektif mengenai AAC. Seperti:

Ayat-ayat Cinta itu novel Hollywood, novel yang akan membuat senang pembacanya. Cara membuat senang itu dengan memakai resep cerita pop, misalnya berita happy ending, katakan yang orang ingin dengar, jangan katakan yang tidak ingin didengar.

Nah kan …

Cerita novel ini sangat laki-laki, memenuhi keinginan dan impian semua laki-laki untuk dicintai banyak perempuan, yang perempuan istri pertama menyuruh dia kimpoi lagi. Lalu penyelesaiannya untuk kompromi simpel, perempuan yang istri kedua mati.

Kalau dalam novel ini, kasus poligami disikapi dengan pengecut. Dalam arti, sebagian besar perempuan tidak mau dipoligami. Bila pun ada, perempuan yang mau dipoligami itu, biasanya mereka sebagai istri kedua, ketiga, atau keempat.

Kekuatan novel ini?

Judulnya kuat, ini mengingatkan pada Ayat-Ayat Setan, atau lagu Laskar Cinta. Kemudian enak dibaca, dia punya keterampilan menulis. Tapi saya kira kekuatan Ayat-Ayat Cinta ini adalah kemampuannya untuk menyenangkan, untuk mengkonfirmasi apa yang dipercaya kebanyakan orang. Mental masyarakat itu merindukan orang untuk masuk ke agamanya, kita senang bila ada yang masuk agama kita. Di sini, masuk Islam, di Hollywood masuk Kristen.

Kelemahan novel ini?

Paling lemah, kalau menurut saya, adalah nafsunya pada kebenaran. Begitu bernafsu untuk menunjukkan kebenaran. Tapi dia mengakui ini novel dakwah, jadi nggak masalah.

Benarkah? Mesti membaca sendiri kayaknya. Ada yang berbaik hati mengirimi saya? hehe

 

Advertisements

Q1 – 2008


Sekarang sudah hampir habis kuartal-1 tahun 2008. Coba tinjau ulang apa action items yang sudah tercapai dan yang belum. Action items ini dimuat di postingan 31 Des 2008 “2008: Ngapain?” Mari kita mulai:

(1) Olahraga! Beli raket badminton. Main di lapangan bawah.

Raket sepasang, shuttle cock, net sudah beli di Jember, tapi belum pernah main!

(2) Hapalkan komponen HDD, problem and solutions-nya, dokumentasikan, lalu pelajari lagi. Kalau ada masalah, think think think. Lalu experiment, lalu diskusi. Setiap hari harus ada achievement, harus ada sesuatu yang baru untuk dipelajari. Ingat pesan buku Unmask Japan: kaizen! Biar kepake otaknya.

Tidak sempat duduk tenang dan menghafalkan komponen HDD. Setiap hari mengolah data, eksperimen, diskusi, menyelesaikan tugas-tugas urgent di manufacturing line, diskusi dengan bagian development San Jose.

(3) Berkelana ke negeri yang tidak terkenal dengan keluarga kecil. Yang terkenal juga boleh, tapi jadi tidak unik sebenernya. Tuva? ;)

Ada rencana lihat Kangguru dan Koala bulan September/Oktober. Mesti nabung!

(4) Hubungi anak yang punya electric piano itu sebelum pulkam ke Indonesia. Jam session main lagu-lagu Antonio Carlos Jobim. Lemaskan jarinya, konsentrasi di depan partitur, biar koordinasi otak dan tangan tetap baik.

Sudah pernah SMS, tapi belum sempat ke rumahnya. Bulan Maret/April dia katanya balik ke Indonesia.

(5) Beli kamera yang agak pro. Belajar moto orang, jangan moto tumbuhan dan landscape aja. Soalnya bakal ada job nih!

Kamera film yang lama sudah terjual. Tinggal nambahi buat beli yang pro. Nambahnya tapi kayaknya kebanyakan hehehe …

(6) Kirim Ezra ke playgroup, biar kenal ma lebih banyak teman. Biar terekspos banyak bahasa.

Ezra sempat diantar mamanya untuk trial di satu kelas yang mengkhususkan di bidang seni. Kelasnya sepi, tidak ada peminat. Yang ada hanya Ezra dan gurunya. Ezra nangis katanya. Mungkin karena gak ada teman main kayaknya, dan di dalam dia ketemu orang asing (gurunya).

Kesimpulan: susah juga mencapai target yang dibuat sendiri :p

Obama di Djakarta: 1967 – 1971


Barack Obama adalah seorang kandidat presiden dari Partai Demokrat – Amerika Serikat yang bersaing dengan Hillary Clinton. Ia lahir di Honolulu tahun 1961. Ia menyelesaikan sekolah hukum di Universitas Harvard dan pernah menjadi orang kulit hitam pertama yang menduduki kursi presiden Harvard Law Review. Saat ini ia adalah satu-satunya anggota senat AS yang berkulit hitam dan orang hitam ketiga yang pernah bertanding untuk kursi kepresidenan dalam 100 tahun terakhir sejarah Amerika (Jakarta Post, Nov 2006).

Obama datang ke Jakarta tahun 1967. Kala itu ia masih berusia enam tahun. Jakarta berada dalam transisi dari Soekarno ke Soeharto, dan kenangan berdarah G30S (“Gerakan 30 September” yang membuat Partai Komunis Indonesia diganyang habis-habisan) masih segar membekas. Barry, panggilan akrab Obama, lahir dari seorang ibu Kaukasian dan ayah dari Kenya. Orangtuanya adalah mahasiswa di Universitas Hawaii. Ia diberi nama persis seperti ayahnya, Barack Hussein Obama. Ayahnya meninggalkan Barry ketika ia masih dua tahun. Barry kemudian mengenal Lolo Soetoro, seorang mahasiswa dari Indonesia yang menjadi kekasih ibunya. Dan, ketika ibunya, yang bernama Stanley Ann Dunham, telah menikah dengan Lolo, ia mengajak Barry pergi ke Indonesia tahun 1967.

Dalam memoarnya Dreams from My Father – A Story of Race and Inheritance yang ditulis tahun 1994, ia bercerita tentang masa kecilnya di Jakarta – yang ia sebut “Djakarta”. Jakarta yang ia gambarkan kala itu barangkali masih mirip dengan Jakarta hari ini (setidaknya di beberapa tempat): tengah kota yang sedikit modern, toko-toko kecil yang berderet di jalanan, lalu lintas yang sesak dan macet, pendorong gerobak barang, matahari yang terik dan pengemis di persimpangan jalan.

Sosok lelaki asia, atau lebih khususnya Indonesia, yang melekat dalam ingatan Barry adalah Lolo Soetoro tentunya. Lolo dikenalnya sebagai pemuda yang sopan dan mudah akrab dengan siapa saja; ia juga pandai bermain tennis dan catur. Lolo beragama Islam, meski ia juga masih memberikan ruang bagi pandangan Hinduism dan animisme yang kuno. Jika mengikuti penggolongan Clifford Geertz, mendiang profesor antropologi AS, dalam The Religion of Java (yang lebih merupakan spekulasi ketimbang analisis, dan tak merepresentasikan masyarakat Jawa yang lebih luas), Lolo barangkali bisa dikategorikan “abangan” – pemeluk Islam nominal, yang tidak sepenuhnya mempraktekkan sholat wajib dan filosofinya didasarkan pada sinkretisme antara Hindu, Buddha, animisme, dan elemen-elemen Islam. Lolo bekerja sebagai ahli geologi untuk angkatan bersenjata (army) dan ia pernah ditugaskan di New Guinea sebelum Obama dan ibunya datang ke Jakarta. Barry sering bermain dengan Lolo di waktu senggang. Mereka berbagi kesenangan dengan memberi makan binatang peliharaan seperti ayam, bebek, anjing, kera, burung cendrawasih, burung kakatua dan buaya kecil. Lolo memberi hadiah Obama sarung tinju, yang kemudian ia gunakan untuk berlatih dengannya.

31063810.jpg

Lolo Soetoro, Stanley Ann Dunham, Maya Soetoro-Ng, Barack Obama (chicagotribune.com)

Dalam waktu kurang dari enam bulan, Barry mahir berbahasa Indonesia. Namun, ibunya tetap mengajarkan bahasa Inggris lima hari seminggu: mereka berdua bangun pukul empat pagi dan belajar selama tiga jam sebelum Barry pergi ke sekolah. “Ini juga bukan piknik yang menyenangkan bagiku, buster,” begitu ibunya mengingatkan ketika Barry pura-pura sakit atau malas belajar.

Obama juga bermain dengan siapa saja, termasuk anak-anak dari petani, pembantu rumah tangga dan birokrat kelas bawah. Ia bermain selayaknya anak-anak kampung di Indonesia: bekejar-kejaran di jalan kecil siang – malam, menangkap jangkrik dan adu layangan (kites battle).

Meski ia tak mendapatkan pengertian yang memuaskan mengenai “kemiskinan”, “korupsi” dan “instabilitas keamanan” (yang ia lihat di Indonesia kala itu), ia mendapatkan buku-buku tentang pergerakan hak-hak sipil, dan rekaman Mahalia Jackson (penyanyi gospel terkenal) serta pidato Dr Martin Luther King yang memukau. Di usia belia itu pula, Barry diajarkan memiliki nilai-nilai luhur manusia, seperti kejujuran, keadilan, berbicara lugas dan menilai secara independen.

Ibunya kadang bercerita tentang murid-murid kulit hitam di wilayah selatan Amerika yang miskin dan hanya mendapat buku-buku bekas dari murid kulit putih, lalu mereka tumbuh menjadi dokter, pengacara dan ilmuwan. Ibunya juga bercerita tentang mars anak-anak yang lebih muda dari Barry, yang berbaris untuk kebebasan. Setiap lelaki kulit hitam adalah Thurgood Marshall atau Sidney Poitier; setiap perempuan kulit hitam adalah Fanny Lou Hamer atau Lena Horne. Menjadi kulit hitam adalah pemilik keturunan yang agung, nasib yang spesial, beban kejayaan yang hanya dipikul mereka yang kuat saja. Di sini, Barry menjadi bersemangat dan memiliki kesadaran bahwa yang-hitam bukanlah yang-kalah dan tertindas, tetapi yang penuh daya juang dan yang merdeka.

Di Jakarta yang panas, Barry yang menjelang usia 10 tetap melihat bahwa penjelasan ibunya dan Lolo mengenai dunia belumlah lengkap. Ia melihat bahwa dunia itu kejam – suatu pengertian yang tak bisa dipahami oleh kakek neneknya di Hawaii yang tenang dan jauh dari negeri yang terbelakang di Asia Tenggara. Ia juga melihat bahwa ras dan warna kulit tak lagi menjadi indikator antropologi belaka, tetapi lebih mengerikan: menjadi prasangka dan rendah diri. Di sini, ia mulai menilai, dalam sikap percaya diri yang kadang tak terjustifikasi, bahwa dunia memerlukan perubahan, sebagaimana ia memandang dunia dengan mata yang berbeda.

Empat tahun adalah periode yang cukup bagi seorang anak untuk memahami bahwa dunia bisa tergerak oleh hal yang trivial seperti ras dan warna kulit. Dunia kadang dirundung kegilaan orang dewasa dalam melihat sesuatu.

Hari ini, Barry yang sementara ini memiliki perolehan delegasi lebih banyak dari Hillary Clinton (Obama: 1202 vs Clinton: 1042) terus berusaha melanggengkan jalannya untuk naik ke kursi kepresidenan AS tahun 2008. Jika ia terpilih menjadi presiden, ia akan menjadi presiden kulit hitam pertama dalam sejarah Amerika. Janjinya mengenai perbaikan ekonomi, pelayanan kesehatan, green technology, energi, lingkungan, hak sipil, kemiskinan, pendidikan, kebijakan luar negeri dan isu penting lainnya akan segera diuji setelahnya.

28585925.jpg 28587177.jpg 28585944.jpg34172796.jpg

*Diterbitkan di Berita Harian Singapura 17 Maret 2008 dengan judul “Kaitan Obama: Kenya, Indonesia dan Amerika” (diterjemahkan ke bahasa Melayu)

Indonesianis


“The East is a career” – Disraeli dalam novel Tancred, 1849

Sejak di Bandung, saya selalu mengagumi buku-buku budaya dari Timur dan Barat yang ditulis beragam manusia dari pelbagai abad. Sebagian besar buku saya titipkan di rumah kakak/adik di Jakarta (katanya aman dari banjir), dan sebagian lagi saya terus mengumpulkan di sini. Baca punya baca, ada pertanyaan menarik: kenapa ahli-ahli mengenai budaya atau sejarah Indonesia kebanyakan bukan orang Indonesia?

Indonesianis yang non-Indonesia

Ahli mengenai Indonesia biasanya disebut Indonesianis. Ada juga istilah lebih umum yang dipakai: orientalis (ahli dunia timur). Sir Stamford Raffles barangkali penulis tersohor mengenai wilayah Indonesia, khususnya Jawa (lihat “History of Java”). Snouck Hurgronje juga meninggalkan karya ilmiah termasyhur mengenai Muslim-Aceh, meski dulu kita mengenalnya sebagai “penjahat” intelek di balik kemenangan Belanda terhadap Aceh. Di belahan Amerika Utara, nama-nama berikut lumayan terkenal: Daniel S. Lev, Ben Anderson, James Siegel, Jeffrey Winters, George McTurnan Kahin, Clifford Geertz dan Hildred Geertz. Di belahan Eropa, nama ini yang saya kenal: Denys Lombard. Dari Australia, Greg Barton adalah favorit saya.

Tidak banyak ahli mengenai Indonesia yang berasal dari Indonesia. Alasannya barangkali masalah praktis seperti “dana penelitian”. Di Indonesia, riset itu adalah prioritas paling buncit kalau berani jujur-jujuran. Dulu, riset adalah ladang emas. Tapi setelah krisis moneter, di mana utang menggunung dan korupsi merajalela, mata pemerintah tak lagi ke bidang riset; tapi ke pemulihan ekonomi, politik, kepastian hukum dan HAM. Alasan lain adalah “perbedaan perspektif dalam melihat kebudayaan Indonesia”. Orang Indonesia melihat budayanya sebagai keseharian, bukan lagi keunikan. Kemudian, banyak yayasan atau lembaga asing yang mendanai riset-riset mengenai Indonesia. Hal ini supaya mereka lebih mengenal “tetangga” mereka sendiri. Jadi ya wajar kalau budaya wilayah Indonesia “dimengerti” oleh orang luar.

“Indonesianis” yang Indonesia

Taufik Abdullah, Koentjaraningrat dan Kuntowijoyo adalah ahli sejarah dan budaya yang asli Indonesia. Selain mereka, banyak sekali bermunculan ahli Indonesia yang asli Indonesia. Setidaknya di Singapura ini, baik di NTU atau NUS, banyak profesor atau doktor yang melakukan riset mengenai Indonesia (terutama bidang ekonomi dan agama). Yang menarik, sebagian dari mereka menempuh pendidikan doktorat di luar negeri (Amerika), bukan di Indonesia. Padahal, topik penelitiannya mengenai Indonesia. Mengapa? Alasan selain dana penelitian adalah resource hidup yang berupa “profesor” dan resource mati seperti buku-buku dan jurnal ilmiah. Di Amerika sangat banyak profesor yang meneliti mengenai Indonesia, dan perpustakaan lengkap mengenai Indonesia ada di Cornell dan Leiden. Selain itu, Harvard juga menyediakan buku-buku bagus mengenai Indonesia.

Oksidentalis

Lah terus, kapan kita jadi oksidentalis (peneliti dunia Barat)? Istilah oksidentalisme dipopulerkan oleh Hassan Hanafi (penulis Al Yasar al Islam – “Kiri Islam”). Namun, menurut beberapa pengamat, buku mengenai oksidentalismenya belum mampu mengalahkan “despotisme” orientalisme yang sangat mengakar di dunia Barat. Setidaknya, Edward Said pernah membela dunia Timur lewat “Orientalism”. Barangkali kita bisa jadi oksidentalis ketika hal-hal yang menarik dari Barat bukan lagi berupa materi …

(ditulis pertama kali Maret 2007)

Jaran Kepang


Prelude

Entah kenapa saya suka kebudayaan. Barangkali karena suka dengan orang. Lalu bertanya-tanya mengenai perilakunya. Lalu penasaran dengan dasar-dasar pembentuk perilaku orang-orang itu. Lalu berminat ke penggolongan perilaku berdasar asal-muasal, vice versa. Lalu menyukai event dan keunikan dalam budaya.

Makanya, seorang kawan bilang: sekolah lagi aja bidang antropologi (apalagi kalau bukan SSS). Modhar kowe … !

Ini konsep yang ditulis pas ngantuk-ngantuk. Maunya dikirim ke koran lokal. Tapi kok males. Jadi diposting di sini aja …

Isi

Reyog adalah kesenian asli Jawa Timur (dan beberapa bagian Jawa Tengah), khususnya wilayah Ponorogo, yang menggabungkan konsep musik tradisional Jawa, seni tari, humor, politik, seksualitas dan mistisme. Dalam risalah ilmiah “Performance, Music and Meaning of Reyog Ponorogo” (Jurnal Indonesia, 1976) yang ditulis oleh Margaret J. Kartomi, profesor bidang seni dari Monash University, Australia, reyog tidak hanya membawa misi kesenian belaka, ia juga membawa misi politik. Hal ini terbukti dengan adanya kesenian reyog dalam tubuh partai politik besar seperti Partai Nasional Indonesia, Nahdlatul Ulama dan Partai Komunis Indonesia di masa pra- dan pasca-kemerdekaan Indonesia. Kini, di samping memiliki kesenian ludruk (drama dan komedi situasi), Partai Golkar juga masih menggunakan reyog untuk menyebarkan pengaruh politiknya ke desa-desa di Jawa.

jarankepang_foto025.jpg

Satu elemen seni tari dalam reyog Ponorogo yang cukup menarik adalah kuda kepang (bahasa Jawa: jaran kepang; secara literal: kuda mainan yang terbuat dari anyaman bambu). Adegan yang paling ditunggu adalah ketika penunggang kuda kepang ini mengalami kesurupan (diserap makhluk halus) dan memakan pecahan kaca. Dalam masyarakat Jawa kuno yang menganut kejawen (gabungan antara animisme-dinamisme dan Hindu), seseorang mempercayai kehadiran dan peran roh-roh orang yang sudah meninggal. Roh-roh ini bisa dipanggil dan melakukan sesuatu yang diinginkan pemanjat doa (biasanya dukun atau bomoh). Roh ini kemudian masuk ke dalam roh penunggang kuda kepang, dan memanfaatkan fisik penunggang kuda untuk melakukan sesuatu yang musykil dilakukan orang biasa, seperti memakan beling (pecahan kaca), paku dan minum minyak tanah. Fisik mereka berdarah dan kesakitan, namun ia tak dapat merasakannya. Di satu sisi, adegan mistis ini mengundang decak kagum dan perasaan terhibur. Namun di sisi lain, adegan ini juga mengundang kontroversi terutama jika dipertemukan dengan ajaran agama Islam. Secara faktual, proses kesurupan dalam kuda kepang meliputi proses pemanggilan roh lewat pembakaran kemenyan (incene) dan pembacaan mantra (doa) untuk meningkatkan ketahanan tubuh penunggang kuda sehingga ia tahan memakan kaca dan lainnya.    

bersambung

O$P$


Minggu pagi ini, karena gak lanjut molor, saya ke kopitiam (hokkien: kedai kopi) di sebelah rumah untuk beli nasi lemak dan teh tarik. Saya juga menemani Olit dan mamanya ke playground. Di dalam lift, saya menemukan contoh vandalisme yang, sepertinya, umum di Singapura. Seseorang menuliskan: nomor rumah, “O$P$” dan nomor telepon di dalam lift. Sebelumnya saya juga menemukan tulisan ini di tembok (tapi mungkin nomor rumah dan nomor telepon yang berbeda; lupa). Tulisan di lift ini bisa dihapus karena hanya memakai krayon. Kalau di tembok, biasanya mereka memakai spidol (jadi harus dicat ulang). Ukuran hurufnya besar, sekitar 30 cm vertikal. Pada 2003, saya juga pernah menemukan tulisan ini di tembok flat di wilayah Clementi. Dan, barangkali ini hanya terjadi di lingkungan flat saja, tidak di condo atau di private houses.

Apa itu O$P$? Itu artinya “Owe Money, Pay Money”. Seseorang yang berhutang telah terlambat melakukan pembayaran. Tentunya tidak kepada bank, tetapi kepada Ah Long (moneylender di Malaysia dan Singapura). Dan tulisan itu ditujukan untuk memperingatkan penghutang, sekaligus mempermalukannya di depan tetangga. Mempermalukan? Saya sendiri tidak mengenal siapa yang tinggal di lantai 12 itu.

image009.jpg

Seorang kawan pernah mengatakan, jika keterlambatannya berlarut-larut, ah long biasanya mengunci pintu pemilik rumah dari luar dengan grendel dan rantai yang besar. Penghutang jadi terkurung dan panik sesaat (setelahnya, mereka bisa menelpon tukang kunci sih).

Ah Long ini sudah jadi bulan-bulanan polisi, dan banyak yang tertangkap. Ada juga penghutang yang berhasil ngibulin loan shark dengan cara berikut: pinjam uang, lewat masa pembayaran, digedor ah long, kemudian melaporkan ke polisi; polisi nyanggongin rumahnya, lalu menangkap loan shark; uang barangkali dikembalikan karena tidak banyak. Ngibulin ini cukup berisiko. Bisa-bisa dipukulin atau malah dibunuh sama loan shark. Tidak, tidak. Singapura cukup ketat dalam hal kekerasan. Jika ada yang bertengkar, siapa yang mukul duluan itulah yang masuk sel; bukan yang sebenarnya salah. Apalagi membunuh. Bisa di-dor di tempat oleh polisi, tanpa pengadilan; hanya dengan praduga bersalah.

loanshark_large.jpg

Utang yang melilit di Singapura biasanya buah dari berjudi dan dari bunga yang terlampau tinggi. Jika sudah begini maka hutang menggunung. Dan bank tidak akan dengan mudah meminjamkan uang ke orang yang catatan account-nya tidak sehat. Jalan lain adalah meminjam ke saudara. Jika sudah mentok, maka pinjam ke ah long. Dan jika tak sanggup membayar ah long, ia dipermalukan lewat tulisan dalam lift itu.

Oh utang …

Bosan


Beberapa hari ini pekerjaan saya jauh lebih membosankan dari kata bosan itu sendiri. Meski awalnya, sistem hard disk drive adalah sesuatu yang kompleks, terintegrasi, tapi jika sudah sering melihat, mendengar, mendiskusikan dan mengerjakan, lama-lama kok ya bosen. Karena bosan itu akhirnya badan saya jadi pegel-pegel, tidak enak. Sempat loyo dan hawa panas-dingin (terik-hujan) di sini menambah buruknya mood saya. Jadinya, Senin pagi saya meriang, dan pengen tidur, dan mbolos (alias MC). Kemudian Selasanya saya masuk. Rabu saya MC lagi. Kerja kok kelap-kelip lampu di kota?

Bos saya ceria sekali waktu melihat saya hari Selasa lalu. Dia bilang, pulang lebih awal tidak apa-apa supaya masuk kerja tidak malah membuat sakitnya lebih buruk. Dia malah nanyain kabar anak dan istri saya sebelum nanya tentang saya. Wah, baik sekali tho? Bos saya ini orangnya memang memperhatikan well-being staff-nya. Ia dididik dan dibesarkan di Silicon Valley, jadi culture bekerjanya sangat family-oriented, namun tetap profesional.

By the way, saya barusan pinjam buku “Silicon Valley Way”, buku mengenai membangun bisnis high-tech a la perusahaan terbaik di Silicon Valley, California. Baru membaca pengantarnya saja. Sepertinya menarik sekali karena seperti buku know-how, sehingga ia bisa secara praktis diterapkan. Buku ini adalah buku yang selama ini saya cari mengenai “bagaimana memulai bisnis yang berbasis teknologi dan riset”.

Bosan. Apa obatnya? Entahlah. Saya juga bosan menunggu artikel saya (yang ketiga) dimuat oleh Berita Harian, Singapura. Judulnya “Obama di Djakarta: 1967 – 1971”. Pasti judulnya bakal diubah lagi sama mereka, seperti halnya dua artikel terdahulu mengenai “orang Jawa di Singapura” dan “Bengawan Solo”. Saya udah pinjam dua film, baru ditonton yang “The Brave One”.

Menulis, bosan. Main gitar, bosan. Nonton film? Membaca buku? Atau ambil PhD? Ha ha. Yang terakhir ini malah bikin bosan, terutama di tahun ke-2 dan seterusnya. Believe me. Sebenarnya keinginan mengambil PhD itu masih ada. Cuma kok ya agak malas kalau bidang engineering. Pengennya ambil bidang fisika murni. Tapi kok ya otak tidak nyucuk rasanya, apalagi jika dihadapkan pada persamaan diferensial yang sekarang sudah lupa total. Ada juga ide melakukan PhD research bidang kebudayaan Indonesia, seperti yang dilakukan orang-orang Cornell yang saya kagumi. Topik risetnya: Kehidupan Orang Jawa di Luar Jawa: New Caledonia, Singapura, Malaysia, Suriname. Aduh, siapa yang mau membiayai? Dan siapa yang bertanggungjawab jika saya tetap bosan? hix hix.