Erdös


1

Pada suatu hari di bulan Juli 2008, ibu negara menemukan satu buku di bazaar buku, Expo, Singapura. Judulnya menarik: The Man Who Loved Only Numbers. Buku ini berisi biografi Paul Erdös yang ditulis oleh Paul Hoffman. Nama aslinya adalah Erdős Pál (dalam bahasa Hungaria, nama pertama adalah nama keluarga, persis nama orang Jepang atau China). Sampulnya seperti ini:

Setelah itu, ibu negara membuat ringkasan tentang Erdös.

Paul Erdös (menurut buku ini Erdös dibaca seperti air-dish) terlahir sebagai prodigy (bocah berbakat atau jenius) di Budapest, Hungaria. Saking cintanya dengan angka, dia selalu berhasrat untuk selalu memecahkan persoalan matematika. Dia tidak menikah. Selama hidupnya, dia pergi berkeliling dari satu tempat riset/universitas ke universitas lainnya hanya berbekal koper dan duit seadanya. Dia pernah memenangkan Wolf Prize, sebuah penghargaan paling bergengsi di bidang matematika. Panitia Wolf Prize memberinya hadiah $50.000. Dari uang sebanyak itu, dia hanya menyimpan $720 buat dirinya, sisanya disumbangkannya untuk mendirikan lembaga pendidikan di Israel. Dia pernah pergi ke Jepang hanya dengan bermodalkan satu koper berisi baju-bajunya dan uang $50 saja. Hidupnya unik. Sama menariknya dengan Richard Feynman. Hidup mereka berdua pun dituangkan dalam bentuk film. Bedanya Erdös bermain sebagai dirinya sendiri.

Sepanjang hidupnya, Erdös menulis 1,475 paper ilmiah dalam bidang matematika. Orang yang pernah kerjasama langsung dengan Erdös diberi gelar Erdös No.1; orang yang bekerja sama dengan orang yang pernah bekerja langsung dengan Erdös mendapat Erdös No. 2; dan seterusnya. Einstein mendapat Erdös No.2.

Rasanya, Erdös juga satu-satunya orang di dunia yang memanggil anak-anak kecil dengan sebutan epsilon. Epsilon dalam matematika berarti jumlah yang kecil. Dia mempunyai istilah sendiri untuk hal-hal tertentu.

Sejak ibunya meninggal, Erdös menghabiskan 19 jam sehari untuk matematika. Erdos juga sangat menggemari kopi, sampai-sampai Alfred Renyi pernah mengatakan bahwa “A mathematician, is a machine for turning coffee into theorems.” Setiap ditanya kenapa dia tak banyak beristirahat, Erdös selalu menjawab: “… Banyak waktu untuk beristirahat nanti ketika kita dikuburkan.”

2

Pada bulan Juni 2010, untuk pertama kalinya saya mengunjungi Budapest. Saya senang sekali, karena pada akhirnya, saya bisa menginjakkan kaki di tanah kelahiran Erdös! Yay! Bagi saya Erdös adalah inspirasi. Bukan dalam hal matematika sebenarnya, tapi dalam hal kebaikan hati (terhadap siapa saja), dedikasi, kesederhanaan, ketajaman, produktivitas, keunikan, kemampuan kolaborasi, sikap hidup yang pilgrimage demi sesuatu yang dicintainya yaitu komunitas matematikawan, sikap menghormati ibu, penghargaan terhadap ilmuwan muda, sikap dermawan, dan banyak lainnya … ilmuwan dengan jiwa sangat mulia seperti Erdös sangat langka di dunia ini …

Yang saya pikirkan ketika sampai di Budapest adalah mencari toko buku. Sebenarnya saya juga mencari toko kürtőskalács, kue khas Hungaria yang mirip cerobong asap. Kue itu titipan teman di Jerman. Ketika saya menemukan satu toko buku yang menjual buku-buku bahasa Inggris, saya bertanya kepada staf toko: Ada buku Paul Erdös? Dia balik bertanya: Siapa itu? Saya jawab: Matematikawan Hungaria. Ada ya? Dia bilang: Wah, maaf saya tidak tahu ada orang Hungaria bernama itu … Gleg …. Tapi akhirnya dia cari juga di database, dan ketemulah satu buku yang akhirnya saya beli. Judulnya: My Brain is Open – The Mathematical Journeys of Paul Erdös. Penulisnya Bruce Schechter. Buku itu langsung saya tanda tangani, tertulis “Budapest, 10/06/2010”. Yang menarik, pada hari itu pula, Olit ulang tahun ke-4! Sungguh kebetulan yang luar biasa. Buku itu saya baca habis. Mungkin sudah beberapa kali. Tapi saya tidak bosan-bosannya. Buku ini sebagian diambil dari film tentang Paul Erdös yang berjudul “N is a Number”. Filmnya dapat dilihat di Youtube. Menarik sekali!

Advertisements

Empat Hal


Saya tidak menyangka bahwa tulisan “Jepang Tidak Mengubah Kita” ditanggapi orang. Bahkan teman yang sedang liburan di Jakarta pun mengirim pesan. Efek dari tulisan itu sedikit hay-wire. Padahal, tulisan itu untuk saya sendiri; sebagai refleksi, bahwa jika saya ada di posisi mereka, saya berusaha berubah. Seperti yang ditulis sebelumnya:

Inti dari tulisan ini adalah jalan menuju perubahan. Kita harus menemui persimpangan dengan banyak pilihan dulu sebelum tahu tujuan kita. Dalam memilih, kita mungkin melakukan kesalahan seperti yang disebut di atas. Namun, masih ada waktu untuk berubah. Tuhan masih berbaik hati memberikan nafas dan rizki lain yang baik. Tahun ini kita harus berubah. Tinggalkan keburukan di 2011.

Saya tidak apologetik, apalagi berusaha jadi protagonis. Bagi saya orang baik hanya ada di komik, tidak di dunia ini. Nietzsche yang pernah jadi murid Schopenhauer juga memahami ini. Menjadi Hegelian di Berlin kala itu bukan pilihan Schopenhauer atau Nietzsche. Menjadi orang berpihak di satu sisi, bahkan pihak yang kritis, adalah sisi yang lumrah. Ia adalah pilihan.

Tulisan yang baik, konon, adalah tulisan yang menggerakkan. Oleh sebab itu, Das Kapital yang murni buku filsafat dan ekonomi menggerakkan orang untuk berubah melawan kapitalisme yang menggerogoti Eropa. Tapi memang ada euforia di sana. Yang repot, euforia itu juga diderita mereka yang berseragam jenderal dan berbedil. Ketika militer turut menderita euforia Das Kapital, Marx mungkin jadi murung. Ia lalu berkata: “Aku tidak se-Marxis yang dikira”. Tapi Marx tidak apologetik terhadap tulisannya sendiri. Ia pergi ke Perancis untuk menghadiri rapat partai komunisme yang gegap gempita di sana.

Tulisan yang baik, konon, juga bukan hasil asumsi atau konon-kabarnya (hearsays). Tulisan saya sebelumnya, yang ramai mendapat tanggapan, adalah bagian tentang ramainya pojok Indonesia di lembaga penyiaran. Ada empat hal yang ingin disampaikan di sini:

  • Tentang kebisingan. Ketika saya mengambil kuliah Aircraft Loads, saya memahami fatalnya acoustic fatigue. Ini adalah fenomena lelahnya sebuah panel di struktur pesawat yang mengakibatkan terlepasnya panel tersebut. Sumber dari kelelahan ini adalah noise atau kebisingan. Kebisingan itu ada ukurannya. Katakan, dalam satuan dB (decibel). 100 dB tentu memekakkan telinga. Kebisingan itu juga punya frekuensi dan keterjadian: seberapa sering dia terjadi dan kapan saja. Untuk mengkuantifikasi kebisingan suatu mesin, kita tinggal tancapkan acoustic emission sensor dan mengukur secara berkala. Lalu kita simpulkan. Bising atau tidak bising, berisik tidak berisik, ditentukan dari pengukuran itu. Ada yang mengatakan satu kelompok itu berisik, ada yang mengatakan tidak. Ada yang mengatakan kelompok A lebih bising dari kelompok B. Bagaimana mendamaikan ini? Ya harus diukur dan dibandingkan. Jika tidak maka ia jadi relatif. Berisik adalah masalah relativitas sehingga ada orang yang akhirnya membeberkan data. Misal: dalam setahun, kelompok A selalu berisik pada hari Sabtu, dan ini berulang hingga 52 minggu. Itu jika di-plot dalam time-domain. Jika di-plot dalam frequency-domain maka kita bisa tahu berapa magnitude tertinggi dan berapa frekuensinya (ref: Control System). Karena saya tidak melihat (baca: mengukur) sendiri level kebisingan di pojok Indonesia di lembaga penyiaran itu, maka saya tidak tahu level kebisingannya. Dan saya tidak tahu apakah pojok itu lebih berisik/tenang daripada yang lain atau tidak. Saya percaya saja jika ada yang mengatakan bagian itu berisik. Tetapi saya harus memeriksanya sendiri; mengukurnya secara berkala. Sayangnya ini bukan problem di pesawat terbang. Jadi saya tidak berminat untuk mengukur.
  • Tentang asumsi. Tulisan saya tidak menyebut nama lembaga. Ia anonim. Orang memang jadi berasumsi; dengan asumsi pula mereka berargumen. Ini menggelikan. Karena argumen yang berasal dari asumsi itu pasti lemah. Sebelum adu argumen sebaiknya diluruskan dulu, itu lembaga apa sih. Tentu saya tidak akan memberi jawaban karena adalah hak saya untuk merahasiakan. Hak anda juga untuk berasumsi. Tetapi ketika tidak ada kesepakatan tentang nama lembaga atau nama orang, maka argumen tinggallah kenangan. Masing-masing orang jadi bertanya-tanya terus. Kami kah itu? Itu si A ya? Yah, mana saya tahu …
  • Pojok Indonesia? Siapa itu? Di mana mereka? Tidak ada yang tahu.
  • Lembaga penyiaran di Jepang? Siapa itu? Di mana mereka? Tidak ada yang tahu.

Jepang Tidak Mengubah Kita


1

Jepang menyukai kesunyian karena ia merepresentasikan harmoni. Di kereta, orang jarang saling bicara meski mereka pergi bersama-sama. Tapi ada juga yang ramai, misalnya anak-anak SMP yang baru pulang sekolah. Beberapa orang di kereta, ketika berdesak-desakan pagi hari menuju Tokyo Station, bercakap-cakap dengan agak kencang. Biasanya orang di sekelilingnya melirik dengan pandangan terganggu. Tapi seringnya suasana kereta diisi keheningan.

Secara pribadi saya menyukai ini. Oleh sebab itu, kereta Jepang mewajibkan penumpangnya mematikan bunyi telepon genggam. Bunyi ponsel mengganggu ketenangan. Herannya, di kereta Jepang, orang boleh makan dan minum. Berbeda dengan Singapura, makan minum dilarang; tapi ngomong kencang ya silakan.

Orang Indonesia memang cepat akrab meski baru kenal. Keakraban itu diisi dengan perbincangan yang seru (diselingi canda) dan bersifat pribadi (misal: “Sudah menikah? Agama x kah?”). Di tengah negara yang asing dan bertemu teman senegara memang menyenangkan. Setidaknya bagi mereka yang membenci keterasingan dan solilokui. Masalahnya, ketika pertemuan itu terjadi di kereta, apa yang harus dilakukan? Ya diam. Atau, jika sulit, berbicaralah perlahan, kecilkan volume. Mengecilkan volume suara tidak biasa bagi sejumlah orang. Apalagi bagi mereka yang terlahir ekstrovert dan juweh (Jawa: susah diam dan selalu mengomentari banyak hal). Ketika kita bersentuhan dengan entitas sosial lain, apalagi jumlahnya besar (yaitu masyarakat Jepang), patuhilah pesan keharmonisan mereka. Kecilkan suara, hormati orang lain yang ingin menikmati ketenangan perjalanan. Ini tidak hanya berlaku di kereta, tapi juga di ruangan kerja. Di sebuah perusahaan penyiaran Jepang, konon, pojok yang paling ramai (entah akrab atau berisik) adalah pojok Indonesia. Saya belum pernah melihatnya sendiri. Tapi jika ini benar maka orang lain boleh jadi melihat ‘keakraban’ itu sebagai representasi Indonesia, yang akrab dan berisik. Tidak masalah dengan akrab, tapi jangan berisik dong. Berisik kan bisa dikurangi dengan mengecilkan volume … dengan mengontrol nafas, getaran pita suara … 🙂

2

Pada 10 – 12 Juni, saya mengikuti sebuah ‘rapat tahunan’ ilmiah yang diadakan mahasiswa Indonesia di Jepang. Senang sekali rasanya, karena saya bisa sekali-kali ketemu ramai orang Indonesia di sana. Saya juga merasa bangga karena teman-teman Indonesia bersemangat sekali mengadakan acara seminar itu. Acara dibuka oleh beberapa orang. Ada rektor Tokyo Institute of Technology (TIT), ada Dubes Indonesia untuk Jepang Bapak Muhamad Lutfi. Acara hari pertama berjalan lancar. Namun, Dubes Lutfi nampak mencari-cari seseorang. Rupanya ketahuan beliau tidak menemukan ketua panitianya. Ketua panitia acara itu adalah peneliti Indonesia yang bekerja di lembaga riset Jepang bertahun-tahun. Padahal, ketua panitia seharusnya ada di acara tersebut mendampingi dubes, rektor TIT dan profesor lainnya; selain itu, wajar saja, jika ketua panitia harus memastikan semua berjalan lancar. Dia mungkin mendelegasikan kepada seseorang. Tapi mungkin dubes tidak mengetahui masalah delegasi itu. Dubes akhirnya mengeluh dan kesal karena ketua panitia tidak ada. Ini bisa dimaklumi sebagai salah paham (miscommunication) atau informasi tidak tersalurkan dengan baik; tapi bisa juga karena kelalaian yang disebabkan oleh persiapan yang buruk. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ini agak memalukan memang. Belakangan ketahuan bahwa ketua panitia sedang menjemput (mengantar jalan-jalan) rektor bekas almamater dia. Jadi, yang seharusnya didelegasikan yang mana ya?

3

Cerita masih seputar seminar itu. Hari ke-2 saya datang lagi pagi-pagi sekali karena saya harus memberikan presentasi pada sesi pertama yang dimulai pukul 8:00. Dari rumah, saya berangkat jam 6:00. Tidak masalah dengan berangkat pagi, dan gerimis pula. Tapi masalahnya, ketika sampai di sana, saya tidak bisa membuka ruangan tempat sesi akan dilangsungkan. Kemudian saya mencari-cari di mana sekiranya panitia berada. Tapi suasana sepi sekali. Saya kebetulan juga bertemu 1-2 orang yang nampak tergopoh-gopoh karena mengira terlambat. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8:20. Tapi seminar belum juga dimulai. Untungnya, saya bertemu ketua organisasi pelajar Indonesia di Jepang dan seorang peneliti yang bekerja di sebuah universitas swasta. Akhirnya, saya diajak ke ruang panitia. Di ruang panitia, saya melihat seorang dari panitia masih baru bangun tidur, lengkap dengan celana pendek dan sarung (atau jaket, saya lupa), garuk-garuk badan pula! Sudah jelas: panitia ngaret (budaya ngaret masih dibawa aja ke Jepang). Selain itu, banyak sekali presenter yang tidak bisa hadir di pagi hari. Mereka rata-rata datang siang harinya. Memang sih, cuaca saat itu hujan gerimis dan cocok untuk selimutan. Memang sih, kehadiran waktu itu tidak sewajib nge-tap kartu kereta PASMO di pintu stasiun. Tapi kan ini acara teman-teman Indonesia yang harus dihargai kerja kerasnya. Lebih jauh, ini kan acara kita sendiri dan untuk kita sendiri (sudah bayar pula!). Jadi, tidak ada alasan untuk tidak hadir. Akhirnya, karena chairman ingin cepat mulai, maka ia berinisiatif menggabungkan beberapa presenter menjadi satu sesi. Sesi saya, yang seharusnya masalah Material Science and Applied Science, digabung dengan sesi lainnya: kesehatan/kedokteran, ekonomi, makanan dan biologi. Untungnya, sesi ‘gado-gado dadakan’ itu berjalan lancar. Saya jadi belajar juga tentang masalah regionalisme ekonomi di Asia Timur, riset tentang kanker, bioteknologi, sistem informasi rumah sakit. Sesi ‘gado-gado’ itu memberi secuil pengetahuan baru yang berharga.

Saya melanjutkan ke sesi lainnya, dimana seorang kawan mempresentasikan makalahnya. Setelah itu, saya ijin pulang karena kepala sangat pusing. Besoknya saya istirahat di rumah, tidak hadir di hari ke-3. Sebelumnya, saya mengirim email kepada ketua organisasi ini, memohon maaf karena tidak dapat hadir.

Saya sulit membayangkan bahwa perilaku yang sama (ngaret dan mbolos) dilakukan orang Jepang. Pernah dulu, di seminar yang diadakan oleh orang Jepang setahun sebelumnya, saya lihat orang Jepang sudah duduk rapi sebelum jam 8:00 pagi. Dan, pas jam 8:00, acara dibuka. Tepat waktu! Semua hadir! Tidak heran jika Jepang maju. Mereka sangat menghargai waktu dan kawan sejawat. Tidak dapatkah kita mencontoh etos yang baik dari Jepang?

4

Yang saya heran, rata-rata orang Indonesia yang di Jepang adalah pelajar berbakat yang mendapat beasiswa. Jika tidak ambil program master, ya doktor. Beasiswa berarti: ada orang atau lembaga melihat prestasi akademiknya baik dan layak dibayari sampai mentok. Tapi prestasi akademik dan jenjang akademik yang sedang ditempuh tidak menentukan pengetahuan etos sosial. Dua hal itu juga tidak menentukan orang punya empati atau tidak. Empati (menempatkan diri dalam perasaan dan pikiran orang lain) adalah buah pendidikan keluarga dan sekolah, selain merupakan bakat.

Kesimpulan saya boleh jadi sepele dan ini merupakan kesan pribadi semata: Jepang tidak mengubah perilaku dan etos kita. Kita terlahir dan besar di negara yang sebagian besar orangnya beragama. Bagi yang Islam, menghargai waktu adalah tuntunan agama yang konformal terhadap alam. Jika tidak, mengapa sholat ditentukan waktunya dengan tepat dan mengikuti musim? Penghargaan terhadap waktu sangat krusial. Yang kedua adalah ketenangan. Orang dikatakan baik jika ada interaksi antara dia dengan orang lainnya; jika tidak, maka dia baik hanya untuk diri sendiri. Dalam Islam, sholat membuat orang jadi baik. Tapi kenapa orang-orang Indonesia yang dominan Islam itu (yang mungkin rajin sholat), tidak bisa menghargai orang Jepang yang menyukai ketenangan? Bisakah kita memberi manfaat “ketenangan” kepada lingkungan, kepada orang Jepang? Kita tamu di negeri asing; tamu haruslah menghargai tuan rumah, bukan?

Mengutip Muhammad Abduh (1849-1905) modernis Islam asal Mesir, dan memodifikasi sedikit:

I went to Japan and saw Islam, but no Muslims; I got back to Indonesia and saw Muslims, but not Islam.

Inti dari tulisan ini adalah jalan menuju perubahan. Kita harus menemui persimpangan dengan banyak pilihan dulu sebelum tahu tujuan kita. Dalam memilih, kita mungkin melakukan kesalahan seperti yang disebut di atas. Namun, masih ada waktu untuk berubah. Tuhan masih berbaik hati memberikan nafas dan rizki lain yang baik. Tahun ini kita harus berubah. Tinggalkan keburukan di 2011.