Jepang Tidak Mengubah Kita


1

Jepang menyukai kesunyian karena ia merepresentasikan harmoni. Di kereta, orang jarang saling bicara meski mereka pergi bersama-sama. Tapi ada juga yang ramai, misalnya anak-anak SMP yang baru pulang sekolah. Beberapa orang di kereta, ketika berdesak-desakan pagi hari menuju Tokyo Station, bercakap-cakap dengan agak kencang. Biasanya orang di sekelilingnya melirik dengan pandangan terganggu. Tapi seringnya suasana kereta diisi keheningan.

Secara pribadi saya menyukai ini. Oleh sebab itu, kereta Jepang mewajibkan penumpangnya mematikan bunyi telepon genggam. Bunyi ponsel mengganggu ketenangan. Herannya, di kereta Jepang, orang boleh makan dan minum. Berbeda dengan Singapura, makan minum dilarang; tapi ngomong kencang ya silakan.

Orang Indonesia memang cepat akrab meski baru kenal. Keakraban itu diisi dengan perbincangan yang seru (diselingi canda) dan bersifat pribadi (misal: “Sudah menikah? Agama x kah?”). Di tengah negara yang asing dan bertemu teman senegara memang menyenangkan. Setidaknya bagi mereka yang membenci keterasingan dan solilokui. Masalahnya, ketika pertemuan itu terjadi di kereta, apa yang harus dilakukan? Ya diam. Atau, jika sulit, berbicaralah perlahan, kecilkan volume. Mengecilkan volume suara tidak biasa bagi sejumlah orang. Apalagi bagi mereka yang terlahir ekstrovert dan juweh (Jawa: susah diam dan selalu mengomentari banyak hal). Ketika kita bersentuhan dengan entitas sosial lain, apalagi jumlahnya besar (yaitu masyarakat Jepang), patuhilah pesan keharmonisan mereka. Kecilkan suara, hormati orang lain yang ingin menikmati ketenangan perjalanan. Ini tidak hanya berlaku di kereta, tapi juga di ruangan kerja. Di sebuah perusahaan penyiaran Jepang, konon, pojok yang paling ramai (entah akrab atau berisik) adalah pojok Indonesia. Saya belum pernah melihatnya sendiri. Tapi jika ini benar maka orang lain boleh jadi melihat ‘keakraban’ itu sebagai representasi Indonesia, yang akrab dan berisik. Tidak masalah dengan akrab, tapi jangan berisik dong. Berisik kan bisa dikurangi dengan mengecilkan volume … dengan mengontrol nafas, getaran pita suara …🙂

2

Pada 10 – 12 Juni, saya mengikuti sebuah ‘rapat tahunan’ ilmiah yang diadakan mahasiswa Indonesia di Jepang. Senang sekali rasanya, karena saya bisa sekali-kali ketemu ramai orang Indonesia di sana. Saya juga merasa bangga karena teman-teman Indonesia bersemangat sekali mengadakan acara seminar itu. Acara dibuka oleh beberapa orang. Ada rektor Tokyo Institute of Technology (TIT), ada Dubes Indonesia untuk Jepang Bapak Muhamad Lutfi. Acara hari pertama berjalan lancar. Namun, Dubes Lutfi nampak mencari-cari seseorang. Rupanya ketahuan beliau tidak menemukan ketua panitianya. Ketua panitia acara itu adalah peneliti Indonesia yang bekerja di lembaga riset Jepang bertahun-tahun. Padahal, ketua panitia seharusnya ada di acara tersebut mendampingi dubes, rektor TIT dan profesor lainnya; selain itu, wajar saja, jika ketua panitia harus memastikan semua berjalan lancar. Dia mungkin mendelegasikan kepada seseorang. Tapi mungkin dubes tidak mengetahui masalah delegasi itu. Dubes akhirnya mengeluh dan kesal karena ketua panitia tidak ada. Ini bisa dimaklumi sebagai salah paham (miscommunication) atau informasi tidak tersalurkan dengan baik; tapi bisa juga karena kelalaian yang disebabkan oleh persiapan yang buruk. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ini agak memalukan memang. Belakangan ketahuan bahwa ketua panitia sedang menjemput (mengantar jalan-jalan) rektor bekas almamater dia. Jadi, yang seharusnya didelegasikan yang mana ya?

3

Cerita masih seputar seminar itu. Hari ke-2 saya datang lagi pagi-pagi sekali karena saya harus memberikan presentasi pada sesi pertama yang dimulai pukul 8:00. Dari rumah, saya berangkat jam 6:00. Tidak masalah dengan berangkat pagi, dan gerimis pula. Tapi masalahnya, ketika sampai di sana, saya tidak bisa membuka ruangan tempat sesi akan dilangsungkan. Kemudian saya mencari-cari di mana sekiranya panitia berada. Tapi suasana sepi sekali. Saya kebetulan juga bertemu 1-2 orang yang nampak tergopoh-gopoh karena mengira terlambat. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 8:20. Tapi seminar belum juga dimulai. Untungnya, saya bertemu ketua organisasi pelajar Indonesia di Jepang dan seorang peneliti yang bekerja di sebuah universitas swasta. Akhirnya, saya diajak ke ruang panitia. Di ruang panitia, saya melihat seorang dari panitia masih baru bangun tidur, lengkap dengan celana pendek dan sarung (atau jaket, saya lupa), garuk-garuk badan pula! Sudah jelas: panitia ngaret (budaya ngaret masih dibawa aja ke Jepang). Selain itu, banyak sekali presenter yang tidak bisa hadir di pagi hari. Mereka rata-rata datang siang harinya. Memang sih, cuaca saat itu hujan gerimis dan cocok untuk selimutan. Memang sih, kehadiran waktu itu tidak sewajib nge-tap kartu kereta PASMO di pintu stasiun. Tapi kan ini acara teman-teman Indonesia yang harus dihargai kerja kerasnya. Lebih jauh, ini kan acara kita sendiri dan untuk kita sendiri (sudah bayar pula!). Jadi, tidak ada alasan untuk tidak hadir. Akhirnya, karena chairman ingin cepat mulai, maka ia berinisiatif menggabungkan beberapa presenter menjadi satu sesi. Sesi saya, yang seharusnya masalah Material Science and Applied Science, digabung dengan sesi lainnya: kesehatan/kedokteran, ekonomi, makanan dan biologi. Untungnya, sesi ‘gado-gado dadakan’ itu berjalan lancar. Saya jadi belajar juga tentang masalah regionalisme ekonomi di Asia Timur, riset tentang kanker, bioteknologi, sistem informasi rumah sakit. Sesi ‘gado-gado’ itu memberi secuil pengetahuan baru yang berharga.

Saya melanjutkan ke sesi lainnya, dimana seorang kawan mempresentasikan makalahnya. Setelah itu, saya ijin pulang karena kepala sangat pusing. Besoknya saya istirahat di rumah, tidak hadir di hari ke-3. Sebelumnya, saya mengirim email kepada ketua organisasi ini, memohon maaf karena tidak dapat hadir.

Saya sulit membayangkan bahwa perilaku yang sama (ngaret dan mbolos) dilakukan orang Jepang. Pernah dulu, di seminar yang diadakan oleh orang Jepang setahun sebelumnya, saya lihat orang Jepang sudah duduk rapi sebelum jam 8:00 pagi. Dan, pas jam 8:00, acara dibuka. Tepat waktu! Semua hadir! Tidak heran jika Jepang maju. Mereka sangat menghargai waktu dan kawan sejawat. Tidak dapatkah kita mencontoh etos yang baik dari Jepang?

4

Yang saya heran, rata-rata orang Indonesia yang di Jepang adalah pelajar berbakat yang mendapat beasiswa. Jika tidak ambil program master, ya doktor. Beasiswa berarti: ada orang atau lembaga melihat prestasi akademiknya baik dan layak dibayari sampai mentok. Tapi prestasi akademik dan jenjang akademik yang sedang ditempuh tidak menentukan pengetahuan etos sosial. Dua hal itu juga tidak menentukan orang punya empati atau tidak. Empati (menempatkan diri dalam perasaan dan pikiran orang lain) adalah buah pendidikan keluarga dan sekolah, selain merupakan bakat.

Kesimpulan saya boleh jadi sepele dan ini merupakan kesan pribadi semata: Jepang tidak mengubah perilaku dan etos kita. Kita terlahir dan besar di negara yang sebagian besar orangnya beragama. Bagi yang Islam, menghargai waktu adalah tuntunan agama yang konformal terhadap alam. Jika tidak, mengapa sholat ditentukan waktunya dengan tepat dan mengikuti musim? Penghargaan terhadap waktu sangat krusial. Yang kedua adalah ketenangan. Orang dikatakan baik jika ada interaksi antara dia dengan orang lainnya; jika tidak, maka dia baik hanya untuk diri sendiri. Dalam Islam, sholat membuat orang jadi baik. Tapi kenapa orang-orang Indonesia yang dominan Islam itu (yang mungkin rajin sholat), tidak bisa menghargai orang Jepang yang menyukai ketenangan? Bisakah kita memberi manfaat “ketenangan” kepada lingkungan, kepada orang Jepang? Kita tamu di negeri asing; tamu haruslah menghargai tuan rumah, bukan?

Mengutip Muhammad Abduh (1849-1905) modernis Islam asal Mesir, dan memodifikasi sedikit:

I went to Japan and saw Islam, but no Muslims; I got back to Indonesia and saw Muslims, but not Islam.

Inti dari tulisan ini adalah jalan menuju perubahan. Kita harus menemui persimpangan dengan banyak pilihan dulu sebelum tahu tujuan kita. Dalam memilih, kita mungkin melakukan kesalahan seperti yang disebut di atas. Namun, masih ada waktu untuk berubah. Tuhan masih berbaik hati memberikan nafas dan rizki lain yang baik. Tahun ini kita harus berubah. Tinggalkan keburukan di 2011.

2 thoughts on “Jepang Tidak Mengubah Kita

  1. Waduh, saya harus mengklarifikiasi sesuatu nih:
    “Di sebuah perusahaan penyiaran Jepang, konon, pojok yang paling ramai (entah akrab atau berisik) adalah pojok Indonesia.”
    Sebagai bagian dari pojok tersebut, saya rasa statement ini kurang tepat, karena pojok yang digosipkan paling ramai adalah pojok negara2 tetangga Asia lainnya. Saya rasa teman2 lainnya di pojok indonesia akan membenarkan ketika saya bilang bahwa kami juga sangat terganggu dengan obrolan2 dari pojok2 tetangga. Berisik bo. Namun karena penempatan meja memang harus dilakukan berdasarkan region, maka tak terpisahkan pula indonesia dari wilayah asia. Dibanding bahasa lain, mungkin indonesia bukan yang paling sepi, tapi jelas bukan yang paling ramai.
    Sekian dan terima kasih.
    PS: love the writing ^^

  2. Pingback: Empat Hal « Random Notes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s