Majapahit: Prelude


Karena nganggur pasca-sidang saya menyibukkan diri membaca beberapa buku. Pertama, Gajah Mada karangan Langit Kresna Hariadi. Sementara ini baru membaca buku pertamanya. Nanti dilanjutkan buku ke-2 sampai ke-5 (jika kuat).

gajah-mada-1

Sebelum membaca buku itu, saya sebenarnya ingin mencari tahu biografi mahapatih yang paling terkenal di Indonesia itu. Masa lalunya memang obscure atau samar. Karena itu saya membaca buku kedua, A History of Modern Indonesia Since C. 1200 karangan MC Ricklefs. Buku itu juga mengatakan bahwa sosok Gajah Mada terutama asal usulnya memang tidak diketahui. Buku Ricklefs cukup mengagumkan sebenarnya karena ia memiliki sumber yang jelas. Jika sumber tidak ada, ia tidak berpanjang-panjang menjelaskan. Karena buku itu buku kuliah.

rick

Sulitnya, buku Gajah Mada karangan LK Hariadi itu merupakan percampuran antara fiksi dan non-fiksi. Mana yang fakta, mitos atau rekaan jadi tidak diketahui. Buku itu tujuannya memang untuk menghibur pembaca dengan cerita sejarah. Untuk pembaca yang serius, agaknya berbagai keterangan harus diperiksa ulang. Cuma saya memang terserap dengan cerita Gajah Mada. Sosok Gajah Mada digambarkan sebagai seorang bekel (semacam komandan pasukan kecil) yang serius, lugas (tanpa basa basi), intelek, strategik, lurus. Ada keinginan juga untuk menuliskan biografi Gajah Mada secara lebih mendalam dengan sumber-sumber yang lebih jelas. Yah, suatu hari nanti … alasannya sederhana. Majapahit adalah kerajaan terbesar di Asia Tenggara sebelum kedatangan Islam, dan wilayah kekuasaannya jauh lebih besar dari Indonesia masa kini. Salah satu penyebab besarnya wilayah kekuasaan Majapahit adalah keinginan kuat Gajah Mada untuk menyatukan seluruh kepulauan Nusantara.

Buku, atau lebih tepatnya artikel, ketiga yang saya baca adalah tentang Hayam Wuruk. Hayam Wuruk adalah raja Majapahit yang terkenal. Jaman SD saya sudah mendapat keterangan dari guru bahwa jaman keemasan Majahit mencapai puncaknya ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk, dan mahapatih ketika itu Gajah Mada. Ada satu makalah pendek yang menyebutkan bahwa Hayam Wuruk sempat selama dua bulan berkelana mengelilingi Jawa Timur untuk rekreasi dan melihat-lihat wilayah kekuasaannya. Salah satu obyek wisata yang dikunjunginya adalah Tanjung Papuma di Jember. Hayam Wuruk juga melewati Bondowoso, dan melewati belantara Jati di dekat pemandian Tasnan. (Link: http://www.iias.nl/nl/39/IIAS_NL39_17.pdf )

Advertisements

Sidang 1


Sidang PhD diadakan di kampus pada 26 Desember, pukul 10:00. Ruangannya Seminar Room 1-1. Ruangan kelas yang cukup untuk menampung 24 orang. Ruangan ini dilengkapi white board dan multimedia. Pukul 9:45 saya mengambil kunci di Satpam, lalu bergegas ke Ruang 1-1. Di dekatnya, ada lobi kecil dengan sofa biru dan alat penguji tekanan darah (karena dekat ruang klinik kampus). Ada dua penguji yang sudah menunggu. Sebut saja HS dan SK. HS terkenal cukup tajam jika bertanya. Selain tajam, juga banyak sekali pertanyaannya. SK kelihatan kalem; lebih tepatnya dingin.

Setelah menyalakan laptop dan menyambungkannya ke proyektor infokus, saya memeriksa apakah slide dapat dibuka dengan baik dan nampak jelas. Slide nampaknya lancar terbuka, meski sebelumnya agak berat dibukanya. Maklum laptop sudah berusia 3 tahun lebih (hard disk udah 80% terisi; memori nampak kecil dibandingkan standard sekarang) dan ukuran file PPT lebih dari 300 MB (penuh gambar X-ray resolusi tinggi). Pointer dengan infra-merah sudah di tangan.

Tak berapa lama, penguji lain datang. Inisialnya KK. Rambutnya (seperti biasa) nampak basah. Wajah dan posturnya yang agak besar nampak segar. Tepat pukul 10:00, advisor saya NW masuk ruangan sambil membawa satu binder besar berisi thesis dan beberapa dokumen. Kedatangannya bersamaan dengan penguji terakhir yang namanya tidak masuk list. Penguji terakhir ini diputuskan secara mendadak di rapat fakultas. Katanya, penguji PhD harus tiga orang yang berasal dari departemen yang sama; bukan dua orang seperti sebelumnya. Entah apa alasan penambahan jumlah penguji dari departemen yang sama ini. Tapi, tidak ada pilihan lain, seseorang harus mau menjadi penguji. Penguji terakhir ini yang berinisial MA dipilih karena project leader di riset kami. Bidangnya bukan aerospace structures & materials, tapi fluid dynamics. Agak tidak nyambung, tapi dia tetap hadir dan menjadi penguji. Jadi, penguji dari dalam departemen adalah MA dan KK, sedangkan penguji dari luar adalah HS dan SK. Cukup menegangkan juga karena biasanya teman lain ada yang menghadapi ‘hanya’ dua penguji; itu pun satu universitas.

Kode busana untuk mahasiswa yang menjalani sidang PhD tidak se-elegan di TU Delft, Belanda, yang memakai tuksedo. Di sini, cukup jas, dasi dan kemeja. Alasan pertama karena musim dingin. Dulu, ketika seseorang melakukan sidang PhD pada musim panas, ia hanya memakai kemeja lengan panjang dan dasi saja. Dalam sidang ini, seperti biasa NW memakai jas dan kemeja kotak-kotak favoritnya; MA memakai jas dan sweater hitam; HS memakai jas juga; KK memakai sweater hitam, sandal dan kaus kaki; SK memakai jas dan dasi. SK nampak formal dan tetap dingin.

Seminggu sebelumnya, saya mempersiapkan slide. Awalnya berjumlah 100an halaman. Kemudian membengkak jadi 120an. Total waktu yang disediakan untuk presentasi adalah kurang dari 60 menit. 60 menit selanjutnya digunakan untuk tanya jawab. Beberapa hari menjelang sidang saya latihan dua kali. Satu kali latihan sendiri di lab, dengan catatan waktu 53 menit. Latihan kedua di rumah, dengan catatan waktu 58 menit. Itu pun sudah ngomong ngebut. Bahkan, bahasa Inggris dan Jawa bisa becampur aduk.

Tepat pukul 10:00 pembimbing saya membuka defense meeting (pertemuan untuk mempertahankan disertasi). Pertemuan itu dibuka dengan menyebutkan siapa yang akan diuji dan judul thesis. Dia sekali membaca dokumen proposal. Singkat sekali pembukaannya. Kurang dari dua menit. Ini memang khas pembimbing saya yang tanpa basa basi namun berwajah smiley. Ketika dia memberikan pembukaan itu saya sibuk berdoa supaya mendapat kemudahan dalam menjalani sidang. Sebenarnya tidak gugup atau deg-degan, tapi agar pertanyaan-pertanyaan yang muncul tidak bersifat menjatuhkan atau mengandung major revision. Setelah itu saya langsung tancap gas presentasi. Pertama saya ucapkan terima kasih kepada para penguji karena telah hadir pagi itu. Selanjutnya saya langsung menerangkan intisari dari disertasi. Ada tujuh bab. Setiap bab mungkin berisi antara 7-15 slides. Bab 2 paling banyak slide-nya. Setelah saya presentasi, saya lihat jam, wah sudah ngomong 75 menit! Tidak terasa. Pantes kok agak munthuk. Dan lupa pula membawa minum! Kering kerontang!

Setelah itu, penguji dipersilakan memberi pertanyaan. Sepertinya, urutan pemberi pertanyaan didasarkan pada umur dan pengalaman dalam bidang tersebut. Oleh sebab itu, HS diberi kesempatan pertama. Seperti dikatakan sebelumnya, HS cukup terkenal di Jepang untuk bidang saya, pernah menjadi ketua society-nya dan kalau bertanya tajam dan banyak. Pagi itu, dia (surprisingly) kalem sekali bertanyanya. Wah kaget juga saya. Betapa kalemnya orang ini, tidak seperti biasanya kalau berbicara one-on-one. Mungkin juga karena ada penguji terakhir, yang notabene adalah dekan di kampus. Agak sungkan, ceritanya. Atau doa saya terkabul? Dia memberi pertanyaan-pertanyaan pendek. Saya jawab dengan pendek juga: clear and crisp (begitu pengalaman kerja di Hitachi dulu). Pertanyaannya bersifat verifikasi, bukan menguji. Setelah 15-20 menit kita tanya jawab, selanjutnya kesempatan diberikan kepada SK. Oiya, ketika saya tahu bahwa pengujinya adalah HS dan SK, saya buru-buru men-download semua paper yang mereka pernah terbitkan (tentunya mereka sebagai penulis pertama, karena pasti mereka sendiri yang menulis, bukan orang lain). Jadi saya sedikit banyak memahami latar belakang dan pengetahuan mereka tentang bidang saya. “Know your enemy’s background” – ini seperti cerita Benjamin Disraelli ketika perang di Afrika. Saya sudah baca beberapa paper SK. Awalnya, SK memberikan rekognisi bahwa pekerjaan PhD ini cukup banyak, namun pada akhirnya harus disimpulkan sebagai satu kesatuan, apa yang pembaca dapat pelajari dari disertasi itu. Singkat saja. Tuliskan satu rekomendasi. Selanjutnya dia diam. Kemudian kesempatan bertanya diberikan kepada KK. KK mengatakan pertanyaannya senada, bahwa harus ada satu usulan bagaimana supaya ini begini, ini begitu. Singkat saja. Kemudian, MA diberi kesempatan bertanya. Karena awam dengan bidang, maka pertanyaanya bersifat umum namun kritikal. Jadi jawabannya juga umum, agak panjang agar dapat men-dispute kritik tersebut. Kemudian, pertanyaan diberikan lagi kepada HS. HS memberikan pertanyaan pendek-pendek, banyak sekali. Sifatnya verifikasi dan finding out the truth; bukan menguji. Setelah melihat jam, ternyata waktu sudah menunjukkan 12:30. Sidang harus diakhiri. Setelahnya, para dosen merencanakan pertemuan kedua. Presentasi kedua yang akan dilakukan akhir Januari. Tepatnya 23 Januari pukul 17:00. Ini sidang terbuka, jadi siapa saja boleh datang dan bertanya. Semacam public hearing. Katanya, yang paling menentukan adalah sidang tertutup hari ini; bukan yang terbuka. Alhamdulillah sidang terlewati dengan lancar berkat doa banyak orang.

***

Beberapa hal yang saya dapatkan hari itu dan beberapa tahun terakhir: good questions lead to good finding (if answered); be frank about everything; even the toughest has a moment of fatigue (to question things); kindness leads to kindness; maintaining harmony above your ego is a key to success in Japan (or, the world at large).

Dalam hidup kita tidak boleh judgemental, gampang sekali menilai. Misal, anak ini pintar, anak ini rajin. “Pintar” dan “rajin” di Indonesia menjadi dikotomi paradigma yang berbahaya. Anak yang pintar cenderung dipuji. Pintar ini berarti bahwa dia cerdas, cepat memahami sesuatu, cepat menyelesaikan sesuatu. Belum tentu rajin, dan tidak perlu rajin. Rajin di Indonesia berarti kurang cerdas, tetapi meluangkan banyak waktu untuk belajar dan akhirnya menguasai sesuatu.

Nobody knows exactly one’s intelligence level; no use of measuring it; leading to a conclusion that IQ test, rank in class, and GPA should be banished; but, this unfortunately the world we only imagine – Lennon’s dream. 

Di Jepang kedua kata ini (rajin dan pintar) memang ada, tapi jarang dipakai. Di Jepang, orang dinilai dari karya dan hasil terlepas itu dihasilkan oleh orang pintar atau rajin. Misal: ketika seseorang tidak dapat masuk universitas favorit, ia tidak dikatakan tidak cukup pintar/rajin, tapi karena nilainya memang tidak cukup untuk masuk universitas favorit; bukan masalah pintar atau rajin.

Di Jepang (atau dimanapun di dunia), tidak ada orang yang tidak bisa dilatih. Semua bisa dilatih hingga ahli. Oleh sebab itu, Jepang relatif lebih maju dibanding negara Asia lainnya. Semua orang diasah potensinya. Mungkin karena negara ini sudah belajar bagaimana orang yang dikategorikan dan dipuji-puji “pintar” itu ternyata useless karena mereka tidak konsisten melakukan sesuatu, tidak menghasilkan apa-apa kecuali pujian sesaat. Beberapa tahun terakhir ini, saya menyadari bahwa yang mampu mengubah dunia adalah pembaharu dan hasil karyanya. Karya itu memang dihasilkan dari kecerdasan, tetapi lebih banyak karena kerja keras. Lain dulu lain sekarang. Setiap orang memiliki tipping point, meminjam istilah Malcolm Gladwell. Setiap orang mempunyai titik balik, kapan dia menyadari dia melakukan kesalahan dan berubah menjadi lebih baik. Jika kita mempunyai passion terhadap sesuatu, tekunilah, jalanilah dengan sepenuh hati. Cari hal yang niche, yang tidak dilakukan banyak orang. Di sana kita dapat berkontribusi karena terpacu untuk memikirkan hal-hal yang orisinil; bukan daur ulang. Kita jangan merasa inferior, anggap semua sama. Kita juga jangan merasa superior, karena di atas langit masih ada langit (bahkan kitab suci-pun melukiskan strukturalisme dari langit). Merasa biasa-biasa saja, lakukan apa yang ditekuni dengan sepenuh hati. Hasil akan mengikuti. Lupakan masa lalu. Itu bukan cerminan masa depan. Yang menentukan masa depan adalah keputusan untuk menjalani sesuatu. Di situ kita belajar menerima efek dan konsekuensinya. Di situ kita belajar mengenai kehidupan dan persona-personanya.

Everyone can get Ph.D. What you need to do is to find your own subject, and work on it with all your heart.

Vitae


Bagian yang biasanya ada di halaman belakang disertasi adalah vitae atau riwayat hidup. Biasanya tidak sampai satu halaman. Setengah atau seperempat halaman saja. Bingung juga mau nulis apa. Kalau nulis riwayat sekolah dan kerja itu sudah biasa. Tapi masa mau nulis riwayat pendakian di gunung-gunung di sekitar Jember hehe. Setelah mencari-cari ide, nemu satu disertasi orang Indonesia dengan vitae yang masyaallah canggihnya.

Ini dia vitae beliau:

The author was born in Amsterdam, The Netherlands, on June 6, 1964. He received his elementary and secondary education in Leiden, Paris and New Delhi. Subsequently he completed his Bachelor of Arts in Graphic Design at Rotterdam School of Arts (1983), Diploma of Engineering at Delft University (1985) and Master of Science in Civil Engineering through a sandwich program between Bandung Institute of Technology and University of Munich (1986). He worked briefly for CASA (Spain) – Indonesian Aircraft Company joint-project before entering the graduate program in Aerospace Engineering Department at Virginia Tech. After graduation, he plans to continue his arts study at Yale University.

Hint: dulu saya pernah diajar oleh beliau ketika kuliah S1. Saat ini saya baru menyadari arti kata prodigy dan makhluk demikian itu memang ada. Bayangkan, menuliskan persamaan selama satu semester kuliah Matematika Teknik tanpa pernah membuka buku sama sekali.

Kayaknya susah dicontek vitae di atas itu hehe.

Mountmag


Wah senang juga hari ini. Ternyata artikel yang dikirim ke Mountmag tentang pendakian ke Gunung Fuji dimuat juga oleh editor. Mountmag adalah e-magazine tentang ekspedisi alam bebas berbahasa Indonesia. Layoutnya bagus. Artikel itu dimasukkan ke bagian Journal. (Thanks Mas Harley Sastha!). Kebetulan 11 Desember adalah hari gunung internasional.

Link: http://mountmag.com/category/journal/

Teman (Doni Sispena 18) meng-capture screennya. Ini dia:

f1  f2  f3  f4

Penguji


Di Jepang, atau lebih tepatnya di kampus saya, prosedur menjelang kelulusan PhD adalah sebagai berikut:

  • Mendapatkan persetujuan dosen pembimbing untuk menulis disertasi (di sini disebutnya dokuta rombun – doctor’s thesis)
  • Memasukkan semua draft bab disertasi kepada pembimbing untuk diperiksa
  • Mengisi formulir pengajuan disertasi yang berisi ringkasan 500-1000 kata dengan perincian bab serta hasil-hasil utama, daftar publikasi selama riset, riwayat hidup dan pekerjaan, nama-nama penguji
  • Memasukkan formulir ke tata usaha, dibarengi tiga kopi draft disertasi
  • Menemui para penguji (yang boleh jadi beda universitas atau bahkan beda kota)
  • Mempersiapkan sidang

Yang cukup menarik adalah bertemu para penguji. Kita bisa melihat respon mereka dan bagaimana mereka melihat hasil karya kita. Yang selalu saya ingat ketika menyerahkan disertasi adalah pesan keempat David Foster dalam “10 tips for songwriter” di Youtube. Konteksnya mungkin beda, tetapi persamaannya adalah kita memproduksi suatu karya. Apa saja.

Don’t be too precious about your craft. We’re making music for the heart, but we’re not curing heart disease. There’s only 26 letters and 12 notes. And, Shakespeare and Beethoven said it better than any of us ever will.

Saya kurang tahu apa pesan yang ingin disampaikan David Foster. Tapi kira-kira begini kalau untuk konteks riset: jangan terlalu bangga dengan hasil riset kita; jangan terlalu ambisius untuk menghasilkan penemuan hebat; yang penting kita bikin berkontribusi untuk ilmu pengetahuan; ikhlas saja; mungkin tidak semua orang beruntung mendapatkan problem yang mahapenting dan akhirnya berhasil mencari solusinya (kemudian mendapatkan worldwide recognition atau Nobel Prize).

Kalau maknanya kurang pas, ya mohon dimaklumi.

Kembali ke penguji. Jadi intinya, setiap kali menemu penguji, saya berusaha ikhlas dan apa adanya. Sudah berusaha maksimal.

Di Jepang, janjian dengan orang harus tepat waktu. Janji jam 10:30. Artinya kita mengetuk pintu jam 10:30. Tapi mungkin ada yang tidak strict, cuma kebanyakan sih tepat waktu. Jadi predictable. Mungkin gara-gara dikondisikan sistem kereta dan bus kota.

Setiap kali mengetuk pintu dosen penguji, saya selalu tepat waktu. Ada tiga penguji. Penguji pertama, dia satu departemen. Jadi lokasinya masih dekat lab. Saya ketuk pintunya, dia menyahut “Haik!” dari dalam. Saya kemudian membuka pintu, dan penguji pertama tersenyum. Dia memang sumeh. Bahasa Inggrisnya agak kurang lancar; mungkin karena tidak terbiasa ngobrol dalam bahasa Inggris. Kemudian dia bilang: saya akan periksa thesis ini dengan hati-hati. Setelah membicarakan rencana ujian lisan, saya pun pamit. Paling hanya lima menit saya ada di ruangannya. Yang unik juga, meja kerja penguji satu ini tersembunyi di balik lemari. Ngumpet. Persis seperti pembimbing saya.

Penguji dua lokasinya di kampus lain, meskipun universitasnya sama. Departemennya lain. Saya janjian pagi hari. Setelah mengetuk pintu, dia juga menyahut “Haik!”. Saya membuka pintu, dia tersenyum menyambut saya. Meja kerjanya pun tersembunyi di balik lemari. Dia kemudian mempersilakan saya duduk. Dia cepat-cepat memeriksa thesis saya. Membuka halaman pertama, memeriksa satu per satu judul babnya. Memeriksa topik-topik per bab. Kemudian ke halaman belakang. Dia mencari daftar publikasi. Kemudian dia menghitung, sudah berapa paper internasional yang saya terbitkan. Setelah dia menghitung, dan mengatakan “Oh sudah tiga paper.” kemudian dia menanyakan kapan mau sidang. Saya bilang akhir Desember dan akhir Januari. Jadi dua kali sidang. Dia kemudian bilang, nanti kita akan rapat bersama pembimbingmu untuk menentukan jadwal. Kemudian, saya mengatakan bahwa penguji saya bernama X. Dia bilang, wah itu penguji tiga kamu ya? Dia orangnya strict. Kalau nanya severe banget. Saya bilang ya gimana lagi, dipilihin pembimbing saya.

Penguji ketiga, yang dibilang strict, adalah orang terakhir yang saya temui. Kantornya di universitas lain. Sebenarnya hanya 30-40 menit naik kereta ke Tokyo pusat. Kampus universitas swasta. Dia dulunya pernah menjadi ketua society untuk bidang saya. Jadi sudah pasti expert sekali dan severe! Dia yang minta draft thesis dikirim lewat email dulu sebelum menyerahkan aslinya. Ketika saya sampai disana, dengan ramah dia menyambut. Seperti biasa, orangnya memang ramah. Murah senyum. Dia sudah memeriksa satu bab. Itu sudah penuh coretan. Dia hanya bilang, saya hanya menandai bagian-bagian yang saya merasa tidak comfortable. Weks! Banyak sekali yang dia tidak comfortable. Bagian yang dia tidak nyaman biasanya yang berupa proposisi atau usulan. Dia menyanggah, mempertanyakan, meyakinkan, benar atau tidak. Saya bilang saya yakin 100%. Ya gimana lagi, kalau tidak yakin ya jangan ditulis. Oiya, dosen penguji ini mejanya tidak tertutup lemari. Kita bisa lihat meja kerjanya, meski tidak menghadap pintu. Menyamping. Kita bisa lihat juga di monitor PC nya dia sedang membuka apa. Dia hanya membuka email. Tipe dosen terbuka, sepertinya. Setelah diskusi sekitar 25 menit, saya pun pamitan. Pulang naik kereta. Dan pada saat naik kereta itu, katanya ada gempa besar. Tidak kerasa. Dan kereta tidak dihentikan.

Saya selalu mengatakan pada diri sendiri, jika penguji itu galak, dalam arti memeriksa dengan rinci apa yang kita tulis, itu memang tugas mereka. Tugas mereka adalah memastikan apa yang kita tulis dapat dimengerti dengan baik dan memberikan kontribusi kepada bidang yang diteliti. Mudah-mudahan tidak ada yang menjatuhkan ketika sidang. I hope God will really take care the rest, after I did my best.

Draft


Akhirnya draft disertasi itu selesai juga. Sudah di-print dan dikirim ke penguji (examiner) besok. Sempat putus asa juga karena bulan lalu hanya tiga bab yang baru selesai. Itu pun penuh dengan coretan tangan pembimbing. Awal November, tiga bab itu belum sempat diperbaiki sama sekali.

Sepulang dari Malaysia tanggal 9 November, disertasi langsung dikebut. Target: disertasi 7 bab selesai dalam 7 hari! Kerja gila-gilaan pokoknya. Pagi ke kampus, dini hari baru pulang. Tanggal 19 November harus dimasukkan ke pembimbing untuk diperiksa. Seminggu kemudian, revisi ke-2 masuk, tapi hanya satu bab. Dua minggu kemudian, revisi ke-3 masuk, itu pun hanya satu bab lain. Nampaknya pembimbing sudah tidak banyak komentar. Atau kecapekan juga?

Tanggal 3 Desember, akhirnya draft disertasi masuk ke tata usaha. Artinya, ia sudah bakal masuk panel di departemen dan fakultas. Tapi katanya masih bisa direvisi sampai tanggal 12 Desember.

Hari ini, draft disertasi itu selesai juga. Tadi sempat memeriksa dan membaca ulang. Aduh capek. Sudah tidak tahu mau ditambahi apa lagi. Perubahan-perubahan, jika ada, hanya minor. Jadi, biarlah examiner yang memeriksa.

Desember akhir dijadwalkan sidang tertutup, dihadiri pembimbing dan tiga penguji. Januari akhir dijadwalkan sidang terbuka. Sidang terbuka atau seminar itu boleh disaksikan banyak orang. Semua orang boleh bertanya.

I dedicate my dissertation to my late father.

After his departure, he frequently appears in my dreams, until today. He is never away. His smile portrays my dreams a lot. His spirit often stays with me throughout the course. But something is actually missing: his tireless support in the form of delightful questions over the phone. I can only imagine, just imagine, he may ask this: what’s your dissertation about? Answering such question is no easy task. But, I may propose this answer: finding out whether something is suitable and safe for an aircraft. Then, the discussion begins. I missed the small talk over dinner (in Bondowoso). It was the only venue I could exert all my energies to simplify delicacies I’ve been chewing without worries that someday, somebody who pays taxes comes and asks me: what have you done with my money, anyway? In such circumstance, straight answer is compulsory and required. No turning back. Just simplify, as much as you can. That’s what dissertation all about. The meaning of it all.