Orang Melayu pada Periode Meiji


Prolog

Saya menemukan artikel menarik tentang sejarah orang Melayu/Muslim pada periode Meiji di internet. Artikel ini ditulis oleh Michael Penn, direktur Shingetsu Institute (sebuah lembaga pengkajian perkembangan Islam di Jepang dan dunia). Judul artikelnya adalah Malay Muslim in Early Meiji (2008).

Setelah membaca artikel itu, pertanyaan yang mengganggu adalah bagaimana penulisnya tahu bahwa nama-nama orang “Melayu” yang disebutnya, misalnya Ketchil atau Katchung, adalah muslim? Setelah beberapa hari bersabar, akhirnya saya beranikan diri mengirim e-mail kepada penulisnya.

Dapatkah saya tahu bagaimana anda mendefinisikan Melayu atau Muslim? Definisi ini tidak saya temukan di dalam artikel. Melayu, seperti yang saya pahami, adalah penduduk asli Asia Tenggara khususnya Malaysia, Singapura dan Indonesia. Mereka berbahasa Melayu atau bahasa turunan Melayu. Tetapi sebagian dari mereka bukanlah muslim. Apakah anda mengidentifikasi Melayu Muslim dari nama? [Dalam artikel anda] Abdool Saliman adalah nama Arab; jadi, kemungkinan besar dia adalah muslim. Namun, bagaimana dengan Ketchil dan Katchung? “Ketchil” sebenarnya kecil dalam bahasa Indonesia/Melayu. Atau, Katchung berarti pembantu dalam bahasa Jawa. Sebagian orang Jawa yang hidup di masa lalu mungkin tidak memeluk suatu agama.

Penulisnya dengan cepat membalas:

Saya setuju dengan pembedaan definisi antara istilah Melayu dan Muslim. Namun, koran-koran Inggris  yang saya gunakan sebagai referensi hanya menyediakan bukti yang sepotong-sepotong. Saya percaya bahwa sebagian besar orang yang dikenali sebagai Melayu pada sumber-sumber tertulis abad 19 kemungkinan besar adalah Muslim, meskipun sulit mengatakan mereka Muslim yang taat atau tidak. Seperti yang anda sebutkan, seseorang bernama “Abdool Saliman” adalah kasus yang jelas. Dalam beberapa hal, saya mengasumsikan bahwa beberapa orang yang dikenali sebagai Melayu adalah Muslim — ini akan membuat mereka setidaknya jadi pionir. Tapi untuk menjawab pertanyaan anda, iya, saya harus membuat kesimpulan atau deduksi sendiri karena sumber-sumber tertulis yang saya gunakan tidak menyediakan keterangan biografis yang lengkap.

Terjawab sudah penasaran saya. ‘Tokoh-tokoh’ Melayu, selain Maharaja Johor, yang ditulis dalam artikel diasumsikan beragama Islam; padahal bisa jadi tidak beragama. Konsekuensinya, seorang penulis harus berani mengambil kesimpulan dari serpihan fakta, atau bahasa keren-nya “inference”. Karena beberapa tokoh tidak jelas agamanya, maka untuk artikel ini saya ganti judulnya dengan orang Melayu saja, tapi tidak Melayu/Muslim.

Terlepas dari polemik ringan itu, cerita tentang orang Melayu di Jepang pada era Meiji memang menarik.

***

Adakah orang Melayu di Jepang pada era Meiji (1868)?

Setelah Jepang membuka dirinya kepada orang asing pada tahun 1868, banyak kapal dagang berlabuh di kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo, Yokohama dan Nagasaki. Pada awal periode Meiji itu, adakah orang Melayu di Jepang? Inilah pertanyaan yang ingin dijawab oleh Michael Penn dalam makalahnya yang berjudul “Malay Muslims in Early Meiji Japan” (Shingetsu Institute, Vol. 4, 2008).

Dalam mencari jawab, Penn meneliti sejumlah koran, misalnya Japan Weekly Mail, Japan Gazette, Jiji Shinpo, Choya Shinbun, Yubin Hochi Shinbun, Tokyo Nichi Nichi Shinbun dan Tokyo-Yokohama Mainichi Shinbun, yang memberitakan orang Melayu pada 1870an hingga 1880an.

Diceritakannya bahwa kapal dagang yang tiba di Yokohama sebagian berbendera Inggris dan Belanda. Kapal kedua negara inilah yang membawa penumpang Melayu dari Malaysia, Singapura dan Indonesia. Sedikitnya ada dua kelas Melayu yang singgah di Jepang pada periode Meiji ini. Yang pertama adalah kelas anak kapal. Yang kedua adalah kelas raja Melayu yang diwakili Maharaja Abu Bakar dari Johor.

Awak Kapal

Agak disayangkan memang bahwa berita tentang orang Melayu yang bekerja sebagai awak kapal Inggris atau Belanda selalu terlibat tindak kejahatan. Pemberitaan ini sebenarnya wajar karena wartawan yang meliput berita adalah wartawan Inggris yang bekerja di pengadilan Konsulat Inggris atau Belanda. Penn juga mengatakan bahwa wartawan ini agaknya kurang bersimpati kepada penduduk kelas bawah.

Kasus yang tercatat pada bulan Juni 1872 melibatkan dua orang Melayu, yaitu Abdool Saliman dan Ali Pi Pie. Mereka berkelahi menggunakan pisau. Setelah diadili, mereka dipenjara selama tujuh hari. Pada Agustus 1877, awak kapal ‘Sunda’ yang berasal dari Jawa bernama Kecil menuduh kawannya Suriman menusuknya dari belakang. Kasus penusukan ini terulang lagi pada April 1880. Nelayan kapal ‘Sunda’ bernama Mael dihukum karena menusuk Kacung yang sebelumnya bertengkar dengan Cassim. Dari catatan pengadilan, Mael dan Cassim berasal dari Singapura.

Pada Maret 1873, orang melayu bernama Amaeu dinyatakan bersalah karena menelantarkan kapalnya. Pada musim panas 1875, dua orang Melayu ditemukan bergelandang di Yokohama. Keduanya diserahkan ke pemerintah Jepang dan Belanda. Jumlah awak kapal Melayu yang berada di Jepang terus menurun sejak Desember 1894. Mereka mengundurkan diri dari pekerjaannya, dan kembali ke Asia Tenggara. Alasannya bahwa cuaca Jepang terlalu dingin.

Maharaja Johor

Pada 1883, Maharaja Abu Bakar dari Johor mengunjungi beberapa kota besar di Jepang. Ia pernah menjadi Temenggong Johor pada 1864, Kaisar pada 1868 dan menjadi Sultan pada 1885. Kunjungan Maharaja Abu Bakar ke Jepang adalah rangkaian perjalanan politik ke Jepang dan Cina untuk memantapkan posisinya di Tanah Melayu sebagai pemimpin masa depan. Bersama 17 orang dari Johor, ia mencapai Nagasaki pada 22 Mei 1883.

Koran Inggris di Jepang menyebutnya ‘Raja Malaka’. Ia juga dikisahkan berumur sekitar 40an, berkulit gelap, berbadan tegap dan berpandangan tegas. Ia juga fasih berbahasa Inggris dan berpakaian Barat, kecuali bahwa ia memakai ‘topi gaya India’. Pemerintah Jepang ketika itu memperlakukan Maharaja Abu Bakar dengan penuh hormat, seperti halnya ketika Jepang menyambut raja-raja Eropa.

Abu Bakar menuju ke Osaka dan mengunjungi area Tennoji, Kuil Sumiyoshi dan Residen Osaka. Abu Bakar lalu melanjutkan perjalanan ke Kyoto pada 24 Mei 1883, dan mengunjungi Kuil Nishi-Honganji, Kinkakuji, Kitano Jinja dan Myoshinji. Ia juga sempat berkunjung ke Nara, dan Great Buddha (Kamakura) pada 28 Mei. Setelah singgah di Tokyo dan Yokohama, Abu Bakar juga mencoba onsen (pemandian air hangat) di Hakone.

Di Yokohama, ia menghabiskan waktu selama satu mingu. Selanjutnya ia pergi ke Kawasaki, Enoshima, Kamakura dan Kanazawa. Di wilayah Kanazawa, beliau disambut oleh Gubernur Oki. Kejadian yang terpenting adalah bahwa pada 26 Juni 1883, Abu Bakar mengunjungi Imperial Palace untuk bertemu Kaisar Meiji.

Abu Bakar mengakhiri kunjungannya di wilayah Yokohama di mana ia menghabiskan lebih dari satu bulan di sana. Pada 1 Agustus 1883, beliau naik kapal surat Mitsubishi bernama Tokyo-Maru menuju Nagasaki. Setelah Nagasaki, ia pergi ke Cina untuk kunjungan politiknya.

Fakta sejarah di atas dapat mengubah pandangan orang bahwa memang ada orang Melayu yang mengunjungi Jepang pada awal periode Meiji.

One thought on “Orang Melayu pada Periode Meiji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s