Dewa Budjana dan Negarakretagama


Pada awal 1990an, nama Dewa Budjana dikenal sebagai gitaris sebuah band bernama Gigi. Meskipun Gigi pada dasarnya melantunkan lagu-lagu pop rock, ornamen musik di dalam karya-karyanya diwarnai akar jazz Dewa Budjana. Budjana (lahir di Sumba pada 1963) belajar gitar jazz dan klasik secara formal kepada Jack Lesmana (ayah Indra Lesmana) ketika ia juga sekolah di SMA 2 Surabaya.

Pada 1997, ia mengeluarkan album solo bertajuk Nusa Damai yang berisi karya-karya instrumentalnya. Lagu-lagunya memakai chord progresif jazz, rock dan diwarnai etnis Bali. Warna pop juga masih terasa. Selanjutnya, ia mengeluarkan album-album solo lainnya: Gitarku (2000), Samsara (2003), Home (2005), Dawai In Paradise (2011) dan terakhir Joged Kahyangan (2013).

Secara pribadi, saya menyukai beberapa permainan solo Budjana dalam lagu-lagunya: Wanita/Trenggono, Adikku, Kromatik Lagi, Joged Kahyangan, Caka 1922, Takana Juo, Shambala (permainan Balawan untuk pertama kalinya tampil dalam album Budjana), Bunga Yang Hilang. Budjana selalu memasukkan berbagai unsur etnis (Bali, Jawa, Minang, bahkan Jepang) ke dalam musik-musiknya. Ia juga meminta bantuan musisi jazz handal (misal: Indra Lesmana) untuk mengaransemen lagunya. Barometer jazz Indonesia kontemporer dapat diketahui dari album-albumnya yang mengawinkan unsur jazz bebop, fusion, dan etnis Indonesia.

Yang lebih menarik dari album Budjana Dawai in Paradise adalah dimasukkannya sebuah ayat dari sebuah canto kakawin Jawa kuno Negarakretagama (disebut juga Desawarnana; diterbitkan pada 1365).

Diyakini, hampir semua orang Indonesia pernah mendengar nama kitab ini, tapi hanya sebagian kecil yang pernah membaca atau melihat isinya. Alasannya sederhana: isinya memang tidak dipopulerkan dalam pelajaran sekolah. Yang dipopulerkan adalah keberadaan pujangga masa lalu bernama Prapanca yang karyanya itu jadi Memory of the World Unesco. Sebenarnya, ini sama artinya dengan tidak mengenal sama sekali kebudayaan Indonesia. Kita hanya tahu nama, tapi tidak tahu isinya. Sayang sekali. Tapi, isi Kakawin Negarakretagama memang sulit dipahami karena ditulis dalam bahasa Jawa kuno (bahkan mungkin proto-Jawa). Hanya orang Bali yang hingga kini masih melestarikan penguasaan bahasa Jawa kuno (yang digunakaan untuk keperluan ritual agama Hindu). Aksara Jawa kuno ini mungkin dekat sekali kekerabatannya dengan aksara yang dipakai orang Myanmar.

JLA Brandes, ahli bahasa asal Belanda, menyelamatkan sejumlah kitab dari Puri Cakranegara milik Raja Bali di Lombok pada 1894. Pasukan KNIL kemudian membakar puri itu. Kitab-kitab Jawa Kuno bisa sampai di Bali (atau Lombok) karena sebagian penduduk Majapahit memang sebagian bermigrasi ke sana setelah kejatuhan Majapahit pada abad 15. Kejatuhan Majapahit sendiri bukan disebabkan masuknya Islam ke Jawa, tetapi karena konflik internal Majapahit setelah Raja Hayam Wuruk mengasingkan Perdana Menteri Gajah Mada ke Madakaripura, Pasuruan. Salah satu kitab yang diselamatkan Brandes adalah Kakawin Negarakretagama.

Kakawin Negarakretagama sebagian besar berisi perjalanan religius Hayam Wuruk ke candi-candi dan desa-desa di Jawa Timur selama dua bulan. Sebagian lainnya berisi tentang silsilah semua raja jaman Singasari dan Majapahit, wilayah Majapahit, dan Hayam Wuruk sendiri. Tapi ada pula beberapa bagian yang berisi tentang penulisnya, sang pujangga bernama Prapanca.

kakawin-negarakertagama

Satu pupuh yang kemudian ‘dipinjam’ oleh Dewa Budjana untuk dicetak di sampul album Dawai in Paradise adalah Pupuh 96 ayat 2:

tan / tata tita tuten, tan tetes / tan tut iɳ tutur, titik / tantri tateɳ tatwa, tutun / tamtam / titir ttitih.

doc002

Dari buku Negarakretagama yang diterbitkan KITLV Belanda saya scan pupuh itu sebagai berikut:

Negarakertagama2

Sampul depannya:

Negarakertagama1

Dalam bahasa Inggris, ayat di atas diartikan sebagai berikut:

The order of the past is the order that should be followed; not correct is not to follow the tuturs (religious books); conscientiously mind the fables; the order of existence; to be kept down is passion; unceasingly arising.

Pertanyaannya, mengapa Budjana memasukkan ayat itu ke albumnya? 🙂

Review 2013


Hari ini mau pergi ke pertemuan teman-teman Indonesia yang kuliah di TMU (PPI-TMU). Katanya mau ngadain pemilihan ketua baru, makan-makan dan perpisahan. Akhirnya, pagi bangun dan saya mesti bikin cumi saus merah (apa aja dimasukin). Ini fotonya.

cumi-saus-tiram

Dulu awal Januari 2013 pernah nulis tentang harapan-harapan yang ingin dicapai tahun 2013. Apa aja yang tercapai ya …

1) Wisuda dan dapat kerja! (tercapai)

Akhirnya wisuda juga tanggal 25 Maret 2013, dan dapat posisi di TMU. Akhir tahun, dapat kerja lagi di universitas lain.

2) Menerbitkan buku (teknik atau humaniora) (tercapai)

Inginya sih menulis buku tentang komposit berbahasa Indonesia, atau menyelesaikan buku sejarah. Tapi tidak berhasil. Yang berhasil menulis thesis tentang komposit berbahasa Inggris. Mirip buku juga sebenernya.

Print

3) Menulis paper di jurnal (tercapai)

Bulan April 2013 memasukkan dua paper ke dua jurnal berbeda (Composites Science & Technology dan Composites Part A). Untuk CST, paper alhamdulillah akhirnya diterima (accepted). Untuk Comp A, paper mesti dirombak dan disubmit kembali beberapa hari yang lalu (sekarang masih under review). Selain itu juga mendampingi teman menulis paper (sebagai co-author). Alhamdulillah papernya diterima juga di Composites Part B. Jadi, dua paper diterima. Paper is a currency of a researcher.

S02663538

4) Beli gitar acoustic electric atau semi-hollow body (mirip punya George Benson) (tidak tecapai)

Ingin sekali main gitar lagi. Tapi berhubung tabungan tidak mengijinkan, maka tidak bisa beli gitar ini.

5) Berlibur ke luar Jepang bersama keluarga (jika masih di Jepang) (tidak tercapai)

Alasannya sama dengan di atas. Tapi alhamdulillah bulan Februari 2014, impian itu tercapai. Disebutnya libur ‘sangat’ panjang! Seperti halnya ke Jepang waktu 4 tahun lalu.

6) Menginisiasi scholarship/fellowship di kampung halaman (tidak tercapai)

Alasannya sama dengan di atas. Tapi kalau mengijinkan, tahun depan mulai diusahakan.

***

Hanya 50% yang tercapai.

Gus Dur


Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (1940-2009) adalah sosok yang kontroversial di Indonesia. Setelah menjadi presiden Indonesia pada 1999, mungkin hampir setiap hari media merilis berita tentang dirinya. Gaya komentarnya yang lugas dan variatif dianggap nyleneh. Opininya yang berganti-ganti mengenai apa saja sering dianggap mencla-mencle. Saya sendiri (jika harus objektif – dan seringkali sulit) merasa bahwa Gus Dur ‘harus’ menjadi seorang presiden kala itu semata untuk beberapa alasan: menghindari perpecahan karena Indonesia belum siap menerima presiden wanita (Megawati); membuka wawasan bangsa mengenai kata ‘demokrasi’; memperbaiki dan menjalin hubungan dengan berbagai negara; memberikan teladan kepada siapa saja mengenai keterbukaan, kesederhanaan, pemikiran intelektual, pembelaan kepada kaum lemah, pluralisme, dan perdamaian. Lebih dari itu, Gus Dur rasanya tidak cocok menjadi presiden. Beliau bukan tipe seorang administrator dengan konsep manajemen kenegaraan yang baik. Manajemen negara yang terencana pernah dicontohkan oleh Suharto (minus gaya represif dan korupsi tingkat tinggi).

Saya mendengar nama Gus Dur mungkin ketika masih umur belasan. Setelah membaca majalah, ayah saya tiba-tiba bilang dalam bahasa Jawa: “Gus Dur ini ketua Nahdlatul Ulama (NU) yang jelas-jelas Islam-nya kuat sekali. Tetapi pemikirannya luar biasa dan sulit dipahami orang awam. Bayangkan, dia menganggap bahwa manusia di dunia ini, meskipun agamanya beda-beda, sebenarnya menyembah satu tuhan.”

Saya ketika itu hanya manggut-manggut saja, meskipun sama sekali tidak paham!

Fast forward. Tahun 1999, saya sering mangkal di kios buku dekat masjid Salman. Sering sekali, mungkin hampir tiap hari. Saya kemudian membeli beberapa buku. Dua buku yang masih saya ingat adalah Tuhan Tidak Perlu Dibela dan Prisma Pemikiran Gus Dur. Buku pertama berisi kumpulan kolom Gus Dur di majalah TEMPO, sedangkan yang kedua dari majalah Prisma. Buku pertama terkesan lebih rileks meskipun yang dibahas adalah hal-hal serius, dan diberi komentar yang substansial. Buku kedua lebih serius (baca: akademik) karena Prisma memang nampaknya dibaca kalangan intelektual bidang sosial; jadi sudah punya segmen yang ketika itu terbatas.

Dari dua buku itu, yang kemudian saya lanjutkan ke buku-buku lain, saya menemukan pencerahan mengenai sosok Gus Dur. Bukan Gus Dur sebagai seorang presiden, tetapi seorang kyai (makna tradisionalnya adalah pengasuh atau guru di pondok pesantren) yang memiliki wawasan ilmu sosial yang luar biasa. Khazanah pengetahuan Islamnya sangat terkemuka (bahkan pemahaman tentang agama-agama lain juga); pengetahuannya mengenai filsafat dan pemikiran Barat juga sangat dalam. Tetapi Gus Dur juga sangat tradisional, sangat Jawa, sangat Indonesia.

Greg Barton kemudian menulis buku biografi mengenai Gus Dur ketika beliau menjadi presiden: Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Greg, yang seorang akademisi dari Australia, mengupas tuntas tentang sosok Gus Dur dari kecil hingga masa dilengserkannya sebagai presiden.

Gus Dur memang bukan lahir dari keluarga kebanyakan. Ia adalah anak kyai juga, yaitu KH Wahid Hasyim, yang pernah menjadi menteri agama jaman Sukarno. Wahid Hasyim punya pemikiran sangat maju sehingga mengijinkan Gus Dur mendapatkan les privat bahasa Belanda dari mu’alaf bernama Iskandar, membaca buku-buku ‘komunis’ (seperti What is to be done karangan Lenin), mendengarkan musik. Saya sendiri tidak pernah membayangkan bahwa seorang kyai akan membiarkan anaknya mendapat privilege (atau diberi ijin) semacam itu. Kakeknya adalah KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Bahkan jika dirunut lebih jauh, Gus Dur adalah keturunan seorang darah biru keraton Yogyakarta (atau Solo ya?) yang berguru langsung kepada Sunan Kalijogo. Jadi, Gus Dur sendiri senantiasa mengidentifikasi dirinya sebagai orang Jawa yang ‘kebetulan’ memeluk Islam, bukan orang Arab atau manapun yang memeluk Islam. Gus Dur juga selalu merasa bahwa tugas dia di Indonesia adalah mempersatukan bangsa yang majemuk dengan berpedoman kepada Al-Qur’an, hadits, filosofi Islam sebagai rahmatan lil-alamin (Islam yang membawa kebaikan bagi semua umat manusia tak membedakan agama, ras apapun), dan nilai-nilai tradisi bangsa. Mudahnya, mendekati orang Indonesia atau memecahkan persoalan di dalamnya tidak bisa memakai cara Romawi, Arab atau Galia, tetapi dengan cara Indonesia; cara, laku, tradisi dan bahasa  yang dipahami orang-orang Indonesia (bukan cara asing).

Gus Dur casing-nya kurang representatif (meskipun masa mudanya usia belasan atau 20an cukup lumayan). Penampilannya apa adanya. Tidak tampan pula. Tetapi kalimat-kalimatnya mengandung kebenaran, meski sering dicap media mencla-mencle. Matanya tidak dapat melihat dengan baik karena otot yang mengendalikan matanya tak berfungsi sempurna. Tetapi daya ingatnya yang luar biasa mengenai apa saja (dari ayat Al-Quran, kitab-kitab kuning hingga novel Satanic Verses – Salman Rushdie) hingga nomor telpon membuatnya representatif untuk sosok intelektual.

Gus Dur mencintai siapa saja, meskipun secara terbuka ia menyatakan bahwa musuhnya hanya satu, yaitu Suharto. Ini pun dia mengatakan bahwa kalau hari raya mereka tetap maaf-maafan. Jadi, intinya dia tidak punya musuh. Kalau meminjam kata-kata Emha Ainun Najib, Gus Dur mencinta pandawa dan kurawa. Dia tetap mencintai siapa saja meskipun dihina dan diolok-olok. Sosok dengan moral absolut seperti ini (menurut Gus Dur sendiri) dimiliki oleh YB Mangunwijaya, arsitek-sastrawan-rohaniwan yang terus membela orang-orang miskin di Kali Code, Yogyakarta. Mangunwijaya adalah sahabat Gus Dur dalam Interfidei.

Tradisi pesantren di Jawa menganggap bahwa ‘kelayapan’ ke pondok-pondok itu biasa. Misalnya, satu tahun di Pondok Tambak Beras, dua tahun di Krapyak, enam bulan di Gontor. Mondok atau meguru yang berpindah-pindah itu biasa. Ini adalah tradisi orang mencari ilmu sejak berabad-abad lampau. Setelah menguasai ilmu dari kyai A, pindah ke ilmu lain dari kyai B. Intinya, terus belajar kepada siapa saja dan di mana saja. Ini adalah bentuk pengembaraan intelektual yang sebenarnya. Rumah baginya adalah tempat di mana langit biru mencurahkan warnanya kepada bumi. Bukan rumah tembok yang kita huni. Dan, sebaik-baiknya manusia adalah yang memberikan manfaat bagi siapa saja (bahkan bagi orang yang membencinya). Ini mungkin pula substansi dari ajaran tasawuf: mempunyai akhlak yang baik dan memberikan cahaya bagi manusia. Tetapi, tentunya, tasawuf pasti lebih dari itu: amalan dan ilmunya pasti juga tinggi, terutama soal ikhlas dan kecintaan kepada tuhan (bahkan mungkin meng-ikhlas-kan tuhan untuk memasukkannya ke surga atau neraka).

Karena mengembara itu biasa, maka Gus Dur pergi ke Timur Tengah pada usia awal 20an, setelah menimba ilmu di beberapa pesantren. Sebelum ke Timur Tengah, pengetahuan bahasa Arabnya sangat baik dan memungkinkannya membaca kitab-kitab kuning yang tanpa harakat. Kitab kuning adalah kitab-kitab yang ditulis ulama atau sarjana Islam mengenai persoalan agama (intinya adalah opini). Gus Dur pergi ke Mekkah-Madinah dulu, kemudian lanjut ke Universitas Al-Azhar di Kairo. Untuk masuk Al-Azhar, setidaknya seorang calon mahasiswa harus hafal beberapa juz Al-Quran (mungkin 12 juz). Setelah masuk, Gus Dur kecewa karena Al-Azhar mewajibkannya mengambil kursus bahasa Arab lagi. Sebagai bentuk protesnya, ia tidak pernah masuk kelas, dan hanya ikut ujian saja. Selama lebih dari 2.5 tahun, hidupnya diisi dengan pergi ke pusat informasi/universitas Amerika di Kairo untuk membaca buku-buku Barat, nonton film, nonton bola, ikut berdiskusi di warung kopi. Kelakarnya, selama 1000 hari di Kairo, ia menghabiskan waktu 500 hari untuk nonton film.

Abdurrahman_Wahid_youth

Karena gagal mendapatkan gelar dari Al-Azhar, ibunya mencarikan beasiswa lain supaya ia bisa lulus. Ia akhirnya berhasil ke Universitas Baghdad dan menyelesaikan sarjana selama 4 tahun. Ia kemudian pergi ke Eropa (ada kemungkinan mampir ke Moskow juga) untuk melanjutkan studi S2 atau S3. Sayangnya ijazah dari Baghdad tidak diakui. Ia akhirnya luntang lantung dari satu perpustakaan satu ke lainnya di Eropa. Ia pergi ke Belanda, Jerman dan Perancis dan membaca buku-buku di perpustakaan di universitas-universitas besar. Semua ilmu Barat dilahapnya.

Bagaimana Gus Dur mendapat uang untuk hidup selama 1.5 tahun di Eropa? Meskipun berasal dari keluarga kyai (yang mungkin berkecukupan), Gus Dur tidak mengandalkan keluarganya. Di Eropa, ia bekerja sebagai tukang setrika di sebuah binatu yang dimiliki keluarga Tionghoa. Di sana, Gus Dur belajar menyetrika baju hingga licin dan melipat hingga rapi. Di sela-sela menyetrika itu pula, ia berinteraksi dengan budaya Tionghoa; kadang juga mendengarkan musik klasik. Selain itu, Gus Dur juga bekerja sebagai tukan pel di galangan kapal. Bekerjanya dua minggu sekali, dan uangnya cukup untuk hidup. Selebihnya, ia menggunakan waktu untuk membaca buku di perpustakaan.

Sepulang dari Eropa, Gus Dur mengajar di beberapa pesantren dan universitas. Hidupnya belum berkecukupan sehingga ia harus membantu istrinya ngider untuk berjualan es lilin dan kacang. Selain itu, ia juga sering menulis untuk kolom-kolom koran dan majalah. Dari pendapatannya ini, ia akhirnya dapat hidup bersama istri dan empat anak perempuannya. Setelah Gus Dur digadang-gadang sebagai calon ketua NU, ia harus pindah ke Ciganjur, Jakarta. Di sana, ia akan lebih dekat dengan titik kekuasaan negara, sekaligus dapat sering berkunjung ke pesantren-pesantren di daerah lain dengan pesawat.

Setelah menjadi ketua NU (1984-1996), Gus Dur melakukan reformasi NU dan pesantren. Studi-studi pemikiran Islam mulai digagas di pesantren-pesantren, bahkan juga studi interpretasi Al Quran yang jaman sekarang mulai ‘diharamkan’ oleh mereka yang berpandangan sempit dan terpengaruh Wahabi). Gus Dur juga aktif membela rakyat kecil karena ikut pula dalam LSM. Protesnya cukup keras terhadap pemerintah (rezim Suharto). Karena Gus Dur semakin populer, pendukung NU semakin besar dan mencapai puluhan juta. Suharto mulai takut sehingga mendirikan ICMI yang dipimpin Habibie. Gus Dur menolak untuk ikut serta dalam ICMI karena ia ingin mengurusi orang-orang kecil, bukan elit politik. Akhirnya Gus Dur berhenti menjadi ketua NU agar dapat berdamai dengan Suharto pada 1996. Pada 1997, krisis moneter menghancurkan sendi-sendi perekonomian Indonesia, dan Suharto dilengserkan pada 1998. Selebihnya, adalah masa-masa Gus Dur menjadi presiden dan tahun-tahun terakhir hidupnya hingga wafat pada 2009.

***

Saya sering dipandang sebagai orang yang mengagumi Gus Dur (atau bahkan simpatisan). Tidak hanya oleh kawan, tetapi juga istri dan keluarganya. Saya biasanya hanya senyum-senyum saja tanpa mengiyakan atau menolak. Saya juga tidak berusaha mempengaruhi siapa-siapa. Saya sendiri bukan lulusan pesantren yang paham ilmu-ilmu agama. Saya juga bukan orang yang bergerak di bidang keagamaan atau sosial. Saya hanya menggemari pemikiran-pemikiran Islam dan Barat serta sosiologi. Keinginan saya hanya ingin memahami respon manusia terhadap suatu paham dan alasan mereka menjadi seperti sekarang. Setiap hal pasti ada alasannya. Manusia bertindak ini-itu karena suatu alasan. Alasannya boleh jadi (dan seringkali) sangat sepele dan dikendalikan hati, bukan isme. Tetapi ada juga yang murni karena isme dan pedoman hidup. Ini yang perlu dipilah-pilah, sehingga pada akhirnya kita sendiri dapat memberikan respon yang pantas. Inti dari kehidupan adalah perdamaian, bukan gontok-gontokan. Nah, sebagian besar pemikiran-pemikiran sebagai suatu respon terhadap persoalan sosial dan politik bangsa kita dapat kita temukan dari buku-buku atau tulisan Gus Dur. Jangan apriori terhadap sosoknya (yang citranya dibuat-buat oleh politicized media). Tapi bacalah dan selami pemikiran-pemikirannya, ide-idenya, referensi bacaan yang bakal membuat anda terpukau dan terus mencari asal-usulnya. Gus Dur memahami pemikiran Islam fundamentalisme, Quran, hadits, tasawuf, ilmu logika, sastra Arab, sosiologi Arab, politik dan peta pemikiran Barat, filsafat Eropa jaman pencerahan, hingga postmodernisme.

Tetapi setelah lebih dari 14 tahun saya membaca Gus Dur, baru beberapa waktu lalu istri saya bilang bahwa ia juga mengagumi pemikiran Gus Dur. Ia tidak pernah menganggap Gus Dur sebagai sosok yang saya lihat selama ini. Alasannya karena memang belum pernah membaca secara detil mengenai pemikirannya. Tanpa saya pengaruhi, ia membaca buku baru Ilusi Negara Islam. Dari situ, barulah ia memahami pemikiran Gus Dur, dan bahaya laten Islam fundamentalisme di Indonesia. Dalamnya tulisan Gus Dur (meski berbentuk kata pengantar saja) juga dapat dibaca di sana.

Link: http://www.libforall.org/pdfs/ilusi-negara-islam.pdf.

***

Hampir lupa, Gus Dur adalah mesin yang dapat mengubah soto Kudus menjadi humor. Artinya, dia gemar makan soto Kudus itu (selain yang lain-lain tentunya) dan suka sekali dengan humor. Humor diciptakan untuk siapa saja, tetapi yang dapat membawakannya hanya orang-orang tertentu. Orang yang pandai ndongeng, orang yang eloquent dalam bahasa, orang yang punya folder memori besar (dan kemampuan retrieve yang baik) khusus untuk cerita lucu. Gus Dur termasuk ketiganya.

Contoh humor Gus Dur:

Suatu hari ada seorang pastor duduk sendirian naik kereta. Kemudian, seorang kyai datang dan duduk di sebelahnya. Hari masih pagi, maka sang pastor membuka sebuah bungkusan berisi sandwich untuk sarapan. Ia menawari kyai untuk sarapan bersama.

“Ini ada sandwich kalau anda mau sarapan juga. Isinya daging babi. Eh, daging babi enak lho…”

Kyai menolak dengan halus, sambil tersenyum.

Setelah beberapa stasiun terlewati, kyai mengatakan kepada pastor: “Maaf saya harus turun di stasiun selanjutnya. Kita berpisah di sini.”

Pastor agak kaget, kok baru duduk sudah mau turun.

“Lho kok buru-buru turun. Mau ke mana?”

“Oh saya mau pulang, mau ketemu istri dulu,” kata kyai.

Kyai lalu melanjutkan sambil senyum-senyum, “Eh iya, kumpul sama istri lebih enak lho …”

Handphone


Handphone (HP) Jepang saya (dengan merk Amadana dan provider Docomo) akhirnya almarhum. Tidak sepenuhnya wafat karena data masih bisa diakses, layar masih bisa menampilkan gambar dengan sedikit bayangan air. HP itu tidak sengaja tercuci pagi ini karena lupa mengeluarkannya dari jaket. HP Amadana adalah gadget komunikasi terlama yang pernah saya pakai. Sebelum kedatangan iPhone, HP Jepang rata-rata modelnya klasik, clamshell atau slide. Isinya luar biasa. Generasinya mungkin lebih dari 3G. Berbagai macam feature ada, dan akses ke internet sudah ada sejak lama. Bahkan e-Money pun ada. Artinya, kita bisa membayar kereta dan makan dengan menempelkan HP ke sebuah tapping panel.

Membeli HP di Jepang dan Singapura mirip. Biasanya orang langsung ditawari 2-year plan, atau kontrak dua tahun. Artinya, kita akan diberi HP dan membayar uang abonemen bulanan. Di Indonesia, ini dinamakan pascabayar. Tambahan fitur, misalnya email atau telpon bebas hambatan, bisa juga dipilih. Tapi biayanya nambah. Harga kontrak HP dua tahun bermacam-macam. Mulai dari 0 yen sampai puluhan ribu yen, tergantung jenis HP dan fitur yang diinginkan. Per bulan, harga abonemennya mulai dari ratusan hingga ribuan yen (1 yen = Rp 110). Ketika membeli HP pertama di Jepang, saya memilih yang “zero yen”. Artinya, kita tidak perlu membayar uang HP; hanya membayar uang bulanan saja. Tapi HP yang diberikan juga HP lama; misalnya, Amadana itu. Di Jepang, Blackberry tidak sepopuler di Amerika atau Indonesia. Orang Jepang jaman sekarang kebanyakan memakai smartphone model iPhone atau Samsung.

Di Jepang, orang jarang sekali memakai sistem prabayar. Kemungkinan karena jatuhnya jadi lebih mahal daripada pascabayar. Lagipula, untuk prabayar kita selalu kerepotan mencari HP sendiri, membeli pulsa setiap bulan. Banyak repotnya, dan lebih mahal.

Kalau hanya sementara di Jepang, misalnya sehari dua hari, orang bisa juga menyewa HP di kounter-kounter bandara. Sewanya agak mahal, tapi lumayan berguna jika hanya beberapa hari, dan perlu cepat menghubungi orang. Daripada memakai telepon umum, lebih baik menyewa HP. Jatuhnya mungkin sama.

***

Setelah kejadian HP tercuci itu, sempat terbayang-bayang HP lama yang pernah dipakai:

  1. 1999 Nokia 5110 (bekas)
  2. 2000 Motorola V8088 (bekas)
  3. 2001 Nokia 3330 (bekas)
  4. 2002 Ericsson T68i
  5. 2003 Nokia 3530
  6. 2005 Nokia 3100
  7. 2006 Motorola RAZR V3
  8. 2007 Nokia E71
  9. 2009 Blackberry Bold 9000
  10. 2009 Amadana
  11. 2013 Sony Ericsson (bekas)

Mobile phones come and go; just like people.

Diponegoro


Meskipun membacanya sepotong-sepotong, buku The Power of Prophecy (Peter Carey, 2007) memang menarik. Buku ini sudah habis cetakannya, tapi bisa didonlod di sini: http://www.kitlv.nl/book/show/1204

Tidak ada orang Indonesia yang tak mengenal Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa (1825-1830) yang termasyhur itu. “Perang Jawa” atau Java War sendiri mungkin nama pemberian sarjana Barat untuk menetralisir nasionalisme atau mitos. Di Indonesia, kita dengan bangga menyebutnya Perang Diponegoro. Buku dengan judul lengkap The Power of Prophecy – Prince Dipanagara and the end of an old older in Java 1785-1855 ini bukan sembarang buku. Ia merupakan turunan disertasi doktoral yang kemudian ditambah-tambahi berbagai informasi dan diceritakan dengan lebih luwes – tidak terlampau akademik (meskipun pada akhirnya jargon-jargon historiografi berserakan di mana-mana). Tetapi buku ini sungguh lengkap menceritakan Pangeran Diponegoro sebagai lelaki biasa, sebagai keturunan darah biru, sebagai pemeluk Islam yang taat, sebagai orang Jawa yang halus dan harmoni, sebagai pejuang yang membenci Barat (plus orang-orang inlander yang sok ke-Barat-an).

Perang antara kolonial Belanda dan rakyat Jawa ini memang legendaris. Ia menghisap finansial Belanda sampai ke kerak-keraknya. Penyebabnya berentet: jatuhnya Jawa ke Inggris pada awal 1800an, Perang Aceh, kemudian disusul Perang Diponegoro. Belanda mesti mencari cara supaya Perang Diponegoro selesai. Tipu muslihat? Tentu. Tetapi Belanda benar-benar mengetahui bahwa Keraton Yogyakarta kurang bersatu. Ada konflik internal yang kemudian dimanfaatkan dengan baik. Selain itu, pasukan Diponegoro juga kehabisan “nafas”.

Diponegoro

Diponegoro digambar dengan arang oleh seorang tukang gambar keraton Yogyakarta saat beliau akan menikahi istri pertamanya; ini merupakan gambar satu-satunya di mana beliau memakai beskap (dari buku Peter Carey)

Buku ini juga mengupas Babad Diponegoro, sebuah buku harian yang ditulis selama tiga tahun oleh Pangeran Diponegoro sendiri dalam bahasa Jawi (bahasa Jawa dalam huruf hijjaiyah gundul). Babad Diponegoro ditulis selama beliau menjalani hidup sebagai eksil di Makasar. Buku ini juga berisi gambar sketsa dan lukisan yang apik. Yang lebih kontroversial mungkin “skandal” Pangeran Diponegoro dengan seorang tukang pijat warga keturunan. Cerita ini ditulisnya sendiri dalam nada yang menyesal; meski pada akhirnya Carey mesti melakukan interpretasi sendiri terhadap makna di balik itu.

Perang Diponegoro memang berakhir dengan kekalahan Diponegoro, dan kembalinya Jawa secara penuh kepada Belanda. Tetapi Diponegoro menyiratkan (bahkan menyuratkan) persona yang dualis (seorang Jawa yang kebetulan memeluk Islam); seseorang yang mempunyai kharisma, daya, dan dana untuk menghancurkan musuh; seorang yang berperangai tenang tapi juga strategis dan heroik; seseorang yang menjadi eksil tanpa perlawanan.

Akhir dari Perang Diponegoro bukan akhir yang tragis. Tapi akhir yang menyebabkan Yogyakarta tak lagi disebut sebagai Versailles of Java, sebuah kota indah dengan ornamen serta langgam penduduk yang sophisticated.

***

Intermezzo: sejumlah lukisan menyerahnya Pangeran Diponegoro menurut beberapa versi dan interpretasi.

1) De onderwerping van Diepo Negoro aan luitenant-generaal De Kock (Menyerahnya Pangeran Diponegoro kepada Letnan Jenderal De Kock), 28 Maret 1830, yang disimpan di Rijksmuseum Amsterdam,  karya Nicolaas Pieneman (yang tidak pernah menjejakkan kaki ke jawa)

Nicolaas_Pieneman_-_The_Submission_of_Prince_Dipo_Negoro_to_General_De_Kock

2) Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857 (Raden Saleh)

capture7126

3) Indieguerillas atau Gerilyawan di Hindia Belanda, 2013 (Santi Ariestyowanti) – dengan meminjam gaya komik Tintin karya Hergé

diponegoro-herge

G30S


G30S atau Gerakan 30 September (zonder kata “PKI”) menandai era baru. Era ini mungkin punya karakteristik berikut: rencana-yang-berantakan, sikap oportunis, gerakan militer, hegemoni, egoisme, dan ideologi. Ujungnya kita semua tahu: 6 jenderal + 1 perwira tewas mengenaskan, kemudian disusul oleh matinya ratusan ribu orang yang dikategorikan “kiri” alias PKI.

Seringkali kita lupa: bahwa yang mati-mati itu adalah saudara kita sendiri.

Teori dan spekulasi mengenai dalang di balik G30S bersliweran di ruang kuliah, ruang kelas, gedung dewan, ruang rapat, gedung bioskop, televisi dan buku. Tidak ada konklusi tunggal yang dengan khidmat dianut soal siapa dalang di balik itu. Selama 48 tahun (hampir lima dekade) pencarian sang dalang tak kunjung usai. Mengapa? Karena setiap orang punya agenda sendiri – bukan mencari kebenaran dan jujur kepada diri sendiri, tetapi nafsu untuk dipuji karena berhasil menemukan jawaban tunggal. Ini menggelikan karena kebenaran senantiasa dinamis; ia selalu multiinterpretasi. Bahkan “tuhan” pun dimaknai berbeda-beda oleh 6 miliar manusia di muka bumi.

Pada 80an, saya menyaksikan dengan seksama rekonstruksi sejarah pada 1965 itu. Bagaimana PKI membunuhi para petinggi militer, dan bagaimana akhirnya PKI ditumpas. Setiap murid wajib menonton film G30S/PKI. Esoknya kita semua berkumpul di jam istirahat dan membicarakannya. Guru-guru mengingatkan kembali bahaya laten komunis. Di sini jelas: “komunis” adalah pihak yang berdosa, oleh sebab itu mereka selayaknya dibantai. Titik.

Tetapi pembunuhan tak berhenti di situ. Film lain yang diproduksi pemerintah keluar lagi. Pada 1966, Blitar Selatan, tempat sisa-sisa PKI, dibersihkan oleh tentara. Telapak tangan semua orang diperiksa. Mereka yang menyamar sebagai petani, tetapi telapaknya halus, segera diciduk. Tak ada petani bertelapak mulus. Ia pasti penulis, atau pengurus PKI yang sehari-harinya memegang dokumen dan pensil, bukan pacul dan sabit.

Di Bondowoso, pada 80an, saya pernah bertanya kepada ayah: siapa itu seorang lelaki yang punya rumah luas tetapi tak nampak bekerja? Jawabannya singkat: Ia PKI. Oleh sebab itu ia tak dapat diterima bekerja di manapun. Kasihan sekali. Namun, pikiran ini tidak mampu untuk memahami mengapa label “PKI” sedemikian kritis sehingga mencari makan pun susah.

Hari ini, tidak banyak yang saya (atau bahkan kita) tahu soal G30S. Tidak ada pemahaman tunggal. Tidak ada sumber yang dianggap absolut sebagai kunci jawaban. Padahal, masing-masing dari kita menunggu. Menunggu untuk mengetahui apa yang baik, apa yang tidak baik pada masa lalu. Kita tak boleh melakukan kesalahan yang sama. Kecuali kita ingin dianggap bangsa yang bodoh selamanya. Bangsa yang tak memahami apa yang terjadi pada masa lalunya. Lalu mengulang kesalahan yang sama. Sama persis, pula.

G30S punya banyak aktor dari sekian ribu teori: Soekarno, Cakrabhirawa, C.I.A., TNI-AU, Dewan Jenderal, PKI, Suharto, dan banyak lagi lainnya. Tapi di sini, saya tak hendak mengusulkan jawaban. Hanya sebuah spekulasi yang jika salah ia tak mempengaruhi apa pun dalam sejarah kita. Ini hanya random notes dari membaca sana-sini secara “liar”.

Mari kita mulai.

Dewan Jenderal itu mungkin ada. Dewan ini bermula dari ketidakpuasan para jenderal kepada Presiden Soekarno yang dianggap memimpin dengan seenaknya. Demokrasi Terpimpin, dekat dengan PKI, dekat dengan Uni Sovyet, rakyat semakin melarat. Salah satu cara untuk menghapuskan itu adalah dengan menggulingkan Soekarno. Rapat demi rapat dilakukan oleh Dewan Jenderal. Mungkin belum sampai saat memutuskan sebuah aksi yang konkrit.

Ketika Soekarno mendengar isu adanya Dewan Jenderal ini, ia marah. Ini pengkhiatan kepada pemimpin tertinggi negara. Oleh sebab itu, meski jenderal sekalipun, perlu diberantas. Chakra Bhirawa diminta kesetiaannya, dan menumpas mereka. Satu per satu jenderal yang disinyalir termasuk dalam Dewan Jenderal diciduk, dan dibunuh. Ada yang lolos, yaitu A.H. Nasution. Pada saat kejadian 30 September, Soekarno baru saja mengantar Dewi Soekarno ke rumahnya. Soekarno berjanji kepada Dewi akan kembali esoknya.

Di lain pihak, C.I.A. terus memantau Indonesia. Indonesia terlalu condong ke Uni Sovyet dan Cina. Ini menggeramkan bagi Amerika. Amerika memasang mata-mata di mana-mana. Ia pun membayar Soeharto, panglima Kostrad yang tidak tahu menahu soal Dewan Jenderal. C.I.A. pun membayar Soeharto dan memberinya daftar orang-orang yang harus dibunuh. Yang harus dibunuh bukan Soekarno, tetapi orang-orang PKI. C.I.A. tahu bahwa Soekarno bukan komunis.

Soeharto gerak cepat. Ia segera mengeluarkan perintah bahwa negara dalam keadaan darurat. Militer digerakkan, dan ia memberantas PKI, sesuai pesanan C.I.A. Intinya hanya satu: PKI lah otak pembunuhan para jenderal. PKI ini dibantu oleh Chakra Bhirawa dan TNI-AU.

Setelah PKI diberantas mendadak, Soeharto segera mengamankan Soekarno ke Istana Bogor. Soekarno mesti dibunuh secara perlahan; tidak mendapat perawatan yang baik ketika sakit. Konon, hanya dokter hewan yang dikirim untuk merawatnya. Di tengah sakitnya itu, Soeharto meminta Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Intinya: Soeharto dijadikan presiden untuk menggantikannya.

images

Pada akhirnya, Soeharto memang menjadi presiden. Ia berhasil memuaskan dirinya, sekaligus C.I.A. Amerika tentu girang. Hubungan AS-Indonesia pulih kembali. Kerjasama pun dibangun. Keuntungan kerjasama itu masuk ke keluarga Soeharto, dan segelintir orang lainnya. Amerika pun juga senang. Asia-Pasifik nampaknya cukup kuat dipegang setelah itu. AS kemudian dapat berkonsetrasi sepenuhnya untuk menumpas Vietnam Utara yang masih komunis. Perang Vietnam antara 65-75 berakhir dengan kekalahan AS, meski pada akhirnya Vietnam jadi tunggal belakangan ini.

Ketika Soeharto memimpin, semua divisi militer yang terlibat G30S dikotakkan. Orang-orangnya dipecat atau diberantas. Setelah 1968, ekonomi Indonesia mulai bangkit lagi. Bantuan asing masuk. Indonesia menjadi kapitalis, seperti yang diharapkan AS.

Jadi, kesimpulannya, siapa dalang G30S? Tidak ada yang tahu. Karena gerakan itu adalah skema yang saling silang berbagai kepentingan. Tidak ada penyebab tunggal. Yang ada hanya adu kekuatan belaka.

Tapi pelajaran yang kita tarik adalah satu: ternyata kita masih mudah dipecah belah oleh asing. Asing dalam hal ini adalah ideologi Barat, dan orang Barat. Orang luar tentu senang melihat kita berantakan, karena pesaing jadi berkurang satu. Mengapa kita sulit sekali rukun? Perbedaan adalah rahmat, rejeki supaya kita bisa saling kenal dan tolong menolong. Bukan saling menjegal, atau bahkan membunuh. Padahal kita hanya ingin ketenangan hidup, tetapi seringkali kita masih dikendalikan nafsu untuk berkuasa dan mencari untungnya sendiri (egois).

Sekali lagi, era itu ditandai oleh karakteristik ini: rencana-yang-berantakan, sikap oportunis, gerakan militer, hegemoni, egoisme, dan ideologi. Tidak ada sebab tunggal. Upaya dekonstruksi sejarah G30S pasti menemui jalan buntu. Saksi banyak yang mati, dokumen banyak yang musnah.

Saat ini yang penting hanya satu: rukunlah dengan bangsamu, dan jangan mau dikendalikan orang asing.

Doktor, Setengah Doktor


Almarhum Prof. Said D. Jenie (mantan ketua BPPT dan guru besar Teknik Penerbangan ITB) pernah menyinggung soal iklan di angkot-angkot kota Bandung. Iklan itu menawarkan gelar master, bahkan doktor. Bagaimana mungkin doktor ditawarkan begitu rupa, dan mendapatkannya pun mungkin tidak lewat susah payah? Pak Said, ketika itu, tidak melanjutkan. Mungkin nampak kecewa saja dengan masyarakat kita yang jor-joran ingin mendapat gelar doktor, tapi tanpa kerja keras.

Setelah Reformasi 1998, gelar doktor adalah komoditi. Ramai orang ingin mendapatkannya, memakainya. Bervariasi pula motivasinya: mulai dari yang murni akademik hingga yang politik. Yang akademik pun ada berbagai jenis. Ada yang supaya bisa dapat jatah mengajar penuh, naik golongan, bisa jadi guru besar dan seterusnya. Ada yang benar-benar ingin mengetahui suatu tema, menguji daya pikir dan ketahanannya. Ada yang ingin mengalahkan senior-seniornya, atau membuat kagum junior-juniornya. Macam rupa motivasinya. Yang politik tentu punya alasan yang lebih naif: betapa menterengnya jika sebuah baliho memajang fotonya yang cakep dengan rentetan gelar seperti mercon Cina. Tapi itu semua tak soal karena manusia memang dibentuk oleh motif yang berbeda-beda pula, yang mungkin tidak saling menabrak. Umumnya, ujung-ujungnya nampaknya satu, yaitu citra.

Orang yang mempunyai gelar doktor biasanya mempunyai citra yang berbeda. Citranya tentu baik dan menguntungkan (favorable). Kesadaran mengenai citra ini biasanya terus melekat, sehingga seseorang mungkin minta diistimewakan, meminta ruang bicara yang lebih luas, membuat haus popularitas (diundang sana-sini). Ini yang kemudian disebut “setengah doktor”. Setelah berhasil mempertahankan disertasinya, seorang doktor kembali ke negaranya, untuk kemudian bekerja seperti biasa. Ia kemudian melakukan rutinitas, sambil terus menanankam kesadaran bahwa dirinya adalah seorang doktor. Kadang media massa terus menyebut gelarnya untuk terus menaikkan citra.

Di lain pihak, yang ‘doktor’ atau sepenuhnya doktor adalah mereka yang setelah meraih gelar doktor berpikir soal kontribusi. Kontribusinya bisa berupa akademik, atau sosial. Aftermath setelah meraih gelar doktor dirasa semakin berat karena ia harus dapat membuktikan kepada kalangan akademik, atau masyarakat, bahwa ilmu-ilmu serta metodologi yang didapatkannya berguna untuk menggali pengetahuan dan menyiarkannya kepada khalayak. Tanggungjawabnya adalah membuat segala sesuatu (khusus bidangnya sendiri) yang obscure (atau kurang jelas) menjadi jelas, dapat dipahami, dapat dimaknai, dapat diproduksi, dapat dikembangkan, bermanfaat serta mempermudah hidup manusia. Seperti halnya Karl Marx (seorang doktor juga) yang menerbitkan magnus opus semacam Das Kapital, ‘doktor penuh’ membicarakan soal manusia, baik dalam hal psikis, fisik dan hubungan sosial. Doktor penuh terus menerbitkan karya-karya, baik yang berhubungan dengan bidangnya atau pun yang meluas hingga sesuatu yang digemarinya. “Karya” dapat berupa hak paten, produk perangkat keras, hak cipta, perangkat lunak, buku, makalah ilmiah, monograf, kebijakan dan lainnya. Bahkan sebuah perdebatan mengenai topik yang spesifik yang dimulainya dapat dianggap sebuah embrio karya asalkan dibahas dalam kerangka ilmiah dan tidak anarkis.

“Setengah doktor” ini banyak sekali kita temui hari ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa globalisasi mendorong masyarakat Indonesia ingin berkelana dengan tujuan “to see the rest of the world“. Salah satu jalannya adalah kuliah di luar negeri, bahkan hingga doktor. Ke Amerika, Australia, Jepang, Belanda, Inggris, Jerman, Norwegia, India, Thailand, Singapura, Afrika Selatan, Italia, Rusia atau negeri manapun. Hubungan luar negeri yang baik antara Indonesia dengan negara-negara itu, kemudian kemampuan finansial negara membiayai anak negerinya, membuat kesempatan kuliah hingga doktor sangat terbuka luas. Tetapi persoalannya, apakah ini akan menciptakan individu-individu yang full doktor atau setengah doktor? Jangan-jangan kita semua tengah “memproduksi” yang kedua. Hal ini belum dapat kita ketahui sekarang. Mungkin baru 10-30 tahun lagi kita baru merasakan mana yang sebenarnya kita ciptakan.

Satu contoh full doktor adalah Poerbatjaraka. Sebenarnya ada dua orang Indonesia awal yang meraih gelar doktor. Yang pertama adalah Hussein Djajadiningrat, yang kedua adalah Poerbatjaraka. Keduanya mendapat gelar doktor dari Universitas Leiden, Belanda. Hussein Djajadiningrat mendapat gelar doktor bidang sastra pada 1910 dengan disertasi berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten (Tinjauan Kritis Soal Sejarah Banten) di bawah bimbingan Snouck Hurgronje, seorang ahli sosiologi Islam di Asia Tenggara. Poerbatjaraka, dengan nama asli Leisja, mendapat gelar doktor bidang sastra Jawa pada 1926 dengan disertasi berjudul Agastya in den Archipel (Agastya di Nusantara).

Poerbatjaraka (1884-1964) pernah menyebut dirinya sebagai “bocah kampung Solo yang bergajul (ugal-ugalan)”. Padahal, ia adalah anak laki-laki dari Raden Tumenggung Purbadipura, abdi dalem kesayangan Paku Buwono X. Ia kemudian belajar bahasa Melayu dan Belanda. Ia pernah masuk H.I.S. (setara SD, program 7 tahun) namun dikeluarkan. Alasannya tidak jelas, namun ia merasa bahwa guru-gurunya melihat kalau kemampuan akademiknya “membahayakan” Belanda.

Ia kemudian melanjutkan bahasa Belanda sendiri dengan ngobrol bersama para serdadu Belanda. Para serdadu menyukainya karena perangainya yang terbuka. Ia juga lama-lama fasih berbahasa Belanda. Di lain pihak, Poerbatjaraka yang ketika itu masih bernama Leisja menggemari buku-buku ayahnya yang ada empat lemari. Ia mempelajari sastra Jawa kuno sendiri. Jika ada cerita-cerita yang tidak dipahaminya, ia kemudian bertanya kepada ibunya. Hal ini mendorongnya untuk mengikuti diskusi sastra di Solo. Sayangnya, kritik terbukanya membuat sekelompok sastrawan berang. Ia kemudian disingkirkan dari lingkaran sastra itu, dianggap sombong karena masih muda sudah berani mengkritik. Ia kemudian menulis surat kepada residen Solo, untuk dapat belajar di Belanda.

Ia dikirim ke Batavia dan bekerja di museum. Di museum ia bertemu dengan Dr. Kern, seorang ahli sejarah dan sastra Jawa terkemuka dari Belanda. Selama bekerja di museum itu, Leisja mendapat kesempatan untuk memperdalam kemampuan sejarah dan keahliannya membaca teks Jawa kuno. Ia juga rajin menulis di jurnal-jurnal ilmiah Belanda.

Kern mengirimnya ke Leiden untuk langsung belajar di program doktor. Leiden juga memberinya kesempatan mengajar Jawa Kuno. Padahal, Leisja sama sekali tak punya ijazah formal, bahkan ijazah Sekolah Rakjat sekalipun.

Awalnya, Leiden ingin langsung memberinya doctor honoris causa. Namun, Leiden kemudian mengubah keputusannya, dan memintanya melakukan riset beberapa tahun di Belanda.

Dalam empat tahun, Leisja berhasil meraih gelar doktor dan kembali ke Indonesia. Di Indonesia, tidak ada tempat baginya karena ia dianggap terlalu kritis. Tapi kemudian ia berhasil mendapat posisi di Museum Negara. Di museum ini, ia mengkatalogkan teks-teks Jawa kuno (dalam bidang sejarah, kesempatan membuat katalog ini nampaknya akan membuat seseorang menguasai peta akademik topik tertentu). Ia juga semakin rajin menulis di jurnal-jurnal.

Setelah beberapa waktu, Poerbatjaraka akhirnya mendapat posisi mengajar di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Udayana.

Selama bertahun-tahun, hingga akhir hayatnya, karya-karyanya mengenai interpretasi teks-teks kuno Jawa terus mengalir di jurnal-jurnal Indonesia dan Belanda. Kontribusinya sangat besar bagi, misalnya, BKI yang diterbitkan KITLV. Karyanya banyak dipuji sejarawan meskipun awal-awalnya disebut sebagai amatiran karena mencampuradukkan mitos dan temuan/interpretasi ilmiah. Terlepas dari kecerdasannya yang luar biasa (disebut Prof. TH Pigeaud – penerjemah Kakawin Negarakrtagama – sebagai the gifted man), keunggulan Poerbatjaraka adalah vitalitas dan konsistensinya dalam meneliti teks-teks Jawa Kuno. Ia menampilkan sosok yang single-minded dan sangat fokus. Motivasinya adalah memperdalam pemahaman orang Indonesia sendiri mengenai peninggalan-peninggalan sejarah Indonesia. Kata-katanya yang kritis mengenai orang Belanda, namun kurang termasyhur, adalah: “Orang Belanda saja kok mau meneliti sejarah Indonesia … ” Ini bukan merepresentasikan kebencian, bahkan kepada pembimbingnya sendiri, melainkan suatu kesadaran yang ia tanamkan dalam dirinya sendiri bahwa seyogyanya orang Indonesia sendirilah yang mesti meneliti sejarah Indonesia. Asalkan dalam kerangka ilmiah dan tekun, maka berbagai teka-teki sejarah dapat dipecahkan.

Hal inilah yang kini nampak hilang dari kesadaran para calon doktor yang akan ke luar negeri. Inti dari mengambil program doktor adalah mempelajari sesuatu yang spesifik untuk dapat menjawab persoalan-persoalan kontemporer (sosial, teknik, dan lainnya), untuk kemudian dapat membuat kontribusi seumur hidupnya. Prerequisite-nya kadang tidak mudah. Misalnya, Poerbatjaraka sendiri harus menguasai Jawa kuno, bahasa Melayu, Belanda, Inggris, Jerman dan Perancis untuk dapat membedah sosok Agastya. Belum lagi, beliau harus mengasah kemampuan menulisnya yang baik supaya dapat mengkomunikasikan dengan teman sejawat atau bahkan lawan ilmiahnya. Belum lagi, beliau harus mengasah kemampuan seleksi, interpretasi sejarah, pembuktian, logika dan nalar untuk dapat meyakinkan dirinya (sebelum meyakinkan orang lain) mengenai suatu kronik.

Mudah-mudahan Indonesia terus maju, dan memproduksi full doktor.