Di Tepi Laut Merah


Ayat ini tentu sungguh masyhur:

Lalu kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS 26:63)

Terbelahnya lautan itu berawal dari sebuah eksodus. Musa bersama kaum Yahudi melarikan diri dari Mesir. Mereka tergesa, dan tiba di tepi laut merah. Keadaan mulai tegang karena raja Mesir (firaun atau pharaoh) mengejar mereka. Firaun sudah tak jauh di belakangnya. Musa yang terpojok kemudian menerima wahyu itu. Ia memukulkan tongkatnya ke tanah, dan lautan terbelah dua. Di tengahnya, ada jalur kering yang terbuka. Kaum Yahudi melewati jalan itu, hingga mencapai jazirah Arab dengan selamat. Firaun tak jauh di belakang mereka, juga melalui jalur kering itu. Ketika semua Yahudi telah menginjakkan kaki di pantai barat Arab itu, Tuhan menutup laut itu. Firaun dan pasukannya tenggelam, terhimpit dua ‘dinding’ laut yang sebelumnya tegak dan stasioner.

Cerita itu sangat masyhur. Bahkan orang MIT pun membuat sebuah T-shirt yang mencetak persamaan Navier-Stokes:

And Moses said:

∇·v = 0

δv/dt + v·∇v = -∇P/ρ – g∇h + v∇²u

And the waters parted!

Cerita itu sangat masyhur. Ketika kecil, ketika mendengar cerita itu (dan melihat film Ten Commandments), saya tak pernah membayangkan akan pergi ke laut merah. Mungkin hanya ingin tahu: di mana laut merah, mengapa ia bisa terbelah begitu rupa. Pesan yang diingat juga tidak banyak, bahwa yang jahat akhirnya binasa, bahwa tuhan memberikan jalan kepada mereka yang terhimpit namun terus berusaha.

1398676936194

KAUST

Bulan Februari lalu saya mulai tinggal di tepi laut merah (akhirnya ke tanah Arab juga, meski tanpa lewat Mesir, dikejar firaun dan membelah lautan). Alasan utama ke Arab adalah bekerja di KAUST (King Abdullah University of Science and Technology). Mengikuti tradisi penamaan universitas di Arab, KAUST adalah universitas yang didirikan atas daulat Raja Abdullah. KAUST dibangun (dengan ngebut) pada 2007, dan mulai menerima mahasiswa (khusus pascasarjana S2, S3) pada 2009.

Minum kopi di laut merah

Minum kopi di laut merah

Universitas ini pernah membuat ‘geger’ Singapura pada 2008. Ketika masih bekerja di Singapura, saya membaca berita bahwa rektor NUS (National University of Singapore) bernama Prof. Choon Fong Shih pindah ke KAUST. Shih pindah ke Arab ketika namanya masih bersinar. Ketika menjadi rektor itu (2000-2008), ia berhasil mendongkrak reputasi NUS dengan mengundang profesor-profesor ternama, memperkuat hubungan antara lembaga riset (A*STAR) dengan NUS, memperkuat jalinan dengan industri, memperbaiki kurikulum dan meningkatkan publikasi internasional.

KAUST diawali dengan program yang mirip dengan NUS. Bedanya tentu banyak. KAUST dilimpahi endowment fund yang fantastis (20 miliar dolar), dan tak hanya skala kampus biasa (tetapi kota mandiri!). Lokasinya tak jauh dari Jeddah (80-90 km ke utara), di sebuah kampung nelayan bernama Thuwal. Pantai Barat ini relatif bebas dibandingkan kawasan dalam Arab Saudi yang ketat menjalankan hukum syariah. Di KAUST, pria dan wanita dapat kuliah/riset bersama tanpa dipisah/disekat (di universitas lainnya, mereka dipisah). Wanita tidak diwajibkan memakai pakaian tertutup (jilbab dan sejenisnya). KAUST menjaring top talent, siapa saja yang berminat mengembangkan frontier research yang (tentunya) sesuai dengan visi/misi KAUST. KAUST punya 200an dosen, 300an postdoc dan research scientist, 500an mahasiswa dan sekitar 1000 staff. Selain mendapatkan gaji, mereka juga mendapat rumah (dengan ukuran jumbo!) serta benefit lain. KAUST juga mempromosikan keberagaman (diversity): warganya berasal dari 90 negara. Total penghuni compound KAUST adalah 5000an. Sebagian besar adalah anak-anak! Minibus kecil berkeliaran di jalur-jalur utama dengan waktu kedatangan setiap 15 menit (gratis!). Bus besar juga disediakan bagi penghuni untuk pergi ke Jeddah, Mekkah dan Madinah (gratis juga!). Ada dua supermarket (kecil dan besar) yang memenuhi kebutuhan penduduk. Ada pemadam kebakaran, kantor polisi, stasiun bus, rumah sakit, masjid besar (dan kecil-kecil yang tersebar), kompleks olahraga dan hiburan, sekolah berbasis internasional, penitipan anak, restoran dan fasilitas lain. Intinya: bersyukur sekali bisa ke KAUST.

Ke KAUST dengan alasan ingin haji?

KAUST juga terletak tidak jauh dari Mekkah dan Madinah. Ini sebabnya mengapa banyak sekali yang ingin masuk KAUST: karena ingin umroh (yang bisa dilakukan setiap minggu) atau naik haji. Masuk KAUST dengan alasan ini, bagi saya pribadi, sangat naif. Alasannya sangat sederhana: KAUST didirikan tidak untuk melayani ibadah umroh dan haji! KAUST didirikan untuk mengembalikan lagi jaman keemasan Arab sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia. Menurut kisah yang turun-temurun di sini, KAUST didirikan berkat impian seorang raja sejak 25 tahun silam. Universitas model KAUST diformulasikan dari gagasan para profesor dari berbagai univesitas ternama dunia ketika mereka ditanya: “Jika anda diberi dana tak terbatas, universitas model apa yang akan anda dirikan?” Jawaban mereka tentu beragam. Tetapi setelah digodok, jawabannya adalah KAUST (more or less). KAUST memerlukan reputasi internasional karena ia masih balita. Ia memerlukan dosen, peneliti dan mahasiswa yang dapat menghasilkan paper, paten, atau prestasi akademik lainnya. KAUST didirikan untuk menaikkan ekonomi Arab Saudi yang saat ini hanya bersandar pada minyak dan haji. Ini mungkin hard truth: seseorang perlu ‘meluruskan’ niatnya jika ingin datang ke KAUST. Niat itu adalah riset dan produktif di dunia akademik. Hal-hal religius yang bersifat pribadi (namun tentunya esensial bagi seorang muslim) dengan sendirinya akan mengikuti, dan insyaallah terfasilitasi.

Bekerja di KAUST

Banyak orang Indonesia yang pernah dan sedang tinggal di KAUST. Sebagian besar kuliah. Sisanya bekerja baik full time maupun paruh waktu. Website mahasiswa Indonesia di KAUST dapat diakses di sini: kaustina. Dalam website itu, segala pertanyaan mengenai mendaftar kuliah di KAUST telah terjawab. Jika kurang jelas dapat menanyakan kepada administratornya. Mereka cukup responsif.

Sehabis mancing di laut merah (latar: Beacon Tower of KAUST)

Sehabis mancing di laut merah (latar: Beacon Tower of KAUST)

Mengenai bekerja (ini khusus para academic jobhunter bidang sains dan teknik), bekerja di KAUST tentu masuk dalam wishlist. Semua mungkin punya alasan sama: gaji besar. Masalahnya, gaji itu relatif. Rektor yang dibayar 3-6 juta dolar per tahun aja mungkin masih merasa kekurangan. Di atas langit ada langit. Pokoknya kalau soal “uang” kita bakal terjerat konsep batas tak berhingga (lim → ∞). Jadi, gaji yang cukup (untuk memenuhi kebutuhan hidup) harap dijadikan pegangan pertama. Niat manajemen KAUST pastinya ini: jangan sampai pinjam-pinjam ketika hidup di KAUST (isin rek! hehe).

KAUST sering memposting lowongan kerjanya secara online. Di lelamannya (http://www.kaust.edu.sa/) ada link Search for a job. Dari sana, ada banyak posisi kosong yang diperlukan. Anda bisa daftar pekerjaan yang sesuai dengan bidang anda. Kontak HRD nya langsung bila perlu. KAUST punya turn over tinggi (orang keluar masuk dengan cepat) dan tengah berkembang pesat. Jadi, sering-sering cek link itu dan daftar. Jangan menyerah.

Bagaimana supaya diterima? Ini termasuk rahasia tuhan yang tiga itu (mati, jodoh, rejeki). Diterima di KAUST itu rejeki, jadi hanya tuhan yang tahu (atau paling nggak, HRD yang tahu). Tapi coba kirim curriculum vitae (lewat aplikasi online) untuk posisi-posisi yang diinginkan. Selanjutnya adalah menunggu interview. Jika tidak ada panggilan interview, tunggu saja. Tapi biasanya mereka pasti membalas (baik good news = diterima, maupun bad news = ditolak).

Kalau anda ingin bekerja sebagai postdoctoral research fellow atau research scientist, anda bisa menghubungi profesor yang membawahi lab-lab tertentu. Atau, mengontak para profesor di berbagai research center.

Siapa yang dicari KAUST? Yang jelas, KAUST mencari potential researcher: seseorang yang punya latar belakang riset yang relevan dengan riset KAUST sekarang tentu akan dipertimbangkan. Tapi jangan lupa: persaingan sangat ketat (CV dari seluruh penjuru dunia masuk ke KAUST – dan jumlahnya akan terus meningkat dari tahun ke tahun). Tunjukkan bahwa anda adalah outstanding candidate. Bagaimana caranya? Percaya diri, komunikasikan jawaban dan ide anda secara jernih dalam bahasa Inggris yang baik, rendah hati, positif, be clear of what you want to achieve (baik secara teknis maupun global), jadilah inisiator bukan follower. Semua orang yang menjadi peneliti punya record yang mirip sebenarnya: mampu secara akademik, punya motivasi tinggi, produktif. Semua itu muncul dalam CV dengan deretan gelar, prestasi dan publikasi. Tapi, interview (bisa datang langsung atau via Skype) akan menentukan semuanya. Bahkan setelah interview dan diterima pun, posisi anda belum aman. Tunjukkan bahwa anda dapat mengikuti ritme kerja, visi/misi laboratorium/tempat kerja, terus produktif dan bermanfaat untuk tim. Pengalaman dari seorang teman yang diterima sebagai postdoc di KAUST dapat dibaca di sini. Pengalaman orang tentu berbeda-beda, tetapi pengalamannya dapat dijadikan referensi.

Akhir kata: terus berjuang!

One thought on “Di Tepi Laut Merah

  1. Wih, Arief rek, ngajar di Arab. Eh, ngajar atau nge-riset aja?
    Berapa tahun Rief, rencana di sana? Kontrak opo permanen?

    Sukses yo!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s