Surat ini ditulis oleh Pak Oetarjo Diran untuk mengenang Pak Said Jenie. Keduanya adalah guru besar teknik penerbangan ITB.

Pada hari rabu tanggal 9 juli 2008 kami memperoleh kabar dari keluarga pak Said Jenie, bahwa beliau dibawa ke rumah sakit Borromeus karena keluhan sesak nafas. Hari kamis esoknya, tanggal 10 juli, kami diberi kabar tentang keadaan pak Said melalui sms hampir secara kontinu tentang keadaan beliau, sehingga kami menjelang senja memutuskan untuk pergi ke Bandung. Rencana ini tidak terlaksana karena tidak ada pengemudi yang dapat kami temukan untuk mengantar ibu dan saya berangkat malam hari ke Bandung.

Hari jumat pagi, 0800, kami dikejutkan dengan berita per telpon dari ICU Borromeus bahwa pak Said sudah meninggal, 0748. Kami sangat beruntung mendapatkan pengemudi dan ibu dan saya berangkat jam 0900 ke Bandung dan karena kemacatan di jalan baru sampai jam 1200 di Aula Barat.

Seperti dapat dibaca dari tulisan pak Rudy Setyopurnomo, acara pelepasan kepergian pak Said berlangsung dengan khidmat dan mengharukan.

Beliau adalah seorang ilmuwan, pendidik dan pejabat. Masyarakat kalangan ilmu dan pendidikan pun melakukan penghormatan terakhir (masyarakat ITB, BPPT, dsb), sebagai pejabat (masyarakat BPPT, PTDI), dan tentunya secara pribadi kawan, kolega dan mahasiswa).

Saya kenal pak Said selama hampir tiga puluh tahun, bermula ketika pada awal tahun 1973, sekembalinya saya dari berkelana di negeri orang, saya didatangi seorang mahasiswa di kantor. Mahasiswa yang belum saya kenal ini menyatakan ingin mengambil tugas akhir pada saya, khususnya dalam pendekatan matematik ilmu gerakan gas, udara dan fluida. Secara kebetulan saya sedang tertarik pada komputer dan komputerisasi penyelesaian numerik masalah fisik melalui penggunaan komputer. Saya usulkan pak Said merancang program komputer menghitung gaya-gaya aerodinamik karena aliran gas, udara dan atau fluida melalui benda tak tentu bentuk (saya katakan, aliran udara melalui benda berbentuk kentang). Pak Said tertarik dan menyanggupi. Beberapa bulan kemudian datang dengan program embrionikal finite element methods untuk benda yang masih sederhana namun fundamental (dua dimensi, lingkaran). Pak Said hanya datang karena komputer di ITB tidak memungkinkan perhitungan-perhitungan kompleks yang memerlukan waktu berjam-jam untuk penyelesaiannya. Saya bantu dengan menelpon pimpinan IBM dan minta penggunaan tanpa biaya komputer IBM yang di Jakarta. Pimpinan perusahaan IBM menyetujui, dan pak Said mulai melakukan komputasi-komputasi dengan program komputer ciptaannya. Pak Said lulus tidak lama kemudian, dan saya minta apakah mau jadi dosen. Pak Said menyetujuinya. Namun, dengan satu permohonan dapat melanjutkan studi, karena merasa belum memiliki ilmu untuk menjadi dosen dan peneliti.

Saya berhasil mengirim pak Said ke Nederland, Delft University of Technology, menitipkan pak Said pada beberapa kolega guru besar Delft, untuk memperdalam ilmu komputasi masalah aerodinamika. Beberapa bulan kemudian saya menerima surat dari pak Said, mohon maaf namun ingin beralih ke bidang aviation flight control systems. Bidang ini memang belum tertekuni di ITB, dan beliau ini ingin meneruskan studi di Delft dalam bidang flight control systems.

Perubahan arah ini ternyata sangat bermanfaat bagi perkembangan industri pesawat terbang. Ketika pada akhir tahun tujuhpuluhan saya memerlukan flight test experts and professionals, pak Said lah satu-satunya yang dapat dipercayai pengembangan program sertifikasi pesawat CN235.

Pada akhir studi pak Said di Nederland, kembali saya mendapat surat, menyatakan sudah berhasil, namun masih ingin studi dan pengembangan lanjut dalam bidang baru yang ditekuninya. Bila mungkin ke MIT. Saya izinkan pak Said untuk tidak langsung pulang ke tanah air dan saya kembali mengupayakan pendanaan studi lanjut ini, melalui proyek-proyek LAPI yang ada di teknik penerbangan.

Pak Said melanjutkan studi S3 di Aeronautics & Astronautics di Massachussets Institute of Technology, Cambridge, USA. Thesis: Dynamics and Analysis of Large Flexible Space Structures using Generalized Multiple Scales Method (1982).

Pada saat-saat penyelesaian doctoral thesis, pak Said memerlukan biaya hidup untuk beberapa bulan mempersiapkan sidang tugas thesis. Karena keuangan proyek-proyek kebetulan tidak memadai, saya minta bantuan pak Habibie, dengan persyaratan ITB menyanggupi mengizinkan dan menjanjikan pak Said untuk membantu program perancangan dan pengembangan CN235.

Ini adalah sekedar menschbild pak Said seorang pendidik, peneliti dan ilmuwan, dengan sifat karakteristik tekun, terfokus, termotivasi, dengan total commitment terhadap pendidikan, penelitian dan ilmu.

Sebagai panutan bagi generasi-generasi untuk secara konstruktif melakukan penyelesaian tantangan-tantangan pendidikan, penelitian dan ilmu. Secara pribadi, maupun sebagai anggota masyarakat.

Pak Said saya juga kenal sebagai seorang suami dan ayah, dan devotion beliau pada keluarganya. Teringat kembali saya diminta beliau menjadi saksi pada pernikahannya dengan Ibu Yayah.

Selamat jalan pak Said.

O. Diran

Said D. Jenie (kiri) dan Oetarjo Diran (kanan) pada acara rapat Ikatan Alumni Penerbangan

Link terkait:

Pagi ini ada meeting, dan karena presentasi lumayan sukses, saya lumayan bersemangat. Tapi semangat itu tak bertahan lama. Adik saya ngirim sms dari Jakarta: “Innalillahi, Pak Said D Jenie meninggal”. Shocking news! Saya rasa saya tidak sendirian dalam hal kaget-luar-biasa. Barangkali, keluarga yang menemani Pak Said hari kamis di RS Borromeus, Bandung, juga kaget dengan berpulangnya beliau yang mendadak itu. Sakit jantung punya perilaku yang cepat beres. Tidak memandang siapa, dan tak peduli efeknya.

Di ITB, nama Said Djauharsyah Jenie (rasa-rasanya lho ya) cukup dikenal di kalangan dosen pelbagai jurusan. Beliau pernah menjadi Ketua Departemen Teknik Penerbangan sejak berdirinya tahun 1997 sebagai satu jurusan terpisah dari Teknik Mesin.

Kiprahnya di dunia penerbangan terbentang lebih dari 30 tahun. Bersama BJ Habibie, beliau membidani munculnya laboratorium uji terbang di ITB dan PTDI (dulu IPTN), pesawat CN235 dan N250. Beliau juga guru besar ITB (yang termasuk paling muda), dosen di ITB, komisaris PTDI dan jabatan terakhirnya adalah Ketua BPPT.

Saya sendiri tidak pernah ngobrol langsung dengan beliau. Paling-paling hanya duduk di kelas beliau, mata kuliah Fisika Bumi dan Dirgantara jaman tingkat-2 tahun 1998. Bahasanya rapi, serapi tulisannya di papan tulis. Dia juga ramah kepada siapa saja, dan selalu memanggil “Dik” untuk semua mahasiswanya.

Ketika beliau menjadi ketua BPPT, beliau mengucurkan dana untuk proyek pesawat wing-in-surface effect (WiSE) 8 penumpang kepada ITB. ITB segera membentuk sebuah tim yang dipimpin Pak Alex Supelli. Sepulang dari Singapura bulan Agustus 2005, saya langsung kontak Pak Bambang dan Pak Hari di departemen. Saya kemudian dikontrak dua bulan untuk membantu tim ini. Ketemu dengan pak Said ya pas rapat review desain pesawat ini di FTI.

Orangnya cukup melegenda karena, diakui atau tidak, lulusan MIT bidang Aeronautics & Astronautics (1982). Beliau lulus tercepat di Mesin ITB tahun 1973, melanjutkan S2 di TU Delft, Belanda. Beliau kemudian melanjutkan S3 di MIT. Beliau juga pernah menjadi peneliti di MIT dan NASA.

Waktu mengajar, kadang beliau menceritakan film-film yang berhubungan dengan penerbangan & antariksa, seperti Contact, Armageddon dan Turbulence.

Selamat jalan Pak Said … semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik.

Di pabrik atau manufacturer, produksi punya marka kuartal atau minggu. Biasanya kami menulis 08WK27, yang artinya tahun 2008, minggu ke-27. Dari model pemantauan mingguan, orang jadi lebih sibuk per minggunya, dan target juga dihitung mingguan.

Bulan lalu (dan awal bulan Juli), otak kurang nyeni, kurang mampu mengolah informasi dan inspirasi dan menciptakan tulisan. Akibatnya, hanya dua artikel yang dimuat di koran - itupun dimuat pada minggu ke-1 bulan Juni saja. Kenapa? Entahlah. Tapi kadang cukup terhibur dengan kata-kata ibu saya waktu dia nginep di rumah bulan lalu:

Nulis itu seni; jangan dipaksa nulis setiap minggu; sak senenge ae [sesuka hati saja]; kan seniman, dudhu [bukan] tukang nulis … Jadi, tidak produktif juga tidak apa-apa.

Tapi, konsekuensi logisnya: pendapatan ekstra tidak ada.

Ada ide saya mesti nulis apa bulan Juli ini?

Penggawean

Bos lagi berlibur (plus kerja) di San Jose bersama keluarganya. Pulang kampung, ceritanya. Semangat agak kendor karena dia adalah salah satu sumber penyemangat dan inspirasi di kantor. Tanpa dia, pleton tak punya komandan; pleton kadang jalan di tempat (meski sibuk juga sehari-hari); pleton kurang ada andil. Apa ini kondisi simulasi ketika ia benar-benar pulang ke US? Sebuah ujian atau cobaan? Entahlah.

Sopir Taxi Liburan ke Jepang

Hari Jumat, karena kurang enak badan, akhirnya pulang naik taxi. Tapi naiknya dari Newton MRT, setelah nunggu bus lama sekali. Sopir taxi ini mau menjemput istrinya di Jurong Point, lalu pulang kembali ke Punggol. Di taxi, ia ngomong ngalor ngidul, tanya ini itu. Akhirnya ia bercerita tentang liburannya ke Jepang. Ia berlibur ke Jepang bersama keluarganya, 2 anak dan istri. Biayanya mahal, ceritanya! 12000 dollar selama 7 hari. 9000 untuk agen travel dan 3000 buat jalan-jalan di sana. Taxi mahal, makanan mahal. Tapi pengalaman memang mahal sih … Dia cuma nyumbang 2000, istrinya yang 10000. Istrinya itu beautician, ahli kecantikan di mall; dan bonusnya 10000 per tahun. Saya bilang: wah lebih besar dari bonus saya itu! Dia njawab: iya, tapi situ punya gaji bulanan lebih gede dari dia punya … Yo berapa sih bedanya? Engineer vs beautician? Pindah jalur? Jari kurang lentik kayaknya …

Reuni Kecil

Reuni dadakan diadakan di Newton Seafood Center (NSC). Ada bekas teman kos di Pasir Panjang dulu, berlibur ke Singapura bersama keluarganya. Mereka tinggal di Balikpapan, karena sang kawan kerja di perusahaan energi. Beberapa teman datang, tanpa tahu berapa no telpon teman dari Balikpapan ini. Jadi, ya cari-carian di sana. Cuma gak lama. Setelah ketemu, kita pesan makanan. Macem-macem. Lumayan kenyang. Bayarnya urunan. Kedai no 74 di NSC itu lumayan enak. Reuni ini lumayan berkesan, karena kawan ini bawa oleh-oleh dari Kalimantan. Setiap orang dapat satu tas berisi krupuk, Tshirt dan kain. Wah jadi gak enak nih, karena gak bawa apa-apa … tapi, sering-sering yak!? :D

Bengawan Solo dan Film

Saya tidak tahu apakah lagu Bengawan Solo pernah jadi soundtrack sebuah film. Tapi Sabtu sore sebelum reunian itu saya pergi ke sebuah galeri di belakang Dhobi Ghaut MRT. Letaknya di Old School, Mount Sophia. Menuju ke tempatnya perlu perjuangan: naik tangga yang tinggi sekali; 30 meter, curam. Akhirnya ketemu Sherman Ong, seorang fotografer dan pembuat film. Dia orang Tionghoa asli Malaysia, tepatnya Malaka. Jadi bahasa keduanya bahasa Melayu. Cuma waktu ngobrol, dia berbahasa Indonesia. Karena pernah tinggal sebulan di Jakarta, kerja dengan orang film di sana. Bagus deh, jadi saya tidak perlu switch bahasa waktu ngobrol. Ceritanya, Sherman pengen memasukkan lagu Bengawan Solo yang saya upload di odeo.com. Lagu itu instrumentalia biasa, agak jazzy dan sederhana sekali. Saya bilang, lagu itu eksperimen belaka; simple dan tidak bisa diulang. Dia bilang gak apa-apa. Malah bagus, karena berkesan minimalis. Dia akan membuat film mengenai “kemarau”. Konsep sudah ada, rencananya mau dibuat di Singapura, memakai bahasa yang ada di Asia Tenggara lalu diperankan orang ASEAN juga. Kami ngobrol 2 jam lebih: asyik sekali, seperti berjumpa dengan teman lama. Dia bicara tentang alm. Syuman Jaya (sutradara, ayah Wong Aksan), artis Indonesia, musik Indonesia, masuknya Islam ke Indonesia, toleransi di Indonesia dan segala tentang Indonesia. Fasih sekali. Malaysia tidak seperti Indonesia: di sana itu orang-orangnya homogen; tapi dia sebulan sekali pulang ke Kuala Lumpur. Kesimpulan akhir dari pertemuan: lagu Bengawan Solo akan dimasukkan ke dalam film. Royalti? Aduh gak enak mau nanya … Btw, ketika itu dia sedang memamerkan karya fotografinya yang berjudul HanoiHaiku, tiga foto dalam satu bingkai mengenai kehidupan urban di Hanoi.

Sebut saja SR. Perempuan ini lahir di Jember, 16 Juni 1936. Ia anak dari penghulu yang berdinas di Kantor Urusan Agama. Rumahnya, mungkin, di sekitar wilayah Kaliwates, Jember. Di sana ia hidup bersama orangtua dan adik-adiknya. Jumlah saudaranya 16. Sebagian dari mereka meninggal di usia muda.

Ia menikah dengan seorang pemuda asal Sidoarjo waktu umurnya masih 16 tahun. Ia lalu ikut ke Candi, sebuah kecamatan di wilayah Sidoarjo, tempat di mana pabrik gula Candi beroperasi. Setelah melahirkan tiga atau empat anak, mereka pindah ke Gending dan Pajarakan, kecamatan di Probolinggo.

Ia pandai sekali memasak. Konon, neneknya pernah membuka warung rawon di jalan raya kota Jember. Antriannya panjang sekali. Bahkan, ada yang mengantri hanya untuk beli sambalnya saja!

Ia tidak murni keturunan Jawa. Neneknya orang Tionghoa yang mualaf. Jadi, beberapa saudaranya ada yang bermata sipit.

Ia diajar mengaji oleh ayahnya sendiri. Jika salah baca huruf Arab tongkat bisa melayang.

Ngomong-ngomong tentang ayahnya (sebut saja Mbah “S”), ada cerita unik yang kebenarannya tentu dipertanyakan. Di usia senjanya, ia lumpuh dan dirawat oleh salah satu anaknya. Ia tak bisa jalan dan mesti dipapah. Hari itu hari Jumat, dan ia ingin sekali sholat Jumat berjamaah di masjid depan rumah. Ia tak diijinkan pergi oleh menantu dan cucunya, jalan rayanya ramai truk; jadi agak merepotkan. Akhirnya menantu dan cucunya pergi sholat. Ketika mereka selesai dan menengok ke belakang, lho, Mbah “S” sedang duduk di belakang mereka. Mereka heran. “Lho, siapa yang mengantar, Mbah?” tanya mereka. “Itu ada dua orang pake jubah putih. Saya bilang saya pengen sholat di masjid depan. Terus mereka menjinjing saya sampai ke sini,” katanya. Siapa dua orang berjubah putih itu? Ada yang bilang malaikat. Entahlah. Yang jelas, Mbah “S” juga fasih bercerita tentang perkembangan kota Mekah masa kini. Ayah saya juga heran, kok bisa tahu detilnya, padahal dia sama sekali tidak pernah ke Arab. Mungkin dari membaca?

Kembali ke SR. SR memiliki tujuh orang anak dari hasil perkawinannya. Suaminya bekerja sebagai Kepala Sinder Tebang di pabrik gula sampai pensiun. Uangnya tentu pas-pasan. Jadi untuk membantu suaminya, ia bekerja di sawah, membantu panen, juga membuat kue kecil. Setelah rejeki terkumpul, ia kemudian membuka usaha katering di pabrik gula. Karena masakannya enak, ia selalu mendapat job untuk masak di acara-acara besar pabrik gula, misal: masa giling. Semua pembantunya, bahkan yang tidak bisa masak sekalipun, bisa “lulus” dari rumahnya dengan tangan yang lihai di dapur. Mereka semua pandai memasak. Emak Sari adalah salah satu muridnya. Datang dari Madura ke Jember, berbekal ilmu masak yang hampir nol (kata SR). Dengan sabar (tapi kadang juga muring-muring), ia mengajarkan komposisi bumbu, fungsi bumbu, resep-resep standard dan rumit, dan memasak dalam berbagai jumlah. Hal ini hanya bisa dipelajari dengan melakukannya, bukan membaca. Keahlian memasaknya yang diturunkan ke banyak orang (keluarga dan orang lain), pasti diingat. Karena keahlian inilah yang mendatangkan bagi rejeki orang lain.

Ia pernah sakit stroke dan menjalani fisioterapi bertahun-tahun. Ia juga memiliki diabetes, kencing manis. Jadi makanannya benar-benar harus dijaga. Suatu hari, ia mengajak pembantunya ke Jakarta naik bus. Entah dengan alasan apa. Suaminya tengah bekerja di Surabaya (pensiunan yang kemudian kembali dikaryakan di Koperasi PTP). Ia ingin dekat dengan anak dan cucu-cucunya di Jakarta. Setibanya di Jakarta, ia ikut acara syukuran di rumah cucunya. Dan beberapa hari kemudian ia dilarikan ke rumah sakit. Ada infeksi pembuluh darah di kakinya yang bengkak. Kondisinya membaik setelah semalaman dirawat. Tapi anehnya, dia aphasia, tidak sadar, tidak ingat apapun. Keesokan harinya ia berpulang ke rahmatullah. Sungguh cepat, tapi kehendak yang kuasa tidak bisa ditolak. Selalu ada firasat mengapa seseorang tiba-tiba pergi ke tempat lain, tempat di mana ia lebih diperhatikan, tempat di mana orang-orang yang dicintainya berkumpul. Barangkali bukan di Jember, tapi di Jakarta.

***

Saya dirawat oleh SR hingga umur dua tahun. Sepertinya sih dimanja, apa-apa selalu dituruti, karena saya cucu lelaki pertamanya. Tiap malam selalu tidur dengan SR di kasur yang digelar di depan TV “Sharp” hitam putih. Tiap malam selalu minta digaruk-garuk punggung atau kepalanya. Peralatan dapur, seperti timbel pemberat, selalu hilang - karena saya suka melemparnya ke dalam blumbang (kolam) dan menikmati bunyi “blung!”. SR juga sering membawa saya berjalan-jalan ke Probolinggo, membelikan mobil-mobilan atau spidol warna. SR lebih sering mengajak saya ke pasar, dan menunjukkan bahwa ia pandai sekali menawar harga. Saya bertanya-tanya: kenapa tidak langsung beli saja, karena harganya sudah sangat murah. Tapi ia selalu mencari yang bagus dan lebih murah. Setelah belanja (dalam jumlah banyak dan dimasukkan ke dalam keranjang), tangan kirinya menggandeng saya dan tangan kanannya menenteng keranjang penuh dengan daging, sayur, tahu, tempe, bumbu-bumbu dan ayam hidup dua ekor! Kenapa tidak beli yang sudah mati? Yang hidup lebih segar katanya.

Itulah SR. Nenek saya. 

 

Bulan Mei - Juni 2008 adalah masa “latihan” menjadi agen (alias makelar) PRT (pekerja rumah tangga atau domestic engineer). Karena sang istri sudah bekerja, maka - mau tidak mau - kami harus membayar seorang babysitter untuk mengurus anak.

Seorang calon PRT dikenalkan kepada kami, dan karena rekomendasi cukup kuat maka saya langsung mengurus tetek bengek dokumen dengan imigrasi, asuransi, depnaker, tempat kursus menjadi majikan (jangan salah … di singapore, menjadi majikan perlu punya sertifikat yang kelulusannya distempel oleh Singapore Polytechnic - ini sertifikat pendidikan istri saya yang pertama di Singapura hehe), agen penerbangan.

Berangkatlah ia dari Yogya ke Batam (via Jakarta). Setibanya di Batam kami langsung membawa ke Singapura. Malang sekali, anak ini ditolak masuk Singapura dan harus kembali ke Batam. Karena sudah malam, maka ia harus tidur di ferry. Setelah memberinya uang tiket ferry untuk kembali ke Batam dan mengontak kawan di Batam, saya berkata “Sori ya, jadi berantakan urusannya. Kamu harus tidur di kapal malam ini. Tapi tenang, saya dulu pernah lebih parah dari ini: terombang-ambing di laut selatan semalaman di kapal kecil.” Dia agak panik, tapi tetap harus tidur di kapal.

Esoknya kawan di Batam sudah menjemputnya. Setelah mengurus asuransi, ia diperkenankan masuk Singapura. Dan, minggu lalu, work permit sudah diurus dan tinggal diambil kartunya minggu ini. Yippi … !

Pesan: karena ingin menghemat $2000 dolar (untuk biaya agen PRT) dan menghindari berbuat dosa terhadap wong cilik (dengan memotong gajinya 8 bulan untuk biaya agen juga ~ $2500) maka saya (plus ezra dan tuti) mengurus sendiri semua paperwork untuk PRT. “Win-win solution” kata kawan di kantor.

Di Singapura, wong cilik juga kena pajak. Tapi untungnya (atau ruginya) dibebankan ke employer atau majikan. Ini dinamakan levy. Citizen hanya perlu membayar $170 untuk ini, sedangkan PR wajib membayar $265. Kok beda? Ya, PR kan foreigner yang diharapkan jadi citizen. Bedanya terletak di “harapan”. Harapan itu ada biayanya. Soalnya yang berharap adalah negara. Seperti filosof Jerman bilang, Friedrich Nietzsche: “Negara” adalah monster yang terdingin hatinya dari semua monster; dan dengan hati dingin pula ia berjusta”.

Siapakah monster? Siapa yang berjusta? Dan siapa yang kalah?

Anyway, si mbak sudah mulai bekerja sejak minggu pertama bulan Juni. Kelebihannya: so far orangnya jujur, rumah selalu rapi, Olit ada yang mengurus ketika kami bekerja, ada yang dimintai tolong kalau kami capek. Kekurangannya: belum pandai masak. Yang terakhir ini perlu dilatih atau berlatih. Untungnya di rumah ada setumpuk buku masakan Indonesia. Jadi, dia bisa membaca, belajar dan bereksperimen.

PRT atau maid atau babysitter atau si mbak ini harus dianggap keluarga sendiri. Tidak ada yang mudah memang, karena ia adalah anggota baru, yang langgam dan etikanya berbeda. Jadi perlu dilatih untuk menyesuaikan diri. Berharap banyak dari seorang yang hanya digaji $300an per bulan ini agak kelewatan. Jadi yang wajar-wajar saja. Dia juga manusia.

Wah, jadi inget pembantu-pembantu lama: Yu Tijah (Probolinggo), Yu Tin (Bondowoso), Mar dan Pak Min (keduanya menikah, hidup di Bondowoso), Yu Sih & Erna (Ibu - anak, hidup di Bondowoso) dan yang terakhir Emak Sari.

Emak Sari - umurnya menjelang 60an. Ikut almarhum nenek waktu di Jember, kemudian hijrah ke Bandung bersama saya dan adik; mengurus sejumlah mahasiswa. Meski darah tinggi, ia suka becanda dengan anak-anak muda. Jadi favoritnya anak-anak Jember waktu di Bandung. Kata kakek: Mak Sari ini rektor ITB; hampir semua anak ITB (asal Jember) kenal dengan Emak ini :D Kini Emak ada di Jakarta, ikut dengan kakak.

Next Page »