Samurai Biru Menangis


Di Jepang, fenomena ‘menangis’ sering dijumpai di akhir pertandingan olahraga. Ketika menang seseorang menangis; kalahpun ia menangis. Menangis bagi orang Jepang barangkali mirip ‘kalimat penutup’. Entah menang atau kalah, itu tak soal: menangis merupakan bukti adanya ikatan emosi, bukan tanda kelemahan.

Permainan Samurai Biru

Ketika Samurai Biru, sebutan untuk tim sepak bola nasional Jepang, dikalahkan Paraguay 5-3 lewat tendangan penalti, (29 Juni 2010) hampir semua pemain serta pendukung Jepang menangis.

Namun, terlepas dari fenomena itu, Jepang boleh bangga dengan timnya. Samurai Biru telah bermain bagus di Piala Dunia FIFA 2010. Mereka mengalahkan Kamerun dengan skor 1-0, dan Denmark dengan skor 3-1 dalam babak penyisihan grup E. Lawan terberatnya tentulah Belanda. Belanda memukul Jepang dengan skor tipis 1-0. Untungnya, Jepang masih lolos ke babak 16 besar, menjadi runner-up di bawah Belanda.

Jepang menurunkan 23 pemain yang punya tinggi badan rata-rata 179 cm. Selain itu, fisiknya handal dan punya kemampuan individu yang baik. Seratus dua puluh menit pertandingan Jepang – Paraguay sangat menegangkan. Strategi serangan Jepang dan pertahanannya patut dipuji. Jepang jelas-jelas menguasai lapangan. Pemain Paraguay agaknya terkejut dengan permainan Jepang. Saat itu Jepang baru saja mendapatkan tambahan percaya diri setelah mengalahkan Denmark yang lebih diunggulkan.

Jepang menurunkan pemain-pemain terbaiknya, seperti Keisuke Honda (24 tahun), Yuji Nakazawa (32 tahun), Makoto Hasebe (kapten, 26 tahun), Marcus Tulio Tanaka (29 tahun) dan Yasuhito Endo (30 tahun). Di tengah pertandingan, Jepang cukup panik karena empat pemainnya terkena kartu kuning. Selain itu, tiga pemain terancam tak dapat bermain dalam pertandingan selanjutnya, yaitu Yuki Abe, Yuto Nagatomo dan Yasuhito Endo.

Pertandingan Jepang – Paraguay membuat rating TV naik jadi 64.9% di wilayah Kanto (Tokyo). Rating TV ini lebih tinggi daripada pertempuran Jepang – Belanda yang hanya mencatat level 43% di wilayah yang sama.

Sejarah mungkin bisa mencatat bahwa permainan Jepang yang terbaik telah ditampilkannya minggu lalu. Namun demikian, meski umpan-umpan terobosannya banyak, tim asuhan Takeshi Okada ini belum mampu menghasilkan gol.

Pelatih Bola Jepang: Takeshi Okada

Okada, 54 tahun, mengakui bahwa dia kurang menekankan kata ‘menang’ kepada para pemainnya. Di Jepang, jika boleh diartikan bebas, ini hanya berarti ‘cobalah’. Mungkin maksud Okada bisa dimengerti karena masuk quarter final bagi Jepang merupakan hal baru.

Okada pernah menjadi pelatih Jepang pada Piala Dunia FIFA 1998. Saat itu dia gagal mengantarkan Jepang menjadi pemenang atau runner-up Grup H.

Jika kita ingat sejarah, Jepang hanya empat kali ikut Piala Dunia FIFA, yaitu tahun 1998, 2002, 2006 dan 2010. Dalam keikutsertaannya itu, Jepang tak pernah lolos dari babak penyisihan grup, kecuali tahun 2002. Saat itu Jepang menjadi juara grup dengan mengalahkan Belgia, Tunisia dan Rusia. Namun, praktis dalam 12 tahun terakhir prestasi Jepang tak pernah lebih dari 16 besar.

Pertandingan minggu lalu membuktikan bahwa Samurai Biru tak hanya ‘ikut-ikutan’ negeri tetangga, Republik Korea, yang telah delapan kali ikut Piala Dunia sejak 1954. Bernasib sama dengan Jepang, Republik Korea juga gagal melewati 16 besar karena dikalahkan Uruguay dengan skor 2-1.

Berita di koran-koran Jepang dan dunia senada: kegagalan Jepang membuat Okada ingin berhenti sebagai pelatih. Memang sebelumnya dia sudah berjanji ingin pensiun sebagai pelatih setelah Piala Dunia 2010.

Dia ingin mengisi pensiunnya dengan bertani dan membaca buku saja. Tetapi, Jepang tetap mengenal Okada sebagai arsitek tim bola Jepang. Dialah yang berhasil mengoptimalkan tim Jepang. Masih ada kesempatan lagi tahun 2014 nanti.

Meski tak sederhana, formula kemenangan Jepang di masa depan dapat dirumuskan:

  • Mempertahankan 80% pemain terbaik dan termuda untuk Piala Dunia 2014 di Brazil
  • Komposisi strategi menyerang lebih banyak daripada strategi bertahan
  • Berhati-hati dalam melakukan tackling ketika mengambil bola
  • Lebih percaya diri, bukan malah kaget ketika memperoleh kemenangan (seperti yang diungkapkan veteran penjaga gawang Yoshikatsu Kawaguchi)
  • Memberi kesempatan Okada untuk menyiapkan tim Jepang tahun 2014

Namun, bersediakah Okada kembali jika dia sudah pensiun? Sulit menjawabnya. Di Jepang, perdana menteri saja silih berganti, apalagi pelatih bola.

Masih Bisa Berbangga

Yang pasti, negara matahari terbit ini masih dapat berbangga karena menjadi segelintir negara Asia yang bermain di pertandingan yang digemari seluruh dunia. Hingga saat ini, belum ada tim bola Asia yang menjuarai Piala Dunia.

Jepang kini mengalami penurunan penduduk dengan jumlah orang mudanya yang kian merosot. Sebaliknya, golongan tua semakin bertambah. Artinya, Jepang perlu mencari bakat asing yang dapat bermain untuknya di masa depan.

Siapa tahu … mungkin suatu saat nanti Jepang bisa menjadi juara. Dan, tangisan rakyat Jepang jadi lebih bermakna.

*Kolom Email dari Tokyo, Berita Harian Singapura, 5 Juli 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s