Ekonomi Jepang (2)


Lanjutan dari Ekonomi Jepang (1)

Ekonomi Jepang mencapai titik tertinggi pada 1970-an. Pertumbuhan ekonomi mencapai dua angka. Ini membuat Amerika Serikat gelisah karena gelar negara adikuasa bisa pindah ke Asia.

Namun, satu dekade kemudian, Jepang memasuki fase antiklimaks pada 1980-an. Ekonomi Jepang terus menurun meskipun ia masih membayangi Amerika di tempat kedua dalam hal Hasil Bruto Dalam Negeri (GDP) selama hampir dua dekade. Tahun lalu, China mengambil alih tempat Jepang. Jepang kini menjadi nomor tiga. Ini membuat Jepang bak kebakaran jenggot. Ekonomi China meningkat karena banyak negara maju membangun pabrik di sana. Negara maju terus menginvestasikan uangnya karena gaji karyawan di China relatif murah, tetapi daya produksi dan keterampilan karyawan sangat tinggi.

Kini Jepang yang ganti gelisah. Saat ini, Barat dan negara lainnya melihat Asia Timur dengan dua bola mata yang terbagi dua: China dan Jepang. Jepang bukan lagi tujuan tunggal di Asia Timur.

Jepang harus melakukan sesuatu. Oleh sebab itu, ia menyiapkan strategi ekonomi-politik jangka pendek dan jangka panjang.

Strategi Jangka Pendek

Menteri Luar Negeri Jepang, Seiji Maehara, meninjau kembali bantuan pembangunan luar negeri (Overseas Development Assistance atau ODA) ke China yang telah diberikan Jepang sejak 1970-an. ODA berupa bantuan hibah langsung (grant aid) yang berbentuk pinjaman dengan bunga rendah dan kerjasama teknis. Pada 2008, ODA yang diberikan Jepang ke China senilai 5.4 milyar yen. Alasan revisi ODA: ekonomi China sudah cukup mapan, maka bantuan keuangan kepada China sudah tidak diperlukan lagi.

Namun, sejumlah pihak di dalam pemerintahan Jepang sendiri melihat bahwa bantuan untuk China tetap penting  karena menguntungkan secara politik. Bantuan Jepang kepada China dapat

  • Menurunkan sentimen anti-Jepang karena penjajahan Jepang selama Perang Dunia II
  • Mempermudah pedagang Jepang di China dalam melakukan alih teknologi sehingga pabrik-pabrik mereka dapat menjadi lebih produktif

Maehara akan menentukan apakah Jepang masih akan membantu China pada bulan Juni.

Strategi Jangka Panjang

Untuk strategi jangka panjang, Jepang kembali ke hal yang mendasar, yaitu pendidikan globalisasi (penyejagatan). Pendidikan globalisasi dapat berhasil bila sekat sosial antara warga Jepang dengan warga asing semakin tipis. ‘Jembatan’ dengan warga asing dapat dibangun dengan mengajar bahasa Inggris dan pengajaran ini harus dimulai sejak awal.

Jepang sadar bahwa di kawasan Asia, nilai Pengajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa Asing (TOEFL) siswanya antara yang terendah – berarti penguasaan siswa Jepang dalam bahasa Inggris juga rendah. Pada 2004 dan 2005, nilai TOEFL Jepang hanya 191. Afghanistan saja melewati Jepang dengan 198. Negara yang paling tinggi di Asia dalam nilai TOEFL adalah Singapura yang siswanya meraih 254. Oleh sebab itu, mulai 1 April 2011 (permulaan tahun fiskal Jepang), bahasa Inggris akan diajarkan kepada siswa sekolah dasar kelas lima dan enam. Pelajaran bahasa Inggris akan diajarkan sekali dalam seminggu.

Sebenarnya sejak 2007, pemerintah Jepang sudah melatih 400 ribu guru sekolah dasar dalam bahasa Inggris. Beberapa sekolah, khususnya di daerah pedesaan, akan mempekerjakan guru pembahasa asli (native speaker). Di Sekolah Dasar itu, guru-guru tidak hanya memperkenalkan kosakata dan ungkapan dalam bahasa Inggris, tapi juga budaya dari luar Jepang.

Sepertinya Jepang agak tertinggal dibandingkan negara Asia lainnya dalam pengajaran bahasa Inggris. Thailand mulai mengajar bahasa Inggris pada 1996; Korea Selatan melakukannya pada 1997; China juga meniru langkah ini dengan mengajarkan bahasa Inggris pada 2001.

Sayangnya, tidak semua orang Jepang setuju dengan rencana jangka panjang ini.

Kumiko Torikai dalam bukunya Ayaushi! Shogakko Eigo (‘Berbahaya! Bahasa Inggris di Sekolah Dasar’) menyatakan bahwa tidak ada bedanya antara mereka yang belajar bahasa Inggris sejak kecil dengan mereka yang belajar ketika dewasa. Torikai setuju jika bahasa Inggris cukup diberikan sejak sekolah menengah.

Meskipun ada protes di sana sini, pemerintah Jepang akan tetap meluncurkan program bahasa Inggrisnya bulan depan. Penyejagatan dalam bahasa Inggris jauh lebih mendesak.

Yang beruntung dari langkah pemerintah Jepang ini adalah lembaga-lembaga bahasa Inggris. Mereka membantu pemerintah dalam merancang kurikulum. Banyak orang tua yang bakal mengirim anaknya untuk mengikuti kursus bahasa Inggris setelah berjam-jam di sekolah atau pada akhir pekan. Ini semua demi penyejagatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s