Orang Bawean di Singapura


Disclaimer: This article contains a summary of various references on Bawean or Baweanese people in Singapore. Its content, in itself, needs an extensive verification, and the verification should be based on modern literature, field work (by visiting Bawean), take note of what’s old and what’s new, and some other stuff. I understand that some of the Baweanese people would see this article as stub; but this is what I can do to leverage the knowledge of Baweanese in Singapore to Indonesian people, or to larger extent, to the world. I’ve received two comments on this article when somebody posted it in Media Bawean. I put the comments at the bottom (as you would see from what language the wrote, and how they made comment). Finally, feel free to leave a constructive comment, in an elegant way if you wish, especially from the Baweanese themselves as it would make the knowledge about Bawean perfect.

***

Apakah itu “Boyan”?

Pada bulan Desember 2005, seorang kawan menawarkan roti “boyan” kepada saya. Alih-alih menikmatinya, saya jadi bertanya: apakah “Boyan” itu? Dijelaskannya bahwa “Boyan” adalah nama lain Bawean, sebuah pulau di dekat Surabaya. Bagaimana “Bawean” bisa menjadi “Boyan”? Hal ini mungkin disebabkan oleh absorbsi bahasa yang menyebabkan ketidakaslian bentuk kata yang umum terjadi pada jaman dulu (sebagian orang menyebutnya ‘korupsi kata’). Nama “bawean” sendiri diberikan oleh orang-orang Majapahit (kerajaan Hindu terbesar di Jawa) pada abad ke 13 yang berarti “matahari terbit”. Karena orang Bawean (atau Madura) mengganti huruf “w” menjadi “b” maka kadangkala Bawean ini disebut Bebien (“e” dibaca seperti ‘benar’).

Matahari terbenam di pulau Bawean

Ketika kecil, sewaktu saya masih tinggal di Probolinggo, sebuah kota 100 km di timur Surabaya, nenek saya kadang bercerita mengenai pulau-pulau di utara Jawa, seperti pulau Gili, kepulauan Karimun Jawa, pulau Bawean dan lainnya. Baginya, beberapa pulau ini adalah tempat ziarah ke makam-makam kyai (seorang pemuka muslim yang biasanya memiliki pesantren atau perguruan agama). Kyai yang terkenal di Bawean adalah almarhum Kyai Maulana Umar Mas’ud. Pada awal 80an itu, pulau-pulau kecil ini masih tak memiliki listrik yang memadai. Listrik hanya dinyalakan pada jam-jam tertentu dan di tempat tertentu, karena listrik dibangkitkan oleh mesin diesel.

Pulau Bawean masuk ke dalam kabupaten Gresik tahun 1974; sebelumnya, pulau Bawean masih bagian dari Surabaya. Letaknya 120 km di utara Gresik. Pulau ini dapat dicapai dengan menggunakan kapal express (ferry) selama 3 – 6 jam. Pulau Bawean sedikit lebih luas daripada pulau Singapura. Namun, penduduknya hanya berjumlah 65000. Pulau ini dibagi menjadi dua kecamatan (district), yaitu Sangkapura dan Tambak. Sangkapura terdiri dari 17 desa, yaitu Desa Sawahmulya, Kota Kusuma, Sungaiteluk, Patarselamat, Gunungteguh, Sungairujing, Baliktetus, Daun, Kebunteluk Dalam, Sidogedung Batu, Lebak, Pudakittimur, Pudakitbarat, Komalasa, Suwari dan Deka-Tagung. Sedangkan, Kecamatan Tambak meliputi 14 desa, yaitu Desa Tambak, Telukjati, Dedawang (Dhedhebeng), Gelam, Sokaoneng, Sukalila, Kalompang Ghubuk, Pakalongan, Tanjunguri, Grejek, Paromaan, Diponggo, Kepuhteluk dan Kepuhlegundi.

Bahasa Bawean

Seorang kawan dekat di Singapura kebetulan keturunan Bawean, dan ayahnya pernah memiliki band yang tersohor di tahun 1950-60an, namanya “La Obe”. Suatu hari saya ingin tahu apakah bahasa Bawean ini lebih mirip bahasa Jawa, bahasa Madura, atau campuran keduanya. Saya bertanya dalam bahasa Madura, dan ayahnya membalas dalam bahasa Bawean. Ternyata bahasa Bawean ini mirip sekali dengan bahasa Madura! Tingkat kemiripannya barangkali lebih tinggi dibanding Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Diceritakannya bahwa orang-orang Bawean yang datang ke Singapura dulunya berpencaharian sebagai ahli agama, guru silat dan pedagang “ilmu”. Menurut sejarah, memang benar bahwa kesenian yang paling menonjol di Bawean adalah kesenian pencak silat. Hingga kini, kesenian ini masih dilestarikan.

Merantau

Secara historis, mayoritas masyarakat Bawean adalah nelayan. Dari pekerjaan ini, jiwa mereka secara praktis adalah perantau, yang berhari-hari berlayar, kemudian pulang sambil membawa uang hasil penjualan ikan. Jiwa merantau dan berdagang ini menjadi turun-temurun dan menentukan garis hidup keturunan mereka juga. Setiap lelaki di pulau Bawean dirasa “wajib” untuk merantau, meski mereka telah menikah.

Orang Bawean di Singapura

Dalam artikel yang cukup komprehensif, The Baweanese (Boyanese), yang ditulis oleh Nor Afidah Abd Rahman dan Marsita Omar, sensus penduduk pertama kali mencatat adanya orang Bawean tahun 1849. Antara tahun 1901 – 1911, populasi orang Bawean di Singapura makin meningkat. Hal ini disebabkan oleh pajak yang terlampau tinggi yang dikenakan Belanda kepada inlander (penduduk asli) di Hindia Belanda (Indonesia sekarang). Di tahun-tahun itu, dicatat bahwa ada dua perusahaan transportasi yang melayani migrasi penduduk dari Bawean ke Singapura, yaitu Dutch Koninklijke Paketvaart Maatschappij (Belanda) dan Heap Eng Moh Shipping Company (Singapura). Populasi orang Bawean makin meningkat ketika pendudukan Jepang antara tahun 1942 – 1945 karena penjajahan ini menyebabkan kelaparan dan kemiskinan yang parah. Setelah 1945, arus masuk imigran diperketat di Singapura dan Malaysia. Sebagian orang Bawean berbelok ke Tanjung Pinang dan Riau.

Ketika Inggris membangun pacuan kuda tahun 1842, mereka menyewa orang-orang Bawean sebagai pekerja konstruksi untuk membangun Race Course lama, atau Turf City masa kini. Karena berbakat melatih kuda, orang Bawean akhirnya dipekerjakan sebagai pelatih kuda pacuan. Sebagian dari mereka tetap bekerja sebagai pelayar (seamen). Namun ada pula yang bekerja sebagai sopir untuk tuans dan mems, perawat kebun, pegawai pelabuhan dan sopir bullock-cart.

Antara tahun 1840an hingga 1950an, orang Bawean banyak yang bermukim di Kampong Boyan (kini bernama Kampong Kapor). Mereka membangun pondok (ponthuk, dalam bahasa Bawean) sebuah rumah yang digunakan untuk bersosialisasi dan tempat menampung pendatang Bawean yang baru. Komunitas ini dipimpin oleh Pak Lurah. Secara literal, Pak Lurah berarti kepala kampung atau kepala desa (the chief of the village). Istilah ini sekarang masih dipakai secara luas di Indonesia.

Banyak dari masyarakat Bawean di Singapura akhirnya menikah dengan etnis lain seperti Melayu, Jawa, Bugis dan lainnya. Peleburan ini menyebabkan identitas keturunan mereka secara praktis disebut “Melayu”. Namun, ada juga yang masih menggunakan garis etnis ayah, sehingga tetap beretnis “Boyan”. Seperti halnya keturunan Jawa di Singapura, sedikit sekali generasi muda Boyan yang menguasai bahasa Bawean, atau Madura. Sebagian dari mereka cukup mengenal beberapa kata, atau mengerti sedikit beberapa kalimat. Hal ini cukup wajar, mengingat bahasa Bawean tidak dipakai sehari-hari di sini.

Generasi tua keturunan Bawean di Singapura kadang masih mengunjungi sanak saudara di pulau Bawean. Namun, beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah artikel pribadi yang ditulis oleh generasi muda keturunan Bawean. Ia ingin sekali ke Bawean, meski hanya sekali seumur hidupnya. Sama halnya dengan bahasa, jika kultur Bawean ini mirip dengan Madura, maka setiap saudara itu adalah saudara dekat. Sehingga perlakuan mereka terhadap saudaranya (meski hubungannya jauh sekalipun) sangat-sangat akrab. Ini ciri khas orang Madura yang juga saya amati di pulau Jawa.

***

Bibliografi:

[1] http://www.bawean.info

[2] http://pulaubawean.blogspot.com/

[3] http://media-bawean.blogspot.com/

[4] http://www.thingsasian.com/stories-photos/1280

[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Bawean

[6] http://infopedia.nl.sg/articles/SIP_1069_2007-06-20.html

***

Link baru:

Endah – The Baweanese Corner

22 thoughts on “Orang Bawean di Singapura

  1. Komentar #1
    Tanpa nama, 29 April 2008

    BEB! YOU PUNYA CERITA ITU CERITA BUKU BEB! KALAU MAHU TAHU BOYAN,MESTILAH PERGI BOYAN DULU BARU LAH YOU CERITA PANJANG2. ONLY $500/- YOU BOLEH ULANG ALEK NAIK KAPAL TERBANG,NAIK KAPAL, KELILING PULAU BOYAN.BARU LAH BOLEH CERITA PASAL BOYAN. YOU PUNYA ARTIKEL MACAM ORANG NAK ABAH IJAZAH SOSIOLOGI. AYOK JOM KA BOYAN!

    Tanggapan:
    Tulisan ini adalah sari dari pelbagai sumber. Sumber-sumber itu memang adalah literatur. Dengan catatan ini orang bisa “sedikit” mengetahui orang Bawean di Singapura. Akurasi atau ketepatannya bisa diverifikasi oleh anda, yang barangkali sudah pernah ke Bawean (masa kini). Field work barangkali bermanfaat untuk memverifikasi data sejarah, perkembangan orang Bawean, dan lainnya. Nah itu bisa digunakan untuk mengambil gelar sosiologi yang anda perlukan. Saya tidak memerlukannya . Terima kasih atas sarannya untuk menggunakan 500 dollar untuk berkeliling Bawean. Mudah2an ini bukan insult karena 500 dollar barangkali tidak cukup untuk naik pswt pulang pergi ke Surabaya, naik ferry ke Bawean PP, berkeliling, makan, tinggal di hotel dll.

    Komentar #2
    mimus_miyie@yahoo.com
    30 April 2008

    aku pikir kamu salah fakta,setahu aku bawean tidak sama dengan madura,jauh beda sekali,nasihatku kalau kamu mau cerita sebenarnya kamu harus ke pulau bawean dulu,ketemui oarang yanga arif asal usul pulau bawean.sebab ibu bapak ku asal dari pulau tersebut.

    Tanggapan:
    Mimus_Miyie anda tidak membaca dengan seksama redaksinya. Saya tidak pernah bilang “sama”, saya bilang “mirip”. Jika anda bersikukuh ingin mengetahui perbedaan antara “sama” dengan “mirip”, lihat saja kamus Bahasa Indonesia. Yang jelas, keduanya tidak kuantitatif (tidak bisa diukur) dan anda akan kecewa dengannya. Terima kasih, anda orang ketiga yang menyarankan untuk pergi ke Bawean. Orang pertama yang menyuruh saya ke Bawean adalah SAYA SENDIRI karena saya ingin melihat Bawean masa kini. Memiliki orangtua Bawean tidak serta merta bisa menjelaskan bahwa orang Madura dan Bawean itu tidak sama. Silakan teliti dan tulis dengan ilmiah jadi bisa bermanfaat bagi orang lain.

    Terima kasih semua.

  2. kawan baru,
    apa pun yang anda tulis, referensi anda cukup untuk berwacana…

    Kami tidak mencoba memberikan kritik terhadap tulisan Anda. Tapi kami bangga Anda telah menuliskan tentang pulau kami.

    Kalau pun ada kesalahan, bukankah itu adalah bagian dari ketiadaan yang “sempurna” itu?

    salam kenal dari kami dan mungkin kita bisa berbagi cerita, diskusi lebih panjang lagi dst.

    Terima kasih.

    The Champa Institute.

  3. Pingback: Pages tagged "silat"

  4. saya sangat tertarik akan tulisan anda tentang orang-orang bawean, yang memang suka merantau karena ayah dan ibu saya asli dari bawean dan kami tidak menetap di bawean dan tidak pernah kembali lagi ke sana apalagi nenek moyang sudah tidak ada lagi. teruskanlah artikel anda supaya saya banyak tau. thanks a lot.

  5. Saya amat tertarik dgn tulisan kamu mengenai Bawean. Terus berterang, saya tidak dekat dgn asal usul keturunan saya di sebelah bawean. Dan tiada yang saya kenal arif dalam isu bawean. Saya bkn bawean ‘pure’ kerana telah dicampur dgn keturunan yg lain.Terima Kasih menulis article ini. =D

  6. Saya sangat kagum dengan usaha anda serta niat murni anda mengetengah asal usul Boyan atau Bawean. Suami saya berketurunan Boyan, tapi sayangnya, beliau tidak meminati bahasa yang indah ini. Saya peminat budaya, seni dan adat resam. Setelah kehilangan kedua orang tua, saya hanya dapat membaca segala artikel yang tersidang. Sekiranya anda ke Pulau Boyan, sila ambil gambar kerana pulau ini sungguh misteri bagi saya sebab tiada gambar mengenainya, hanyalah sebuah peta sahaja.

  7. Saya senang ada y gmenulis tentang Bawean. Saya berasal dari Probobolinggo puluhan kilometer dari Bawean. Yg mendekatkan saya dg Bawean adalah ukiran gaya Bawean. Saya penggemar furniture lama dan saya kagumm sekali pada gaya ukir bawean. Punya sentuhan yg berbeda dan khas..

    Salam,

    Dwi

  8. Masihkah lagi ada stigma di singapura yang menyatakan orang boyan tergolong dari orang yang tidak sebaik dari kaum lain, seperti orang melayu general? Saya pernah mendengar dan juga melihat adanya orang orang melayu yang masih “anti” orang boyan. Ada pula orang menyatakan orang boyan lebih pandai dalam ilmu hitam. Dan juga ada pula, menyatakan mereka adalah antara orang orang yang berpikiran matang dan sangat rajin bergotong royong?

    Adakah ini benar atau ada kebenaran disebaliknya?

  9. sebagian besar orang akan berpandangan bahwa bawean mirip denga madura tetapi kalau diteliti lebih seksama akan terlihat perbedaannya. Seperti logat gaya bahasa seakan bahasa madura tetapi itu hanya lagu gaya bahasanya yang hampir mirip, dibawean ada beberapa bahasa yang dipakai seperti bahasa jawa kuno yang dipakai di ponggo. memang susah meluruskan pandangan bahwa orang bawean sama dengan orang madura seperti saya yang tidak asli bawean tapi keturunan orang bawean diperantauan yang tinggal di jombang yang dikatakan orang madura, memang sempat tersinggung tapi maklum karena keterbasan pengetahuan dan gaya bahasanya memang mirip yang akhirnya lebel madura ikut serta. Tapi yang membedakan adalah orang bawean suka merantau dan merambah setiap kota dimanapun berada serta rasa persaudaraan sesama perantauan yang sangat lekat.

    ari3f:
    hirzi, terima kasih. ada berapa jenis bahasa di pulau bawean? apakah ada level halus dan kasar? berapa persenkah kata bawean yang tidak sama dengan kata madura? “mirip” itu berarti dekat, tapi tidak sama.

    • mengenai bahasa bawean sulit sekali menjelaskan kepada orang ‘luar’ karena tidak adanya literatur atau sumber ilmiah yang bisa memberikan penjelasan. jika kita berada dan meneliti bahasa bawean di desa-desa tua di bawean seperti kumalasa, lebak, suwari, daun, diponggo, sangkapura, pamona, ghelam dll kita akan mengetahui perbedaannya masing-masing bahasa desa tersebut, hal yang membedakan dengan bahasa madura adalah logatnya ( aksen ). banyaknya desa-desa baru yang merupakan pendatang madura belakangan ini menyebabkan bahasa madura lebih terasa

      misalnya : bahasa bawean dari desa kumalasa banyak mengganti huruf S dengan huruf H, haratos (seratus), sekemma ( hekemmma/ yg mana), dll. sedangkan dari desa diponggo lain lagi, begitu juga dari desa lebak. contoh tingkatan bahasa di bawean : saya -> eson/ehon ( standar), bule ( halus). tidak -> endak (kasar), enten ( halus). siapa -> sapa ( kasar), sera/senten (halus). iya-> iya (kasar), enggih( halus). bercerita gombal – > acacah/aotha ( kasar), aguel ( sedang), apandir (halus). katanya -> cakna(kasar), ekowa (halus). kamu-> kakeh (sangat kasar sekali), bekna (kasar), ghinto (halus), panjenengan (sangat halus) dll. memang kalau kata-perkata bahasa bawean banyak miripnya dengan madura namun jika diucapkan membentuk rangkaiang kalimat akan terbentuk gaya bahasa sendiri.

      salam damai

      nizami

  10. saya adalah anak bawean yag lahir di malaysia. ibubapa saya adalah anak bawean tulen. masih ada segelintir masyarakat melayu malaysia yang anti bawean. semasa bersekolah dahulu saya sering menjadi mangsa ejekan rakan2 saya kerana status keturunan saya. sehingga sekarang tidak banyak berubah.

    ari3f:
    emma – barangkali yg segelintir ini yg “teriakannya” lebih keras daripada mereka yg bersimpati terhadap orang bawean, meskipun teriakan itu tidak berdasar atau salah. saya rasa stereotip atau stigma terhadap suatu etnik sudah tidak relevan lagi.

    etnik adalah sebuah identitas; bukanlah representasi perilaku suatu kaum atau punya dosa keturunan.

    ada istilah pars pro toto – taking a part for the whole. misal: jika ada satu orang dari sebuah etnik jahat, orang lain bisa melihat bahwa semua dalam etnik itu jahat. ini yg akhirnya diturun-temurunkan meskipun salah. sumbernya ya karena kebencian dan rasis.

    kita hanya bisa melawannya dengan bertindak sebaliknya …

  11. saya sangat kagum dengan anda serta ketulusan hati anda,saya asli bawean cerita anda sangat menarik,klo bsa yang lebih bagus lg emang bawean tdk sama dgn madura,buktinya kejadian di sampit antara madura dgn dayak orang2 bawean biasa aja ga ada yang mati.bkn cma bahasa ja yang beda tpi org dayak bila aroma orag boyan katanya bau ikan lain dgn orang madura bau sapi katanya seh?tanks a lot salam kenal

    ari3f:
    gifaruddin, terima kasih komentarnya. sejalan dengan tulisan di atas, madura dan bawean tidak sama, tetapi bahasanya memang mengandung kemiripan. tapi saya belum melakukan penelitian sampai sejauh mana kemiripan itu. berapa jumlah kata yang sama, apakah tata bahasanya juga sama, apakah idiom/ungkapan yang digunakan juga sama. anda juga harus menerima fakta bahwa ada kemiripan antara bahasa bawean dengan madura, meski kemiripannya bisa jadi hilang ketika menggunakan level tertentu (misal ada kasar, halus dll).

  12. memang benar pendapat anda ari3f, tidak semua orang melayu benci orang bawean. buktinya saya sendiri telah berkahwin dengan orang melayu. cuma halangan itu datang dari keluarga suami saya. namun mereka semua boleh menerima saya setelah saya menunjukkan KAD PENGENALAN saya. mereka takut anak mereka terjerat dengan perangkap pendatang asing yang berkahwin semata-mata untuk mendapat Pemastautin Tetap.
    tapi sudah ramai anak bawean yang berjaya di malaysia. malangnya saya kurang mengenali warga bawean lainnya kerana keluarga saya tinggal jauh dari kelompok utama masyarakat bawean. saya hanya mengenali saudara terdekat saya sahaja. (arif3 ni orang bawean ke? tinggal kat mane?)

    ari3f:
    emma yg baik. saya kurang tahu pula apakah keluarga bawean akan meminta calon menantu untuk menunjukkan kad pengenalan. rasanya itu khas untuk keluarga beliau sahaja. syukurlah jika ramai orang bawean yang berjaya di sana. ini barangkali dek orang bawean pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan orang melayu dan bekerja keras. saya tidak lahir di bawean, tapi warga negara indonesia, etnis jawa. sekarang di tokyo.

  13. @gifaruddin

    saya juga pernah dengar dari teman saya waktu kerusuhan sampit di borneo, dia tangkap oleh orang dayak tapi dilepaskan kembali karena ketua (panglima) nya bingung mencium bau aroma tubuhnya. katanya kalo orang jawa bau tembakau, kalau orang madura bau sapi, entah mana yang benar orang bawean atau orang bugis yang bau ikan.

    ( sampit, ambon, banyuwangi, poso shame indonesianist)

  14. Saya orang bawean, lahir dan besar di bawean dan merantau ke kepulauan riau th 1987 dan sekarang menetap di Tanjungpinang kepulauan riau.
    Saya senang dengan tulisan anda, orang yg pernah mengijakkan kaki di pulau bawean saja belum tentu bisa menulis tentang bawea tentang bawean seperti anda. Saya hsangat menghargai keingin tahuan anda tentang Bawean. Kalau anda ingin tahu banyak tentang Bawean silahkan datang ke Bawean, banyak sekali sejarah di bawean yang bisa anda tulis,seperti asal usul bahasa jawa, bermula dari suatu kejadian yg terjadi di pulau bawean,tepatnya jerat lanjeng di Desa Lebak Sangkapura.
    Comment imam samudra diatas sangatlah masuk akal, karena orang bawean banyak keturunan bugis mandar.

  15. Pingback: http://en.wikipedia.org/wiki/Bawean | My Blog

  16. Saudara penulis………jangan campur adukkan etnis bawean dan etnis madura. karena dari segi budaya dan bahasa sangat jauh……

    Penulis: Bedanya di mana dong? Jelaskan dalam 2000 kata.

  17. Hai.. Aku keturunan bawean dari bapakku sedangkan ibuku sudah campuran. Bapakku tidak tau pasti kapan keluarganya merantau ke sumatera utara tapi bapakku masih asli keturunan bawean.
    Terimakasih telah menuliskan tentang bawean sehingga sikit banyak aku mulai
    tahu mengenai bawean… Jujur aku masih penasaran mengenai bawean, tentang kulturnya.
    Kawan kawan yang tau ataupun masih asli keturunan bawean, tolong berikan masukan, perbaikan pada tulisan ini sehingga aku dan keturunan bawean yang lain yang tidak mengetahui tentang kampung asal kami bisa bertambah wawasannya…

    Terimakasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s